Penderita Ispa di Jepara Didominasi Usia 1 hingga 5 Tahun

Salah seorang warga memakai masker untuk menghindari debu agartidak terkena ISPA. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah seorang warga memakai masker untuk menghindari debu agartidak terkena ISPA. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Penyakit infeksi saluran pernafasan akut (Ispa) sangat rawan terjadi pada  pergantian musim atau musim pancaroba ini. Masyarakat diminta mewaspadai jenis penyakit ini meski tak terlalu berbahaya.

Dari catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, yang paling banyak terjangkit Ispa, yakni Balita pada usia 1 hingga 5 tahun. Pada tingkatan tertentu, Ispa bisa menjadi pneumonia yang membahayakan.

Kepala Dinkes Jepara Dwi Susilowati mengungkapkan, penyakit ini secara umum disebabkan pencemaran udara. Sehingga ada larangan membakar sesuatu yang menimbulkan asap berlebihan.

”Biasanya memang anak balita yang sering terkena Ispa, seperti pilek, batuk dan lainnya,” ungkap Susi kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Lanjutnya, gejala yang muncul akibat penyakit Ispa diantaranya, hidung tersumbat atau berair, batuk-batuk dan tenggorokkan terasa sakit serta tubuh merasa sakit. Meski dianggap bukan penyakit yang berbahaya.

Namun masyarakat diharapkan segera melakukan penanganan, mulai pengobatan maupun ke Puskesmas terdekat. Terlebih untuk anak-anak yang begitu rentan terjangkit hingga tingkatan pneumonia. (WAHYU KZ/TITIS W)

Waspada! ISPA Mengancam Jelang Musim Pancaroba

Salah seorang warga memakai masker untuk menghindari debu agartidak terkena ISPA. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah seorang warga memakai masker untuk menghindari debu agartidak terkena ISPA. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Menjelang perubahan musim dari kemarau ke musimpenghujan, sejumlah penyakit mengancam. Salah satu yang patutdiwaspadai adalah penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Halitu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, DwiSusilowati kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Menurutnya, semua wilayah di Kabupaten Jepara berpotensi tersebarvirus tersebut. Sebab, virus tersebut sangat mudah menyerang dalamkondisi cuaca yang tidak stabil. Terlebih dengan tingkat polusi dandebu serta bakteri yang banyak.

”ISPA berpotensi dimana saja, bahkan membakar sampah saja juga bisamenyebabkan ISPA, karena bisa menganggu pernafasan,” kata DwiSusilowati.

Lebih lanjut dia menjelaskan, penyakit ISPA umumnya disebabkan karenapencemaran udara. Pada tingkatan tertentu, ISPA bisa menjadi pneumoniayang membahayakan. Gejala yang muncul akibat penyakit ISPAdiantaranya, hidung tersumbat atau berair, batuk-batuk dantenggorokkan terasa sakit serta tubuh merasa sakit.

Jika hal itu terjadi, masyarakat diharapkan segera melakukan penanganan, mulaipengobatan maupun ke Puskesmas terdekat. Terlebih untuk anak-anak yangbegitu rentan terjangkit hingga tingkatan pneumonia. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)