Kondisi Kejiwaan Belum Membaik, Pelaku Perusakan Kantor NU Blora Dirujuk ke RSJ Semarang

MuriaNewsCom, Grobogan – Penanganan kejiwaan terhadap Mufid Mubarok (22), pelaku perusakan kantor PCNU Kabupaten Blora berpindah tempat. Sebelumnya, pelaku mendapat perawatan di klinik kejiwaan RSUD Purwodadi. Namun, saat ini, penanganan terhadap Mufid sudah pindah ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Semarang.

Direktur RSUD Purwodadi Bambang Pujiyanto ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan jika pasien dari Blora tersebut sudah dirujuk ke RSJ Semarang. “Saat ini, pasien tersebut sudah ada di RSJ Semarang. Pasien itu dirujuk Selasa (13/3/2018) sore kemarin,” jelasnya, Rabu (14/3/2018).

Menurutnya, pasien tersebut sebelumnya sudah menjalani perawatan gangguan kejiwaan di RSUD Purwodadi sejak Senin (5/3/2018) lalu. Meski sudah mendapat penanganan khusus, namun kondisi kejiwaannya belum bisa stabil sehingga dirujuk ke RSJ Semarang.

Baca: Masih Emosional, Pelaku Perusakan Kantor NU Blora Ditangani Khusus di RSUD Purwodadi

Seperti diketahui, Mufid ditangkap oleh tiga orang pemuda NU pada Minggu (4/3/2018) dini hari lalu. Ia ditangkap karena masuk kantor PCNU tanpa ijin dan kemudian membuat onar serta merusak beberapa peralatan. Pelaku kemudian diserahkan pada pihak kepolisian dan selanjutnya dikirimkan ke RSUD Purwodadi karena di RSUD Blora belum ada poli khusus untuk gangguan kejiwaan.

Saat masih menjalani perawatan di RSUD Purwodadi, Mufid terlihat masih bicara sendiri. Mufid sempat memohon agar segera dibebaskan. Ia juga minta perawat maupun polisi dari Polres Blora yang berjaga di RSUD Purwodadi agar melepaskan ikatan pada kedua tangannya.

Pasien tersebut untuk sementara masih perlu diikat kedua tangannya pada tempat tidur. Hal itu dilakukan karena kondisi pasien masih emosional dan perlu ditenangkan lebih dulu.

Selain itu, Mufid juga sempat melontarkan permintaan maaf atas tindakan yang dilakukan. Ia menyatakan, perbuatan perusakan kantor PCNU Blora itu dilakukan dalam kondisi khilaf dan spontan tanpa ada perintah dari siapapun.

Editor: Supriyadi

4.444 Penabuh Rebana Meriahkan Peringatan Harlah NU di Alun-alun Purwodadi

 

MuriaNewsCom, GroboganPeringatan Harlah ke-92 Nahdlatul Ulama (NU) yang dilangsungkan di Alun-alun Purwodadi berlangsung semarak, Rabu (28/2/2018) malam. Acara yang dimulai selepas isak hingga dinihari itu dihadiri belasan ribu warga nahdliyin dari berbagai kecamatan.

Acara harlah juga dihadiri Bupati Grobogan Sri Sumarni dan sejumlah pejabat. Hadir pula, Ketua DPRD Grobogan Agus Siswanto dan sejumlah anggota dewan. Tampak pula, Ketua PC NU Grobogan Abu Mansyur beserta jajaran pengurusnya. Acara harlah juga dihadiri calon Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin.

Saat menyampaikan sambutan, Sri Sumarni sempat menyinggung peran para kyai dan alim ulama yang sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan RI. Kemudian, di kalangan Nahdlatul Ulama saat itu juga dikenal dengan istilah resolusi jihad yang mampu menyatukan dan menggelorakan para santri dan kaum nahdliyin dalam merebut kemerdekaan.

“Semangat para pendahulu harus kita lanjutkan. Untuk itu, sebagai generasi penerus, kita harus selalu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, bahasa, dan agama,” katanya.

Sri juga meminta agar kaum muslimin dan muslimat di Grobogan untuk senantiasa memelihara suasana kondusif. Sebab, dengan suasana seperti itu maka pelaksanaan pembangunan bisa dilakukan dengan aman, nyaman, dan lancar.

Peringatan harlah juga dimeriahkan dengan festival rebana yang dilangsungkan sebelum acara inti dimulai. Dalam festival ini ada 4.444 penabuh rebana yang tampil didepan panggung utama. Penabuh rebana ini berasal dari berbagai ponpes dan remaja masjid di Kabupaten Grobogan.

Selain festival rebana, harlah juga diramaikan dengan pertunjukkan tarian Sufi yang diperagakan belasan santri. Acara harlah ditutup dengan pengajian yang menampilkan pembicara Gus Mufawiq dari Yogjakarta.

Pada siang harinya, rangkaian peringatan harlah juga diawali dengan kirab bedug masjid KH Hasan Anwar dari Gubug hingga Purwodadi. KH Hasan Anwar adalah pendiri NU di Grobogan.

Editor : Supriyadi

Hindari Teror Terhadap Tokoh Agama, Polres Kudus Razia Orang Gila

MuriaNewsCom, Kudus – ‎Polres Kudus bersama Satuan Polisi Pamong Praja Kudus, menggelar razia orang tak waras, Rabu (21/2/2018). Hal itu dilakukan untuk menghindari kasus penyerangan tokoh agama yang diduga dilakukan oleh orang gila.

Tim menyisir di daerah Ngembalrejo. Dalam kegiatan itu, polisi mengamankan satu orang tak waras‎.

“Razia ini dilakukan untuk megatasi isyu penyerangan tokoh agama yang dilakukan oleh orang tak waras,” kata Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning, saat menghadiri Forum Group Discussion (FGD) di Hotel @Hom.

Terlebih lagi, lanjut Gurning, ‎Kudus saat ini tengah ada pesta demokrasi ajang pemilihan bupati-wakil bupati Kudus 2018. Ia mengharapkan, tak muncul isyu yang membuat kondisi Kudus semakin tidak stabil.

Dirinya menyebut, orang gila yang diamankan kini telah dibawa ke Panti Rehabilitasi gangguan jiwa Jalma Sehat, Desa Bulung Kulon, Kecamatan Jekulo. Hal itu untuk mencegah orang tersebut kembali lagi ke jalanan.

Adapun, kasus penyerangan tokoh agama oleh orang yang diduga gila, terjadi di Lamongan. Penyerangan itu, terjadi pada ulama pengasuh Pondok Pesantren Karangasem, Paciran, Lamongan KH. Hakam Mubarok, Minggu (18/2/2018).

Editor: Supriyadi

Peringati Kelahiran Nabi, Habib Muhdor Ajak Warga Pati Rapatkan Barisan untuk NKRI

Suasana peringatan Maulid Nabi di kediaman Habib Muhdor bin Alwi Al-Athas. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Habib Muhdor bin Alwy Al-Athas mengajak warga Pati untuk merapatkan barisan dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu disampaikan Habib Muhdor dalam peringatan Maulid Nabi di kediamannya, Jalan Ahmad Dahlan Nomor 13, Pati, Rabu (6/12/2017) malam.

Saat ini, NKRI tengah menghadapi ujian berat karena kerap diterpa isu-isu yang berpotensi memecah belah kesatuan. Jika bangsa ini kuat menghadapi ujian, NKRI akan menjadi bangsa yang lebih besar dan hebat.

Namun, bila bangsa tidak kuat menghadapi ujian, kehancuran akan menanti. Meski demikian, Habib Muhdor yakin jika NKRI akan terus langgeng lantaran ukhuwah melalui peringatan maulid nabi bergema dimana-mana.

Dia sendiri sudah lebih dari 20 tahun melestarikan tradisi maulid nabi dengan selawat, tahlil dan pengajian. “Sang proklamator, Presiden pertama Indonesia Bung Karno dan presiden-presiden selanjutnya juga selalu memperingati kelahiran nabi,” ucap Habib Muhdor.

Selain problem kebangsaan, NKRI saat ini juga mendapatkan ujian berupa bencana dimana-mana, mulai banjir, longsor, angin ribut dan bencana alam lainnya. Karena itu, dia mengajak kepada umat Muslim untuk kembali kepada sunah Rasul.

Dia percaya, problem kebangsaan dan bencana alam akan sirna bila bangsa Indonesia melaksanakan apa yang diajarkan Nabi Muhammad. Misalnya, ajaran toleransi Nabi Muhammad melalui Piagam Madinah yang merangkul semua agama, etnis dan suku.

Dalam konteks NKRI, Piagam Madinah fungsinya mirip dengan Pancasila sebagai peletak dasar pemersatu bangsa. “Mari kita rapatkan barisan, perkuat ukhuwah untuk keberlangsungan NKRI bersama,” ajak Habib Muhdor.

Hal senada disampaikan Ketua Majelis Ulama (MUI) Pati KH Mahmudan. Menurutnya, berkah maulid nabi akan membawa perubahan menuju kebaikan, termasuk eksistensi NKRI.

Melalui maulid nabi, masyarakat akan teringat kembali perjuangan dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad. Maulid nabi juga akan mempererat ukhuwah yang semakin mengokohkan NKRI.

Peringatan maulid nabi di kediaman Habib Muhdor sendiri dihadiri Habib Muhammad Alwi bin Syekh Abu Bakar dari Pasuruan, Jawa Timur, Habib Abdurahman Hasyim Al-Athas, dan perwakilan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Pati.

Editor: Supriyadi

Kapolres Imbau Warga Pati untuk Tidak Terprovokasi Isu Rohingya

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan mengimbau warga Pati untuk tidak terprovokasi dengan isu di Myanmar. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan mengimbau kepada masyarakat Pati untuk tidak terprovokasi dengan isu Rohingya. Imbauan itu disampaikan, usai menggelar rapat dengan tokoh lintas agama di Kantor Kesbangpol Pati, Selasa (5/9/2017).

“Masalah Rohingya itu sangat kompleks, bukan soal umat Islam dilukai umat Buddha saja. Ini masalah kemanusiaan, bukan persoalan antarumat beragama. Jadi, warga Pati kami imbau untuk tidak ikut terprovokasi,” kata AKBP Maulana.

Ia menjelaskan, krisis kemanusiaan di Myanmar saat ini sudah mulai melebar. Apa yang ditampilkan di media sosial merupakan potongan-potongan kecil yang dibingkai supaya bercampur dengan isu yang belum tentu kebenarannya.

“Banyak gambar-gambar kekerasan dan pembantaian yang beredar. Setelah ditelusuri Mabes Polri, ternyata hoax dan tidak ada hubungannya dengan krisis di Myanmar. Kalau tidak hati-hati, kita bisa ikut terpancing,” paparnya.

Karena itu, dia menegaskan bila tragedi kekerasan di Myanmar tidak boleh berdampak pada kekerasan di Indonesia. Donasi, doa bersama dan jalur diplomasi dinilai menjadi langkah tepat untuk membantu umat Rohingya di Myanmar.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Pati M Luqman. Pihaknya ikut prihatin dengan apa yang terjadi di Myanmar. Namun, aksi keprihatinan tidak boleh menggadaikan perdamaian yang sudah terjaga dengan baik di Indonesia.

“Sebaiknya kita doakan dengan cara-cara yang sesuai dengan tradisi leluhur bangsa. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan, apalagi menindas. Kita harus bijak dalam menyikapi segala sesuatu,” tandas Luqman.

Editor: Supriyadi

Begini Sikap Tokoh Lintas Agama Pati Terkait Tragedi Rohingya di Myanmar

Tokoh lintas agama di Pati menyatakan sikap terkait dengan tragedi etnis Rohingya. Pernyataan sikap dilakukan di Kantor Kesbangpol Pati, Selasa (5/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tokoh lintas agama Kabupaten Pati memberikan pernyataan sikap terkait dengan tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar. Pernyataan sikap itu dibacakan di Kantor Kesbangpol Pati, Selasa (5/9/2017).

Sejumlah tokoh yang hadir dalam pernyataan tersebut, antara lain Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan beserta jajarannya, perwakilan Kesbangpol Pati Amin Prasetyo, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), NU, Muhammadiyah, Banser, Maga Budhi, Majelis Buddhayana Indonesia (MBI), perwakilan Viraha Pati dan Vidya Loka Pekuwon.

Mereka sepakat jika tragedi etnis Rohingya di Myanmar bukan peristiwa kebencian antarumat beragama, tapi tragedi kemanusiaan dengan akar masalah yang sangat kompleks. Karena itu, mereka ikut prihatin dengan masalah tersebut.

“Kita sebagai negara dengan umat Muslim terbesar di dunia harus bijak menyikapi kasus di Myanmar. Kita jangan mudah terpancing dengan isu-isu di media sosial yang belum tentu kebenarannya, sehingga berpotensi merusak kerukunan umat beragama yang sudah terjalin baik di Indonesia,” ujar AKBP Maulana.

Menurutnya, keprihatinan terhadap etnis Rohingya di Myanmar harus dilakukan dengan cara yang positif, seperti donasi dan doa bersama agar mereka diberikan keselamatan. Sementara jalur diplomasi dan bantuan kemanusiaan diserahkan kepada pemerintah.

Karenanya, ia mengimbau kepada masyarakat Pati untuk tidak terprovokasi dengan isu bernuansa SARA yang beredar di media sosial terkait dengan umat Muslim Rohingya. Pasalnya, Pati sudah lama dikenal sebagai daerah yang menjadi miniatur kerukunan antarumat beragama.

“Mari kita jaga persatuan dan kesatuan, serta keutuhan kerukunan antarumat beragama khususnya di Kabupaten Pati. Jangan sampai kerukunan yang sudah terbina dengan baik, tergadaikan karena menanggapi isu SARA di medsos yang belum tentu kebenarannya,” pesan AKBP Maulana.

Editor: Supriyadi