Ratusan Mahasiswa dan Guru PAUD Digembleng Peningkatan Kompetensi di IPMAFA Pati

Kaprodi PIAUD IPMAFA Pati Sumiati memberikan materi kepada peserta diklat berjenjang tingkat dasar, Sabtu (19/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 268 mahasiswa dan guru mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) berjenjang tingkat dasar yang diadakan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, Sabtu (19/8/2017).

Peserta dilatih berbagai materi PAUD, seperti konsep dasar PAUD, perencanaan pembelajaran PAUD, kesehatan dan gizi, peer teaching, dan berbagai materi yang menunjang proses kompetensi guru PAUD.

Kepala Prodi PIAUD IPMAFA Pati Sumiati mengatakan, diklat berjenjang tingkat dasar sangat dibutuhkan bagi pendidik PAUD. Setelah mengikuti diklat, peserta diharapkan memiliki sertifikat kompetensi yang akan menguatkan mereka di lapangan.

“Kebetulan prodi PIAUD di IPMAFA, lulusannya menjadi guru PAUD. Sebagian besar mahasiswa kita yang akan lulus dan wisuda tahun ini sudah mengajar, sehingga prodi perlu memberikan pembekalan berupa diklat,” ujar Sumiati.

Awalnya, diklat berjenjang tingkat dasar hanya diperuntukkan bagi mahasiswa tingkat akhir dan alumni IPMAFA. Namun, pihaknya mengakomodasi guru dari umum mengingat permintaan dari luar cukup tinggi.

Hanya saja, kuota dari guru umum tetap dibatasi. Karena itu, kuota yang semestinya hanya 200 orang ditingkatkan menjadi 268 orang.

Setiap peserta wajib mengikuti 48 jam pelajaran yang dibagi selama enam hari, setiap Sabtu dan Minggu. Peserta juga mengikuti pre-test yang kemudian dilakukan penilaian pada post-test, sesudah mendapatkan materi diklat dasar.

“Jadi, nanti ada peringkat nilainya. Kami berharap, para peserta bisa mengerjakan post-test dengan baik, sehingga bisa lulus dan menjadi bekal untuk mengajar di lembaga pendidikan tingkat PAUD,” imbuhnya.

Guru RA AN Nur Tempur, Keling, Jepara, Endang Muati yang mengikuti diklat dasar mengaku senang mendapatkan kesempatan menjadi peserta. Pasalnya, diklat dasar sangat dibutuhkan bagi guru PAUD.

Terlebih, diklat tersebut menyesuaikan kurikulum 2013 yang nantinya menjadi bekal penting bagi para guru agar lebih kompeten. Bagi dia, diksar merupakan inovasi baru untuk membangun kreativitas dan kemampuan guru untuk diajarkan kepada peserta didik.

Editor : Ali Muntoha

Meski Calon Tunggal, Potensi Politik Uang di Pilkada Pati Masih Tetap Ada

 Akademisi Ipmafa, Sri Naharin menyebut kemungkinan politik uang pada calon tunggal Pilkada Pati tetap ada. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Akademisi Ipmafa, Sri Naharin menyebut kemungkinan politik uang pada calon tunggal Pilkada Pati tetap ada. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Pati yang diikuti calon tunggal disebut masih berpotensi mememunculkan politik uang. Hal itu disebabkan karakter warga Pati yang cenderung apatis dalam setiap pemilihan pemimpin.

Menurut survei yang dilakukan Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) Pati, sebagian besar warga Pati memilih calon karena ada faktor uang yang mendorongnya. Riset yang tersebar secara merata di 21 kecamatan di Pati itu melibatkan 1.200 responden.

Karena itu, kendati hanya diikuti satu pasangan calon, kemungkinan adanya politik uang diprediksi tetap ada. “Dari riset yang kami lakukan, stimulus berupa uang masih menentukan pemilih dalam menggunakan hak pilihnya,” kata Sekretaris Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat (LPPM) Ipmafa, Sri Naharin.

Dalam menentukan pilihan, karakter warga Pati disebut lebih kepada ada stimulus, bukan faktor siapa calon yang akan dipilih. Karakter pemilih yang demikian biasanya dimanfaatkan calon untuk memberikan stimulus, baik berupa barang, janji atau uang.

Namun, semuanya akan dikembalikan kepada pasangan calon, apakah berniat untuk memberikan uang atau tidak. “Tentu, semuanya akan kembali kepada pasangan calon apakah akan memberikan uang atau tidak, di tengah kondisi masyarakat Pati yang nyatanya menentukan pilihan berdasarkan stimulus,” ucap Naharin.

Karena itu, pihaknya meminta KPU Pati untuk melakukan edukasi politik kepada masyarakat. Pasalnya, sosialisasi saja dianggap belum cukup efektif untuk memengaruhi masyarakat agar mengatakan tidak pada politik uang.

“Pilkada itu yang paling penting adalah kredibilitas calon, bukan berapa banyak calon atau dengan siapa dia melawan. Kalau calonnya punya kredibilitas dan kepemimpinan yang baik, punya kepedulian yang tinggi kepada masyarakat, saya kira masyarakat akan memilih berdasarkan calon, bukan stimulus,” tandas Naharin.

Editor : Kholistiono

Hari Santri Nasional Diperingati Mahasiswa IPMAFA Pati dengan Cara Tebarkan Perdamaian

Suasana pelatihan pendidikan perdamaian yang digelar Pusat Studi Peace Promotion Fakultas Dakwah Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati kemarin. (Istimewa)

Suasana pelatihan pendidikan perdamaian yang digelar Pusat Studi Peace Promotion Fakultas Dakwah Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati kemarin. (Istimewa)

MuriaNewsCom,Pati – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Pusat Studi Peace Promotion Fakultas Dakwah Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati menggelar pelatihan pendidikan perdamaian.

Dalam rilis yang diterima MuriaNewsCom, pelatihan dengan tema “Memberdayakan Remaja Untuk Perdamaian” itu dilangsungkan di Auditorium 2 Kampus IPMAFA Margoyoso, Pati, Kamis (20/10/2016).

Direktur Pusat Studi Peace Promotion Kamilia Hamidah menyampaikan pelatihan tersebut diikuti puluhan siswa tingkat Madrasah Aliyah (MA) sederajat se-Kecamatan Margoyoso. “Pelatihan yang kita adakan ini, sebagai salah satu bentuk upaya kita untuk menebarkan kedamaian kepada remaja,” ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa peran penting remaja yang harus dikawal. Karena, akses informasi yang begitu masiv, dengan mudah dikonsumsi remaja. Sehingga, hal tersebut harus diantisipasi bersama, supaya remaja tidak salah memilih dan melangkah.

Ia katakan, kekerasan dan radikalisme tidak bisa ditekan hanya dengan peran aparat penegak hukum, melainkan juga gerakan-gerakan dari bawah seperti yang dilakukan Pusat Studi Peace Promotion.

Lebih lanjut ia sampaikan, Peace Promotion sebagai pusat studi yang aktif menyebarkan nilai perdamaian, selalu berinovasi dalam setiap kegiatan yang dijalankan. Hal ini, mengingat pentingnya menerapkan strategi kombinasi role model dan role playing, serta mempromosikan secara masif para figur pemuda yang perlu diteladani. Sehingga, nantinya diharapkan dapat mengkondisikan peran positif pemuda lainnya secara pro aktif.

Foto bersama panitia pelatihan pendidikan perdamaian dari Pusat Studi Peace Promotion Fakultas Dakwah Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati dengan peserta (Istimewa)

Foto bersama panitia pelatihan pendidikan perdamaian dari Pusat Studi Peace Promotion Fakultas Dakwah Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati dengan peserta (Istimewa)

“Training ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas karakter pemuda dan partisipasi pemuda dalam upaya membangun budaya toleransi yang merupakan bagian integral untuk merealisasikan perdamaian,” ucapnya.

Sementara itu, Suhaili, Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Margoyoso menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan pelatihan yang diadakan Pusat Studi Peace Promotion.

“Kegiatan seperti ini patut didukung, karena upayanya membangun kesadaran para santri untuk menjadi muslim yang sholeh. Santri memang tidak asing dengan pelajaran-pelajaran akhlak dan moral, tapi dalam praktiknya sangat sulit sekali dilakukan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Santri Diminta Bisa Belajar dari Teladan Kiai Sahal

Malik Madani saat memberikan ceramah di hadapan ribuan santri pada acara peringatan haul dan 1.000 hari Kiai Sahal Mahfudz di Pesantren Maslakul Huda Kajen beberapa waktu lalu (Istimewa).

Malik Madani saat memberikan ceramah di hadapan ribuan santri pada acara peringatan haul dan 1.000 hari Kiai Sahal Mahfudz di Pesantren Maslakul Huda Kajen beberapa waktu lalu (Istimewa).

MuriaNewsCom,Pati – Peringatan haul dan 1.000 hari wafatnya Kiai Sahal Mahfudz menjadi momentum bagi santri untuk melanjutkan perjuangan Kiai Sahal. Hal ini, disampaikan KH. Malik Madani, Dosen UIN Yogyakarta, yang juga Katib Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama peridoe 2010-2015. Hal ini disampaikan di hadapan ribuan santri di Pesantren Maslakul Huda, Minggu (02/10/2016).

Dalam kesempatan itu, Kiai Malik Madani mengungkapkan, bahwa sosok Kiai Sahal adalah orang yang langka. “Kiai Sahal harus menjadi teladan bagi kita semua, beliau orang alim yang langka. Kiai Sahal lahir dari keluarga kiai besar, namun tidak terjebak pada bayang-bayang kebesaran masa lalu. Justru, Kiai Sahal mampu tegak berdiri untuk membangun kesuksesan,” terang Kiai Malik.

Dirinya mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari Kiai Sahal. Di antaranya dalam hal kedisiplinan, visi, niat pengabdian, dan konsistensi. “Dalam segala hal, saya sebenarnya tidak pantas memberi ceramah pada agenda penting ini. Tapi, saya beranikan demi kecintaan dan pengabdian saya kepada Kiai Sahal,” ujarnya.

Kiai Malik Madani mengaku sangat kagum dengan sosok Kiai Sahal. “Saya menjadi sekretaris Kiai Sahal, di jajaran Syuriah PBNU, sebagai Katib Am. Pada waktu itu, Kiai Sahal menjadi Rais Am. Saya belajar banyak dari Kiai Sahal, beliau itu guru saya. Santri-santri harus belajar dari teladan dan keilmuan Kiai Sahal” ungkap Kiai Malik Madani.

Tahlil umum ini, merupakan puncak dari agenda rangkaian acara peringatan 1.000 hari wafatnya Kiai Sahal. Sebelumnya, juga diselenggarakan Seminar & Call Paper Fiqh Sosial, temu alumni, serta peresmian Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda yang dilakukan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Editor : Kholistiono

Buku Santri Membaca Zaman Dibedah di IPMAFA Pati

Para tokoh membedah buku Santri Membaca Zaman: Percikan Pemikiran Kaum Pesantren di IPMAFA, Margoyoso, Pati, Sabtu (24/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Para tokoh membedah buku Santri Membaca Zaman: Percikan Pemikiran Kaum Pesantren di IPMAFA, Margoyoso, Pati, Sabtu (24/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Buku “Santri Membaca Zaman: Percikan Pemikiran Kaum Pesantren” yang merupakan antologi dari tulisan santri alumni TBS Kudus dibedah di Institut Pesantren Mathaliul Falah, Margoyoso, Pati, Sabtu (24/09/2016).

Hadir dalam bedah buku tersebut, antara lain Ketua RMI PBNU KH Abdul Ghoffar Rozin, peneliti dan penulis buku Noor Said, Pustekkom Kemendikbud Hasan Chabibie, dan Wakil Rektor I IPMAFA A Dimyati. Acara yang digagas PC IPNU dan IPPNU bekerja sama dengan BEM IPMAFA, serta Santri Menara tersebut diikuti lebih dari seratus peserta.

“Antologi buku ini berisi tentang refleksi para santri dalam membaca ayat-ayat Allah, baik qouliyyah maupun kauniyah. Dari refleksi ayat-ayat Allah kemudian muncul ide dan ilmu pengetahuan untuk mengembangkan pendidikan Islam di wilayah pesisir utara Jawa,” ujar Ketua Panitia Bedah Buku, Faqih Hilal.

Sementara itu, salah satu penulis buku, Noor Said menuturkan, buku itu terbit setelah banyak tulisan dikumpulkan melalui aplikasi Whatsapp. Dalam waktu dua minggu, 25 tulisan akhirnya terkumpul, kemudian diedit, layout, dan terbit.

“Buku ini akan menegaskan bahwa santri sudah semestinya menjadi penjaga Ahlussunnah Waljamaah untuk menjaga Islam Nusantara yang selalu ramah dan toleran. Buku ini juga menjelaskan fakta-fakta seputar santri dan kritikan terhadapnya,” ungkap Said.

Buku itu mendapat pujian dari Wakil Rektor I IPMAFA, A Dimyati. Menurutnya, sesuai dengan buku itu, santri tidak hanya cukup menjadi pintar, saleh, dan digdaya. Seorang santri mesti punya kemampuan untuk mengorganisir dan mengonsolidasi untuk menggerakkan masyarakat.

Editor : Kholistiono

Mahasiswa IPMAFA Kenalkan Pendidikan Lingkungan Anak di Desa Bermi Pati

 Sejumlah siswa diajak untuk menanam bibit pohon sebagai bentuk pengenalan cinta lingkungan sejak dini. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Sejumlah siswa diajak untuk menanam bibit pohon sebagai bentuk pengenalan cinta lingkungan sejak dini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Mahasiswa yang tengah mengikuti kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Bermi, Kecamatan Gembong, Pati mengenalkan pendidikan lingkungan anak (PLA) di sejumlah sekolah dasar (SD). Program PLA dinilai penting dikenalkan anak-anak agar punya semangat cinta lingkungan sejak dini.

“Lingkungan adalah rumah bagi manusia, binatang, dan makhluk yang hidup di dalamnya. Kerusakan lingkungan juga akan mengancam keberlangsungan hidup manusia. Karena itu, pengenalan pendidikan lingkungan anak (PLA) sangat penting dilakukan sejak dini,” ujar Koordinator KKN Desa Bermi, Muh Ghufron, Kamis (25/8/2016).

Program itu kemudian disebut sebagai “Sahabat Green School”. Salah satu sekolah yang menjadi sasaran program tersebut adalah SD Negeri Bermi 03 dan MI Manba’ul Ulum Bermi. Mereka diharapkan menjadi pioner untuk mengkampanyekan cinta lingkungan.

“PLA Sahabat Green School merupakan gerakan kecil untuk memberikan pemahaman sejak dini kepada generasi muda supaya mencintai kebersihan dan menjaga kelestarian alam. Melalui program ini, anak-anak diajak untuk bermain sekaligus belajar tentang pelestarian alam di lingkungan sekolah mereka,” tutur Ghufron.

Sejumlah slogan yang diajarkan kepada siswa, di antaranya Ayo Pungut Sampah, Galakkan Aksi Tanam, hingga Kreasikan Sampah. Tak sekadar ajakan untuk mencintai lingkungan, mereka juga dikenalkan bagaimana sampah atau limbah bisa dikreasikan menjadi produk.

Aksi tersebut mendapatkan sambutan positif dari Kepala SD Bermi 03 Ngusmin. Menurutnya, gerakan Sahabat Green School akan diadopsi di sekolahnya karena tidak sekadar bergerak di wilayah teori, tetapi juga praktik. Hal itu yang dinilai mengena dan disukai siswa.

Editor : Kholistiono

IPMAFA Pati Gelar Sarasehan Agraria

ipmafa

Kegiatan sarasehan yang diadakan oleh IPMAFA Pati. (IPMAFA PATI)

 

MuriaNewsCom, Pati – Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah di Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, mengadakan acara sarasehan dan buka bersama, di Aquarium IPMAFA lantai dua, Rabu (22/6/2016)

Tema kegiatan “Mengembalikan Spirit Agraria; Mewujudkan Pembangunan Yang Sesuai Kultur Nusantara”. Acara disertai santunan anak yatim juga.

Dalam acara yang diadakan Prodi PMI IPMAFA bersama inisiasi mahasiswa dan didukung Bem-Pro PMI menghadirkan Edi Sutresno Serikat Petani Indonesia Jawa Tegah, perwakilan dari Prodi PBA dan mahasiswa dari STAIP Pati. Selain juga, mahasiswa IPMAFA.

Dalam rilisnya ke MuriaNewsCom, dijelaskan alasan tema kegiatan itu. Di antaranya, satu hal utama yang dianggap sangat penting terkait dengan isu Agraria tersebut adalah upaya mengubah pemikiran masyarakat pribumi Nusantara secara luas.

Yakni masih memiliki pandangan bahwa pekerjaan pada sektor Agraria (pertanian) itu susah. Hanya menjadi kelas bawah masyarakat. Padahal pertanian menjadi garapan ekonomi yang potensial untuk dikembangkan.

Secara lebih spesifik lagi, adalah terjadi tranformasi paradigma dalam pemikiran masyarakat pribumi Nusantara dari “Petani rekoso menjadi Petani Mulyo”.

Selanjutnya, juga disinggung bagaimana sektor pertanian itu dapat dikembangkan. Dengan menemukan jawaban kedua itu, nantinya dapat dijadikan langkah awal menuju pembangunan yang sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia.

Editor : Akrom Hazami