Masih Gunakan Mesin Tua, PG Rendeng Kudus Bakal Diberi Suntikan Dana

Pekerja tengah melakukan perawatan mesin produksi di Pabrik Gula Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Pabrik Gula (PG) Rendeng Kudus menjadi salah satu dari tiga pabrik gula di Provinsi Jateng yang akan mendapatkan suntikan dana dari Kementerian BUMN. Dana tersebut akan dikucurkan untuk merevitalisasi mesin, yang masih mengandalkan mesin tua peninggalan Belanda.

Selain PG Rendeng, dua pabrik lain yang juga mendapatkan jatah yakni PG Colomadu Karanganyar dan PG Pangkah Kabupaten Tegal. Tiga pabrik ini akan mendapat kucuran dana pinjaman sebesar Rp 1 triliun.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng Yudhi Sancoyo mengatakan, kucuran dana untuk revitalisasi tersebut akan membantu upaya Jateng untuk swasembada gula pada 2019 mendatang.

Selama ini menurut dia, tebu hasil panen petani tak bisa tertampung pabrik gula lantaran terbatasnya kapasitas mesin produksi pabrik gula. Dengan revitalisasi maka kapasitas produksi akan bisa meningkat.

“Tiga pabrik gula ini akan mendapat pinjaman dari Kementerian BUMN sebesar Rp 1 triliun. Sehingga bisa membantu upaya revitalisasi pabrik gula,” katanya.

Menurut dia, revitalisasi pabrik gula menjadi pekerjaan rumah tersendiri untuk upaya memenuhi swasembada gula. Pasalnya, revitalisasi membutuhkan anggaran yang sangat besar.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebelumnya menyebut, pihaknya berencana merevitalisasi seluruh pabrik gula. sebagai salah satu upaya mendukung dan mewujudkan swasembada gula.

“Nanti akan ada desain ulang pabrik tebu yang ada di Jateng. Karena selain kondisi bangunan pabrik yang jadul, mesinnya juga jelek dimakan usia,” ujarnya.

Menurut dia, revitalisasi pabrik gula yang juga bertujuan meningkatkan produktivitas gula berkualitas itu, perlu dilakukan karena kondisi hampir semua pabrik termasuk mesin penggiling tebu di Jateng sudah tua.

“Padahal selain kualitas tanaman, kondisi pabrik maupun mesin juga mempengaruhi posisi rendemen atau kadar kandungan gula dalam batang tebu,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Dewan Tak Permasalahkan Jumlah Minimarket yang Membengkak di Kudus, Ini Alasanya

Mukhasiron, Ketua Komisi B DPRD Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Meskipun jumlah minimarket di Kabupaten Kudus, membengkak melebihi kuota yang ditentukan, namun kalangan DPRD Kudus tak mempermasalahkannya.Dewan menganggap minimarket-minimarket itu beroperasi sebelum aturan baru muncul, yakni Perda Nomor 12 Tahun 2017 yang mengatur tentang pasar modern.

Ketua Komisi B DPRD Kudus, Mukhasiron mengatakan, minimarket tersebut diketahui dibangun sebelum perda anyar disahkan. Sedangkan sebelumnya, aturan belum detail seperti saat ini.

“Kalau sekarang tinggal menjalankan yang belum ada, atau yang sedang proses. Kalau yang sudah tidak bisa ditindak, lantaran aturan lama memperbolehkan. Perbaiki ke depannya saja,” katanya.

Menurut dia, dalam perda tersebut memuat beberapa aturan utama tentang minimarket, dapat diberlakukan di dua kecamatan yang kurang, yaitu Dawe yang kurang dua unit dan Gebog satu unit.

Baca : Jumlah Minimarket di Kudus Ternyata Sudah Membengkak Segini Banyaknya

Hal yang sama juga dikatakan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kududs, Revlisianto Subekti. Menurut dia, aturan lama memang memperbolehkan hal tersebut. Apalagi, kini minimarket sudah beroperasi cukup lama.

“Bagi yang sudah ada, tinggal proses perpanjangan izinya saja yang harus dipenuhi,” ujarnya.

Dalam aturan terbaru, saat ini minimarket harus berjarak minimal satu kilometer dari pasar tradisional. Kebijakan ini mengubah aturan sebelumnya yang hanya berjarak minimal 500 meter dari pasar tradisional.

Editor : Ali Muntoha

Jumlah Minimarket di Kudus Ternyata Sudah Membengkak Segini Banyaknya

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan minimarket di Kabupaten Kudus benar-benar sudah sangat menjamur. Bahkan jumlahnya sudah membengkak melebihi kuota yang diperbolehkan.

Catatan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kudus, jumlah minimarket di kota ini sudah mencapai 80 unit. Padahal sesuai ketentuan maksimal hanya diperbolehkan sebanyak 62 unit saja.

Minimarket-minimarket tersebut tersebar di beberapa kecamatan yang ada di Kudus. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kudus, Revlisianto Subekti mengatakan, Perda Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penataan Pasar Modern hanya membatasi jumlah minimarket sebanyak 62 unit saja.

“Dalam perda tersebut, dijelaskan kalau jumlah maksimal minimarket di Kudus sejumlah 62 unit. Faktanya, jumlah jumlahnya sekarang sudah 80 unit,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, keberadaan minimarket yang membengkak melebihi kuota itu terdapat di lima kecamatan.

Yaitu Kecamatan Kota yang terdapat 21 minimarket, dari kuota 19 minimarket. Kecamatan Jekulo terdapat delapan minimarket dari kapasitas lima unit.

Baca : Langgar Ketentuan, Komisi B DPRD Kudus Tegur Indomaret dan Alfamart

Di Kecamatan Mejobo ada tujuh minimarket dari jatah hanya lima. Kemudian Kecamatan Bae ada 10 minimarket dari kuota empat, dan Kaliwungu terdapat 13 minimarket dari jatah lima saja 

Sedangkan, kecamatan yang sesuai dengan perda anyar itu berada di Kecamatan Jati dan Undaan. Untuk Jati, kapasitas 11 minimarket sudah penuh. Begitu pula dengan Undaan yang dijatah tiga minimarket saja.

“Dua kecamatan lainya, yaitu Dawe dan Gebog masih kurang. Untuk Dawe masih kurang dua minimarket dari kuota enam, baru ada empat. Begitu juga Gebog yang kuotanya empat baru ada tiga,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tiga Warga Undaan Kudus Nyaris Terpanggang Hidup-hidup di Dalam Rumahnya

Api membakar rumah milik Suharti, di Desa Karangrowo, RT 5 RW 1, Kecamatan Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Nasib mujur masih menyertai Suharti (40) bersama dua anaknya, yang tinggal di Desa Karangrowo, RT 5 RW 1, Kecamatan Undaan, Kudus. Meski rumah yang mereka tempati hangus dilalap api, namun mereka masih bisa selamat.

Pasalnya, hampir saja mereka terpanggang hidup-hidup, karena masih terlelap tidur saat rumahnya terbakar.

Beruntung, saat api mulai membesar ada warga yang melintas dan mengetahui kebakaran, langsung mendobrak pintu untuk menyelamatkan tiga penghuni rumah tersebut.

Peristiwa kebakaran ini terjadi pada Jumat (22/9/2017) dini hari, sekitar pukul 01.15 WIB. Saat peristiwa itu terjadi, Suharti dan anaknya tengah tidur di dalam kabar, dan tak mneyadari jika rumahnya mulai terbakar.

“Saat itu, terdapat warga yang kebetulan memergoki api yang membakar rumah. Melihat hal itu, warga langsung menggedor-gedor pintu rumah untuk membangun pemiliknya,” kata Kapolsek Undaan AKP Anwar,  kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, setelah terbangun, bersama sejumlah warga lainya pemilik rumah langsung dibawa ke tempat yang aman di musala yang tak jauh dari tempat tinggalnya.

Setelah itu, lanjut Anwar, warga menghubungi pemadam kebakaran untuk membantu memadamkan api yang sudah membesar. Karena jaraknya jauh, pemadam kebakaran dari BPBD Kabupaten Kudus datang cukup terlambat. Sekitar pukul 02.45 WIB api baru bisa dipadamkan.

“Akibat kebakaran yang hebat, kerugian ditaksi mencapai Rp 40 jutaan. Karena hampir semua barang di dalam rumah habis terbakar,” jelasnya.

Pihaknya menduga, kebakaran dipicu dari kompor gas yang digunakan masak air. Karena tak mati sempurna, sehingga membakar rumahnya. Beruntung, dalam kejadian tersebut tak memakan korban dan gas tak meledak.

Editor : Ali Muntoha

Dua Warga Kudus Kembali Meninggal saat Ibadah Haji

Almarhum Sipan Kamto sebelum meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji. (Foto : Saiful Annas/TPHD Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Jumlah warga Kabupaten Kudus yang meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji, kembali bertambah. Dua jemaah yang meninggal dunia itu dikabarkan langsung dimakamkan di Tanah Suci.

Kasi Haji dan Umroh Kemenag Kudus, Sururi mengatakan, dua jemaah yang meninggal dunia yakni Suyatman Budiarso Karjo (60) asal Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu, dia meninggal pada 9 September 2017 jam 21.00 waktu setempat.

“Sebelum meninggal, jemaah sudah dirawat di Rumah Sakit An Noor Makkah. Namun karena tak tertolong, akhirnya meninggal dan dimakamkan di Makkah Saudi Arabia,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (11/9/2017).

Menurut dia,  jemaah kedua yakni Sipan Kamto Marwi Sirin (67) warga Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati. Sipan meninggal pada 9 September 2017 lalu, sekitar jam 17.00 waktu setempat.

Baca : Lagi, Jemaah Haji Asal Kudus Meninggal di Mekah

Jemaah yang tergabung dalam Kloter 37 ini, meninggal setelah dirawat selama 12 hari karena penyakit diabetes militus dengan komplikasi. Sipan akhirnya dimakamkan di Arab Saudi tak lama setelah meninggal dunia.

“Untuk keluarga jemaah sudah kami kabari akan meninggalnya jemaah. Kami kabari lewat KUA kecamatan dengan langsung ke rumahnya,” ujarnya.

Sebelumnya, dua jemaah haji asal Kudus yang meninggal adalah  Sulti Sanaji Ngadiman (61) warga Desa Temulus RT 1 RW 6, Kecamatan Mejobo. Dan Rebo Rukani Mokim (69) asal Desa Berugenjang Kecamatan Undaan telah meninggal lebih dahulu dan sudah dimakamkan.

“Kami mendoakan semoga Khusnul khatimah dan jadi haji mabrur. Dan keluarga yang ditinggal dapat menerima dan tabah,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Warga Kudus Meninggal saat Haji, Dimakamkan di Tanah Suci

Gudang Kayu di Jati Kudus Ludes Terbakar

Petugas pemadam dan warga bersama-sama memadamkan gudang kayu di Jati, Kudus, yang terbakar, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kebakaran besar terjadi di sebuah gudang kayu di Desa Jati Kulon, RT 3 RW 3, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Rabu (30/8/2017) pagi. Api melalap habis seluruh isi gudang hingga menyebabkan kerugian mencapai puluhan juta rupiah.

Beruntung tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun warga sekitar sempat panik khawatir jika api terus membesar dan merembet ke bangunan lain.

Informasi menyebutkan, api mulai membakar gudang sekitar pukul 08.00 WIB. Kebakaran tersebut diduga dipicu tak normalnya mesin oven kayu yang saat itu tengah dioperasikan.

Pemilik gudang, Tri Rudi (40) mengatakan, sebelum kebakaran terjadi, mesin pemanas tersebut tengah digunakan untuk mengeringkan kayu. Namun mesin oven itu bekerja terlalu over, sehingga justru membakar kayu-kayu tersebut.

“Di dalam gudang banyak kayu. Jadinya api yang sudah membakar kayu yang tengah dipanaskan. makin membesar dan sampai membakar kayu lainya. Apalagi pemanas juga masih nyala yang membuat suhu dalam gudang semakin panas,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kayu yang disimpan di dalam gudang sebagian besar merupakan kayu mahoni dari berbagai ukuran. Kayu-kayu tersebut merupakan pesanan dari sejumlah toko meubel yang ada di Kudus.

Ia menaksir, kerugian yang diderita akibat peristiwa itu mencapai sekitar Rp 20 juta. Yakni kerugian kayu yang terbakar sebesar Rp 18 juta, dan bangunan sekitar Rp 2 juta.

Tri Rudi mengakui, kebakaran itu baru diketahui setelah api membesar, dan terlihat dari kejauhan. Sehingga tak bisa ditangani dengan cepat dan meminimalisasi kerugian.

Kebakaran baru berhasil dijinakkan satu jam lebih setelah petugas pemadam kebakaran bersama warga, berjibaku melakukan pemadaman. Sebagian besar isi gudang sudah menjadi arang.

Editor : Ali Muntoha

Ekspresi Lucu Bocah-bocah TK Cahaya Nur Kudus saat Diimunisasi Dokter Cantik

Ekspresi anak didik TK Cahaya Nur Kudus ketika disuntik imunisasi measles rubella. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Selalu ada “drama” di tengah-tengah imunisasi yang dilaksanakan di sekolah. Sejak dulu, hingga kini pun imunisasi seolah-olah menjadi momok yang begitu menakutkan.

Beragam cara dilakukan bocah-bocah ini untuk menghindari imunisasi. Mulai dari bersembunyi, pura-pura sakit, bahkan ada yang melawan dan menendang seperti video yang beredar di medsos belakangan terakhir.

Begitu juga dengan anak didik di KB-TK Cahaya Nur Kudus, Selasa (29/8/2017). Lihatlah ekspresi lucu mereka ketika mendapatkan suntikan imunisasi MR (measles rubella). Ada yang biasa saja, ada yang menahan takut, bahkan ada bocah yang sok seolah tegar menahan suntikan, yang membuat orang tuanya terpingkal-pingkal melihatnya.

Untuk membuat anak didiknya mau diimusinasi, sekolah ini memang melakukan langkah edukasi yang cukup panjang.

Apalagi menurut  Sr Anna Damiana PI, Kepala KB TK Cahaya Nur Kudus, tak semua orang tua menerima begitu saja mengenai suntikan imunisasi. Sebagian orang tua justru khawatir jika anaknya harus diimunisasiIMR, terlebih pelaksanaan di sekolah dengan petugas dari Puskesmas.

“Kami pertama memberikan penjelasan lewat surat kepada seluruh orang tua. Jika ada yang mempertanyakan, maka guru akan melaporkan kepada saya untuk saya temui secara langsung yang bersangkutan,” katanya kepada wartawan di sela-sela imunisasi di KB TK Cahaya Nur.

Salah satu anak didik TK Cahaya Nur Kudus menahan sakit sambil mengacungkan jempol saat disuntik imunisasi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Menurut dia, orang tua siswa mempertanyakan apakah ada dokter yang bertugas ataukah tidak. Selain itu, mengenai jarum suntik yang digunakan juga dipertanyakan apakah steril dan sekali pakai ataukah tidak.

Menjawab pertanyaan tersebut, pihak sekolah menjelaskan kalau terdapat dokter yang menangani langsung untuk proses imunisasi. Selain itu, jarum suntik yang digunakan juga sekali pakai, sehingga orang tua tak perlu khawatir.

“Sebenarnya otangtua juga masih ragu dengan petugas dari Puskesmas. Tapi dari kami menejelaskan kalau petugas puskesmas sekarang profesional dan sangat bagus. Apalagi ada dokternya juga,” ujarnya.

Sementara, untuk para siswa yang diimunisasi sejumlah 150 siswa. Untuk memberi pemahaman, selama sepekan penuh materi yang diberikan adalah materi tentang imunisasi dan dampaknya. Bahkan video tentang imunisasi juga diputarkan agar anak memahaminya.

Selain itu, lanjut dia, para pendidik juga memberikan contoh proses imunisasi. Harapnya, para siswa tidak kaget dan siap menjalani proses imunisasi.

“Kami mendukung program pemerintah pusat, makanya kami berusaha agar semua siswa dapat imunisasi,” ungkap dia.

Dalam sekolah tersebut, terdapat beberapa siswa yang tak bisa diimunisasi hari ini. Karena, sebagian sudah diimunisasi dan sebagian lainnya sedang sakit. Untuk itu, sekolah memberi rujukan agar diberikan imunisasi serupa di klinik.

Editor : Ali Muntoha

Petani Tebu di Kudus Ngluruk Istana Negara, Ini yang Mereka Tuntut

Para petani tebu dari Kabupaten Kudus sebelum bertolak ke Jakarta untuk menggelar aksi demo. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus –  Puluhan petani tebu dari Kudus, ngluruk ke Jakarta untuk memprotes kebijakan pemerintah mengenai gula, Senin (28/8/2017) hari ini. Mereka bergabung dengan para petani tebu lain dari seluruh Indonesia yang merasa nasibnya tak digubris pemerintah.

Aksi ini digelar lantaran para petani tebu merasa tercekik dengan kebijakan pembelian gula yang sangat murah, dan dibukannya keran impor. Tempat yang bakal menjadi lokasi demo adalah Istana Negara serta kementerian terkait.

Para petani tebu ini bertolak dari Kudus Minggu (27/8/2017) dengan menumpang bus. Mereka mendesak pemerintah agar mengeluarkan kebijakan pembelian gula segarga Rp 11 ribu per kilogram.

Seorang petani yang ikut berangkat, Agus, mengatakan jumlah petani tebu yang ikut aksi asal Kudus sejumlah 49 petani.

“Ada sejumlah tuntutan yang akan kami sampaikan. Seperti halnya meminta pemerintah mengehentikan impor gula ke Indonesia. Khususnya saat musim giling seperti saat ini,” katanya kepada wartawan.

Mereka mendesak pemerintah menghentikan impor gula, lantaran gula produksi petani lokal masih belum terserap.

Ini dikarenakan kebijakan Bulog yang membeli gula jauh di bawah biaya produksi. Agus menyebut, Bulog hanya membeli gula produksi petani seharga Rp 9,7 ribu per kilogram.

Padahal biaya produksi yang mereka keluarkan mencapai Rp 10,600 per kilogram. Apalagi saat ini menurut dia, kondisi petani tebu tengah terpuruk, lantaran curah hujan yang cukup tinggi beberapa waktu lalu, hingga membuat hasil panen tak maksimal.

“Akibat cuaca kami mengalami rugi banyak. Jika biasanya bisa menghasilkan 1.000-1.200 kuintal per hektare, kini turun menjadi 500-600 kuintal per hektarenya. Apalagi tanaman tebu dalam panen membutuhkan 10 bulan,” ungkap dia.

Sementara, Sekretaris Jenderal DPN APTRI M Nur Khabsyin menambahkan, Bulog membeli gula petani masih di bawah   biaya pokok produksi (BPP) Rp10.600 per kilo. Untuk itu, kini petani menolak menjual gula ke perusahaan milik negara itu.

“Pemerintah harus bertindak dengan menghentikan impor gula. Karena hancurnya harga gula disebabkan impor tersebut,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Mereka Memilih Gelar Upacara Kemerdekaan di Bekas Stasiun Wergu Kudus

Upacara bendera untuk memeringati HUT ke-72 Kemerdekaan RI di bekas stasiun Wergu Wetan, Kudus, Kamis (17/8/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah komunitas dan warga Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, memilih menggelar upacara kemerdekaan di tempat yang berbeda, Kamis (17/8/2017). Upacara yang digelar secara sederhana itu tak digelar di lapangan seperti umumnya, melainkan di dalam bangunan bekas Stasiun Wergu.

Peserta upcara juga mengenakan kostum-kostum para pejuang. Arief Indaryanto, panitia upacara, ada ratusan peserta yang berasal dari belasan komunitas dan warga Wergu.

“Lebih dari 15 komunitas mengikuti upacara ini. Selain kami dari Karang Taruna, ada komunitas Rumah Dongeng Marwah, Komunikasi Jenang, Pecinta Sejarah, Onto Onto Tok, Kresek, Kudus mengajar dan lainnya,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (17/8/2917).

Ia menjelaskan, dipilihnya tempat ini karena bekas stasiun itu merupakan peninggalan Belanda. Dengan menggelar di tempat bersejarah, maka harapannya jiwa kepahlawanan akan mudah muncul, terlebih bagi para kawula muda agar lebih mencintai Indonesia.

Selain itu, lanjut dia, dengan mengajak sejumlah komunitas di Kudus dan warga, rasa persatuan dan kesatuan antarsesama warga juga akan lebih tercipta, sehingga kemerdekaan Indonesia akan tetap terjaga.

Upacara tersebut mampu menarik perhatian banyak warga. Bahkan mereka yang menonton, ikut hormat dan menyanyikan lagu Indonesia raya saat pengibaran bendera dilangsungkan.

Editor : Ali Muntoha

Masan, Umar dan Sumiyatun Harap-harap Cemas Tunggu Restu Megawati

Ketua DPRD Kudus, Masan saat pengambilan berkas pendaftaran di Kantor PDIP Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Tiga tokoh yang mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati Kudus melalui PDI Perjuangan, kini tengah bersiap-siap kapanpun akan dipanggil DPP untuk dites. Mereka berharap-harap cemas, akankan restu dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri akan diberikan kepadanya.

Tiga orang yang memperebutkan rekomendasi dari PDI Perjuangan itu yakni Ketua DPRD Kudus Masan, Sumiyatun (PNS yang mengajukan pengunduran diri) dan Umar Ali atau dikenal dengan nama Mas Umar (pengusaha).

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kudus M Yusuf Roni mengatakan, ketiga nama tersebut sudah melengkapi berkas pendaftaran dan telah dikirim ke DPP.

“Kalau kami di PDIP, rekomendasi semuanya yang menentukan adalah dari DPP. Jadi ketiga nama sudah diajukan dan tinggal menunggu proses berikutnya saja,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (14/8/2017).

Ia menyatakan, tiga calon itu harus siap kapanpun dipanggil DPP untuk dilakukan tes oleh pengurus PDI Perjuangan pusat. Tes terdiri dari tertulis dan wawancara. Tes tulis terdiri dari kemampuan calon dalam pemahaman partai hingga kemampuan akademik yang dimiliki.

M Yusuf juga menyebut, DPP dalam memberikan rekomendasi juga mendasarkan dari hasil survei internal terhadap bakal calon. Sebelumnya, internal PDIP jga telah melakukan survei, yang dilakukan sebelum penjaringan bakal calon dibuka.

Editor : Ali Muntoha