Tiga Desa di Jepara Berada di Lereng Gunung Muria Ini Rawan Bencana

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Tiga desa di kawasan Lereng Gunung Muria bagian barat, rentan ancaman banjir bandang dan longsor. Ketiganya adalah Desa Sumberrejo, Kecamatan Donorojo, dan Desa Tempur, serta Desa Damarwulan yang berada di Kecamatan Keling. 

Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Lulus Suprayitno, Selasa (14/11/2017). Menurutnya, ancaman itu seiring wilayah Jepara yang telah memasuki musim penghujan.

Selain itu, perubahan perilaku dalam pemanfaatan alam juga ditengarai sebagai penyebab tiga desa tersebut terancam longsor dan banjir bandang setiap musim hujan datang. Menurutnya, saat ini tumbuhan yang banyak ditanam adalah sengon dan jabon.

Dikatakan Lulus, pepohonan seperti sengon dan jabon tidak mengikat tanah dengan kuat. Karena, batang pohon tersebut seringkali dipotong untuk kemudian dijual.

Hal itu tidak seperti pohon kopi, yang sebelumnya banyak tertanam di wilayah tersebut. Oleh karenanya, ia meminta warga untuk waspada terutama mendekati puncak musim hujan.

“Sesuai prakiraan dari BMKG, hujan lebat akan mulai terjadi pada bulan Desember 2017 hingga Februari 2018. Curah hujan bisa mencapai 300 mililiter perdetik,” katanya.

Oleh karenanya, pihaknya telah menempuh berbagai cara untuk mengurangi risiko bencana. Di antaranya membentuk komunitas pengurangan risiko bencana dan pemasangan rambu-rambu peringatan bahaya longsor di sejumlah titik.

Editor : Ali Muntoha

Geger Ayam Sakti di Jepara, Masih Hidup Setelah 19 Jam Disembelih Pencuri

Kondisi ayam yang tersembelih pada Sabtu (4/11/2017) pagi pukul 08.00 WIB. Sebegian urat di leher ayam sudah putus. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Keanehan terjadi pada ayam milik warga di Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Jepara. Ayam itu masih hidup dan beraktivitas seperti biasa, setelah 19 jam disembelih oleh orang tak dikenal.

Bahkan urat di leher ayam tersebut sudah putus dan terlihat menjulur dari leher yang sudah terpotong separuh. Alhasil kondisi ini bikin warga di sekitar desa itu geger. Ayam itu merupakan milik keluarga Heri Priyanto, warga Desa Karanggandong.

“Jadi ayam itu milik om saya yang rumahnya berdekatan. Sehabis Jumatan (Jumat,3/11/2017), saya lihat ayam itu sudah dalam kondisi leher yang tersembelih. Urat pernapasannya putus, namun urat darahnya belum,” kata Heri Priyanto, Sabtu (4/11/2017) pagi.

Ayam jantan berwarna putih bercorak kecokelatan itu, nampak masih melakukan aktivitas sebagaimana biasa. Bahkan, ayam tersebut masih mengingat kandangnya. Namun untuk makan, ayam tersebut sudah nampak kepayahan.

Heri menuturkan, ayam milik saudaranya itu sebenarnya tak berniat untuk disembelih. Namun ia menduga, ada orang tak bertanggungjawab yang sengaja menyembelih ayam tersebut.

“Om saya tak menyembelihnya, kemungkinan dicuri orang lalu disembelih. Biasanya kan habis disembelih ayam dilepaskan sampai nyawanya hilang. Tapi saat itu mungkin ayamnya lari. Karena takut ketahuan, yang menyembelih membiarkan saja ayam itu kabur,” tambahnya. 

Saat ini, baik Heri maupun saudaranya tak berniat menyembelih ayam itu. Mereka menunggu hingga peliharaan itu mati.

“Tidak disembelih, biarkan saja nanti sampai mati lalu kami kubur. Saat ini ayamnya masih bertengger di kandangnya,” tutup Heri.

Editor : Ali Muntoha

Baca  Idap Penyakit Aneh, Tubuh Bocah di Panggungroyom Pati Ini Seperti Tulang Dibalut Kulit

Pasar Jepara 2 Terbakar

Pasar Jepara 2 dilanda kebakaran, Kamis (2/11/2017) dinihari. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Kebakaran melanda Pasar Jepara 2, Kamis (2/11/2017) dinihari. Api membakar beberapa kios di bagian barat pasar yang rata-rata menjual kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako).

Surana, Kepala Seksi Penanggulangan Kebakaran Satpol PP dan Kebakaran Jepara mengatakan, pihaknya menerima laporan kebakaran pada 01.15 WIB dinihari. Merespon hal itu, ia lantas mengirim enam unit mobil pemadam kebakaran.

“Dalam waktu satu jam, api berhasil dijinakkan. Kami menerjunkan enam damkar,” katanya.

Ia mengatakan, setidaknya ada tujuh kios milik pedagang yang diamuk si jago merah, yang telah teridentifikasi. Terkait penyebab dan perkiraan kerugian, kini sedang dalam proses pendataan. 

Adapun, beberapa kios yang terbakar telah dapat diidentifikasi, di antaranya empat kios penganan ringan milik Arifin, warga Bapangan, sebuah kios plastik milik Tatik warga Bandengan.

Sementara dua lainnya masing-masing adalah, kios sembako milik Jayati warga Suwawal dan warung nasi milik Imama warga Bangsri.

Editor : Ali Muntoha

Pasangan yang Digerebek Ternyata Sudah 5 Kali Mesum di Masjid

Pelaku mesum di masjid Desa Brantaksekarjati berinisial S (jaket cokelat) sedang dimintai keterangan oleh Kapolsek Welahan AKP Rismanto. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga Desa Brantaksekarjati, Kecamatan Welahan, Jepara, Selasa (24/10/2017) pagi tadi digegerkan dengan ulah sepasang sejoli yang tengah mesum di masjid desa setempat.

Mereka marah lantaran tempat suci untuk beribadah digunakan untuk kegiatan tak senonoh. Apalagi diketahui pasangan itu bukanlah pasangan suami istri. Keduanya yakni S (47), warga Mijen, Demak, dan SL (33), warga Pelang, Jepara.

Mereka pun akhirnya diarak dari masjid dengan jalan kaki menuju balai desa. Warga tambah geram setelah si lelaki berinisial S mengakui sudah lima kali melakukan aksi mesum itu di masjid tersebut.

“Iya pengakuannya sudah lima kali. Laporan itu, sebenarnya sudah masuk ke kami, dan membuat resah,” kata Nur Mudjianto, Kepala Desa Desa Brantaksekarjati.

Menurutnya, setelah sering mendapat laporan adanya pasangan yang mesum di masjid, pihak Linmas pun disiagakan untuk berjaga di masjid. ”Hari ini memang sengaja kami kuntit agar bisa menangkap basah perbuatan pelaku,” ujarnya.

Baca : Pasangan Sejoli di Jepara Ini Nekat Mesum di Masjid, Diguyur Air Langsung Diarak ke Balai Desa

Pengakuannya, mereka sudah menjalin hubungan asmara sejak lama. Si laki-laki diketahui sedang dalam proses perceraian, sedangkan si wanita adalah janda. 

Setelah diinterogasi singkat, pasangan mesum itu kemudian diserahkan ke pihak kepolisian untuk diproses lebih lanjut, dan menghindari amuk massa.

AKP Rismanto, Kapolsek Welahan mengatakan kasus itu sedang dalam penyelidikan. Selain keterangan lisan, polisi juga telah melakukan visum terhadap SL.

Editor : Ali Muntoha

Pasangan Sejoli di Jepara Ini Nekat Mesum di Masjid, Diguyur Air Langsung Diarak ke Balai Desa

Pasangan yang kepergok mesum di masjid Desa Brantaksekarjati, Kecamatan Welahan, Jepara, saat dimintai keterangan di Mapolsek Welahan. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga Desa Brantaksekarjati, Kecamatan Welahan, Jepara, menangkap basah sepasang sejoli yang nekat mesum di kompleks masjid yang berada di RT 3 RW 1 desa itu. Mereka tertangkap basah sedang berbuat tak senonoh di tempat kencing wanita.

Pasangan mesum yang digrebek warga itu yang laki-laki berinisial S (47) dan si perempuan SL (33). Keduanya diketahui bukan warga desa itu, melainkan berasal dari Palang, Jepara dan Mijen, Demak.

Mereka digerebek warga sekitar pukul 07.00 WIB. Pasangan ini kemudian diarak ke balai desa dan diserahkan ke Polsek Welahan untuk diperiksa.

M Tasfin Faraz (27) warga setempat mengatakan, keduanya diketahui melampiaskan nafsunya di peturasan (tempat kencing) jemaah wanita. Hal itu diketahui oleh seorang pegawai pabrik yang saat itu hendak menunaikan salat Dhuha.

Menurutnya, saat itu masjid dalam keadaan sepi. Pagar halaman tertutup, namun ada pintu kecil di sisi kanan dan kiri yang terbuka untuk masuk kendaraan atau orang.

“Saat itu saya dilapori ada yang mendengar suara aneh di tempat kencing wanita, dan menurutnya ia melihat ada sepasang orang yang mesum. Saya pastikan hal itu dengan mengintipnya, dan ternyata benar,” katanya.

Baca : Pasangan yang Digerebek Ternyata Sudah 5 Kali Mesum di Masjid

Sehabis memastikan tindak asusila keduanya, Faras lantas masuk dan mengguyur air pada kedua pasangan itu. Setelahnya, keduanya digiring menuju Balai Desa Brantaksekarjati dengan berjalan kaki.  Terkait hukuman, ia mengaku menyerahkannya kepada petugas kepolisian. 

AKP Rismanto Kapolsek Welahan mengatakan kasus itu sedang dalam penyelidikan. Selain keterangan lisan, polisi juga telah melakukan visum terhadap SL.

Editor : Ali Muntoha

HET Beras di Jawa Rp 9.450, Jepara Belum Mau Menerapkan, Ini Alasannya

Petugas Dinas Perdagangan memeriksa kualitas beras. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah pusat telah mengeluarkan aturan tentang harga eceran tertinggi (HET) beras, yang harus diberlakukan mulai 1 September 2017. Namun surat edaran tentang kebijakan tersebut belum sampai ke pemerintah daerah, sehingga banyak yang belum menerapkan.

Termasuk di Kabupaten Jepara. Pemerintah setempat mengaku belum menerima salinan peraturan terkait HET beras dari Kementerian Perdagangan (Kemendag). Oleh karenanya, dinas terkait belum bisa mengambil langkah terkait sosialisasi harga dan pengawasan.

“Kami (Bidang Perdagangan) hingga kini belum menerima surat edaran terkait peraturan tersebut,” kata Slamet Riyanto, Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jepara, Rabu (6/9/2017). 

Menurut Slamet, peraturan tersebut juga belum diterima oleh daerah lain yang ada di sekitar eks-Karisidenan Pati. Hal itu diketahuinya saat menjalin komunikasi dengan rekan sesama bidang perdagangan. Namun secara nonformal, kabar terkait HET beras sudah banyak diterimanya. 

“Jika melalui grup perpesanan WA kami memang sudah mendengarnya, namun kami belum bisa bertindak karena belum ada surat resminya,” kata dia. 

Slamet mengatakan, nantinya jika telah menerima surat resmi dari Kemendag pihaknya akan melakukan pantauan ke agen-agen beras yang ada di Jepara. Hal itu tentu saja atas persetujuan dan arahan dari bupati.

“Kami menunggu saja, tentunya kalau itu (HET Beras) merupakan hal yang urgen, maka akan segera turun,” ujarnya. 

Sesuai dengan Permendag no 57/M-DAG/PER/8/2017, HET beras mulai diberlakukan pada 1 September tahun ini.

Adapun HET untuk beras medium di Jawa, Lampung dan Sumatera Selatan ditetapkan sebesar Rp 9.450 per kilogram. Sedangkan untuk kualitas premium adalah Rp 12.800 perkilogram.

“Penetapan HET beras kualitas medium tersebut, untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi sebesar Rp 9.450 per kilogram, dan Rp 12.800 untuk jenis premium,” kata Mendag, Enggartiasto Lukita, dikutip dari setkab.go.id.

Penetapan patokan HET ini berlaku tidak hanya pada penjual beras yang ada di pasar rakyat, namun juga pada toko modern dan tempat penjualan eceran lain.

Editor : Ali Muntoha

Andi Kena Percikan Api Perang Obor di Jepara, Namun Ia Justru Girang

Tradisi perang obor yang dilakukan pemuda di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara, Senin (4/9/2017) malam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara, Senin (4/9/2017) malam, berlangsung meriah. Meski seputaran venue yang ada di simpang empat desa tersebut dipenuhi bara api, namun penonton terlihat menikmati dengan sesekali ber-swafoto.

Acara dimulai sekitar pukul 20.00, rombongan Pemerintah Desa Tegalsambi dan Pemkab Jepara memulai arak-arakan dari rumah petinggi, dengan berjalan kaki. Menempuh jarak sekitar satu kilometer menuju tempat acara, rombongan membawa uba rampe yang nantinya akan didoakan sebelum penyulutan obor.

Obor sendiri terbuat dari dua pelepah kelapa kering yang ditangkupkan. Di dalamnya dimasuki dengan daun pisang kering.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi dan Wakilnya Dian Kritiandi, secara simbolis melakukan peyulutan api obor.

Kepala Desa Tegalsambi Agus Santoso mengatakan, Perang Obor merupakan budaya khas dari wilayah setempat. Ia berharap tradisi ini terus dilestarikan dan didukung oleh pemerintah daerah, supaya tak diakui oleh wilayah lain.

“Acara ini merupakan puncak dari sedekah bumi. Dengan budaya ini kami ingin menunjukan bahwa pemuda-pemuda Tegalsambi memiliki nyali, berani namun tetap sportif,” katanya.

Bupati Jepara setuju akan hal tersebut, menurutnya kebudayaan itu diharapkan membawa desa tersebut lebih maju.

Perang Obor sendiri dilakukan dalam kurun waktu lebih kurang satu jam. Peserta yang terdiri dari 40 orang terbagi menjadi kelompok tertentu. Antarkelompok tersebut kemudian saling serang dengan obor, yang disabetkan ke musuh. Adapun, total obor yang tersedia adalah 350 buah.

Baca : Ini Asal Mula Tradisi Perang Obor Jepara

Setelah acara, pemain obor dan penonton yang terkena percikan obor segera mendapatkan olesan minyak khusus. Terbuat dari minyak kelapa dicampur dengan kembang setaman yang telah layu.

Andi seorang pemain perang obor mengaku terpercik bara obor yang disabetkan ke tubuhnya. Meski telah menggunakan celana dan baju berlengan panjang serta mengenakan caping namun hal itu tak bisa dihindari.

“Panas rasanya namanya juga api, namun setelah diolesi minyak ini rasa panasnya tidak berkepanjangan,” tuturnya.

Editor : Ali Muntoha

 Baca : Mujarab, Ramuan Ini Bisa Menyembuhkan Luka Bakar di Perang Obor Jepara dalam 3 Hari

Puting Beliung Ancam Keselamatan Warga Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara mengingatkan warganya untuk waspada terhadap terpaan angin kencang ataupun puting beliung yang belakangan melanda.

Angin kencang berpotensi menyebabkan rumah roboh dan pohon tumbang, yang membahayakan warga.

“Sepekan terakhir di wilayah Jepara memang dilanda angin kencang. Hal itu menyebabkan potensi rumah roboh dan pohon tumbang,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara Pujo Prasetyo, Senin (28/8/2017). 

Menurut catatannya, sudah ada dua kasus rumah roboh yang terjadi di Jepara, akibat hantaman angin kencang. Pujo menyebut, selain faktor alam, robohnya rumah tersebut juga dipengaruhi kondisi rumah yang sudah lapuk.

Adapun laporan rumah ambruk karena diterpa angin kencang terjadi di Desa Menganti, Kecamatan Kedung. Di tempat tersebut angin merobohkan rumah milik Sutinah (60). Sementara itu di Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo, angin menghantam rumah milik Suadah (56) warga RT 11/4. 

“Kami juga menerima informasi terbaru, hari ini ada cabang pohon asam di SDN 1 Desa Pelang, Mayong patah, akibat terpaan angin yang cukup kencang. Hal itu sempat mengganggu arus lalu lintas,” ujar Pujo.

Editor : Ali Muntoha

Idul Adha Sudah Dekat, Tapi Pasar Pon Bangsri Kok Masih Sepi

Pedagang sapi di Pasar Pon Bangsri Jepara, mengeluhkan sepinya pembeli meski Hari Raya Kurban sudah dekat. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Harga sapi dan kambing di Pasar Hewan “Pon” Bangsri sudah mulai merangkak naik. Namun demikian, para pedagang mengaku minat pembeli masih lesu, Sabtu (26/8/2017).

Sutoyo seorang pedagang sapi mengatakan, berdasarkan pengalamannya 20 hari menjelang Idhul Adha biasanya pembeli telah menyerbu dagangannya. Namun kini, hingga sepekan jelang hari raya kurban, ia mengeluh sepinya pembeli. 

“Pembelinya masih belum ada peningkatan. Saya belum tahu apa penyebabnya, mungkin karena kondisi ekonomi,” katanya. 

Ia mengatakan, harga sapi jualannya masih relatif terjangkau. Ia memperkirakan mendekati hari raya harga sapi bisa meningkat di atas Rp 20 juta. Untuk jenis sapi segon yang dipunyainya, dijual dengan harga Rp 19,5 juta.

“Kalau yang lebih kecil lagi ya harganya Rp 17,5 juta. Bergantung besar kecilnya sapi,” tuturnya. 

Hal serupa diungkapkan oleh pedagang Suwono. Menurutnya, harga sapi berada di kisaran 10-20 juta rupiah per ekor. 

Sementara itu harga kambing ditawarkan Rp 2-5 juta per ekor. Harga tersebut diakui oleh seorang pedagang Kasmuri selisih Rp 500 ribu dari hari biasa. 

“Sekarang harganya ya dua sampai lima juta rupiah untuk yang jantan. Kalau dibandingkan hari biasa ya kacek (selisih) Rp 200-500 ribu,” urainya.

Ia mengungkapkan, Kamis adalah hari terakhir pasaran. Kasmuri berharap dagangannya bisa laku dihari tersebut. “Nanti hari terakhir itu Kamis. Ya kalau bisa laku ya laku, kalau tidak ya tidak,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

HNSI Jepara Yakin Pencabutan Solar Subsidi untuk Nelayan Tak Bakal Terjadi

Perahu nelayan tengah antre untuk membeli solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan. HSNI Jepara yakin pencabutan solar bersubsidi hanya sekadar wacana. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara tak menganggap serius wacana yang dilontarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti tentang pencabutan solar bagi nelayan.

“Saya pikir itu hanya sekadar wacana, tidak mungkin mencabut bahan bakar minyak (solar) bersubsidi untuk nelayan. Sampai hari ini kami anggap hal itu masih sebagai wacana,” ucap Ketua HNSI Jepara Sudiyatno, Rabu (16/8/2017).

Meski demikian, ia menegaskan bahan bakar bersubsidi bagi nelayan masih sangat dibutuhkan. Dirinya menyebut, organisasinya satu kata dalam urusan tersebut.

Hal tersebut juga akan dibahas pada musyawarah nasional HNSI yang akan digelar pada bulan September 2017.

“Rencananya pada bulan September kita akan menggelar Munas. Di sana akan terbuka (pembahasan isu maupun persoalan nelayan). Tapi prinsipnya, dari DPP HNSI sampai dengan DPC sikapnya sama, nelayan harus diberikan BBM bersubsidi,” ujarnya.

Sudiyatno mengatakan, distribusi solar bagi nelayan di Jepara tidak bermasalah. Dirinya menyebut, dari sekitar empat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBBN) yang ada, sudah mencukupi kebutuhan dan tidak ada kebocoran.

“SPBBN di Ujung Batu, Mlonggo, Donorojo, dan Kedung cukup melayani kebutuhan dan hanya diperuntukan bagi nelayan. Tidak ada kebocoran alias zero persen, karena nelayan kan tahu mana yang nelayan mana yang tidak. Jika harus membeli dari SPBU, pun menggunakan surat keterangan dari dinas terkait dan hal itu lebih disebabkan jika ada ketersendatan bbm,” urainya.

Editor : Ali Muntoha

Lucunya Tingkah Polah Siswa TK-SD di Jepara Berdandan Pahlawan saat Karnaval Kebangsaan

Siswa mengenakan kostum salah satu pahlawan perempuan Jepara Ratu Shima dalam karnaval kebangsaan, Senin (14/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Jelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Indonesia, ribuan murid TK dan SD mengikuti karnaval kebangsaan, Senin (14/8/2017) siang. Mereka mengenakan berbagai kostum yang menyimbolkan adat dan keberagaman yang ada di republik ini. 

Mereka terlihat lucu, dan beberapa kali tingkah polah anak-anak membuat penonton terpingkal-pingkal.

Seperti yang dikenakan oleh siswa-siswi TK Nurul Iman Desa Senenan, Kecamatan Tahunan-Jepara. Selain memamerkan parade siswa yang mengenakan seragam merah putih, mereka juga menampilkan sosok pahlawan perempuan Jepara yakni, Ratu Shima, Ratu Kalinyamat dan RA Kartini.

Selain itu mereka juga mengingatkan mengenai belum tuntasnya perjuangan para pahlawan, melalui sebuah tulisan.  “Kami telah berjuang kini saatnya kalian meneruskan perjuangan kami,” bunyi tulisan yang diusung murid taman kanak-kanak tersebut. 

Dalam daftar panitia, ada 62 sekolah setingkat TK atau Paud yang ikut serta. Mereka berasal dari Kota Jepara dan daerah satelit, seperti Tahunan dan Kedung. Sementara itu pada kategori SD ada 41 sekolahan yang mengikuti karnaval tersebut.

Setelah memamerkan busana dan kebolehannya di depan unsur Muspida Kabupaten Jepara, mereka akan berjalan sesuai rute. Untuk kategori TK dan Paud akan melintasi jalur sepanjang 600 meter, dari alun-alun, Jl Diponegoro, Jl Veteran dan Jl AR Hakim. Sementara untuk SD menempuh jarak sepanjang satu kilometer, dari Alun-alun, Jl Diponegoro, Jl Veteran, Jl AR Hakim dan berakhir di Sanggar Pramuka.

Kabid Pemasaran  Wisata Florentina Budi Kurniawati mengatakan kegiatan tersebut bertema mengangkat produk unggulan dan potensi Jepara. Hal itu dimaksudkan agar semua lapisan masyarakat mengetahui segala potensi yang dimiliki oleh kabupaten di pesisir utara pulau Jawa tersebut. 

“Hal itu mengandung maksud, jika masyarakat mengenal potensi yang dimilikinya, maka masyarakat ikut membangun negara, dengan memaksimalkan berbagai macam potensi daerah yang dipunyai. Selain itu, kami juga ingin untuk menggali kreatifitas dan masyarakat secara umum,” ungkap Florentina.

Editor : Ali Muntoha

Warga Bangsri Jepara Urunan Perbaiki Rumah Mbah Temu Yang Hampir Roboh

Warga Desa Bangsri, Jepara, bergotong royong memperbaiki rumah janda tua secara swadaya. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Tak tega melihat rumah Mbah Temu (74) hampir roboh, warga Rukun Warga 12, Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri, Jepara, urunan merenovasi rumah janda tua itu. 

Haryanto warga setempat mengungkapkan, kesepakatan tersebut tercapai setelah adanya rembug warga. Dengan iuran secara sukarela, mereka lantas mengumpulkan sumbangan sebagai modal untuk memperbaiki rumah kayu berukuran 5×7 meter itu.

Menurutnya, Mbah Temu merupakan seorang janda tua miskin yang memiliki tiga anak. Dua anaknya yang juga miskin, kini merantau ke luar daerah. Sementara anaknya yang terakhir tinggal bersamanya, hanya saja ia tak pernah mengenyam pendidikan formal.

“Ia (Mbah Temu) rumahnya telah lapuk termakan usia. Lalu kami dari warga sekitar berinisiatif dan beriuran secara swadaya untuk melakukan perbaikan rumahnya,” ujarnya, Senin (14/8/2017). 

Haryanto menyebut, untuk memperbaiki rumah Mbah Temu membutuhkan dana sekitar Rp 15 juta. Rencananya, rumah berdinding kayu itu akan direnovasi menjadi rumah tembok.

Untuk perbaikannya, warga mengerjakannya secara bergotong royong. “Alhamdulilah banyak warga yang membantu program ini. Warga akan mengerjakan perbaikan secara bahu membahu bersama-sama untuk memperbaiki rumah Mbah Temu,” ucapnya. 

Selain rumah Mbah Temu, rencananya warga akan memperbaiki rumah warga tak mampu lainnya. Haryanto menyebut, ada dua rumah warga yang akan diperbaiki. 

“Kami rencananya akan memperbaiki tiga rumah warga yang akan dibangun. Mereka semua adalah warga tak mampu di lingkungan kami,” tutur dia.

Sementara itu Mbah Temu mengaku hanya bisa terharu atas inisiatif warga memperbaiki rumahnya. “Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada semua yang sudah membantu memperbaiki rumah saya. Semoga lebih bermanfaat ketika nanti jadi,” ucapnya.

Editor : Ali Muntoha