Gara-gara Kambing Ribut, Pemilik Rumah di Tambirejo Grobogan Ini Selamat dari Kebakaran

Bangunan kandang kambing milik Sulastri Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, ludes terbakar Jumat (22/9/2017) dini hari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kebakaran terjadi di Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Grobogan, Jumat (22/9/2017) dinihari.

Kebakaran yang menimpa rumah Sulastri (50), warga yang tinggal di Dusun Pucang Selatan RT 05, RW 04 ini menyisakan cerita yang cukup menarik.

Saat api berkobar sekitar pukul 02.45 WIB, Sulastri dan dua anaknya berhasil selamat dari amukan api. Tiga penghuni rumah yang sebelumnya tidur lelap langsung terbangun gara-gara belasan ekor kambing di kandang belakang ribut tidak karuan.

Suara kambing berisik itulah yang membuat pemilik rumah terbangun, dan segera mengecek ke kandang. Saat itulah, ia tahu kalau kandang kambingnya sudah terbakar.

Melihat kejadian itu, Sulastri segera membangunkan kedua anaknya, agar segera keluar rumah sambil berteriak minta tolong.

Mendengar teriakan itu, puluhan warga segera berdatangan dan berupaya memadamkan api dengan alat seadanya. Salah seorang warga segera mengubungi kantor Damkar Grobogan untuk meminta bantuan.

Perjuangan warga dibantu petugas damkar untuk menjinakkan api, akhirnya berhasil dilakukan satu jam kemudian. Berkat kesigapan warga dan petugas damkar, bangunan rumah utama bisa diselamatkan dari amukan api.

Meski demikian, bangunan rumah bagian belakang yang digunakan untuk kandang seluruhnya terlalap api. Selain itu, belasan ekor kambing yang ada di dalamnya ikut mati terpanggang.

“Jumlah kambing yang mati terbakar ada 13 ekor. Untuk penghuni rumah berhasil selamat karena sempat terbangun saat api membakar kandang. Tafsir kerugian sekita Rp 25 juta,” kata Kades Tambirejo YR Puspitanianto.

Menurutnya, kebakaran itu kemungkinan dipicu dari api bediang yang menjalar ke tumpukan pakan kering. Sebelum kejadian, pemilik rumah memang sempat menyalakan bediang untuk mengusir nyamuk.

Editor : Ali Muntoha

Bapak-Anak di Teguhan Grobogan Tak Berdaya Melihat 2 Rumahnya Hangus Terbakar

Dua rumah di Desa Teguhan, Grobogan, terbakar hingga tak tersisa, Rabu (13/9/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana Desa Teguhan, Kecamatan Grobogan yang biasanya tenang mendadak jadi hiruk-pikuk, Rabu (13/9/2017) malam. Peristiwa kebakaran rumah di wilayah RT 02, RW 02 menjadi penyebab gegernya warga sekampung.

Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 20.00 WIB itu menimpa dua rumah. Masing-masing, milik Mutaalim (60), dan anaknya Zaenuri (30).

Informasi yang didapat menyebutkan, saat kejadian rumah tersebut dalam kondisi ramai orang. Sebelum kejadian, Mutaalim masih ngobrol di teras rumah dengan dua tetangganya Suwardi dan Nawijan yang datang bertamu.

Tak lama kemudian, terlihat kobaran api yang cukup besar dari rumah belakang bagian atas. Ketiga orang yang ada di teras kemudian berupaya memadamkan api sambil berteriak minta tolong warga sekitar.

Puluhan warga selanjutnya berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Namun, upaya ini tidak bisa berhasil, karena kobaran api cepat sekali membesar.

Terbatasnya persediaan air ditambah banyaknya barang mudah terbakar, serta hembusan angin kencang menyebabkan amukan si jago merah sulit ditaklukkan.

Baca : Bau Belerang, Semburan Air di Desa Karanggeneng Grobogan Bikin Takut Warga

Setelah melalap habis rumah Mutaalim, kobaran api juga merembet ke rumah anaknya yang letaknya di sebelah timurnya. Hanya dalam tempo singkat, rumah dari kayu jati sudah tersulut api. Amuk kebakaran akhirnya bisa diatasi setelah tiga armada damkar tiba di lokasi kejadian.

Plh Kapolsek Grobogan AKP Sumardi menyatakan, pemicu kebakaran diduga dari hubungan arus pendek listrik (korsleting). Menurutnya, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah tersebut.

“Seluruh bangunan rumah yang berbahan kayu jati habis terbakar berikut barang berharga di dalam rumah. Perkiraan kerugian material diperkirakan sekitar Rp 300 juta,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Jemaah Haji Grobogan Meninggal di Pesawat dalam Perjalanan Pulang

Jemaah haji asal Grobogan berpelukan dengan keluarganya saat tiba di pendapa Kabupaten Grobogan, Selasa (12/9/2017) pagi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kabar duka mengiringi kedatangan jemaah haji asal Kabupaten Grobogan yang tergabung kloter 17, Selasa (12/9/2017). Hal ini terkait dengan meninggalnya salah seorang jemaah haji yang tergabung dalam kloter tersebut.

Jemaah yang meninggal bernama Moch Roni Kerto Warsito, dengan alamat Jalan Gunung Sindoro, Purwodadi. Jemaah berusia 63 tahun itu meninggal dunia dalam pesawat yang mengangkut kepulangan rombongan kloter 17.

Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali mengungkapkan, dari laporan yang diterima, Moch Roni meninggal dunia pada Senin (11/9/2017) malam sekitar pukul 20.15. Saat itu, posisi pesawat yang membawa rombongan jemaah haji kloter 17 masih berada di wilayah udara India.

“Pesawat mendarat di Adisumarmo, Selasa dinihari tadi sekitar pukul 02.00 WIB. Setelah dilakukan pemeriksaan dan serah terima dari petugas, jenazah jemaah kita yang wafat dibawa dengan mobil ambulans langsung menuju rumah duka,” jelasnya.

Menurut Hambali, dari 345 jemaah kloter 17, ada satu jemaah yang tidak bisa ikut pulang bersama rombongan. Yakni, jemaah atas nama Astohar bin Syahar, karena sakit dan masih menjalani perawatan medis di RS King Abdul Aziz Makkah.

Sementara itu, rombongan jemaah haji kloter 17 tiba di halaman pendapa kabupaten sekitar pukul 07.10 WIB. Suasana kedatangan diiringi isak tangis keluarga para jemaah yang sudah menunggu sejak subuh.

Bupati Grobogan Sri Sumarni memimpin langsung penyambutan jemaah haji yang baru tiba dari Tanah Suci tersebut. Tampak pula, Kajari Grobogan Edi Handojo dan perwakilan FKPD lainnya serta sejumlah pejabat terkait.

Alhamdulillah, kepulangan jemaah bisa berjalan lancar hingga sampai di Grobogan. Saya doakan semoga semuanya mendapat predikat haji mabrur. Saya menyampaikan duka cita kepada jemaah yang wafat, semoga amal ibadahnya diterima Allah dan keluarganya diberikan ketabahan,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Sejam Penuh Bupati Sri Sumarni Nyanyi Lagu Perjuangan Bersama Ribuan Pelajar

Bupati Grobogan Sri Sumarni bersama pejabat menyanyikan lagu-lagu perjuangan dalam acara bertajuk Grobogan Gumbregah, Rabu (6/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni berserta pimpinan FKPD menghadiri acara bertajuk ‘Grobogan Gumbregah’ yang dilangsungkan di Alun-alun Purwodadi, Rabu (6/9/2017). Hadir pula para pejabat, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Acara yang diprakarsai Kodim 0717/Purwodadi itu melibatkan ribuan pelajar dari berbagai SMP dan SMA. Dalam kesempatan itu, ada acara menyanyikan lagu-lagu perjuangan selama satu jam penuh. Bupati dan pejabat yang hadir terlihat ikut bersemangat menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan para pelajar.

Acara Grobogan Gumbregah juga dimeriahkan dengan pertunjukkan drama kolosal yang mengangkat kisah perjuangan dalam mengusir penjajah.

Drama kolosal yang dimainkan mengangkat kisah perjuangan pahlawan wanita Nyi Ageng Serang, saat bahu membahu bersama masyarakat mengusir penjajah Belanda. Beberapa adegan pertempuran diperagakan dalam drama kolosal yang juga melibatkan para mahasiswa dan pelajar tersebut.

Bupati Grobogan Sri Sumarni mengapresiasi adanya acara menyanyikan lagu perjuangan dalam kegiatan Grobogan Gumbregah tersebut. Menurutnya, dengan menyanyikan lagu perjuangan dinilai akan bisa menumbuhkan kembali semangat nasionalisme pada generasi muda.

Ia juga sangat senang dengan adanya yang pertunjukkan drama kolosal dalam acara tersebut. Kebetulan, sosok yang diangkat dalam tema tersebut merupakan pahlawan kelahiran Grobogan. Yakni, Nyi Ageng Serang yang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi.

“Saya berharap lewat acara ini bisa menumbuhkan semangat nasionalisme dan masyarakat dapat meneladani pengorbanan dan perjuangan pahlawan bangsa,” kata Sri Sumarni.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Grobogan Minta CSR Perusahaan Juga untuk Bangun Infrastruktur

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyerahkan bantuan paket gizi untuk siswa SD di Kecamatan Godong. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta agar perusahaan yang ada di wilayahnya bisa menyisihkan sebagian dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung pembangunan infrastruktur.

Hal itu disampaikan Sri Sumarni saat menghadiri acara Japfa4Kids yang diselenggarakan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk unit Grobogan, yang dilangsungkan di obyek wisata Api Abadi Mrapen, Rabu (30/8/2017).

Menurut Sri, upaya yang dilakukan PT Japfa sejauh ini dinilai sudah cukup bagus. Yakni, berkomiten terhadap dunia pendidikan dan penambahan gizi siswa SD dari alokasi dana CSR.

Meski demikian, ia berharap agar sebagian dana CRS bisa disalurkan untuk pekerjaan fisik. Misalnya, mendukung perbaikan jalan kampung, membuat taman bermain anak-anak dan bedah rumah tidak layak huni.

“Harapan saya, dana CSR perusahaan bisa disalurkan untuk kegiatan fisik. Terutama, di wilayah tempat perusahaan itu berdiri. Jika ini dilakukan maka ada manfaat langsung yang akan dirasakan masyarakat di sekitar perusahaan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, dilakukan pula acara penyerahan berbagai bantuan pada sekolah dan siswa. Antara lain, paket gizi, pelengkapan P3K, alat pengukur tinggi dan berat badan. Selain itu, acara juga dimeriahkan gebyar budaya, lomba masak, lomba catur dan pemeriksaan kesehatan.

Editor : Ali Muntoha

Lebih Banyak Cewek yang Daftar Duta Wisata Grobogan, Cowoknya ke Mana?

Pemilihan Duta Wisata Grobogan 2016 lalu. Tahun ini jumlah pendaftar antara Mas dan Mbak Grobogan justru tak seimbang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ajang pemilihan Duta Wisata Grobogan 2017 tampaknya bakal sedikit berbeda dari sebelumnya. Karena, pendaftar untuk kategori Mas Grobogan jumlahnya lebih kecil dibandingkan peminat kategori Mbak Grobogan.

Masa pendaftaran peserta Duta Wisata Grobogan sudah ditutup 25 Agustus 2017 lalu. Sampai hari terakhir, total ada 30 pendaftar.

Rinciannya, 20 pendaftar adalah wanita dan 10 pria. Para pendaftar ini sebagian besar merupakan pelajar SMA dari beberapa sekolah di Grobogan.

“Untuk tahun ini, jumlah pendaftar pria memang lebih sedikit. Yakni, hanya 10 orang saja. Kalau pendaftar wanita jumlahnya dua kalinya. Tahun sebelumnya, jumlah pendaftar pria dan wanita ini berimbang,” kata Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Jamiat, Selasa (29/8/2017).

Jumlah pendaftar tahun ini juga lebih sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 50 orang. Hal ini terjadi karena pihak panitia memang membatasi jumlah peserta maksimal hanya 30 orang saja.

Pembatasan itu dilakukan supaya pelaksanaannya bisa cepat waktunya serta lebih efektif dan efisien.

“Kalau pesertanya terlalu banyak, acaranya baru selesai hingga lewat tengah malam. Oleh sebab itu, jumlah pesertanya kita batasi hanya 30 orang saja. Untuk grand final pemilihan duta wisata akan dilangsungkan 9 September 2017 di pendapa,” kata Jamiat.

Editor : Ali Muntoha

Nah…Sekarang Mobil Sudah Tak Bisa Lagi Keluyuran di Lapangan Alun-alun Purwodadi

Dua pegawai dari Dinas Lingkungan Hidup Grobogan sedang memperkuat tiang penyangga portal di pintu masuk Alun-alun Purwodadi sisi utara. (MuriaNewsCom/Dhani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan- Sorotan terhadap banyaknya kendaraan bermotor yang masuk ke dalam lapangan Alun-alun Purwodadi langsung disikapi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan.

Guna mencegah masuknya kendaraan, pihak DLH akhirnya membuatkan portal permanen di pintu masuk sebelah utara.

Kendaraan yang masuk ke dalam kawasan alun-alun itu semuanya lewat pintu utara yang ada di seberang kantor DPRD Grobogan. Sebelumnya, di pintu ini sudah ada portal, tetapi posisinya tidak permanen alias bisa digeser.

Pada tiga pintu masuk alun-alun lainnya, kendaraan tidak bisa lewat. Sebab, konstruksi pintu masuknya dibuat seperti anak tangga.

Dari pantauan di lapangan, terlihat masih ada dua orang yang sedang memperkuat tiang penyangga portal dengan semen. Portal yang dipasang terbuat dari pipa besi.

Di atas pipa besi yang posisinya melintang diberi gerigi cukup tajam. Gerigi tajam ini dipasang supaya pipa besi tidak dipakai duduk orang.

Sekretaris DLH Nugroho Agus Prastowo ketika dimintai komentarnya menyatakan, pemasangan portal dilakukan supaya sepeda motor maupun mobil tidak masuk ke dalam alun-alun. Sebab, masuknya kendaraan bermotor atau mobil bisa merusak lantai maupun lapangan.

“Akses masuk ke dalam alun-alun lewatnya pintu utara. Akhirnya, kita pasang portal supaya kendaraan tidak bisa masuk,” jelasnya, Selasa (22/8/2017).

Baca juga : Anggota Dewan Grobogan Geregetan Lihat Mobil Bebas Masuk Lapangan Alun-alun

Sebelumnya, banyaknya kendaraan yang bebas keluar masuk alun-alun sempat mendapat sorotan tajam dari anggota DPRD Grobogan. Anggota dewan meminta agar hal itu segera disikapi dengan tegas, karena semua kendaraan bermotor sudah disiapkan lahan parkir di sekeliling alun-alun.

Editor : Ali Muntoha

Hebat…Kades dan Pak Camat di Gabus Grobogan Ternyata Jago Main Ketoprak

Para kepala desa dan perangkat di Kecamatan Gabus, Grobogan, bermain ketoprak dalam rangka HUT Kemerdekaan RI. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pertunjukkan kesenian tradisional ketoprak yang dilangsungkan di lapangan Desa Tlogotirto, Kecamatan Gabus, Grobogan, Jumat (19/8/2017) malam hingga Sabtu (19/8/2017) dini hari, cukup istimewa.

Bukan soal kisah atau lakon yang dimainkan. Tetapi mengenai latar belakang para pemeran yang tampil dalam pertunjukkan tersebut.

Soalnya, sebagian besar pemainnya adalah kepala desa dan perangkat desa di Kecamatan Gabus. Tidak hanya itu, Camat Gabus Anwar Udin Hamid dan Kapolsek AKP Zainuri juga ikut jadi pemeran.

Pertunjukkan ketoprak dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan RI itu, mengambil lakon atau cerita Ranggalawe Mbalelo. Cerita itu mengisahkan tentang Adipati Tuban Ranggalawe di masa pemerintahan kerajaan Majapahit.

Meski persiapannya singkat, namun para pemeran mampu tampil apik dalam pentas yang disaksikan ribuan warga itu. Bahkan, hingga lewat dinihari, ribuan warga masih betah menonton pentas kesenian tradisional yang saat ini sudah jarang ditemui itu.

Kades Tlogotirto, Adi Saputra mengatakan, tahun 2016 lalu, pihaknya juga mengadakan pentas ketoprak di lokasi yang sama. Pada edisi perdana menampilkan cerita Lahirnya Kerajaan Majapahit.

Adi menyatakan, pentas ketoprak itu dilangsungkan sebagai wahana untuk menggali, mengupas, mengembangkan dan melestarikan seni budaya warisan nenek moyang. Hal itu perlu dilakukan, karena kesenian tradisional ini kondisinya hampir kelam lantaran tergerus arus globalisasi.

“Kesenian tradisional ini harus kita lestarikan. Untuk melestarikan kesenian ini harus kita lakukan bersama-sama,” sambungnya.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Grobogan Targetkan 2 Poktan ini Bisa Jadi Juara Nasional

Bupati Grobogan Sri Sumarni didampingi Kadinas Pertanian Edhie Sudaryanto berfoto dengan Ketua Kelompok Tani berprestasi tingkat Jawa Tengah. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni memberikan apresiasi terhadap keberhasilan dua kelompok tani (Poktan) yang menorehkan prestasi membanggakan di tingkat Provinsi Jateng.

Yakni, Poktan Ngudi Rejeki I Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi yang meraih juara I dalam kategori kelompok tani berprestasi komoditas kedelai. Satu lagi adalah Poktan Maju Desa Winong, Kecamatan Penawangan yang meraih juara I dalam kategori kelompok tani berprestasi komoditas padi.

Atas prestasi tersebut, bupati langsung menyempatkan waktu untuk menerima kedua ketua Poktan di ruang kerjanya, setelah mereka pulang dari acara penyerahan piagam dan hadiah di Semarang.

“Sebenarnya, saya ingin mendampingi saat penyerahan penghargaan yang dilakukan oleh Pak Gubernur di Semarang. Namun, berhubung hari ini tadi ada agenda rapat paripurna maka saya tidak bisa ikut mendampingi. Baru setelah selesai paripurna saya ingin ketemu dengan Ketua Kelompok Tani berprestasi ini,” katanya, Selasa (15/8/2017).

Pertemuan dengan Ketua Poktan Maju Guseri dan Ketua Poktan Ngudi Rejeki I Darwoto dilangsungkan di ruang kerja Sri Sumarni. Hadir pula dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto.

Sri Sumarni menilai, prestasi yang diraih kedua poktan itu dinilai sangat membanggakan. Sebab, untuk bisa jadi juara dalam lomba itu banyak aspek penilaiannya dan bersaing dengan banyak kelompok lain dari seluruh Jawa Tengah.

Dalam kesempatan itu, ia berharap agar kinerja kedua poktan itu bisa terus ditingkatkan. Sebab, kedua poktan itu ditargetkan bisa meraih prestasi di level nasional.

“Jangan tanggung-tanggung. Untuk lomba tingkat nasional, kedua kelompok ini harus bisa jadi juara I. Oleh sebab itu, segera dipersiapkan dan dibenahi apa yang masih kurang,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Jembatan Ini Membahayakan, Tapi Warga Kedungjati Grobogan Terpaksa Tetap Menggunakannya

Kondisi jembatan penghubung antara Desa Kitikan dan Desa Deras di Kecamatan Kedungjati, Grobogan terlihat melengkung akibat satu pilar penyangganya roboh diterjang banjir bandang tahun 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain jalan, Pemkab Grobogan tampaknya perlu menaruh perhatian lebih dengan masalah perbaikan jembatan. Sebab, sejauh ini banyak jembatan yang kondisinya mengenaskan tetapi masih tetap digunakan sebagai akses transportasi warga setempat.

Salah satunya adalah jembatan penghubung antara Desa Deras dan Desa Klitikan, di Kecamatan Kedungjati, Grobogan. Saat ini, kondisi jembatan terlihat melengkung karena satu pilarnya roboh.

Jembatan sepanjang 30 meter itu memiliki dua pilar penyangga yang dibuat dengan konstruksi beton. Satu pilar terlihat masih kokoh dan satu lagi roboh.

Dari keterangan warga, satu pilar itu roboh diterjang banjir pada tahun 2015 lalu. Agar tetap bisa digunakan, pilar yang roboh ditopang kayu seadanya.

Karena penanganan darurat, kondisi jembatan terlihat melengkung kareda beda tinggi di kedua sisi. Meski begitu, warga tetap berani melintas karena jembatan itu jadi akses terdekat.

“Tiap hari, jembatan ini masih bisa dilalui sepeda motor meski harus hati-hati. Kalau mobil tidak bisa dan harus memutar sekitar dua kilometer,” kata Haryadi, warga setempat.

Jembatan tersebut membentang di atas Kali Temuireng yang merupakan anakan Sungai Tuntang. Kecuali pilar, kayu yang dipakai jembatan sebagain besar kondisinya masih cukup kuat.

Kepala Desa Deras Rusdi mengatakan, tidak lama setelah pilar roboh, pihaknya sudah mengusulkan pada instansi terkait untuk diperbaiki. Tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Upaya yang dilakukan hanya sebatas memasang kayu sebagai penyangga darurat.

“Penanganan jembatan hanya perlu perbaikan pilar yang roboh. Pilar yang satunya masih kuat kondisinya,” jelasnya, Senin (14/8/2017).

Editor : Ali Muntoha

Anggota Dewan Grobogan Geregetan Lihat Mobil Bebas Masuk Lapangan Alun-alun

Kendaraan roda empat yang masuk ke dalam kawasan Alun-alun Purwodadi mendapat sorotan anggota DPRD Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah anggota DPRD Grobogan menyoroti makin bebasnya kendaraan keluar masuk ke dalam kawasan Alun-alun Purwodadi. Sorotan itu dilontarkan karena sebelumnya sudah ditegaskan kalau bagian dalam alun-alun termasuk lapangan harus steril dari kendaraan.

Bahkan, sepeda motor pun dilarang masuk ke alun-alun. Kebijakan itu dilakukan supaya tidak merusak konstruksi bangunan dan lapangan.

“Akhir-akhir ini, ada keluhan kalau motor, mobil, bahkan truk masuk ke dalam alun-alun. Harusnya ini tidak boleh,” tegas Ketua Komisi B DPRD Grobogan Budi Susilo, Jumat (11/8/2017).

Senada dengan Budi, anggota Komisi A Sukanto juga mempertanyakan bebasnya beragam jenis kendaraan masuk ke dalam alun-alun. Jika hal itu tidak segera disikapi dengan tegas, maka kendaraan yang masuk ke dalam alun-alun pasti makin banyak.

“Semua kendaraan bermotor harus parkir di sekeliling alun-alun yang lokasinya sudah disiapkan. Nanti, saya akan minta penjelasan dari dinas terkait yang menangani alun-alun,” cetusnya.

Informasi yang didapat menyebutkan, kendaraan yang masuk ke dalam kawasan alun-alun itu semuanya lewat pintu utara di seberang kantor DPRD Grobogan. Di pintu ini sebenarnya sudah ada portal, tetapi posisinya tidak permanen alias bisa digeser.

Pada tiga pintu masuk alun-alun lainnya, kendaraan tidak bisa lewat. Sebab, konstruksi pintu masuknya dibuat seperti anak tangga.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman M Chanief  saat dimintai tanggapannya menyatakan, kendaraan bermotor memang tidak diperbolehkan masuk ke dalam alun-alun. Sebab, masuknya kendaraan bermotor atau mobil bisa merusak lantai maupun lapangan.

“Saat ini pengelolaan alun-alun sudah ada pada Dinas Linkungan Hidup. Nanti, akan kita koordinasikan supaya memasang portal permanen di pintu utara agar kendaraan tidak bisa masuk,” jelasnya.

 Editor : Ali Muntoha