Tak Hanya Anak SD, Kapolres Blora dan Istrinya yang Cantik Juga Disuntik Imunisasi

MuriaNewsCom, Blora – Suntikan imunisasi biasanya diberikan kepada anak-anak. Tapi di Blora, jajaran kepolisian juga ikut diimunisasi. Bahkan Kapolres Blora AKBP Saptono dan istrinya Putri Saptono juga ikut disuntik di depan anggotanya.

Mereka diberi suntikan difteri untuk mencagah anggota polisi terserang penyakit ini. Suntikan ini diberikan saat Polres Blora melangsungkan acara sosialisasi terkait penyakit difteri pada angggota dan pengurus cabang Bhayangkari.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dokkes Polres Blora bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat.

Usai sosialisasi, kegiatan dirangkai dengan pemberian vaksin difteri yang diawali oleh Kapolres Blora dan istrinya yang merupakan ketua Bhayangkari. Setelah itu, pemberian vaksin difteri dilanjutkan pada para Kabag, Kasat, perwira, anggota dan Bhayangkari.

“Sedikitnya ada 150 personel Polri dan Bhayangkari yang mengikuti kegiatan ini,” kata Kapolres usai mendapat suntikan vaksin difteri tersebut, Kamis (18/1/2018).

Ia mengatakan, kegiatan penyuntikan vaksin pada anggota Polri dan Ibu-ibu Bhayangkari di jajaran Polres Blora tersebut dilakukan agar mereka tidak terkena difteri. Terutama, pada kondisi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini.

“Harapannya dengan vaksin ini, mereka tidak tidak mudah terserang penyakit, termasuk difteri. Penyakit difteri ini bisa menular sehingga upaya pencegahan perlu dilakukan,” lanjutnya.

Ketua Bhayangkari Cabang Blora Putri Saptono mengimbau, agar anggota bhayangkari tetap menjaga diri dan lingkungan. Selain itu, ia juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan.

Editor : Ali Muntoha

Seluruh Bocah di Desa Balita Korban Difteri Asal Kendal Diimunisasi Ulang

Ilustrasi (Pixabay)

MuriaNewsCom, Semarang – Pascameninggalnya balita penderita difteri asal Kabupaten Kendal, Rabu (13/12/2017) kemarin, pihak keluarga dan orang-orang dekat korban langsung diperiksa.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kendal memeriksa kondisi kesehatan warga di sekitar korban, termasuk teman sekolah korban yang pernah melakukan kontak dengan pasien. Antara Jateng melansir, pemeriksaan dilakukan untuk menghindari mewabahnya penyakit tersebut.

“Kami lakukan penyelidikan epidemologis (PE) menindaklanjuti adanya pasien difteri di Kendal,” kata Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kendal Muntoha, Kamis (14/12/2017).

Hal tersebut diungkapkannya di sela rapat koordinasi dengan dinas-dinas kesehatan kabupaten/kota dan stakeholder terkait mengenai difteri yang berlangsung di Kantor Dinas Kesehatan Jawa Tengah.

Ia menyebut, langkah PE dilakukan, lantaran korban mempunyai latarbelakang mobilitas yang tinggi. sehingga seluruh orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien diperiksa kesehatanya.

“Kebetulan, mendiang anak ini mobilitasnya tinggi. Jadi, kami lakukan pemeriksaan juga di PAUD tempatnya sekolah untuk mengantisipasi risiko terpapar,” katanya.

Namun, kata dia, hanya yang melakukan kontak dalam waktu kurang dari dua pekan sebelum pasien meninggal. Jika kontak sudah dilakukan lewat dari dua pekan tergolong aman dari paparan bakteri difteri.

Selain itu, Muntoha mengatakan, imunisasi ulang atau ORI (Outbreak Response Immunization) juga dilakukan kepada seluruh anak yang ada di desa tersebut untuk melindungi dari potensi terpapar difteri.

Baca : Balita Pasien Difteri Meninggal di RS Kariadi Semarang

Diakuinya, selama ini memang belum semua anak di Kendal mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Sebab ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang menolak imunisasi.

Sementara itu, Kepala Dinkes Jateng Dokter Yulianto Prabowo mengatakan, dengan imunisasi dasar secara lengkap setidaknya bisa melindungi anak dari paparan penyakit, seperti difteri.

“Kalau toh terkena pun bersifat ringan dan bisa diatasi. Dari tiga kasus difteri yang kami temukan di Jateng, semuanya status imunisasi dasarnya tidak lengkap,” ujarnya.

Mengenai ORI, ia mengatakan sejauh ini hanya dilakukan di satu desa yang ada di Kendal. Itu karena menindaklanjuti temuan kasus difteri di kabupaten tersebut yang pasiennya akhirnya meninggal dunia.

“Jadi, tidak dilakukan pada all population, melainkan dalam populasi terbatas yang mempunyai risiko tinggi. Meski dibanding daerah lain kasus difteri di Jateng lebih sedikit, kami tetap waspada,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang pasien difteri berusia empat tahun asal Sambungsari, Kendal, Jateng, meninggal dunia karena kondisinya yang sudah parah ketika dirujuk ke rumah sakit.

Berbagai langkah penanganan sudah dilakukan, termasuk memberikan antidifteri serum (ADS) dan merencanakan trakeostomi karena selaput membran di tenggorokan sudah menutup saluran pernafasan.

Editor : Ali Muntoha

Warga Karanganyar Terserang Difteri Karena Tak Pernah Imunisasi

Seorang siswa tengah menjalani imunisasi di sekolah. Imunisasi disebut sebagai salah satu cara untuk menghindari penyakit difteri. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Karanganyar – Satu warga Kabupaten Karanganyar tercatat pernah terinveksi penyakit difteri. Kasus ini terjadi pada Juni 2017 lalu. Beruntung korban dapat diselamatkan setelah dilakukan penanganan yang intensif.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Karanganyar, Rita Sari Dwei kepada wartawan, Selasa (12/12/2017) menyebut, jika korban yang tererang difteri tak pernah diimuniasi.

Beruntung menurut dia, karena saat merasakan gejalan sakit korban langsung berobat. Sehingga tim medis bisa langsung mendeteksi jika korban terinveksi difteri.

Ia menyebut, saat itu Dinas Kesehatan langsung berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk melakukan penanganan. Pasalnya, untuk menangani kasus ini cukup rumit dan mahal.

”Untuk menangani harus disuntik serum antidifteri. Serumnya saat itu di Solo Raya tidak ada, hanya ada di pusat, provinsi juga tidak punya,” katanya.

Ia menyebut, satu serum untuk disuntikkan pada korban harhanya sekitar Rp 2,5 juta. Padahal yang dibutuhkan tidak cukup satu serum. Untuk penanganan korban waktu itu, menurut dia, tim medis harus menyuntikkan empat serum sekaligus.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga melakukan pemeriksaan kepada orang-orang di sekitar korban, untuk memeriksa apa ada yang tertular atau tidak.

”Kami periksa orang-orang di dekatnya, keluarganya, gurunya, teman sekolah, ada nggak kuman difteri. Lalu kita kasih obat profilaksis agar kuman tidak merajalela,” ujarnya.

Saat ini menurutnya, Dinkes Karanganyar semakin gencar menyosialisasikan imuniasi. Karena imunisasi bisa membentengi anak dari penyakit difteri.

“Dari kasus itu, saya minta orang tua jangan egois. Karena anaknya tidak pernah imunisasi jadi terkena difteri. Bahayanya bisa menyebabkan kematian dan menular,” terangnya.

Dia mengatakan, corynebacterium diphtheriae atau bakteri penyebab difteri menyebar melalui udara. Daya tahan tubuh menjadi kunci utama untuk menangkal bakteri tersebut.

“Udara itu bakterinya komplet, kalau dalam kondisi tidak imun, orang pasti bisa sakit. Intinya jangan sampai nggak imunisasi, udah itu saja, kalau kebal nggak akan kena,” paparnya.

Menurut dia, gejala terkena difteri bisa dikenali sejak awal. Yakni ada keluhan panas, sulit menelan, sakit tenggorokan, dan agak sesak napas. Jika menemukan tanda-tanda itu masyarakat diimbau segera berobat.

”Karena selaput putih lama-lama bisa memenuhi amandel lalu tidak bisa bernapas, terpaksa leher dibolong agar bisa bernapas. Yang bahaya racunnya bisa menyebar ke jantung dan otak,” katanya menjelaskan.

Difteri adalah salah satu jenis penyakit menular dan cukup berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Difteri, akan menyumbat saluran pernapasan atas atau toksinnya yang bersifat “pathogen” yang bisa menimbulkan komplikasi seperti gagal nafas. 

Bagi penderita difteri biasanya masa inkubasi yaitu antara 2 hingga 6 hari. Oleh karena hal yang tidak kalah penting mengantisipasi difteri adalah melakukan imunisasi DPT yang kurang dari satu tahun selama tiga kali, boster umur 2 tahun, masuk SD, dan kelas lima.

Editor : Ali Muntoha

Apa Itu Penyakit Difteri? Ini Penjelasan Dinkes Jepara

Ekspresi salah satu anak saat disuntik imunisasi . (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Temuan kasus difteri di 20 provinsi meningkat. Provinsi Jawa Tengah menjadi satu di antara wilayah yang melaporkan temuan penyakit tersebut. Di Jepara tahun ini belum ditemukan kasus difteri positif. 

Meskipun demikian, Bumi Kartini pernah punya riwayat temuan kasus difteri pada tahun 2014. Satu orang positif terkena difteri, walaupun diketahui selanjutnya orang tersebut bukan berasal dari Jepara. 

Baca: Tak Ditemukan Kasus Difteri, Dinkes Jepara Tetap Siaga

Lalu apa sebenarnya penyakit difteri itu? Dan Bagaimana pencegahannya?

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jepara M. Fakhrudin mengemukakan, penyakit itu menyerang sistem pernapasan. Adapun penyebabnya adalah kuman Corynebacterium diptheriae. 

Tanda-tanda penyakit ini adalah demam, munculnya selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan. 

Disamping itu, disertai kesulitan waktu menelan, dan terkadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembekakan jaringan lunak leher. Gejala lain yang dapat muncul ialah sesak napas dan suara mengorok.

“Penyakit ini acapkali menyerang anak-anak. Maka dari itu lengkapilah tahapan imunisasinya,” katanya, Selasa (5/12/2017). 

Sementara itu untuk menghindari penularan, ia menyarankan memai masker. Hal itu karena penyakit itu menular melalui udara. 

“Selain itu jagalah kesehatan dan kebersihan. Makan makanan yang bergizi dan disertai dengan olahraga,” urainya.

Tahun 2017, Dinkes Jepara belum menemukan kasus Difteri. Akan tetapi, pihaknya sempat mendapat laporan akan warga yang diduga difteri. 

“Akan tetapi saat diperiksa, yang bersangkutan tak terbukti terkena difteri. Terakhir ada temuan kasus positif tahun 2014, yang bersangkutan mondok di Jepara, tapi aslinya orang Surabaya. Nah saat pulang dan kembali ke pondok ia sudah terkena difteri” tutup Fakhrudin. 

Editor: Supriyadi

Tak Ditemukan Kasus Difteri, Dinkes Jepara Tetap Siaga

Salah seorang petugas kesehatan melakukan suntik imunisasi, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kasus Difteri dilaporkan meningkat di 95 Kabupaten/Kota dari 20 Provinsi di Indonesia. Hal ini sesuai dengan data yang dimiliki Kementrian Kesehatan RI. Diantara provinsi yang melaporkan adanya temuan difteri, satu diantaranya adalah Jateng, lalu bagaimana di Kabupaten Jepara?

Hal tersebut MuriaNewsCom, konfirmasikan kepada M. Fakhrudin Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakita Dinas Kesehatan Jepara. Ia menyatakan hingga dengan bulan Desember, belum ada temuan dan laporan warga yang terjangkit Difteri.

“Di Jepara tak ada kasus Difteri, terakhir ada kasus positif difteri pada tahun 2014. Itupun bukan warga asli Jepara. Yang bersangkutan adalah santri asal Surabaya. Nah ketika ia pulang ke daerahnya, dan kembali lagi ke pondok pesantrennya ia sudah terkena difteri,” ujarnya, Selasa (5/12/2017). 

Meskipun demikian, pada tahun 2015 dan tahun 2017, Dinas Kesehatan Jepara sempat menemukan orang yang terduga terserang difteri. Namun setelah dilakukan pemeriksaan intensif yang bersangkutan dinyatakan negatif. 

Terkait meningkatnya kasus difteri di Indonesia. Pihaknya pun tak tinggal diam. Dinkes Jepara memastikan menyiagakan petugas lapangan untuk menemukan atau menerima laporan terkait penyakit tersebut. 

Hal itu karena, meskipun imunisasi terhadap penyakit yang disebabkan kuman Corynebacterium diptheriae itu telah dilakukan, akan tetapi masih muncul celah. Diantaranya warga pendatang dari luar Jepara. 

“Tahun 2015 ada satu terduga begitupula tahun ini (2017) ada satu terduga, warga Mayong. Namun semuanya dinyatakan negatif. Untuk Jepara imunisasi khususnya balita sudah dilakukan dan mencapai tingkat Universal Coverage (capaian keseluruhan). Namun masih dimungkinkan terjadi bilamana ada faktor pendatang dari luar. Atau warga Jepara yang waktu diadakan imunisasi berada di luar daerah,” tuturnya.

Terakhir ia meminta warga Jepara untuk senantiasa waspada dan menjaga kesehatan. Selain menjaga pola hidup sehat, hendaknya memakai masker jika sedang batuk atau berdekatan dengan orang yang sakit. 

“Selain itu lakukanlah imunisasi dengan lengkap termasuk DPT dan DT,” pungkas Fakhrudin.

Editor: Supriyadi

Dua Lembaga Pendidikan Islam di Jepara Masih Belum Ikuti Imunisasi MR

Salah seorang petugas kesehatan melakukan suntik imunisasi rubella. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua lembaga pendidikan  Islam di Jepara hingga kini masih belum mengikuti Imunisasi Measless-Rubella (MR). Oleh karenanya, Dinas Kesehatan Jepara menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementrian Agama (Kemenag) setempat untuk melakukan pendekatan tersendiri agar mau mengikuti program nasional tersebut. 

Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jepara M. Fakhruddin menjelaskan, dua lembaga itu adalah pondok pesantren (Ponpes) dan sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tanpa menyebut identitas keduanya, ia mengaku saat ini tengah dilakukan pendekatan oleh Ketua MUI dan Kemenag. 

“Mungkin belum dapat penjelasan yang lebih bagus, oleh karenanya, kami menggandeng MUI dan berkoordinasi dengan Kemenag. Hari ini Ketua MUI sudah melakukan komunikasi dengan pihak ponpes,” kata dia, Rabu (27/9/2017). 

Baca Juga: Capaian Imunisasi MR di Jepara Lebihi Target Nasional

Menurutnya, untuk ponpes yang menolak adalah setingkat dengan sekolah menengah pertama. Sedangkan untuk MI yang setara dengan sekolah dasar, sebenarnya telah melakukan imunisasi, namun baru sampai pada tahap 49 persen dari seluruh murid. 

Fakhruddin berharap, jika pendekatan itu berhasil mampu mengangkat jumlah peserta imunisasi MR di Jepara. Adapun hingga Selasa (26/9/2017) jumlah peserta imunisasi sudah mencapai 98,21 atau 288.118 dari total target 293.376 orang usia 9 bulan hingga 15 tahun. 

Terpisah, Ketua MUI Jepara Mashudi mengaku telah melakukan komunikasi dengan pihak ponpes. Dari komunikasi yang terjalin, alasan pondok pesantren tersebut terungkap bahwa mereka belum mendapat persetujuan dari orang tua.

“Sebenarnya bukan menolak, hanya saja kebanyakan santri kebanyakan berasal dari luar Jepara, seperti Jakarta dan sebagainya sehingga mereka memerlukan persetujuan dari orang tua mereka. Maka dari itu, tadi Puskesmas membuatkan formulir persetujuan untuk orang tua mereka,” jelasnya. 

Meskipun telah melakukan komunikasi, namun pihaknya tak bisa menggaransi semua santri di ponpes akan mengikuti program tersebut. “Ya nanti bergantung orang tua mereka, apakah menyetujui atau tidak. Kalau setuju, anak mereka akan diimunisasi, namun kalau tidak ya tidak,” tambah Mashudi.

Editor: Supriyadi

Capaian Imunisasi MR di Jepara Lebihi Target Nasional 

Dinas Kesehatan melakukan rapat evaluasi terkait pelaksanaan imunisasi MR di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Capaian pelaksanaan imunisasi Measles-Rubella (MR) di Kabupaten Jepara mencapai 98,21 persen atau 288.118 dari total target 293.376, per hari Selasa (26/9/2017). Angka tersebut telah melampaui target nasional yang hanya 95 persen. 

Meskipun demikian, Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara masih akan memaksimalkan capaian imunisasi hingga batas 100 persen. Hal itu diungkapkan Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) M. Fakhrudin, Rabu (27/9/2017). 

“Kita akan memaksimalkan sisa empat hari ini untuk melakukan sweeping (sapu bersih) pada warga yang belum melaksanakan imunisasi. Capaian kita memang melebihi target nasional, namun beban moral kita untuk dapat mencapai 100 persen,” katanya. 

Ia mengatakan, beberapa Puskesmas telah melakukan upaya sapu bersih kepada mereka yang belum diimunisasi. Adapun beberapa alasan mereka yang belum imunisasi di antaranya sedang bepergian atau sakit ketika jadwal imunisasi dilakukan di lingkungan mereka. 

Adapun, per tanggal 23 September 2017 beberapa puskesmas mencatatkan cakupan imunisasi hingga diatas 100 persen. Di antaranya Tahunan, Mayong 2, Nalumsari, Welahan 2, dan Kalinyamatan. Sedangkan beberapa pusat kesehatan masyarakat juga mencatatkan cakupan imunisasi di bawah 95 persen, seperti Kedung 2, Kedung 1, Kembang, Welahan 1, Keling 1, dan Jepara. 

Angka tersebut menurut Fakhruddin terus naik karena petugas terus berikhtiar menggenjot peserta imunisasi, dengan melakukan sweeping.

Editor: Supriyadi

Ribuan Siswa di Pati Diimunisasi Rubella

Salah seorang murid TK Kartika III-43 mendapatkan imunisasi rubella, Jumat (25/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejak digulirkannya program imunisasi gratis, ribuan siswa di Kabupaten Pati mendapatkan umunisasi rubella. Sebanyak 44 siswa di antaranya berasal dari TK Kartika III-43. Mereka baru mendapatkan imunisasi rubella, Jumat (25/8/2017).

Ketua Cabang Persit Kartika Chandra Kirana Ny Andri Amijaya Kusuma mengatakan, siswa antusias mengikuti imunisasi rubella kendati ada sebagian yang ditunda lantaran kesehatannya kurang fit.

“Kami apresiasi kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas Pati I yang membuat program imunisasi rubella. Program ini sangat bermanfaat agar anak-anak tidak terserang virus Rubella yang berbahaya bagi anak berusia satu hingga sepuluh tahun,” ujar Ny Andri.

Sementara dokter dari Dinkas, dr Luther Selawa menuturkan, imunisasi rubella merupakan bagian dari program pemerintah pusat. Program tersebut menyusul adanya virus berbahaya yang mudah ditularkan.

“Kalau tidak segera kita cegah, dampaknya yang terjadi cukup mengerikan. Anak-anak sebagai penerus bangsa akan mengalami cacat fisik,” ungkapnya.

Karena itu, dia mengimbau kepada orangtua untuk tidak sungkan mengikuti program imunisasi rubella untuk anaknya. Dengan demikian, anak akan menjadi resisten terharap virus yang membahayakan tersebut.

Ia menambahkan, imunisasi rubella juga sudah dilakukan di berbagai sekolah di Kabupaten Pati. Jumlahnya mencapai ribuan siswa. “Setelah diimunisasi, mereka punya resistensi jika sewaktu-waktu virus itu menyerang,” pungkas dr Luther.

Editor: Supriyadi

Lucu, Karena Takut Disuntik Siswa SMP 1 Gabus Larang Petugas Imunisasi Masuk Kelas

Kasi Imunisasi, Surveilan, dan Kejadian Luar Biasa pada Dinas Kesehatan Grobogan, Djatmiko (berkacamata) memeluk salah satu siswa saat disuntik imunisasi, Jumat (11/8/2017).  (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski akhirnya berjalan lancar, pelaksanaan kegiatan pemberian vaksin measles rubella (MR) di SMPN 1 Gabus, Grobogan ternyata sempat diwarnai aksi protes dari sejumlah siswa. Protes dilakukan dengan memasang kertas bertuliskan “Tukang Suntik Dilarang Masuk’ yang ditempelkan di pintu kelas.

Di dalam kelas itu ada belasan siswa yang semuanya takut dengan jarum suntik. Setelah menempelkan kertas tersebut, pintu kelas kemudian ditutup dari dalam.

Adanya aksi ini, pelaksanaan imunisasi sempat tersendat beberapa saat. Soalnya, petugas butuh waktu untuk merayu para siswa yang phobia dengan jarum suntik. Setelah diberi pengerian, belasan siswa itu akhirnya bersedia di suntik vaksin di lengan tangannya.

”Selama pelaksanaan imunisasi memang ada anak yang takut dikasih vaksin ketika lihat jarum suntik. Kalau ada yang takut seperti ini maka harus kita rayu dan kasih pengertian dulu. Jadi, menghadapi anak seperti ini memang butuh kesabaran,” jelas Kasi Imunisasi, Surveilan dan Kejadian Luar Biasa Dinas Kesehatan Grobogan Djatmiko, Jumat (11/8/2017).

Menurutnya, petugas Dinkes Grobogan tidak hanya butuh kemampuan medis saja saat melaksanakan pemberian vaksin measles rubella (MR) pada anak sekolah. Khususnya, vaksin yang harus diberikan lewat suntikan. Yakni, bisa merayu anak sekolah supaya mau diberi vaksin.

Tulisan ”tukang suntik dilarang masuk” dipasang di depan salah satu kelas di SMP 1 Gabus sebagai aksi protes. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Selain protes dan mengunci pintu kelas, lanjut Djatmiko, ada lima siswa yang kabur ketika petugas datang. Mereka kabur dari sekolahan karena ketakutan dengan jarum suntik. Namun, kelima siswa siswa ini berhasil dipanggil lagi oleh gurunya dan akhirnya bisa dikasih vaksin.

Djatmiko menyatakan, pemberian vaksin MR sudah dilakukan mulai pekan pertama bulan Agustus ini. Sejauh ini, sudah sekitar 106.487 anak yang telah mendapat vaksin.

Pemberian vaksin hanya pada anak usia 9 bulan hingga anak usia 15 tahun. Sasarannya adalah anak-anak yang duduk di bangku sekolah. Mulai PAUD, SD, SMP dan sebagian siswa SMA.

Target pelaksanaan vaksinasi di Grobogan sebanyak 325.902 anak. Ditargetkan, pelaksanaan vaksinasi MR selesai akhir September mendatang.

Dia menambahkan, bagi anak yang belum divaksinasi pada saat petugas datang sekolah,  diminta untuk datang ke puskesmas terdekat. Pemberian vaksin itu diperlukan guna mencegah anak-anak supaya tidak terkena penyakit campak.

Editor: Supriyadi

Duh…Dinkes Grobogan Kekurangan Tempat Penyimpanan Vaksin Measles Rubella

Petugas Dinas Kesehatan Grobogan menunjukkan vaksin measles rubella di gudang penyimpanan, sebelum dimasukkan dalam freezer. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemberian vaksin measles rubella (MR) yang digelar mulai Agustus ini di Kabupaten Grobogan mengalami sedikit hambatan. Yakni, kurangnya jumlah freezer untuk tempat penyimpanan vaksin tersebut.

Sekretaris Dinas Kesehatan Grobogan Slamet Widodo menyatakan, jumlah vaksin MR yang diterima dari Dinas Kesehatan Provinsi Jateng sebanyak 325.000 ampul. Sementara jumlah freezer yang ada di gudang dinas hanya ada tujuh unit.

“Jumlah freezer kita terbatas sehingga tidak dapat menampung seluruh jatah vaksin. Untuk penyimpanan vaksin MR memang harus ditaruh dalam freezer,” jelasnya.

Dijelaskan, fungsi freezer sangat penting untuk menyimpan vaksin supaya tidak rusak. Vaksin itu harus disimpan dalam suhu minimal delapan derajat celcius.

Karena keterbatasan freezer, pengambilan vaksin dari Semarang dilakukan bertahap. Setelah ada freezer yang kosong, karena barangnya sudah didistribusikan, pihaknya langsung mengambil lagi jatah vaksin ke Semarang.

“Rencananya, jatah vaksin kita ambil tiga kali. Begitu ada freezer kosong, kita ambil lagi,” kata Slamet.

Menurutnya, vaksin tersebut diberikan kepada anak-anak untuk mencegah penyakit campak dan rubella. Vaksin MR diberikan pada anak usia sembilan bulan hingga kurang dari 15 tahun.

Untuk distribusi vaksin pada bulan Agustus ini lebih difokuskan pada sekolah-sekolah. Bulan berikutnya, pemberian vaksin menyasar ke seluruh posyandu.

Dalam proses pemberian vaksin tahap awal, tiada ada penolakan dari masyarakat. Sebab, pihaknya telah melakukan sosialisasi sebelum pelaksanaan vaksinasi.

Editor : Ali Muntoha

Siswa SD Disuntik Imunisasi Kayak Digigit Semut di Jepara

Ekspresi seorang siswa ketika disuntik pada pencanangan imunisasi MR di SDN 1 Jambu Timur Kecamatan Mlonggo, Selasa (1/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pencanangan Imunisasi MR (Measles-Rubella, Campak Rubella) di Jepara dilaksanakan di SDN 1 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo, Selasa (1/8/2017). Ratusan murid dari kelas satu hingga enam ikut serta dalam kegiatan itu. 

Seorang siswa Ahmad Khoirulyani (11) mengaku sempat takut saat petugas medis hendak menyuntik lengan kirinya. Ia bahkan tak berani melihat jarum suntik.  “Saya kira tadi sakit banget, tidak tahunya seperti digigit semut. Namun saat ini lengan saya agak kemeng (nyeri) tapi tidak sakit kok,” tuturnya. 

Siswa kelas lima itu mengatakan, tujuan imunisasi itu adalah untuk mencegah penyakit campak dan rubella. Namun ia mengaku tak tahu jenis penyakit apa itu. “Enggak tahu aku, tapi pas disuntik itu untuk menghindari penyakit itu,” akunya polos. 

Siswa lain Irgi (8) mengatakan hal serupa. Meskipun tidak tahu tujuan kegiatan tersebut, namun ia mengaku lega sudah disuntik. “Saya sudah disuntik tadi. Rasanya seperti digigit semut. Tapi kalau disuntik lagi ya tidak mau,” ujarnya sambil terkekeh. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jepara Dwi Susilowati menyebut program tersebut menyasar 292.886 orang usia 9-15 tahun. Imunisasi tersebut dilaksanakan selama dua bulan, Agustus-September 2017.  “Pada bulan Agustus ini difokuskan bagi anak-anak yang bersekolah. Sementara pada bulan September dilaksanakan untuk anak rentang usia tersebut yang belum bersekolah,” tutur dia. 

Adapun, untuk Kecamatan Mlonggo ada 1.053 anak yang menjadi sasaran imunisasi MR. “Untuk melaksanakan bulan imunisasi tersebut, setiap puskesmas (21 unit) menyediakan 4-5 petugas medis,” tutup Dwi. 

Editor : Akrom Hazami