Kudus Sumbang 1,62 Persen Luasan Lahan di Jateng

MuriaNewsCom, Kudus – Kabupaten Kudus menyumbang 1,62 persen luasan lahan sawah di Provinsi Jawa Tengah. Hal itu disampaikan oleh Bupati Kudus Musthofa, saat menyambut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, sewaktu panen raya di Desa Berugenjang, Selasa (23/1/2018).

“Kudus adalah kabupaten terkecil di Jawa Tengah, namun dapat menyumbang 1,62 persen luasan sawah (padi) di Jawa Tengah. Hal itu karena kami konsisten agar luasan lahan kami tidak berkurang ditengah sektor industri di kota kami yang berkembang pesat,” kata Musthofa.

Ia menyebutkan, luasan padi di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus, adalah 205 hektare. Di mana 50 hektare telah dipanen dan sisanya 155 belum memasuki penenan. Sedangkan produktifitasnya adalah 7,42 ton per hektare.

Kecamatan Undaan saja, memiliki luas lahan sebesar 6.015 hektare. Itu terdiri dari areal sawah seluas 5.742 hektare dan tegalan 273 hektare.

“Untuk harga Gabah Kering Panen (GKP) saat ini sebesar Rp 5.700. Panen padi akan dilakukan denfan menggunakan mekanisasi pertanian menggunakan Combine Harvester,” ujarnya.

Di tahun 2017, capaian produksi di Kudus mencapai 156.414 ton GKG. Sedangkan di 2016 jumlah produksi sebesar 171.278 ton GKG.

Sementara itu, Menteri Pertanian Amran yakin dengan panen raya yang telah dilakukan di beberapa daerah di Jateng, wilayah ini bisa surplus beras.

“(Panen raya di Jateng) setara 900 ribu ton, sedangkan perbulan konsumsinya mencapai 260 ribu ton. Ada surplus. Lalu kami mendorong agar produksi masuk ke Bulog,” tutur Amran.

Editor: Supriyadi

Panen di Grobogan, Mentan: 2 Tahun Tak Impor Beras Harus Disyukuri

MuriaNewsCom, Grobogan – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, sejak beberapa tahun terakhir, sudah banyak keberhasilan yang dicapai dalam sektor pertanian. Misalnya, keberhasilan tidak impor beras dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

”Sudah dua tahun berturut-turut kita tidak impor beras. Yakni, tahun 2016 dan 2017,” tegasnya saat panen padi di Desa Menduran, Kecamatan Brati, Grobogan, Selasa (23/1/2018).

Baca: Di Depan Mentan Bupati Kudus Tolak Impor Beras, Begini Reaksi Sang Menteri

Kemudian, pada dua tahun terakhir, juga tidak ada impor jagung dan bawang merah. Sebaliknya, Indonesia malah bisa ekspor bawang merah dan jagung ke sejumlah negara.

”Ini adalah keberhasilan yang luar biasa dan harus disyukuri. Kalau tidak bersyukur maka nikmat ini bisa dicabut Allah SWT,” tegas Amran didampingi Bupati Grobogan Sri Sumarni serta sejumlah pejabat.

Ia menegaskan, pada bulan Januari ini, ada luasan panen padi 303 ribu hektare di Jawa Tengah, termasuk di Grobogan. Hasil panen pada areal seluas ini mencapai 1,8 juta ton gabah atau setara 800 ribu sampai 1 juta ton beras.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berjalan menyusuri hamparan sawah saat melangsungkan panen padi di Desa Menduran, Kecamatan Brati, Grobogan, Selasa (23/1/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Amran menambahkan, harga gabah saat ini juga sudah turun. Beberapa waktu lalu, harga gabah panen mencapai Rp 5.700 dan hari ini menjadi Rp 5.000 per kilogram.

”Ini artinya, gabah panen pada awal tahun ini sudah terserap pasar. Kami juga menghimbau agar beras juga bisa diturunkan Rp 700 per kilogramnya,” jelasnya.

Baca: Safari Panen Raya Padi di Kudus, Mentan Amran Temukan Calon Menteri Pertanian Baru

Selain di Jawa Tengah, panen juga berlangsung di sejumlah wilayah lainnya. Antara lain di Jawa Timur. Pada bula Februari nanti diperkirakan akan berlangsung panen raya diberbagai daerah. Dari kondisi ini maka stok pangan diperkirakan dalam kondisi aman.

Sementara itu, para petani yang hadir dalam kesempatan itu dengan tegas meminta agar pemerintah tidak melakukan impor beras. Sebab hal itu akan berdampak pada harga gabah hasil panen.

Permintaan petani juga didukung Bupati Sri Sumarni. Di hadapan mentan, Sri dengan tegas meminta agar tidak ada impor beras karena petani sudah masuk panen raya.

Editor: Supriyadi

Di Depan Mentan Bupati Kudus Tolak Impor Beras, Begini Reaksi Sang Menteri

MuriaNewsCom, Kudus – Kedatangan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman ke Kudus untuk melakukan panen raya di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan menjadi kesempatan Bupati Musthofa menyerukan penolakan terhadap rencana impor beras.

Orang nomor satu di Kota Kretek itu bahkan terang-terangan menyampaikan keberataannya terhadap rencana yang disinyalir akan merugikan petani tersebut.

“Kami minta tolong (titip pesan kepada Presiden) agar menyetop dan tolak impor beras. Saya sayang kepada petani,” serunya.

Baca: Menteri Pertanian Panen Raya di Berugenjang Kudus

Ia menjelaskan, Kudus merupakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah, namun dapat menyumbang 1,62 persen luasan sawah (padi) di Jawa Tengah. Hal itu karena pemkab konsisten agar luasan lahan tidak berkurang di tengah sektor industri.

Luasan padi di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus sendiri mencapai 205 hektare. Di mana 50 hektare telah dipanen dan sisanya 155 hektare belum memasuki penenan. Sedangkan produktifitasnya adalah 7,42 ton per hektare.

Baca: Safari Panen Raya Padi di Kudus, Mentan Amran Temukan Calon Menteri Pertanian Baru

”Kecamatan Undaan saja, memiliki luas lahan sebesar 6.015 hektare. Itu terdiri dari areal sawah seluas 5.742 hektare dan tegalan 273 hektare. Sementara untuk harga Gabah Kering Panen (GKP) saat ini sebesar Rp 5.700. Kalau jadi impor tentu harga akan turun,” ujarnya.

Mendengar permintaan itu, Amran tidak secara langsung mengiyakan pesan Bupati Kudus. Namun demikian, ia meminta para petani untuk meningkatkan produksi. Untuk itu, ia menjanjikan bantuan alat mesin pertanian guna menggenjot panen petani‎.

”Yang pasti kita tingkatkan dulu produktivitas padi. Kami akan membantunya dengan mesin pertanian untuk menggenjot panen petani,” katanya.

Editor: Supriyadi

Safari Panen Raya Padi di Kudus, Mentan Amran Temukan Calon Menteri Pertanian Baru

MuriaNewsCom, Kudus – Kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan-Kudus hanya sepintas lalu, untuk melakukan panen raya, Selasa (23/1/2018). Namun masa yang singkat itu digunakan Amran untuk membagi-bagikan alat mesin pertanian.

“Waktu kami hanya sekitar tiga menit. Kepada petani yang mau bertanya, silakan maju ke depan (panggung),” ujar Amran.

Dua orang perwakilan petani dari Desa Gulang dan Desa Berugenjang pun merangsek ke barisan terdepan dan menyampaikan unek-uneknya.

Di panggung seorang petani dari Berugenjang Karsono ditanya oleh Amran. Hal itu terkait apa kebutuhan yang diperlukan untuk meningkatkan hasil pertaniannya.

“Ya kalau saya mengkhawatirkan hilangnya generasi pemanen padi yang semakin menua, maka saya minta combine harvester,” pintanya.

Baca: Menteri Pertanian Panen Raya di Berugenjang Kudus

Permintaannya langsung diluluskan oleh Mentan. Ia menyuruh Dirjennya untuk mencatat keinginan petani tersebut.

Disamping meminta alsintan, ia juga meminta pemerintah memperhatikan benar harga gabah. Meskipun dengan kondisi seperti ini (harga gabah tinggi) petani mengaku untung, akan tetapi ia menuntut agar pemerintah memperhatikan harga beras di pasaran.

“Meskipun kami untung dengan harga gabah yang naik, namun tolong pemerintah memperhatikan harga beras. Agar jangan sampai warga lain (non petani) kesulitan membeli beras,” ungkap Karsono.

Penyampaian Karsono mendapat pujian dari Mentan. Ia mengungkapkan, bahwa pemikiran itu dapat membawanya menjadi Menteri Pertanian yang baru.

“Wah itu pemikiran calon menteri pertanian, tidak memikirkan dirinya sendiri tapi juga orang lain,” puji Amran.

Setelah berbincang dengan petani, Amran bersama rombongan melanjutkan perjalanan ke Grobogan. Agendanya pun sama, melakukan panen raya padi.

Perlu diketahui, sejak hari Senin (22/1/2018) Amran melakukan safari panen raya padi dari Bojonegoro Jatim, Demak-Jateng, Kudus, Grobogan dan terakhir menuju Sragen.

Editor: Supriyadi

Hadapi Demonstran, Pemkab dan DPRD Pati Sepakat Tolak Impor Beras

MuriaNewsCom, Pati – Pemkab dan DPRD Pati sepakat dengan usulan para petani Pati menolak impor beras di Indonesia. Penolakan tersebut disampaikan langsung kepada para petani Pati saat menemui para demonstran di depan pendapa kabupaten, Senin (22/1/2018).

“Saya wakil dari DPRD Pati, dengan ini menyatakan kalau kami menolak impor beras. Seperti yang diinginkan para petani padi di Pati,” kata perwalian DPRD Pati, Ali N kepada ratusan petani.

Menurut dia, hasil putusan pertemuan antara perwakilan Pemkab Pati, DPRD Pati, dan perwakilan petani juga berbunyi demikian. Pertemuan yang berlangsung di ruang serbaguna DPRD Pati itu mengerucut pada penolakan impor beras.

www.krogerfeedback.com a Kroger website for Kroger Survey

Sementara, Edi S, asisten II Setda Pati menyuarakan hal yang sama kepada ratusan petani. Dikatakan usai perwakilan DPRD, dari Pemkab Pati juga menyetujui apa yang diinginkan para petani Pati.

“Saya mewakili Pemkab Pati juga setuju dengan usulan petani, untuk menolak impor beras, ucapnya singkat menyambut petani.

Ditambahkan Subhan, petani yang ikut aksi mengatakan Pemkab Pati harus komitmen menolak Impor Beras. Itu harus dibuktikan dengan meminta kementerian dan pemerintah pusat tidak impor beras.

“Kami akan terus mendampingi dan mengawal agar tak ada impor beras. Bahkan masa yang lebih banyak bisa kami kerahkan,” ucapnya.

Editor: Supriyadi

Tak Kunjung Temui Demonstran, Bupati Pati Dikirimi Fatihah

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan petani yang menggelar aksi penolakan impor beras di depan Alun-alun Pati ramai-ramai membacakan surat Al-Fatihah untuk Bupati Pati Haryanto. Itu dilakukan setelah orang nomor satu di Bumi Mina Tani itu tak kunjung menemui demonstran.

Subhan, salah sartu demonstran mengaku tak mudah bagi petani datang ke pendapa. Ia mengaku harus menjual gabah satu kwintal untuk beraksi menyuarakan aspirasi dan keinginan petani supaya didengar Bupati Haryanto.

“Cukuplah saya yang kehilangan satu kwintal gabah. Datanglah pak bupati, temuilah kami yang hanya rakyat jelata ini,” katanya saat aksi

Selain pembacaan surat Fatihah, dalam aksi tersebut juga dialunkan puisi khusus buat pejabat Pemkab Pati. Puisi keprihatinan tersebut muncul lantaran nasib petani yang dianggap makin tercekik.

Dalam aksi juga sempat terjadi aksi saling dorong antara masa dengan petugas kepolisian yang berjaga. Aksi dorong muncul karena tak kunjung ada tanggapan dari Pemkab Pati.

Editor: Supriyadi

Baca: Tolak Impor Beras, Ratusan Petani Pati Demo di Depan Pendapa

Tolak Impor Beras, Ratusan Petani Pati Demo di Depan Pendapa

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan petani di Pati menggelar aksi di depan pendapa kabupaten, Senin (22/1/2018). Aksi dilakukan para petani terkait isu kabar impor beras, yang dianggap mencekik petani.

Subhan, petani Pati yang ikut aksi mengatakan, saat ini para petani sedang dalam proses panen raya. Melihat hal itu, tidak sepatutnya jika pemerintah melakukan impor beras di saat warganya panen.

“Itu hanya akan membuat harga padi anjlok. Akhirnya yang dirugikan adalah kami dari para petani pribumi,” katanya saat aksi.

Atas dasar itu, ia menuntut pemerintah pusat dapat membatalkan rencana impor beras. Jika tetap dilakukan, langkah itu akan semakin mencekik para petani, khususnya petani Pati.

Dia menyebut, saat ini harga padi sudah berangsur turun. Dari Rp 600 ribu menjadi Rp 500 ribu, bahkan ada yang mencapai Rp 400 ribuan.

Dalam aksi tersebut, masa menginginkan Bupati Pati datang menemui demonstran. Sayangnya hingga siang ini (sekitar jam 11.30 WIB) Bupati Haryanto tak kunjung datang menemui.

Editor: Supriyadi

Ganjar : Jateng Sudah Swasembada Tak Butuh Beras Impor

MuriaNewsCom, Banjarnegara – Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menganggap provinsi yang dipimpinnya tak perlu kucuran beras impor. Bahkan Ganjar langsung menelepon Menteri Pertanian (Mentan) meminta agar rencana impor beras dikaji ulang.

Tak hanya itu, saat Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja di Pekalongan, Senin (15/1/2018), Ganjar juga membahas mengenai kebutuhan beras ini.

Ganjar khawatir, beras impor masuk ke Jawa Tengah berbarengan dengan panen raya. Jika kondisi ini terjadi, maka harga beras di tingkat petani akan hancur dan merugikan petani lokal.

“Barusan saya telepon Mentan, kemarin juga sudah kita laporkan ke Presiden Joko Widodo agar kita menghitung betul cadangan beras nasional kita. Ketika cadangan itu kita anggap cukup, maka saya minta rastra segera diturunkan, operasi pasar dilakukan,” kata Ganjar, Selasa (16/1/2018).

Pernyataan ini disampaikan Ganjar ketika melakukan kunjungan ke Pasar Kota Banjarnegara. Di pasar ini, Ganjar memantau ketersediaan beras di pedagang.

Menurut dia, Jawa Tengah sudah swasembada beras. Sehingga tak memerlukan beras impor, yang dampaknya akan memukul petani.

“Kita dorong daerah di luar Jateng yang butuh, monggo saja untuk dipenuhi. Tapi saran saya kalau Jateng sudah swasembada beras sehingga masih cukup, gak usahlah impor beras,” ujarnya.

Ganjar meminta Dinas Pertanian Provinsi Jateng memastikan daerah mana saja yang akan panen pada Fabruari dan Maret 2018, sebagai perhitungan stok cadangan beras.

“Ini mesti dihitung betul, kalau impor beras terjadu dan dua bulan lagi turun atau masuk ke tanah air. Saya khawatir masuknya impor beras pas panen rata sehingga harga beras nanti jatuh lagi, kita coba antisipasi berdasarkan pengalaman kemarin,” terangnya.

Setelah diketahui jumlah cadangan beras di Jateng, Bulog diminta langsung melakukan tindakan yang diperlukan. Terutama di sentra-sentra yang mengalami kenaikan harga beras cukup fluktuatif.

“Kita jangan bicara tolak impor beras atau tidak, itu terlalu ekstrem dan nanti jadi provokatif. Kita mau menghitung kondisi sebenarnya supaya pemerintah mau bertindak,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Janji Sudirman Said Jika Jadi Gubernur : Beras Impor Saya Larang Masuk

[bs-quote quote=”Mendatangkan beras impor itu bukan solusi. Itu hanya malas berpikir dan bekerja mencari jalan ke luar” style=”style-5″ align=”left” author_name=”Sudirman Said” author_job=”Bakal Calon Gubernur Jateng”][/bs-quote]

MuriaNewsCom, Semarang – Rencana pemerintah yang akan mendatangkan beras impor ke dalam negeri, juga mendapat tentangan dari bakal calon gubernur Jateng, Sudirman Said. Ia bahkan berjanji jika nanti terpilih sebagai gubernur, akan melarang beras impor masuk ke provinsi ini.

Ia menilai, mendatangkan impor bukan sebuah solusi untuk mengurai kenaikan harga beras di pasaran. Justru menurut dia, masuknya beras impor akan menyusahkan bahkan mematikan petani.

“Kalau saya gubernur, saya akan larang beras impor masuk Jateng, karena itu akan mematikan ruang gerak petani Jateng,” katanya.

Ia juga menyebut, mengimpor beras bukanlah solusi yang tepat. Ia juga menyentil pejabat yang memunculkan rencana untuk mengimpor beras ini sebagai akibat dari pejabat yang malas berpikir.

“Mendatangkan beras impor itu bukan solusi. Itu hanya malas berpikir dan bekerja mencari jalan ke luar,” ujarnya.

Menurut dia, mengimpor beras sama dengan mematikan peluang bagi para petani untuk memproduksi beras. Kebijakan-kebijakan seperti ini menurut dia, hanya akan menjadikan petani kecil sebagai korban dari permainan para pedagang besar.

“Pemerintah harus turun tangan, kalau tidak mampu membantu meringankan, sekurang-kurangnya tidak menambah beban para petani. Impor beras itu menambah beban petani,” katanya lagi.

Sudirman mengungkapkan, angka-angka yang dipelajarinya selama ini Provinsi Jateng mampu mencukupi kebutuhan berasnya sendiri. Sehingga menurut dia, ada yang tidak nyambung antara beras yang dibutuhkan masyarakat dengan stok Bulog.

“Stok di Bulog juga kuallitas berasnya harus disegarkan, harus dicek dan diperbaiiki agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga masyarakat mau membeli beras Bulog. Selera masyarakat meningkat sementara stok beras yang ada kualitasnya rendah,” terang Dirman.

Ia mengemukakan, salah satu program kerjanya jika terpilih sebagai gubernur Jateng adalah memuliakan petani. Dengan melindungi petani maka Jateng akan selalu dapat memenuhi kebutuhan pangannya secara swasembada.

Editor : Ali Muntoha

Petani Jepara: Impor Beras Jatuhkan Harga Beras di Kalangan Petani

MuriaNewsCom, Jepara – Petani di Jepara mengaku was-was dengan rencana impor beras yang hendak dilakukan pemerintah. Langkah itu dirasa akan semakin menyengsarakan petani lantaran harga beras semakin jatuh.

“Jika impor beras dibiarkan berlarut-larut kondisi itu akan ‎menjatuhkan harga beras di kalangan petani,” tutur Ketua Gabungan Kelompok Tani Bumi Mekarsari Kabupaten Jepara Khoirul Anam, Senin (15/1/2018).

Menurutnya, jika impor beras dilakukan untuk menyetabilkan harga, pihaknya tak berkeberatan. Akan tetapi pemerintah harus membuat analisis terkait waktu dan jumlah beras yang akan diimpor. Jika tidak, dirinya khawatir akan memengaruhi harga gabah panenan dari petani lokal.

“Kami tidak keberatan, asal tujuan impor itu untuk mengendalikan harga beras. Namun hal itu harus ada batasan waktunya. Karena saat ini sejumlah daerah (di Jepara) sudah mulai panen,” tambahnya.

Sementara itu, stok beras di gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) Jepara,masih cukup untuk tiga bulan kedepan. Saat ini jumlah persediaan beras di Jepara mencapai 1.890 ton.

“Saat ini yang tersimpan di gudang Bulog adalah jenis medium. Akhir bulan ini sampai awal bulan depan rencananya akan ada penen raya,” jelas Ahmad Muzajjad, Kepala Gudang Bulog Jepara.

Ia menjelaskan, pada panen tahun lalu serapan beras dari petani mencapai 11.000 ton. Sementara itu, konsumsi beras per bulan di Jepara mencapai 770 ton. Namun hingga pertengahan Januari 2018 pihaknya belum menyalurkan stok beras.

Ahmad menyebut, akan ada penambahan stok beras mengingat akan adanya panen. ‎Sementara terkait rencana impor beras, hal itu tak akan memengaruhi stok beras dan berakibat pada harga jual beras di kalangan petani.

Editor: Supriyadi

Petani Undaan Lor Kudus Tolak Rencana Pemerintah Impor Beras

MuriaNewsCom, Kudus – Petani di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus menolak rencana pemerintah untuk mengimpor beras dari luar negeri. Hal itu dinilai akan semakin merugikan petani.

Khoiron (45) seorang petani di desa itu mengaku, saat ini sawah di kampungnya sedang panen. Meskipun belum serentak, namun harga akan semakin turun jika musim panen raya tiba.

Saat ini menurutnya, harga gabah di saat panen (di Desa Undaan Lor) dihargai Rp 580 ribu per kwintal. Hal itu juga diamini oleh Ketua Gapoktan Tani Mulyo Undaan Lor, Rohwan.

“Kami menolak jika ada impor beras. Soalnya hal itu akan merugikan petani,” katanya.

Menurutnya, luas lahan sawah di Undaan Lor 450 hektare. Satu hektare sawah diperkirakan dapat menghasilkan 8 ton gabah setiap kali panen.

Dikatakannya, pada akhir Januari 2018 diperkirakan desa ini akan panen raya. Hal itu otomatis menurunkan harga gabah. Dengan rencana pemerintah hendak mengimpor beras, dikhawatirkan harganya semakin anjlok.

“Nanti kalau panen raya harganya (gabah) bisa turun sampai Rp 240 ribu per kwintal. Kalau ada impor beras ya merugikan petani. Apalagi dari penebas (tengkulak) takut membeli, soalnya menanti harganya turun,” urainya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Undaan Lor Edi Pranoto mengaku tak setuju akan rencana impor beras.

“Kami dari desa tak setuju dengan rencana impor beras. Karena hal itu resahkan warga kami yang berprofesi sebagai petani,” ujarnya.

Menurutnya, untuk MT (Musim Tanam) I 2018 yang seharusnya berlangsung Oktober (2017)-Januari (2018), untuk Desa Undaan Lor maju di Bulan September 2017. Oleh karenanya, panen bisa dilakukan pada bulan Januari‎.

Editor: Supriyadi

Panen Bareng Pejabat Kementan, Petani Ngeluk Grobogan Minta Pemerintah Tak Impor Beras

MuriaNewsCom, GroboganPara petani di Desa Ngeluk, Kecamatan Penawangan, Grobogan meminta pemerintah agar tidak merealisasikan rencana untuk mengimpor beras. Hal itu disampaikan petani saat melangsungkan panen raya padi MT I bersama sejumlah pejabat dari Kementerian Pertanian (Kementan), Kamis (11/1/2018).

”Saat ini, petani sudah mulai panen padi. Jadi, pemerintah sebaiknya tidak perlu impor beras yang bisa berdampak pada harga panen,” kata Ketua Gapoktan Suko Makmur Desa Ngeluk Suwaji.

Menurutnya, petani siap mendukung program tiada hari tanpa panen yang sedang dicanangkan kementerian pertanian. Sebagai bukti, panen yang dilakukan saat ini, waktunya lebih awal dari biasanya.

Hal ini bisa dilakukan setelah ada bantuan mesin pompa dari kementerian untuk kelompok tani. Adanya bantuan pompa menyebabkan kebutuhan air pada lahan seluas 265 hektare bisa diambilkan dari sungai Lusi.

”Adanya pompa memudahkan kami untuk mendapatkan air sehingga bisa tanam dan panen lebih awal dari biasanya. Sebelumnya, kami panen padi MT I pada akhir Februari dan baru kali ini bisa panen pada awal Januari. Untuk itu, kami minta dukungan bantuan mesin pompa lagi supaya lebih banyak areal sawah yang bisa diairi,” kata Suwaji yang disambut tepuk tangan petani lainnya.

Kepala Balitbang Pertanian Kementrian Pertanian Muhammad Syakir (baju putih) melangsungkan panen padi di Desa Ngeluk, Kecamatan Penawangan, Kamis (11/1/2018).
(MuriaNewsCom/Dani Agus)

Padi yang ditanam petani hampir semuanya adalah varietas Ciherang dengan produksi sekitar 8 ton per hektare. Harga gabah pada saat panen mencapai Rp 5 ribu per kilogram.

Dalam kesempatan itu, Kepala Balitbang Pertanian Kementrian Pertanian Muhammad Syakir sempat melakukan penyerahan bantuan benih padi varietas Impari 30 atau Ciherang plus secara simbolis pada petani.

”Ini adalah varietas padi terbaru. Kelebihan varietas ini, umurnya lebih pendek, lebih tahan hama dan genangan, dan hasilnya lebih tinggi,” kata Syakir.

Ia menyatakan, dalam rangka menyukseskan program tiada hari tanpa panen, pihaknya juga akan meningkatkan bantuan peralatan pertanian pada petani. Mulai alat untuk persiapan lahan, semisal traktor, pompa air hingga peralatan panen dan pasca panen.

”Dengan dukungan peralatan dan sarana modern maka sudah bisa dilihat dampaknya. Yakni, hampir tiap bulan petani bisa panen padi. Seperti saat ini, ada petani yang panen pada bulan Januari. Sebelumnya, belum pernah petani disini panen pada awal tahun,” katanya.

Editor: Supriyadi