Jelang Imlek, Pembuat Kue Keranjang di Kudus Dipaksa Begadang Penuhi Pesanan

MuriaNewsCom, Kudus – Menjelang Hari Raya Imlek 2.569 pesanan kue keranjang meningkat. Bahkan produsen pun harus rela begadang untuk menyelesaikan pesanan.

Hal itu disampaikan seorang pembuat kue khas tionghoa, Trisnawati. Menurutnya, sejak bulan Desember 2017 pihaknya sudah mulai membikin pesanan. Jumlahnya kian meningkat seiring dengan mendekatinya imlek 2018, pada Jumat (16/2/2018).

“Seminggu ini lembur terus sampai malam-malam. Pesanan ada terus sampai nanti seminggu sampai dua minggu setelah Imlek,” kata dia, Selasa (13/2/2018).

Dirinya menyebutkan, usaha pembuatan kue keranjang merupakan warisan dari mertuanya, Lauw Trien Nyio. Hingga kini usaha tersebut sudah berjalan 10 tahun, sejak dikelola oleh Trisnawati.

Melly, menantu Trisnawati mengatakan pembuatan kue keranjang hanya dijalankan menjelang imlek saja. Begitu pula dengan peralatan pembuatan dodol khas tionghoa, yang hanya dikeluarkan diwaktu tersebut.

Untuk karyawan, ia mengatakan tidak ada penambahan khusus. Namun demikian, pekerjanya kini memiliki jam bekerja yang lebih panjang.

“Untuk pembuatnya kami dibantu tiga karyawan, dua yang mengukus satu lainnya membuat adonan. Mendekati Imlek seperti ini ya sampai malam, kurang tidur,” jelasnya.

Sejumlah pembeli mengerumuni toko kue di Panjunan Kudus, Selasa (13/2/2018). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Dirinya mengatakan, pesanan kue keranjang berasal dari kota-kota seperti Jakarta, Surabaya Rembang, Pati dan Jepara. Sementara untuk pasar lokal Kudus, konsumen lebih banyak datang ke gerainya yang berada di Jl Wahid Hasyim 60, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota Kudus.

Ia menjelaskan, dalam sehari membutuhkan dua kuintal bahan mentah, terdiri dari tepung ketan dan gula pasir. Untuk membuatnya, digunakan tungku dan kompor khusus yang hanya dikeluarkan setiap menjelang Imlek.

“Untuk harganya, perbiji ukuran seperempat kilogram harganya Rp 9.000. Sementara untuk kemasan setengah kilogram harganya Rp 18.000,” terang dia.

Adapun untuk varian rasa, tersedia empat pilihan yakni vanili, coklat, pandan dan prambors.

“Kalau untuk warga Tionghoa yang masih asli, saat sembahyang di kelenteng, nantinya kue keranjang akan dibawa dan didoakan setelahnya baru akan dibagi-bagikan,” jelasnya‎.

Editor: Supriyadi

Perlu Perlakuan Istimewa saat Bersihkan Arca Dewa di Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan, Begini Caranya

MuriaNewsCom, Jepara – Imlek 2569 segera tiba, ritual pembersihan patung dewa dan alat sembahyang pun dilakukan. Di kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan, ritual tersebut harus dilakukan dengan hati-hati mengingat usia patung dewa yang sudah sepuh.

Diki Sugandi umat dan pengurus Kelenteng Welahan mengatakan, pembersihan patung dewa atau KongCo dilakukan oleh orang khusus. Metodenya pun tak boleh sembarangan.

“Alatnya dengan kuas (pembersih lensa kamera), harus hati-hati sekali karena usia arca sudah tua. Ratusan tahun,” katanya, Rabu (7/2/2018).

Menurutnya, pembersihan dilakukan menyeluruh dengan menyisir lekuk-lekuk patung dan satu persatu. Pada bagian-bagian tertentu, pembersihan menggunakan kuas yang halus.

Sebelum membersihkan arca, petugas yang telah ditunjuk melakukan penghormatan dengan mengatupkan kepalan tangan. Kemudian secara hati-hati, akan dilakukan pembersihan.

Baca: Jelang Imlek Peralatan Sembahyang di Kelenteng Welahan Jepara Dibersihkan

Dalam melakoni tugasnya, seorang pembersih tidak sendiri. Beberapa orang asisten terlihat membantu. Sementara petugas utama membersihkan arca dewa, sang asisten disuruh membersihkan aksesori yang dipakai, seperti singgasana.

“Tidak ada menggunakan alat khusus atau minyak-minyak tertentu, namun demikian harus hati-hati,” ungkap seorang petugas pembersih.

Menurut Diki, di Kelenteng Welahan (Hian Thiang Siang Tee) terdapat banyak arca dewa. Namun demikian, ada lima patung yang utama.

“Yang pertama ada KongCo Hian thian Siang Tee sebagai tuan rumah, kemudian KongCo Kwan Tee Kun dan Khong Hu Cu. Adapula Makco Kwan Im dan Sang Budha,” jelas Diki.

Untuk proses pembersihan, dilakukan selama sehari penuh. Hal itu mengingat banyaknya arca dewa yang ada. Selain patung dewa, adapula lukisan, panji-panji dan Ciamsie atau bambu ramalan yang juga turut dibersihkan.

“Setelah dibersihkan, maka pada hari Jumat depan akan dilakukan sembahyang KongCo naik (nirwana) untuk melaporkan amal perbuatan (umat) yang telah dicatat selama setahun. Kemudian pada tanggal 3 penanggalan Tionghoa, akan dilakukan sembahyang KongCo turun (ke bumi),” ungkap dia.

Sementara itu, pada puncak perayaan Imlek 2018, umat biasanya melakukan ritual sembahyang pada rumah tinggal masing-masing.

Editor: Supriyadi

Jelang Imlek Peralatan Sembahyang di Kelenteng Welahan Jepara Dibersihkan

MuriaNewsCom, Jepara – Jelang Imlek, arca dewa dan perlengkapan sembahyang di Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan, dibersihkan, Rabu (7/2/2018). Selain itu, abu bekas pembakaran dupa nantinya akan dilarung ke sungai.

Sugandi Ketua Yayasan Kelenteng Welahan mengatakan, pembersihan tersebut rutin dilakukan setiap tahunnya. Biasanya, ritual tersebut dihelat seminggu sebelum puncak perayaan Imlek, yang tahun ini jatuh pada 16 Februari 2018.

“Yang dibersihkan adalah arca-arca Dewa, termasuk perlengkapan sembahyang. Nantinya dikeluarkan dari altar, kemudian dibersihkan satu persatu,” katanya.

Untuk abu dupa, akan mendapatkan perlakuan khusus. Umat beserta pengurus kelenteng akan diayak. Untuk abu yang halus akan dikembalikan ke wadah abu, sementara yang kasar akan di larung di sungai.

Menurutnya, tradisi larung abu di sungai diyakini dapat menghindarkan bencana dan menyuburkan tanaman.

Pengurus Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan, sedang membersihkan arca dewa menjelang imlek 2018, Rabu (7/2/2018). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Selain itu, di Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan, juga terdapat Ciamsie atau batang bambu yang digunakan untuk meramal. Barang tersebut pun tak luput dari pembersihan.

“Kalau di sini baik (arca) Dewa maupun alat-alat persembahyangannya banyak, dibanding dengan Kelenteng Kidul (Hok Tek Bio) yang kemarin (Selasa, 8/2/2018) sudah dilakukan bersih-bersih juga,” ungkapnya.

Menurutnya, pembersihan peralatan sembahyang bukan hanya dilakukan oleh umat sekitar Kecamatan Welahan. Umat yang berasal dari Jakarta, Pati dan sekitarnya juga ikut serta.

Editor: Supriyadi

Cara Unik Warga Desa Banjarejo Sambut Kedatangan Pengunjung saat Libur Panjang Imlek

 

Pengunjung Desa Wisata Banjarejo berpose dengan photobooth yang sudah disediakan untuk berselfie. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pengunjung Desa Wisata Banjarejo berpose dengan photobooth yang sudah disediakan untuk berselfie. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Datangnya libur panjang akhir pekan ini ternyata sudah diantisipasi warga Desa Wisata Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Caranya, dengan menyiapkan beberapa sarana pendukung yang bisa dimanfaatkan para pengunjung. Salah satunya, adalah menyediakan photobooth bagi pengunjung yang hobi jeprat-jepret.

“Meski tidak banyak, tetapi sudah kita siapkan photobooth bagi pengunjung yang hobi selfie. Barangnya kita bikin sederhana saja. Yang penting bisa dipakai pengunjung untuk berekspresi,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Selain ditempatkan di rumahnya yang sementara jadi ‘museum’, photobooth juga disediakan di lokasi wisata alam bekas sumur minyak tua yang dikenal dengan nama Buran. Tempat pengeboran minyak tersebut, sekarang ini jadi salah satu favorit pengunjung yang datang ke Desa Banjarejo.

Taufik menyatakan, lokasi wisata itu berada di tanah tegalan milik Mbah Lamidi. Jarak sumur dari perkampungan penduduk sekitar satu kilometer jauhnya dan tempatnya memang agak terpencil.

Bentuk sumur ini menyerupai lingkaran dengan diameter 7 meter dan kedalamannya diperkirakan lebih dari 10 meter. Dari jarak sekitar 5 meter dari sumur sudah tercium bau menyengat, seperti bau solar. Sumur minyak ini merupakan sisa peninggalan zaman Belanda. “Lokasi Buran ini memang menarik dan unik. Sekarang, banyak pengunjung yang minta diantar kesana setelah melihat koleksi benda bersejarah di rumah,” cetus Taufik.

Menurut Taufik, pilihan orang mengisi  libur panjang bertepatan dengan Imlek ternyata tidak hanya dilakukan pada objek wisata terkenal saja. Keberadaan Desa Wisata Banjarejo ternyata juga mulai mengundang daya tarik pengunjung untuk menghabiskan libur panjang. “Pengunjung pada libur Imlek lumayan ramai. Dari pagi sampai siang, sudah ada 500 orang yang datang dari berbagai daerah,” katanya.

Taufik menambahkan, saat libur panjang Natal dan tahun baru lalu, pengunjung yang datang juga cukup banyak. Dari pengalaman itulah, ia sengaja melakukan berbagai upaya untuk bisa memuaskan para pengunjung.

“Khusus untuk liburan panjang bersamaan dengan Natal dan tahun baru lalu, pengunjungnya ada 1.000 lebih. Beberapa di antaranya bahkan ada yang datang dari Kalimantan,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

 

Polres Grobogan Jamin Keamanan Perayaan Imlek

Polisi ikut membersihkan kelenteng di Kabupaten Grobogan, jelang perayaan Imlek, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Polisi ikut membersihkan kelenteng di Kabupaten Grobogan, jelang perayaan Imlek, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Polres Grobogan memastikan perayaan Imlek yang jatuh Sabtu (28/1/2017) bakal berlangsung aman. Hal itu ditegaskan Kabag Ops Polres Grobogan Kompol Parno usai menggelar rakor dengan perwakilan pengurus kelenteng yang ada di wilayahnya, Jumat (27/1/2017).

Sedikitnya, ada empat perwakilan pengurus kelenteng yang hadir dalam rakor. Yakni, dari Kecamatan Purwodadi, Gubug, Wirosari, dan Kradenan.

“Kita akan berupaya menciptakan suasana aman dan nyaman bagi mereka yang merayakan Imlek. Untuk itu, pengurus kelenteng kita ajak koordinasi supaya kita bisa tahu jadwal kegiatan yang dilakukan,” kata Parno.

Selain menerjunkan anggota untuk berjaga, pihaknya akan melakukan upaya sterilisasi kelenteng dengan disaksikan pengurus tempat ibadah. Kegiatan strerilisasi dilakukan sebelum tempat itu dipakai untuk ibadah meyambut Imlek.

Dalam kesempatan itu, Parno juga mengucapkan terima kasih atas respons positif dan dukungan dari para pengurus kelenteng untuk bersama menciptakan suasana kondusif. Dengan kerja sama dari berbagai pihak maka upaya menciptakan suasana aman dan nyaman bakal bisa dilakukan lebih mudah.

“Yang pasti kita akan berupaya semaksimal mungkin memberikan pengamanan. Kita harapkan, perayaan Imlek berlangsung lancar dan aman,” imbuh mantan Kapolsek kota Purwodadi itu.

Sementara itu, selain upaya sterilisasi, anggota Polres Grobogan dari Satuan Lalu Lintas juga turut berpartisipasi dalam perayaan imlek kali ini. Caranya, ikut kegiatan bersih-bersih kelenteng Hok An Bio Purwodadi menjelang datangnya Imlek. Beberapa anggota Satlantas terlihat ikut membersihkan lingkungan kelenteng bersama pengurus tempat ibadah tersebut.

“Ada beberapa anggota yang kita libatkan untuk membantu bersih-bersih kelenteng,” kata Kanit Turjawali Satlantas Ipda Afandi.

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Beragam Harapan di Tahun Monyet Api

Persiapan di Klenteng Hok Hien Bio Kudus untuk menyambut Imlek. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Persiapan di Klenteng Hok Hien Bio Kudus untuk menyambut Imlek. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

 

MuriNewsCom, Kudus Senin (8/2/2016), Imlek 2567 akan berlangsung. Itu artinya, tahun Kambing Kayu berakhir dan berganti ke tahun Monyet Api. Apa saja harapan masyarakat di tahun Monyet Api ini?

Riki Shonda, Pengurus Klenteng Hok Hien Bio Kudus menyampaikan, Imlek tahun ini memancarkan banyak harapan bagi semua pihak, khususnya keadaan bangsayang aman dan tenteram.

“Kita berharap, kerukunan beragama masih terjalin. Bahkan dapat ditingkatkan lagi antara pemeluk agama satu dengan pemeluk lainnya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia berharap, supaya masyarakat masih tetap harmonis. Sehingga tidak ada pertikaian dengan mengatas namakan perbedaan agama atau perbedaan kepercayaan.

Dia juga berharap adanya kelancaran dalam bidang usaha, seperti satu tahun lalu yang sudah terlewatkan. Bahkan, harapan agar dapat lebih meningkatkan usaha juga menjadi harapan dalam tahun baru ini.

Untuk perayaan Imlek tahun ini,  di Kudus dipastikan masih berjalan seperti tahun sebelumnya. Penyelenggaraan perayaan ibadah akan dipusatkan pada Klenteng Hok Hien Bio Kudus. Sehingga, semua keturunanTionghoa yang merayakan akan berpusat di klenteng sekitar Hypermart itu.

“Acaranya ibadah saja, dimulai sekitar pukul 23.00 WIB dan akan berakhir pada dini hari nanti. Cuma sebentar saja. Pengamanan juga akan tetap dilaksanakan. Namun pengamanan standart saja,” ujarnya.

Editor : Kholistiono