Sastra Arab Klasik Terus Dikembangkan di Madrasah Qudsiyyah Kudus

seminar e

Seminar yang membahas tentang ilmu sastra Arab klasik, yang digelar dalam rangka peringatan Satu Abad Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom / Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Madrasah Qudsiyyah Kudus, dinilai cukup konsisten melestarikan ilmu sastra Arab Klasik, terutama ilmu Arudh, yang khusus mempelajari tentang puisi-puisi Arab. Bahkan Ilmu Arudh dinilai sebagai salah satu keunggulan keilmuan Madrasah Qudsiyyah.

Hal ini mengemuka dalam seminar bertema “Menggali Khazanah Syair Salawat” yang  digelar Komunitas Mahasiswa Pelajar Qudsiyyah (Kompaq) dan Forum Mahasiswa Islam (Formi) UMK di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat(20/5/2016). Seminar ini digelar dalam rangka memeringati satu abad Madrasah Qudsiyyah Kudus.

Salah satu narasumber, Saifuddin Luthfi mengatakan, ilmu Arudh banyak digunakan penyebar agama Islam ulama-ulama. Salah satunya yakni salawat dan qasidah, yang merupakan bagian dari puisi.

“Ulama seperti KHR Asnawi menciptakan qasidah dan syair baikberbahasa Arab maupun Jawa sebagai media dakwahnya. Dakwah yangdibalut dengan kesenian ini juga diikuti KH Bisyri Mushtofa (Rembang) hingga al-Habib Syeh Assegaf (Solo),” katanya.

Dan menurut dia, di Madrasah Qudsiyyah Kudus banyak ustadznya yang masih melestarikan ilmi khas salaf ini. Sehingga hal ini menjadikan salah satu keunggulan keilmuan di Madrasah Qudsiyyah.

Ilmu Arudh dikenal sebagai ilmu yang membahas syair-syair Arab. Dalam termilogi, Ilmu Arudh berarti ilmu untuk mengetahui benar atau rusaknya pola (wazan) puisi Arab tradisional danperubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya. Tujuan mempelajari ilmu ini yakni untuk  membedakan antara puisi dengan selain puisi. Serta untuk memelihara dari perbuatan mencampur-adukkan antara satu pola puisi dengan pola lainnya serta menghindari terjadinya perubahan-perubahan yang dilarang

“Ilmu ini kali pertama diperkenalkan Al-Khalil ibn Ahmad ibn‘Amr bin Tamim. Ilmu ini dilatarbelakangi pengamatannya kepada para penyair pada masa itu, yang menciptakan puisi tanpa aturan-aturan,” terangnya.

Editor : Akrom Hazami