Pasokan Berkurang, Harga Ikan Laut di Pasar Mayong Jepara Melambung

MuriaNewsCom, Jepara – Harga ikan laut di Pasar Mayong Jepara melambung, menyusul tidak adanya pasokan karena cuaca buruk di laut. Akibatnya konsumen memilih membatasi pembelian sumber protein hewani itu.

Nirus Saadah (50) mengaku batal membeli kerang laut, mengetahui harganya naik. Ketika bertanya kepada penjual ia setengah kaget mengetahui hal itu.

“Loh biasanya kerang itu Rp 10 ribu perkilogram, kok sekarang sudah naik Rp 18 ribu. Ya tidak jadi membeli kalau gitu, buat membeli kebutuhan lainnya,” ujarnya kepada pedagang ikan di Pasar Mayong Rokhis.

Sementara itu, Rokhis mengaku saat ini pasokan ikan laut memang berkurang. Hal itu praktis membuat harganya melambung.

Kurangnya pasokan itu, menurut dia disebabkan cuaca di lautan. “Katanya sih ombaknya sedang besar sehingga nelayan tidak berani melaut. Akibatnya tidak ada yang setor ke sini,” terangnya.

Sebagai ganti, pedagang menjajakan ikan air tawar seperti nila, mujair, dan lele. Sementara untuk ikan laut seperti kembung, tunul, munir dan sebagainya langka di pasaran.

Pedagang lain, Jumiatun mengatakan jika ada pasokan ikan laut maka harganya melambung. Seperti ikan kembung dari harga Rp 16 ribu perkilogram kini menjadi Rp 23 ribu perkilogram, ikan blanak dari harga Rp 33 ribu menjadi Rp 35 ribu.

“Hal itu terang saja membuat pembeli menjadi berkurang. Kalau beli ya tidak banyak paling-paling seperempat kilo atau setengah kilogram ikan,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Tak Ada Pasokan Ikan, Aktivitas di TPI Ujung Batu Jepara Sepi

MuriaNewsCom, Jepara – Akftivtas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Batu sepi, menyusul sejumlah nelayan yang tak melaut karena cuaca di laut buruk, Rabu (18/1/2018). Hal itu memengaruhi pasokan ikan.‎

Pantauan MuriaNewsCom, bagian depan TPI yang biasanya digunakan pedagang menggelar dagangan nampak lengang. Hanya beberapa pedagang menjajakan ikan, dalam beberapa nampan kecil. Sementara dibagian belakang pedagang nampak memilih ikan-ikan yang baru diturunkan dari kapal.

Seorang penjual ikan di TPI Ujung Batu Sofiatun (55) mengaku tidak membuka lapaknya. Lantaran harga ikan yang melambung karena kurangnya pasokan dari nelayan.

“Gak jualan hari ini, tidak berani kulakan ikan, wong harganya mahal dan kualitasnya jelek-jelek,” ujarnya.

Menurutnya, saat paceklik ikan seperti ini pasokan ikan dari nelayan seret. Alhasil, ikan yang didapat menurun dari segi kuantitas maupun kualitas.

Menurut Sofiatun, pada hari biasa pasokan ikan yang dibeli mencapai puluhan basket (50 kilogram). Namun kini, jika ada pasokan ikan pedagang pun akan menebus seadanya.

“Ya kalau kulakan ya seadanya. Tidak sampai sebasket, mungkin cuma beberapa kilogram saja yang bisa dibeli dari nelayan kemudian dijual. Otomatis harganya ikut naik,” jelasnya.

Pedagang lain, Murodhiyah mengaku masih menjual ikan meskipun harganya naik. Dikatakannya, sudah sekitar empat hari kondisi tersebut ia alami.

“Sudah empat hari pasokan ikannya sepi karena nelayan tidak melaut. Adanya ya ini dijual,” tuturnya.

Ia mengakui, saat ini kegiatan di TPI Ujung Batu memang sepi. Meskipun ada beberapa diantara pedagang ikan yang datang, namun mereka memilih untuk tidak membuka lapak. Mereka memilih untuk menunggu ada atau tidaknya ikan.

Sementara itu, harga jual ikan melonjak dari keadaan normal. Seperti tongkol yang kini harganya Rp 60 ribu perkilogram, dari sebelumnya Rp 35 ribu, ikan bandeng pun naik, dari Rp 16 ribu kini menjadi Rp 23 ribu perkilogram.

“Hari ini mendingan ada nelayan, beberapa hari lalu justru tidak ada. Sebagian ikan pasokannya juga dari daerah timur seperti Pati dan Rembang,” pungkas Rodhiyah.

Editor: Supriyadi

Tangkapan Ikan Turun, Hasil Lelang di TPI Juwana Malah Meningkat

MuriaNewsCom, Pati – Meski hasil tangkapan ikan selama 2017  di TPI Juwana berkurang dibandingkan 2016, namun hasil lelang ikan malah mengalami kenaikan. Bahkan, perbandingan lelang cukup besar.

Kepala TPI Unit II Juwana Riyanto mengatakan,  selama 2017 hasil lelang jumlahnya mencapai Rp 198,17 miliar. Sedang untuk 2016, nilai transaksi untuk ikan hanya diangka Rp 192,89 miliar saja.

“Jumlah ikan yang cenderung berkurang dari tangkapan akan berdampak pada harga yang tinggi pula saat lelang diselenggarakan,” katanya

Hanya, berdasarkan data hasil produksi ikan di TPI Unit II Juwana selama lima tahun terakhir, hasil produksi ikannya memang naik turun. Beberapa faktor sangat berpengaruh khususnya soal cuaca.

Tertulis, selama 2013, total hasil tangkapan nelayan yang dilelang cukup tinggi mencapai 15,15 juta kg. Padahal, saat 2014 turun drastis menjadi 5,54 juta kg saja.

Sementara  2015, hasil tangkapan ikan melonjak tinggi menjadi 17,38 juta kilogram. Dan 2016 kembali naik menjadi 19,33 juta kg.

Editor: Supriyadi

Berburu Semur Kutuk Legendaris di Kawasan Terminal Kayen Pati

Sri Murni sedang menyajikan semur kutuk kepada pelanggan di warungnya di Terminal Kayen Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Malam itu suasana di kawasan Terminal Kayen begitu lengang. Hanya ada beberapa orang yang nampak bercakap-cakap sembari menyulut kretek.

Di sudut terminal pinggir jalan, dua orang sedang menyantap kuliner Semur Kutuk di sebuah warung tua berdinding papan dan berlantaikan tanah. Keduanya terlihat lahap menikmati seporsi lontong plus kepala ikan gabus sebesar satu kepalan tangan orang dewasa.

Ikan gabus itu yang disebut ikan kutuk. Ikan tawar yang biasa dijumpai di rawa-rawa dan sungai itu dimasak “semur” dan disajikan secara terpisah dengan lontong.

Ada dua jenis kuah semur yang ditawarkan, yakni rasa pedas dan sedang. Namun, semur kutuk cenderung memiliki cita rasa yang pedas.

Baca Juga: Maknyus!! Kuliner Khas Tambak di Jalan Juwana-Tayu Pati Ini Bikin Nagih

Penikmat kuliner juga bisa memilih nasi atau lontong. Cita rasa semur kutuk semakin lengkap dengan makanan pelengkap yang disuguhkan, seperti bakwan atau pia-pia dan kerupuk.

Penjual semur kutuk, Sri Murni (54) mengatakan, satu porsi semur kutuk dijual dengan harga dari Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu. Mahal tidaknya seporsi semur kutuk ditentukan besar-kecilnya ukuran ikan kutuk.

Bahkan, harga ikan gabus di pasaran juga mempengaruhi harga semur kutuk. Bila stok ikan gabus di pasar langka dan mahal, maka harga semur kutuk juga naik.

“Harganya sesuai dengan harga ikan di pasar, juga besar-kecilnya ukuran ikan. Harga semur kutuk paling mahal biasanya bagian kepala dan ini yang paling digemari penikmat kuliner,” kata Murni.

Dia menambahkan, pengunjung yang datang bukan hanya dari warga Kecamatan Kayen, tetapi juga warga Pati dan sekitarnya seperti Kudus dan Rembang. Buka dari jam 12.00 hingga pukul 21.00 WIB, puluhan porsi semur kutuk yang disajikan ludes dibeli pengunjung.

Editor: Supriyadi

BBPBAP Jepara Resmikan Unit Produksi Pakan Mandiri

Unit baru ini diresmikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia Slamet Soebjakto. Hadir pula pada kesempatan tersebut Bupati Jepara bersama segenap Forkopinda serta Dinas/Instansi terkait, Kamis (7/1 2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Unit baru ini diresmikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia Slamet Soebjakto. Hadir pula pada kesempatan tersebut Bupati Jepara bersama segenap Forkopinda serta Dinas/Instansi terkait, Kamis (7/1 2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara mengembangkan unit produksi pakan mandiri guna memenuhi kebutuhan pakan ikan secara mandiri. Unit baru ini diresmikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia Slamet Soebjakto. Hadir pula pada kesempatan tersebut Bupati Jepara bersama segenap Forkopinda serta Dinas/Instansi terkait, Kamis (7/1 2016).

Kepala Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara Sugeng Rahardjo berharap keberadaan unit produksi pakan mandiri ini dapat mendukung Program pemerintah Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari). Sehingga masyarakat semakin tertarik mengembangkan budidaya ikan.
”Sebagaimana yang tengah giat didorong terus oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Tujuan utamanya adalah sebagai upaya untuk menurunkan komponen biaya pakan ikan. Pasalnya, biaya yang dikeluarkan nelayan pembudidaya ikan untuk pakan bisa mencapai 80 persen,” katanya.

Sementara itu, Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto menyatakan melalui Gerpari, akan terbentuk kelompok – kelompok baru misalnya Kelompok Produsen Pakan, Kelompok Penyedia Bahan baku Pakan, dan bahkan Kelompok Pemasar Pakan. Kelompok ini diharapkan mampu menyerap lebih banyak lagi tenaga kerja di bidang perikanan budidaya dan juga meningkatkan perekonomian daerah.

”Hal ini merupakan tindak lanjut instruksi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, supaya biaya pakan harus turun sampai dengan 60 persen. Sebagai tindak lanjutnya, Ditjen Perikanan Budidaya mengembangkan empat pilar kemandirian, untuk meningkatkan kesejahteraan pembudidaya, agar bisa setara dengan Usaha Kecil Menegah (UKM),” ungkapnya.

Dia membeberkan, ada empat kemandirian yang harus kita kembangkan. Yaitu kemandirian kawasan, kemandirian sarana produksi, kemandirian kelompok pembudidaya dan juga kemandirian usaha. Kemandirian pakan yang merupakan bagian dari kemandirian sarana produksi, saat ini di dorong melalui gerakan pakan ikan mandiri. (WAHYU KZ/TITIS W)

Kudus Butuh Pasar Ikan Hias

Banyaknya pembudidaya ikan hias di Kudus membuat dinas terkait berinisiatif bangun pasar khusus ikan hias. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Banyaknya pembudidaya ikan hias di Kudus membuat dinas terkait berinisiatif bangun pasar khusus ikan hias. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Semakin berkembangnya usaha ikan hias, membutuhkan wadah yang lebih besar untuk memasarkan. Untuk itu, dibutuhkan pembuatan pasar khusus ikan hias yang menampung para pedagang.
Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus Fajar Nugroho. Menurutnya, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan tengah menggagas pembangunan pasar ikan hias menyusul pertumbuhan pembudidaya ikan hias di daerah Kudus semakin pesat.

”Kesulitannya mereka itu lebih dalam memasarkan ikan hias di tingkat lokal, jadi butuh penanganan dari pemerintah secara langsung,” katanya.

Menurutnya, beberapa pembudidaya ikan hias sudah berhasil menjual ikan hiasnya hingga ke Yogyakarta. Hanya saja, agar semakin dikenal, termasuk masyarakat lokal perlu disediakan pasar khusus untuk memasarkannya.

Namun, kewenangan untuk membangun pasar berada pada Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kudus. Saat ini, jumlah pembudidaya ikan hias di Kudus mencapai 27 pembudidaya ikan hias.
”Mereka juga sudah dibentuk paguyuban karena Dinas Pertanian juga membantu mengajari mereka cara membuat pakan ikan mandiri,” ujarnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Kampanyekan Makan Ikan Melalui Wayang Gojek

Pementasan Wayang Gojek di Balai Benih Ikan (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pementasan Wayang Gojek di Balai Benih Ikan (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Pemkab Kudus memiliki cara yang unik untuk mensosialisasikan dan mengajak masyarakat agar membiasakan makan ikan, yakni melalui hiburan Wayang Gojek.
Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Fajar Nugroho mengatakan, pementasan wayang dipersembahkan untuk mengajak masyarakat mengkonsumsi ikan dengan cara yang lain.

Sebab, bagi dia, mengajak dan mengkampanyekan makan ikan tidak harus dengan cara serius. Melalui hiburan, seperti pementasan wayang juga dapat dilaksanakan yang dinilai efektif.
“Melalui cara seperti ini, kita harapkan masyarakat dapat meningkatkan konsumsi makan ikan, khususnya ikan air tawar,” ungkapnya.

Giox, Dalang Wayang Gojek menambahkan, pementasan berlangsung dengan singkat. Namun tujuan dari hiburan tersebut adalah mengajak masyarakat mengkonsumsi ikan. Karena, ikan sangat dibutuhkan oleh tubuh,termasuk juga ikan air tawar.

” Wayang Gojek ini mementaskan lakon “Seng Penting Mangan Iwak”. Pementasan itu dalam rangka tasyakuran peternak ikan di Balai Benih Ikan, Jekulo,” imbuhnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Yuk, Biasakan Konsumsi Ikan Air Tawar

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Ikan merupakan salah satu jenis lauk pauk yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat setelah daging dan telur. Ikan merupakan salah satu jenis favorit makanan, yang dapat diolah menjadi berbagai macam hidangan yang tentu saja sangat menggiurkan dan juga menyehatkan, termasuk di antaranya adalah ikan air tawar.

Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Fajar Nugroho mengatakan, ikan air tawar memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh. Sehingga, dalam hal ini, pihaknya mendorong agar masyarakat terus membiasakan mengkonsumsi ikan.

”Ikan sangat dibutuhkan oleh tubuh, termasuk juga ikan air tawar. Untuk itu, kami mengajak masyarakat untuk giat mengkonsumsi ikan air tawar,” ujarnya di sela-sela tasyakuran peternak ikan air tawar di Balai Benih Ikan (BBI) Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo.
Menurutnya, Pemkab Kudus terus mendorong peningkatan ekonomi warga melalui sektor perternakan ikan air tawar, baik mulai dari pembibitan hingga pegolahan hasil ikan yang dibudidayakan. Bahkan, peningkatan rumah tangga petani ikan di Kudus disebut meningkat setiap tahunnya.

Dia mengungkapkan, saat ini jumlah rumah tangga petani ikan di Kudus mencapai 1.841. Jumlah tersebut sudah hampir tiga kali lipat dibanding tiga tahun lalu.

Dia menambahkan, di Kudus saat ini fokus terhadap pengembangan perikanan air tawar seperti lele, nila, dan gurame. Namun, mulai tahun ini sudah banyak masyarakat Kudus yang mulai mengembangkan ikan hias.

”Fokusnya memang ikan lele. Bahkan untuk benih ikan lele di BBI ini yang dihasilkan hampir 100 ribu benih ikan per bulan belum mencukupi kebutuhan para peternak. Sedangkan untuk ikan hias, sudah banyak masyarakat yang mulai mengembangkan sejumlah jenis ikan hias, seperti Koi, Guppy dan Cupang,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Dinkes Blora Urung Kasih Teguran ke Pedagang

 Petugas saat melakukan sidak di Pasar Induk Blora (MuriaNewsCom/PRIYO)

Petugas saat melakukan sidak di Pasar Induk Blora (MuriaNewsCom/PRIYO)

BLORA – Sidak yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora bersama instansi terkait di Pasar Induk Blora tak menemukan makanan yang mengandung bahan pengawet atau formalin. Atas kondisi ini, petugas tak jadi memberikan teguran ke pedagang, seperti pada sidak sebelumnya.

”Dari beberapa lapak penjualan ikan laut yang kami periksa dan lakukan pengecekan hasilnya negatif, sehingga ikan yang dijual di pasar Blora layak konsumsi. Barang-barang lainya juga masih layak dikonsumsi,” ujar Kasi POM pada Dinkes Blora Teguh Prasetyono, Selasa (7/7/2015).

Menurutnya, selain ikan dan cumi, pengambilan sampel pada produk tahu dan tempe juga dinyatakan aman. Begitupun dengan daging sapi maupun ayam.

”Pengecekan dilakukan agar masyarakat barang yang layak konsumsi dan sehat. Sebab, bulan-bulan seperti ini sering ditemukan adanya bahan pengawet pada makanan maupun bahan-bahan lainya,” katanya. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Lani Tak tahu Ikan Jualannya Mengandung Formalin

Lani (kanan) mengaku tidak tahu jika dganganya mengandung formalin saat di datangi dinas kesehatan. (MURIANEWS/PRIYO)

Lani (kanan) mengaku tidak tahu jika dganganya mengandung formalin saat di datangi dinas kesehatan. (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora Bersama Pihak Satpol PP dan Kepolisian Polsek Jepon menggelar razia di pasar tradisional Kecamatan Jepon. Kegiatan razia pasar ini dilakukan untuk mengetahui sejumlah kondisi barang yang ada di pasar tradisional tersebut. Lanjutkan membaca

Di Pasar Tradisional Blora Ditemukan Ikan Berformalin yang Berasal dari Pati

f-formalin (e)

Petugas Dinkes Blora menunjukan hasil pengecekan cepat pada ikan yang mengandung formalin. (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA – Sidak yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora di pasar tradisional Jepon menemukan adanya ikan laut yang mengandung formalin yang dijual oleh salah satu pedagang. Lanjutkan membaca

PKK Gencar Kampanye Makan Ikan

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat membuka acara lomba cipta masakan berbahan baku ikan, di pendopo Kabupaten Jepara. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Jepara sangat kaya dengan potensi perikanan, baik itu perikanan darat maupun ikan laut. Namun hingga kini kekayaan terebut belum banyak dimanfaatkan, utamanya untuk memenuhi konsumsi kebutuhan gizi makanan sehari-hari.

Lanjutkan membaca