Pati Jadi Satu-satunya Kabupaten di Jateng yang Terima Bantuan Alat Budidaya Lele Sistem Bioflok

Bupati Pati dan jajaranya menunjukkan hasil budidaya lele dengan sistem bioflok. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati dan jajaranya menunjukkan hasil budidaya lele dengan sistem bioflok. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kabupaten Pati menjadi satu-satunya daerah di Jawa Tengah yang mendapatkan bantuan peralatan untuk mengembangkan budidaya lele menggunakan sistem bioflok dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Karena, di Jawa Tengah, hanya Kabupaten Pati yang berhasil mengembangkan budidaya lele menggunakan sistem bioflok. “Saat ini, hanya Pati yang terpilih sebagai daerah percontohan di Jawa Tengah terkait dengan budidaya lele sistem bioflok,” kata Kabid Utama BBPBAT Sukabumi Rushadi kepada MuriaNewsCom, Senin (28/12/2015).

Ia mengatakan, bantuan peralatan yang diberikan kepada pembudidaya di Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso, antara lain 20 bak, pakan, obat, benih ikan lele pilihan, blower, listrik, serta sejumlah peralatan lainnya yang mendukung sistem bioflok.

“Salah satu alasan kenapa kami hanya memberikan bantuan kepada pembudidaya di Pati saja, karena kami tidak bisa memberikan peralatan itu kepada pembudidaya yang baru belajar. Ini teknologi dan sistem baru dalam budidaya lele yang baru saja kami seminasikan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Tunjungrejo Teguh Utomo mengaku senang dengan penunjukan desanya sebagai salah satu percontohan budidaya lele sistem bioflok di Indonesia. “Di Indonesia, budidaya dengan sistem dan teknologi baru ini bisa dikatakan Pati paling berhasil,” tuturnya.

Karena itu, pihaknya akan selalu mendukung kegiatan warganya untuk menjadi pembudidaya ikan lele. “Meski sebagian besar warga sudah berhasil, tetapi kami akan terus mendukung. Kami harap, budidaya lele menjadi satu pendongkrak ekonomi di Desa Tunjungrejo,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Hebat! Pati Jadi Daerah Percontohan Budidaya Lele Sistem Bioflok

Bupati Pati Haryanto bersama dengan jajarannya meninjau lokasi budidaya lele sistem bioflok di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto bersama dengan jajarannya meninjau lokasi budidaya lele sistem bioflok di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Budidaya ikan lele dengan sistem bioflok diklaim bisa menghasilkan lele berkualitas sampai sepuluh kali lipat ketimbang sistem budidaya biasa. Hal inilah yang dilakukan petani lele di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Pati.

Dengan pengembangan model budidaya yang tak lama dikenal kalangan pembudidaya lele tersebut, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi memberikan kepercayaan Kabupaten Pati sebagai daerah percontohan program budidaya lele sistem bioflok.

Kepala Bidang Utama BBPBAT Sukabumi Rushadi kepada MuriaNewsCom, Senin (28/12/2015) mengatakan, pembudidaya ikan lele di Desa Tanjungrejo diharapkan bisa menjadi salah satu pioner untuk mengembangkan budidaya lele menggunakan sistem bioflok. Tak hanya itu, kecapakan dari pembudidaya lele di Tanjungrejo diharapkan bisa menularkan ilmunya kepada pembudidaya di daerah lain.

“Kami apresiasi kepada pembudidaya di Tanjungrejo yang sudah mengaplikasikan sistem bioflok dalam budidaya lele. Kami berharap, pembudidaya di Tanjungrejo bisa menularkan ilmu sistem bioflok kepada pembudidaya di daerah lainnya,” paparnya.

Dalam budidaya bioflok, tak perlu kolam yang luas. Cukup dengan terpal dengan rangka besi atau bambu. Sistem budidaya ini hanya mengandalkan mesin airator yang menjadi pemasok sirkulasi oksigen di dalam kolam.

Dengan begitu, mikroorganisme yang mengolah limbah budidaya bisa mengubahkan menjadi gumpalan kecil bernama floc. Floc inilah yang dijadikan makanan alami bagi lele. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Video – Gurihnya Budidaya Lele, Sekali Panen Raup Rp 16 Juta

PATI – Budidaya lele memang tidak ada matinya. Pasalnya, ikan lele menjadi kebutuhan pasar setiap hari. Tak ayal, budidaya lele menjadi pekerjaan idaman.

Suwardi, petani lele yang tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan Kedung Mina Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong kepada MuriaNewsCom, Sabtu (7/11/2015) mengatakan bisa meraup penghasilan Rp 16 juta dalam sekali panen.

Untuk sekali panen, Suwardi mengaku membutuhkan waktu setidaknya tiga bulan. Padahal, budidaya lele justru dijadikan sebagai profesi sampingan.

”Sebetulnya, saya bekerja sebagai petani ketela. Budidaya lele hanya sebagai aktivitas tambahan saja. Tapi, ternyata hasilnya luar biasa. Selain hobi, budidaya lele membawa berkah,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Harga Melonjak Bawa Berkah Bagi Petani Lele di Pati

Suwardi menunjukkan lele di kolam yang ia panen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suwardi menunjukkan lele di kolam yang ia panen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Harga ikan lele melonjak dalam beberapa pekan terakhir. Namun, kenaikan harga lele justru membawa berkah bagi petani lele di Pati.

Suwardi, misalnya. Petani lele yang tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan Kedung Mina Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong mengaku senang dengan harga ikan lele yang melonjak di pasaran.

”Kenaikan harga biasanya dipengaruhi minat pembeli di pasaran yang tinggi. Harga lele sempat anjlok saat Hari Raya Idul Adha kemarin. Namun, saat ini harganya sudah mulai pulih, bahkan cenderung naik,” ujar Suwardi kepada MuriaNewsCom, Sabtu (7/11/2015).

Ia mengaku menjual lele ke tengkulak dengan harga Rp 16.500 per kilogram. Sementara itu, di pasaran dijual dengan kisaran harga Rp 19 ribu per kilogram. (LISMANTO/TITIS W)

Permintaan Tingggi, Harga Ikan Lele di Pati Melonjak

Peternak lele di Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong tengah memanen lele. Permintaan lele di Pati saat ini terus melonjak. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

PATI – Permintaan ikan lele di Pati terus melonjak mendekati H-1 menjelang Lebaran. Hal ini dikatakan Rusmani (43), peternak lele asal Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong.

“Kami dari paguyuban peternak lele hanya bisa memasok 1,5 ton lele per bulan untuk pengepul. Sedangkan pengepul disetok ke sejumlah daerah, termasuk pasar tradisional. Permintaan terus meningkat,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Rabu (15/7/2015).

Tak hanya permintaan, harga lele pun ikut melonjak jelang Lebaran. Di tingkat petani ke pengepul, harga lele meningkat dari Rp 14 ribu per kilogram ke Rp 18,5 ribu per kilogram.

“Ada kenaikan harga sekitar Rp 4,5 ribu per kilogram yang semula Rp 14 ribu dari petani. Kalau di pasar tradisional berkisar antara Rp 21 ribu hingga Rp 22 ribu,” imbuhnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga dipicu dari tingginya angka permintaan di pasaran. Dari kelompok taninya saja, panen lele mencapai 800 kilogram per dua minggu.

Kendati begitu, ia mengaku stok lelenya tak mampu memenuhi kebutuhan lele di tingkat kecamatan. “Kami punya 12 peternak lele dengan total 120 kolam. Mendekati Lebaran begini, kami paling hanya bisa memenuhi permintaan di satu pasar, bahkan kurang,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)