Berburu Semur Kutuk Legendaris di Kawasan Terminal Kayen Pati

Sri Murni sedang menyajikan semur kutuk kepada pelanggan di warungnya di Terminal Kayen Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Malam itu suasana di kawasan Terminal Kayen begitu lengang. Hanya ada beberapa orang yang nampak bercakap-cakap sembari menyulut kretek.

Di sudut terminal pinggir jalan, dua orang sedang menyantap kuliner Semur Kutuk di sebuah warung tua berdinding papan dan berlantaikan tanah. Keduanya terlihat lahap menikmati seporsi lontong plus kepala ikan gabus sebesar satu kepalan tangan orang dewasa.

Ikan gabus itu yang disebut ikan kutuk. Ikan tawar yang biasa dijumpai di rawa-rawa dan sungai itu dimasak “semur” dan disajikan secara terpisah dengan lontong.

Ada dua jenis kuah semur yang ditawarkan, yakni rasa pedas dan sedang. Namun, semur kutuk cenderung memiliki cita rasa yang pedas.

Baca Juga: Maknyus!! Kuliner Khas Tambak di Jalan Juwana-Tayu Pati Ini Bikin Nagih

Penikmat kuliner juga bisa memilih nasi atau lontong. Cita rasa semur kutuk semakin lengkap dengan makanan pelengkap yang disuguhkan, seperti bakwan atau pia-pia dan kerupuk.

Penjual semur kutuk, Sri Murni (54) mengatakan, satu porsi semur kutuk dijual dengan harga dari Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu. Mahal tidaknya seporsi semur kutuk ditentukan besar-kecilnya ukuran ikan kutuk.

Bahkan, harga ikan gabus di pasaran juga mempengaruhi harga semur kutuk. Bila stok ikan gabus di pasar langka dan mahal, maka harga semur kutuk juga naik.

“Harganya sesuai dengan harga ikan di pasar, juga besar-kecilnya ukuran ikan. Harga semur kutuk paling mahal biasanya bagian kepala dan ini yang paling digemari penikmat kuliner,” kata Murni.

Dia menambahkan, pengunjung yang datang bukan hanya dari warga Kecamatan Kayen, tetapi juga warga Pati dan sekitarnya seperti Kudus dan Rembang. Buka dari jam 12.00 hingga pukul 21.00 WIB, puluhan porsi semur kutuk yang disajikan ludes dibeli pengunjung.

Editor: Supriyadi

Ikan Gabus Bisa Sembuhkan Luka Bekas Operasi, Lho

 

 

Jumiah, pedagang ikan gabus atau kutuk di Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus, memperlihatkan ikan hasil tangkapannya. Harga ini terbilang cukup mahal. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Jumiah, pedagang ikan gabus atau kutuk di Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus, memperlihatkan ikan hasil tangkapannya. Harga ini terbilang cukup mahal. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selain enak dimasak berbagai menu, ikan gabus atau yang dikenal orang dengan iwak kutuk, yang sering dijumpai di sungai, ternyata juga bisa untuk menyembuhkan luka bekas operasi.

Salah satu penjual ikan gabus di tepi jembatan Boro, Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus, Jumiah mengatakan, ikan gabus memang diyakini banyak orang, bisa menyembuhkan bekas operasi.

”Seperti halnya jahitan setelah operasi dan lainnya. Akan tetapi yang meyakini hal tersebut ialah para pembeli itu sendiri,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Kamis (14/4/2016).

Jumiah mengatakan, para pembeli ikan yang dijualnya, meyakini bahwa daging ikan gabus ini sangat manjur untuk menyembuhkan bekas operasi. Cara mengonsumsi ikan tersebut yakni dengan cara daging ikan dikukus.

”Ikan ini dikukus dengan cara dibungkus dengan daun pisang. Nah, setelah mateng, ikan itu bisa langsung dimakan. Selain itu, daging ikan yang masih mengandung lemak atau minyak itu juga bisa dikonsumsi tanpa membuang lemaknya terlebih dahulu,” paparnya.

Sementara itu untuk harganya, ternyata cukup mahal. Pasalnya, Jumiah tidak menjual dengan cara kiloan. Namun dengan cara per ekor. Menurutnya, kalau dijual per kilo, maka akan rugi.
”Sebab cara mendapatkannya sangat sulit. Ikan ini liar dan masih alami hidup di sungai. Bukan seperti ikan lele yang sekarang banyak terdapat di kolam dan dikasih pakan pelet atau bangkai ayam,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk harganya sendiri itu bisa mencapai Rp 30 ribu per 6 ekornya. Ikan yang didapat juga termasuk ikan yang berukuran kecil. ”Sedangkan yang harga Rp 100 ribu bisa mendapatkan ikan gabus besar sejumlah 6 ekor juga,” imbuhnya.

Editor: Merie

Ikan Gabus Sulit Dikembangkan, Ini Kendalanya

 Sejumlah warga sedang memancing ikan air tawan di daerah Mejobo, beberapa waktu yang lalu (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah warga sedang memancing ikan air tawan di daerah Mejobo, beberapa waktu yang lalu (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus saat ini terus berupaya mendorong pembudidaya ikan untuk meningkatkan produksi ikan, khususnya jenis ikan air tawar. Khususnya, ikan lele, gabus, patin maupun nila.

Namun menurutnya, dari beberapa jenis ikan air tawar tersebut, ada yang sulit dikembangkan, yakni ikan patin dan gabus.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Fajar Nugroho. “Seperti misalnya adalah ikan gabus dan patin. Kedua jenis ikan itu tergolong susah untuk dikembangkan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kendala dalam mengembangkan ikan tersebut, kata dia, disebabkan beberapa hal. Diantaranya adalah bibit yang sudah didapat. Khususnya ikan gabus, yang katanya bibitnya sulit dicari,apalagi mencari di pedagang bibit ikan. Ikan jenis itu hanya bisa didapatkan di tambak, sungai atau persawahan saja.

“Padahal minat masyarakat sangat banyak untuk ikan jenis itu. Karena sedikitnya stok juga, maka harganya juga cenderung mahal, untuk itu kami upayakan dibudidayakan,” ujarnya.

Selain kedua jenis ikan itu, lanjutnya, untuk tahun depan, pemkab juga berupaya untuk mengembangkan udang galah. Hal itu sekaligus menjadi fokus percobaan tahun depan untuk dikembangkan di Kudus.

”Beberapa waktu lalu ada satu orang ahli pengembang udang galah yang mensurvei sejumlah tempat untuk dijadikan tempat percobaan pembudidayaan udang galah.  Dia tertarik untuk mencobanya di Kudus,” imbuhnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)