Mencicipi Nikmatnya Rujak Bandeng Tanpa Duri di Pati

Pengunjung tengah mencicipi rujak bandeng bakar tanpa duri, menu andalan warung makan di Jalan Kyai Saleh Nomor 20 Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Pengunjung tengah mencicipi rujak bandeng bakar tanpa duri, menu andalan warung makan di Jalan Kyai Saleh Nomor 20 Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada menu unik dari warung makan yang terletak di Jalan Kyai Saleh Nomor 20 Pati. Di sini, penikmat kuliner bisa mencicipi rujak bandeng bakar tanpa duri.

Bingung, bukan? Rujak sudah lama dikenal sebagai makanan yang berisi irisan beragam buah dengan sambal pedas dari gula merah. Namun, pemilik warung memiliki ide dan kreativitas untuk menggabungkan antara rujak dan bandeng.

Sugiharto, pemilik warung mengaku memiliki ide tersebut berawal dari pemanfaatan potensi bandeng yang melimpah di bumi mina tani. Warga biasanya mengolahnya menjadi beragam kuliner, termasuk bandeng cabut duri.

Banyaknya industri rumahan pengolah bandeng cabut duri di Pati menginspirasi Sugiharto untuk membuat menu unik dari bandeng tanpa duri. Bila bandeng selama ini diolah dengan cara dibakar, digoreng, krispi atau dibuat pepes bandeng, pemilik warung mencoba untuk membuat bumbu yang berbeda.

“Menu ini cukup banyak dicari penikmat kuliner. Dalam sehari, ada sekitar 30 hingga 50 orang yang memesan menu ini secara khusus. Kami hanya ingin membuat menu yang unik dan berbeda dari bahan bandeng. Ternyata responnya luar biasa,” kata Sugiharto, Sabtu (05/11/2016).

Endang Suci Nartati, salah satu penikmat rujak bandeng bakar tanpa duri mengaku cocok dengan menu tersebut. Selain pedas, rujak bandeng memiliki perpaduan rasa yang bervariasi, yakni gurih, manis, sedap, dan nikmat.

“Bandengnya juga empuk, sudah tidak ada durinya. Jadi, nggak khawatir kalau pas makan takut menelan duri. Rasanya pas, perpaduan pedas, manis, gurih dan sedap,” tandas Suci.

Editor : Kholistiono

Serunya Berburu Ikan Bandeng Segar di Pesisir Utara Pati

Petani bandeng di kawasan tambak Sambilawang, Trangkil, Pati tengah panen raya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petani bandeng di kawasan tambak Sambilawang, Trangkil, Pati tengah panen raya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kawasan pesisir utara Kabupaten Pati seperti Kecamatan Wedarijaksa, Trangkil, dan Juwana dikenal dengan potensinya sebagai produsen bandeng segar yang diambil langsung dari tambak.

Bandeng-bandeng pilihan hasil budidaya warga pesisir utara Pati itu dikirim ke berbagai kota besar untuk diolah menjadi bandeng presto, seperti Semarang, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya.

Beberapa di antaranya dikirim ke pasar tradisional di Pati untuk stok kebutuhan ikan setiap harinya. Karena itu, berburu bandeng segar sehabis panen dari kawasan tambak bisa menjadi salah satu agenda yang ditunggu-tunggu.

Kusharyadi, misalnya. Ia rela datang jauh-jauh dari Pati Kota ke kawasan tambak bandeng di Desa Sambilawang, Kecamatan Trangkil yang jaraknya sekitar 20 kilometer demi mendapatkan bandeng segar yang dipanen langsung dari tambak.

“Kalau beli dari tambak langsung rasanya lebih segar. Apalagi kalau untuk acara bakar-bakar, tentu lebih enak beli langsung di tambak. Harganya pun lebih terjangkau, beda tipis tapi lebih mantap,” katanya kepada MuriaNewsCom, Jumat (11/3/2016).

Untuk mendapatkan satu kilogram bandeng, ia mengaku harus merogoh kocek sekitar Rp 15 ribu. Itupun masih bisa menawar dengan meminta tambahan satu ekor bandeng.

“Kalau sudah kenal dengan petani bandeng lebih enak, tinggal telepon kalau ada panen. Masalahnya, tidak setiap hari ada panen ikan bandeng. Atau kalau mau sensasi yang berbeda, bisa mancing di tambak dengan izin petani nanti hitungan harga per kilonya bisa ngomong langsung dengan pemilik,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono