Ditelantarkan Lebih dari Setahun, Istri di Pati Ini Laporkan Suami ke Polisi

Kuasa hukum WW, Maskuri (kanan) bersama VW menunjukkan laporan dugaan kasus penelantaran istri di Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang ibu rumah tangga berinisial WW (41), warga Widorokandang, Kecamatan Pati melaporkan suaminya ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pati, Senin (4/12/2017).

Perkaranya, dia ditelantarkan suaminya lebih dari setahun. Suami WW berinisial AI (48) merupakan pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja di RSUD Soewondo.

“Suami saya bilang, hidupku akan dibiarkan dan tidak dicerai. Saya malu, tekanan batin sebab masih hidup serumah tapi tidak mendapatkan nafkah lahir dan batin,” ungkap WW sembari meneteskan air mata.

Saat ini, WW ingin minta cerai. Pasalnya, dia hidup seperti dalam penjara lantaran tidak diberikan nafkah lahir dan batin, serta dibiarkan begitu saja.

Dia juga sempat berkonsultasi kepada orangtua dan sepakat untuk bercerai. Namun, sang suami enggan menceraikannya dan sengaja membiarkan WW hidup dalam tekanan batin.

Belum diketahui secara pasti penyebab sang suami membiarkan WW. Namun, dia sempat bercerita bila keduanya sempat terlibat saling cemburu antara satu dengan yang lainnya.

Kuasa hukum WW dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Advokasi Nasional Maskuri menuturkan, penelantaran rumah tangga merupakan bentuk kejahatan yang dirumuskan dalam Pasal 9 ayat 1 UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Penelantaran itu bagian dari KDRT. Apa yang dilakukan suami klien saya itu patut diduga dikeras sebagai tindak pidana dengan ancaman pidana penjara paling lama tiga tahun atua denda paling banyak Rp 15 juta,” kata Maskuri.

Sementara itu, Penyidik Unit PPA Polres Pati yang menangani kasus tersebut, Aiptu Saiful mengatakan, pihaknya sudah menerima berkas pengaduan secara lengkap. Dia memastikan bila pelapor mendapatkan jaminan perlindungan hukum.

Sebab, WW sempat takut dan meminta perlindungan polisi bila terjadi kekerasan pascapelaporan tersebut. “Kami sudah memberikan jaminan keamanan kepada pelapor bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkas Aiptu Saiful.

Editor: Supriyadi

Anak yang Bunuh Ibu Kandung di Getasrabi Kudus Terancam Dibebaskan, Ini Alasannya

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning saat memberikan keterangan terkait kasus pembunuhan ibu kandung di Desa Getasrabi, Kecamatan Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kasus pembunuhan ibu kandung yang dilakukan seorang anak di Dukuh Kebangsan, RT 2/RW 3, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Selasa (28/11/2017) bisa dibebaskan.

Ini lantaran pelaku terindikasi mengalami gangguan jiwa. Hanya saja, petugas masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui ihwal penyakit tersebut.

Baca: Tak Diberi Uang, Anak di Getassrabi Kudus Tega Pacul Kepala Ibunya Hingga Tewas

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengatakan, berdasarkan peraturan, orang yang memiliki gangguan jiwa, kasusnya dapat diberhentikan. Ini lantaran mereka tak memiliki kesadaran (benar atau salah) atas tindakan yang dilakukan.

”Namun untuk memastikan apakah pelaku memang memiliki penyakit  jiwa atau tidak membutuhkan pemeriksaan yang lengkap dan bertahap. Jadi tidak mudah,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (30/11/2017).

Menurut dia, yang berhak memutuskan apakah pelaku mengidap penyakit jiwa adalah dokter jiwa. Untuk itu, Anshori dijadwalkan bakal diperiksa langsung oleh dekter jiwa RSUD Kudus untuk memastikan.

”Jika memang benar memiliki penyakit jiwa, maka bisa dirujuk ke rumah sakit jiwa untuk diobati,” ujarnya. 

Baca: Sebelum Dibunuh, Sang Ibu Sempat Diancam Hingga Tak Berani Pulang ke Rumah

Saat ini penanganan masih dilakukan, dengan melakukan sejumlah observasi lapangan. Hasilnya, tanda adanya gangguan jiwa memang muncul dari Anshori (30). Hal ini dikuatkan dengan keterangan kakak kandung pelaku.

Dari keterangan sang kakak, Anshori sudah mengidap gangguan jiwa sejak 2009 lalu. Hanya, ia selalu rutin berobat tentang kondisi jiwanya. Bahkan obat dari dokter juga selalu diminum agar kondisinya tak semakin parah.

Namun, proses itu berhenti pada 2016 karena faktor ekonomi. Akibatnya, Anshori sering uring-uringan dan puncaknya adalah perbuatan pembunuhan yang dilakukan kepada ibu kandungnya sendiri.

“Selama pemeriksaan selama ini, pelaku juga kerap membenturkan kepalanya ke dinding,” imbuhnya

Baca: Anak Bunuh Ibu Kandung di Getassrabi Kudus Ternyata Alami Gangguan Jiwa

Kapolres berharap, tetangga dapat lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Sehingga, jika ada warga yang memiliki penyakit atau gangguan jiwa, dapat segera dilaporkan ke pemerintah desa, untuk segera ditangani.

“Jangan sampai kasus semacam ini terulang kembali. Jadi penanganan dini dapat dilakukan,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Dinkes Klaim Angka Kematian Ibu di Jepara Menurun

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat melihat aktivitas ibu hamil di rumah sakit. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Kesehatan Jepara mengklaim angka kematian ibu (AKI) akibat proses melahirkan turun. Meskipun demikian, hingga awal bulan Oktober tahun 2017 tercatat sudah ada sembilan kasus kematian ibu dengan risiko tinggi. 

“Pada tahun 2016 tercatat kematian ibu tercatat ada 14 kasus. Hal itu menempatkan Jepara berada di posisi ketiga dalam daftar jumlah AKI terendah di Provinsi Jawa Tengah,” ujar Kepala Dinkes Jepara Dwi Susilowati, Jumat (6/10/2017). 

Meskipun mengalami penurunan, dengan sembilan kasus sampai bulan Oktober 2017, akan tetapi jumlah itu bisa jadi meningkat. Namun demikian, Dinkes Jepara mengaku akan berusaha keras dalam menekan jumlah AKI hingga tiga bulan kedepan. 

Satu di antara banyak upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan untuk menekan AKI adalah dengan membangun Rumah Tunggu Kelahiran (RTK), di Kelurahan Bulu. Tempat tersebut merupakan sarana rujukan awal bagi mereka yang hendak melahirkan, namun jauh dari jangkauan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit.  

“Diharapkan jumlah kematian ibu semakin berkurang dan tidak terjadi lagi dalam kurun waktu tiga bulan mendatang, dan diwaktu yang akan datang,” katanya. 

Sementara itu Bupati Jepara Ahmad Marzuqi berharap fasilitas tersebut dapat berfungsi maksimal sesuai fungsinya. Ia menyebut, masih banyak wilayah di Bumi Kartini yang mengalami kesulitan mengakses fasilitas kesehatan di pusat kabupaten. 

“Dengan adanya fasilitas RTK ini, maka akan sangat membantu masyarakat Jepara yang jauh dari jangkauan fasilitas kesehatan,” tuturnya. 

Adapun, fasilitas tersebut mulai dibangun pada 2016 dengan bantuan provinsi (Banprov). Selesai dibangun pada bulan Juni 2017, RTK terdiri dari empat kamar tidur dengan ruang dapur dan petugas.

Editor: Supriyadi

Ibu Bawa Kabur 9 Sepeda Motor di Kudus

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning saat meminta keterangan pelaku penggelapan sepeda motor di mapolres setempat, Kamis (30/3/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Saetun (46) ibu rumah tangga asal Desa Jepang RT 1 RW 4, Mejobo, Kudus, nekat melarikan sembilan unit sepeda motor. Hal itu dilakukan karena pelaku terlilit hutang. Akibat aksinya, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan polisi. Saat ini, pelaku ditahan di Mapolres Kudus.

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengatakan, pelaku telah membawa kabur sepeda motor temannya. Uangnya digunakan untuk mencicil hutangnya.

“Karena alasan ekonomi membuatnya berbuat demikian. Totalnya sepeda motor yang dibawa ada sembilan motor. Motor tersebut lalu digadaikan dengan harga Rp 1 jutaan, dan kemudian digunakan untuk membayar hutang,” kata Agusman saat gelar perkara di mapolres setempat, Kamis (30/3/2017).

Menurutnya, modus operasi yang dilakukan adalah dengan berpura-pura meminjam motor temannya. Merasa sudah kenal, pemilik lalu meminjamkannya kepada Saetun. Namun motor tersebut bukannya dibawa sebentar, tapi malah berpindah tangan.

Satu motor yang berhasil diamankan petugas di antaranya adalah motor Honda Beat warna putih nopol K 5188 NR. Motor tersebut milik Eviana N N (39) warga Wergu Kulon, Kota Kudus. Pelaku menjalankan aksinya pada 24 Januari lalu sekitar pukul 14.00 WIB.

“Tersangka akhirnya dapat ditangkap pada Minggu (12/3/2017) sekitar pukul 15.30 WIB. Korban ditangkap di Desa Ngembal Jati. Pelaku juga tak memberi perlawanan atas hal tersebut,” ujarnya.

Pelaku dijerat dengan pasal 372 KUHPidana dan 378 KUHPidana dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Editor : Akrom Hazami

 

TEGA, ABG Laporkan Ibu Kandungnya ke Polisi di Kudus

Sukini, ibu yang dilaporkan anaknya ke polisi, menunjukkan berkas pemanggilan dari Polsek Mejobo, Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – NHPA (17) warga Desa/Kecamatan Mejobo, Kudus, tega melaporkan ibu kandungnya, Sukini (52). NHPA melaporkannya dengan tuduhan adanya penganiayaan.

Kepada wartawan, Sukini menceritakan, anaknya melaporkan dirinya ke Polsek Mejobo, 16 Februari 2017. Sukini pun dipanggil polisi pada 18 Februari, sebagai tindak lanjut adanya laporan.

 “Saya kaget karena ada pemanggilan dari pihak Polsek. Saya tidak menyangka kalau anak yang saya besarkan sampai berbuat sejauh itu,” kata Sukini, didampingi pengacaranya Yusuf Istanto, di Kudus, Kamis (9/3/2017).

Saat dipanggil kepolisian, PNS guru salah satu SD setempat itu mengatakan, jika telah memukul anaknya.  Sukini memukul pundak anaknya. Hal itu dilakukan Sukini sebagai bentuk teguran. Sebab anaknya tidak mau mendengarkan nasihat. Yakni supaya belajar, dan berhenti keluyuran.

Pihaknya tidak mau masalah ini berlarut-larut. Dia pun berupaya mengajak anaknya damai. Selain itu, Sukini juga berharap anaknya kembali tinggal bersama. Mengingat usai kejadian, anaknya tinggal bersama ayah. Diketahui, dirinya telah pisah dengan suami atau ayah si anak, November 2008.

Editor : Akrom Hazami

Sadis, Bocah 4 Tahun di Grobogan Digorok Ibu Kandungnya

 

sadis

Sejumlah tetangga berdatangan ke rumah korban anak balita yang digorok ibunya sendiri, di Kecamatan Wirosari, Grobogan, Minggu (4/12/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa pembunuhan terjadi di Kecamatan Wirosari, Grobogan, Minggu (4/12/2016) sekitar pukul 08.00 WIB. Korbannya seorang bocah bernama Muhammad Azka, yang baru berumur 4 tahun. Ironisnya, pelaku pembunuhan diduga dilakukan Um (31) yang notabene adalah ibu kandungnya sendiri.

Informasi yang didapat di lapangan menyebutkan, peristiwa tragis itu diketahui sekitar pukul 08.00 WIB. Di mana, pada waktu itu, beberapa tetangga berdatangan ke rumah korban, karena mendengar ada suara ramai. Ketika dilihat di dalam rumah, ternyata tubuh bocah itu sudah berlumuran darah di dekat kamar mandi.

Sebelum kejadian kondisi rumah dalam keadaan sepi, karena Sukimin (ayah korban) dan istrinya Umi pergi ke sawah. Demikian pula dengan dua anaknya FA (8) dan korban yang juga ikut ke sawah bersama kedua orang tuanya.

Namun, tidak lama kemudian, Umi dan korban pulang duluan. Ceritanya, pelaku pulang karena mau memandikan Azka.

“Saat itu, saya juga di sawah bersama para tetangga. Saya lihat ibunya sempat ikut ke sawah lalu pulang. Ketika sampai rumah ternyata suasana sudah ramai. Lebih kaget lagi ternyata ada kejadian itu,” kata Yuli Supriyanto (36) tentangga dekat korban.

Peristiwa memilukan itu tak pelak membuat tetangga sekitar kaget sekaligus berduka. Mereka tidak menyangka jika terjadi peristiwa tersebut di desanya. Ada dugaan, pelaku nekat melakukan tindakan itu lantaran pernah mengalami gangguan jiwa.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Adi Eko Pramono mengatakan, ibu korban sudah diamankan berikut barang bukti pisau dapur yang digunakan untuk membunuh. Demikian juga dengan Sukimin yang diamankan untuk dimintai keterangan.

“Soal ada indikasi jika pelaku mengalami gangguang jiwa masih kita dalami. Untuk sementara belum bisa memberikan keterangan lebih jauh. Soalnya, masih banyak saksi yang harus kita dengar keterangannya. Yang pasti, pelaku dan barang bukti sudah kita amankan,” katanya.

Hingga sore ini, jenazah korban masih diautopsi di rumah sakit, untuk mengetahui penyebab kematian korban.

Editor : Ali Muntoha