Pengurus PKK di Grobogan Diajari Pola Asuh Anak yang Benar

Narasumber dari Indonesia Heritage Foundation Wahyu Farrah Dina sedang menyampaikan materi pada peserta. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Narasumber dari Indonesia Heritage Foundation Wahyu Farrah Dina sedang menyampaikan materi pada peserta. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Guna memperbaiki cara mengasuh anak yang benar, Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Grobogan menggandeng Indonesia Heritage Foundation (Yayasan Warisan Luhur Indonesia) untuk memberikan pembekalan pada pengurus PKK tingkat kecamatan dan desa. Acara yang dilangsungkan di Gedung Riptaloka, Setda Grobogan Selasa (29/3/2016) itu dibuka oleh Ketua TP PKK Sri Hartatik.

”Banyaknya kasus yang membelit anak merupakan sebuah sinyal pendidikan karakter pada anak perlu ditanamkan kembali. Untuk itu kami sengaja menghadirkan narasumber dari Indonesia Heritage Foundation untuk memberikan bimbingan teknis mengenai pola asuh anak, peningkatan kesadaran bela negara dan keluarga sadar hukum,” ujar Sri Hartatik.

Ada tiga orang dari Indonesia Heritage Foundation yang hadir sebagai narasumber. Yakni, Wahyu Farrah Dina, Dian Anggraeni, dan M Halim. Ketiganya bergantian menyampaikan materi hingga acara berakhir sekitar pukul 15.30 WIB.

”Orang yang berkarakter kuat membutuhkan nurani yang kuat. Nurani itu ada dalam diri. Ada rasa malu kalau berbuat salah, ada rasa berdosa kalau menyakiti orang lain. Nurani seseorang tidak bisa berkembang jika sejak kecil sudah salah didik,” ungkap Wahyu Farrah Dina saat menyampaikan materi.

Farrah mengatakan, anak merupakan cerminan dari orang tua. Jika orang tua memberikan dasar yang kuat, maka anak juga tumbuh dengan karakter kuat. ”Orang tua bisa menerapkan pola asuh yang demokratis dalam mendidik anak dan bersifat membimbing anak sesuai dengan kemampuannya tanpa menuntut. Pola ini membangun kedekatan emosional yang kuat. Pola asuh yang penuh cinta membuat anak merasa nyaman dan gembira dan hal ini memberi pondasi bagi jiwa yang sehat,” ujarnya.

Ditambahkan, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak. Berbagai nilai dan norma perilaku positif dapat ditanamkan orang tua melalui pola asuh yang tepat. Terutama menjadi teladan bagi anak.

Editor : Titis Ayu Winarni

PKK Japah Blora Manfaatkan Medsos untuk Pasarkan Tas-tas Cantik yang Terbuat dari Sampah

PKK Japah membuat sampah tidak berguna menjadi bernilai ekonomi. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

PKK Japah membuat sampah tidak berguna menjadi bernilai ekonomi. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Kreativitas Ibu-ibu PKK Desa Japah, Kecamatan Japah , Blora dalam mengolah sampah plastik menjadi tas-tas cantik, tempat tisu dan beragam kerajinan lainnya, kini tidak hanya diminati masyarakat setempat saja.

Hal ini, tak lepas dari pemasaran yang dilakukan oleh kelompok PKK ini, yakni dengan memanfaatkan media sosial. “Kami pakai bantuan media sosial, seperti facebook dan bbm,” kata Yuli Astuti, Ketua PKK Japah.

Dirinya menyatakan, untuk harga kerajinan yang berasal dari sampah plastik buatan kelompoknya,cukup bervariasi. Mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu, tergantung tingkat kesulitan dan ukuran.

Meski pemasarannya belum menembus pasar luar Blora, namun pihaknya optimis kedepannya akan mampu bersaing, seiring berkembangnya zaman.

Editor : Kholistiono 

Ibu-ibu PKK di Blora Ini Ubah Sampah Jadi Rupiah

PKK Japah saat menyusun sampah plastik menjadi tas belanja cantik dan unik (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

PKK Japah saat menyusun sampah plastik menjadi tas belanja cantik dan unik (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Sampah biasanya akan berakhir di tempat pembuangan sampah. Namun, di tangan ibu-ibu kelompok PKK Desa Japah, Kecamatan Japah, Blora, sampah justru disulap menjadi rupiah.

Sampah-sampah berupa plastik sisa kemasan kopi, sampah gelas plastik air mineral, dan bungkus makanan ringan, dimanfaatkan menjadi tas. Di tangan kreatif ibu-ibu, tas yang berasal dari sampah tersebut menjadi sangat menarik dan memiliki nilai ekonomi.

Ide memanfaatkan sampah tersebut, bermula dari keresahan ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok PKK Japah terhadap onggokan sampah rumah tangga, terutama sampah plastik sisa kemasan kopi dan sampah gelas plastik air mineral.

Dari situ, Juli Astuti (46) Ketua PKK Japah mengajak seluruh anggotanya agar mengasah kreativitas dengan memanfaatkan sampah plastik tersebut menjadi sebuah karya yang mampu mendatangkan rupiah. “Akhirnya terfikirkan oleh kami, untuk menjadikan sampah plastik itu menjadi tas,” ujar Yulia, sapaan akrab Juli Astuti.

Rupanya, hal tersebut mendapat tanggapan positif dari Pemerintah Desa Japah, dengan mendatangkan instruktur untuk memberikan pengarahan atas pengolahan sampah menjadi karya yang ada nilai jualnya. Sebelumnya mereka telah mengumpulkan dua karung sampah untuk dijadikan modal dalam pelatihan yang tersebut.

“Selain kami berkreasi sendiri, dari pihak desa telah membantu kami dengan memberikan pelatihan. Kamipun siap dengan dua karung besar sampah,” katanya.

Selain itu, kemajuan teknologi rupanya mampu menjadikan hasil karya mereka menjadi semakin bervariatif. Dengan bermodalkan sedikit pemahaman terhadap internet, Yulia bersama dengan ibu-ibu yang lain mencoba mengembangkan karyanya dengan mencari hal-hal baru di internet untuk dipraktekkan terhadap karyanya.

Untuk mendapat bahan baku, rupanya mereka tidak merasa kesulitan. Masing-masing dari anggota PKK diimbau agar tidak membuang sampah plastik dari masing-masing kediaman mereka.

Ketika sampah sudah terkumpul, maka akan dijadikan satu untuk dirakit menjadi karya berupa tas belanja, tempat tisu, ada juga tempat air mineral. “Kalau sampah tali plastik, kami kerjasama dengan pemilik fotokopi. Sedangkan sisa kemasan oli kami ambil dari bengkel. Sampah tali plastik tersebut sebagi pengait antarsatu sampah dengsan sampah yang lain hingga menjadi tas,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono 

Peserta Lomba Rancang Miniatur Rumah Pintar

Miniatur rumah pintar yang dibuat salah satu peserta lomba (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Miniatur rumah pintar yang dibuat salah satu peserta lomba (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Siti Jumanah, salah satu peserta lomba PKK Kudus yang berasal dari Kecamatan Jekulo membuat miniatur rumah pintar. Dalam rancangannya ini, dirinya menempatkan beberapa permainan edukatif di dalam rumah tersebut.

Sedangkan untuk bentuk rumahnya sendiri, dirinya sengaja merancang miniatur tersebut mirip dengang rumah adat Kudus.

“Ini adalah rumah pintar, di dalamnya terdapat 19 permainan yang dapat dinikmati oleh anak anak. Semuanya dari barang bekas yang mudah ditemukan di sekitar kita, umumnya kurang dimanfaatkan seperti daun, kertas, dan sebagainya,” katanya.

Rumah adat Kudus sendiri, bertujuan mengenalkan rumah adat Kudus kepada anak. Selain itu, bukan hanya bentuknya yang unik dan bagus, nilai aspek perkembangan moral mulai agama, moral, sosial dan sebagainya juga menjadi bahan pertimbangan pembuatan rumah tersebut.

Beberapa permainan yang dapat disuguhkan adalah, kerai alfabert, memancing ikan, taman boneka, musik ritmis, sub kata, remas spon dan sebagainya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Keren! Ibu-ibu PKK Buat Miniatur Rumah dari Barang Bekas

Miniatur rumah yang dibuat dari barang bekas (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Miniatur rumah yang dibuat dari barang bekas (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – PKK Kudus mengadakan lomba daur ulang barang bekas untuk dijadikan miniatur rumah. Kegiatan tersebut diikuti 18 peserta, dari sembilan kecamatan yang ada di Kudus. Untuk setiap kecamatan, mewakilkan dua peserta.

Panitia kegiatan Ny. Noor Yasin mengatakan, lomba tersebut bertujuan agar ibu-ibu bisa menciptakan sesuatu yang memiliki nilai seni, dengan memanfaatkan barang bekas. Diharapkan, daur ulang barang bekas tersebut, juga memiliki manfaat bagi anak-anak, yakni permainan edukatif.

“Ini kegiatan rutin, nanti pemenangnya bakal mewakili Kudus untuk mengikuti lomba di tingkat Provinsi Jateng,” katanya.

Dalam hal ini, dewan juri akan melalui penilaian dari beberapa faktor. Bukan hanya sekadar hasil daur ulang tersebut bagus, namun juri juga melihat presentasi yang dilakukan peserta lomba. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)