Api yang Membakar Kawasan Hutan Muria Masih Jauh dari Permukiman Warga Jepara 

Asap tebal mengepul dari puncak Gunung Abiyasa yang berada di kawasan Pegunungan Muria. (BPBD Kudus)

MuriaNewsCom, Jepara – Api yang sempat membakar kawasan semak di Desa Rahtawu Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus dilaporkan telah padam. Namun angin yang bertiup ke arah barat menyebabkan si jago merah berpotensi merembet ke wilayah Jepara. 

Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Jepara mengemukakan, saat ini pihaknya bersama relawan dan warga di Bukit Toklik Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling sedang melakukan pemantauan kebakaran hutan di kawasan Gunung Muria. 

Baca Juga: Kebakaran Puncak Abiyoso Kudus Meluas Hingga Jepara 

Pihaknya mengatakan, saat ini titik api masih cukup jauh dari permukiman warga. Saat dikonfirmasi terkait arah angin dan potensi api menyebar, pihaknya telah bersiap-siap akan hal tersebut. 

“Angin bergerak ke arah barat, demikian pula api. Potensi kebakaran menyebar hingga wilayah Bategede,” ujar Pujo Prasetyo, Kasi Kedaruratan BPBD melalui  operator Pusdalops BPBD Jepara, Sabtu (23/9/2017) siang. 

Terkait hal itu pihaknya telah menyebarkan informasi kepada Perhutani Bategede dan masyarakat setempat. Pemantauan pun sudah dilakukan, akan tetapi api belum terlihat dari Desa Bategede. Sementara, terkait persiapan jikalau api sampai ke dekat permukiman warga, pihaknya masih menunggu arahan selanjutnya. 

Terpisah, ketua tim relawan Jepara Rescue Bondan menyebut, pihaknya kini sedang melakukan pemantauan bersama di Seputar wilayah Desa Tempur. 

“Tim Jepara Rescue sudah melakukan pantauan terhadap kebakaran hutan Muria dalam lima tim pemantau sejak tadi malam Saat ini angin cenderung mengarah ke Jepara. Terpantau dari Sumanding ada enam titik api. Api saat ini masih jauh dari permukiman” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Kabakaran Lahan Jati di Sambirejo Grobogan Bikin Panik Puluhan Penjual Degan

Salah satu warga berjaga-jaga agar kobaran api yang membakar lahan jati tak merembet ke warung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan penjual degan atau kelapa muda di pinggir jalan raya Purwodadi-Blora sempat kalang-kabut. Hal ini terjadi setelah dedaunan kering di bawah areal pohon jati yang ada di belakang deretan warung terbakar, Kamis (14/9/2017) malam.

Dari pantauan di lapangan, puluhan pedagang terlihat bersiaga di sekitar warung untuk mengantisipasi agar kobaran api tidak menjalar ke tempat jualan mereka, yang lokasinya masuk wilayah Desa Sambirejo, Kecamatan Wirosari tersebut.

Tindakan itu dilakukan karena areal yang terbakar hanya berjarak sekitar 2 meter dari warung.

Beberapa pedagang terlihat langsung mengambil tindakan ketika arah kobaran api mendekati warung. Sebelum membesar, pedagang berupaya melakukan pemadaman dengan cara memukul kobaran api menggunakan kayu dan bambu.

“Di belakang warung ini banyak tumpukan kulit dan batok kelapa yang sudah kering. Oleh sebab itu, kami harus mencegah kobaran api mendekat,” kata Susilowati, salah seorang pedagang yang terlihat cukup sibuk memadamkan kobaran api yang mendekati warungnya.

Baca : Buat Status Facebook, Siswa Kebumen Ditangkap, Penasaran? Baca Ini

Di sepanjang jalan raya tersebut, ada sekitar 30 warung yang hampir semuanya berjualan degan. Bangunan warung bentuknya sederhana dan terbuat dari bahan bambu dan papan.

Saat kejadian, kondisi warung sudah tutup. Namun, perabotan yang digunakan untuk jualan masih ditinggal di dalam warung oleh pemiliknya. Seperti bangku, kursi dan balai bambu dan rak kayu.

Para pedagang biasa berjualan dari pagi hingga menjelang petang. Mereka mendapat kabar areal jati terbakar setelah Isya, sekitar pukul 19.15 WIB.

“Saya dikabari tetangga yang kebetulan lewat dan melihat lahan jati di belakang warung terbakar. Kemudian, saya mengabari beberapa kawan lainnya dan meluncur ke sini untuk berjaga-jaga,” ungkap Purwanto, pedagang lainnya.

Hingga sekitar pukul 21.00 WIB, kobaran api masih terlihat cukup besar. Namun, lama kelamaan kobaran api makin mengecil karena dedaunan dan ranting kering sudah habis terbakar.

Belum diketahui pemicu terjadinya kebakaran di lahan jati itu. Pedagang menduga, kebakaran terjadi karena ada orang lewat yang membuang puntung rokok sembarangan.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Kakek 65 Tahun di Tanjungharjo Grobogan Tewas Terpangang

Baca : Hafidin, Bocah 10 Tahun yang Hidupi Ibu dan Kakeknya di Banjarnegara, Dikunjungi Gubernur

Putung Rokok Diduga Sebagai Biang Kebakaran Hutan Gundih Grobogan

Kawasan hutan jati di pinggir Jalan Purwodadi-Solo KM 16 yang terbakar tampak menghitam, Senin (28/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Terbakarnya kawasan hutan milik Perhutani KPH Gundih, di Grobogan, dimungkinkan dari tindakan sepele.

Yakni, adanya orang yang membuang puntung rokok sembarangan, sehingga mengenai daun-daun kering dan akhirnya menyulut kebakaran pada Minggu (27/8/2017) malam.

“Penyebab kebakaran diduga berasal dari puntung rokok. Kemungkinan, ada pengendara yang membuang puntung rokok secara tak sengaja, hingga terbawa angin dan mengenai daun serta dahan-dahan kering,” jelas Wakil Administratur KPH Gundih Kuspriyadi pada wartawan, Senin (28/8/2017).

Menurutnya, dugaan itu sangat dimungkinan karena lokasi kejadian berada di pinggir jalan raya Purwodadi-Solo km 16. Setiap hari, jalur ini banyak dilewati pengendara lintas kabupaten. Baik motor, mobil atau kendaraan besar.

Kebakaran di kawasan hutan itu terjai puluk 18.15 WIB dan bisa dipadamkan dua jam kemudian. Dari pantauan di lapangan, bekas kebakaran masih terlihat jelas. Banyak pohon jati dan tanah yang menghitam akibat terjilat api.

Tidak jauh dari lokasi kebakaran, terdapat tumpukan sampah. Meski sudah ada plang larangan, namun banyak orang masih membuang sampah di kawasan itu.

Baca : 4 Hektare Hutan Perhutani Gundih Grobogan Terbakar

Administratur KPH Gundih Sudaryana menambahkan, kebakaran tersebut tidak sampai mematikan pohon jati yang ada di petak 103B seluas 4 hektare tersebut. Menurutnya, pohon jati memiliki kelebihan tahan dengan kebakaran.

“Meski kena kebakaran tetapi kondisi pohon masih tetap hidup. Kejadian kebakaran ini sudah jadi perhatian serius saat musim kemarau,” ujarnya.

Dia menyatakan, kerawanan kebakaran di musim kemarau pada hutan jati memang cukup tinggi.

Setelah kebakaran tersebut, pihaknya akan membuat sekat dengan membersihkan dedaunan yang mengering di sekitar hutan, sehingga risiko kebakaran bisa dipersempit. Selain itu, upaya lain adalah memberikan penyuluhan kepada warga.

Editor : Ali Muntoha