Dampak Hujan Deras Semalaman, 3 Desa di Kecamatan Godong Grobogan Siaga Banjir

MuriaNewsCom, GroboganMusibah banjir saat ini mengancam sebagian wilayah Kecamatan Godong. Kondisi ini terjadi akibat dampak hujan deras hampir semalaman yang merata di seluruh wilayah Grobogan pada Jumat (9/3/2018) malam.

Akibat hujan deras, debit air sungai Jajar yang berhulu di kawasan Pegunungan Kendeng Selatan langsung naik siginifikan. Kondisi sungai yang mulai mendangkal akibat sedimentasi mengakibatkan daya tampungnya tidak bisa maksimal.

Hal ini menyebabkan sebagian air meluap ke kawasan yang letaknya rendah, terutama di areal persawahan. Dampak luapan sungai Jajar mulai terlihat sejak Subuh.

Camat Godong Bambang Haryono menyatakan, jika kawasan atas turun hujan deras cukup lama, maka wilayahnya memang akan terkena dampak luapan air sungai Jajar.

Dari laporan sementara, sedikitnya ada tiga desa yang mulai terancam banjir. Yakni, Desa Werdoyo, Guyangan, dan Guci.

Menurutnya, luapan sungai Jajar, sebagian besar masih berdampak pada areal persawahan. Saat ini, kondisi sawah terdapat tanaman padi yang baru berumur sekitar 10 hari.

“Sawah yang tergenang mencapai puluhan hektar. Sebagian sudah ada tanaman padi dan lainnya baru persiapan tanam,” katanya, Sabtu (10/3/2018).

Bambang menambahkan, beberapa rumah warga dilaporkan sudah kemasukan air. Namun, jumlah rumah terendam belum bisa dipastikan karena pendataan masih dilakukan.

“Kondisi ini sudah kita laporkan pada bupati serta dinas terkait. Kita harapkan tidak turun hujan hari ini, sehingga air bisa surut,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Merangkak Naik, Harga Beras di Kudus Tembus Rp 11.500 per Kilogram

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti (tenga) bersama Kasatreskrim AKP Kurniawan Daili (kanan) saat mengecek harga beras di Pasar Bitingan Jumat (15/12/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus beserta Polres Kudus melakukan pengecekan harga komoditas di Pasar Bitingan, Jumat (15/12/2017). Dalam pengecekan tersebut, harga beras terus naik hingga tembus Rp 11.500.

Zahroh (50) pedagang Beras di Pasar Bitingan mengungkap, naiknya harga beras dimulai dua pekan lalu. Untuk jenis Beras Wanviy,  harga awal Rp 10.300 naik menjadi Rp 10.800. Sedang harga Beras SSA, dari Rp 9.800 menjadi Rp 10.500.

“Semenjak harga naik pembelinya berkurang. Misalnya saja dari pengecer yang tiap hari membeli 100 kilogram, kini menjadi dua hari sekali belinya,” katanya kepada petugas saat memantau harga.

Dia mengatakan, beras yang diambilnya itu, didapat dari penggilingan padi di wilayah Kudus dan Demak. Dia memperkirakan harga akan terus naik, mengingat panen masih lama.

“Harganya akan turun saat panen, namun ini masih pemupukan kedua. Jadi masih cukup lama,” jelasnya.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Sudiharti mengatakan, kenaikan beras masih dianggap wajar. Namun, pihaknya mendorong agar kenaikannya tidak terlampau tinggi, sehingga masyarakat tidak resah.

“Pedagang mengambil keuntungan sekitar Rp 400 hingga Rp 500 per kilogram. Nomonal tersebut merupakan nominal minimal yang diambil untuk mendapatkan untung,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Dapat Kiriman Air dari Blora dan Purwodadi, Bendung Wilalung Kudus Siaga III

Debit air Bendung Wilalung terus meningkat hingga siaga III, Jumat (17/11/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan deras yang masih mengguyur kawasan Blora dan Purwodadi  berdampak pada penuhnya air di Bendungan Wilalung, di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan. Kondisi Bendung Wilalung kini sudah penuh dengan air atau peres.

Petugas jaga Bangunan Pengendali Banjir Wilalung Lama (BPBWL) Noor Ali mengatakan, status siaga sekarang adalah status paling gawat atau siaga tiga. Hal itu lantaran kondisi air di waduk sudah mampir memenuhi batas maksimal tampungan air

“Untuk siaga satu, 400 hingga 500 kubik, siaga II 500 hingga 550 dan untuk siaga tiga atau yang paling waspada adalah diatas 550,” katanya

Menurut dia, banyaknya air di sana merupakan kiriman dari Blora atau lebih tepatnya Sungai Lusi. Saat ini debet airnya sejumlah 694 meter kubik per jan 12.45 WIB. Melihat arus yang masih deras, kemungkinan air bertambah sangat memungkinkan. Apalagi, saat Purwodadi dan Blora hujan secara otomatis air bakal bertambah.

Disebutkan, kalau air mencapai 800 meter kubik, maka pintu air arah Pati akan dibuka. Hanya, jika kondisinya tak hujan lebat, pintu belum akan dibuka lantaran masih aman.

“Kalau tak hujan, paling sampai 700 meter kubik saja. Itu masih aman meski air sudah melimpas ke kawasan sawah sekitar Bandung Wilalung,” imbuhnya.

Narto, warga Desa Kalirejo, Undaan mengaku waspada akan adanya limpasan air. Karena kondisi airnya semakin meninggi. Hanya, melihat kondisinya sekarang, dia yakin masih aman selama tak ada hujan lebat lagi.

“Kalau air sudah memenuhi jalan kawasan Bandung Wilalung, maka dipastikan akan melimpas ke pemukiman jadi  bahaya kalau sampai jalan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Banjir Landa Desa Mayahan Grobogan, Ratusan Rumah Warga Terendam

Ratusan rumah di Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan terendam banjir, Jumat (17/10/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah banjir yang melanda Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan ternyata tidak hanya merendam sekolahan saja. Ratusan rumah warga juga terkena dampak banjir yang datang pada Jumat (17/11/2017) dinihari tersebut.

Dari pantauan dilapangan, banjir paling parah menimpa wilayah Desa Mayahan yang ada disebelah utara jalan raya Purwodadi-Blora. Di sepanjang jalan tersebut ada puluhan rumah yang kemasukan air. Ketinggian air yang ada dalam rumah berkisar 10-50 centimeter. Selain rumah, ada sejumlah bangunan permanen dan semi permanen yang digunakan untuk tempat usaha.

”Rumah yang kebanjiran lebih banyak dibagian belakang sana. Air yang masuk lebih tinggi daripada rumah yang dipinggir jalan raya,” kata Sutinah, warga setempat sambil menunjukkan jari tangannya kearah utara.

Dampak banjir juga menyebabkan salah satu gang terpaksa dipalang dengan bambu untuk mencegah kendaraan lewat. Hal itu dilakukan karena air yang menggenangi jalan cukup tinggi sehingga bisa mengakibatkan mesin kendaraan mati ketika melintas.

”Posisi jalan diujung gang ini kebetulan agak rendah. Tinggi airnya sampai paha,” kata Mbah Pardi (63), warga lainnya.

Kepala Desa Mayahan Sairozi menyatakan, dari pendataan awal yang sudah dilakukan, tercatat ada 250 rumah yang kebanjiran. Bencana banjir tersebut melanda dua dusun. Yakni, Dusun Beber dan Krajan.

”Jumlah rumah yang kebanjiran kemungkinan bisa tambah. Soalnya, ketinggian air masih naik terus. Kejadian ini sudah kita laporkan pada kecamatan dan instansi terkait lain,” katanya.

Editor: Supriyadi

Tanah Terkikis Air Hujan, Tembok Taman Ria Colo Ambruk

Tembok Taman Ria Colo ambruk setelah terkena hujan, Jumat (20/10/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Tembok wisata di kawasan Colo, Taman Ria Colo, ambruk Jumat (20/10/2017). Tembok yang ambruk sekitar lima meter lebih, dan menutup sebagian jalan disekitarnya.

“Tadi ambruk sekitar jam 10.00 WIB. Tembok yang ambruk di sekitar timur taman ria. Dan hingga siang ini puing-puing masih berserakan di jalanan,” kata Agus salah satu warga Colo, kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, beruntung saat kejadian tak ada orang yang menjadi korban lantaran tak ada yang lewat. Padahal, biasanya daerah tersebut sering digunakan masyarakat sekitar atau peziarah untuk lalu-lalang.

Dia menduga ambruknya tembok mencapai lima meteran lebih itu karena terkikis air hujan. Karena, air tak langsung keluar, melainkan tertahan dilokasi bawah dinding terlebih dahulu.

“Apalagi semalam kawasan sini (Colo) hujan sangat deras. Mungkin itu juga yang membuatnya ambrol,” ungkapnya.

Ambruknya tembok juga dibenarkan Kadinas Budpar Kudus Yuli Kasianto. Menurut dia, tembok tersebut memang terkikis sedikit demi sedikit oleh air hujan dan air yang mengalir disekitarnya. 

Apalagi, kata Yuli, usia tembok yang memang sudah tua sehingga tak kuat digerogoti air secara terus menerus. Sehingga terjadilah tembok yang ambruk.

“Saat ini kami sedang membersihkan puingnya. Saya juga menugasi petugas untuk mengukur dan memperkirakan sekeliling tembok yang juga berpotensi ambruk untuk penanganan darurat,” jelasnya. 

Editor: Supriyadi

Sudah Sering Turun Hujan, BPBD Grobogan Masih Lanjutkan Droping Air Bersih

Bantuan air bersih masih terus disalurkan BPBD ke sejumlah desa yang mengalami bencana kekeringan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah sering turun hujan dalam beberapa hari terakhir, namun pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan masih tetap meneruskan kegiatan droping air bersih ke daerah bencana kekeringan. Hal itu ditegaskan Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono saat ditemui di kantornya, Senin (2/10/2017).

”Memang akhir-akhir ini sudah ada hujan. Namun, kegiatan droping tetap jalan karena masih ada permintaan,” kata Agus.

Menurut Agus, hujan yang turun akhir-akhir ini belum begitu deras. Selain itu, hujan juga belum merata ke seluruh wilayah Grobogan. Oleh sebab itu, di sejumlah desa kondisinya masih membutuhkan air bersih.

”Sudah turunnya hujan memang cukup membantu mengatasi kesulitan warga mendapatkan air bersih. Sebab, air hujan bisa ditampung dalam sumur atau sekedar untuk minum ternak. Namun, hujan ini belum bisa menghentikan bencana kekeringan,” sambungnya.

Dia menjelaskan, disejumlah desa, kondisi kekeringan sudah mulai berkurang. Yakni, di desa-desa yang wilayahnya terdapat saluran irigasi dari Waduk Kedungombo.

Sejak beberapa hari lalu, pasokan air mulai digelontorkan menuju saluran irigasi untuk persiapan musim tanam padi. Sebelumnya, pasokan air sempat dihentikan selama dua bulan karena dalam masa pengeringan dan perbaikan saluran irigasi.

Agus menjelasakan, untuk tahun ini, ada 86 desa di 12 kecamatan yang mengalami kekeringan. Sejak datangnya kekeringan, pihak sudah menyalurkan lebih dari 260 tangki air bersih ke berbagai desa. Penyaluran bantuan air bersih dilakukan bekerjasama dengan PDAM Grobogan.

Penyaluran bantuan air bersih akan terus dilakukan sampai bencana kekeringan berakhir dan tidak ada permintaan dari masyarakat. Untuk penanganan kekeringan tahun ini, Pemkab Grobogan mengalokasikan dana sekitar Rp 150 juta.

”Masyarakat saya minta jangan kuatir. Kalau masih butuh bantuan air langsung hubungi BPBD. Alokasi anggaran untuk penyaluran air bersih masih mencukupi,” ujarnya.

Dia menambahkan, dari 19 kecamatan yang ada, selama ini hanya empat kecamatan yang relatif aman dari bencana kekeringan. Yakni, Kecamatan Tegowanu, Klambu, Gubug dan Godong. 

Editor: Supriyadi

Kekeringan Melanda, Ratusan Siswa di Pati Salat Istisqa Minta Hujan

Sejumlah siswa mengikuti dzikir dan doa bersama seusai salat istisqa di lapangan Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen, Pati, Kamis (7/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan siswa Madrasah Miftahul Ulum menggelar salat istisqa di kawasan lapangan Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen, Pati, Kamis (7/9/2017).

Mereka meminta hujan di tengah musim kemarau yang mulai melanda. Para siswa juga menggelar dzikir dan doa bersama seusai mengikuti salat istisqa.

“Waktu ikut salat di lapangan sangat panas sekali. Tapi tetap semangat, kita minta kepada Allah supaya diberikan hujan,” ujar Alfin, salah satu siswa MI Miftahul Ulum.

Pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin Kiai Abdul Latif yang memimpin salat tersebut menuturkan, salat istisqa menjadi ikhtiar manusia untuk meminta rezeki berupa hujan yang memberikan manfaat.

Sebab, sejumlah desa di Kacamatan Kayen saat ini sudah mulai kekurangan air. Beberapa warga harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

“Air yang dibutuhkan saat ini sudah mulai keruh dan aromanya tidak sedap, sehingga benar-benar butuh air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” tuturnya.

Karena itu, pihaknya juga meminta kepada pemerintah supaya memberikan bantuan air bersih di sekolah dan rumah warga yang membutuhkan. Di Madrasah Miftahul Ulum sendiri sudah mulai kekurangan air, sehingga sempat mengganggu proses belajar-mengajar.

Editor: Supriyadi

Ditanya Pemicu Jalan Rusak, Pemkab Kudus Malah Salahkan Air Hujan

Warga melintas di salah satu jalan di Kudus yang terendam air, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga melintas di salah satu jalan di Kudus yang terendam air, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus malah menyalahkan tingginya intensitas air hujan yang jadi penyebab banyaknya jalan rusak. Sebab, banyak jalan di Kudus yang tidak memiliki saluran air. Akibatnya saat hujan turun, air menggenangi permukaan jalan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus Sam’ani Intakoris, mengatakan, bahwa air hujan masih menjadi penyebab rusaknya jalan. Terlebih bila lokasi jalan tak ada saluran airnya. Karena hal itu akan menyebabkan air menggenang di jalanan.

“Kerusakan jalan itu, akibat tingginya curah hujan yang tidak dapat dihindari. Kondisi tersebut dipicu belum adanya saluran air di sekitar akses penghubung. Jadi genangan air mengakibatkan jalanan berlubang,” kata Sam’ani ditemui di Kudus, Rabu (18/1/2017).

Hasan, warga Prambatan Kidul Kaliwungu menuturkan di antara jalan yang belum punya salura air adalah jalan Kudus-Jepara. Jadi jangan heran jika permukaan jalan itu kerap digenangi air saat hujan.”Jadinya jalan penuh air, dan pasti saat musim hujan banyak jalan berlubang. Seperti daerah Mijen atau sekitar terminal Jetak,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Banjir Grobogan, Ini Penangan dari BPBD

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Soal banjir yang melanda Grobogan, Jumat (30/12/2016),  Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Grobogan Titi Rahajuningsih menyatakan, pihaknya sudah melakukan penanganan bencana banjir yang terjadi di sejumlah titik tersebut.

Meski banjir sudah surut namun personel BPBD masih ditempatkan di lokasi untuk memantau perkembangan dilapangan.

“Tingginya curah hujan sejak kemarin sudah kita antisipasi. Masyarakat kita minta tenang karena BPBD sudah siaga menghadapi bencana yang bisa muncul setiap saat,” katanya.

Hujan yang mengguyur wilayah Grobogan sejak Kamis (29/12/2016) malam hingga Jumat (30/12/2016) siang menyebabkan bencana banjir di berbagai tempat. Meski tidak berlangsung lama, namun banjir yang melanda ini sempat bikin panik warga.

Dari pantauan lapangan, bencana banjir paling parah berada di Kecamatan Grobogan. Di wilayah ini sedikitnya ada empat desa yang dilanda bancana banjir. Yakni, Desa Tanggungharjo, Teguhan, Lebak dan Putatsari.

Kemudian, wilayah yang terkena banjir juga berada di Kelurahan Grobogan. Terutama di Kampung Pucang.

Dalam musibah ini, ada ratusan rumah yang sempat kemasukan air setinggi 10 cm sampai satu meter. Selain itu, air yang meluap dari Kali Senthe juga menerjang areal pertanian.

Banjir yang melanda beberapa desa tersebut mulai datang menjelang waktu Subuh. Namun, mulai pukul 10.00 WIB, banjir sudah mulai surut.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Hujan Sehari Semalam, Grobogan Banjir 

 

Banjir Grobogan juga Dipicu Akibat Luapan Sungai Lusi

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Camat Grobogan Amir Syarifuddin ketika dimintai komentarnya soal banjir menyatakan, beberapa desa di wilayahnya memang selalu langganan banjir setiap hujan deras datang. Namun, banjir yang menerjang biasanya tidak belangsung lama. Sekitar 1-3 jam sudah mulai surut seiring menurunnya debit Sungai Lusi.

“Seperti diketahui, aliran air Kali Senthe ini masuknya ke Sungai Lusi. Kalau Sungai Lusi penuh maka airnya meluap ke perkampungan. Nanti kalau debit Sungai Lusi turun maka airnya langsung menghilang,” katanya.

Selain di wilayah Grobogan, banjir juga terjadi di Kecamatan Geyer. Tepatnya, di seberang jembatan gantung yang menghubungkan Desa Suru dan Sobo.

Akibat banjir ini, akses menuju dua desa menjadi terganggu. Terutama bagi pengendara sepeda motor.

“Banjir di sekitar jembatan gantung hanya menggenangi jalan dan areal yang rendah saja. Untuk sementara tidak ada rumah warga yang kemasukan air,” terang Camat Geyer Aries Ponco.

Selanjutnya, bencana banjir juga sempat melanda dua desa di wilayah Kecamatan Brati. Masing-masing, Desa Tirem dan Lemahputih.

Di kedua desa ini, sekitar 100 rumah yang kebanjiran dengan ketinggian 20-40 cm. Kemudian, areal perawahan yang ada tanaman padi juga banyak yang tergenang.

“Pendataan bencana banjir masih kita lakukan. Namun, saat ini, air sudah mulai surut,” kata Camat Brati Bambang Lunto.

Diketahui, hujan yang mengguyur wilayah Grobogan sejak Kamis (29/12/2016) malam hingga Jumat (30/12/2016) siang menyebabkan bencana banjir di berbagai tempat. Meski tidak berlangsung lama, namun banjir yang melanda ini sempat bikin panik warga.

Dari pantauan lapangan, bencana banjir paling parah berada di Kecamatan Grobogan. Di wilayah ini sedikitnya ada empat desa yang dilanda bancana banjir. Yakni, Desa Tanggungharjo, Teguhan, Lebak dan Putatsari.

Kemudian, wilayah yang terkena banjir juga berada di Kelurahan Grobogan. Terutama di Kampung Pucang.

Dalam musibah ini, ada ratusan rumah yang sempat kemasukan air setinggi 10 cm sampai satu meter. Selain itu, air yang meluap dari Kali Senthe juga menerjang areal pertanian.

Editor : Akrom Hazami

Hujan Sehari Semalam, Grobogan Banjir

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Hujan yang mengguyur wilayah Grobogan sejak Kamis (29/12/2016) malam hingga Jumat (30/12/2016) siang menyebabkan bencana banjir di berbagai tempat. Meski tidak berlangsung lama, namun banjir yang melanda ini sempat bikin panik warga.

Dari pantauan lapangan, bencana banjir paling parah berada di Kecamatan Grobogan. Di wilayah ini sedikitnya ada empat desa yang dilanda bancana banjir. Yakni, Desa Tanggungharjo, Teguhan, Lebak dan Putatsari.

Kemudian, wilayah yang terkena banjir juga berada di Kelurahan Grobogan. Terutama di Kampung Pucang.

Dalam musibah ini, ada ratusan rumah yang sempat kemasukan air setinggi 10 cm sampai satu meter. Selain itu, air yang meluap dari Kali Senthe juga menerjang areal pertanian.

Banjir yang melanda beberapa desa tersebut mulai datang menjelang waktu Subuh. Namun, mulai pukul 10.00 WIB, banjir sudah mulai surut.

Tingginya curah hujan juga menyebabkan jalan di depan kantor Kecamatan Grobogan sempat tergenang. Akibatnya, arus kendaraan dari Purwodadi menuju Kudus dan Pati sempat tersendat di sekitar pertigaan Ketapang, depan kantor kecamatan.

Editor : Akrom Hazami

Hujan Sebentar, Pohon dan Kabel Telepon di Jepara Roboh

Jalan yang berada di depan RSI Sultan Hadirin Jepara digenangi air saat hujan turun, Senin (19/9/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jalan yang berada di depan RSI Sultan Hadirin Jepara digenangi air saat hujan turun, Senin (19/9/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Hujan lebat terjadi di wilayah Kota Jepara beberapa menit, Senin (19/9/2016).  Meski sejenak, hujan disertai angin itu mampu merobohkan sebuah pohon dan kabel telepon yang ada di jalan Yos Sudarso, sekitar depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jepara.

Salah satu saksi mata yang juga Komisioner KPU Jepara Subhan Zuchri yang melintaa di jalan tersebut mengatakan, hujan turun disertai angin yang cukup kencang. Akibatnya kabel Telkom putus dan pohon tumbang.

“Tiba-tiba saja ada kabel telepon milik Telkom putus. Selain itu juga ada pohon roboh di sisi belakang kantor Kodim, yang juga sisi depan kantor KPU Jepara,” ujar Subhan.

Setelah beberapa menit peristiwa pohon roboh dan kabel telepon putus. Hujan yang turun mereda. Diketahui, pohon yang roboh juga menimpa kendaraan roda dua yang terparkir di pinggi jalan. Selain itu, akibat peristiwa tersebut, sempat terjadi ketersendatan arus lalu lintas sepanjang jalan Yos Sudarso.

Petugas bersiap menangani pohon roboh di jalan Yos Sudarso, Jepara, Senin (19/9/2016) (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petugas bersiap menangani pohon roboh di jalan Yos Sudarso, Jepara, Senin (19/9/2016) (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Beruntung pohon yang roboh tidak menghalangi jalan lantaran arah robohnya ke samping atau di pinggir jalan. Hanya potongan kabel telepon yang putus saja yang sedikit mengganggu arus lalu lintas. Selain mengakibatkan pohon roboh dan kabel putus. Hujan yang turun kurang dari dua jam tersebut juga membuat sejumlah ruas jalan tergenang air. Salah satunya di depan RSI Sultan Hadirin Jepara.

Air yang menggenangi ruas jalan di depan RSI Sultan Hadirin cukup dalam. Terlihat air berasal dari luapan drainase yang tidak berfungsi dengan baik di sekitar lokasi.

Editor : Akrom Hazami

Hujan, Depan Perum Muria Asri Kudus Terendam Air

Warga melintasi jalan Kudus-Jepara di depan perumahan Muria Asri Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga melintasi jalan Kudus-Jepara di depan perumahan Muria Asri Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan lebat turun di Kudus, Senin (19/9/2016).  membuat beberapa wilayah terendam air. Seperti halnya di jalan Kudus-Jepara depan Perumahan Muria Asri, terjadi genangan air.

Ma’ruf, pengguna jalan di lokasi mengatakan, kedalaman genangan air hujan mencapai ketinggian 30 sentimeter. Padahal hujan yang mengguyur sekitar 20 menit saja

“Hujannya memang deras, meski hanya sebentar namun sangat lebat,” katanya saat melintasi genangan banjir.

Dia terpaksa harus hati-hati saat melintasi wilayah tersebut. Sebab jika tidak, maka bisa terjatuh dalam kubangan yang permukaannya tertutup air.

Berdasarkan pantauan, genangan membuat kendaraan tersendat. Sebab tingginya air berakibat kendaraan lebih berhati hati dalam melintasi wilayah tersebut, akibatnya, antrean kendaraan juga mengular pada ke barat dan timur jalan.

Beberapa kendaraan juga lebih memilih memutar kendaraan melintasi perkampungan di Desa Mijen. Itu dilakukan untuk menghindari ketersendatan.

Jalan lain yang juga mengalami genangan yakni kawasan Prambanan. Pada sisi bagian utara terjadi genangan air yang patut diwaspadai warga.

Editor : Akrom Hazami