Polres Blora Libatkan Puluhan Warganet untuk Perangi Berita Hoax

MuriaNewsCom, BloraUpaya untuk melawan adanya berita bohong atau hoax terus dilakukan Polres Blora. Terbaru, Polres Blora mengundang puluhan warganet yang selama ini aktif menggunakan media sosial untuk membantu memerangi berita hoax.

Pertemuan dengan warganet dilangsungkan di rumah makan Taman Sarbini Blora, Selasa (27/3/2018) malam. Kapolres Blora AKBP Saptono dan sejumlah perwira dan kapolsek hadir dalam pertemuan yang digelar dalam suasana santai itu.

Pada kesempatan itu kapolres sempat membagikan kaos kepada puluhan warganet yang diundang dalam acara tersebut. Kaos warna hitam itu bertuliskan ‘Netizen Mitra Polres Blora’ diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap warganet.

Setelah pembagian kaos, warganet kemudian mendeklarasikan pernyataan sikap menolak dan anti segala bentuk hoax, berita bohong, provokatif, sara dan ujaran kebencian. Warganet juga menyatakan sikap mendukung Polri dalam upaya penegakan hukum terhadap pembuat berita hoax.

“NKRI Yes ! Hoax No !” ucap puluhan warganet berbarengan.

Kapolres Blora AKBP Saptono mengajak warganet untuk bersikap bijak dalam menyikapi informasi di media sosial dan menjadi filter untuk menangkal berita hoax. Warganet juga diminta ikut mendukung terciptanya iklim yang aman dan kondusif. “Terlebih menjelang berlangsungnya Pilkada Jateng 2018 ini. Gawe Ayem lan Tentrem Wong Blora (bikin nyaman dan tenteram masyarakat Blora),” katanya.

Para warganet mengapresiasi pertemuan yang diadakan pihak Polres Blora tersebut. Mereka siap mendukung upaya yang dilakukan pihak kepolisian untuk menangkal berita hoax.

“Mewakil rekan-rekan netizen yang hadir, saya mengapresiasi kegiatan ini. Harapan saya tentu ada tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya. Sekaligus membahas program-program dan agenda kegiatan lainnya,” ujar Karsilo, seorang netizen dari  Kecamatan Cepu.

Editor: Supriyadi

Puluhan Anggota Karang Taruna di Grobogan Dibekali Cara Bijak Gunakan Medsos

MuriaNewsCom, Grobogan – Para anggota karang taruna di Grobogan diharapkan agar bisa bersikap bijak dalam memanfaatkan media sosial dan mewaspadai adanya berita bohong atau hoax. Hal itu disampaikan Paur Humas Polres Grobogan Aiptu Teddy Hernomo dihadapan puluhan anggota karang taruda dalam acara sosialisasi anti berita hoax di aula Mapolres, Kamis (22/3/2018).

“Seperti kita ketahui, medsos ini sudah digunakan oleh berbagai kalangan. Mulai anak-anak sampai orang tua sudah akrab dengan dunia medsos. Termasuk di dalamnya adalah adik-adik dari karang taruna ini. Untuk itu perlu dilakukan berbagai pemahaman supaya bisa menggunakan medsos dengan bijak,” katanya.

Menurut Teddy, hadirnya medos disatu sisi memang banyak sekali manfaatnya. Seperti menambah teman, memperluas jaringan, dan mencari berbagai informasi.

Namun, disisi lain, banyak pula hal-hal negatif yang ada dibalik medsos tersebut. Misalnya, banyak berita tidak benar atau hoax yang sering muncul dalam medsos.

“Keberadaan medsos memang seperti dua mata pisau. Banyak manfaat dan juga ada dampak negatifnya. Hal inilah yang harus jadi perhatian kita bersama,” jelasnya.

Untuk menekan dampak negatif, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah memberikan pemahaman tentang keberadaan media sosial tersebut. Termasuk peraturan perundangan yang mengatur masalah tersebut.

Kemudian, hal-hal yang perlu dihindari dalam penggunaan media sosial juga perlu disampaikan. Misalnya, hati-hati berteman dengan akun atau grup yang tidak dikenal, menampilkan konten yang tidak sesuai dengan etika, dan menghujat seseorang.

Selain itu, butuh pula dukungan pengawasan terhadap aktivitas yang dilakukan adik, teman atau saudara saat menggunakan fasilitas internet. Baik lewat komputer, laptop atau smartphone.

Sementara itu, Kasat Binmas Polres Grobogan AKP Wibowo menyatakan, sosialisasi anti berita hoax sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu pada berbagai kalangan. Kali ini, sasaran sosialisasi ditujukan pada para pemuda yang nantinya akan jadi mitra Kamtibmas Polres Grobogan.

“Seiring perkembangan zaman dan teknologi, para pemuda dan dapat menyikapinya dengan memanfaatkan fasilitas tersebut kepada hal-hal yang bermanfaat. Penggunaan media sosial perlu dilakukan secara bijak dan tidak menyebarkan berita-berita yang tidak benar atau hoax yang dapat mengakibatkan terjadinya gangguan kamtibmas,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Bupati Blora Minta Penyebar Berita Hoax Ditindak Tegas

MuriaNewsCom, Blora – Bupati Djoko Nugroho meminta kepada Polres Blora dan para penegak hukum lainnya untuk menindak tegas jika ada penyebar isu bermuatan SARA dan kabar bohong atau hoax dengan tujuan menganggu kondusifitas jelang digelarnya Pilkada serentak 2018 ini. Tindakan itu diperlukan mengingat berita seperti itu bisa mengancam keamanan wilayah mengingat saat ini sudah masuk tahapan kampanye Pilgub.

“Saya minta pihak Kepolisian, TNI, Panwaslu dan KPU menindak tegas bagi pelaku penyebar isu yang bersifat SARA,maupun yang membuat tidak nyaman di media sosial. Kalau memang ada yang menyebar isu bersifat SARA tindak tegas saja, karena dampaknya itu jika tidak ditindak akan meluas dan mebahayakan,” tegasnya saat menghadiri Focus Grup Discussion (FGD) Cipta Kondisi Pilkada Damai dan Tolak Radikalisme yang digelar Polres Blora, Rabu (28/2/2018).

Dalam acara itu, Djoko juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh jajaran Polres Blora dan aparat keamanan lainnya yang terus berupaya menjadikan wilayahnya selalu aman dan kondusif. Ia meminta agar kondisi seperti ini terus diwujudkan melalui kebersamaan di tengah-tengah masyarakat.

“Atas nama Pemerintah dan masyakarat Blora kami ucapkan terimakasih terkait kesiapsiagaan Polres Blora untuk terus menjaga Blora selalu nyaman, aman dan kondusif. Apalagi saat ini merupakan tahun politik, untuk itu agar wilayah selalu kondusif tentu perlu adanya kerja sama stakeholder terkait,” lanjutnya.

Djoko menyatakan, dalam waktu dekat akan mengundang semua pihak yang hadir dalam FGD tersebut untuk mengikuti acara serupa yang digelar Pemkab Blora. Dalam FGD nanti akan diberikan pemahaman mengenai regulasi yang berlaku dalam pelaksanaan Pilkada serentak.

“Sosialisasi-sosialisasi untuk masyarakat dari Panwas, KPU, tentang peraturan peraturan juga penting diberikan pada masyarakat. Dengan demikian, masyarakat nantinya bisa mengerti akan regulasi yang sudah ditentukan,” ucapnya.

Sementara itu Kapolres Blora AKBP Saptono menyatakan, seluruh jajarannya sudah siap untuk terus menjaga keamanan wilayah selama tahun politik. Baik untuk tahapan Pilgub, Pileg hingga Pilpres tahun depan. Ia menyatakan salah satu cara untuk menjaga kondusifitas dalam rangka mewujudkan keamanan adalah dengan mengadakan FGD dan sinergitas bersama seluruh stakeholder.

“Seperti FGD ini dimaksudkan untuk meminimalisir banyaknya isu yang beredar di beberapa daerah baik di Jawa Tengah maupun di daerah lainnya menjelang Pilkada serentak. Kami mengajak semua bisa bijak dalam menyikapi isu isu yang berkembang,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

KPID Jateng: Masyarakat Harus Cerdas Bermedia

MuriaNewsCom, Kudus – Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Tengah M Rofiuddin mengingatkan masyarakat untuk cerdas dalam menyerap informasi baik yang beredar di media massa maupun media sosial. Jangan sampai masyarakat terpengaruh dengan informasi hoax yang pada akhirnya mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Rofiuddin saat menjadi pembicara di hadapan puluhan anggota Karang Taruna Kecamatan Kota dalam acara sosialisasi UU Pers dan literasi media dengan tema ‘Desa Semarak Tanpa Hoax’ yang diselenggarakan oleh PWI Kudus di Hotel Proliman, Minggu (28/1/2018).

”Produk media sudah mengalami dekonstruksi sedemikian rupa sehingga kadang-kadang tidak bebas nilai,” kata Rodiuddin..

Menurutnya, masyarakat saat ini harus hati-hati dalam mengkonsumsi media. Apalagi, akhir-akhir ini banyak pemilik media yang juga aktif di politik praktis sehingga pemberitaannya tidak berimbang dan netral.

Rofiuddin menambahkan, pada dasarnya media massa harus menyuarakan kepentingan publik, bukan untuk kepentingan politik pribadi atau kelompok tertentu. Namun demikian, di era sekarang, banyak media yang justru menurut pada kehendak pasar sehingga masyarakat yang kemudian dirugikan.

Dicontohkan adalah siaran televisi dimana banyak acara-acara yang secara konten justru memberikan dampak negatif. Siaran televisi bisa mendorong perubahan atau pengaruh persepsi terhadap sesuatu, mengubah perilaku dan norma-norma (kesopanan) sosial, membuat orang lebih agresif, membuat hubungan kekeluargaan merenggang, merusak mata, menimbulkan kecemasan, perilaku seksual pranikah remaja, bahkan trauma.

“Tayangan TV juga bisa mendorong sikap konsumerisme. Untuk itu, kita sebagai masyarakat harus benar-benar selektif dalam memilih acara mana yang akan ditonton,” tandasnya.

Sementara, terkait dengan maraknya informasi hoax, menurut Rofiuddin menjadi persoalan tersendiri di saat masyarakat menggunakan media sosial. Sebab, di media sosial masyarakat kini tak hanya menjadi konsumen dari informasi, tapi justru bisa menjadi produsen informasi itu sendiri.

”Dengan sekali klik, share, secara tidak sadar orang bisa menyebarkan informasi ke ribuan orang. Jika tidak hati-hati, justru informasi hoax yang akan tersebar dan bisa diyakini masyarakat sebagai informasi yang benar.

Oleh karena itu, di hadapan peserta Rofiuddin meminta para anggota Karang Taruna bisa menjadi agen literasi media dengan menyosialisasikan bagaimana memilah-milah informasi mana yang baik dan bermanfaat.

”Tak hanya informasi yang benar, tapi informasi yang boleh disebar juga harus bermanfaat. Jika tidak, lebih baik tidak usah disebar,” tandasnya.

Sementara Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kholid Seif yang hadir mengapresiasi langkah PWI Kabupaten Kudus untuk terus menggalakkan kampanye tanpa hoax. Apalagi dalam kegiatan tersebut, juga ada banyak materi lain yang diberikan seperti cara pengelolaan website yang tentu akan bermanfaat bagi pengembangan kreatifitas generasi muda di desa-desa.

Editor: Supriyadi

Info Pesta Durian di Kudus Menyesatkan

Kabar pesta durian yang tersebar di sejumlah media sosial. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Belakangan tersebar kabar adanya pesta durian di Kudus. Bahkan, kabar tersebut juga dilengkapi dengan poster Pesta Durian yang terdapat logo Pemkab Kudus di dalamnya.

Kabar ini beredar luas di media sosial dan aplikasi perpesanan seperti WA dan BBM. Dalam foto poster yang beredar dituliskan jika pesta durian itu akan digelar di Bumi Perkemahan Kajar, Dawe pada 9 Desember 2017.

Di selebaran itu juga disebutkan hanya dengan membayar Rp 50 ribu saja, pengunjung bisa memakan dan membeli durian sepuasnya. Namun Pemkab Kudus memastikan jika kabar tersebut adalah bohong.

Kadinas Komunikasi dan Informatika Kudus, Kholid Seif menyatakan, Pemkab Kudus tak menyelenggarakan pesta durian.

“Kabar tersebut tidak benar. Kami juga sudah melakukan kordinasi dangan instansi terkait seperti Dinas Pertanian. Dan dinyatakan kalau kabar itu hoax,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (5/12/2017).

Hal senada juga diungkapkan Kepala Disbudpar Kudus, Yuli Kasianto. Menurut Yuli, Pemkab Kudus tak ada acara semacam itu. Meskipun dalam gambar dituliskan dari pemkab dan visit Indonesia. “Itu hoax, tak ada agenda tersebut,” jawabnya singkat.

Sebelumnya kabar seperti ini juga beredar di sejumlah derah. Kabar adanya pesta durian menyesatkan juga tersebar di Pati, Temanggung, Jepara, dan lainnya.

Editor : Ali Muntoha

Diisukan Bangkrut, Sebuah Toko Emas di Kesesi Pekalongan Diserbu Warga

Warga menyerbu sebuah toko emas di depan Pasar Kesesi, Kabupaten Pekalongan. (Humas Polres Pekalongan)

MuriaNewsCom, Pekalongan – Gara-gara diisukan toko emas akan bangkrut oleh oknum tidak bertanggung jawab, masyarakat di Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, berbondong-bondong menyerbu sebuah toko emas di depan pasar Kesesi. Tujuannya untuk menjual kembali emasnya.

Berita ‘hoax’ yang menyebar di kalangan masyarakat berdampak sangat besar. Terutama bagi mereka yang pernah membeli emas di toko tersebut. Banyak warga yang menelan mentah-mentah berita tersebut tanpa mencari kebenaranya terlebih dahulu.

Sampai saat ini masih banyak warga yang datang untuk menjual emasnya, karena info ‘hoax’ bahwa toko emas tersebut akan bangkrut.

Kapolsek Kesesi AKP Prajoko Umar bersama anggota mengamankan lokasi dan memberitahukan kepada masyarakat. “Bahwa berita tersebut adalah berita bohong. Polsek Kesesi Polres Pekalongan masih menyelidiki kasus ini dan mencari pelaku penyebar berita hoax ini,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

Pemilik Akun Facebook Penghina Kapolrestabes Semarang Dipolisikan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Semarang  – Organisasi Kemasyarakatan Garda Nasional Patriot Indonesia melaporkan pemilik akun Facebook Budi Akbar III ke polisi karena mengunggah konten yang diduga menghina Kapolrestabes Semarang.

Dilansir dari Antarajateng.com, Ketua Umum Ganaspati Ratya Mardika Tata Koesoema melaporkan pemilik akun Facebook tersebut atas unggahan ujaran kebencian ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah di Semarang, Rabu (19/10/2017).

Menurut Ratya akun tersebut sudah beberapa kali mengunggah konten yang izinya menghina institusi kepolisian. “Setidaknya ada tiga unggahan yang berkaitan dengan Kapolrestabes Semarang,” katanya.

Unggahan yang ditujukan terhadap kapolrestabes itu, lanjut dia, berawal sekitar beberapa bulan lalu ketika kepolisian melarang pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh salah satu kelompok tertentu.

Menurut dia, unggahan yang berisi ujaran kebencian serta berupa gambar tersebut sudah dilaporkan kepada Kapolrestabes Semarang. “Tapi kali ini kami laporkan secara resmi ke polisi,” ujarnya.

Dari informasi yang diperoleh, lanjut dia, akun tersebut diketahui asli dan ada pemiliknya.

Terpisah, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah Kombes Pol Lukas Akbar Abriari mengatakan laporan tersebut akan didalami terlebih dahulu. “Sejauh mana penghinaan yang dilakukan, masih kami dalami,” kata Lukas.

Menurut dia, penghinaan yang dilakukan melalui media massa tersebut bisa dijerat dengan Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Editor : Akrom Hazami

 

FOTO : “Kudus Semarak Tanpa Hoax”

Warga ikut mengkamapanyekan anti hoax dengan tema Kudus Semarak Tanpa Hoax. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

MuriaNewsCom,Kudus – Maraknya berita bohong (Hoax) di media sosial membuat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kudus melakukan kampanye Anti Hoax dengan tema “Kudus Semarak Tanpa Hoax” di acara Car Free Day (CFD) di Simpang Tujuh Kudus, Minggu (16/4/2017).

 

Berikut ini foto-foto kegiatan kampanye anti hoax yang diprakarsai PWI Kudus.

 

 

 

Sekda Kudus Noor Yasin bersama beberapa pejabat di lingkup Pemkab Kudus. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning bersama beberapa awak media. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

Anak-anak pun ikut mengkammpanyekan anti hoax. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

Sekda Kudus Noor Yasin (empat dari kiri) bersama pejabat di lingkup Pemkab Kudus dan Ketua PWI Kudus Saiful Anas (kiri) mengkampanyekan “Kudus Semarak Tanpa Hoax” (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

Kepala Disbudpar Kudus Yuli Kasiyanto bersama beberapa pejabat menoerhkan tanda tangan untuk mendukung kampanye anti hoax. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

Warga ikut membubuhkan tanda tangan untuk mendukung kampanye anti hoax. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

Salah satu penampilan komunitas pantonim Kudus dalam acara Semarak Kudus Tanpa Hoax. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

 

Pikir Ulang Jika Mau Sebarkan Hoax, Ini Peringatan dari Polisi

Kapolres Kudus AKPB Agusman Gurning (tengah) saat foto bersama. Ia menegaskan bahwa ada ancaman pidana bagi masyarakat yang dengan sengaja menyebarkan informasi palsu atau hoax. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

MuriaNewsCom, Kudus – Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning  mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Ia menegaskan bahwa ada ancaman pidana bagi masyarakat yang dengan sengaja menyebarkan informasi palsu atau hoax, yang berpotensi menimbulkan gejolak di masyarakat.

“Bagi Anda yang suka mengirimkan kabar bohong (hoax), atau bahkan cuma sekadar iseng mendistribusikan (forward), harap berhati-hati. Ancamannya tidak main-main, bisa kena pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar,” ujar Kapolres dalam acara kampanye anti hoax yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kudus di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (16/4/2017).

Dia menjelaskan, pelaku penyebar hoax bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE. Di dalam pasal itu disebutkan, setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.

Baca juga : Jangan Asal Share Berita Tidak Jelas, Yuk Jadi Pembaca yang Cerdas

 

Oleh karena itu, pihaknya mengingatkan kepada pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab yang menyebarkan isu demikian tidak melakukan lagi.

Kapolres meminta masyarakat selektif terhadap informasi yang mereka terima. Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya dengan isu-isu yang berkembang di media sosial.

Editor : Kholistiono

Isu Penculikan Anak untuk Dijual Organnya di Pati Dipastikan Hoax

Muspika Trangkil menyampaikan kepada para kepala desa terkait isu peletan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Masyarakat Pati saat ini dibayang-bayangi dengan adanya isu penculikan anak yang akan dijual bagian organ tubuhnya. Akibatnya, masyarakat mencurigai orang asing yang ada di kampungnya, seperti pengemis, gelandangan, atau pengamen.

Kendati imbauan dari pihak kepolisian untuk tidak main hakim sendiri sudah dilayangkan, sejumlah masyarakat masih terbawa itu tersebut. Hal itu yang membuat Kapolsek Wedarijaksa AKP Rochana Sulistyaningrum menyampaikan informasi tersebut dalam rapat koordinasi kecamatan (rakorcam) di Trangkil.

Dalam rakorcam yang dihadiri musyawarah pimpinan kecamatan (muspika), kepala dinas se-Kecamatan Trangkil, para kepala seksi, dan para kades tersebut, AKP Sulis menyampaikan bahwa isu penculikan anak yang akan dijual organ tubuhnya merupakan berita bohong. “Isu itu tidak benar. Mohon bila ada masyarakat yang tidak dikenal dan mencurigakan, lapor saja polisi jangan main hakim sendiri,” pesan Sulis di Pati.

Di wilayah Wedarijaksa, Trangkil dan sekitarnya, lanjut Sulis, masyarakat sudah lama mengenal penculik anak dengan istilah peletan. Seorang peletan diisukan mengincar anak-anak untuk dijual, baik untuk persembahan ritual maupaun dijual organ tubuhnya dengan harga yang fantastis di pasar gelap.

“Isu ini menyebar luas dari mulut ke mulut, sehingga tidak jarang orang asing banyak yang dicurigai. Waspada itu perlu dan sangat kami sarankan. Tapi, jangan sampai main hakim sendiri, serahkan saja kepada polisi,” pesannya.

Sementara itu, Camat Trangkil Teguh Suwito mengaku sudah menginformasikan isu itu kepada masing-masing kepala desa. Para kepala desa diharapkan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat untuk tidak main hakim sendiri. Bila ada orang asing dengan gelagat mencurigakan, dia meminta menyerahkannya kepada pihak berwajib.

Editor : Akrom Hazami

Antisipasi Info Hoax, Guru dan Wali Murid SD Al Firdaus Purwodadi Dapat Tips dan Trik Keren

Paur Humas Polres Grobogan Aiptu Teddy Hernomo saat menyampaikan sosialisasi cara bijak menggunakan medsos pada wali murid dan guru SD Al Firdaus Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ratusan guru dan wali murid SD Al Firdaus Purwodadi mendapat pembekalan khusus terkait penggunaan media sosial (medsos) dari Polres Grobogan, Sabtu (25/2/2017). Acara pembekalan disampaikan Paur Humas Polres Grobogan Aiptu Teddy Hernomo tersebut.

“Seperti kita ketahui, medsos ini sudah digunakan oleh berbagai kalangan. Mulai anak-anak sampai orang tua sudah akrab dengan dunia medsos,” kata Teddy.

Hadirnya medos di satu sisi memang banyak sekali manfaatnya. Seperti menambah teman, memperluas jaringan, dan mencari berbagai informasi.

Namun, disisi lain, banyak pula hal-hal negatif yang ada di balik medsos tersebut. Misalnya, banyak berita tidak benar atau hoax yang sering muncul dalam medsos.

“Keberadaan medsos memang seperti dua mata pisau. Banyak manfaat dan juga ada dampak negatifnya. Hal inilah yang harus jadi perhatian kita bersama,” jelasnya.

Untuk menekan dampak negatif, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah memberikan pemahaman tentang keberadaan media sosial tersebut. Termasuk peraturan perundangan yang mengatur masalah tersebut.

Kemudian, hal-hal yang perlu dihindari dalam penggunaan media sosial juga perlu disampaikan. Misalnya, hati-hati berteman dengan akun atau grup yang tidak dikenal, menampilkan konten yang tidak sesuai dengan etika, dan menghujat seseorang.

Selain itu, butuh pula dukungan pengawasan dari orang tua terhadap aktivitas yang dilakukan anaknya menggunakan fasilitas internet. Baik lewat komputer, laptop atau ponsel pintar.

“Penting bagi orangtua untuk dapat memastikan keamanan anak-anaknya saat berinteraksi di media sosial. Jangan biarkan begitu saja ketika anak sudah asyik main internetan,” sambungnya.

Terkait pengawasan dari orang tua tersebut juga terdapat kendala. Banyak orang tua yang justru tidak paham dengan dunia internet termasuk medsos. Bahkan, banyak pula yang tidak menggunakan ponsel canggih seperti yang dipakai anaknya.

“Nah, hal ini juga jadi persoalan tersendiri. Untuk pengawasan, kita juga bisa minta bantuan saudara lainnya yang lebih paham atau guru di sekolahan. Pada prinsipnya upaya pengawasan dan memberikan pemahaman perlu terus dilakukan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami