Ngeri, 20 Ribu Siswa SMP dan SMA di Jateng Terinveksi HIV/AIDS

Ilustrasi (Pixabay)

MuriaNewsCom, Semarang – Fakta mengejutkan diungkap Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah tentang penyebaran penyakit HIV/AIDS di Jawa Tengah. Di provinsi ini setidaknya ada 20 ribu pelajar tingkat SMP dan SMA yang terinfeksi penyakit mematikan tersebut.

Ini diungkapkan Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru P, dalam lokakarya bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jateng, di Gedung BNNP Jateng, Rabu (6/12/2017) lalu.

Menurut dia, dengan banyaknya siswa yang sudah terifeksi penyakit ini, cukup merisaukan. Pihaknya akan melakukan pemeriksaan di sekolah-sekolah, karena penularan HIV/AIDS seringkali melalui jarum suntik saat menggunakan narkoba.

”Untuk 2018 mendatang, kami akan menggalakkan pemeriksaan kesehatan di semua sekolah,” katanya.

Ia merinci, kasus penularan HIV/AIDS tertinggi pada kaum heteroseksual, yakni mencapai 85,57 persen. Kemudian disusul penularan akibat penggunaan jarum suntik (penasun) mencapai 5,17 persen, perinatal mencapai 5,23 persen, homoseksual 4,69 persen, sisanya akibat transfusi darah mencapai 0,13 persen.

Ia menyebut kasus ini cukup mengagetkan. Apalagi, penggunaan jarum suntik untuk mengonsumsi napza semakin marak digunakan di kalangan pelajar sekolah. Jumlahnya kian meningkat setiap tahun. Sehingga kasus penularan HIV/AIDS juga ikut naik.

“Banyak korban dari kalangan pelajar yang tiba-tiba terjangkit virus mematikan ini. Kami sangat menyayangkan banyaknya penggunaan jarum suntik untuk mengonsumsi narkotika. Sebab ini justru menularkan virus HIV/AIDS,” jelasnya.

Pihaknya akan menggandengan Dinas Kesehatan dan KPA untuk menggelar tes darah secara rutin bagi para pelajar di Jateng. 

Ia pun mengingatkan kepada masyarakat Jawa Tengah agar memperbaiki pola hidupnya agar menjadi lebih sehat. HIV/AIDS, menurutnya jadi ancaman nyata yang harus ditanggulangi secepatnya.

“Penggunaan napsa dengan jarum suntik merupakan pemicu utama penularan HIV/AIDS. Karenanya saya mendorong kepada semua pihak untuk ikut menanggulangi. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di Jateng,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Peringati Hari AIDS, Mahasiswa Tebar Seribu Bunga di Pati

Salah satu mahasiswa KMPP membagikan bunga untuk memperingati Hari AIDS sedunia di Alun-alun Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati selalu masuk jajaran tiga besar yang menjadi daerah dengan penderita HIV/AIDS terbesar di Jawa Tengah. Hal itu yang mengundang keprihatinan Keluarga Mahasiswa dan Pelajar Pati (KMPP) Semarang.

Mereka menebar seribu bunga yang dibagikan di kawasan Alun-alun Pati untuk memperingati Hari AIDS sedunia. “Kami prihatin karena temuan dan penyebaran HIV/AIDS di Pati sangat tinggi,” ujar Ketua KMPP Semarang, Agus Kurniawan, Senin (4/12/2017).

Aksi tebar seribu bunga diakui sebatas upaya seremonial untuk memperingati Hari AIDS. Namun, aksi itu menjadi bermakna ketika penerima bunga juga diberi pemahaman tentang sejumlah gaya hidup yang mendekatkan diri pada penularan HIV/AIDS.

“Kita juga berikan pemahaman kepada penerima bunga untuk menghindari gaya hidup yang berpotensi terkena HIV/AIDS. Misalnya saja seks bebas,” ucap Agus.

Tak hanya itu, imbauan untuk tidak menjauhi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) diserukan. Mereka menyarankan untuk menghindari penyakitnya, bukan orangnya.

Bupati Pati Haryanto yang mengikuti agenda tersebut mengatakan, temuan HIV/AIDS di Pati mengindikasikan keberhasilan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan instansi terkait dalam mengidentifikasi penderita HIV/AIDS.

Menurutnya, daerah dengan temuan HIV/AIDS yang sedikit belum tentu bebas HIV/AIDS. Jika tidak terdeteksi, kondisi itu justru dinilai sangat mengawatirkan karena bersifat laten dan tersembunyi.

Karena itu, dia mengapresiasi mahasiswa yang sudah ikut memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat akan lebih berhati-hati dan menghindari aktivitas yang berisiko terpapar HIV/AIDS.

Seusai menebar seribu bunga, mereka ikut menandatangani statement bersama untuk stop memberikan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Mereka juga akan menyetop HIV/AIDS dengan perilaku hidup sehat dan menghindari aktivitas yang berisiko HIV/AIDS.

Editor : Ali Muntoha

Pati Masuk Zona Merah HIV/AIDS, Begini Sikap Pemkab

Wakil Bupati Pati Saiful Arifin saat memberikan sambutan pada peringatan Hari AIDS sedunia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati saat ini masuk kategori zona merah terkait dengan temuan kasus HIV/AIDS yang mengalami peningkatan. Hal itu mengundang rasa prihatin dari Pemkab Pati.

Wakil Bupati Pati Saiful Arifin meminta kepada semua pihak untuk tidak menyepelekan masalah tersebut. Sebab, angka temuan kasus HIV/AIDS di Pati termasuk cukup tinggi.

“Dari 1996 sampai sekarang, sudah ada 1.168 temuan. Dari ribuan temuan itu, penderita yang meninggal dunia mencapai 159 orang,” ujar Arifin, Kamis (16/11/2017).

Bahkan, selama 2017, temuan kasus HIV/AIDS sudah mencapai 101 orang. Karena itu, Pati masuk kategori zona merah HIV/AIDS, lantaran masuk dalam jajaran sepuluh besar temuan kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah.

Di satu sisi, temuan itu merupakan keberhasilan dalam mengungkap penyebaran HIV/AIDS. Artinya, orang akan menjadi lebih waspada terhadap aktivitas yang berisiko menyebabkan terkena penyakit HIV/AIDS.

Selain itu, orang yang diketahui menderita HIV/AIDS juga bisa segera mendapatkan penanganan khusus. Namun, di sisi lain, temuan yang meningkat mengindikasikan penyebaran penyakit menular itu secara signifikan.

Karena itu, Arifin meminta kepada semua masyarakat, terutama pemuda untuk melakukan kegiatan positif. Hal itu untuk mencegah dan menanggulangi risiko penularan HIV/AIDS.

“Kegiatan positif bisa melalui banyak cara, seperti aktif menjadi agen-agen organisasi Karang Taruna misalnya. Dengan demikian, mereka punya kegiatan dan kesibukan yang positif sehingga bisa menjaga diri agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif yang rentan terkena penularan HIV/AIDS,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ribuan Warga Pati Terkena HIV/AIDS, 164 Orang Meninggal Dunia

Ilustrasi 

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 1.167 warga di Kabupaten Pati diketahui terinfeksi HIV/AIDS. Ironisnya, dari ribuan yang terdampak tersebut, 164 orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah tersebut merupakan jumlah akumulatif dari tahun 1996 hingga sekarang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Pati Joko Leksono Widodo mengatakan, pengungkapan kasus HIV/AIDS di Pati sebetulnya sebuah kerja yang bagus.

Baca Juga: Ini Identitas Korban Tewas Viar VS Trailer di Terban Kudus

Menurut dia, kasus HIV/AIDS akan lebih berbahaya jika tidak bisa diungkap, karena pemerintah tidak akan bisa melakukan tindakan dan langkah antisipasi.

“Kalau tidak diungkap justru berbahaya. Malah bisa menular dengan cepat dan penderita tidak mendapatkan bantuan maupun pertolongan,” kata Joko, Senin (2/10/2017).

Dia mencontohkan, sejumlah daerah di 35 kabupaten atau kota di Jawa Tengah memang ada yang memiliki angka HIV/AIDS rendah. Namun, itu tidak bisa jadi patokan bila daerah tersebut minim terdampak HIV/AIDS.

Kondisi itu disebut ada dua kemungkinan. Pertama, warganya memang tidak terjangkit HIV/AIDS. Kedua, banyak penderita HIV/AIDS yang belum terungkap di permukaan sehingga justru lebih berbahaya.

Karena itu, pihaknya memberikan apresiasi kepada instansi terkait yang sudah aktif menemukan penderita HIV/AIDS baru di Pati. Dengan begitu, mereka akan mudah teridentifikasi sehingga mudah mendapatkan penanganan.

Editor: Supriyadi

4 PSK Kena HIV/AIDS di Gunung Kemukus Sragen

Sebuah papan peringatan yang terpasang di kompleks Gunung Kemukus Sragen. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Sragen – Empat orang  pekerja seks komersial (PSK) di kompleks Gunung Kemukus Sragen, positif terkena HIV/AIDS. Mereka biasa beroperasi di lokasi tersebut setiap harinya.

Ketua Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Sukowati mengatakan, pihaknya bersama tim gabungan Puskesmas Sambungmacan serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sragen, Kamis (28/9/2017), memeriksa kesehatan 68 wanita PSK di Gunung Kemukus.

“Saat pemeriksaan kesehatan,  ternyata yang datang hanya empat orang. Dia mengatakan kemungkinan PSK lain yang positif HIV/AIDS sudah pindah ke tempat lain,” kata Ketua KDS Sukowati, Ririn Hanjar Susilowati, Jumat (29/9/2017), dilansir dari solopos.com.

Ririn lewat KDS Sukowati mendampingi dan membuka konseling kepada para PSK yang positif HIV/AIDS. Dia menilai mereka itulah yang berisiko menularkan ke orang lain atau yang negatif tertular dari orang lain.

Untuk pengobatannya, kata dia, ada yang dirujuk ke RSUD dr Soeratno Gemolong yang juga memiliki fasilitas pengobatan HIV/AIDS. Ririn menyampaikan para WTS itu ada yang berasal dari Kalijambe, Miri, Jepara, dan daerah lain di luar Sragen.

Kabid Ketentraman, Ketertiban Masyarakat, dan Linmas Satpol PP Sragen, Sugeng Priyono, menyampaikan Satpol PP ke Kemukus dengan tujuan untuk menggali informasi tentang jumlah karaoke/penginapan dan WTS yang ada di kawasan itu sebagai bahan awal dalam penataan Gunung Kemukus.

“Data yang berhasil saya himpun itu ada 72 unit karaoke/penginapan dan 73 WTS yang mangkal di Gunung Kemukus. Mereka ini yang mendapat pendampingan dari puskesmas, KDS Sukowati, dan Fatayat NU,” tambah dia.

Editor : Akrom Hazami

960 Kasus HIV/AIDS Terjadi di Cilacap

Foto Ilustrasi (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Cilacap – Sebanyak 960 kasus “Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS)” terjadi di Kabupaten Cilacap, hingga bulan Juni 2017.

“Seperti kita pahami bersama bahwa epidemi HIV/AIDS sudah sangat mengkhawatirkan. Data kasus HIV/AIDS dari waktu ke waktu masih menunjukkan peningkatan, baik jumlah kasus maupun penyebaran populasi mereka yang terpapar,” kata Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji di Cilacap, Selasa (12/9/2017) dikutip dari Antarajateng.com.

Bupati mengatakan hal itu saat membuka kegiatan “Workshop Set Up Implementasi Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS (P2HA) di Tempat Kerja” yang diselenggarakan oleh Pertamina Refinery Unit IV Cilacap bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Cilacap, Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Cilacap, serta Dinas Kesehatan Cilacap di Gedung Patra Graha, Cilacap, yang diikuti perwakilan dari sejumlah perusahaan.

Lebih lanjut, dia mengatakan dari 960 kasus HIV/AIDS tersebut, 30 persennya berada pada komunitas pekerja dan 27 persen merupakan ibu rumah tangga. Menurut dia, hal itu menunjukkan adanya pergeseran populasi penderita yang semula didominasi oleh kelompok risiko tinggi, saat ini telah masuk ke ranah masyarakat umum dan keluarga.

“Selanjutnya, perlu kita ketahui bersama bahwa pemerintah melalui Strategi Penanggulangan HIV dan AIDS telah menetapkan pada tahun 2030 tercapai ‘Three Zero’ HIV dan AIDS yang bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan epidemi HIV/AIDS di Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan “Three Zero” tersebut terdiri atas menurunkan jumlah kasus baru HIV, menurunkan angka kematian akibat HIV, serta menurunkan stigma dan diskriminasi. Menurut dia, ketidakpahaman tentang HIV/AIDS menyebabkan stigma dan diskriminasi yang tidak perlu serta tidak sesuai dengan prinsip penanggulangan HIV secara menyeluruh. 

“Pekerja sebagai salah satu kelompok masyarakat yang strategis dan produktif wajib mendapatkan pelindungan termasuk perlindungan dari terpapar HIV/AIDS. Banyak pekerja berhadapan dengan kondisi dan situasi kerja yang rentan serta berisiko tertular atau menularkan HIV,” ungkapnya.

Oleh karena itu, kata dia, perlu pengelolaan yang baik di tempat kerja mengingat tempat kerja merupakan wilayah yang strategis untuk intervensi pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Secara khusus, lanjut dia, program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja telah diatur melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja yang wajib diimplementasikan di tempat kerja masing-masing.

Dalam kesempatan itu, bupati menyampaikan selamat dan sukses kepada Pertamina RU IV Cilacap yang telah dua tahun berturut-turut memperoleh penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja dalam program penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja.

“Walaupun penghargaan bukan merupakan tujuan utama, tetapi apa yang telah dilakukan Pertamina RU IV Cilacap, saya harapkan dapat memotivasi perusahaan-perusahaan lain agar mau terlibat dan peduli dalam program penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja,” katanya. 

Saat ditemui usai kegiatan, bupati mengharapkan perusahaan-perusahaan yang ada di Cilacap mengikuti jejak Pertamina RU IV Cilacap dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja.

Sementara itu, Pejabat Sementara General Manager Pertamina RU IV Cilacap Yosua Nababan mengatakan dengan adanya berbagai proyek berdampak pada banyaknya tenaga kerja dari luar yang masuk wilayah Cilacap. “Namun kami mengutamakan tenaga kerja dari Kabupaten Cilacap,” kata dia yang juga Senior Manager Operation and Manufacturing Pertamina RU IV Cilacap.

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memunculkan penyebaran HIV/AIDS karena sifat pekerjaan itu sendiri. Oleh sebab itu, kata dia, pihaknya terus menggalakkan kegiatan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS sebagai upaya mendukung program pemerintah.

Dengan demikian, lanjut dia, keberadaan Pertamina RU IV Cilacap dapat dirasakan masyarakat khususnya dalam hal kepedulian terhadap penanggulangan HIV/AIDS.

Editor : Akrom Hazami

 

Dihadiri Aktor Pong Harjatmo Peserta Evaluasi Penanggulangan HIV/AIDS di Grobogan Kaget

ping e

Aktor senior Pong Harjatmo saat menyampaikan motivasi pada peserta Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Kegiatan Pengendalian HIV-AIDS. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Para peserta Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Kegiatan Pengendalian HIV-AIDS Semester I yang digelar di rumah makan Danau Resto Purwodadi, Rabu (25/5/2016) sempat bikin kaget para peserta yang berasal dari tenaga medis puskesmas.

Hal ini terkait dengan adanya aktor senior Pong Harjatmo yang tiba-tiba hadir dalam acara tersebut. Aktor berusia 73 tahun itu datang bersama Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Grobogan Thoha Karim Amrullah.

Dalam kesempatan itu, Pong sempat melontarkan kepirhatinannya dengan adanya kasus HIV/AIDS yang ada di Grobogan. Hal itu membuktikan kalau penyebaran penyakit mematikan itu sudah merata.

Tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja. Tetapi juga sudah menjangkau ke kota-kota kecil. Bahkan, sudah ada pula yang menjangkau wilayah kecamatan.

“Ini merupakan persoalan yang sangat serius. Harus dilakukan upaya bersama-sama dari berbagai pihak untuk menekan penyebaran penyakit ini,” cetus aktor yang sudah membintangi puluhan film itu.

Menurut Pong, munculnya penyakit tersebut sudah pasti ada penyebabnya. Seperti banyaknya perilaku tidak sehat sebagian orang atau adanya prostitusi di daerah tersebut.

’’Segala sesuatu pasti ada sebabnya. Tidak mungkin suatu akibat muncul tanpa ada penyebabnya. Sebab-sebab ini harus dicari sehingga bisa ditemukan solusi yang tepat,’’ cetus Pong sambil memotivasi para petugas penanggulangan HIV/AIDS agar selalu bersemangat dalam menjalankan tugasnya.

Sementara itu, Kasi Pengendalian Penyakit pada Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Grobogoan Gunawan Widiyanto menyatakan kegiatan pertemuan tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat. Tujuannya, untuk mencari solusi pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS di Grobogan.

“Acara ini kita gelar dua hari, mulai kemarin dan hari ini. Selain petugas medis puskesmas, kita juga melibatkan berbagai elemen masyarakat. Terkait hadirnya Pak Pong Harjatmo ini tadi bukan kita undang tetapi atas inisiatif pribadi datang kesini karena diajak oleh Ketua FKUB. Kami merasa senang atas kesediaan beliau menghadiri acara ini guna memberikan motivasi,” katanya.
Editor : Akrom Hazami

 

 

Manfaatkan Tumbuhan Herbal, ODHA di Pati Akan Bikin Obat HIV/AIDS

hiv 2 e

Ari Subekti (ketiga dari kanan) menjelaskan kelangkaan obat ARV jenis lamivudine di Pati saat berada di Gudang Farmasi Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Langkanya ketersediaan obat HIV/AIDS jenis lamivudine sediaan tunggal membuat orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Pati berpikir keras supaya bisa bertahan hidup. Salah satunya dengan memanfaatkan tumbuhan herbal sebagai obat pengganti alternatif.

Koordinator Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Rumah Matahari, Ari Subekti, Selasa (17/5/2016) mengatakan, jenis tumbuhan yang bisa dijadikan obat pengganti alternatif di antaranya temulawak, bintangur, kantong semar, anggrek raksasa, dan candan.

“Temulawak bisa meningkatkan nafsu makan dan meningkatkan kekebalan tubuh. Dengan demikian, penyakit tidak mudah datang. Sebab, prinsip obat ARV adalah membantu ODHA agar sistem kekebalan tubuhnya stabil,” kata Ari.

Sementara itu, pohon bintangur selama ini dipercaya bisa menggantikan peran obat ARV untuk ODHA. Ia berharap agar pemerintah juga mengembangkan obat HIV/AIDS dari alam, sehingga ketergantungan pada obat kimia bisa diantisipasi.

“Sebetulnya obat herbal itu bagus. Sayangnya, obat HIV/AIDS dari herbal belum banyak dikembangkan. Terlebih, kebanyakan tanaman itu adanya dari luar Jawa. Namun, kita coba untuk temulawak. Lagi-lagi, kita terkendala upaya produksi dalam jumlah banyak. Kita akan pertimbangkan lebih lanjut,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Tragis! Bocah 9 Tahun di Pati Tewas Kena HIV/AIDS

Sejumlah aktivis pendamping ODHA "Rumah Matahari" tengah berdiskusi di sekretariat Jalan P Sudirman Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah aktivis pendamping ODHA “Rumah Matahari” tengah berdiskusi di sekretariat Jalan P Sudirman Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Malang sekali nasib seorang bocah, salah satu warga Pati yang masih berusia sembilan tahun harus meninggal dunia karena menderita penyakit HIV/AIDS. Bocah itu berinisial A.

Bocah itu sama sekali tidak tahu apa itu seks bebas, narkoba, dan tindakan berisiko HIV/AIDS lainnya. Namun, bocah yang sering sakit-sakitan itu ternyata mengindap HIV/AIDS yang tidak diketahui orang tuanya.

Kasus itu diungkap Koordinator Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Rumah Matahari, Ari Subekti yang saat ini konsentrasi mendampingi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Ia menduga, A mengidap HIV/AIDS sejak lahir.

“Kami menduga, bocah itu mengidap HIV/AIDS sejak lahir atau waktu sang ibu menyusui. Karena itulah jalan satu-satunya bagi anak kecil tertular virus HIV,” ungkap Ari saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Kamis (7/4/2016).

Setelah dicek, sang ibu ternyata dinyatakan positif HIV. Namun, ibunya sendiri diakui tidak pernah melakukan tindakan yang berisiko HIV/AIDS. Suaminya sendiri sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu.

“Bocah itu pertama kali dikira mengidap gizi buruk, bertahun-tahun tidak tahu apakah positif HIV atau tidak. Bertahun-tahun pula tanpa obat ARV karena tidak tahu,” katanya.

Bocah malang itu akhirnya meninggal dunia, setelah dirawat di rumah sakit selama seminggu. Karena itu, Ari menyarankan supaya masyarakat berisiko HIV bisa melakukan tes untuk mengenali lebih dini.
“Lebih baik berhasil dideteksi dini daripada tiba-tiba menderita penyakit kronis akibat HIV dan meninggal dunia. Jangan takut tes VCT. Itu lebih baik untuk segera mendapatkan pengobatan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : 2016, 7 Orang di Pati Meninggal Diserang HIV/AIDS 

Rembang Tekan Penyebaran HIV/AIDS Sampai Segininya

hiv_01

REMBANG – Kasus penyebaran HIV di Rembang sejak 10 tahun terakhir mengkhawatirkan. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk menekan angka penyebaran virus mematikan itu dengan menjaga perilaku dan hidup sehat.

Hal itu disampaikan Penjabat Bupati Rembang, Suko Mardiono pada apel Bersama Memperingati Hari HIV/AIDS Sedunia Tingkat Kabupaten Rembang Tahun 2015 di SMPN 1 Pamotan, Rabu (16/12/2015). Pada kegiatan tersebut, juga diadakan jalan santai dan pembagian kondom gratis kepada masyarakat.

Menurutnya, menjaga perilaku dan memahami dampak dari gaya hidup tidak sehat efektif mencegah menyebarnya virus mematikan tersebut. Penyakit HIV/AIDS tidak menyebar melalui udara, makanan, jabatan tangan atau karena tinggal bersama orang yang positif terkena HIV/AIDS.

Tetapi, jelas Suko, cara penularan HIV/AIDS terbanyak yaitu melalui hubungan seksual yang sembarangan, penggunaan jarum suntik dan alat-alat bedah yang tercemar HIV dan penularan dari ibu HIV ke bayinya.

Dia juga mengimbau kepada para camat dan kepala desa se-Kabupaten Rembang untuk memberikan perhatian kepada upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di masing-masing wilayahnya. “Dengan menyebarluaskan informasi mengenai HIV/AIDS ini baik dari segi penularan maupun pencegahannya. Informasi tersebut penting, untuk mencegah semakin menyebarnya HIV/AIDS,” imbaunya

Sedangkan bagi mereka yang mengidap HIV/ AIDS, diminta agar melakukan rehabilitasi serta lebih intensif menerapkan perilaku hidup sehat seperti penggunaan jarum suntik yang steril, penggunaan kondom secara konsisten khususnya bagi para pecandu seksual, minum obat Anti Retroviral (ARV) bagi mereka yang sudah terjangkit HIV/AIDS. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

PSK di Lokalisasi Kampung Baru Tak Tahu Hari AIDS Sedunia

ilustrasi

ilustrasi

 

BLORA – Pekerja Seks Komersial (PSK) yang tinggal di lokalisasi Kampung Baru, Jepon, Blora mengaku tak tahu dengan adanya hari AIDS sedunia. Tak ada hiruk pikuk dalam rangka peringatan hari AIDS tersebut. Para PSK seperti halnya hari biasa, mereka melakukan kegiatan biasa.

”Para PSK tidak tahu dengan adanya hari AIDS sedunia,” tutur Kasijan (60) tokoh masyarakat Kampung Baru Jepon kepada MuriaNewsCom (1/12/2015).

Pasalnya, hari AIDS atau tidak, lokalisasi tersebut selalu mendapatkan penyuluhan setiap satu bulan sekali oleh dinas kesehatan Blora. ”Sebulan sekali dari dinas kesehatan Blora ngecek kesini, bahkan juga diambil darahnya bagi para PSK untuk diperiksa,” ungkap Kasijan.

Selain itu, para PSK juga rutin mengecek kondisi kesehatnnya ke balai kesehatan terdekat yakni Puskesmas Jepon. ”Kalau ada yang terjangkit, biasanya langsung ditangani oleh dinas kesehatan,” imbuh Kasijan. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

Cegah HIV/AIDS, P2PL Rembang Sosialisasi Hingga ke Warung Kopi dan Salon

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Aris Suryono ketika ditemui MuriaNewsCom di kantornya, Selasa (1/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Aris Suryono ketika ditemui MuriaNewsCom di kantornya, Selasa (1/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Sebanyak 113 warga Rembang tewas gara-gara terjangkit HIV/AIDS. Untuk menanggulangi bertambahnya korban jiwa, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang melakukan beberapa langkah preventif.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Aris Suryono mengatakan pihaknya melakukan langkah preventif dengan melakukan pencegahan melalui edukasi dan penyuluhan ke daerah atau kantong-kantong yang dianggap berpotensi menjadi tempat penularan HIV/AIDS.

Salah satu contohnya, kata Aris, adalah dengan melakukan sosialisasi di warung-warung kopi, salon, dan tempat lain yang berpotensi menjadi tempat penularan HIV/AIDS. Selain langkah preventif, P2PL juga melakukan langkah kuratif. ”Kami juga melakukan pembinaan kepada penjaja seks komersial,” jelasnya ketika ditemui MuriaNewCom di kantornya, Selasa (1/12/2015).

Aris mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan seks sebelum nikah. ”Jangan melakukan seks di luar nikah. Artinya, hanya melakukan seks setelah menikah dan hanya setia dengan pasangannya,” himbaunya.

Dijelaskannya, kemudian konsistenlah menggunakan alat pelindung dalam hal ini, yakni kondom. Menurutnya, bagi para penderita HIV/AIDS masih boleh berhubungan seks asal memakai kondom. ”Jangan menggunakan jarum suntik yang tidak steril secara bersamaan,” tandasnya.

Pihaknya juga menggencarkan sosialisasi kepada pelajar baik siswa SMP/sederajat maupun SMA/ sederajat untuk memberitahukan bahaya dari penyakit ini dan pencegahan sebelum terjangkit. ”Tim kami sudah turun ke sekolah-sekolah di Rembang untuk sosialisasi,” pungkasnya. (AHMAD WAKID/TITIS W)

Penderita Terus Meningkat, Mahasiswa Poltekkes Blora Bertarung Melawan HIV/AIDS

Aksi simpatik hari AIDS sedunia oleh mahasiswa Poltekkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Aksi simpatik hari AIDS sedunia oleh mahasiswa Poltekkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Aksi simpatik dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia pada hari ini Selasa, 1 Desember, dilakukan oleh mahasiswa Poltekkes Semarang Prodi DIII Keperawatan Blora. Kegiatan tersebut berlangsung di Jalan Pemuda Blora. Sebelumnya mereka juga melakukan aksi pembagian pamflet secara simbolis kepada sesama mahasiswa dan dosen. Kemudian membagikan pamflet kepada masyarakat di Taman Mustika dan Alun-alun Blora.

Aksi yang mengusung tema Bertarung Melawan HIV/AIDS diikuti oleh sebelas mahasiswa. Dalam aksi, juga dibagikan pita merah dan pamflet mengenai bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat dan pengguna jalan.

Ketua aksi, Ifana Chyntia Dewi menjelaskan acara ini digelar sebagai peringatan hari AIDS sedunia. Dengan harapan memberikan peringatan terhadap masyarakat akan bahaya AIDS.

”Kita sebagai tenaga kesehatan sadar akan bahaya AIDS, kita harus memberikan penyuluhan kepada masyarakat bahkan mencegah menyebarnya HIV/AIDS,” tutur Ifana Cyntia Dewi kepada MuriaNewsCom (1/12/2015).

Pasalnya, HIV/AIDS di Blora setiap tahun meningkat. Setiap pekan ada 2-3 orang yang masuk rumah sakit karena HIV/AIDS. Bahkan dalam setahun terakhir sudah dua orang yang meninggal.

Harapan dari aksi tersebut adalah masyarakat Blora agar berhati-hati agar tidak terkena virus HIV/AIDS. Dengan cara pola hidup sehat dan tidak melakukan freesex. ”Masyarakat Blora harus menghindari HIV/AIDS. Karena virus yang satu ini tidak main-main, nyawa taruhannya,” imbuh Ifana. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

76 Pengidap HIV/AIDS Baru Terdeteksi di Jepara, Semoga Itu Bukan Kamu atau Keluargamu

ilustrasi

ilustrasi

 

JEPARA – Kabupaten Jepara menjadi salah satu kota yang masuk dalam enam besar angka HIV/AIDS tertinggi di Jawa Tengah, dengan total pengidap mencapai 576 jiwa. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari jumlah pengidap HIV/AIDS setiap tahunnya. Untuk tahun 2015 ini saja, ada tambahan mencapai 76 jiwa.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jepara Sholih mengatakan, jumlah pengidap HIV/AIDS di Jepara terus bertambah. Hingga 1 Desember 2015 ini, ditemukan 76 kasus pengidap HIV/AIDS baru. Menurut dia, jumlah itu dimungkinkan jauh lebih banyak lantaran masih banyak yang tidak terdeteksi atau terdata.

“Yang terdata hanya ratusan. Tapi kami meyakini jika jumlah warga yang positif mengidap penyakit itu jauh lebih banyak. Kasus HIV/AIDS memang seperti gunung es,” kata Sholih, Selasa (1/12/2015).

Lebih lanjut dia membeberkan, dari 76 pengidap baru itu, 27 sudah positif AIDS, dan sisanya masih dalam status terjangkit HIV. Mengingat tidak ada data yang pasti dan riil mengenai jumlah penderita HIV/AIDS, pihaknya menekankan agar ada penanggulangan secara serius. Tidak hanya sebatas memperingati hari AIDS pada 1 Desember saja, tapi harus ada gerakan bersama. Ditekankan pula agar dinas terkait menjadi pelopor penggerak dalam menanggulangi masalah ini. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

113 Orang Tewas di Rembang Diserang HIV/AIDS

Ilustrasi

Ilustrasi

 

REMBANG – Sebanyak 252 orang di Rembang terjangkit virus HIV/AIDS sejak tahun 2004 sampai 2015 ini. Korban jiwa atau yang tewas dari penyakit yang berbahaya ini cukup tinggi, yakni mencapai 113 orang.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Aris Suryono ketika ditemui MuriaNewsCom di kantornya, Selasa (1/12/2015).

Aris juga membeberkan untuk tahun 2015, sebanyak 46 orang terjangkit virus ini. “Sementara pada tahun ini, ada 11 orang yang meninggal dunia,” tambahnya.

Dari 14 kecamatan di Kabupaten Rembang, menurutnya, Kecamatan Kragan merupakan kecamatan dengan jumlah penderita tertinggi yang mencapai 36 orang. Sedangkan untuk kecamatan paling sedikit jumlah penderitanya, yakni kecamatan Bulu dengan 5 orang penderita.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Aris Suryono ketika ditemui MuriaNewsCom di kantornya, Selasa (1/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Aris Suryono ketika ditemui MuriaNewsCom di kantornya, Selasa (1/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

“Selain itu, ada satu kasus anak yang menderita HIV/AIDS. Anak itu tertular dari kedua orang tuanya. Sedangkan bapaknya sudah meninggal dunia terjangkit virus itu,” beber Aris.

Lebih lanjut, Aris menegaskan agar masyarakat tidak menjauhi para penderita HIV/AIDS, tetapi mengajak masyarakat untuk melakukan pencegahan terhadap penyakitnya.

“Kami mengimbau kepada masyarakat supaya tidak mendiskriminasikan penderitanya. Mereka punya hak hidup. Untuk pendidikan anak yang penderita HIV/AIDS, kami menyampaikan kepada guru BP dan wali kelasnya untuk sebisa mungkin menjaga kerahasiaannya,” tandasnya. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

Seorang Ibu Hamil di Kudus Terindikasi HIV/AIDS

Ilustrasi HIV/AIDS

Ilustrasi HIV/AIDS

 

KUDUS – Scanning untuk menanggulangi meluasnya virus HIV/AIDS terus dilakukan. Temasuk juga di kalangan ibu hamil. Dari pemeriksaan yang dilakukan, ternyata ditemukan satu ibu hamil yang terindikasi HIV/AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dokter Maryata melalui Kasi Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Darsono mengatakan, pencegahan meluasnya virus HIV/AIDS, adalah instruksi dari Kementerian Kesehatan RI.

Yakni dengan melakukan scanning terhadap ibu hamil. Hal ini sebagai upaya mencegahan sejak dini penularan virus tersebut kepada bayi.

“Pemeriksaan sudah berjalan tahun ini. Jadi, modelnya itu ibu hamil yang diperiksa diambil darahnya untuk kemudian dilakukan laborat. Jadi pelaksanaan pemeriksaan HIV/AIDS sudah berjalan tahun ini,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia menambahkan, anggaran pemeriksaan HIV/AIDS sebesar Rp 17 juta menggunakan dana APBD 2015. Untuk jumlah ibu hamil yang menjalani tes HIV/AIDS sekitar 164 orang dan yang terindikasi HIV/AIDS hanya satu orang.

“Mudah mudahan tidak ada lagi yang terjangkit. Dengan adanya pengetahuan secara diri kalau ada yang terjangkit. Pengawasan dan proses pengobatan juga dapat dipersiapkan sejak dini,” ungkapnya . (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Santri Kajen Minta Ahli Agama Rumuskan Fiqh Antinarkoba dan HIV/AIDS

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati dr Edi Sulistiyono menjelaskan bahaya narkoba dan HIV/AIDS di kalangan santri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati dr Edi Sulistiyono menjelaskan bahaya narkoba dan HIV/AIDS di kalangan santri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ratusan santri dari 52 pondok pesantren di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, meminta agar ahli agama dan dakwah segera merumuskan fiqh antinarkoba dan HIV/AIDS. Hal itu diharapkan agar bisa menjadi acuan untuk membentengi kalangan santri dari bahaya narkoba dan HIV/AIDS.

”Di hari kami, kami sepakat membentuk komunitas gerakan pesantren antinarkoba dan HIV/AIDS. Kami berikan nama GANAS. Sebagai pijakan, kami meminta dukungan pemerintah dan lembaga terkait,” kata Agus Prasetyo, salah satu pengurus Forum Komunikasi Pesantren Kajen (FKPK) kepada MuriaNewsCom, Kamis (15/10/2015).

Dari aspek hukum Islam, kata dia, perlu adanya fiqh antinarkoba dan HIV/AIDS yang menjadi pijakan bagi para santri. ”Kami meminta kepada ahli agama untuk segera merancang fiqh antinarkoba dan AIDS secara komprehensif, serta mendakwahkannya secara luas. Terutama di kalangan pemuda,” imbuhnya.

Ia juga mengajak agar santri di seluruh Indonesia bisa membentengi diri dari kemungkinan datangnya narkoba dan HIV/AIDS. ”Hindari narkoba. Hindari zina yang akibatnya bisa kena penyakit ganas HIV/AIDS,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Santri Kajen Pati Deklarasikan Gerakan Pesantren Antinarkoba dan HIV/AIDS

Sejumlah santri membacakan deklarasi gerakan pesantren antinarkoba dan HIV/AIDS. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah santri membacakan deklarasi gerakan pesantren antinarkoba dan HIV/AIDS. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ratusan santri dari 52 pesantren yang ada di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati, membuat deklarasi gerakan antinarkoba dan HIV/AIDS, Kamis (15/10/2015). Deklarasi itu diadakan di Pendapa Pondok Pesantren Roudloh Al Thohiriyah.

Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya peredaran narkoba di kalangan santri. Selain itu, santri diharapkan menjadi pioner yang berada di garda paling depan untuk memberantas narkoba dan penyakit HIV/AIDS di Pati, yang saat ini mengalami peningkatan signifikan.

”Peredaran narkoba saat ini sudah meresahkan. Kami tidak ingin peredaran itu nyasar di kalangan santri. Kami benar-benar prihatin ada kabar narkoba sudah masuk di sejumlah pesantren di Jawa Barat. Ini yang akan kami antisipasi di Pati,” ujar KH Muadz Thohir, Pengasuh Ponpes Roudloh Al Thohiriyah kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, sedikitnya ada 52 pesantren di Desa Kajen, sehingga pihaknya tidak ingin kalangan santri dijadikan sasaran empuk bagi oknum untuk mengedarkan narkoba. Karena itu, pengenalan dan sosialisasi tentang bahaya narkoba dan HIV/AIDS dirasa perlu dilakukan di kalangan santri.

Deklarasi tersebut disaksikan Wakil Bupati Pati Budiyono yang juga Ketua Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Pati, Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho, Dandim 0718 Pati Letkol Inf Hery Setiono, dan Kepala Dinas Kesehatan Pati Edi Sulistiyono. (LISMANTO/TITIS W)

31 Orang Tewas Diserang HIV/AIDS di Pati

Sejumlah pegiat KPA Pati diskusi soal HIV/AIDS di Pati. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Sejumlah pegiat KPA Pati diskusi soal HIV/AIDS di Pati. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Angka penderita HIV AIDS di Kabupaten Pati mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kendati mengalami penurunan dari peringkat ke-4 menjadi peringkat 11 di Jawa Tengah, tetapi kasus penderita HIV/AIDS di Pati masih meningkat.

Dari data yang dihimpun Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Pati, sebanyak 31 orang meninggal karena HIV/AIDS hingga Juli 2015. Sementara itu, 240 orang lainnya tertular HIV/AIDS.

“Dari data yang kami himpun selama semester pertama hingga Juli 2015, kami menemukan ada 240 orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Sedangkan 31 orang di antaranya meninggal dunia karena penyakit itu,” kata Wakil Ketua I Pelaksana Harian KPA Pati dr Edi Sulistiyono kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, ia mengimbau kepada masyarakat agar lebih hati-hati dan paham penularan penyakit HIV/AIDS. “Waspada bukan berarti menjauhi ODHA. Tapi, lebih bersikap antisipatif terhadap penularan HIV/AIDS, salah satunya hubungan intim dengan berganti-ganti pasangan,” tukasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Kasus HIV/AIDS di Pati Duduki Peringkat 11 Se-Jateng

Penularan HIV/AIDS juga bisa melalui transfusi darah. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Penularan HIV/AIDS juga bisa melalui transfusi darah. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Kabupaten Pati saat ini menduduki peringkat ke-11 terkait dengan kasus penderita HIV/AIDS dari 35 kabupaten yang tersebar di Jawa Tengah. Sebelumnya, Pati sempat menduduki peringkat ke-4 di Jawa Tengah.
Sepintas, peringkat tersebut mengindikasikan kasus penderita HIV/AIDS di Pati menurun. Namun, faktanya tidak. Penderita AIDS di Pati semakin meningkat.

Hal ini diamini Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pati Edi Siswanto. “Untuk kasus penderita HIV/AIDS di Pati, saat ini peringkat ke-11 di Provinsi Jawa Tengah. Ini bukan berarti kasusnya menurun. Berhubung kasus penyandang HIV/AIDS di daerah lain juga meningkat tajam, akhirnya Pati menduduki peringkat ke-11. Tapi, kasusnya masih mengalami peningkatan,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, penularan penyakit HIV/AIDS sangat mudah ditularkan melalui hubungan seks bebas. Karena itu, ia mengimbau kepada warga untuk tidak berhubungan seks di luar pernikahan.

“Salah satu penularan HIV/AIDS paling mudah, ketika ada kontak hubungan seks yang bukan pasangannya. Karena itu, hindari hubungan seks bebas dengan cara berganti-ganti pasangan,” pesannya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)