26 Penderita HIV/AIDS di Pati Terancam Alami Kenaikan Angka Kesakitan

Kelangkaan obat HIV jenis Lamivudine di Pati masih menjadi permasalahan yang serius bagi ODHA. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kelangkaan obat HIV jenis Lamivudine di Pati masih menjadi permasalahan yang serius bagi ODHA. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Temuan kasus penderita HIV/AIDS di Pati yang mengalami tren peningkatan dari tahun ke tahun dianggap sebagai keberhasilan bagi para pemegang kebijakan untuk menanggulangi HIV/AIDS. Namun, masyarakat menilai hal itu justru sesuatu yang buruk.

Di satu sisi, temuan kasus HIV dinilai adanya peningkatan korban akibat virus mematikan tersebut sehingga terkesan miris. Di sisi lain, temuan-temuan baru itu perlu dilakukan ketimbang orang yang positif HIV tidak tahu yang mengakibatkan kematian.

“Temuan kasus-kasus baru penderita HIV jangan dipandang negatif. Kalau tidak ditemukan karena orang tidak tahu, itu justru yang berbahaya karena virus berkembang pesat dan menyerang kekebalan tubuh manusia. Kalau ada temuan kasus baru, mereka bisa segera konsultasi dan mendapatkan penanganan,” ujar Koordinator Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Rumah Matahari, Ari Subekti kepada MuriaNewsCom, Sabtu (9/4/2016).

Sayangnya, kinerja pemegang kebijakan yang sudah baik tidak diimbangi dengan pelayanan yang baik pula dari pemerintah daerah setempat. Idealnya, kata dia, temuan kasus baru mesti diimbangi dengan pemberian layanan pengobatan yang baik pula.

“Meningkatnya temuan kasus HIV harus dibarengi dengan peningkatan pelayanan pengobatan bagi ODHA. Sejak pertengahan Maret saja, ODHA yang biasanya ambil obat ARV di RSUD Soewondo mengeluh karena tidak ada obat jenis Lamivudine,” ungkapnya.

Padahal, ada sekitar 26 ODHA di Pati yang membutuhkan obat Lamivudine yang akan dikombinasikan dengan dua obat jenis lainnya. Bila itu tidak segera dipenuhi, ke-26 ODHA tersebut dipastikan mengalami peningkatan angka kesakitan, termasuk kemungkinan penyebaran virus HIV yang lebih luas.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Obat HIV Langka di Pati, DPRD Desak Pemkab Segera Tangani

Tragis! Bocah 9 Tahun di Pati Tewas Kena HIV/AIDS

Sejumlah aktivis pendamping ODHA "Rumah Matahari" tengah berdiskusi di sekretariat Jalan P Sudirman Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah aktivis pendamping ODHA “Rumah Matahari” tengah berdiskusi di sekretariat Jalan P Sudirman Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Malang sekali nasib seorang bocah, salah satu warga Pati yang masih berusia sembilan tahun harus meninggal dunia karena menderita penyakit HIV/AIDS. Bocah itu berinisial A.

Bocah itu sama sekali tidak tahu apa itu seks bebas, narkoba, dan tindakan berisiko HIV/AIDS lainnya. Namun, bocah yang sering sakit-sakitan itu ternyata mengindap HIV/AIDS yang tidak diketahui orang tuanya.

Kasus itu diungkap Koordinator Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Rumah Matahari, Ari Subekti yang saat ini konsentrasi mendampingi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Ia menduga, A mengidap HIV/AIDS sejak lahir.

“Kami menduga, bocah itu mengidap HIV/AIDS sejak lahir atau waktu sang ibu menyusui. Karena itulah jalan satu-satunya bagi anak kecil tertular virus HIV,” ungkap Ari saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Kamis (7/4/2016).

Setelah dicek, sang ibu ternyata dinyatakan positif HIV. Namun, ibunya sendiri diakui tidak pernah melakukan tindakan yang berisiko HIV/AIDS. Suaminya sendiri sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu.

“Bocah itu pertama kali dikira mengidap gizi buruk, bertahun-tahun tidak tahu apakah positif HIV atau tidak. Bertahun-tahun pula tanpa obat ARV karena tidak tahu,” katanya.

Bocah malang itu akhirnya meninggal dunia, setelah dirawat di rumah sakit selama seminggu. Karena itu, Ari menyarankan supaya masyarakat berisiko HIV bisa melakukan tes untuk mengenali lebih dini.
“Lebih baik berhasil dideteksi dini daripada tiba-tiba menderita penyakit kronis akibat HIV dan meninggal dunia. Jangan takut tes VCT. Itu lebih baik untuk segera mendapatkan pengobatan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : 2016, 7 Orang di Pati Meninggal Diserang HIV/AIDS 

Warga Pati Diminta Tak Malu Ikuti Tes HIV/AIDS

KPA Pati menggelar imbauan stop diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS. (MuriaNewsCom/Lismanto)

KPA Pati menggelar imbauan stop diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Pati Haryanto meminta kepada warga Pati agar tidak malu mengikuti tes HIV/AIDS. Karena, penyakit HIV/AIDS hanya bisa diketahui melalui tes HIV di Klinik Voluntary Counseling Test (VCT).

“Kami minta warga Pati tidak sungkan untuk menjalani tes HIV. Itu satu-satunya cara untuk mengetahui apakah kita terkena HIV atau tidak. Penyakit HIV tidak bisa diidentifikasi dengan gejala atau tanda-tanda, sebaiknya lakukan tes,” ujar Haryanto kepada MuriaNewsCom, Selasa (1/12/2015).

Di Pati, kata dia, tes HIV bisa dilakukan di RS Soewondo. Di luar itu, pihaknya juga meminta agar warga aktif menghubungi KPA setempat untuk konsultasi terkait dengan tes HIV.

“Bisa saja konsultasi ke KPA setempat. Kalau ada program tes HIV yang digalakkan KPA, di situ gratis. Jangan malu untuk melakukan tes HIV. Ini demi masa depan bangsa,” imbuhnya.

Ia menambahkan, korban HIV saat ini sudah banyak ditemui di Pati. Dari pertama kali ditemukan pada 1996 hingga akhir Oktober 2015, ada 822 orang yang terkena penyakit mematikan tersebut.

“Selama 19tahun dari 1996 sampai Oktober 2015, sebanyak 822 orang terkena HIV dan 103 orang meninggal dunia,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Miris! 31 Orang di Pati Tewas Karena HIV/AIDS

Lomba poster HIV/AIDS yang digalakkan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Pati beberapa hari yang lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Lomba poster HIV/AIDS yang digalakkan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Pati beberapa hari yang lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Hari AIDS sedunia jatuh pada 1 Desember dan diperingati seluruh warga di dunia untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS. Sama halnya di Pati, Hari AIDS menjadi salah satu wabah yang paling ditakuti.

Dalam kurun waktu setahun dari 2014 hingga Oktober 2015, sedikitnya 285 orang terkena penyakit HIV dan 31 orang di antaranya meninggal dunia karena AIDS.

“Itu data yang berhasil kami himpun. Di luar itu, kemungkinan ada yang terkena juga di luar pendataan. Karena itu, pencegahan HIV/AIDS memang perlu digalakkan,” ujar Adiningtyas Prima, pegiat HIV/AIDS asal Pati saat dikonfirmasi MuriaNewsCom, Selasa (1/12/2015).

Atas temuan tersebut, Pati masuk dalam zona merah terkait HIV/AIDS. Di tingkat provinsi, Pati saat ini menduduki peringkat 3 besar terkait dengan temuan kasus HIV/AIDS terbaru.

“Dari kasus temuan baru tersebut, Pati sudah masuk zona merah dan peringkat ke-3 di Jawa Tengah. Peringkat itu bisa naik atau turun secara fluktuatif,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Petugas Medis di Pati Diminta Tidak Takut dengan ODHA

Ketua IDI Pati Edi Siswanto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua IDI Pati Edi Siswanto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Penularan penyakit tuberkulosis (TBC) lebih rentan ketimbang HIV. Karena itu, petugas medis di Pati, termasuk masyarakat diminta untuk tidak mengucilkan atau memberi stigma negatif terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pati Edi Siswanto kepada MuriaNewsCom, Selasa (3/11/2015) mengatakan, TBC bisa menular hanya dengan melalui saluran pernapasan. Sementara itu, virus HIV hanya ditularkan melalui cairan vagina dan sperma, kontak darah, dan cairan plasenta pada janin.

“Jangan jauhi ODHA. Kita hanya perlu membatasi agar tidak berhubungan seksual. Kalau sekadar berjabatan, makan bersama, hidup serumah, berpelukan dan berenang bersama, itu tidak bisa menular,” pesan Edi.

Karena itu, ia menyayangkan jika masih ada petugas medis yang pobia dengan ODHA. Ia berharap, ODHA bukan menjadi momok yang menakutkan. “Cukup hindari hubungan seks bebas, kontak darah seperti penggunaan jarum suntik bersama,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Petugas Medis di Pati Masih Pobia saat Menangani Pasien AIDS

Ketua IDI Pati Edi Siswanto saat dimintai keterangan MuriaNewsCom. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua IDI Pati Edi Siswanto saat dimintai keterangan MuriaNewsCom. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Petugas medis di Pati seperti perawat dan dokter dinilai masih pobia saat menangani penderita HIV/AIDS. Padahal, mereka sudah punya bekal dan pengetahuan cukup tentang penularan penyakit ganas HIV/AIDS.

Kendati demikian, pobia masih saja menghantui mereka. Hal ini disampaikan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pati Edi Siswanto.

“Entah itu naluri atau bagaimana. Petugas medis sebetulnya sudah punya pemahaman yang cukup tentang HIV/AIDS. Pendidikan juga sudah dilakukan, termasuk sosialisasi dan prosedur penanganan pasien HIV. Tapi, masih ada pobia,” ujar Edi kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, pihaknya akan bekerja lebih ekstra untuk giat melakukan sosialisasi di kalangan petugas medis. “Kami berharap, tidak ada lagi pobia. Penularan hanya melalui kontak seksual, kontak darah dan dari ibu ke anak. Selain itu, tidak bisa menular,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Curiga HIV, Ibu Rumah Tangga Diminta Segera Lakukan Tes

Pengambilan sampel darah untuk mendeteksi adanya virus HIV di Gedung NU Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Pengambilan sampel darah untuk mendeteksi adanya virus HIV di Gedung NU Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ibu rumah tangga yang menaruh curiga terhadap kemungkinan adanya virus HIV diminta untuk segera melakukan tes HIV. Pasalnya, orang yang terkena infeksi HIV sulit dibedakan. Mereka terlihat sehat dan tidak tahu jika dirinya terinfeksi HIV.

”Penularan virus HIV itu melalui kontak seksual, kontak darah dan ibu ke anak. Kalau ibu rumah tangga yang kena HIV tetapi menyusui, itu bisa dengan mudah menular ke anaknya. Ini bahaya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Edi Sulistiyono kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, ia mengimbau untuk segera melakukan tes HIV ketika menaruh curiga adanya kemungkinan terkena HIV. ”Di Kabupaten Pati, Rumah Sakit Soewondo yang bisa melakukan tes HIV,” imbuhnya.

Menurut informasi yang dihimpun DKK, kata dia, ibu rumah tangga di Pati menduduki peringkat kedua dengan penderita HIV terbanyak di Kabupaten Pati. Sebagian besar ditularkan melalui suami yang sering ganti-ganti hubungan intim.

”Ada dua faktor penularan HIV dari ibu ke anak, yaitu proses persalinan dan pemberian air susu ibu (ASI). Karenanya, sebaiknya kita tahu dan mengenali penularan HIV sejak dini,” pesannya. (LISMANTO/TITIS W)

Waduh! Kasus HIV/AIDS di Pati Didominasi Ibu Rumah Tangga

 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Edi Sulistiyono sedang memberi pemahaman bahaya HIV/AIDS. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Edi Sulistiyono sedang memberi pemahaman bahaya HIV/AIDS. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Pati hingga September 2015 didominasi kalangan pekerja swasta dan ibu rumah tangga. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Edi Sulistiyono.

“Dalam tiga tahun terakhir, pekerja swasta selalu mendominasi kasus HIV/AIDS di Kabupaten Pati. Saat ini, peringkat kedua diduduki kalangan ibu rumah tangga,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (17/10/2015).

Selain kedua pekerjaan tersebut, kata dia, peringkat selanjutnya diduduki kelompok wanita penjaja seks (WPS),  sopir, petani, pegawai negeri sipil (PNS), nelayan, dan lainnya.

“Kenapa ibu rumah tangga justru banyak terjangkit HIV/AIDS? Itu biasanya dari kalangan bapak-bapak yang suka jajan sembarangan di tempat-tempat prostitusi sehingga menular pada istrinya,” imbuhnya.

Karena itu, ia mengimbau kepada warga untuk berhati-hati terhadap penyakit mematikan HIV/AIDS. “Sampai sekarang belum ada obatnya. Hindari ganti-ganti pasangan dan seks bebas,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)