KPC Dialog Hari AIDS: Ini Kecamatan di Kudus yang Paling Banyak Penderita HIV/AIDS-nya

Suasana kegiatan dialog Hari AIDS di aula Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Kamis (03/12/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suasana kegiatan dialog Hari AIDS di aula Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Kamis (03/12/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Dalam pemaparannya di acara dialog Hari AIDS 2015 yang digelar oleh Kudus Press Club (KPC), salah satu pembicara Eni Mardiyanti memaparkan bahwa rata-rata wilayah kecamatan di Kudus, ada warganya terkena HIV/AIDS.

Dari datanya, persentase kecamatan yang warganya kena HIV/AIDS di Kecamatan Kaliwungu 17,27%, Kecamatan Jati 15,11%, Kecamatan Dawe 13,67%, Kecamatan Gebog 12,95%, Kecamatan Undaan 8,63%, Kecamatan Jekulo sekitar 8,63%, Kecamatan Kota sebesar 8,63%, , Kecamatan Bae 7,91%, dan Kecamatan Mejobo 7,19%.

Perempuan yang menjadi Koordinator Kaukus Masyarakat Anti Narkoba (Kauman) tersebut melanjutkan, untuk wilayah Kecamatan Kaliwungu memang paling tinggi penderitanya. “Sebab rata-rata masyarakat Kaliwungu sebagai pekerja rantau atau masyarakat urbanisasi. Sehingga perilaku hidup sehatnya juga tidak terjaga,” kata Eni.

Dengan adanya dialog tersebut, harapannya masyarakat bisa lebih menjaga hidup sehatnya. Sedangkan untuk pemerintah diharapkan bisa mendorong pencegahan penyakit itu.

“Setidaknya pihak desa mulai dari RT, RW bisa memberikan penyuluhan terhadap bahaya HIV/AIDS. Syukur bisa mengalokasikan dana desa untuk anggaran pencegahan tersebut. Bak itu sosialisasi, cek kesehatan dan lainnya,” harapnya. (Edy Sutriyono/AKROM HAZAMI)

KPC Dialog Hari AIDS: Penderitanya Beristri Dua

Suasana kegiatan dialog Hari AIDS di aula Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Kamis (03/12/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suasana kegiatan dialog Hari AIDS di aula Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Kamis (03/12/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Guna memperingati hari HIV/AIDS yang jatuh 1 Desember. Kudus Press Club (KPC) menggelar dialog Hari AIDS di aula Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Kamis (03/12/2015). Kegiatan tersebut dihadiri dari Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) Kudus serta tokoh masyarakat dan mahasiswa.

Salah satu pembicara Eni Hardiyanti selaku Koordinator Kaukus Masyarakat Anti Narkoba mengatakan, kegiatan ini nantinya bisa memberikan pendidikan serta kesadaran terhadap bahaya penyakit tersebut.

Kegiatan dialog yang bertemakan Anda Yakin Sudah Berprilaku Hidup Sehat Untuk Hindari Terinfeksi HIV-AIDS? Tentunya dapat memberikan pendidikan pola hidup sehat dengan baik. “Dalam perilaku menghindari AIDS itu bukan berarti pola makan atau menjaga kesehatan saja. Namun juga harus bisa berhati hati dalam berhubungan badan dengan orang lain selain pasangannya,” jelasnya.

Diketahui, para penderita HIV/AIDS yang ada di Kudus tersebut ada yang mempunyai istri atau pasangan lebih dari satu. “HIV/AIDS yang diderita oleh warga Kudus tersebut biasanya terdeteksi saat ada pemeriksaan di rumah sakit. Selain itu, setelah diselidiki ternyata si penderita tersebut telah mempunyai istri dua,” tandasnya.

Dari data yang didapatnya, pada Mei 2015, penderita HIV/AIDS mendera warga Kudus dalam jumlah banyak. Yaitu sekitar 92 orang. “Dan 50 persennya meninggal dunia,” terang Eni. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Semoga Kamu Tidak Termasuk 32 Orang Kudus yang Menderita HIV/AIDS

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Kasus HIV/AIDS di masyarakat semakin banyak. Sebab selama 2015 saja, hingga November sudah ada 32 orang warga yang terjangkit.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dokter Maryata melalui Kasi Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Darsono mengatakan , data dari DKK penderita HIV/AIDS dari awal Januari hingga November 2015 berjumlah 32 kasus.

Melihat data tersebut, menjadikan hal yang sangat riskan. Apalagi ada bayi yang dilahirkan dan tertular HIV/AIDS sehingga menambah daftar kasus di Kudus.

“Data dari 2010-2014, jumlah kasus HIV sebanyak 129 kasus, dan AIDS sebanyak 69 kasus dan meninggal 38 orang. Tahun ini sampai bulan November ditemukan 32 kasus, kemungkinan bertambah dan yang melakukan pengobatan penderita AIDS di Rumah Sakit Kariadi Semarang jumlahnya ada 139 penderita,” katanya.

Dia menambahkan, pemerintah sudah mulai mengkampayakenan waspada virus HIV-AIDS melalui pesanan layanan iklan di TV yang mengajak ibu hamil melakukan pemeriksanan sejak dini.

”Kudus sudah melakukannya, dan tahun depan rencananya dianggarkan lagi dengan mendatangi kelas ibu hamil di puskesmas yang menjadi sasaran berikutnya. Kami belum memetakan mana saja, yang jelas diupayakan ada lagi pemeriksaan,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Seorang Ibu Hamil di Kudus Terindikasi HIV/AIDS

Ilustrasi HIV/AIDS

Ilustrasi HIV/AIDS

 

KUDUS – Scanning untuk menanggulangi meluasnya virus HIV/AIDS terus dilakukan. Temasuk juga di kalangan ibu hamil. Dari pemeriksaan yang dilakukan, ternyata ditemukan satu ibu hamil yang terindikasi HIV/AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dokter Maryata melalui Kasi Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Darsono mengatakan, pencegahan meluasnya virus HIV/AIDS, adalah instruksi dari Kementerian Kesehatan RI.

Yakni dengan melakukan scanning terhadap ibu hamil. Hal ini sebagai upaya mencegahan sejak dini penularan virus tersebut kepada bayi.

“Pemeriksaan sudah berjalan tahun ini. Jadi, modelnya itu ibu hamil yang diperiksa diambil darahnya untuk kemudian dilakukan laborat. Jadi pelaksanaan pemeriksaan HIV/AIDS sudah berjalan tahun ini,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia menambahkan, anggaran pemeriksaan HIV/AIDS sebesar Rp 17 juta menggunakan dana APBD 2015. Untuk jumlah ibu hamil yang menjalani tes HIV/AIDS sekitar 164 orang dan yang terindikasi HIV/AIDS hanya satu orang.

“Mudah mudahan tidak ada lagi yang terjangkit. Dengan adanya pengetahuan secara diri kalau ada yang terjangkit. Pengawasan dan proses pengobatan juga dapat dipersiapkan sejak dini,” ungkapnya . (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Sistem Online untuk Cek Darah Pendonor

GAMBAR ILUSTRASI

GAMBAR ILUSTRASI

KUDUS – Terkait dengan kemungkinan tertularnya penyakit HIV/AIDS melalui donor darah, memang patut disikapi dengan baik. Tidak perlu ada kekhawatiran, karena memang proses donor darah sudah sedemikian ketat dilakukan.

Unit Donor Darah (UDD) PMI Cabang Kudus memiliki sistem yang kemudian bisa mendeteksi, apakah darah Anda layak didonorkan atau tidak. Jaringannya bahkan sudah online hingga ke tingkat PMI Pusat.

”Jaringan atau sistem online ini, akan bisa mengenali apakah darah seorang pendonor itu baik atau tidak. Sehingga bis diantisipasi sejak awal,” kata Kepala UDD PMI Cabang Kudus dr Annathesia, belum lama ini.

Jika kemudian diketahui kalau darah pendonor itu tidak layak, menurut Anna, datanya akan dikirimkan ke jaringan PMI yang ada. Sehingga, di manapun orang tersebut berdonor, maka akan langsung diketahui kalau darahnya tidak layak.

”Itu kan, sudah merupakan database, ya. Sehingga saat seseorang mendaftarkan diri, kemudian diketahui bahwa darahnya tidak layak, maka dia akan ditolak untuk donor. Ini database sudah terhubung secara nasional,” paparnya.

Biasanya, menurut Anna, orang yang darahnya mengalami masalah tersebut, akan diberikan surat tembusan oleh UDD PMI. Mereka akan diminta untuk melakukan konseling mengenai apa yang kemudian membuat darahnya dicekal untuk donor.

”Kita surati orang tersebut. Kita jadwalkan untuk konseling. Dengan begitu, dia akan mengetahui masalah darah yang menimpanya. Sehingga bisa ditangani lebih lanjut,” katanya.

Sayangnya, banyak yang kemudian mengabaikan peringatan ini. Mereka tidak segera menindaklanjuti imbauan untuk konseling tersebut. Akibatnya ketika mereka hendak mendonorkan darahnya lagi, mereka ditolak.
”Padahal, ini adalah kesempatan untuk bisa mengetahui sebenarnya apa yang terjadi pada darah seseorang. Sayangnya, banyak yang tidak aware akan hal ini,” jelasnya. (MERIE)

Tiga Homo Positif AIDS

GAMBAR ILUSTRASI

GAMBAR ILUSTRASI

KUDUS – Dari 18 temuan penderita AIDS yang ditemukan pada bulan Juni lalu, sebanyak tiga orang di antaranya adalah penderita dari kategori Lelaki Seks Lelaki (LSL). Alias kaum homoseksual.

Aktivis AIDS Kudus Eni Mardiyanti mengatakan, ada tiga orang yang berkategori tersebut, yang kemudian positif terinfeksi AIDS. ”Ya, istilahnya memang LSL atau Lelaki Seks Lelaki (LSL). Dan itu merupakan bagian dari 18 orang yang positif tadi,” jelasnya.

Faktor seks, menurut Eni, masih mendominasi penularan HIV/AIDS. Banyak yang kemudian tertular akibat dari faktor ini. ”Baik itu yang dilakukan secara bebas, ataupun kemudian dari suami yang tertular AIDS kepada istrinya,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, hanya dalam waktu satu bulan, yakni bulan Juni 2015 saja, sebanyak 18 kasus baru AIDS ditemukan di Kabupaten Kudus. Ini menambah jumlah penderita selama kurun waktu 2008-2015, yang tercatat sebanyak 315 orang.

Selain seks, faktor penular lainnya dari penyakit yang sampai saat ini belum diketahui obatnya itu, adalah melalui jarum suntik yang dipakai bersama-sama. Jika salah satunya menderita AIDS, maka bisa menular ketika ada satu jarum suntik yang dipakai bersamaan.

Kemudian, ada juga penularan melalui donor darah. Di mana seseorang yang dinyatakan AIDS, bisa saja menularkan penyakit tersebut melalui aktivitas tersebut.

”Hanya penularan melalui donor darah ini sangat kecil kemungkinan terjadi. Pasalnya, darah yang sudah didonorkan kan, sudah melalui pemeriksaan yang ketat terlebih dahulu. Sehingga bisa terdeteksi kalau kemudian darah itu bermasalah,” terangnya. (MERIE)

Miris, 18 Kasus Baru AIDS Ditemukan Sebulan

GAMBAR ILUSTRASI

GAMBAR ILUSTRASI

KUDUS – Memprihatinkan. Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana Kabupaten Kudus sebenarnya menyimpan gunung es dalam hal penyakit HIV/AIDS.

Bayangkan saja. Hanya dalam waktu satu bulan, sebanyak 18 kasus baru AIDS ditemukan. Ini menambah jumlah penderita selama kurun waktu 2008-2015, yang tercatat sebanyak 315 orang.

”Itu memang temuan kami selama bulan Juni kemarin. Ada 18 penderita baru yang kami temukan. Dan cukup mengagetkan, karena ini bisa saja jumlah itu sebenarnya lebih besar dari yang sebenarnya,” kata aktivis HIV/AIDS Kudus, Eni Mardiyanti, kepada MuriaNewsCom, Senin (6/7/2015).

Dari jumlah 18 orang tersebut, masih didominasi kaum laki-laki. Yakni mencapai angka 13 orang. Sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 3 orang.

”Tapi dari 18 orang tersebut, sebanyak tiga orang di antaranya sudah meninggal. Yaitu dua laki-laki dan satu perempuan. Sehingga tinggal 15 orang, yang menambah panjang jumlah penderita dari tahun 2008-2015 menjadi 315 orang,” tuturnya.

Eni bersyukur bahwa dari belasan orang tersebut, tercatat tidak ada anak-anak yang kemudian terinfeksi. Namun, jumlah penderita yang positif mengidap AIDS sendiri, berasal dari usia produktif.

”Ini yang kemudian sangat memprihatinkan. Bagaimana seseorang yang produktif itu, sampai saat ini masih menjadi orang-orang yang terkena infeksi HIV/AIDS. Sungguh membuat kami prihatin sekali. Jumlahnya mendominasi dari keseluruhan penderita,” paparnya. (MERIE)