Kepala UPTD Dinas Pertanian TPH Grobogan Dilatih Menanam Tanaman Hidroponik

Para kepala UPTD Dinas Pertanian TPH Grobogan sedang mengikuti pelatihan bercocok tanam menggunakan sistem tanam hidroponik, Jumat (23/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para kepala UPTD Dinas Pertanian TPH Grobogan sedang mengikuti pelatihan bercocok tanam menggunakan sistem tanam hidroponik, Jumat (23/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Para Kepala UPTD Dinas Pertanian TPH Grobogan mendapat pelatihan bercocok tanam menggunakan sistem tanam hidroponik. Pelatihan itu diberikan oleh petugas dari Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang.

Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, pelatihan itu diberikan agar para kepala UPTD di tingkat kecamatan mendapat pengetahuan cara bertanam dengan sistem hidroponik. Yakni, cara budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

Dijelaskan, setelah bisa menerapkan pola bertanam, para kepala UPTD nantinya diminta menularkan ilmu yang didapat pada kelompok tani wilayah kerjanya dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, mereka yang selama ini terkendala dalam masalah lahan tetap bisa melakukan aktivitas bertanam dengan sistem hidroponik.

Soalnya, cara ini tidak membutuhkan lahan yang luas. Kemudian, tempatnya juga tidak harus dari pipa PVC. Tetapi bisa memanfaatkan bambu atau barang bekas lain yang ada dirumah.

“Kebanyakan sistem, hidroponik ini digunakan untuk menanam komoditas sayuran. Dengan menanam melalui cara ini, nantinya kebutuhan sayuran sehari-hari bisa panen sendiri, tidak perlu beli. Untuk menanam dengan cara hidroponik ini gampang dan murah serta bisa memanfaatkan teras rumah yang tidak terlalu luas,” jelas Edhie didampingi Kabid Hortikultura Imam Sudigdo.

Beberapa waktu sebelumnya, lanjut Edhie, pihaknya sudah menyiapkan demplot atau percontohan. Total demplot hidroponik ada 40 unit yang tempat pembuatannya dari pipa PVC. Demplot itu distribusikan pada kelompok tani dan kantor kecamatan.

Editor : Kholistiono

Komunitas Hidroponik Kudus Ajarkan Tanam Rutin

Nanang Naharuddin Ahmad, ketua KHK sedang menanam slada dengan sistem hidroponik. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Nanang Naharuddin Ahmad, ketua KHK sedang menanam slada dengan sistem hidroponik. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Sadar semakin berkurangnya lahan untuk menanam, membuat Komunitas Hidroponik Kudus (KHK) menggalakkan aksi. Kecintaannya terhadap lingkungan, menjadikan komunitas KHK makin besar hingga kini jumlahnya mencapai ratusan orang.

”Jadi anggota kami meliputi seluruh masyarakat yang suka terhadap hidroponik. Baik yang ikut mengelola dalam keorganisasian, maupun masyarakat luas yang menekuni bidang hidroponik,” ujar Nanang Naharuddin Ahmad, ketua KHK kepada MuriaNewsCom.

Banyak agenda rutin yang dibuat mulai dari kumpulan bersama, gathering keseluruhan Indonesia, sampai melakukan eksperimen untuk perkembangan dunia hidroponik. Bahkan komunitas ini juga sering didaulat sebagai pengisi materi pengembangan hidroponik oleh pemerintah.

KHK yang didirikan sejak dua tahun yang lalu ini, berhasil mengembangkan banyak tanaman dengan teknik hidroponik. Bahkan beberapa anggotanya sudah mampu menjual hasilnya keluar. Menurutnya, dengan kondisi masyarakat saat ini yang tidak memiliki lahan luas namun ingin menghijaukan lingkungan rumah dapat menggunakan teknik hidroponik atau tanpa tanah.

Nanang berharap, dengan semakin banyaknya yang membudidayakan tanaman dengan hidroponik dapat membuat masyarakat menjadi lebih kreatif, mampu mengembangkan bisnis serta pola hidup yang sehat. ”Sebab budidaya dengan teknik hidroponik mengurangi tambahan bahan kimia, seperti pestisida yang merugikan,” katanya.

Bagi yang ingin belajar atau memulai teknik tanam hidroponik ini dapat langsung mengunjungi KHK yang berada di Gang Ganesha 3 Desa Purwosari, Kudus. (AYU KHAZMI/TITIS W)

Begini Caranya Ubah Kebun Mini di Rumah Sendiri jadi Tempat Wisata Menarik

Cinta dan Loveta, dua bersaudara dari Desa Muktiharjo, Margorejo dikenalkan dengan sayuran selada. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Cinta dan Loveta, dua bersaudara dari Desa Muktiharjo, Margorejo dikenalkan dengan sayuran selada. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Wisata kebun di Kabupaten Pati terbilang masih sangat minim. Orang tua pun susah mencari kebun wisata untuk mengenalkan anak-anaknya dengan dunia buah dan sayuran.

Karena itu, kebun mini di rumah sendiri menjadi salah satu cara untuk mengagendakan wisata tanpa harus keluar rumah. Terutama, warga yang tak punya lahan cukup seperti di kawasan perumahan.

”Warga yang tinggal di perumahan dengan lahan yang sangat minim bisa dimanfaatkan untuk membuat kebun mini dengan cara hidroponik. Cukup ditempelkan di dinding, kita bisa membuat kebun mini. Dari situ, anak-anak bisa mengenal dan belajar tentang tanaman,” ujar Didit, Koordinator Hidroponik Pati kepada MuriaNewsCom, Rabu (28/10/2015).

Dengan cara tersebut, anak diharapkan menjadi tahu apa yang harus ia makan secara sehat dan alami. Lagipula, imbuh dia, tanaman sayuran di Kabupaten Pati susah dijangkau dan lokasinya cukup jauh. (LISMANTO/TITIS W)

Pegiat Hidroponik Pati Kenalkan Anak-anak dengan Dunia Buah dan Sayuran

Cinta dan Loveta bersama ayahnya berkunjung ke kebun mini milik sejumlah pegiat tanaman hidroponik Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Cinta dan Loveta bersama ayahnya berkunjung ke kebun mini milik sejumlah pegiat tanaman hidroponik Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Untuk mengenalkan anak-anak dengan dunia sayuran, pegiat hidroponik Pati membuat kebun mini yang berisi tanaman buah dan sayur-sayuran. Hal itu diharapkan agar anak-anak suka makan sayur dan buah melalui pengenalan kebun.

Didit, Koordinator Hidroponik Pati kepada MuriaNewsCom, Rabu (28/10/2015) mengatakan, anak-anak saat ini dihadapkan pada makanan dan minuman cepat saji yang kurang baik untuk petumbuhan dan perkembangan anak.

Karena itu, pengenalan terhadap buah dan sayuran dinilai penting yang menarik minat anak-anak. ”Anak-anak biasanya suka dengan kebun. Dari kebun yang menarik, anak akan suka untuk makan buah dan sayuran yang bagus untuk pertumbuhan anak,” ujar Didit.

Sementara itu, Cinta (9) dan Loveta (5), dua anak bersaudara dari Desa Muktiharjo, Margorejo mengaku senang berkunjung ke kebun buah dan sayuran. ”Saya suka strawberry. Lebih suka lagi, kalau metik buahnya dari tanaman langsung,” katanya. (LISMANTO/TITIS W)

Penggagas “Pringgondani” Tak Punya Dana Patenkan Karyanya

Pringgondani jadi perhatian pengunjung saat dipamerkan di Java Supermall, Semarang. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Pringgondani jadi perhatian pengunjung saat dipamerkan di Java Supermall, Semarang. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Muslikun, warga Desa Langenharjo, Kecamatan Margorejo, Pati, mengaku tak punya dana cukup untuk mematenkan karya “Pringgondani” yang berhasil mengawinkan seni bertanam hidroponik dan organik dalam modul bambu.

“Saya sudah disarankan Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Pati untuk mematenkan modul bambu yang saya beri nama Pringgondani agar bisa menjadi karya kebanggaan warga Pati. Tapi, saya belum punya dana untuk memikirkan masalah hak paten,” ujarnya saat dimintai keterangan MuriaNewsCom.

Selain itu, Muslikun mengaku tidak tahu proses pengajuan hak paten. “Lagipula, saya tidak tahu cara mengajukan permohonan hak cipta,” imbuhnya.

Karena itu, ia berharap agar pemerintah bisa memfasilitasi. “Kami berharap agar pemerintah punya kepedulian untuk memfasilitasi pengembangan pringgondani sebagai modul tanaman,” harapnya.

Sebelumnya, karya tersebut sempat mendapatkan juara kategori unik dalam Festival Organik se-Jawa Tengah di Semarang. Pringgondani merupakan modul untuk menanam holtikultura yang dibuat dari bambu.

“Sebetulnya modul itu bisa digunakan untuk menanam dengan media air maupun tanah. Itu multifungsi. Pringgondani saya ambil dari kata pring artinya bambu, nggon berarti tempat, dan dani diambil dari kata madani yang berarti menyeluruh. Jadi, modul itu merupakan tempat tanaman dari bambu yang multifungsi,” tukasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Biar Sukses Bercocok Tanam Hidroponik. Ini Rahasianya

omunitas Hidroponik Pati tengah melihat persemaian tanaman selada di media tanam hidroponik. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

omunitas Hidroponik Pati tengah melihat persemaian tanaman selada di media tanam hidroponik. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Menanam sayuran dan buah dengan cara hidroponik tidak semudah yang dibayangkan. Ada tips yang harus diketahui petani untuk mengembangkan tanaman hidroponik.

Ketua Hidroponik Pati Didit mengatakan, ada dua kunci yang harus diketahui petani atau penanam tumbuhan hidroponik. “Dua kunci yang harus dimiliki petani hidroponik adalah TDS meter dan Ph meter,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Ia menuturkan, petani hidroponik harus peka dengan karakter tanaman, karena masing-masing tanaman berbeda. “Kita harus bisa menyesuaikan kepekatan nutrisi dan tingkat keasamaan. Tidak asal tuang nutrisi,” imbuhnya.

Kalau terlalu banyak nutrisi, kata dia, tanaman bisa terbakar dan mati. Sementara itu, kalau terlalu sedikit memberikan nutrisi, tanaman akan tumbuh secara lambat dan sulit berkembang.(LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Warga Pati Mulai Dikenalkan Tanaman Hidroponik

Radif Aditya (kanan), spesialis persemaian dari Komunitas Hidroponik Kudus tengah menunjukkan benih sayuran yang ditanam dengan sistem hidroponik kepada peserta dari Pati Kota. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Radif Aditya (kanan), spesialis persemaian dari Komunitas Hidroponik Kudus tengah menunjukkan benih sayuran yang ditanam dengan sistem hidroponik kepada peserta dari Pati Kota. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Tujuh bulan Komunitas Hidroponik Pati berdiri sejak awal Januari 2015 lalu, sekarang mereka sudah mendirikan sekretariat yang siap mengajarkan warga Pati untuk menanam berbagai macam sayuran dan buah dengan cara hidroponik.

Sedikitnya 22 peserta yang sebagian besar diikuti warga Pati Kota mengikuti pengenalan dan pelatihan dasar menanam dengan cara hidroponik. Hal tersebut diharapkan agar warga Pati bisa memanfaatkan lahan kosong dan sempit untuk menanam sayuran dan buah.

“Dengan sistem hidroponik, kita bisa memanfaatkan lahan sempit untuk menanam tumbuhan, terutama yang memberikan manfaat. Misalnya, menanam sawi, selada, cabai, tomat, melon, serta tanaman lain yang produktif,” kata Radif Aditya, spesialis persemaian yang dihadirkan untuk mengajar dari Komunitas Hidroponik Kudus.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan untuk mengenal sistem penanaman hidroponik dan melihat langsung sayuran yang ditanam dengan cara hidroponik. “Konsep hidroponik sudah populer di luar negeri dan ini kita coba untuk kenalkan kepada warga Pati. Ke depan, anggota komunitas diharapkan bisa mengembangkan tanaman hidroponik dari aspek wirausaha atau bisnis,” imbuh Elmo, Bagian Pengembangan Kewirausahaan kepada MuriaNewsCom. (LISMANTO/KHOLISTIONO)