Panitia Kurban di Grobogan Dibekali Cara Penyembelihan Hewan Kurban 

Puluhan panitia kurban di 19 kecamatan mengikuti sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban yang digelar Disnakkan Grobogan, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, perhatian Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan tidak sekedar difokuskan pada kesehatan hewan kurban saja.

Namun, perhatian juga ditujukan pada masalah teknik penyembelihan dan perlakuan hewan sebelum disembelih.

Hal ini bisa dilihat dengan digelarnya sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban. Adapun pesertanya sebanyak 50 orang yang merupakan panitia kurban di 19 kecamatan.

“Melalui kegiatan ini kita harapkan penyembelihan hewan kurban nanti bisa sempurna dari awal hingga selesai. Di sisi lain, adanya kegiatan ini akan menjadikan hewan 

kurban tidak mengalami penderitaan terlalu lama alias kesejahteraannya juga terjaga,” jelas Kepala Disnakkan Grobogan Riyanto, usai membuka pelatihan yang dilangsungkan di Rumah Kedelai Grobogan, Rabu (23/8/2017).

Dijelaskan, dalam sosialisasi itu akan diberikan materi mengenai beberapa hal. Yakni, cara perobohan hewan sebelum disembelih, tehnik penyembelihan yang benar, pemotongan daging serta penanganan limbah hewan kurban.

Selain petugas dari Disnakkan yang sudah ahli dibidangnya, kegiatan itu juga melibatkan Kementerian Agama (Kemenag) Grobogan. Dari kemenag akan mengupas dari sisi agama mengenai ibadah kurban serta tata cara penyembelihan yang benar sesuai tuntunan.

“Setiap tahun ada sekitar 10 ribu ekor hewan yang disembelih untuk kurban. Oleh sebab itu, para petugas perlu kita bekali kemampuan dalam masalah penyembelihan yang benar,” imbuhnya.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Grobogan drh  Nur Ahmad menambahkan, diakhir acara, peserta dibekali pelatihan tata cara merobohkan sapi. Dengan pelatihan model burley itu mereka bisa tahu teknik yang mudah saat merobohkan sapi sebelum dipotong.

Melalui metode ini, untuk merobohkan sapi cukup pakai tambang dan butuh dua sampai tiga orang saja. Selama ini, untuk merobohkan sapi dengan metode tradisional butuh 10-15 orang yang terlibat.

“Dengan model seperti ini, prosesnya jadi lebih cepat dan hewan yang akan dipotong tidak mengalami kesakitan terlalu lama,” katanya.

Editor: Supriyadi

Antisipasi Hewan Kurban Penyakitan, Disnakkan Grobogan Lakukan Sidak

Petugas dari Disnakkan Grobogan sedang memeriksa kondisi kesehatan hewan kurban di salah satu pos penjualan hewan kurban di Grobogan, Rabu (07/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas dari Disnakkan Grobogan sedang memeriksa kondisi kesehatan hewan kurban di salah satu pos penjualan hewan kurban di Grobogan, Rabu (07/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Menjelang Hari Raya Idul Adha, pihak Dinas Pertanian dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan menyatakan jika sejauh ini belum menemukan penyakit berbahaya pada hewan yang akan dijadikan kurban. Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengawasan hewan yang dilakukan di sejumlah pos penjualan hewan kurban dan pasar sapi.

“Sejauh ini, kondisi hewan yang dijual untuk kurban masih aman atau tidak ditemukan penyakit berbahaya seperti antrax atau penyakit lainnya. Menjelang Idul Adha, kami memang selalu menerjunkan tim khusus untuk memonitor hewan yang akan dipakai buat kurban,” jelas Kepala Disnakkan Grobogan Riyanto, saat melakukan pemeriksaan hewan kurban di pos penjualan samping Kantor Dinsosnakertrans, Rabu (07/09/2016).

Dia menjelaskan, pengawasan terhadap kondisi hewan keseluruhan sebenarnya sudah rutin dilakukan. Namun, menjelang Idul Adha seperti sekarang, pengawasan hewan kurban baik sapi, kerbau, domba maupun kambing lebih ditingkatkan. Khususnya, di tempat penjualan hewan kurban musiman yang biasanya berada di pinggiran jalan raya dan sekitar tempat pemukiman warga.

Menurut Riyanto, menjelang Idul Adha biasanya banyak hewan dari Grobogan khususnya sapi yang dikirim ke Jakarta untuk kepentingan kurban. Diharapkan, hewan kurban yang dikirim ke Jakarta, nantinya juga bebas dari penyakit menular. Untuk itu, sapi yang akan dijual ke Jakarta atau keluar dari Grobogan harus mengantongi surat sehat dari Disnakkan.

Dia menambahkan, dari catatan yang dimiliki, sebulan menjelang Idul Adha tahun ini, sapi asal Grobogan yang dikirim keluar daerah tercatat ada 2.600 ekor. Sebagian besar, sapi ini dikirim ke Jakarta dan sekitarnya. Sementara sebagian lagi, dikirim ke kota-kota lain di Jawa Tengah.

“Selama ini, Grobogan memang jadi penyuplai sapi potong yang cukup potensial. Hal ini tidak berlebihan karena populasi sapi kita hampir mencapai 200 ribu ekor atau terbesar kedua di Jateng setelah Blora.

Sementara itu, salah seorang penjual hewan kurban musiman Darmo mengaku cukup senang dengan adanya pemeriksaan yang dilakukan petugas tersebut. Sebab, dengan pemeriksaan itu dia juga ingin memastikan jika hewan yang dijualnya benar-benar terjamin kesehatannya.

“Adanya pemeriksaan ini saya merasa terbantu. Sebab, petugas juga memasang label sehat pada hewan yang sudah diperiksa. Dengan demikian, konsumen juga cukup senang karena hewan yang akan dibeli sudah terjamin kesehatannya,” katanya.

Editor : Kholistiono