Dinas Pertanian Grobogan Kembangkan Budidaya Nanas Merah

Kasi Buah Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Grobogan Slamet Waluyo menunjukkan nanas merah yang sudah berbuah. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Beberapa tanaman nanas merah yang ada di kebun milik Dinas Pertanian Grobogan berhasil tumbuh dengan baik. Bahkan, salah satunya sudah mengeluarkan buah.

Sesuai jenisnya, buah nanas terlihat berwarna merah. Beda dengan nanas biasa yang buahnya berwarna hijau kekuning-kuningan.

“Beberapa waktu lalu, kita melakukan uji coba penanaman nanas merah. Ternyata bisa tumbuh baik dan ada yang sudah berbuah. Kedepan, komoditas nanas merah ini layak dikembangkan,” kata Kasi Buah Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Grobogan Slamet Waluyo.

Menurut Slamet, bibit nanas meras didapat dari petani di Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan. Petani yang tinggal di pinggir kawasan hutan itu menanam nanas buah di pekarangan.

Bibit nanas merah itu kemudian ditanam di kebun yang berada di komplek kantor Dinas Pertanian. Nanas merah yang ditanam ada dua macam. Yakni, berdaun halus dan daunnya berduri tajam.

Bibit nanas ada yang ditanam langsung dilahan. Beberapa bibit lagi ditanam dalam pot besar.

”Dari uji coba yang kita lakukan, nanas yang ditanam dalam pot lebih baik pertumbuhannya. Nanas yang keluar buahnya ini hasil tanam dalam pot. Nanas yang ditanam langsung ditanah pertumbuhannya kurang maksimal,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Produksi Padi di Rembang Merosot Drastis pada Panen Pertama

Panen Raya di Rembang, baru-baru ini (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Panen Raya di Rembang, baru-baru ini (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Musim panen padi di Kecamatan Sumber dan Kaliori Kabupaten Rembang tidak maksimal. Sebab, para petani di dua kecamatan itu rata-rata mengalami penurunan hasil panen hingga tiga kali lipat dari biasanya.

Kusnan, petani di Desa Tlogotunggal, Kecamatan Sumber menuturkan, selain disebabkan minimnya curah hujan pada tahun ini, petani juga mengeluhkan banyaknya tanaman yang diserang hama sundep.
“Saat kondisi normal, 2 petak sawah yang saya miliki bisa menghasilkan padi sebanyak 1,5 ton. Saat ini mungkin hanya mencapai 5 kwintal,” ungkapnya.

Hal serupa dikatakan Sunardi, petani di Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori. Panen padi kali ini memang sangat drastis. Dulu satu petak sawahnya, katanya, mampu menghasilkan 20 sak gabah. Kali ini kemungkinan hanya meraup 5 sak. “Padahal merupakan panenan pertama. Tentu berbeda jauh dibandingkan tahun lalu, bisa panen dua kali,” katanya.

Sunardi mengaku, saat ini sulit mencari pasokan air. Jika harus menyedot dari sungai, aliran sungai juga sama-sama mengering.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Suratmin, mengakui, merosotnya gabah kering hasil panen di kabupaten setempat. Tak hanya di dua kecamatan tersebut, namun juga dialami sejumlah wilayah lain.

Padahal menurutnya, tahun ini pemerintah pusat telah menargetkan produksi padi tembus 251 ribu ton di Rembang. Begitu melihat keluhan-keluhan yang disampaikan oleh petani, menurutnya sulit mengejar target tersebut.

“Anomali cuaca tak bisa dihindari. Pemerintah tinggal mengevaluasi, kedepan akan terus berupaya menambah jumlah embung, guna menopang sektor pertanian,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Petani Dibujuk Menanam Pakai Sistem Jajar Legowo

Petani menanam di sawah di Desa Terangmas, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petani menanam di sawah di Desa Terangmas, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Terangmas, Kecamatan Undaan, Kudus, Forchah mengatakan, petani hendaknya diberikan bimbingan agar bisa mempraktikkan sistem pertanian Jajar Legowo dan Tegel.

“PPL diharapkan bisa bimbing mereka (petani,red) biar terarah,” kata Forchah.

Menurutnya, sistem Jajar Legowo dikenalkan pada tahun 2010 lalu. Sejauh ini sudah ada beberapa petani yang telah beralih ke sistem itu.

Beralihnya para petani yang mulanya menggunakan sistem Tegel merupakan langkah awal untuk bisa menggandeng petani lainnya. Yakni agar sama-sama menggunakan sistem Jajar Legowo secara serempak.

Selama ini, dia menilai, masih banyak petani desanya yang memaki sistem Tegel. Namun bila mereka terus mendapatkan bimbingan dan arahan ke sistem Jajar Legowo maka tidak menutup peluang akan beralih. “Karena mereka butuh arahan dan pengetahuan tentang sistem Jajar Legowo. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Hasil Pertanian Desa Ini Tiba-tiba Melimpah

Petani menanam di sawah di Desa Terangmas, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petani menanam di sawah di Desa Terangmas, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Untuk bisa meningkatkan hasil pertanian warga, Pemerintah Desa Terangmas, Kecamatan Undaan, Kudus, dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) setempat memperkenalkan sistem bertani Jajar Legowo kepada seluruh petani.

Sistem ini merupakan penanaman padi, yang setiap satu meternya akan diisi dengan empat baris benih petani.
Petugas PPL Kecamatan Undaan Alvian Eko menjelaskan, sistem Jajar Legowo berbeda dengan yang biasa yaitu sistem Tegel.

Sistem Tegel merupakan cara yang biasa dipakai pada umumnya. Sistem Tegel itu merupakan penanaman padi yang setiap satu meternya diisi 5 benih tanaman.

“Sistem Jajar Legowo itu nantinya bisa memperbanyak populasi atau tanaman padi. Jajar Legowo itu lebih rompang (agak renggang) dibanding dengan sistem Tegel (rempet). Namun satu baris yang aada di sistem Tegel tersebut akan ditanamkan di antara empat baris yang ada di sistem Jajar Legowo. Atau bisa disebut digabungkan dengan sistem Jajar Legowo,” paparnya.

Penggabungan satu baris benih yang ada di sistem Tegel ke sistem Jajar Legowo tersebut nantinya bisa membuat hasil panennya lebih berisi, pulen.

Kepala Desa Terangmas Sudarno mengatakan program ini sudah berjalan mulai tahun 2010 lalu. Dan hasilnya juga bisa dinilai meningkat.

”Petani perlu sabar. Sebab rata rata rata petani itu masih terbiasa menggunakan sistem Tegel saja,” katanya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)