Tangkal Anti Nasionalisme, Habib Luthfi Akan Baiat Seribu Santri Jepara

santri-ilus

MuriaNewsCom, Jepara – Dalam rangka menangkal radikalisme dan mengikis benih-benih anti Pancasila, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Jepara akan menggelar “Maulid Kebangsaan: Baiat 1000 Santri Cinta NKRI” di Masjid Baiturrahim, Desa Tengguli, Kecamatan Bangsri, Jepara, pada Kamis malam, (27/10/2016).

Pengajian yang akan dihadiri oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya dan Habib Zainal Abidin Assegaf dari Pekalongan itu adalah rangkaian acara puncak peringatan Hari Santri Nasional yang digelar PCNU Jepara bersama Sarjana Kuburan (Sarkub) Jepara dan Ansor Tengguli, Jepara.

Menurut Katua Panitia Ahnafuddin, acara Maulid Kebangsaan ini digagas sebagai respon terhadap mengeringnya rasa cinta tanah di kalangan anak muda. Ada 4 persen penduduk Indonesia, jelasnya, yang mendukung gerakan ISIS. “Ini kalau dibiarkan akan terus bertambah,” katanya.

Yang memprihatinkan, data 2015 lalu, ada survei yang menunjukkan angka tentang dukungan radikalisme atas nama agama yang cukup mengkhawatirkan. Data itu menunjukkan bahwa ada 52 persen guru sekolah yang setuju tindak kekerasan atas nama solidaritas Islam demi penerapan syariat Islam di Indonesia. “14, 2 persen malah setuju penggunaan bom,” ujar Ahnaf memperlihatkan data penelitian LkiP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Melunturnya cinta tanah air ini bisa dilihat dari maraknya orang-orang atau komunitas pendidikan yang mengharamkan hormat kepada bendera merah putih. Bahkan menuduhnya syirik dan bidah. Dan, ironisnya, semua diatasnamakan pemurnian akidah. Seakan-akan cinta tanah air itu bukan bagian dari ajaran Islam.

Mereka yang menebar keraguan berbangsa tidak mengetahui kalau kalangan santri, yang sangat dekat dengan akses pengetahuan agama adalah penyusun lambang Garuda Pancasila (Habib Sultan Hamid), pencipta lagu Hari Merdeka (Habib Husain Mutahar), dan juga pencita lagu Nasional Ya Ahlal Wathan (KH Wahab Chasbullah) dan seterusnya.

Baiat 1000 Santri Cinta NKRI, tambah Ahnaf, adalah ikar nyata menanamkan benih-benih persatuan di antara warga negara. “Bukan hanya santri yang dibaiat nantinya, seluruh warga negara yang hadir akan mengikuti baiat bersama Habib Luthfi,” ujarnya.

Sebelum acara baiat, ada agenda Tawasulan Waliyullah pada 26 Oktober 2016. Sebanyak 10 Hafidz Al-Qur’an akan hadir membacakan 30 juz khatam kepada ratusan nama wali se Jepara dan nama-nama arwah peserta haul massal. Sehari setelahnya, digelar acara seminar Hari Santri bertema “Mengembalikan Tokoh NU yang Hilang dari Sejarah” di Gedung MWC NU Bangsri.

Editor : Akrom Hazami

Santri di Pati Diharapkan Jadi Barometer Santri Nasional

Sejumlah santri bersama dengan ribuan santri lainnya mengikuti kirab Hari Santri Nasional dari Gedung PCNU Pati menuju Alun-alun Pati, Sabtu (22/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah santri bersama dengan ribuan santri lainnya mengikuti kirab Hari Santri Nasional dari Gedung PCNU Pati menuju Alun-alun Pati, Sabtu (22/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada sejumlah santri asal Kabupaten Pati yang memiliki kontribusi besar di Indonesia. Salah satunya, Mbah Abdullah Salam, KH Sahal Mahfudz, Gus Rozien, Ulil Abshar Abdalla, dan masih banyak lagi lainnya.

Mereka memiliki peran dan kontribusi positif dalam mengisi pembangunan di Indonesia. KH Sahal Mahfudz, misalnya. Ulama karismatik yang meninggal dua tahun yang lalu ini pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rais Aam Syuriah PBNU dari 1999 hingga 2014, Rektor UNISNU Jepara, dan meraih gelar doktor kehormatan dari UIN Syarif Hidayatullah.

Sementara itu, Mbah Abdullah Salam dikenal masyarakat Indonesia sebagai seorang ulama yang penuh dengan karomah. Bahkan, sebagian orang menganggap Mbah Dullah sebagai seorang wali yang kharismatik dan berwibawa. Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid adalah satu di antara murid Mbah Dullah.

Beda lagi dengan Ulil. Menantu Gus Mus ini lebih dikenal masyarakat sebagai santri asal Pati yang getol mengkampanyekan pentingnya pluralisme di tengah masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, budaya dan bahasa. Dengan semangat pluralisme, Ulil menganggap pluralisme adalah sebuah konsep yang harus diruwat untuk bangsa.

Gus Rozien juga merupakan santri asal Pati yang punya komitmen tinggi dalam memperjuangkan pendidikan berbasis pesantren. Perjuangannya bersama dengan para tokoh penting berhasil melahirkan Ma’had Aly, pendidikan pesantren berbasis kitab kuning yang setara dengan perguruan tinggi.

“Santri-santri di Pati memang sudah tidak diragukan lagi peran dan kontribusinya untuk bangsa. Mereka bersama dengan para santri dari berbagai daerah di Indonesia ikut berperan dalam mengisi pembangunan Indonesia lebih baik. Beliau-beliau harus diteladani para santri masa kini,” kata Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati, Ali Munfaat, Sabtu (22/10/2016).

Menurutnya, Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk mengingat kembali perjuangan dan kiprah para santri untuk bangsa. Karena itu, kirab Hari Santri dari Gedung PCNU menuju Alun-alun Pati diharapkan bisa mendongkrak semangat santri di Pati untuk selalu berjuang untuk agama, bangsa dan negara. Para santri di Pati juga diharapkan menjadi barometer santri di Indonesia.

Editor : Kholistiono

Pesan Bupati Kudus soal Santri itu Bukan Teroris

Bupati Kudus Musthofa saat menghadiri peringatan Hari Santri Nasional di alun-alun setempat, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus Musthofa saat menghadiri peringatan Hari Santri Nasional di alun-alun setempat, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa mengatakan, peringatan Hari Santri Nusantara sangat bagus. Meski demikian, dia berharap agar kegiatan tidak sebatas seremonial belaka.

Hal itu disampaikannya pada apel Hari Santri Nasional di Alun-alun setempat, Sabtu (22/10/2016), pukul 10.00 WIB.

“Menjadi santri juga harus mengikuti perkembangan zaman. Termasuk juga santri yang juga bisa menjadi cendekiawan, politisi serta menjadi hal lainnya,” katanya.

Menurutnya, santri adalah sosok yang menjadi teladan. Sehingga sikap dan sifat santri hendaknya harus diperhatikan. Selain itu, dengan menjadi hal yang penting dengan sikap yang bagus, maka akan melahirkan hal yang bagus pula.

Selain itu, santri juga bebas menetapkan pilihan. Tentunya dengan norma yang berlaku, serta tidak keluar dari garis yang semestinya.

“Dan hal lain, santri bukanlah radikal atau teroris. Sebab santri adalah tauladan bagi yang lainnya. Jadi tidak ada santri yang demkian,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ribuan Santri Padati Kawasan Alun-alun Pati

Ribuan santri dari berbagai ponpes di Pati mengikuti kirab Hari Santri Nasional, Sabtu (22/10/2016). Mereka berjalan dari Kantor PCNU ke Alun-alun Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ribuan santri dari berbagai ponpes di Pati mengikuti kirab Hari Santri Nasional, Sabtu (22/10/2016). Mereka berjalan dari Kantor PCNU ke Alun-alun Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan santri dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Pati memadati kawasan Alun-alun Pati, Sabtu (22/10/2016). Mereka memperingati Hari Santri Nasional dengan menggelar kirab dari Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) menuju Alun-alun Pati.

Iring-iringan pasukan kirab berjalan tanpa putus sepanjang 3 kilometer dengan rute jalan sepanjang 2 kilometer. Ada puluhan maching band dari berbagai Madrasah Aliyah (MA) di Pati yang terlibat dalam kirab Hari Santri Nasional.

Beberapa rombongan di antaranya, tampak mengenakan baju koko, sarung dan sandal ala santri. Mereka berjalan beriring-iringan dengan gembira, melantunkan selawat, hingga lagu-lagu Islami lainnya.

Sekretaris Panitia Hari Santri Nasional Pati, Ali Mahmudi kepada MuriaNewsCom mengatakan, sedikitnya ada 5.000 santri ikut serta dalam peringatan Hari Santri Nasional. Kegiatan seremonial tersebut menjadi momentum bagi santri untuk menggugah etos santri.

“Kirab Hari Santri Nasional diharapkan bisa menggugah semangat para santri di Pati supaya bisa memaknai resolusi jihad. Seperti kita tahu, Bung Tomo menghadap KH Hasyim Asy’ari, sebelum melakukan kegiatan 10 November hingga banyak santri yang terlibat dalam perjuangan bangsa dari penjajahan. Kami berharap, para santri masa kini bisa meneladani para ulama dan santri terdahulu untuk ikut melanjutkan perjuangan mereka,” kata Mahmudi.

Nur Afifah (17), santri dari Ponpes Al Furqon Langenharjo, Margorejo mengatakan, santri pada zaman penjajahan punya peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. Karena itu, menurut Afifah, santri sekarang harus bisa melanjutkan perjuangan mereka dengan memperbaiki kualitas diri. Dengan SDM yang berkualitas, santri bisa ikut mengisi pembangunan Indonesia dengan baik.

Editor : Kholistiono

Goyang Poco-poco Bareng Banser pada Peringatan Hari Santri Nasional di Rembang, Heboh Bro!

Puluhan Banser saat menari poco-poco pada peringatan Hari Santri Nasional di Alun-alun Rembang, Sabtu (22/10/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Puluhan Banser saat menari poco-poco pada peringatan Hari Santri Nasional di Alun-alun Rembang, Sabtu (22/10/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Pada rangkaian Apel Peringatan Hari Santri Nasional yang berlagsung di Alun-alun Rembang Sabtu (22/10/2016), puluhan Banser yang hadir dalam kesempatan tersebut unjuk gigi di hadapan ribuan santri.

Mereka yang mengenakan seragam khas berjoget poco-poco begitu iringan musik diputar. Langkah awal dimulai Komandan Banser, lalu menggerakkan kaki berswing ria mengikuti irama poco-poco. Goyang poco-poco ini pun semakin asyik ketika beberapa di antara peserta apel yang mengenakan sarung juga mengikui tarian poco-poco ini.

Tarian poco-poco ini semakin semarak ketika grup drum band asal Pondok Pesantren Al Anwar Sarang yang mengiringi tarian poco-poco ini juga unjuk kebolehan. Tak hanya santri, beberapa peserta apel termasuk Bupati Rembang juga tampak asyik menikmati pertunjukan tersebut.

Komandan Banser Rembang Zaenal Arifin mengatakan, tarian poco-poco seperti ini biasa dipertunjukkan pada acara-acara tertentu. “Tarian ini kan memang asli milik bangsa kita, dan gerakannya hampir mirip dengan senam serta tidak terlalu sulit untuk ditirukan semua orang. Sehingga cocok jika digelar pada acara-acara tertentu,” ujarnya.

Dirinya juga mengaku begitu bangga dengan poco-poco, salah satu tarian Indonesia yang populer di kalangan segala usia, dan menilai bahwa sudah saatnya tarian ini  dilestarikan dan bisa menjadi pemersatu bangsa.

Editor : Kholistiono

Peringati Hari Santri, Ribuan Warga Kudus Apel di Alun-alun 

Bupati Kudus Musthofa saat menghadiri kegiatan apel Hari Santri Nasional di Alun-alun Kudus, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus Musthofa saat menghadiri kegiatan apel Hari Santri Nasional di Alun-alun Kudus, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus– Ribuan santri memperingati Hari Santri Nasional, dengan melaksanakan apel pagi. Kegiatan tersebut dilakukan oleh para santri dengan mengenakan sarung. Hal itu berbeda dengan apel atau upacara biasa yang memakai celana panjang.

Kegiatan yang diikuti oleh para santri dari berbagai kalangan di Kudus itu, dilaksanakan di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Sabtu (22/10/2016) pukul 08.00 WIB. Kegiatan diikuti diikuti santri sejumlah pondok pesantren, siswa Ma’aruf serta ormas Islam lainnya.

Selain memakai sarung, para santri juga mengenakan peci warna hitam. Para santri nampak serius mengikuti kegiatan itu. Tak lupa, mereka mengenakan almamater masing-masing.

Sedangkan peserta apel putri, mengenakan kerudung dan seragam identitas sekolah bagi yang masih pelajar. Sedangkan untuk ynag sudah kuliah atau umum, para santri mengenakan kerudung kuning dan putih.

“Kami sudah siap sejak pagi, seperti tahun kemarin juga diperingati dengan cara yang sama yakni apel dengan memakai sarung,” kata Jamil, peserta Apel kepada MuriaNewsCom.

Editor : Akrom Hazami

Ribuan Santri Upacara Hari Santri Nasional di Alun-alun Blora

upacara-hari-santri

Warga mengikuti upacara Hari Santri Nasional di Alun-alun Blora, Sabtu. (Humas Pemkab Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Ribuan santri mengikuti kegiatan upacara  dalam rangka Hari Santri Nasional di Alun-alun setempat, Sabtu (22/10/2016).

Bupati Blora Djoko_Arief memimpin upacara Hari Santri Nasional tingkat Kabupaten Blora. Pada kesempatan itu, juga dibacakan Ikrar Santri.

Upacara Hari Santri merupakan satu dari rentetan yang digelar di Blora. Setelah sebelumnya, ada ziarah Maqbaroh Pendiri NU Kabupaten Blora, Jumat 21 Oktober 2016 mulai 15.30 WIB di Makam KH Maksum komplek Masjud Dukuh Kidangan Jepon

Kemudian, ada p[embacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah serentak nasional. Kabupaten Blora digelar Jumat malam 21 Oktober 2016 mulai 19.00 WIB di pendapa kabupaten dan seluruh pendapa kecamatan.

Upacara Bendera Hari Santri Nasional digelar Sabtu 22 Oktober 2016 di Alun-alun Kabupaten Blora mulai 08.00 WIB. Seluruh santri mengenakan sarung dan pakaian pesantren.

Kirab Hari Santri 2016 digelar Sabtu siang ini.  Dengan rute Alun-alun hingga finish di DPRD. Peserta terdiri dari ribuan santri dan pelajar dengan berbagai potensi kesenian yang dimiliki.

Nantinya, ada Bakti Santri untuk Negeri berupa Donoh Darah, Sabtu 22 Oktober 2016 mulai 10.00 hingga 15.00 WIB di DPRD, Bersih-bersih Masjid dan Musholla di masing-masing lingkungan MWCNU dan ranting NU (waktu menyesuaikan), serta Santunan Yatim Piatu oleh Muslimat NU pada hari Minggu 30 Oktober 2016 di Pendopo Kabupaten.

Editor : Akrom Hazami

Santri Diminta Tidak Kaku Dalam Menerapkan Ajaran Agama

Ribuan santri sedang mengikuti apel Peringatan Hari Santri Nasional yang digelar di Alun-alun Rembang, Sabtu (22/10/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Ribuan santri sedang mengikuti apel Peringatan Hari Santri Nasional yang digelar di Alun-alun Rembang, Sabtu (22/10/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Ribuan santri dari berbagai pondok pesantren yang ada di Rembang mengikuti apel peringatan Hari Santri Nasional yang digelar di Alun-alun Rembang, Sabtu (22/10/2016). Meski kondisi alun-alun sebagian tergenang air lantaran hujan lebat pada Sabtu pagi, namun hal itu tak menyurutkan semangat santri untuk mengikuti apel.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Bupati Rembang Abdul Hafidz yang juga bertindak sebagai inspektur upacara, para SKPD, Forkopimpda, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Tokoh NU, GP Ansor, Banser, Fatayat, tokoh Muhammadiyah, tokoh LDII,  ulama dan sebagainya.

Dalam sambutannya, Bupati Rembang Abdul Hafidz berpesan, agar santri bisa mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya, santri tidak harus kaku dan harus bisa fleksibel dalam menerapkan ajaran agama.”Selain itu, santri juga harus bisa mengembangkan diri. Dan jangan hanya puas dengan keilmuan yang kalian miliki. Santri harus bisa selalu menambah wawasan, sehingga apa yang diinginkan bisa tercapai,” ujarnya di hadapan ribuan santri.

Kemudian, santri diminta untuk bisa mengedepankan akhlaqul karimah, bersikap tegas dan bisa menyampaikan kebenaran. Menurutnya, peringatan Hari Santri juga dapat memberikan pendidikan keagamaan bagi warga, serta bisa membendung terorisme.

“Tentunya, Hari Santri ini bisa memberikan semangat bagi santri. Karena, santri bisa menjadi pondasi pembangunan, pemikiran bagi bangsa serta dapat membendung ajaran terorisme yang ada di masyarakat,” pungkasnya.

Dalam apel Peringatan Hari Santri Nasional ini, juga ada pembacaan teks Resolusi  Jihad dan ikrar santri Indonesia. Selain itu juga menyanyikan lagu Indonesia Raya, Padamu Negeri, Selawat Badar dan  Subbanul Wathon (cinta tanah air) ciptaan KH. Wahab Chasbullah Jombang, Jawa Timur.

Editor : Kholistiono

Pembacaan 1 Miliar Selawat Nariyah Warnai Peringatan Hari Santri Nasional di Blora

Pengurus PCNU Kabupaten Blora gelar ziarah ke makam KH Maksum, pendiri NU Blora. (Humas Protokol Blora)

Pengurus PCNU Kabupaten Blora gelar ziarah ke makam KH Maksum, pendiri NU Blora. (Humas Protokol Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Pembacaan 1 miliar selawat Nariyah akan mewarnai peringatan Hari Santri Nasional di Blora, Jumat (21/10/2016) pukul 19.00 WIB.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Blora menyelenggarakan sejumlah kegiatan yang melibatkan banyak peserta di Hari Santri Tahun 2016. Kegiatan dimulai Jumat (21/10/2016) hingga Minggu (30/10/2016).

Diketahui, Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober sejak 2015. Peringatan itu berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No.22 Tahun 2015 tentang penetapan Hari Santri dan instruksi PBNU Nomor 870/C.I.34/09/2016 tentang Peringatan Hari Santri Tahun 2016.

Aunur Rofiq, Ketua PCNU Blora, mengatakan, berdasarkan hasil rapat beberapa waktu lalu, rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional tingkat Kabupaten Blora akan dimulai Jumat siang (21/10/2016) dengan ziarah ke makam tokoh NU dan dilanjutkan pembacaan Selawat Nariyah serentak nasional pada malam harinya.

“Serta masih banyak lagi agenda lainnya hingga hari Minggu. Masyarakat kami persilahkan untuk berpartisipasi untuk memeriahkannya,” katanya.

Berikutjadwal lengkap kegiatan Hari Santri Nasional 2016 tingkat Kabupaten Blora adalah sebagai berikut :

  1. Ziarah Maqbaroh Pendiri NU Kabupaten Blora, Jumat 21 Oktober 2016 mulai 15.30 WIB di Makam KH Maksum komplek Masjud Dk Kidangan Jepon
  2. Pembacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah serentak nasional. Kabupaten Blora digelar Jumat malam 21 Oktober 2016 mulai 19.00 WIB di Pendopo Kabupaten dan seluruh Pendopo Kecamatan.
  3. Upacara Bendera Hari Santri Nasional digelar Sabtu 22 Oktober 2016 di Alun-alun Kabupaten Blora mulai 08.00 WIB. Dimana seluruh santri mengenakan sarung dan pakaian pesantren.
  4. Kirab Hari Santri 2016 digelar Sabtu siang 22 Oktober 2016 pukul 10.00 WIB dengan rute Alun-alun hingga finish di DPRD. Peserta terdiri dari ribuan santri dan pelajar dengan berbagai potensi kesenian yang dimiliki.
  5. Bakti Santri untuk Negeri berupa Donoh Darah hari Sabtu 22 Oktober 2016 mulai 10.00 hingga 15.00 WIB di DPRD, Bersih-bersih Masjid dan Musholla di masing-masing lingkungan MWCNU dan ranting NU (waktu menyesuaikan), serta Santunan Yatim Piatu oleh Muslimat NU pada hari Minggu 30 Oktober 2016 di Pendapa Kabupaten Blora.

Editor : Akrom Hazami

Hari Santri Nasional Diperingati Mahasiswa IPMAFA Pati dengan Cara Tebarkan Perdamaian

Suasana pelatihan pendidikan perdamaian yang digelar Pusat Studi Peace Promotion Fakultas Dakwah Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati kemarin. (Istimewa)

Suasana pelatihan pendidikan perdamaian yang digelar Pusat Studi Peace Promotion Fakultas Dakwah Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati kemarin. (Istimewa)

MuriaNewsCom,Pati – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Pusat Studi Peace Promotion Fakultas Dakwah Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati menggelar pelatihan pendidikan perdamaian.

Dalam rilis yang diterima MuriaNewsCom, pelatihan dengan tema “Memberdayakan Remaja Untuk Perdamaian” itu dilangsungkan di Auditorium 2 Kampus IPMAFA Margoyoso, Pati, Kamis (20/10/2016).

Direktur Pusat Studi Peace Promotion Kamilia Hamidah menyampaikan pelatihan tersebut diikuti puluhan siswa tingkat Madrasah Aliyah (MA) sederajat se-Kecamatan Margoyoso. “Pelatihan yang kita adakan ini, sebagai salah satu bentuk upaya kita untuk menebarkan kedamaian kepada remaja,” ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa peran penting remaja yang harus dikawal. Karena, akses informasi yang begitu masiv, dengan mudah dikonsumsi remaja. Sehingga, hal tersebut harus diantisipasi bersama, supaya remaja tidak salah memilih dan melangkah.

Ia katakan, kekerasan dan radikalisme tidak bisa ditekan hanya dengan peran aparat penegak hukum, melainkan juga gerakan-gerakan dari bawah seperti yang dilakukan Pusat Studi Peace Promotion.

Lebih lanjut ia sampaikan, Peace Promotion sebagai pusat studi yang aktif menyebarkan nilai perdamaian, selalu berinovasi dalam setiap kegiatan yang dijalankan. Hal ini, mengingat pentingnya menerapkan strategi kombinasi role model dan role playing, serta mempromosikan secara masif para figur pemuda yang perlu diteladani. Sehingga, nantinya diharapkan dapat mengkondisikan peran positif pemuda lainnya secara pro aktif.

Foto bersama panitia pelatihan pendidikan perdamaian dari Pusat Studi Peace Promotion Fakultas Dakwah Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati dengan peserta (Istimewa)

Foto bersama panitia pelatihan pendidikan perdamaian dari Pusat Studi Peace Promotion Fakultas Dakwah Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati dengan peserta (Istimewa)

“Training ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas karakter pemuda dan partisipasi pemuda dalam upaya membangun budaya toleransi yang merupakan bagian integral untuk merealisasikan perdamaian,” ucapnya.

Sementara itu, Suhaili, Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Margoyoso menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan pelatihan yang diadakan Pusat Studi Peace Promotion.

“Kegiatan seperti ini patut didukung, karena upayanya membangun kesadaran para santri untuk menjadi muslim yang sholeh. Santri memang tidak asing dengan pelajaran-pelajaran akhlak dan moral, tapi dalam praktiknya sangat sulit sekali dilakukan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Rembang Siap Meriahkan Peringatan Hari Santri Nasional

Panitia menunjukkan denah tempat acara yang bakal digunakan sebagai pelaksanaan Gebyar Hari Santri di Alun-alun Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Panitia menunjukkan denah tempat acara yang bakal digunakan sebagai pelaksanaan Gebyar Hari Santri di Alun-alun Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Serangkaian acara telah disiapkan untuk memperingati Hari Santri Nasional pada 22 Oktober di Kabupaten Rembang. Acara yang bertajuk Gebyar Hari Santri ini, bakal berlangsung selama dua hari, yakni pada 22-23 Oktober 2016.

Acara Gebyar Hari Santri diawali dengan upacara atau apel Hari Santri yang dilangsungkan di Alun-alun Rembang. Dijadwalkan, pada apel Hari Santri besok, Bupati Rembang Abdul Hafidz akan hadir yang juga bertindak sebagai inspektur upacara. Hadir pula nantinya Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan organisasi masyarakat lain, serta perwakilan santri.

Selanjutnya, pada Minggu (23/10/2016) pagi, Gebyar Hari Santri akan diawali dengan kirab bendera yang melalui rute beberapa jalan protokol di Rembang. Kirab bendera ini, nantinya dijadwalkan sudah mulai sejak pukul 08.00 WIB.

Ketua Panitia Acara Muhamad Tijami mengatakan, kirab Gebyar Hari Santri tersebut, akan diikuti ribuan santri di Rembang. “Usai kirab, nantinya dilanjutkan dengan giat etalase sosial. Dalam hal ini, akan ada beberapa stand dari organisasi maupun yayasan sosial di Rembang,” katanya.

Menurutnya, stand-stand yang ada nanti, bukan untuk menjual produk, namun, stand tersebut disiapkan untuk memfasilitasi penyaluran bantuan sosial dari masyarakat. Setidaknya, nantinya ada 30 stand dari berbagai lembaga sosial yang ada di Rembang.

Kemudian, puncak Gebyar Hari Santri yang berlangsung pada Minggu malam, nantinya akan ada istighosah akbar yang akan dipimpin oleh KH Ahmad Zamroni. “Nantinya, kita akan bersama-sama melantukan selawat nariyah untuk Bangsa Indonesia. Kita targetkan, ada 50 ribu pengunjung yang bakal menghadiri acara ini,” ujarnya.

Usai istighosah, nantinya akan disambung dengan tabuhan rebana dari seribu penerbang se-Kabupaten Rembang, kemudian dilanjutkan sajian wayang kulit oleh dalang muda Ki Sigid Ariyanto. Uniknya, pagelaran wayang ini, nantinya durasinya hanya berkisar 45 menit saja.

Selain berbagai acara yang disuguhkan, Gebyar Hari Santri 2016 di Rembang juga bakal mendatangkan berbagai tokoh terkemuka. Di antaranya, KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus), Emha Ainun Najib (Cak Nun), Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen (Gus Ghofur) dari Sarang, Rembang, Anis Sholeh Ba’asyin dari Pati dan Gus Yahya C. Staquf (Katib ‘Am Syuriah PBNU).

Rencananya, tokoh tersebut akan mengisi Tausyiah Budaya dan Kebangsaan. Di dalamnya akan membahas polemik berbangsa dan berbudaya sebagai implementasi santri juga sebagai bagian dari NKRI.

Editor : Kholistiono

Rayakan Hari Santri Nasional, Santri Ponpes di Grobogan Ini Gelar Kirab

Segenap santri Ponpes Hidayatul Mubtadiin, Kecamatan Gubug gelar kirab rayakan Hari Santri Nasional. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Segenap santri Ponpes Hidayatul Mubtadiin, Kecamatan Gubug gelar kirab rayakan Hari Santri Nasional. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Meski tidak seramai kota-kota lain, namun peringatan Hari Santri Nasional (HSN) juga dilakukan di Grobogan. Salah satunya di lingkup Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mubtadiin, Kecamatan Gubug.

Dalam peringatan HSN ini, keluarga besar Yayasan Islam Hidayatul Mubtadiin Gubug, menggelar acara kirab santri. Acara tersebut diikuti para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mubtadiin. Kirab tersebut juga dimeriahkan grup marcing band dari SMP dan SMAIT Hidayatul Mubtadiin.

”Selain kirab, kami juga melaksanakan Istighosah. Kemudian, ada pula lomba kaligrafi Arab untuk memperingati HSN,” ujar Ketua Yayasan Islam Hidayatul Mubtadiin KH Masykuri Sahri.

Menurutnya, berbagai kegiatan santri yang digelar bersamaan dengan perayaan HSN diharapkan bisa menggugah para santri agar mengenang kembali perjuangan para ulama. Yakni, pengorbanan mereka dalam membebaskan negara ini dari belenggu penjajah. Dimana, kelompok santri ini juga ikut andil besar dalam kemerdekaan Republik Indonesia. (DANI AGUS/TITIS W)

HARI SANTRI : 1.000 Mobil Hias Penuhi Jalan Raya di Kudus

Mobil hias melakukan kirab sebagai salah satu kegiatan dari HSN di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Mobil hias melakukan kirab sebagai salah satu kegiatan dari HSN di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kirab Hari Santri Nasional (HSN) yang diselenggarakan di Kudus berlangsung meriah. Ribuan peserta kirab memadati jalan secara tertib dan teratur.

Ketua Panitia Gebyar HSN  Sanusi Emha berharap, ditetapkannya HSN akan berpengaruh pada patriotisme dan heroisme di kalangan santri nusantara.

“Dapat membuka mata bangsa ini, bahwa di balik peristiwa 10 November 1945, ada peristiwa lahirnya resolusi jihad. Resolusinya ini yang menggerakkan para santri dalam mempertahankan RI,” katanya.

Kirab HSN melewati Alun-alun Kudus, ke selatan melalui PLN ke kiri menuju Loram. Kemudian setelah sampai Pasar Doro melewati SMA 1 Bae ke arah STAIN.

Selanjutnya rombongan menuju arah Dawe kemudian ke arah Gebog, melalui Polsek Gebog hingga melalui penempatan Sudimoro dan finish di jalan lingkar Klumpit.

“Peserta kirab mencapai jumlah sekitar seribu mobil dari berbagai kalangan di Kudus,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

HARI SANTRI : Santri Lawan Pengaruh Budaya Asing

Sejumlah santri Ponpes Al Masyhur, Desa Jatiroto, Kecamatan Kayen mengenakan kostum pencak silat saat mengikuti kirab Hari Santri Nasional. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah santri Ponpes Al Masyhur, Desa Jatiroto, Kecamatan Kayen mengenakan kostum pencak silat saat mengikuti kirab Hari Santri Nasional. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati seluruh santri di berbagai daerah di Indonesia diharapkan bisa memperbaiki akhlak para santri, sekaligus moral generasi bangsa. Hal ini disampaikan Pengasuh Ponpes Al Masyhur, Desa Jatiroto, Kecamatan Kayen Ali Maskur.

“Hari Santri harus bisa dijadikan sebagai refleksi dan momentum untuk berbenah dari kalangan santri sendiri. Setelah itu berhasil, tugas selanjutnya santri harus bisa berada di garda paling depan untuk membenahi akhlak dan moralitas generasi bangsa,” ujar Maskur kepada MuriaNewsCom usai mengikuti kirab Hari Santri Nasional, Kamis (22/10/2015).

Saat ini, kata dia, arus globalisasi yang kian deras memang harus diatasi dengan memperbaiki akhlak pada diri generasi bangsa. “Pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter dan kepribadian bangsa Indonesia harus dilawan. Inilah momentum bagi para santri untuk berbenah,” imbuhnya.

Terlebih, santri di Kabupaten Pati terbilang cukup besar dan punya pengaruh di tingkat nasional. Karena itu, santri di Pati diharapkan bisa menjadi penggerak dan memberikan teladan yang baik kepada santri lainnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

HARI SANTRI : Bupati Kudus Berharap Santri Lebih Oke

Para santri mengikuti kegiatan apel di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para santri mengikuti kegiatan apel di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Bupati Kudus Musthofa berharap besar kepada para santri di Kudus. Harapan bupati tersebut sangat besar terlebih pada Hari Santri Nasional (HSN).

“Mudah mudahan para santri dapat memberikan contoh yang baik bagi masyarakat. Terlebih lagi di Kudus, yang banyak memiliki santri,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Mengenai acaranya, bupati menyukainya. Bahkan dia berharap dapat dilakukan setiap tahun secara rutin. Bukan hanya itu, acara yang dilakukan juga dapat lebih meriah lagi dengan berbagai kegiatan lain.

“Bisa lebih dimeriahkan lagi, dengan lebih banyak kegiatan. Mengenai bantuan biaya kalau selama tidak menyalahi aturan kami siap membantu,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

HARI SANTRI : Hore, Sekolah Maarif Libur 2 Hari

Para santri mengikuti kegiatan apel di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para santri mengikuti kegiatan apel di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada 22 Oktober, dilaksanakan secara meriah di Kudus. Bukan sekadar apel saja, melainkan dilanjutkan pula dengan pawai kirab santri mengelilingi Kudus.

Selain acara, ternyata puluhan sekolah di bawah naungan LP Maarif Kudus diliburkan. Hal itu diutarakan Ketua LP Maarif Kudus Ali Ashari saat ditemui MuriaNewsCom. Menurutnya selama dua hari sekolah diliburkan.

“Mudah mudahan ini dapat dilaksanakan secara rutin. Jadi pada HSN dapat libur secara nasional,” katanya.

Hanya, libur yang terjadi sekarang adalah libur secara umum. Sudah menjadi rutinitas setiap 9 dan 10 Muharram sekolah dalam naungan LP Maarif diliburkan. Dan secara kebetulan, tahun ini berbarengan dengan 22 Oktober.

“Mestinya setiap tahun menjadi libur nasional. Terlebih 22 Oktober ini sudah menjadi hari santri nasional,” ujarnya

Dalam kegiatan tersebut, sedikitnya 6 ribu siswa sudah dilakukan libur sekolah dan sekitar seribu lebih para siswa mengikuti apel yang diselenggarakan di Simpang Tujuh. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

HARI SANTRI : Ratusan Santri Al Masyhur Kayen Pati Kirab Kelilingi Desa

Ratusan santri dari Ponpes Al Masyhur Kayen mengikuti kirab memeringati Hari Santri Nasional dengan mengelilingi desa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan santri dari Ponpes Al Masyhur Kayen mengikuti kirab memeringati Hari Santri Nasional dengan mengelilingi desa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sekitar 500 santri dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al Masyhur menggelar kirab Hari Santri Nasional (HSN) dengan mengelilingi Desa Jatiroto, Kecamatan Kayen Pati, Kamis (22/10/2015).

Hal itu diharapkan bisa mengenalkan santri di ponpes tersebut dengan Hari Santri Nasional. “Ini menjadi momentum bagi kami untuk mengenalkan kepada santri bahwa saat ini ada hari besar bagi santri di Indonesia,” ujar Ali Maskur, Pengasuh Ponpes Al Masyhur kepada MuriaNewsCom.

Usai menggelar kirab, mereka kemudian dikenalkan dengan sejarah perjuangan santri yang punya kontribusi besar bagi kemerdekaan Indonesia. Dengan pengenalan itu, mereka diharapkan terpacu untuk lebih giat belajar dan punya semangat juang untuk agama, bangsa dan negara.

“Santri kami banyak, mulai dari usia 4 tahun hingga 17 tahun, dari santri tingkat raudlatul adfal hingga madrasah aliyah. Semua ikut kirab. Kami berharap, mereka kelak menjadi generasi emas yang ikut memajukan bangsa,” harapnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

HARI SANTRI : Santri Emoh Dicueki Pemkab Jepara

Salah seorang santri memperagakan kemampuan bela diri usai apel peringatan hari santri di Alun-alun Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah seorang santri memperagakan kemampuan bela diri usai apel peringatan hari santri di Alun-alun Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Ribuan santri di Kabupaten Jepara mengikuti apel peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Alun-alun Jepara, Kamis (22/10/2015). Momen penting ini diharapkan menjadi pemacu agar pemerintah lebih memperhatikan santri.

Ketua Rabithah Maahid Islamiyah NU Jepara Zainul Arifin mengatakan, pihaknya meminta agar peringatan HSN tidak sekadar seremonial dan eufuria yang kosong. “Harus ada tindak lanjut yang nyata,” katanya.

Salah satunya, Pemkab harus membuat kebijakan yang berpihak pada santri. Baik dalam pengembangan dan kebijakan lainnya. Untuk pesantren yang ada, agar mengembangkan manajemen Ponpes tapi tidak menghilangkan tradisi salafiyah.

“Peran santri ke depan diharapkan mampu mengisi pos-pos penting dalam pemerintahan agar bisa berperang aktif dalam pembangunan. Salah satunya di bidang teknologi dan pengelolaan sumber daya alam,” ucapnya.

Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Balekambang, Kiai Makmun Abdullah Hadziq menuturkan, tujuan penting dari peringatan HSN adalah agar santri tahu perjuangan ulama terdahulu. Juga agar masyarakat luas memahami peran santri.

“Peran santri dari dulu sampai sekarang ini masih sangat penting. Jangan bilang kalangan santri itu tidak mengikuti zaman,” imbuhnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Ribuan Santri Jepara Rela Tinggalkan Pondoknya

Para santri mengikuti upacara Hari Santri Nasional di Alun-alun Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Para santri mengikuti upacara Hari Santri Nasional di Alun-alun Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Ribuan santri tinggalkan pondok pesantrennya di Kabupaten Jepara. Tujuannya hanya satu, yakni mengikuti apel peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Alun-alun Jepara, Kamis (22/10/2015). Acara yang juga diikuti pelajar, dipelopori Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan pesantren di Jepara berlangsung meriah.

Apel dipimpin Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. Dalam sambutannya, dia mengatakan bahwa santri mampu bersaing. Terlebih banyak santri yang telah mampu membuktikan menjadi pemimpin di negeri ini.

“Banyak sekali santri yang menjadi pemimpin di negeri ini. Misalnya saja menteri di kabinet kerja Jokowi-JK ada yang berlatar belakang santri seperti Marwan Jakfar, menteri desa,” ujar Marzuqi.

Dia juga mengatakan peran santri sejak perjuangan mewujudkan kemerdekaan juga tidak diragukan lagi. Sejarah mencatat, santri memiliki peran penting dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah.

“Harapannya para santri ini jangan minder. Jangan takut kalah saing. Justru dengan menjadi santri, memiliki kelebihan yang tidak memiliki oleh orang yang tidak santri,” imbuhnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

HARI SANTRI : Mantap, Para “Presiden RI” Berkumpul di Alun-alun Kudus

Siswa MI TBS mengenakan topeng wajah para Presiden di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Siswa MI TBS mengenakan topeng wajah para Presiden di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Dalam apel Hari Santri Nasional (HSN) yang diselenggarakan di Simpang Tujuh Kudus, dihadiri pula oleh para “Presiden” indonesia. Tidak hanya satu presiden saja, melainkan tujuh “Presiden” juga hadir meramaikan kegiatan tersebut.

Tujuh “Presiden ” berkumpul menjadi satu di Kudus, kedatangannya mendukung ditetapkannya HSN. Para “Presiden” mengenakan topeng mulai dari Sukarno, Soeharto, BJ Habibie, Gusdur, Megawati, SBY hingga Jokowi.

Pemeran ‘Presiden tersebut adalah para siswa dari MI TBS Kudus yang mengikuti apel dengan menganakan make up dan topeng wajah presiden.

Kepala MI NU TBS Kudus Salim mengatakan, pihaknya yakin kalau para pemimpin bersedia kalau pada 22 Oktober ditetapkan menjadi HSN.

“Jasa para santri dan kiai terhadap perjuangan merebut kemerdekaan RI sangatlah besar. Selain itu, para santri juga memiliki peran besar dalam mempertahankan kemerdekaan,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

HARI SANTRI : Apel Pagi di Simpangtujuh Pakai Sarung

Para santri mengenakan sarung saat melakukan apel di Alun-alun Simpangtujuh Kudus, Kamis (22/10) (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para santri mengenakan sarung saat melakukan apel di Alun-alun Simpangtujuh Kudus, Kamis (22/10) (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Dalam memperingati Hari Santri Nasional, ribuan santri melaksanakan apel pagi. Kegiatan yang diikuti oleh para santri dari berbagai kalangan di Kudus itu, dilaksanakan di Alun-alun Simpangtujuh Kudus, Kamis (22/10/2015) pagi. Bedanya, dalam menjalankan kegiatan tersebut, para santri mengenakan sarung saat apel.

Para santri dari berbagai Pondok Pesantren (Ponpes) dan Ulama di Kabupaten Kudus,mengenakan sarung secara khidmat. Selain itu, peserta apel juga dihadiri dari kalangan pelajar dan para siswa di Kudus.

Selain memakai sarung, para santri juga mengenakan peci warna hitam di kepalanya. Para santri nampak serius mengikuti kegiatan besar tersebut mengenakan almamater masing masing.

Sementara,untuk peseta yang putri, peserta mengenakan kerudung dan seragam identitas sekolah bagi yang masih pelajar. Sedangkan yang umum, para santri mengenakan kerudung kuning dan putih.

“Disesuaikan dengan instansinya, kalau kami dari PMII ya menggunakan kerudung kuning dan memakai jas almamater kami,” ungkap ketua Umum PMII kudus Malik Khairul Anam kepada MuriaNewsCom. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Peringati Hari Santri Nasional, 6 Ribu Santri Bersiap Lakukan Kirab Besar-Besaran di Kudus

Panitia apel dan kirab Hari Santri dari PCNU Kudus melakukan koordinasi dan pemantapan acara. (MuriaNewsCom)

Panitia apel dan kirab Hari Santri dari PCNU Kudus melakukan koordinasi dan pemantapan acara. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – ”Pasukan” pembawa Pataka Resolusi Jihad yang diberangkatkan pada Minggu (18/10/2015) akan tiba di Kudus pada Senin (19/10/2015) sore ini. Di Kota Kretek, pasukan akan menziarahi makam Kanjeng Sunan Kudus dan salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) asal Kudus yang makamnya persis di belakang Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, KH. Raden Asnawi.

Suparno, sekretaris panitia Hari Santri Nasional di Pengurus Cabang (NU) Kudus mengutarakan hal itu, Senin pagi. ”Usai ziarah, rombongan akan silaturahmi ke kediaman Mustasyar PBNU, KH. Sya’roni Ahmadi,” ujarnya.

Di luar penyambutan pasukan pembawa Pataka Resolusi Jihad, Suparno menambahkan, pihak PCNU Kudus juga tengah menyiapkan apel dan kirab dalam rangka Hari Santri Nasional. ”Apel akan digelar di Alun-alun Simpang Tujuh pada Kamis, 22 Oktober,” tuturnya.

Pimpinan PC. Ansor Kudus ini mengutarakan, sebanyak 6.000 santri akan ikut ambil bagian dalam apel, yang kemudian dilanjutkan kirab menggunakan mobil mengelilingi Kabupaten Kudus. ”Para santri ini berasal dari madrasah dan pesantren di bawah organisasi NU,” terangnya.

Hingga Minggu malam (18/10/2015), ratusan peserta kirab dari sembilan kecamatan yang ada di Kudus, telah mendaftarkan diri. Terbanyak yaitu dari Gebog, yakni 300 mobil. Selanjutnya, Dawe (100 mobil), Kaliwungu (75 mobil), Jati (100 mobil), Kota (100 mobil), Bae (70 mobil), Jekulo (100 mobil), Mejobo (75 mobil), dan Undaan (75 mobil).

”Ini jumlah resmi yang sudah masuk, tetapi kemungkinan masih bisa bertambah, karena masing-masing kecamatan informasinya banyak yang menggelar koordinasi lagi membahas personel yang akan ikut dalam kirab,” ungkapnya diamini H. Sanusi, pengurus PCNU Kudus.

Sementara itu, rute yang akan dilalui dalam kirab, yakni dari alun-alun ke utara menuju perempatan Panjang, lalu menuju Klumpit, melalui Gondosari, lalu menuju Dawe, kemudian ke Cendono, lalu Gondangmanis, dan berlanjut menuju Karang Bener.

”Selanjutnya, kirab akan melalui Honggosoco, menuju ke Karawang, kemudian melalui jalur Pantura, jalur lingkar Ngembal ke Selatan menuju perempatan Desa Jepang, melalui Pasar Doro, lalu ke Barat melalui Desa Loram, berlanjut ke Getaspejaten, dan kemudian finish di SMA NU Al-Ma’ruf,” urainya. (TITIS W)