Berkah Hari Raya Kurban, Permintaan Arang Meningkat

Pedagang arang menata dagangannya sebelum memberikannya kepada pembeli di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pedagang arang menata dagangannya sebelum memberikannya kepada pembeli di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Selama perayaan Idul Adha hingga Tasyrik, menjadi berkah tersendiri bagi banyak kalangan. Termasuk juga bagi para pedagang arang.

Pedagang arang memperoleh peningkatan pendapatan. Mengingat pada momen itu, banyak warga yang membakar daging sate. Seperti yang dialami Ngatini (46) warga Pasuruan, Kecamatan Kota, Kudus. Dalam sehari, dia dapat menjual hingga 15 karung arang pada momen Hari Raya Kurban dan Tasyrik.

“Kalau biasanya dalam sehari paling banyak habis 5 sak atau karung besar. Namun kalau seperti ini bisa habis hingga 15 karung ukuran besar,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dari 15 karung itu, dia bisa mengantongi Rp 130 ribu. Belasan karung berisi arang itu biasanya dijual secara eceran seharga Rp 1.000 hingga Rp 20 ribu. Tergantung dari ukurannya.

Sementara, Ngatini (46) penjual arang yang di depan ADA Swalayan mengatakan, besarnya permintaan arang membuatnya kewalahan. Dia pun memperbantukan suami dan saudaranya. “Kalau sekarang ramai, mungkin gara-gara banyak yang ingin sate daging kurban. Makanya saya mengambil satu karyawan untuk membantu saya,” katanya.

Ngatini menjalankan usahanya sejak lama. Bahkan, kakeknya juga berjualan arang.  “Sampai hari Tasyrik usai biasanya masih ramai, saya sudah berjualan selama 25 tahun lebih. Sebelumnya saya ikut jualan orang tua dan mbah,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Panitia Kurban di Jepara Ini Dibentuk Sejak 5 Tahun, Lho

Panitia kurban sedang  menata daging kurban di Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Panitia kurban sedang  menata daging kurban di Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Panitia kurban di Masjid Babussalam, Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo, Jepara, dibentuk jauh-jauh hari, yakni lima tahun yang lalu. Itu dilakukan agar persiapan matang dan jumlah hewan yang dijadikan kurban, semakin banyak.

Terbukti, tahun ini, panitia kurban masjid tersebut mampu mengumpulkan sembilan ekor sapi dan tujuh ekor kambing. Jumlah tersebut tergolong paling banyak di antara masjid lain di desa setempat dan sekitarnya. “Iya kami yang paling banyak di antara masjid lain. Ada sembilan ekor sapi dan tujug ekor kambing. Ini karena kami paling lama membentuk panitia kurban. Sudah berjalan lima tahun ini. Sedangkan masjid lain baru mulai tahun ini,” kata ketua panitia kurban Masjid Babussalam Amin Fatah bersama sekretaris Nadlori, Senin (12/9/2016).

Ia menceritakan, hingga H-1 Hari Raya Kurban, panitia berhasil menghimpun sembilam ekor sapi dan dua ekor kambing. Rata-rata, bentuknya menyetor uang masing-masing senilai Rp 2,2 juta dengan catatan, Rp 2 juta untuk hewan kurban, dan Rp 200 ribu untuk operasional. “Menjelang pemotongan hewan kurban pada hari pertama Idul Adha, ada tambahan lima warga yang menitipkan ke panitia dalam bentuk kambing,” tambahnya.

Dengan jumlah sebanyak itu, panitia membagi lebih dari seribu kantong daging. Tidak hanya untuk warga sekitar masjid namun juga warga desa tetangga yang secara geogrfis tak terlalu jauh dengan masjid. Banyaknya hewan qurban yang terhimpun karena panitia memfasilitasi warga yang ingin berkurban dengan cara menabung ke panitia. Bahkan ada sejumlah janda yang bisa berkurban dengan cara ini. “Menjelang penyembelihan, kami umumkan ke warga soal fasilitas simpanan kurban ini. Harapan kami tahun depan lebih banyak,” tambahnya.

Kesuksesan panitia di Masjid Babussalam dalam lima tahun menginspirasi masjid lain di desa ini membentuk panitia. Secara keseluruhan, Desa Suwawal ini melalui tiga kepanitiaan di tiga masjid yang berbeda, jumlah hewan kurban yang dipotong mencapai 21 ekor sapi dan 12 ekor kambing. Jumlah terbanyak dihimpun panitia di Masjid Babussalam yang terletak di RW 3 desa setempat. “Kami dari RW berhasil menghimpun enam ekor sapi dan seekor sapi,” kata ketua panitia di masjid RW 1 Sudarpatmiyanto.

Sedangkan ketua panitia masjid RW 4 Akib menyebut, tahun pertama ini pihaknya mendapat kepercayaan menyalurkan kurban sebanyak enam ekor sapi dan empat ekor kambing.

Editor : Akrom Hazami

Junjung Kearifan Lokal, UMK Kurban Kerbau 

Sejumlah warga dan perwakilan Yayasan Pembina UMK melakukan penyembelihan kurban di halaman kampus UMK, Senin. (Universitas Muria Kudus)

Sejumlah warga dan perwakilan Yayasan Pembina UMK melakukan penyembelihan kurban di halaman kampus UMK, Senin. (Universitas Muria Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Pilihan tidak menyembelih sapi bagi masyarakat Kudus, merupakan salah satu manifestasi (wujud) toleransi yang diajarkan oleh Kanjeng Sunan Kudus pada masanya. Itu sebagai bentuk penghormatan kepada penganut nonmuslim yang menghormati sapi.

Hal itu masih dipegang oleh kebanyakan masyarakat Kudus. Hingga sekarang, tak terkecuali dalam perayaan Idul Idha atau Hari Raya Kurban. Pada Hari Raya Kurban, kambing dan kerbau pun menjadi hewan untuk kurban, sebagaimana yang dilakukan oleh Universitas Muria Kudus (UMK).

Manajer Yayasan Pembina (YP.) UMK, Zamhuri, mengatakan, pihaknya mencoba mentradisikan memilih kambing dan kerbau sebagai hewan kurban, untuk menjunjung kearifan lokal yang berlaku di Kota Kretek ini.

“Alhamdulillah, tahun ini UMK bisa berkurban tiga ekor kerbau dan dua ekor kambing,’’ ujarnya di sela-sela prosesi penyembelihan huwan kurban di halaman belakang UMK, Senin pagi (12/9/2016) di rilis persnya.

Rektor UMK, Suparnyo mengemukakan, kerbau menjadi pilihan untuk berkurban, selain untuk menjunjung kearifan lokal (tradisional) Kota Kudus, karena ada pesan tersirat dari sana. ‘’Islam tidak mengharamkan menyembelih sapi, sehingga tidak mungkin Sunan Kudus melarang menyembelih sapi. Hanya saja, karena dulu banyak nonmuslim yang menganggap suci sapi, maka Sunan Kudus mengimbau masyarakat, khususnya yang sudah memeluk Islam, tidak menyembelihnya untuk menjaga perasaan masyarakat yang menganggap sapi sebagai hewan suci,’’ ungkapnya.

Lebih lanjut Suparnyo menambahkan, dengan pantangan tidak menyembelih sapi itu, Sunan Kudus pun secara tidak langsung telah meletakkan fondasi nilai-nilai toleransi dalam kehidupan masyarakat di Kabupaten Kudus. ‘’Pesan toleransi ini sungguh luar biasa, maka sudah semestinya dilestarikan oleh masyarakat di masa-masa kemudian atau generasi penerus saat ini,’’ katanya.

Editor : Akrom Hazami

Cacing Hati Ditemukan di Kerbau yang Disembelih di Kudus

Cacing hati

Cacing hati

MuriaNewsCom, Kudus – Cacing hati ditemukan di seekor kerbau yang disembelih di gedung Jamiatul Hujaj Kudus (JHK), Senin (12/9/2016). Itu ditemukan Dinas Pertanian Peternakan dan Kehutanan Kudus.

“Cacing hati yang ditemukan saat penyembelihan hewan kurban,  ditemukan pada hewan kerbau. Karena disebabkan kerbau yang dikurbankan digembalakan,” kata petugas  Kasi Produksi Ternak, Dinas Pertanian Peternakan dan Kehutanan Kudus, Sidi Pramono.

Praktis, temuan itu membuat petugas melarang pendistribusian daging kerbau tersebut. Mengingat, daging tidak aman dikonsumsi. Rerumputan basah karena air embun, biasanya memicu cacing hati saat dimakan kerbau.

Dia mengatakan, cacing hati ditularkan melalui siput seperti bekicot dan besusul. Terutama kerbau yang digembalakan dekat rawa. Di Kudus, temuan itu masih tergolong rendah.

Dia menambahkan, ciri hati yang terindikasi ada telur atau cacing hati yakni jika hatinya dibelah, di dalamnya ada bintik-bintik putih seperti jerawat kecil. “Kami memeriksa di 36 titik penyembelihan kurban. Mulai dari masjid hingga dengan organisasi yang ada di Kudus. Ada 12 petugas yang disiagakan,” imbuhnya

Dia mengimbau, masyarakat perlu teliti dan paling aman memasak hati direbus terlebih dulu. Kalau disate, sangat riskan karena telur cacing hati belum sepenuhnya mati. Karena masaknya setengah matang.

Editor : Akrom Hazami

Meneladani Nabi Ibrahim, Mari Berkurban dan Taat Bayar Pajak

amnesti

Ilustrasi KPP Pratama Jepara

MuriaNewsCom, Jepara – Pada momentum perayaan Hari Raya Idul Adha, semua umat muslim dianjurkan untuk berkurban dengan menyembelih hewan yang telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan agama. Itu penting karena sebagai wujud ketakwaan pada Allah SWT.

Anjuran berkurban tersebut berawal dari era Nabi Ibrahim. Kala itu, Ibrahim diminta untuk mengorbankan apa yang menjadi milik dan yang dicintainya karena ia paham bahwa sejatinya semua milik Allah SWT. Tak disangka, Ibrahim bakal mengorbankan anak kesayangannya bernama Ismail, Tuhan melalui kuasa-Nya mengirimkan hewan sebagai ganti Ismail untuk dikurbankan dengan cara disembelih.

Selain hikmah berqurban, Nabi Ibrahim juga mengajarkan cinta pada tanah air. Itu seperti yang tertuang dalam kitab suci Alquran Surat Al Baqarah ayat 126 dan Surat Ibrahim ayat 35. Keduanya disebutkan bahwa Nabi Ibrahim berdoa agar negerinya aman, sentosa.

Kini bertepatan pada hari raya Idul Adha 1437 H, kiranya perlu untuk meneladani sosol Nabi Ibrahim. Tidak hanya melakukan qkurban di masjid, musala atau di rumah masing-masing. Namun juga meneladani kecintaan terhadap tanah air.

Salah satu implementasi cinta tanah air adalah dengan taat membayar pajak. Ketaatan membayar pajak sangat berdampak pada keberlangsungan bangsa karena pajak menjadi sumber pendanaan negara paling besar di Republik Indonesia.

Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jepara, Endaryono mengatakan, di negeri ini, kewajiban warga negara adalah membayar pajak yang peruntukannya diatur oleh negara. Sebab, pajak menjadi sektor terbesar menyumbang pendanaan negara.

“Kalau pajak ini tidak dibayar, hal-hal berkaitan pembangunan, sarana dan prasarana, gaji PNS dan sebagainya, tidak mungkin bisa terpenuhi. Jadi, kita sebagai warga negara yang baik harus mengikuti ketentuan yang diatur oleh negara. Artinya, kita mengeluarkan atau membayar pajak adalah wujud kecintaan kita kepada tanah air,” kata Endaryono.

Termasuk dengan berkurban pula, akan mencerminkan semangat kebersamaan dan kepedulian masyarakat Indonesia untuk kemaslahatan umat dan peduli kepada sesama dan fakir miskin di seluruh Indonesia. “Semoga Indonesia bisa semakin sejahtera dan mandiri,” pungkasnya.

Saking pentingnya cinta tanah air, umat Islam khususnya di Indonesia tidak asing dengan istilah hubbul wathon minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman). Ungkapan itu muncul sebagai upaya pemersatu bangsa agar semua umat Islam bersatu untuk membela tanah air.

Editor : Akrom Hazami

Polisi Kudus Ancam Bubarkan Takbir Keliling Pakai Pikap

Kasat Lantas Polres Kudus AKP Aron Sebastian saat memberikan imbauan kepada masyarakat di salah satu wilayah hukumnya. (MuriaNewsCom)

Kasat Lantas Polres Kudus AKP Aron Sebastian saat memberikan imbauan kepada masyarakat di salah satu wilayah hukumnya. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Kasatlantas Polres Kudus AKP Aron Sebastian mengatakan, pihaknya bakal melakukan tindakan tegas pada malam takbir Hari Raya Idul Adha. Yaitu, polisi akan membubarkan takbir keliling yang dilakukan di atas kendaraan pikap.

Bahkan warga yang naik pikap, akan diturunkan di tempat saat itu juga. Hal itu dilakukannya demi menjaga keselamatan masyarakat. Dengan tegas, Polres Kudus melarang warga bertakbir keliling dengan menggunakan kendaraan pikap.

“Lebih baik diselamatkan sekarang dari pada ke depan ada apa apa. Yang pasti, mobil bak terbuka tidak boleh digunakan untuk mengangkut manusia,” katanya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (10/9/2016).

Kendaraan pikap yang mengangkut manusia amat membahayakan. Sejak sekarang, polisi terus melakukan inspeksi ke sejumlah titik dan operasi keliling. Tujuannya, polisi ingin mencegah lebih dini sebelum hari H tiba. “Jika saat patroli ditemukan adanya demikian, maka kami langsung bertindak. Tidak peduli di daerah  lengang atau pemukiman. Semuanya akan diturunkan,” ujarnya.

Untuk petugas yang disiagakan tidak main-main. Hampir 600 petugas Polres Kudus dikerahkan untuk keamanan masyarakat selama perayaan Idul Adha tersebut. Para polisi akan disebar di sejumlah titik yang rawan pelanggaran. “Kami sudah melakukan sosialisasi terkait hal itu. Mudah-mudahan masyarakat mampu kerja sama dan mempedulikan keselamatan mereka,” ujarnya.

Dia berpesan, jika ada masyarakat yang hendak melakukan takbir keliling, sebaiknya tidak menggunakan kendaraan bak terbuka. “Lebih baik takbir dilakukan di tempat yang lebih pas dan aman. Yakni di masjid dan musala,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Polisi Kudus Akan Berhentikan Truk Lebih dari Dua Sumbu Selama Libur Idul Adha

Petugas Satlantas Polres Kudus menggelar razia kendaraan bermuatan lebih dari dua sumbu di depan Terminal Induk Jati, Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas Satlantas Polres Kudus menggelar razia kendaraan bermuatan lebih dari dua sumbu di depan Terminal Induk Jati, Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kasatlantas Polres Kudus AKP Aron Sebastian menegaskan kendaraan besar angkutan barang dilarang melintas mulai Jumat (9/9/2016). Hal itu sesuai dengan arahan Kementerian Perhubungan, yang mana selama libur panjang Idul Adha, keadaan besar dilarang melintas.

Menurutnya, kendaraan besar yang dilarang melintas adalah kendaraan yang memiliki kriteria lebih dari dua sumbu. “Kendaraan besar tidak boleh melintas selama libur ini. Untuk waktunya mulai Jumat(9/9/2016) hingga Senin (12/9/2016). Jadi kendaran tersebut boleh melintas lagi pada Selasa (13/9/2016),” katanya.

Aturan tersebut berlaku kepada semua jenis kendaraan besar pengangkut. Bahkan pengangkut hewan kurban yang menggunakan mobil melebihi dua sumbu pun akan dilarang. “Aturannya adalah kendaraan yang bersumbu lebih dari dua, bukan muatannya atau mengangkut apa,” ujarnya

Polisi bakal menindak tegas bagi kendaraa masih nekat beroperasi. Ancamannya, adalah dengan memarkirkan kendaraan pengangkut dan dilarang melanjutkan perjalanan hingga batas waktu selesai. “Kebijakan semacam ini dilakukan guna mengurangi kepadatan lalu lintas,” ungkap Aron.

Sebagaimana diketahui, saat libur Idul Adha semacam ini banyak kendaraan yang melintas serta banyak yang memanfaatkan untuk liburan. Guna menjamin tidak akan ada kendaraan yang melintas, maka petugas mengagendakan razia terkait hal itu. Razia pertama dilakukan langsung, dengan pemantauan di kawasan Jati, Jumat. “Di daerah terminal induk, merupakan daerah yang banyak dilalui pengguna jalan. Termasuk juga kendaraan besar pengangkut barang,” imbuhnya.

Berdasarkan pantauan, beberapa kendaraan terjaring dalam operasi tersebut. Termasuk juga kendaraan yang memiliki sumbu lebih dari dua. “Ini untuk keamanan masyarakat, jadi kami lakukan kegiatan semacam ini. Jadi biar pengguna jalan dapat aman,” tukasnya.

Editor : Akrom Hazami

Jelang Hari Raya Kurban, Kuota Elipiji 3 Kg di Jepara Ditambah

Pedagang menata elpiji di salah satu sentra di kawasan Jepara, Kamis. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pedagang menata elpiji di salah satu sentra di kawasan Jepara, Kamis. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Menjelang perayaan Hari Raya Kurban atau Idul Adha tahun ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mengajukan permintaan tambahan kuota gas elpiji bersubsidi 3 kilogram. Itu dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan masyarakat.

“Mengantisipasi lonjakan permintaan elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram saat Hari Raya Idul Adha, Pemkab Jepara mengajukan tambahan kuota ke PT Pertamina. Tapi permintaan tambahan tak sebesar yang diajukan saat Ramadan dan jelang Hari Raya Idul Fitri lalu,” ujar Kabag Perekonomian Setda Jepara, Eriza Rudi Yulianto kepada MuriaNewsCom, Kamis (8/9/2016).

Menurutnya, permintaan elpiji bersubsidi saat hari raya berdasarkan pengalaman tahun lalu memang terjadi lonjakan permintaan. Itu karena banyak warga yang membutuhkan bahan bakar untuk memasak daging. Permohonan penambahan itu sudah diajukan beberapa hari yang lalu. Hanya, dalam pengajuannya tidak disebutkan angka kuota elpiji yang diinginkan.

“Pengajuan permintaan tambahan telah kami kirim. Namun kami hanya meminta tambahan kuota saja, tidak menyebut jumlahnya. Nanti biar pertamina yang menentukan berapa banyak tambahan yang direalisasikan,” ungkap Eriza.

Pihaknya meyakini jika PT Pertamina memiliki data soal kebutuhan di Jepara saat momen besar itu. Karena kenaikan permintaan itu terjadi tiap tahun. Selain itu, permintaan penambahan kuota tidak hanya dilakukan Pemkab Jepara, tapi juga dari daerah lainnya.

Disinggung mengenai ketersediaan elpiji bersubisidi di Jepara, Eriza menegaskan kondisinya masih normal. Tidak ada kelangkaan maupun antrean dari pembeli. Sehingga sementara ini pihaknya menyimpulkan jika tidak ada kelangkaan elpiji yang didistribusikan untuk rakyat kecil itu.

“Sejauh ini belum ada laporan soal kelangkaan elpiji 3 kilogram. Di lapangan juga tidak ada antrean dari konsumen. Kami menyimpulkan saat ini stok masih aman dan distribusi berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Jelang Hari Raya Kurban,  Pemkab Kudus Galakkan Pemeriksaan Hewan

sapi

Petugas memeriksakan kondisi sapi di Pasar Hewan Jati, Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus melakukan pemeriksaan kepada hewan kurban di pasar hewan, Jati, Kudus, Rabu (7/9/2016). Dalam pemeriksaan yang dilakukan, ditemukan hewan jenis sapi yang berliur.

Meski demikian, pemkab menjamin hewan kurban yang dijual. Air liur dianggap wajar lantaran sapi masih mengunyah makanan. “Itu biasa, tidak ada masalah. Hewan aman dan memeriksa para hewan sudah kami lakukan. Hasilnya aman,” kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Catur Sulistyanto. kepada  MuriaNewsCom.

Menurutnya pemeriksaan terkait jelang Idul Adha sudah dilakukan. Pihaknya memastikan jika hewan sudah aman. Hal itu merupakan hasil pemeriksaan yang dilakukan sebelum memasuki jelang Idul Adha sampai sekarang.

Untuk hewan yang diperiksa, mulai sapi, kambing dan kerbau. Petugas yang melakukan pemeriksaan  merupakan tim ahli dari dinas tersebut. “Sebelumnya pada pemeriksaan sebelumnya ada tanda-tanda penyakit pada hewan. Namun kondisi terakhir sehat karena sudah diobati. Masyarakat tidak usah risau,” ujarnya.

Menjelang Hari Raya Idul Adha, memang banyak pedagang hewan kurban di Kudus. Mereka menyebar hampir di sebagian besar wilayah pedesaan di Kudus.

Editor : Akrom Hazami

Pemotongan Hewan Kurban di Jepara Diprediksi Meningkat

hewan]

Petugas mengecek tempat pemotongan hewan di Jepara, Jumat. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Jumlah tempat pemotongan hewan di Kabupaten Jepara pada Idul Adha tahun ini diprediksi meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Alasannya, pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat yang dinilai terus mengalami peningkatan.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Dinas Petanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara, Wasiyanto. Menurutnya, selain alasan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat yang meningkat, kesadaran untuk berkurban juga semakin lama semakin meningkat.

“Ya, berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat di Jepara yang juga terus meningkat. Prediksi peningkatan juga di dasarkan pengalaman dari tahun ke tahun,” ujar Wasiyanto kepada MuriaNewsCom, Jumat (19/8/2016).

Menurut dia, hampir setiap tahun terus menerus mengalami peningkatan meski jumlahnya tidak signifikan. Sehingga tahun ini juga diperkirakan mengalami peningkatan.

“Meski terus mengalami peningkatan, stok atau ketersediaan hewan kurban tidak ada kendala. Ketersediaan juga terus meningkat karena para penjual hewan kurban juga telah mempersiapkan ketersediaan untuk Idul Adha,” terangnya.

Ia juga mengatakan, populasi hewan kurban di Jepara lebih banyak dibandingkan angka yang disembelih. Ia mencontohkan, tahun lalu pemotongam hewan kurban kisaran di bawah 30 ribu hewan. Sementara populasinya lebih dari 40 ribu. Bahkan, tahun lalu Jepara juga ikut memasok hewan kurban ke luar daerah.

Editor : Akrom Hazami