Inilah Pendapat Lima Tokoh Bangsa terhadap Arti Nasionalisme

Diskusi refleksi Hari Sumpah Pemuda di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Diskusi refleksi Hari Sumpah Pemuda di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Saat diskusi kebangsaan sebagai refleksi hari Sumpah Pemuda yang bertemakan “Masihkah Kita Memiliki Rasa Nasionalisme?” yang diselenggarakan Jumat malam (9/10/2015) di Rumah Dongeng Jalan Plumbungan 9 Purworejo, Bae, Kudus, ada beberapa pendapat yang menarik oleh tokoh bangsa tersebut.

Untuk pengertian nasionalisme yang disampaikan oleh Sudaryanto, nasionalisme ialah warga negara harus paham sejarah. Sehingga setiap warga negara tidak akan tergerus oleh ideologi baru yang silih berganti dari barat. ”Selain itu, pemuda haus dapat meningkatkan etos nasionalisme supaya lebih bersemangat,” katanya.

Sedangkan menurut M. Sobary, nasionalisme ialah melawan kedurjanaan orang lain. Sehingga dia mencontohkan disaat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dahulu, petani tembakau melawan aturan hari bebas tembakau.

Arti nasionalisme yang lainnya juga disampaikan oleh Nuril Arifin. Bahwa kiai yang akrab di sapa Gus Nuril tersebut memaparkan nasionalisme itu bisa saling menghomati. Sehingga tokoh agama dari Nahdlatul Ulama (NU) itu mencontohkan pakaian yang dikenakannya. Yakni dengan memakai bau hijau berarti kalangan kiai (tokoh agama) serta berikat kepala dari bali (tokoh hindu).

Nasionalisme menurut Salamuddin Daeng ialah warga negara harus bisa membentengi ideologi. Yaitu dengan cara pemerintah tidak harus gila investasi oleh warga asing. ”Sebab bila Indonesia terlalu mudah memberikan izin terhadap investasi yang datang, secara otomatis ideologi warga asing akan menyebar ke Indonesia,” ujarnya.

Selanjutnya, nasionalisme yang didefinisikan Setyo Wibowo, yakni ekonomi dan politik Indonesa harus mandiri. Serta tidak bergantung pada warga asing. Sehinggga nasionalisme bisa tegak serta mengalir kepada anak cucu yang akan datang. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Lima Pembicara Nasional Kupas Nasionalisme Bangsa

Diskusi refleksi Hari Sumpah Pemuda di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Diskusi refleksi Hari Sumpah Pemuda di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Lima pembicara nasional akan meramaikan diskusi kebangsaan kegiatan refleksi hari Sumpah Pemuda di Kudus.

Acara digagas oleh Lembaga Pendidikan Masyarakat Reksa Warisan Berharga (Marwah), bertemakan Masihkah Kita Memiliki Rasa Nasionalisme?

Di antara kelima pembicara yang akan mengisi acara digelar di Rumah Dongeng di Jalan Plumbungan 9 Bae, Kudus ini ialah Sudaryanto. Dia mantan anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) serta akan memberi materi nasionalisme Indonesia dalam persaingan global. Kedua ialah Setyo Wibowo, dosen dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Yang bersangkutan akan memberikan materi spirit nasionalisme Indonesia.

Pembicara ketiga M Sobary. Dia merupakan budayawan atau peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Serta akan memberikan tema materi strategi budaya dalam membangun nasionalisme Indonesia.

Pembicara keempat ialah Salamuddin Daeng. Dia adalah pengamat dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI). Dia akan membawakan materi tentang nasionalisme dan kemandirian ekonomi Indonesia.

Selanjutnya adalah Nuril Arifin. Dia adalah tokoh agama dari Pondok Pesantren Soko Tunggal. Serta akan membawakan materi pluralisme, kekuatan dan tantangannya di Indonesia. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Ironis, Banyak Siswa Tak Paham Hari Kebangkitan Nasional

Ridlo Dwi (dua dari kanan) saat mengikuti LDK Osis SMA 1 Kudus.(MURIANEWS / HANA RATRI)

KUDUS – Hari Kebangkitan Nasional merupakan momentum dimana seluruh warga negara Indonesia memperingati jasa para pahlawan yang telah menyatukan semua pemuda Indonesia sejak tahun 1908. Mereka yang berjasa mendirikan organisasi Budi Oetomo sebagai organisasi pergerakan pertama di Indonesia.

Lanjutkan membaca