Ini Dia Acara yang Akan Meriahkan HUT Jepara ke-469 dan Hari Kartini ke-139

MuriaNewsCom, Jepara – Sebanyak 30 acara akan diadakan merayakan HUT Jepara ke-469 dan Hari Kartini ke-139, pada bulan April nanti. Lalu apa saja event-event tersebut?

Event pertama adalah Gala Pesta 90an, ajang ini akan dihelat pada Sabtu (7/4/2018), dengan mendatangkan Kla Project. Acara kedua adalah Karnaval Keprajuritan dan Kirab Buka Luwur Senin (9/4/2018). Berikutnya ada Pengajian Akbar Habib Luthfi di hari Selasa (10/4/2018).

Pada akhir pekan, akan ada pentas wayang dengan bintang tamu Kirun, Yati Pesek dan Marwoto pada Jumat (13/4/2018). Seminggu berselang, akan diadakan Khoul Kartini diisi dengan pengajian Al Hikmah pada Jumat (20/4/2018).

Keesokan harinya (Sabtu, 21/4/2018) akan ada pagelaran seni budaya sekaligus memeriahkan kontestasi Pilkada serentak. Pada hari Jumat (27/4/2018) akan diadakan Gebyar Kartini dilanjutkan dengan ajang Java Fashion Batik and Tenun Carnival di hari Sabtu (28/4/2018).

Pada hari yang sama, akan diselenggarakan Bumi Kartini Expo. Sedangkan pada hari Minggu (29/4/2018) ada event pentas seni Pakudjembara (Pati, Kudus, Demak, Jepara, Rembang dan Blora).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Basuki Wijayanto mengatakan, peringatan tersebut berlandaskan semagat kebanggaan terhadap pahlawan wanita Jepara, RA Kartini.  Adapun puncak perayaan HUT Jepara adalah tanggal 10 April dan Hari Kartini 21 April.

Editor: Supriyadi

Begini Cara Sri Hartini dan Ibu-ibu di Mejobo Peringati Hari Kartini

Sri Hartini dengan sejumlah ibu-ibu berdialog dengan pedagang pasar tradisional di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan ibu-ibu di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, mempunyai cara yang berbeda dalam memeringati Hari Kartini. Bukan melakukan fashion show yang kerap dilakukan di daerah lain, atau lomba-lomba lain.

Bersama Anggota DPRD Jawa Tengah, Sri Hartini, ibu-ibu itu menggelar jalan sehat dan belusukan pasar. Kegiatan ini digelar Senin (24/4/2017) sejak pagi hingga menjelang siang hari.

Jalan sehat dimulai dari rumah Sri Hartini, di Jalan Suryo Kusumo, Desa Jepang, Mejobo. Sekitar 100 ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok senam ”Berseri” itu langsung menuju ke Pasar Jepang. Di tempat ini, ibu-ibu memberikan souvenir kepada pengunjung pasar.

“Souvenir yang kami berikan berupa pisau dapur. Ini kelihatan sepele, tapi ini sangat penting bagi ibu-ibu rumah tangga,” kata Hartini.

Politisi Partai Gerindra yang sudah memastikan diri akan maju mencalonkan diri sebagai calon bupati Kudus di Pilkada Kudus 2018 ini, juga mengajak ibu-ibu tersebut untuk belusukan ke Pasar Bitingan Kudus. Di tempat ini Sri Hartini bersama ibu-ibu selain membagikan souvenir juga terlihat berdialog dengan pedagang dan pengunjung pasar.

Rombongan juga terlihat memborong sejumlah barang di pasar itu. Tak terkecuali jajanan yang dijual pedagang keliling.

“Pedagang kecil seperti ini (penjual keliling) juga harus kita pikirkan ke depannya. Karena mereka juga salah satu sumber ekonomi masyarakat kecil,” terangnya.

Hartini sengaja menggelar peringatan Hari Kartini dengan model seperti ini, karena menurutnya lebih efektif. Selain menyehatkan dengan jalan kaki berkeliling, ia juga bisa mengetahui kondisi masyarakat di bawah, terutama di simpul-simpul ekonomi seperti pasar tradisional.

Editor : Ali Muntoha

Peringati Hari Kartini, Polwan di Pati Patroli dengan Berkebaya

Polwan Polsek Wedarijaksa tengah berpatroli menggunakan kebaya untuk memperingati Hari Kartini, Jumat (21/4/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada pemandangan yang berbeda saat mengunjungi Mapolsek Wedarijaksa pada Jumat (21/4/2017). Jika biasanya di kantor Polisi tersebut dipenuhi para anggota yang nampak gagah dengan seragam dinasnya, kini ada perempuan-perempuan anggun yang mengenakan kebaya.
Mereka adalah para polisi wanita (polwan). Mereka tampil cantik bukan sedang mengikuti kontes pakaian adat. Namun, mereka sedang memperingati Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April.

Meski berdandan ala wanita Jawa tempo dulu, namun kondisi itu tidak mengurangi kesigapan para polwan saat melayani masyarakat. Bahkan dalam suatu kesempatan, mereka tidak segan melakukan patroli menggunakan kebaya.

Saat berpatroli, para Kartini masa kini itupun mendatangi sejumlah lokasi. Salah satunya, pangkalan ojek Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil. Selain melakukan pembinaan masyarakat, polisi sempat memberikan reward kepada para tukang ojek yang patuh pada aturan lalu lintas dan kelengkapan berkendaranya.

Kapolsek Wedarijaksa AKP Sulistyaningrum mengatakan, mereka sengaja memberikan pelayanan dengan berkebaya lantaran terinspirasi oleh sosok Kartini sebagai pejuang emansipasi wanita. “Ini menjadi cara kami untuk memperingati hari Kartini sebagai pahlawan pejuang emansipasi wanita,” ujar AKP Sulis.

Cara unik itu juga menjadi bagian dari upaya polisi untuk selalu dekat dengan masyarakat. Adapun kejutan yang diberikan kepada masyarakat yang taat berlalu lintas diharapkan agar warga semakin mengutamakan keselamatan saat berkendara. Pasalnya, keselamatan adalah kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Editor : Kholistiono

Pesan Menteri Sosial Khofifah untuk Perempuan Indonesia di Hari Kartini

Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa saat berziarah di Makam Raden Ayu Kartini, Jumat (21/4/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – 21 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Katini.Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa, pada peringatan Hari Kartini ini melakukan ziarah di Makam Raden Ayu (RA) Kartini yang berada di Kecamatan Bulu, Rembang, Jumat (21/4/2017).

Menteri yang sekaligus sebagai Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) tersebut, juga didampingi oleh Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Ny.Hasiroh Hafidz serta istri dari Wakil Bupati Rembang Vivit Bayu Andriyanto.

Seusai berziarah, Khofifah berpesan kepada perempuan di Indonesia supaya selalu menjaga kesehatannya. “RA Kartini ini kan meninggalnya lantaran komplikasi seusai melahirkan. Untuk itu, saya berharap, mengimbau kepada ibu-ibu atau wanita hamil supaya bisa selalu menjaga kesehatannya,” imbaunya.

Menurutnya, saat ini angka kematian ibu dan anak masih tinggi. Sehingga bagi ibu hamil diimbau untuk bisa memeriksakan kandungannya secara baik.

“Wanita hamil harus bisa memeriksakan kandungannya sebanyak 3 hingga 4 kali. Sebab saat jni angka kematian ibu dan anak juga masih tinggi,” ungkapnya.

Di sisi lain, terkait status Makam Raden Ayu Kartini yang akan dijadikan destinasi wisata nasional, dirinya mengatakan, Pemerintah Kabupaten Rembang sudah mengusulkan mengenai hal itu ke Kementerian Sosial.

Untuk menentukan hal tersebut, menurutnya, harus ada fasilitas dan infrastruktur yang memadai. Sehingga nantinya CSR perusahaan BUMN juga bisa disalurkan ke tempat itu.

Di sisi lain, pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta ke Kementerian Pariwisata. “Jika Makam RA Kartini sudah menjadi destinasi wisata nasional, maka tingkat kunjungan peziarah supaya bisa ditingkatkan.Apalagi, Rembang merupakan wilayah yang dekat dengan Jawa Timur. Sehingga selain berziarah ke makam wali, maka bisa berziarah ke makam RA Kartini. Sebab Kartini juga sebagai salah satu murid Mbah Kiai Soleh Darat yang juga guru dari pendiri NU dan Muhammadiyah saat itu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Peringati Hari Kartini, Petugas SPBU di Rembang Kenakan Baju Adat Jawa

Petugas di SPBU 4459220 yang berada di Jalan Pemuda Rembang mengenakan pakaian adat Jawa untuk memperingati Hari Kartini. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Memperingati Hari Kartini, petugas SPBU 4459220 yang berada di Jalan Pemuda Rembang mengenakan pakaian adat Jawa lengkap, seperti blangkon, jas Jawa, dan sebagainya.

Pengawas SPBU Tugito mengatakan, pemakaian pakaian adat Jawa pada saat Hari Kartini tersebut, merupakan bagian dari program Pertamina. Yakni untuk ikut serta memperingati Hari Kartini. Hanya saja di Rembang ada beberapa SPBU yang ditunjuk, salah satunya yakni SPBU 4459220.

“Pemakaian ini sudah dimulai dari sip pagi tadi pukul 07.00 WIB hingga nanti sip dua usai. Yakni sekitar pukul 19.00 WIB,” katanya.

Sementara itu, saat disinggung mengenai kegiatan tersebut, ia mengutarakan bahwa hal itu baru kali pertama ada.

“Pemakaian pakaian adat jawa untuk Hari Kartini kayaknya baru pertama ini. Sebab tahun sebelumnya itu juga belum ada. Namun saat ada program ini, justru masayarakat malah lebih senang, respon positif bahkan ada yang berfoto selfie bareng petugas kita,” ungkapnya.

Dia menambahkan, adanya kegiatan ini, juga dapat memberikan edukasi kepada warga. Selain itu juga, bisa nguri-nguri kebudayaan Indonesia.”Sehingga rasa nasionalis juga bisa terasah kembali,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Salon Rias di Rembang Laris Manis di Hari Kartini

Puluhan anak-anak mengantre untuk dirias menggunakan pakaian adat, guna memperingati Hari Kartini di Rembang, Jumat (21/4/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada Jumat (21/04/2017) ini ternyata membawa berkah bagi sejumlah salon dan persewaan baju adat. Sewa biasanya didominasi siswa sekolah dari SD hingga SMA yang hendak memperingati Hari Kartini dan diwajibkan menggunakan baju adat. Dengan diantar oleh orang tua maupun kerabat lainnya, mereka harus rela antre untuk berhias diri sejak dari dini hari tadi.

Seperti halnya Salon Melvis yang berada di Jalan Majapahit Nomor 5 Rembang, Kelurahan Leteh. Salon yang ada di tepi jalan ini sudah dibanjiri oleh anak-anak yang akan menggunakan jasanya mulai dari pukul 02.00 WIB dini hari tadi.

“Sejak pukul 02.00 WIB mereka sudah mulai datang untuk dirias. Tapi, sebelum mereka datang, kita kita memang sudah menyiapkan segala sesuatunya. Baik pakaian yang sudah dipesan, maupun peralatan make up-nya, agar bisa dikerjakan cepat,” ujar Martin, adik dari pemilik Salon Melvis.

Lebih lanjut ia juga menyatakan, jika, sebelumnya mereka sudah didata terlebih dahulu mengenai waktu atau jam mulai dirias. Sehingga, mereka yang mau dirias sudah mempersiapkan diri mengenai waktunya.”Kita sebelumnya sudah mendata mereka. Mau dirias pukul berapa dan lainnya. Supaya nantinya juga bisa urut,” paparnya.

Sementara itu, saat disinggung mengenai jumlah pengguna jasa di saat Hari Kartini ini, ia mengutarakan bahwa saat ini terhitung ada sekitar 40 hingga 50an anak-anak. “Mulai dari sebelum Hari Kartini kemarin, sudah ada sekitaran 40 anak. Mungkin ini juga masih ada yang datang di luar data itu. Ya kalau ditotal ya sekitaran 50 lah Mas,” ujarnya.

Sementara itu, untuk harga jasanya, ia juga mematok dengan harga yang mudah dijangkau oleh masyarakat. “Kalau harganya sendiri sih sekitaran Rp 75 hingga Rp 100 ribu. Dan itupun tergantung pria dan wanita. Bila wanita, ya rata-rata Rp 100 ribu, sebab tata riasnya sedikit rumit. Sedangkan pria paling hanya menyewa baju dan dirias secara sederhana,” paparnya.

Dia menambahkan, harga itu sudah termasuk sewa pakaian adatnya. Sehingga harganya juga cukup murah. Selain itu, jika pada hari biasa hanya menggunakan satu perias, namun khusus Hari Kartini memakai 3 perias lagi.

Editor : Kholistiono

Pengunjung Padati Tempat Ari-ari Kartini di Mayong Jepara

Sejumlah siswa antusias melihat tempat disimpannya ari-ari (plasenta) pahlawan nasional RA Kartini, yang berada di kompleks Kantor Kecamatan Mayong, Rabu (19/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua hari jelang peringatan hari kelahiran RA Kartini, pengunjung terlihat memadati tempat ari-ari (plasenta) di Kompleks Kecamatan Mayong, Rabu (19/4/2017). Mereka memanfaatkan momen tersebut untuk berfoto di depan petilasan yang dilindungi oleh kaca tersebut. 

Seperti Maria Ulfah (60). Guru di TK Aisyiah Sengon itu mengatakan datang bersama murid-muridnya. “Saya tiap tahun rutin ke sini (kompleks Kecamatan Mayong), tujuannya mendampingi murid mengikuti lomba. Selepas tadi mewarnai, saya ajak murid saya ke tempat ari-ari Bu Kartini,” ujarnya yang telah mengajar sejak tahun 1975 itu. 

Ia mengatakan, selalu berusaha menularkan semangat Kartini kepada anak didiknya. Menurutnya, jasa pahlawan wanita itu membawa banyak perubahan kepada kaumnya. 

“Ya selalu saya ceritakan tentang jasa Bu Kartini dalam emansipasi wanita. Kalau dulunya wanita cuma bisa uleg-uleg (memasak) sekarang sudah bisa merambah ke pekerjaan lain,” tuturnya. 

Tempat ari-ari Kartini sendiri merupakan sebuah pendapa, yang terdapat sebuah monumen berbentuk bunga lotus. Di atasnya terdapat sebuah panci dari tanah. Monumen itu dilindungi oleh kaca agar tidak tersentuh oleh tangan pengunjung. 

Sementara, di samping kiri bangunan tersebut, didirikan sebuah monumen yang bertuliskan “Tempat RA Kartini dilahirkan 21 April 1879”. 

Editor : Kholistiono

Muskitnas Gelar Pameran Keliling “Sisi Lain Kartini”

Seorang petugas dari Muskitnas sedang menjelaskan tentang pameran Sisi Lain Kartni. Pameran ini berlangsung di area Museum Kartini, Senin-Sabtu (17-22/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas) mengadakan pameran keliling bertajuk “Sisi Lain Kartini” di Museum Kartini Jepara Senin-Sabtu (17-22/4/2017). Kegiatan ini menyasar kawula muda untuk mengenalkan pemikiran tokoh emansipasi itu. 

Kartini yang lahir pada 21 April 1879 itu ditetapkan sebagai pahlawan nasional atas perjuangannya terhadap hak asasi perempuan.

Kasi Pengkajian Koleksi Muskitnas Isnudi mengatakan, pameran itu menitikberatkan pada kajian pemikiran Kartini. Hal itu didasarkan atas fakta bahwa pemikiran tokoh tersebut menjadi titik berat perjuangan putri Jepara tersebut. 

“Kami tidak membawa barang-barang Kartini, karena di Museum Kartini sudah banyak dipamerkan. Akan tetapi tidak banyak yang dinarasikan oleh karenanya kami pemikiran tokoh tersebut. Hal itu didasari bahwa ide dan semangat juang melalui pendidikan adalah titik tolak perjuangan Kartini,” ucapnya, Senin (17/4/2017).

Menurutnya, banyak hal yang bisa dipelajari dari pemikirian Kartini, di antaranya pandangannya tentang poligami. Saat masih kecil, diceritakan Kartini tidak menyukai adat tersebut, namun pada akhirnya ia menjadi bagian dari adat itu.

Di samping itu, diceritakan pula kegigihannya dalam mencapai cita-cita. Diceritakan Isnudi, tokoh tersebut sempat akan memasuki sekolah kedokteran, namun hal itu urung karena sistem pendidikan yang tak memihak perempuan. 

“Pernah suatu kali, Kartini hendak menjadi seorang dokter, namun cita-citanya pupus karena sekolah kedokteran saat itu tidak menerima murid wanita,” imbuhnya. 

Ia mengatakan, untuk memasuki  pameran tersebut pengunjung tidak dikenakan biaya. Muskitnas juga menyediakan pemandu yang akan mengungkap terkait sisi lain Kartini. 

Plt Bupati Jepara Sholih dalam sambutannya, mengapresiasi pameran tersebut. Dalam keterangan tertulisnya mengatakan, agar pameran tersebut dapat meningkatkan kebanggaan masyarakat dan pada akhirnya memberi semangat nasionalisme kepada pemuda.

Editor : Kholistiono

Pemkab Rembang Gelar Kartini Fair

Bupati Rembang Abdul Hafidz meninjau salah satu stand pameran pada event Kartini Fair di Balai Kartini Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang menggelar event besar bertajuk Kartini Fair. Acara ini dibuka langsung oleh Abdul Hafidz yang ditandai dengan pemukulan gong dan melepas dua ekor burung merpati, pada Kamis (6/4/2017) sore.

Selama pembukaan, pengunjung dan tamu undangan menikmati berbagai hiburan, di antaranya karawitan yang juga memainkan gendhing ladrang ginunjing, tari gambyong, fashion show batik dan fashion show kostum pengantin.

Selain hiburan tersebut,  pemandangan unik juga terlihat di sebelah timur dan barat pintu masuk Balai Kartini. Panitia memberikan space  khusus kepada sejumlah orang atau komunitas nginang.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar). Pasalnya Kartini Fair merupakan event yang pertama kalinya terselenggara di Kabupaten Rembang yang seolah-olah seperti menggaungkan semarak Hari Kartini di Rembang.

Hafidz berharap, kreatifitas tersebut terus dilakukan dalam upaya mengembangkan sektor pariwisata. Seperti diketahui, pariwisata merupakan salah satu program unggulannya bersama wakilnya Bayu Andriyanto.

Sebagai tempat perjuangan RA Kartini, Rembang harus memperlihatkan jejak dan perjuangan RA Kartini agar bisa menginspirasi generasi muda. Momentum ini akan terus dikembangkan untuk mewujudkan visi misi yang ada di RPJMD.

Kepala Dinbudpar Rembang Dwi Purwanto mengungkapkan, event yang digelar sampai tanggal 11 April mendatang memang dikemas berbeda, salah satunya terdapat stand yang dekorasinya seperti pesta pernikahan. Dinbudpar juga mendatangkan komunitas nginang dari warga Desa Ceriwik Lasem, sebagai bentuk upaya pelestarian budaya dan tradisi lokal.

“Kemudian kita ada stand dari guru-guru seni yang ada di Rembang dengan karya seni lukis tentang objek wisata di Rembang. Jadi nanti kita bisa melihat ada lukisan warung kopi, lontong tuyuhan, klenteng, Omah Londo dan lainnya,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

Warga Undaan Kudus Enggan Lewatkan Perayaan Hari Kartini

Peserta perayaan Hari Kartini merias tumpeng dari kue di Wonosoco, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Peserta perayaan Hari Kartini merias tumpeng dari kue di Wonosoco, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selain 500 peserta dari kalangan anggota PKK se-Kecamatan Undaan, Kudus, hadir pula tokoh perempuan, maupun tokoh pemuda. Warga Undaan menyambutnya dengan antusias perayaan “Gebyar Kartini 2016” di Desa Wonosoco, Sabtu (23/4/2016).

Salah satu pengunjung perayaan Supriyati (34) mengatakan,dirinya baru tahu jika Hari Kartini dirayakan semeriah ini secara bersama-sama se-Kecamatan Undaan. “Biasanya yang meriah hanya HUT Kemerdekaan RI. Namun Hari Kartini juga dirayakan meriah,” kata Supriyati.

Dia menilai, perayaan Hari Kartini bisa dijalankan setiap tahunya. Tetapi harus dilakukan berkeliling atau bergantian di desa satu dengan desa yang lainnya. Supaya desa di Undaan ini bisa terekspos semuanya. Baik wilayahnya, atau ciri khasnya.

Warga lainnya, Maessaroh (43) menyambut kegiatan dengan antusias. Dia menganggap, kegiatan bisa mengenalkan warga satu dengan lainnya. “Dari Undaan Lor, saya rela datang jam 07.00 WIB. Sebab ingin melihat kegiatan ini,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Serunya Hari Kartini di TK Pelita Nusantara

uplod jam 9

Anak-anak dari TK Pelita Nusantara Kudus ini terlihat sangat bersemangat merayakan Hari Kartini, Sabtu (23/4/2016). (MuriaNewsCom/Merie)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Peringatan Hari Kartini memang selalu seru. Terutama bagi anak-anak. Ini juga yang terlihat di TK Pelita Nusantara Kudus, Sabtu (23/4/2016). Peringatan Hari Kartini di sekolah ini, berlangsung seru.

Anak-anak datang sejak pagi mengenakan pakaian batik warna-warni. Mereka kemudian melakukan upacara di halaman sekolah. Saat menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, anak-anak juga terlihat sangat bersemangat. Dengan lantang, mereka menyanyikan lagu untuk mengenang pahlawan emansipasi tersebut.

“Ibu kita Kartini, putri sejati. Putri Indonesia, harum namanya,” begitu nyanyian anak-anak tersebut, yang dilagukan dengan semangat.

Sementara anak-anak itu menyanyi, ibu-ibu mereka mengabadikannya melalui telepon genggam masing-masing. Terlihat di lokasi acara, mantan Bupati Kudus Soedarsono. Terlihat semangat mendampingi anak-anak yang memang sangat bersemangat.

Usai upacara, anak-anak kemudian diajak untuk menyaksikan pertunjukan wayang tenda, yang dibawakan grup wayang Nandang Wuyung dari Semarang.

Editor: Merie

Jumlah Pengunjung di Museum Kartini Alami Kenaikan Hingga Lebih 100 Persen

 

f-upload sekarang, kartini(e

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan saat mengunjungi Museum Kartini. Pada bulan April, tempat penyimpanan barang peninggalan Kartini dan keluarganya diserbu pengunjung (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Bertepatan dengan Peringatan Hari Lahir Kartini, HUT Jepara dan sejumlah kegiatan yang dikemas dalam Festival Kartini pada bulan April ini, Museum Kartini Jepara diserbu pengunjung. Pihak pengelola memperkirakan kenaikan jumlah pengunjung mencapai 100 persen bahkan lebih.

“Ada kenaikan jumlah pengunjung. Ini karena bulan April menjadi bulan yang spesial untuk Jepara, karena selain Hari Kartini juga HUT Jepara yang dikemas dalam festival,” ujar Kepala pengelola Museum Kartini Jepara Subiyanto kepada MuriaNewsCom, Jumat (22/4/2016).

Menurut dia, momentum Peringatan Hari Kartini ke-137 ini, jika dibanding tahun lalu, pengunjung museum tahun ini meningkat. Peningkatan pengunjung nampak sejak sepekan lalu dan puncaknya pada 21 April kemarin.

 “Jika dibanding tahun lalu ramai sekarang. Memang selalu ramai saat Hari Kartini, tapi tahun lalu tidak seperti tahun ini. Selain anak-anak, pengunjung ibu-ibu juga banyak,” ungkap Subiyanto.

Lebih lanjut dia mengemukakan, keramaian pengunjung museum nampak sejak pagi hingga jelang sore. Tak hanya sekedar melihat-lihat dan berfoto di sekeliling benda-benda peninggalan Kartini, banyak juga pengunjung yang menggali informasi tentang Kartini kepada petugas museum.

“Buku saku tentang Kartini yang kami bagikan kepada pengunjung habis sejak pagi. Biasanya hanya lihat-lihat dan foto-foto, tapi banyak juga yang bertanya-tanya tentang Kartini,” terangnya.

Salah satu pengunjung museum, Faza Anisa mengaku sudah berulangkali mengunjungi Museum Kartini. Dia pun mengaku tidak bosan, meski benda-benda yang dilihatnya sama. Tidak ada koleksi benda-benda baru.

 “Saya sebenarnya sudah beberapa kali ke sini. Tetapi tidak bosan karena banyak yang bisa diambil manfaatnya,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

 

HARI KARTINI : Polwan Ini Layani Ratusan Pemohon SKCK dengan Pakaian Ala Kartini

uplod jam 22 ala kartini polwane (e)

Sejumlah polwan Polres Pati mengenakan kebaya saat melayani masyarakat yang mengajukan permohonan SKCK. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ada nuansa yang berbeda dari ruang pelayanan pembuatan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) di Mapolres Pati, Kamis (21/4/2016). Sejumlah polwan yang biasanya mengenakan seragam polisi kini harus mengenakan kebaya.

Mereka memakai pakaian ala Kartini sebagai bentuk peringatan Hari Kartini. Meski tak terbiasa, tetapi mereka tampak bersemangat melayani masyarakat yang mengajukan permohonan SKCK.

“Hari ini, pemohon lebih banyak dari hari biasanya. Ada sekitar 250 orang pemohon. Sempat gerah dan tidak bisa bergerak bebas, tetapi ini menyenangkan. Pengalaman pertama melayani masyarakat dengan menggunakan kebaya,” ujar Bripda Dian Rahayu Windyastuti saat berbincang dengan MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, kebaya merupakan pilihan busana Jawa yang manis dipakai pada acara-acara resmi. Kendati agak kesulitan saat melayani ratusan pemohon SKCK, Bripda Dian mengaku bangga bisa mengenakan kebaya ala Kartini.

“Nuansa ini begitu menarik, karena diadakan setahun sekali. Menurut saya, Hari Kartini mesti dimaknai dengan baik. Wanita boleh saja melakukan hal-hal yang dilakukan laki-laki, tetapi tidak boleh melupakan kodratnya sebagai seorang wanita dalam kehidupan rumah tangga,” ungkapnya.

Sementara itu, Eka Pujayanti, salah satu warga yang mengajukan permohonan SKCK mengaku senang dengan kondisi Hari Kartini. Menurutnya, mereka tampak lebih ramah, anggun dan feminim.

“Polwan terlihat anggun dan feminim ketika mengenakan kebaya. Saya melihat mereka sedikit agak kesusahan, karena harus melayani banyak orang yang antre,” tutur Eka.

Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho saat dikonfirmasi mengatakan, polwan yang mengenakan kebaya hanya dilakukan pada 21 April saja. Hal itu dilakukan untuk memeringati Hari Kartini, sekaligus refleksi keteladanan pahlawan wanita di Indonesia.

Editor : Akrom Hazami

HARI KARTINI : Bupati Jepara Akui Banyak Peninggalan RA Kartini yang Dimiliki Pihak Lain

f-upload jam 21

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi berada di dalam kamar pingit RA Kartini. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menyatakan bahwa pahlawan emansipasi RA Kartini yang lahir di Jepara meninggalkan banyak sekali barang-barangnya. Sayangnya, masih banyak barang peninggalan RA Kartini yang dimiliki pihak lain.

“Ada banyak barang peninggalan beliau (RA Kartini). Tetapi banyak yang dimiliki pihak lain, baik swasta, maupun pemerintah kabupaten lain. Tetapi juga ada yang masih disimpan oleh pihak keluarga RA Kartini ujar Ahmad Marzuqi kepada MuriaNewsCom, Kamis (21/4/2016).

Menurutnya, peninggalan yang sampai saat ini terkesan masih natural adalah kamar pingit yang terletak di dalam rumah dinasnya, Pendapa Kabupaten Jepara. Selain itu juga, ada beberapa barang yang disimpan di Museum Kartini.

“Selain kamar pingit, salah satu peninggalan Kartini yang hingga kini masih dapat dilihat adalah ari-ari Kartini. Selain itu, sejumlah mebel yang dulu digunakan keluarga Kartini yang kini disimpan di Museum Kartini,” terangnya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, benda-benda peninggalan Kartini lainnya banyak juga yang dibawa keluarga keturunan di Rembang. Pasalnya, saat usia 24 tahun, Kartini pindah ke Rembang menjadi istri Bupati Rembang.

“Karena dulu pindah ke Rembang, banyak sekali barang miliknya yang dibawa kesana,” kata Marzuqi.

Editor : Kholistiono

Saat Kartini Dilombakan Omah Dongeng Marwah di Tengah Sawah

hari kartini omah dongeng-skrg (e)

Anak-anak dari Omah Dongeng Marwah merayakan peringatan Hari Kartini di tengah sawah, pada Kamis (21/4/2016). (ISTIMEWA)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Perayaaan Hari Kartini di Omah Dongeng Marwah terbilang tidak biasa. Mereka melakukan kegiatan untuk memperingat hari lahir pejuang emansipasi wanita itu di tengah sawah, Kamis (21/4/2016).

Sebanyak 30 orang yang terbagi lima regu mengikuti lomba cerdas cermat tentang Kartini. Selain itu, ada dua kegiatan lainnya. Yaitu berupa membaca surat Kartini dan menggambar wajah Kartini bagi anak TK dan SD.

”Kami memang sengaja memilih tempat outdoor agar anak-anak lebih fresh,” kata Husni Marom dan Arif Rohman dari Omah Dongeng Marwah.

Kebetulan, sawah itu di belakang Omah Dongeng Marwah. Walau di sawah, pesertanya banyak yang berkebaya, bersanggul, dan berbaju batik.

Di tengah sawah itu, mereka memasang atribut-atribut yang terkait dengan Kartini. Misalnya nama regunya dinamai Kartini beserta keluarganya. Yaitu Kartini sendiri, Ngasirah, Sosrokartono, Kardinah, dan Rukmini.

Di bagian pojok lokasi cerdas cermat itu juga terpasang penggalan surat Kartini kepada Nyonya van Kohl pada Agustus 1901. Betapa besar bahagianya bagi masyarakat Hindia bila perempuan itu dididik baik-baik. Begitu penggalan surat itu.

Menurut Ketua Omah Dongeng Marwah Edy Supratno, pihaknya sengaja menggelar perayaan Hari Kartini dengan pengetahuan tentang Kartini. Mengingat perayaan Hari Kartini tidak cukup hanya dirayakan sebagai seremonial saja. Anak-anak perlu diperkenalkan pada wawasan sejarah Kartini dan isi surat-surat Kartini.

”Walau Kartini tiap tahun diperingati, tapi anak-anak sangat awam siapa dia. Mereka hanya mengenal Kartini sebagai perempuan bersanggul dan berkebaya. Karena itulah kami bekali anak-anak dengan pengetahuan tentang sosok Kartini. Baik tentang pemikiran Kartini dan keluarganya,” katanya.

Menurut Edy, salah satu bentuk pengenalan terhadap pemikiran Kartini adalah dengan membaca surat-suratnya. Agar mempunyai tantangan untuk membacanya, anak-anak dirangsang untuk lomba.

Editor: Merie

HARI KARTINI : Tamu Hotel Safin Napak Tilas ke Makam RA Kartini

Jpeg

Sejumlah karyawan Hotel Safin mengenakan seragam kebaya dan mendampingi peserta donor darah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya ada 12 tamu Hotel Safin Pati dari luar kota yang akan mengikuti agenda napak tilas di Makam Raden Ajeng (RA) Kartini di Rembang, Kamis (21/4/2016). Selain itu, mereka akan mengunjungi Museum RA Kartini.

Sales Coordinator Hotel Safin, Lina Ratnawati kepada MuriaNewsCom mengatakan, napak tilas menjadi upaya untuk menghargai jasa-jasa pahlawan. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” ujar Lina.

Selain berziarah ke Makam RA Kartini yang bisa ditempuh sekitar 45 menit dari Pati, peserta juga mendapatkan beragam menu khas daerah Kartini seperti Lontong Tuyuhan, Legen, dan Cemuai. Dengan fasilitas itu, tamu dikenakan biaya Rp 440 ribu, sudah termasuk kamar.

Menariknya, semua tamu di Hotel Safin dilayani perempuan pada 21 April ini. Sementara itu, karyawan laki-laki membantu dari belakang.

“Itu hanya berlaku pada 21 April sebagai bentuk partisipasi kami untuk memperingati Hari Kartini yang dikenal dengan emansipasinya. Wanita tidak lagi berperan macak, manak, dan masak saja,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
HARI KARTINI : Donor Darah di Hotel Safin Pati Didampingi “Kartini-Kartini” Cantik

HARI KARTINI : Kenang RA Kartini, Ini yang Dilakukan Siswa SMAN 1 Bangsri Jepara

f-upload jam 18, sman 1 bangsri (e)

Siswa SMAN 1 Bangsri sedang bermain dakon (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Memperingati Hari Kartini, siswa SMAN 1 Bangsri, Jepara menggelar sejumlah lomba yang ada kaitannya dengan kehidupan RA Kartini. Itu dilakukan untuk mengenang kembali kehidupan sosok pahlawan emansipasi yang penuh inspirasi itu.

Kepala SMAN 1 Bangsri Nur Yahya mengemukakan, beberapa lomba yang digelar untuk mengenang RA Kartini adalah lomba permainan dakon, kemudian membatik, menyulam, merangkai bunga hingga lomba masak menu masakan RA Kartini.

“Ada beberapa lomba yang kami gelar untuk siswa. Lomba-lomba itu erat kaitannya dengan kehidupan RA Kartini semasa hidupnya,” ujar Nur Yahya kepada MuriaNewsCom, Kamis (21/4/2016).

Menurut dia, melalui lomba tersebut, diharapkan siswa di SMAN 1 Bangsri mampu mengenal lebih dekat dengan RA Kartini. Kemudian mampu mendapatkan inspirasi dan selanjutnya dapat diambil hikmahnya dalam menjalani kehidupan mereka.

“Selain itu juga, diharapkan siswa mengetahui karya Kartini, seperti permainan dakon itu yang dulu dilakukan RA Kartini,” katanya.

Dia menambahkan, khusus untuk permainan dakon sendiri, itu merupakan permainan tradisional yang sudah tidak banyak masyarakat yang mengetahui dan melakukannya. Untuk itu, tujuannya jelas memberikan edukasi kepada siswa mengenai budaya dan tradisi masa lampau yang harus dilestarikan.

“Sedangkan untuk lomba menu masakan RA Kartini, siswa diminta mengaplikasikan menu-menu masakan RA Kartini yang ada di salah satu buku,” imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang siswi yang mengikuti lomba, Natia mengaku senang bisa mengikuti lomba yang erat kaitannya dengan pahlawan nasional tersebut. Sebab, selama ini dia menjadi penggemar pahlawan yang lahir di Kota Ukir itu.

“Senang bisa ikut berpartisipasi dalam lomba. Semoga semangat RA Kartini bisa selalu menjadi inspirasi buat saya,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

HARI KARTINI : Kemeriahan Perayaan di Rembang

uplod jam 14 kartinian rembang (e)

Foto Suasana kirab di Rembang. (ISTIMEWA)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Perayaan Hari Kartini di Rembang juga tidak kalah dengan daerah lainnya. Ada beragam kegiatan yang telah dilakukan. Seperti pada Rabu (20/4/2016) malam.

Di antaranya seperti kirab Pataka diikuti Bupati Rembang Abdul Hafidz, Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto, Kapolres Rembang, SKPD dan peserta yang berjumlah sekitar 2000 peserta.

Kirab Pataka mulai berangkat dengan rute Pendapa Museum RA Kartini – Jalan Diponegoro -Jalan Kartini -Jalan Pemuda – Jalan Rembang – Blora dan Finish di Makam RA Kartini di Desa Mantingan, Bulu, Rembang.

Adapun peserta kirab dari SMP N 5 Rembang, SMP N 2 Rembang, MTs N Sulang, SMP PGRI Pancur, Kecamatan Pancur, SMP N 3 Rembang, SMP N 2 Kragan, MTs Arrohman, Kecamatan Sulang, Kompas (Komunitas Pemuda Semen), DPU, Karangtaruna Kaliombo Sulang, SH Teratai, SMP N 1 Rembang, SMP N 1 Sulang, SMP N 3 Kragan, Madania PSIR Kel Leteh, SMP N 1 Sluke, Kecamatan Lasem, dan Desa Gowak Lasem.

Editor : Akrom Hazami

HARI KARTINI : Srikandi Polres Pati Layani Masyarakat dengan Kebaya

upload jam 17 polres polwan kebaya (e)

Polwan yang bertugas di Samsat Pati mengenakan kebaya untuk memeringati Hari Kartini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Polisi wanita (polwan) pada Polres Pati melayani masyarakat dengan mengenakan kebaya. Hal itu untuk memeringati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April.

Mereka tampak anggun saat memberikan pelayanan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK), surat izin mengemudi (SIM), STNK dan BPKB, hingga layanan penerimaan bintara baru. Bahkan, penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pati juga mengenakan kebaya.

Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho mengatakan, Kartini merupakan sosok pencerah jiwa bangsa, terutama wanita. Karena itu, inspirasinya diharapkan bisa menjadi teladan bagi polwan di jajaran Polres Pati.

“RA Kartini punya karakter yang lembut tapi berani, tegas, tekun, dan disiplin. Kami berharap agar polwan bisa meneladani sifat dan karakter RA Kartini,” ujar Setijo, Kamis (21/4/2016).

Ia mengatakan, sejumlah polwan yang mengenakan kebaya diharapkan tak sekadar seremonial saja, tetapi juga bisa meniru keteladanan RA Kartini. “Penggunaan seragam kebaya memang hari ini saja. Hal itu untuk mengingatkan kepada polwan supaya bisa mencontoh keteladanan RA Kartini,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami