Puluhan Anggota Kudus Runners Berlari dengan Kostum Batik

Anggota Komunitas Kudus Runners mengenakan kostum batik saat menggelar even lari, Minggu (8/10/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan pelari yang tergabung dalam Komunitas Kudus Runners mengelar kegiatan lari berkostum batik, Minggu (8/10/2017). Kegiatan yang mengambil start dan finish di Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus, itu digelar untuk memeringati Hari Batik Nasional.

Koordinator Komunitas Kudus Runners Yusrul Huda mengatakan, ini sebagai bentuk kecintaan dari generasi muda akan warisan budaya bangsa.

“Kami ingin memperkenalkan batik kepada masyarakat dengan cara kami sebagai pelari. Makanya kami padupadankan kostum lari dengan batik. Kalau bukan generasi muda seperti kita, siapa lagi yang nguri-nguri batik,” ujarnya.

Rute lari yang dilalui pada even kali ini, menurutnya berbeda dari biasanya. Di mana para pelari menyusuri rute dari alun-alun sampai kawasan Menara.

Yusrul menjelaskan, tidak ada kewajiban mengenakan kostum batik khas tertentu pada even lari berbatik kali ini. Sehingga batik yang dikenakan cukup beragam dari berbagai daerah. “Intinya hari ini lari mengenakan kostum batik, tidak harus batik Kudus,” katanya.

Satria Agus, Anggota Komunitas Kudus Runner mengungkapkan, sebagai komunitas lari mereka tidak mau ketinggalan dalam rangka memeringati Hari Batik. Untuk itu, sebagai wujud kebanggaan akan batik, mereka memilih tema berlari dengan berkostum batik.

“Berbatik tidak menjadi halangan bagi seorang pelari karena batik sekarang ini telah bertransformasi mengikuti perkembangan, jadi dapat dikenakan segala kegiatan”, ucapnya.

Kudus Runners merupakan kumpulan pelari dari berbagai profesi. Mereka selalu mengelar even lari dengan gembira, termasuk hari ini mereka mengelar kegiatan lari dengan berkostum batik yamg cukup menarik perhatian masyarakat. Sebelumnya juga mereka mengelar even yang sama saat peringatan proklamasi kemerdekaan dengan berkostum merah putih.

Editor : Ali Muntoha

Pemkab Janji Akan Gencarkan Promosikan Batik Khas Jepara 

Mbak Duta Wisata Jepara 2017 menunjukan batik kreasi dari Suyanti Djatmiko. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten Jepara berjanji lebih gencar promosikan batik motif Jepara. Selain pameran, ada juga ruang pamer yang saat ini tengah dipersiapkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan. 

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi, saat menghadiri acara lomba membatik diatas media payung. Menurutnya, karya batik warga Jepara tak kalah bagus dengan daerah-daerah lain. 

“Batik Jepara bersaing dengan batik Solo dan batik Pekalongan apakah kita kalah? Tidak, akan tetapi disana pemerintahnya mendukung. Oleh karena itu untuk pengembangannya, kita akan memromosikan melalui berbagai kegiatan,” tuturnya, Sabtu (7/10/2017).

Menurutnya, pemkab Jepara wajib mendorong berkembangnya batik motif tersebut. Hal itu karena sudah ada masyarakat yang bergerak dengan membuat paguyuban membatik. 

Dian menambahkan, batik dapat disinkronisasi dengan kegiatan pariwisata seni budaya. Hal itu karena banyak diantara produk lokal Jepara yang sudah kondang, seperti Tenun Troso dan ukir-ukiran kayu. 

“Nah dengan itu, kita bisa mengemas kerajinan batik dalam paket wisata. Kalau ruang pamer disiapkan sama indag (Disperindag Jepara). Disamping itu kita juga harus mengembangkan inovasi dalam motifnya agar tidak monoton, caranya dengan mengadakan sarasehan maupun seminar,” ungkapnya. 

Editor: Supriyadi

Cerita Ganjar Soal Lemarinya Nelson Mandela yang Penuh Batik Pekalongan

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat mencoba membatik. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bercerita tentang keitsimewaaan batik, terutama batik Pekalongan. Batik ini mampu memikat tokoh dunia sekelas Nelson Mandela.

Bahkan pengakuan Unesco terhadap batik sebagai salah satu warisan dunia pada Oktober 2009 silam, tak lepas dari peran mendiang presiden Afrika Selatan tersebut.

Menurut Ganjar, Nelson sangat terpikat dengan batik. Bahkan dalam berbagai kegiatannya, baik itu kegiatan resmi maupun informal, Nelson kerap mengenakan baju bermotif batik.

Menurutnya, Nelson Mandela dikenal di dunia juga salah satunya karena gaya berbusana yang khas. Bahkan pada acara-acara resmi yang digelar PBB, Nelson sering mengenakan batik.

“Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela itu satu lemari bajunya batik. Batiknya Nelson itu dari mana coba? Dari Pekalongan, Jawa Tengah, ” kata Ganjar, Senin (2/10/2017).

Ini dikatakan Ganjar saat mengajar di SMA 1 Sokaraja, Banyumas, dan momentum Hari Batik Nasional. Sekolah ini dikenal dengan sekolah batik karena sudah ditunjuk sebagai Sekolah Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (SPBKL) dan juga memiliki sanggar batik. 

Dari cerita itu, Ganjar berpesan agar generasi muda jangan hanya sekadar cinta dengan batik. Namun juga harus mendalami batik secara total dengan memahami corak batik dan kekhasannya di setiap daerah.

“Karena batik sebagai warisan bangsa yang adiluhung. Apalagi sekarang desain batik sekarang bagus-bagus dan khas, ” ujarnya.

Ia juga mengaku memiliki koleksi batik dengan berbagai corak yang khas dari berbagai daerah. Politikus PDI Perjuangan itu sering menyempatkan diri membeli batik saat berkunjung ke berbagai daerah, baik di dalam maupun di luar Provinsi Jawa Tengah.

Ganjar juga senang mengenakan batik klasik, tapi kadang juga memakai batik dengan desain yang tidak biasa.

“Saya suka menikmati karya-karya anak muda yang desainnya lucu, menarik, dan aneh, apalagi sekarang di tiap daerah muncul motif-motif baru, seperti desain bambu, daun jati, kayu jati dan banyak lagi,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Hari Batik Nasional, Firman Kenalkan Batik Pati ke Australia

Anggota Baleg DPR RI Firman Soebagyo mengenalkan batik Pati kepada Dubes RI untuk Canberra, Australia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Firman Soebagyo mengenalkan batik tulis khas Pati saat kunjungan parlemen ke Canberra, Australia. Usai pembahasan tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Karantina Kesehatan, Firman mempromosikan hasil kreasi dan budaya orang Pati berupa batik tulis.

“Batik Pati itu saya serahkan kepada Duta Besar RI di Canberra Kristianto Legowo. Saya sudah berpesan supaya batik itu dikenalkan kepada pejabat dan warga Australia,” ujar Firman, Senin (2/10/2017).

Dia menegaskan, Hari Batik Nasional harus dimanfaatkan perajin batik di Pati untuk terus mempromosikan karya batik buatannya. Terlebih, batik khas Pati punya karakter yang kental akan nilai seni dan tradisi.

Salah satu keunikan dari batik Bakaran khas Pati, antara lain motifnya yang klasik dengan ciri remekan. Corak itu, kata Firman, mengingatkan kesan yang melekat pada budaya Majapahit.

Selama ini, batik Indonesia identik dengan Jogja, Solo dan Pekalongan. Padahal, Indonesia kaya akan warisan budaya berupa batik, termasuk Pati.

“Eksistensi batik bakaran khas Pati bukan ”kemarin sore”, tapi sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hanya saja, batik Pati minim publikasi sehingga yang lebih dikenal dari Solo, Jogja dan Pekalongan saja,” jelas Firman.

Karena itu, sebagai orang asli Pati, Firman selalu membawa Batik Pati saat kunjungan ke luar negeri. Termasuk saat dia memimpin delegasi kerja sama ke Atlanta, Amerika Serikat.

Ketua Umum Ikatan Keluarga Kabupaten Pati (IKKP) itu juga mengimbau kepada anggotanya untuk tidak bosan mempromosikan batik Pati di manapun berada. Hari Batik Nasional dianggap menjadi momentum penting untuk mengenalkan batik lokal yang sarat akan nilai seni dan budayanya.

Editor : Ali Muntoha