Ganjar : Jateng Sudah Swasembada Tak Butuh Beras Impor

MuriaNewsCom, Banjarnegara – Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menganggap provinsi yang dipimpinnya tak perlu kucuran beras impor. Bahkan Ganjar langsung menelepon Menteri Pertanian (Mentan) meminta agar rencana impor beras dikaji ulang.

Tak hanya itu, saat Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja di Pekalongan, Senin (15/1/2018), Ganjar juga membahas mengenai kebutuhan beras ini.

Ganjar khawatir, beras impor masuk ke Jawa Tengah berbarengan dengan panen raya. Jika kondisi ini terjadi, maka harga beras di tingkat petani akan hancur dan merugikan petani lokal.

“Barusan saya telepon Mentan, kemarin juga sudah kita laporkan ke Presiden Joko Widodo agar kita menghitung betul cadangan beras nasional kita. Ketika cadangan itu kita anggap cukup, maka saya minta rastra segera diturunkan, operasi pasar dilakukan,” kata Ganjar, Selasa (16/1/2018).

Pernyataan ini disampaikan Ganjar ketika melakukan kunjungan ke Pasar Kota Banjarnegara. Di pasar ini, Ganjar memantau ketersediaan beras di pedagang.

Menurut dia, Jawa Tengah sudah swasembada beras. Sehingga tak memerlukan beras impor, yang dampaknya akan memukul petani.

“Kita dorong daerah di luar Jateng yang butuh, monggo saja untuk dipenuhi. Tapi saran saya kalau Jateng sudah swasembada beras sehingga masih cukup, gak usahlah impor beras,” ujarnya.

Ganjar meminta Dinas Pertanian Provinsi Jateng memastikan daerah mana saja yang akan panen pada Fabruari dan Maret 2018, sebagai perhitungan stok cadangan beras.

“Ini mesti dihitung betul, kalau impor beras terjadu dan dua bulan lagi turun atau masuk ke tanah air. Saya khawatir masuknya impor beras pas panen rata sehingga harga beras nanti jatuh lagi, kita coba antisipasi berdasarkan pengalaman kemarin,” terangnya.

Setelah diketahui jumlah cadangan beras di Jateng, Bulog diminta langsung melakukan tindakan yang diperlukan. Terutama di sentra-sentra yang mengalami kenaikan harga beras cukup fluktuatif.

“Kita jangan bicara tolak impor beras atau tidak, itu terlalu ekstrem dan nanti jadi provokatif. Kita mau menghitung kondisi sebenarnya supaya pemerintah mau bertindak,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Petani Jepara: Impor Beras Jatuhkan Harga Beras di Kalangan Petani

MuriaNewsCom, Jepara – Petani di Jepara mengaku was-was dengan rencana impor beras yang hendak dilakukan pemerintah. Langkah itu dirasa akan semakin menyengsarakan petani lantaran harga beras semakin jatuh.

“Jika impor beras dibiarkan berlarut-larut kondisi itu akan ‎menjatuhkan harga beras di kalangan petani,” tutur Ketua Gabungan Kelompok Tani Bumi Mekarsari Kabupaten Jepara Khoirul Anam, Senin (15/1/2018).

Menurutnya, jika impor beras dilakukan untuk menyetabilkan harga, pihaknya tak berkeberatan. Akan tetapi pemerintah harus membuat analisis terkait waktu dan jumlah beras yang akan diimpor. Jika tidak, dirinya khawatir akan memengaruhi harga gabah panenan dari petani lokal.

“Kami tidak keberatan, asal tujuan impor itu untuk mengendalikan harga beras. Namun hal itu harus ada batasan waktunya. Karena saat ini sejumlah daerah (di Jepara) sudah mulai panen,” tambahnya.

Sementara itu, stok beras di gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) Jepara,masih cukup untuk tiga bulan kedepan. Saat ini jumlah persediaan beras di Jepara mencapai 1.890 ton.

“Saat ini yang tersimpan di gudang Bulog adalah jenis medium. Akhir bulan ini sampai awal bulan depan rencananya akan ada penen raya,” jelas Ahmad Muzajjad, Kepala Gudang Bulog Jepara.

Ia menjelaskan, pada panen tahun lalu serapan beras dari petani mencapai 11.000 ton. Sementara itu, konsumsi beras per bulan di Jepara mencapai 770 ton. Namun hingga pertengahan Januari 2018 pihaknya belum menyalurkan stok beras.

Ahmad menyebut, akan ada penambahan stok beras mengingat akan adanya panen. ‎Sementara terkait rencana impor beras, hal itu tak akan memengaruhi stok beras dan berakibat pada harga jual beras di kalangan petani.

Editor: Supriyadi

Petani Undaan Lor Kudus Tolak Rencana Pemerintah Impor Beras

MuriaNewsCom, Kudus – Petani di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus menolak rencana pemerintah untuk mengimpor beras dari luar negeri. Hal itu dinilai akan semakin merugikan petani.

Khoiron (45) seorang petani di desa itu mengaku, saat ini sawah di kampungnya sedang panen. Meskipun belum serentak, namun harga akan semakin turun jika musim panen raya tiba.

Saat ini menurutnya, harga gabah di saat panen (di Desa Undaan Lor) dihargai Rp 580 ribu per kwintal. Hal itu juga diamini oleh Ketua Gapoktan Tani Mulyo Undaan Lor, Rohwan.

“Kami menolak jika ada impor beras. Soalnya hal itu akan merugikan petani,” katanya.

Menurutnya, luas lahan sawah di Undaan Lor 450 hektare. Satu hektare sawah diperkirakan dapat menghasilkan 8 ton gabah setiap kali panen.

Dikatakannya, pada akhir Januari 2018 diperkirakan desa ini akan panen raya. Hal itu otomatis menurunkan harga gabah. Dengan rencana pemerintah hendak mengimpor beras, dikhawatirkan harganya semakin anjlok.

“Nanti kalau panen raya harganya (gabah) bisa turun sampai Rp 240 ribu per kwintal. Kalau ada impor beras ya merugikan petani. Apalagi dari penebas (tengkulak) takut membeli, soalnya menanti harganya turun,” urainya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Undaan Lor Edi Pranoto mengaku tak setuju akan rencana impor beras.

“Kami dari desa tak setuju dengan rencana impor beras. Karena hal itu resahkan warga kami yang berprofesi sebagai petani,” ujarnya.

Menurutnya, untuk MT (Musim Tanam) I 2018 yang seharusnya berlangsung Oktober (2017)-Januari (2018), untuk Desa Undaan Lor maju di Bulan September 2017. Oleh karenanya, panen bisa dilakukan pada bulan Januari‎.

Editor: Supriyadi

Polisi Pun Ikut Turun ke Pasar karena Harga Beras Melonjak

MuriaNewsCom, Sragen – Sejumlah bahan pokok terutama beras dan cabai mengalami kenaikan harga. Kondisi ini terjadi di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Sragen, di mana harga beras dan cabai meroket.

Polres Sragen ternyata tak tinggal diam melihat kondisi ini. Jumat (12/1/2018) hari ini, Polres Sragen menggelar operasi secara gabungan. Operasi pasar ini menggandengan Dinas Perdagangan melakukan pemeriksaan ketersediaan sembako di pasar Kabupaten Sragen.

”Operasi ini untuk mengecek secara langsung lonjakan harga sembako, khususnya beras dan cabai. Operasi juga dilakukannya untuk mengetahui ketersediaan bahan pengan tersebut,” kata Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman.

Dalam sidak ini sejumlah kios dan toko di Pasar Bunder Sragen dicek langsung. Dari sidak diketahui beberapa bahan pangan seperti gula, minyak masih lancar didistribusi oleh penyetok dan dalam kategori cukup.

Namun untuk beras selain kesulitan mendapatkan pasokan, juga mengalami kenaikan harga mulai dari seribu hingga tiga ribu rupiah perkilogramnya.

Untuk memperoleh pasokan beras, sejumlah pedagang mengaku harus mengambil dari selepan di beberapa kecamatan di Sragen.

Yang menarik dalam pengecekan ini, harga cabai mengalami kenaikan cukup signifikan, dimulai dari harga semula stok dari petani sebesar Rp 28 ribu, kini harga melonjak menjadi Rp 40 ribu perkilogramnya.

Artinya kenaikan harga cabai rata rata perkilogramnya mencapai hingga sebesar Rp 12 ribu, selain beberapa jenis cabai mengalami kekosongan stok.

Bahan lain seperti bumbu dapur , daging sapi tak mengalami kenaikan cukup drastis, namun untuk harga  daging ayam naik hingga sebesar Rp 7 ribu perkilogramnya.

Editor : Ali Muntoha

Stabilkan Harga, Bulog Gelontorkan 1,5 Ton Beras ke Pasar Bitingan

MuriaNewsCom, Kudus – Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Pati menggelontor 1,5 ton beras kualitas medium ke Pasar Bitingan Kudus. Hal itu dilakukan untuk menyetabilkan harga beras di Kota Kretek yang terus melambung beberapa saat ini.

Mohammad Taufiq, Kepala Bulog Sub Divre Pati menyebut, beras yang dipasok ke Pasar Bitingan langsung habis diborong pedagang. Harga yang dipatok untuk beras dari Bulog adalah Rp 8 ribu perkilogram.

“Harapannya lonjakan harga beras dapat segera teratasi. Untuk harga jual (dari pedagang ke pembeli) kami membebaskan, asal tidak melebihi harga eceran tertinggi (HET) yakni Rp 9.450 perkilogram,” tuturnya.

Perlu diketahui, saat ini untuk beras kualitas medium di Kudus dijual dengan harga Rp 10.500 perkilogram.

Sementara itu, Kholiq (37) seorang pedagang di Pasar Bitingan mengaku, kualitas beras yang didroping oleh Bulog, kurang bagus. Meskipun harga yang dipatok dari badan tersebut jauh dibawah HET. “Kualitasnya kurang bagus, sehingga ketika kami jual peminatnya kurang,” kata dia.

Ia berharap, agar beras yang nantinya dipasok oleh Bulog dapat lebih bagus. Hal itu untuk memastikan konsumen puas akan beras yang telah mereka beli.

Editor : Ali Muntoha

Harga Beras Terus Naik, Bupati Kudus Perintahkan Operasi Pasar

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa perintahkan gelar operasi pasar, guna menanggulangi harga beras yang terus melambung. Hal itu dia sampaikan saat melakukan inspeksi di Pasar Baru Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Rabu (10/1/2018).

Di pasar tersebut, harga beras berkisar di antara harga Rp 10.500 untuk kualitas medium. Sementara untuk kualitas premium harganya mulai dari Rp 11.600.

“Kalau di sini SS kualitas nomor satu dijual seharga Rp 11.600, kalau untuk SS kualitas dua atau medium harganya Rp 10.500. Kenaikan sudah mulai terjadi pada bulan Desember lalu, naiknya mulai Rp 200,” ujar Sholikatun, seorang pedagang beras di pasar tersebut.

Ia menyebut, kenaikan harga beras disebabkan harga gabah yang juga mengalami kenaikan. Selain itu, saat ini belum memasuki masa panen.

Bupati Kudus Musthofa menyebut, untuk melakukan penyetabilan harga Pemkab akan melakukan operasi pasar. Untuk itu, pihaknya akan melakukan kerjasama dengan Bulog Sub Divre Pati, sebagai penyedia beras.

“Sekarang memasuki Musim Tanam (MT) 1, ada jeda waktu antara penanaman dengan panen. Sehingga menyebabkan keterbatasan stok. Hal itu karena petani setiap kali memiliki beras langsung dijual kepada bakul, karenanya barangnya agak kesulitan (dicari). Namun saya pastikan, stok untuk Kabupaten Kudus aman 4-5 bulan kedepan,” tuturnya.

Oleh karenanya, pihaknya meminta Bulog untuk menurunkan stoknya untuk upaya operasi pasar. Nantinya, pedagang akan dijadikan mitra.

“Nanti dari Bulog beras dibeli dengan harga Rp 8.000 perkilogram, yang dikemas dalam kemasan 15 kilogram per sak. Dijual maksimal harga Rp 8.200 untuk pembeli. Kan sudah dapat untung Rp 2.00,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bulog Sub Divre Pati Mohammad Taufiq mengatakan, cadangan beras di gudang masih sangat mencukupi. Untuk wilayah Karisidenan Pati ada persediaan sekitar 27 ribu ton.

“Nanti kita penuhi sesuai permintaannya (Kudus) berapa. Kalau persediaan kita kan tidak terbatas,” urainya.

Dirinya menggarisbawahi, agar dalam operasi pasar tersebut pedagang tidak menjual melebihi HET yakni Rp 9.450 untuk beras kualitas medium‎.

Editor: Supriyadi

Harga Melejit, 30 Ribu Ton Beras Disebar ke Pasar

MuriaNewsCom, Semarang – Harga beras di pasaran di Jateng melejit melebihi harga eceran tertinggi. Untuk menekan harga, Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jawa Tengah menggelar operasi pasar di belasan titik.

Ada 30 ribu ton yang akan disebar di sejumlah titik dalam operasi pasar. Kepala Perum Bulog Divre Jateng, Djoni Nur Ashari mengatakan, pada awal Januari 2018 pihaknya sudah menyebar 10 ribu ton beras.

“Bada Januari ini sebanyak 30 ribu ton kita salurkan. Ini dilakukan karena tingginya harga beras di pasaran,” katanya kepada wartawan, Selasa (9/1/2018).

Menurut dia, operasi pasar akan digelar di 15 titik pasar tradisional. Di antaranya di Kota Semarang, Kudus, Tegal, dan Surakarta.

Ia menyebut, di pasar-pasar tradisional harga beras medium telah melejit melebihi harga ecerean tertinggi (HET). Di sejumlah pasar harga beras medium mencapai Rp 10.500, padahal HET ditetapkan sebesar Rp 9.450 per kilogram.

Pihaknya mengaku, akan terus menggelontorkan beras ke pasaran selama harga masih tinggi. Hal itu dilakukan, kata dia, untuk meredam gejolak yang ada di masyarakat karena beras merupakan kebutuhan pokok.

“Bukan berarti kebutuhan yang lainnya tidak, tapi beras ini penting karena merupakan kebutuhan pokok masyarakat,” ujarnya.

Pihaknya memperkirakan, harga beras akan kembali turun saat suplai meningkat pada panen raya bulan Maret 2018 mendatang. Setelah harga berangsur turun, operasi pasar akan dihentikan.

Editor : Ali Muntoha

Sidak ke Pasar, Satgas Pangan Jepara Temukan Harga Beras Lebihi HET

MuriaNewsCom, Jepara – ‎Satuan tugas (Satgas) pangan Jepara kembali melakukan inspeksi mendadak (Sidak). Hasilnya, petugas menemukan pedagang yang menjual beras melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditentukan yakni Rp 9.350, untuk jenis medium di Pasar Jepara Satu, Senin (8/1/2018).

Mendapati hal itu, pihak Reskrim Polres Jepara tak lantas memberikan tindakan tegas.‎ Untuk tahap awal, pedagang nakal hanya diberikan imbauan dan pengarahan.

“Kami baru sebatas memberikan peringatan dulu. Nanti kalau masyarakat tahu, juga lama kelamaan akan beralih pada beras yang dijual sesuai HET,” kata Kasareskrim Polres Jepara AKP Suharto.

Dirinya menerangkan, harga beras medium melebihi HET sebesar Rp 10 ribu, diketahui baru saja digiling. Sementara untuk beras medium yang sudah lama di pasaran, dijual lebih rendah daripada harga Rp 9.350.

Kepolisan menyarankan agar masyarakat membeli beras sesuai dengan harga yang telah ditentukan. Ia menyebut, sasaran pemantauan pasar kali ini untuk memantau ada atau tidaknya permainan harga dari pedagang nakal.

“Iya kami menemukan beras medium baru (digiling) dijual dengan harga Rp 10 ribu. Itu melebihi HET yang seharusnya Rp 9.350. Sementara untuk beras medium yang sudah lama menjadi stok di pasar, dijual dengan harga lebih rendah dari HET, sekitar Rp 9 ribu,” jelas Suharto.

Ahmad Muzajjad, Kepala Gudang Bulog Jepara menyatakan, persediaan beras di Bumi Kartini masih aman untuk tiga bulan ke depan. Oleh karenanya, tidak ada alasan bagi pedagang untuk menaikan harga.

“Saat ini stok kami ada 1.850 ton, itu masih cukup untuk tiga bulan ke depan. Kita tak kekurangan pasokan, sehingga tak ada alasan untuk menaikan harga beras,” urainya.

Editor: Supriyadi

Merangkak Naik, Harga Beras di Kudus Tembus Rp 11.500 per Kilogram

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti (tenga) bersama Kasatreskrim AKP Kurniawan Daili (kanan) saat mengecek harga beras di Pasar Bitingan Jumat (15/12/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus beserta Polres Kudus melakukan pengecekan harga komoditas di Pasar Bitingan, Jumat (15/12/2017). Dalam pengecekan tersebut, harga beras terus naik hingga tembus Rp 11.500.

Zahroh (50) pedagang Beras di Pasar Bitingan mengungkap, naiknya harga beras dimulai dua pekan lalu. Untuk jenis Beras Wanviy,  harga awal Rp 10.300 naik menjadi Rp 10.800. Sedang harga Beras SSA, dari Rp 9.800 menjadi Rp 10.500.

“Semenjak harga naik pembelinya berkurang. Misalnya saja dari pengecer yang tiap hari membeli 100 kilogram, kini menjadi dua hari sekali belinya,” katanya kepada petugas saat memantau harga.

Dia mengatakan, beras yang diambilnya itu, didapat dari penggilingan padi di wilayah Kudus dan Demak. Dia memperkirakan harga akan terus naik, mengingat panen masih lama.

“Harganya akan turun saat panen, namun ini masih pemupukan kedua. Jadi masih cukup lama,” jelasnya.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Sudiharti mengatakan, kenaikan beras masih dianggap wajar. Namun, pihaknya mendorong agar kenaikannya tidak terlampau tinggi, sehingga masyarakat tidak resah.

“Pedagang mengambil keuntungan sekitar Rp 400 hingga Rp 500 per kilogram. Nomonal tersebut merupakan nominal minimal yang diambil untuk mendapatkan untung,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Pedagang Beras di Jepara Belum Tahu Aturan HET dari Kemendag

Pedagang beras di Pasar Jepara Satu belum tahu aturan HET beras yang ditetapkan kementrian perdagangan. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pedagang beras di Jepara belum mengetahui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh pemerintah enam hari lalu. Hingga kini mereka masih memberlakukan harga lawas, yang belum sesuai dengan anjuran pemerintah. 

Karyono seorang pedagang beras di Pasar Jepara Satu mengakui belum mengetahui peraturan tersebut. Sehingga dirinya masih menjual dengan harga yang berlaku sebelumnya. 

“Wah belum tahu ada peraturan itu. Saat ini saya menjual beras dikisaran harga Rp 9.500 sampai Rp 10.000. Jenisnya 64 dan Menthik Wangi,” katanya, Rabu (6/9/2017). 

Ditanya apakah setuju dengan peraturannya tersebut, ia tidak menjawab dengan gamblang. Dirinya mengatakan akan mengikuti harga pasaran baik dari petani maupun penggilingan. 

“Ya kita lihat saja nanti kalau dari sana (penggilingan) harganya berapa nanti kan jualnya kita berapa. Saat ini dari penggilingan saya beli satu kilogram beras Rp 9.000,” tambahnya. 

Pedagang lain, Nur Sakdiyah mengakui hal serupa. Ia mengatakan hingga kini belum ada sosialisasi terkait peraturan tersebut. 

“Tidak tahu ada aturan harga, namun demikian harga beras memang agak naik dari Rp 9.200 menjadi Rp 9.500. Kalau untuk yang super itu naiknya Rp 12.000 lebih,” ungkap Nur. 

Sesuai dengan Permendag no 57/M-DAG/PER/8/2017, HET beras mulai diberlakukan pada 1 September tahun ini. Adapun HET untuk beras medium di Jawa, Lampung dan Sumatera Selatan ditetapkan sebesar Rp 9.450 per kilogram. Sedangkan untuk kualitas Premium adalah Rp 12.800 perkilogram.

Penetapan patokan HET ini berlaku tidak hanya pada penjual beras yang ada di pasar rakyat, namun juga pada toko modern dan tempat penjualan eceran lain. 

Editor: Supriyadi

Ini Strategi Jitu Antisipasi Tanaman Puso di Jepara

Petani di Jepara tengah beraktivitas mengolah lahan sawahnya. Atasi puso, petani Jepara asuransikan tanamannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)Petani di Jepara tengah beraktivitas mengolah lahan sawahnya. Atasi puso, petani Jepara asuransikan tanamannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petani di Jepara tengah beraktivitas mengolah lahan sawahnya. Atasi puso, petani Jepara asuransikan tanamannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)Petani di Jepara tengah beraktivitas mengolah lahan sawahnya. Atasi puso, petani Jepara asuransikan tanamannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kondisi cuaca yang belum menentu lantaran sudah memasuki musim hujan tetapi intensitas turun hujan masih rendah. Hal itu membuat sebagian petani cemas, karena khawatir tanamannya puso akibat kekurangan air. Untuk mengantisipasinya, ada beberapa strategi yang dilakukan oleh Pemkab Jepara.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jepara, Wasiyanto menjelaskan, ada beberapa hal yang dilakukan oleh Pemkab Jepara. Di antaranya menyiapkan sejumlah peralatan yang dapat digunakan untuk mengantisipasi ancaman puso terutama untuk tanaman padi.

”Ada peralatan yang bisa digunakan untuk itu. Selain itu, ada asuransi kepada sejumlah tanaman jika terjadi puso,” ujar Wasiyanto kepada MuriaNewscom, Senin (18/1/2016).

Lebih lanjut dia menjelaskan, sekitar 1.000 ha tanaman padi di Jepara mulai diasuransikan melalui program Asuransi Usaha Tani Padi. Besar premi per ha yang harus dibayar petani sebesar Rp 200.000. Premi sebesar itu ditanggung oleh Kementerian Pertanian sebesar Rp 144 ribu dan premi petani sebesar Rp 36 ribu per ha.

”Dengan asuransi itu, petani tidak perlu khawatir karena jika dimungkinkan terjadi puso,” katanya.

Dia menambahkan, sampai melewati pertengahan bulan Januari ini, intensitas turun hujan memang belum meninggi. Akibatnya, sejumlah petani yang melakukan penanaman terdampak, yakni tanaman mereka terancam puso. Terlebih, wilayah pertanian di Jepara mayoritas masih mengandalkan air hujan. (WAHYU KZ/TITIS W)

Duh, Sejumlah Petani di Jepara Galau, Ada Apa?

Proses penanaman padi di wilayah Kabupaten Jepara. Petani cemas memasuki Januari intensitas hujan belum juga meninggi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Proses penanaman padi di wilayah Kabupaten Jepara. Petani cemas memasuki Januari intensitas hujan belum juga meninggi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Meski musim hujan telah dimulai sejak awal Desember 2015 lalu, namun sampai pertengahan Januari 2016 ini intensitas turun hujan di Jepara belum begitu meninggi. Hal itu membuat sejumlah petani di wilayah Kabupaten Jepara cemas. Sebab, dengan intensitas hujan yang tak kunjung tinggi, tanaman mereka pun kekurangan air.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jepara, Wasiyanto menjelaskan, sampai melewati pertengahan bulan Januari ini, intensitas turun hujan memang belum meninggi. Akibatnya, sejumlah petani yang telah melakukan penanaman terdampak, yakni tanaman mereka terancam puso.

”Wilayah pertanian di Jepara mayoritas masih mengandalkan air hujan. Sehingga, kalau hujannya tidak kunjung intens, tentu saja mereka kekurangan air,” kata Wasiyanto kepada MuriaNewsCom, Senin (18/1/2016).

Menurut dia, dari laporan yang dia terima sudah ada sejumlah petani yang terkena dampak. Misalnya para petani di Kecamatan Kedung yang memang sebagian tanaman terutama tanaman padi yang telah mereka tanam mulai rusak akibat kekurangan air.

Dia menambahkan, masalah cuaca ini memang cukup berdampak bagi pertanian di Jepara. Selain ancaman puso karena kekurangan air, musim tanam I yang biasa dilakukan pada bulan November, sampai Januari ini masih ada yang belum bisa tanam karena melihat kondisi cuaca yang belum memungkinkan.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, sampai saat ini di wilayah Kabupaten Jepara memang intensitas turun hujan belum tinggi. Sehingga sektor pertanian di Jepara yang masih mengandalkan air hujan menjadi terdampak.

”Kondisi cuaca seperti ini diakibatkan karena anomali cuaca, sehingga meski sudah masuk musim hujan tapi kita rasakan seperti musim kemarau,” kata Lulus. (WAHYU KZ/TITIS W)

Jelang Ramadan, Harga Beras di Pati Merangkak Naik

Sri Harni (51), pedagang beras yang beroperasi di Pasar Sleko Pati. Saat ini, harga beras di Pati melambung menjelang ramadhan. (MURIANEWS / LISMANTO)

PATI – Harga beras di sejumlah daerah di Kabupaten Pati melambung tinggi menjelang bulan Ramadan yang kurang dua pekan lagi. Salah satunya, harga berbagai jenis yang dijual di Pasar Sleko Pati.

Lanjutkan membaca