Bulog Pati Wajibkan Karyawannya Beli Bawang Merah dari Petani

MuriaNewsCom, Pati – Bulog Pati menginstruksikan kepada seluruh karyawan wajib membeli bawang merah dari kalangan petani. Itu dilakukan sebagai langkah partisipasi Bulog atas murahnya harga bawang merah.

Wakil Kepala Perum Bulog Subdivre II Pati Rindo Saputra mengatakan, partisipasi semacam itu dilakukan untuk membantu petani menjual bawang merah. Cara seperti itu dapat membantu sambil menunggu usulan penyerapan bawang merah petani.

“Seluruh karyawan kami sudah kami instruksikan membeli bawang merah dari petani. Dan saat ini masih berlangsung,” katanya saat ditemui.

Baca: Wakil Bupati Wajibkan PNS di Pati Beli Bawang Merah dari Petani

Menurut dia, tiap karyawan diharuskan untuk membeli bawang sejumlah dua kilogram. Tiap kilo, mereka diharuskan membayar sebanyak Rp 15 ribu. Harga tersebut dianggap pas untuk memenuhi kebutuhan bawang karyawan.

Disebutkan, jumlah karyawan Bulog memang tak banyak. Tercatat, karyawan hanya 46 orang saja. Kendati demikian, diharapkan akan membantu petani meski sedikit.

“Kalau ada yang mau membeli lebih dari itu kami persilakan. Namun minimal adalah lima kilogram,” ungkap dia.

Sebelumnya, aksi serupa juga dilakukan Pemkab Pati untuk membeli bawang merah petani. Bedanya, tiap PNS Pati harus membeli sebanyak dua kilogram.

Editor: Supriyadi

Harga Anjlok, Bulog Pati Usulkan Pembelian Bawang dari Petani

MuriaNewsCom, Pati – Harga bawang merah yang anjlok di kalangan petani di Bumi Mina Tani membuat Perum Bulog Subdivre II Pati bergerak cepat. Salah satunya memberikan usulan ke Bulog Pusat untuk melakukan pembelian. Tujuannya, supaya petani tak terlalu rugi dan bisa melakukan tanam kembali.

Wakil Kepala Perum Bulog Subdivre II Pati Rindo Saputra mengatakan, saat ini pihaknya sudah melakukan pembahasan internal terkait langkah tersebut. Dalam waktu dekat, usulan tersebut akan diberikan ke tingkat Jateng dan pusat.

“Sebenarnya untuk kebijakan membeli atau menyerap merupakan kewenangan dari pusat. Jika pusat menginstruksikan membeli maka kami akan beli. Makanya kami usulkan,” katanya, Jumat (19/1/2018).

Baca: Memprihatinkan, Harga Bawang Merah di Tingkat Petani Pati Hanya Rp 5 Ribu Per Kilogram

Menurut dia, upaya membeli bawang petani merupakan upaya membantu petani. Terlebih saat harganya anjlok seperti sekarang ini, petani sangat membutuhkan uluran tangan untuk menekan kerugian.

Namun, kata dia, pihak Bulog tidak bisa membeli secara keseluruhan bawang milik petani. Karena, Bulog sendiri memiliki masalah penyimpanan bawang. Lain halnya untuk beras, yang banyak memiliki gudang.

“Kalaupun membeli bawang maka kami harus menyimpan di PT Pura Kudus. Di sana terdapat alat untuk menyimpan dalam jumlah besar. Jika tidak, maka bawang merah hanya bertahan beberapa pekan saja,” ujarnya.

Saat ini, pihaknya mengaku masih memiliki cadangan bawang merah sebanyak 18 ton. Semuanya disimpan di gudang milik PT Pura Kudus.

Editor: Supriyadi

Wabup Pati Heran Harga Bawang di Petani dan di Pasar Terpaut Rp 13 Ribu

MuriaNewsCom, Pati – Wakil Bupati Pati Saiful Arifin heran dengan perbedaan harga bawang merah di tingkatan petani dan pedagang. Itu karena, keduanya memiliki perbandingan harga yang fantastis, yakni mencapai kisaran Rp 13 ribu.

“Jika di petani, harga Bawang Merah kisaran Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribuan. Padahal di tingkat pedagang harganya mencapai Rp 18 ribu. Ini ada apa?,” Katanya kepada petani Bawang Merah saat audiensi, Senin (16/1/2018).

Baca: Wakil Bupati Wajibkan PNS di Pati Beli Bawang Merah dari Petani

Menurut dia, terpahutnya harga yang begitu tinggi membuat Pemkab Pati penasaran apakah ada campur tangan mafia ataukah tidak. Karenanya ia bersedia mendampingi petani untuk menstabilkan harga bawang merah. Bahkab keseriusanya itu dilakukan dengan melayangkan surat kepada presiden terkait tuntutan dari petani bawang merah.

“Komunikasi dengan pemerintah pusat dibutuhkan untuk solusi jangka panjang. Jangan sampai kejadian semacam ini terulang kembali,” ungkapnya.

Baca: Memprihatinkan, Harga Bawang Merah di Tingkat Petani Pati Hanya Rp 5 Ribu Per Kilogram

Dia menambahkan, di Indonesia dibutuhkan aturan soal harga bawang merah. Tujuannya supaya saat harga anjlok masih terkendali, dan saat harga tinggi juga dapat terkontrol.

Hanya, ia mengakui anjloknya harga bawang merah terjadi dalam skala nasional. Itu terjadi bukan disebabkan adanya impor bawang. Melainkan, petani bawang merah belakangan sangatlah banyak dan panen raya. Itu berdampak pada turun harga bawang.

Editor: Supriyadi

Baca: Harga Terus Anjlok, Ribuan Petani Bawang Merah di Pati Gelar Aksi di Alun-alun

Wakil Bupati Wajibkan PNS di Pati Beli Bawang Merah dari Petani

MuriaNewsCom, Pati – Wakil Bupati (Wabup) Pati Saiful Arifin menginstruksikan kepada seluruh PNS wajib membeli bawang merah dari petani Pati. Itu dilakukan sebagai langkah Pemkab Pati atas murahnya harga bawang merah.

“Kami dari Pemkab Pati sudah memutuskan, mengambil kebijakan agar semua PNS di Pati membeli bawang merah dari petani Pati,” katanya kepada petani Bawang Merah saat audiensi, Senin (16/1/2018).

Baca: Memprihatinkan, Harga Bawang Merah di Tingkat Petani Pati Hanya Rp 5 Ribu Per Kilogram

Didampingi pejabat di lingkungan Pemkab Pati, Safin kembali menegaskan, setiap PNS diharuskan untuk membeli bawang sejumlah dua kilogram. Tiap kilo, PNS di Pati diharuskan membayar sejumlah Rp 15 ribu. Harga tersebut dianggap terjangkau untuk para PNS. Apalagi TPP para PNS di Pati juga cukup tinggi.

Disebutkan, jumlah PNS di Pati hingga kini mencapai jumlah 11.100 PNS. Meski dengan jumlah belasan ribu PNS tak cukup membeli seluruh bawang petani, namun itu merupakan upaya dalam membantu petani bawang.

“Ini merupakan gerakan solidaritas dari pemerintah.  Jadi silakan lokasinya ditentukan dan dikomunikasikan dengan petani, nanti bisa diatur,” imbuh dia.

Editor: Supriyadi

Baca: Harga Terus Anjlok, Ribuan Petani Bawang Merah di Pati Gelar Aksi di Alun-alun

Memprihatinkan, Harga Bawang Merah di Tingkat Petani Pati Hanya Rp 5 Ribu Per Kilogram

MuriaNewsCom, Pati – Harga bawang merah di tingkat petani di Kabupaten Pati jauh dari kata layak karena sangat murah. Untuk satu kilogramnya, harga bawang merah hanya berada sekitar Rp 5 ribuan saja. Itupun, dengan kualitas bawang yang cukup bagus.

Koordinator aksi Paguyuban Petani Bawang Merah Pati (PPBMP) Suparlan mengatakan, saat ini harga Bawang Merah sangat memprihatikan bagi petani. Dengan hanya Rp 5 ribuan saja. Maka petani hanya akan dirugikan.

“Kami meminta harga dapat distabilkan, yaitu diangka Rp 17 ribu per kilogram. Dengan Rp 17 ribu, maka petani bisa masuk,” katanya saat aksi di alun-alun Pati, Senin (16/1/2018).

Baca: Harga Terus Anjlok, Ribuan Petani Bawang Merah di Pati Gelar Aksi di Alun-alun

Menurut dia, para petani tak tahu lagi kemana akan mengadu saat kondisi semacam ini. Karena, selain kepada bapak Bupati Pati atau yang mewakilinya, para petani tak tahu menyuarakan kepada siapa.

Sumarno, Petani Bawang Merah di Pati juga menyebutkan hal yang sama. Jika harganya sangat rendah, dampak petani hanya akan dililit hutang. “Jangankan untung, untuk balik modal saja tak bisa,” ungkap dia.

Petani berharap, pemerintah tingkat kabupaten dapat memperhatikan nasib para petani. Itu diharapkan bukan sekedar omongan namun sebuah aksi yang nyata.

Editor: Supriyadi

Harga Terus Anjlok, Ribuan Petani Bawang Merah di Pati Gelar Aksi di Alun-alun

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan petani bawang merah pati yang tergabung dalam Paguyuban Petani Bawang Merah Pati (PPBMP) menggelar aksi di Alun-alun Pati, Senin (16/1/2018). Mereka menuntut pemerintah menyetabilkan harga bawang yang semakin anjlok di pasaran.

Ribuan petani bawang tiba menggunakan kendaraan roda empat jenis truk dan mobil pribadi. Lengkap dengan sejumlah bendera merah-putih dan sejumlah poster bertuliskan tentang keluhan petani.

Seperti halnya tulisan “Iki Brambang dudu kotang, tapi ko mlorot terus. Nandur bawang tukule utang” dan sebagainya. Selain itu, terdapat pula sejumlah tulisan lain soal menderitanya petani karena bawang harganya anjlok.

Selain pamflet bertuliskan keluh kesah harga, para pengunjukrasa juga melakukan teatrikal pocong. Teatrikal tersebut dilakukan sebagai bentuk keprihatinan harga bawang merah yang terus turun.

Suparlan, koordinator aksi mengatakan, aksi ini terpaksa diselenggarakan karena petani bawang selalu menderita. Dengan harga yang selalu turun, maka petani sangat sengsara. Untuk itu aksi ini dilakukan.

“Kami meminta pemerintah dapat membantu kami agar harga kembali stabil,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Harga Bawang Merah Merangkak Naik, Petani di Pati Justru Mengeluh

Salah seorang buruh tani tengah memisahkan bawang merah yang bercampur lumpur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Menjelang Natal dan Tahun Baru, harga sembako di pasaran merangkak naik. Begitu juga harga bawang merah yang sudah mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu per kilogram di pasar tradisional.

Kendati demikian, petani bawang merah di Pati justru justru mengeluh. Pasalnya, bawang merah yang mereka jual kepada tengkulak hanya dihargai Rp 7 ribu per kilogram.

Padahal, tengkulak semestinya membelinya dengan harga dari Rp 12 ribu sampai Rp 15 ribu per kilogram. Kondisi itu yang dikeluhkan Ngatawi, salah satu petani di Desa Pagerharjo, Wedarijaksa.

“Operasional yang digunakan untuk menanam bawang merah banyak memakan biaya, sehingga harga segitu sudah pasti petani rugi,” ungkapnya, Jumat (22/12/2017).

Untuk bisa menutup biaya operasional bawang merah, harga bawang merah yang dibeli tengkulak paling tidak Rp 12 ribu per kilogram. Sementara untuk bisa untung, tengkulak setidaknya membelinya seharga Rp 15 ribu per kilogram.

Menurut dia, tengkulak memanfaatkan kondisi cuaca buruk yang sering hujan dengan membeli harga murah. Sebab, bila tidak segera dijual, bawang merah akan cepat membusuk.

Sementara petani tidak memiliki fasilitas pengering bawang merah. Akibatnya, mau tidak mau, petani harus segera menjual bawang merah setelah dipanen dengan harga yang ditetapkan tengkulak.

Dia berharap, pemerintah bisa ikut memberikan solusi terkait persoalan tersebut. Dia ingin harga yang dijual dari petani ke tengkulak setidaknya bisa menutup biaya operasional bawang merah.

Editor : Ali Muntoha

Harga Cabai Rawit dan Bawang Merah di Kudus Anjlok

Sejumlah petani di Kabupaten memanen cabai di sawahnya, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Harga cabai rawit dan bawang putih di Kabupaten Kudus, Jumat (11/8/2017) turun drastis. Turunnya harga dua komoditas tersebut lantaran stok yang melimpah sementara daya beli masyarakat masih sama.

Petugas pengumpul data pada Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Noor Rokhis mengatakan, anjloknya harga dua komoditas tersebut terlihat jelas di tiga pasar tradisional. Untuk cabai rawit rata-rata turun antara Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram.

”Di Pasar Bitingan, harga cabai rawit mengalami penurunan dari Rp 17 ribu menjadi Rp 14 ribu per kilogram. Kemudian di Pasar Kliwon dari Rp 20 ribu menjadi Rp 15 ribu per kilogram. Sedangkan di Pasar Jember harganya dari Rp 18 ribu jadi Rp 15 ribu per kilogram,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Sementara, untuk bumbu dapur jenis bawang, harganya juga mengalami penurunan. Untuk bawang merah yang semula Rp 22 ribu, kini turun menjadi Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan untuk bawang putih, harganya yang pernah melambung hingga Rp 31 ribu  kini hanya Rp 30 ribu per kilogram.

Sedang, untuk komoditas lainnya masih cenderung stabil. Seperti telur ayam negeri yang harganya masih Rp 20 ribu per kilogram, gula pasir Rp 12 ribu per kilogram, dan daging sapi KW 1 seharga Rp 110 ribu per kilogram.

“Harganya berkembang tiap hari, namun perkembangan masih fluktuatif, tergantung stok dagangan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Wah, Harga Cabai Turun, Harga Bawang Malah Naik

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Harga bumbu dapur per Jumat (1/4/2016) cenderung stabil. Malahan, beberapa jenis di antaranya mengalami penurunan, meskipun ada juga yang naik.

Petugas pengumpul data pada Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (DisDagsar) Kudus Sunarta Jaka mengatakan, beberapa komoditas malahan mengalami penurunan harga.

Seperti halnya jenis cabai, yang harganya turun. Turunnya harga tersebut disebabkan adanya stok yang berlimpah dari penyetornya.

”Untuk jenis cabai rata-rata mengalami penurunan. Seperti jenis cabai merah keriting, di mana harga pada 1 April ini adalah Rp 24 ribu per kilogram. Harga itu lebih murah ketimbang kemarin, yang Rp 25 ribu per kilonya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Bukan hanya cabai merah keriting saja yang harganya turun. Untuk jenis cabai rawit hijau juga mengalami hal yang sama. Yakni dari harga yang semula Rp 20 ribu tiap kilogram, menjadi Rp 15 ribu tiap kilonya. Untuk jenis itu, stok yang berlimpah menjadi alasan harga anjlok.

Sedangkan untuk cabai jenis lainnya, yakni jenis cabai merah besar, harganya masih sama. Yakni Rp 60 ribu untuk tiap kilogramnya. Begitupun dengan cabai rawit merah, yang harganya tetap di angka Rp 40 ribu untuk tiap kilogram.

Sementara untuk bumbu dapur jenis bawang, harganya malahan naik. Untuk bawang merah saja misalnya, yang semula Rp 35 ribu, kini naik menjadi Rp 40 ribu.

”Untuk bawang putih, harganya stabil di angka Rp 35 ribu per kilogram. Harganya berkembang tiap hari, namun masih fluktuatif. Tergantung stok dagangan,” imbuhnya.

Editor: Merie

Harga Sayur di Jepara Cenderung Stabil

Pemkab melakukan monitoring pasar diketahui harga bawang merah melambung memasuki musim hujan ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pemkab melakukan monitoring pasar diketahui harga bawang merah melambung memasuki musim hujan ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Berbeda dengan harga bawang merah yang melambung tinggi di musim hujan tahun ini. Harga sayur mayor di sejumlah pasar di Kabupaten Jepara cenderung stabil.

Dari hasil pantauan tim monitoring Pemerintah Kabuaten (Pemkab) Jepara di sejumlah pasar, untuk sayur bayam, kangkung, tomat dan lainnya, masih normal. Begitu juga dengan harga telur di pasaran masih normal sekitar Rp 20 ribu per kilogram hingga Rp 22 ribu per kilogram.

”Beda dengan bawang merah dan cabai merah kriting. Harga sayur cenderung stabil, belum ada kenaikan harga,” ujar Zaenal Arifin, salah satu anggota tim monitoring Pemkab jepara kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/12/2015).

Lebih lanjut dia membeberkan, untuk sayur memang barang yang dijual di pasar-pasar yang ada di Kabupaten Jepara masih banyak yang dari lokal sendiri. Hal ini berbeda dengan bawang merah yang diperoleh dari kota lain yaitu Demak, Purwodadi dan beberapa pasar di Juwana Pati. Sehingga, distribusi dari petani ke pedagang pasar juga mengalami kendala tranportasi saat hujan.

”Permainan harga memang biasanya menyerang komoditas seperti bawang dan cabai. Untuk sayur potensi naik sangat kecil,” katanya.

Dia menambahkan, kegiatan monitoring dilaksanakan sejak Selasa (15/12/2015) lalu di wilayah Jepara bagian utara. Yaitu, pasar Tangggulasi Donorojo, Keling, Bangsri dan Mlonggo. Kemudian hari kedua (16/12/2015) tim masuk di pasar Mayong, Welahan, Kalinyamatan, dan Pecangaan. Sedangkan hari Kamis (17/12/2015) tim menyasar di wilayah pasar Jepara kota, Tahunan, Bugel, Bedung, dan Batealit. (WAHYU KZ/TITIS W)

Di Jepara Harga Bawang Merah Tembus Rp 35 Ribu per Kilogram

Operasi atau monitoring pasar yang dilaksanakan Pemkab Jepara diketahui harga bawang merah melambung memasuki musim hujan ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Operasi atau monitoring pasar yang dilaksanakan Pemkab Jepara diketahui harga bawang merah melambung memasuki musim hujan ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Curah hujan yang cukup tinggi selama beberapa hari di wilayah Kabupaten Jepara, menyebabkan beberapa komoditas pasar mengalami kenaikan harga. Salah satunya bawang merah yang harganya melambung tinggi.

Dari hasil monitoring Pemkab Jepara selama tiga hari terakhir ini. Sebelumnya harga bawang merah basah hanya sekitar Rp 25 ribu per kilogram, saat ini sudah menembus angka hingga Rp 35 ribu per kilogram. Kenaikan harga tersebut diduga karena faktor cuaca.

”Selain faktor cuaca, hal ini juga disinyalir adanya ulah perusahaan besar yang memborong komoditas bawang merah sehingga langka di pasaran,” ujar Zaenal Arifin, salah satu tim monitoring pasar dari Pemkab Jepara kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/12/2015).

Menurut dia, kenaikan harga bawang merah tersebut hampir merata di sejumlah pasar di Kabupaten Jepara. Terutama yang disambangi dalam kegiatan monitoring tersebut. Mekipun demikian, stok bawang merah di pasaran masih tersedia cukup banyak, seperti yang ada di pasar Mayong, Welahan, dan Kalinyamatan.

”Kegiatan monitoring ini dilaksanakan sejak Selasa (15/12/2015) lalu di wilayah Jepara bagian utara. Yaitu, pasar Tangggulasi Donorojo, Keling, Bangsri, dan Mlonggo. Kemudian hari kedua (16/12/2015) tim masuk di pasar Mayong, Welahan, Kalinyamatan, dan Pecangaan. Sedangkan hari Kamis (17/12/2015) tim menyasar di wilayah pasar Jepara Kota, Tahunan, Bugel, Bedung, dan Batealit,” paparnya.

Dia menambahkan, selain bawang merah, kenaikan harga juga terjadi pada cabai merah kriting. Harga biasanya atau sebelumnya yang berkisar Rp 18 ribu per kilogram, saat ini sudah sekitar Rp 22 ribu per kilogram. (WAHYU KZ/TITIS W)

Harga Bawang Naik Berkisar Rp 2000/Kg

Lestari salah satu penjual bahan sembako di pasar induk Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

Lestari salah satu penjual bahan sembako di pasar induk Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Hampir dua pekan harga-harga di pasar Induk Blora mengalami ketidakstabilan. Hal ini terjadi pada sejumlah barang pokok yang mengalami naik turun harga. Seperti halnya harga bawang merah dan bawang putih yang harganya mengalami kenaikan dan penurunan dalam jangka waktu yang tidak lama.

”Harga bawang merah dan putih kemarin sempat turun dan sekarang naik lagi,” jelas Lestari salah satu pedagang di pasar Induk Blora, Sabtu (5/9/2015).

Kenaikan tersebut disebabkan kurang maksimalnya hasil panen dari para petani, sehingga membuat stok bawang merah dan bawang putih menjadi berkurang. ”Kemarau panjang membuat hasil panen tidak maksimal. Kenaikannya pun kali ini mencapai Rp 4 ribu/ Kg” ungkapnya.

Menurut Lestari, harga bawang merah dan bawang putih mencapai Rp 22 ribu/ Kg sedangkan harga bawang merah berkisar Rp 11 ribu/ Kg. Meskipun kenaikannya tidak signifikan, namun hal ini tentu membuat para pembeli resah.

”Sepekan lalu harga bawang putih masih Rp 18 ribu/ Kg, sekarang naik menjadi Rp19 ribu/ Kg hingga Rp 22 ribu/ Kg tergantung bagus tidaknya barang. Sedangkan harga bawang merah mencapai Rp Rp 11 ribu/ Kg naik Rp 2 ribu/ Kg nya,” imbuhnya.

Lestari yang juga menjual sembako ini mengaku dengan tak kestabilan harga ini membuat dirinya sering mendapat pertanyaan seputar ketidak stabilan harga tersebut. ”Semua pasti mengeluh, namun mau gimana lagi mau ndak mau ya harus dinaikkan. Karena harga dari sanapun juga sudah naik, kalau ada yang tanya ya saya jelaskan,” katanya. (PRIYO/TITIS W)