Ancam Pertanian, Ratusan Tikus di Tambakharjo Pati Mati Diburu Petani dengan Cara Digeropyok

Puluhan petani melakukan geropyok hama tikus yang mulai mengancam tanaman padi di Desa Tambakromo, Kecamatan Tambakromo, Pati, Kamis (20/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Puluhan petani melakukan geropyok hama tikus yang mulai mengancam tanaman padi di Desa Tambakromo, Kecamatan Tambakromo, Pati, Kamis (20/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan tikus di areal persawahan Desa tambakharjo, Kecamatan Tambakromo, Pati berhasil dimusnahkan dalam kegiatan geropyok bersama, Kamis (20/10/2016). Keberadaan tikus dianggap mengancam petani yang akan melakukan pindah tanam padi.

Ratusan tikus yang berhasil dibunuh dimasukkan karung untuk dibakar. Geropyokan dilakukan dengan mengasapi lubang tikus. Setelah keluar, tikus-tikus yang dianggap mengancam tanaman padi tersebut dibunuh bersama-sama.

“Geropyokan ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya serangan hama tikus pada masa pindah tanam, yaitu pencabutan bibit padi dari persemaian untuk ditanam di areal persawahan. Ternyata benar, setelah kami bersama-sama warga melakukan operasi, banyak tikus yang berhasil ditangkap,” ujar Sri Wartini, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Tambakromo.

Menurutnya, pemberantasan hama tikus penting dilakukan untuk mengantisipasi perusakan bibit padi yang sudah ditanam di areal persawahan. Sebab, tikus biasanya merusak tanaman padi muda untuk mengasah atau menajamkan giginya.

Sebelum banyak tanaman padi dirusak hama tikus, warga melakukan langkah antisipatif dengan geropyok tikus. Kegiatan tersebut diharapkan bisa mengurangi populasi hama tikus yang mulai mengancam pada masa tanam padi.

“Kami bersama dengan kelompok tani Tambah Subur dan Gabungan Kelompok Tani Tambah Rukun, serta para petani sangat antusias melakukan geropyok tikus. Ke depan, geropyok tikus akan kami gencarkan bila populasinya masih belum berkurang,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Ini Trobosan Baru Dinas Pertanian Kudus Berantas Tikus di Lahan Pertanian

Plt Kepala dinas Pertanian,Perikanan dan Kehutanan, Edy Suprayitno. (MuriaNewsCom)

Plt Kepala dinas Pertanian,Perikanan dan Kehutanan, Edy Suprayitno. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pemberantasan tikus bagi para petani memang tidak akan ada habisnya. Untuk itu, guna membantu petani, Pemkab Kudus menggagas adanya pagar yang tidak dapat dilalui tikus sawah.

Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, Edy Suprayitno mengatakan, tahun ini pihaknya akan mengupayakan pembuatan pagar sawah. Tujuannya membuat tikus tidak mampu memanjat ke areal persawahan.

”Kita akan usulkan pada perubahan nanti. Jadi, pagar tersebut memang bertujuan untuk membuat tikus tidak bisa memasuki area persawahan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, hal itu merupakan terobosan baru dinas yang ditujukan untuk petani. Sebelumnya cara tersebut belum dilakukan, lantaran pengendalian hama tikus difokuskan menggunakan gropyokan, racun tikus, hingga menggunakan setrum listrik.

Model penggunaan nanti, menggunakan pagar seng. Pagar Seng akan ditanam dengan jarak yang agak dalam. Selain itu, pagar juga agak tinggi sehingga tikus tak mampu memanjat.

”Kami akan menjadikan beberapa daerah sasaran. Beberapa petak sawah untuk diterapkan. Sebab untuk membuatnya jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ujarnya.

Nantinya, kata dia, jika memang dianggap efektif akan dilakukan dengan secara rutin. Sehingga akan mampu membuat hasil pertanian berlimpah dan petani juga diuntungkan.

Hanya, pemberantasan hama tikus semacam itu terdapat kelemahan. Seperti aliran air yang terganggu. Sehingga di sawah yang dipagar seng harus dibutakan pintu air.

”Cara ini sedang kami kaji. Termasuk kelemahan dan kelebihannya,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

 

Petani di Kudus Diminta Tak Lengah Hadapi Hama Tikus

Imbauan waspada listrik terpampang jelas di salah satu sawah yang dialiri listrik untuk membunuh tikus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Imbauan waspada listrik terpampang jelas di salah satu sawah yang dialiri listrik untuk membunuh tikus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski menjadi hama tahunan, namun hama tikus pada tahun ini nampaknya tidak seganas tahun-tahun lalu. Terlihat selama masa tanam (MT) I dan memasuki MT II ini gangguan akibat tikus cenderung sedikit.

Plt Kepala dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, Edy Suprayitno mengatakan, saat ini laporan kerusakan akibat gangguan tikus masih belum terlihat. Meski demikian diharapkan petani tidak lengah untuk membiarkannya.

”Kalau kerusakan akibat gangguan tikus masih belum ada. Namun mengenai gangguan tikus, merupakan hama yang menyangkut secara tahunan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, hama tikus memang menjadi hantu bagi petani selama masa tanam. Bukan hanya dengan cara memakan hasil tanaman, melainkan juga dengan merusak tanaman itu sendiri.

Selain itu, tikus juga cenderung merusak saluran air. Kondisi itu membuat petani makin resah lantaran air yang digunakan sebagai irigasi persawahan harus habis terkuras.

Berkurangnya hama tikus selama MT I dan memasuki MT II lantaran tikus kekurangan tempat. Sebab lokasi hunian dibanjiri dengan air, sehingga tikus lebih memilih ke tanggul atau daerah tinggi.

”Makanya pada masa banyak air seperti ini digunakan untuk Gropyokan. Sebab tikus mudah ditemukan di tanggul tanggul,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Hama Tikus dan Wereng Masih Jadi Musuh Terbesar Petani Kudus di MT II

Puluhan petani di Kudus melakukan gropyokan tikus, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Puluhan petani di Kudus melakukan gropyokan tikus, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Tikus dan wereng masioh menjadi musuh tersbesar petrani di Kudus dalam Masa Tanam (MT) II. Untuk itu, para petani diminta waspada, terutama pada hama tikus yang mudah berkembang biak.

Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Edy Suprayitno mengatakan, kedua hama tersebut masih menjadi kewaspadaan dari pemerintah. Sehingga para petani dihimbau lebih berhati – hati dalam merawat tanamannya, terutama jenis padi.

”Setiap musim tanam, kedua penyakit hama tersebut selalu ada. Namun bukan berarti tidak dapat dilakukan pemberantasan,” kata Budi.

Hanya, lanjutnya, banyak petani yang memilih jalan pintas dalam membasmi hama tikus. Salah satunya dengan menggunakan listrik untuk menyetrum. Padahal, cara itu dinilai kurang pas, lantaran banyak yang memakan korban. Namun para petani masih tidak kapok untuk menggunakannya sebagai alat pembasmi tikus.

”Kami mengimbau untuk tidak menggunakan listrik untuk mematikan tikus, sebab cara itu terlalu berbahaya. Lebih baik menggunakan cara gropyokan. Itu lebih efektif,” ungkapnya.

Sementara, hama wereng juga sudah mulai merusak tanaman warga. Berdasarkan laporan yang didapat, di Desa Karang rowo, terdapat beberapa areal persawahan yang mulai terserang wereng.

”Ini sedang dilihat kondisinya, nanti kalau memang menjalar harus segera ditangani agar tidak menyebar,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

 

Trik Sepele Petani Undaan Kudus Basmi Hama

Petani Desa Kutuk ramai ramai membasmi hama tanaman. Baik itu tikus, keong, belalang dan wereng dengn cara memberikan taburan tembakau bubuk. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petani Desa Kutuk ramai ramai membasmi hama tanaman. Baik itu tikus, keong, belalang dan wereng dengn cara memberikan taburan tembakau bubuk. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Berbagai hama tanaman padi, baik itu tikus, wereng, belalang hingga keong, ternyata bisa musnah hanya dengan hal sepele. Yaitu diberikan tembakau. Sebab bahan baku pembuat rokok tersebut dapat menghilangkan hama lantaran aromanya yang menyengat.

Salah satu pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bangun Tani Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Sutiyono mengatakan, berbagai hama itu bisa disingkirkan bukan hanya dengan cara menabur atau menyemprot dengan obat kimia saja.

“Melainkan juga bisa secara alami. Misalnya menggunakan tembakau yang memang tidak digunakan oleh perusahaan rokok,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, tembakau tersebut sudah digiling menyerupai tepung. Sehingga mudah untuk ditabur pada tanaman padi yang berusia satu hingga dua minggu tersebut.

“Sebenarnya tembakau yang sudah digiling menjadi bubuk itu kan tembakau yang sudah menjadi sampah pabrik atau tembakau yang tidak digunakan untuk membuat rokok,” ujarnya.

Sementara itu, untuk penggunaan tembakau tersebut, petani tinggal menyebarnya seperti pupuk ke area tanaman padi. Jika ada hama tikus, keong, wereng dan belalang mendekat, dipastikan akan menyingkir bahkan mati dengan sendirinya.

“Aroma yang menyengat itu bisa mengusir atau membuhuh hama tersebut. Selain itu untuk harganya per 50 kilogramnya diperkirakan sebesar Rp 50 ribu. Selain itu, biasanya para petani membelinya di pasar Babalan Undaan,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Keong Hantui Petani Undaan Kudus

Petani Undaan Lor usai mencari (menyisir) tanaman padinya dari hama keong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petani Undaan Lor usai mencari (menyisir) tanaman padinya dari hama keong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu hama tanaman padi yang tak kalah berbahanya dibanding dengan tikus, wereng atau belalang, adala keong. Sebab, keong juga berperan merusak sawah petani.

Sebab hewan tersebut sering mengincar tanaman padi yang berumur satu mingu hingga dua minggu. Di antaranya terjadi di Kecamatan Undaan.

Salah satu petani di Undaan Lor, Sadzali (57) mengatakan, hama ini memang tak jauh berbeda dengan tikus.”Hanya, tikus itu makan tanaman rata rata saat padi masih berupa winih(bibit,red). Namun keong ini memakan tanaman di segala umur tanaman. Baik itu masih bibit atau juga sudah berumur satu hingga dua minggu,” katanya.

Keong menyerang dari akar tanaman hingga ke batang tanaman. Berbeda dengan tikus, hama pengerat itu hanya memilih dan memakan daun tanaman padinya saja. Serta kerusakan tanaman dapat diamati.

“Keong itu malah lebih mengecoh, bila akarnya sudah dimakan, dan petani tidak waspada, maka tanaman padi itu akan layu dan mati. Sehingga kewaspdaan harus bisa selalu diamati,” tuturnya.
Dia menambahkan, kewaspadaan itu yakni dengan cara maton (mencabuti rumput,red) sambil menyisir satu persatu tanaman padi itu. Apakah di bawah tanaman tersebut ada keongnya atau tidak.

Selain itu, bila keong itu sudah memakan, rata rata hewan tersebut mati. Dan cangkangnya akan mengotori sawah. Itu amat membahayakan petani atau melukai kaki petani.

Editor : Akrom Hazami

Tikus Mungkin Takut dengan Kucing, tapi Tidak dengan Pak Tani

tikus vs petani (aplod jam 8 pagi) FOTO (e)

Petani melakukan penanaman di salah satu ladang di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Saat ini petani yang berada di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus, dibuat kesal oleh hama tikus. Sebab tanaman padi mereka rata-rata habis dimakan tikus. Sehingga para petani melakukan penyulaman kembali tanamannya.

“Sebenarnya bila tidak ada tikus, sawah satu kedok (seluas 100 meter,red) itu bisa cukup ditanami bibit padi sebanyak 250 bendel (pocong), namun hama tikus ini banyak. Sehingga bibit padinya bisa mencapi sekitar 300 bendel,” kata Siti Zulaihah, salah satu petani desa.

Diketahui,untuk mendapatkan kekurangan bibit padi tersebut rata rata petani di wilayah tersebut harus ke desa tetangga. Seperti halnya Kalirejo, Kutuk, dan Glagahwaru.

Dia menilai, hama tikus tersebut bisanya muncul saat waktu penyebaran benih padi, hingga padi berusia 25 hari. Sebab waktu tersebut, padi yang ditanam memiliki ranting atau dahan yang masih lunak.Sehingga itu menjadi sasaran tikus.

Selain itu, bila usia 25 hari ke atas, kemungkinan hamanya berupa belalang, walang sangit, kepik, wereng dan serangga lainnya.

Dengan adanya hama semacam itu, maka mau tidak mau petani harus menyulami tanamanya. Meski biaya tanamnya juga akan bertambah. Khususnya di beban tenaga kulinya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Di Grobogan, Tikus Bikin Tentara dan Petani Pusing Tujuh Keliling

Tentara dan petani memburu musuhnya, tikus, di Kradenan, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tentara dan petani memburu musuhnya, tikus, di Kradenan, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Untuk membantu mengatasi merebaknya hama tikus, anggota Koramil 17/ Kradenan ikut terjun ke sawah membantu petani melakukan gropyokan di Desa Tanjungsari, Kradenan, Grobogan, Rabu (12/8).

Sejak pukul 06.00 WIB, anggota TNI dan puluhan petani menyisir areal sawah mencari keberadaan hewan pengerat yang mulai mengganas menyerang tanaman.

Dandim 0717 Purwodadi melalui Danramil 17/ Kradenan Kapten Inf Edi Suryanto menyatakan, ada sekitar 100 orang yang ikut serta dalam kegiatan itu. Selain, anggota koramil dan kelompok tani petani, gropyokan itu juga melibatkan petugas penyuluh lapangan (PPL) dari dinas pertanian setempat serta staf Laboratorium THP Provinsi Jawa Tengah. Dalam gropyokan tersebut, ada sekitar 300 ekor tikus yang berhasil ditangkap.

“Hama tikus ini sudah menyerang tanaman palawija sejak beberapa minggu terakhir. Untuk mencegah kerusakan lebih jauh kita akhirnya melaksanakan gropyokan bersama petani,” katanya.

Dikatakan, acara gropyokan menanggulangi hama tikus itu adalah salah satu tindakan TNI untuk membantu tercapainya swasembada pangan. Terlebih setelah adanya MoU antara TNI AD dan Kementrian Pertanian tentang swasembada pangan. Untuk itu, para babinsa selalu diminta untuk lebih intensif melakukan pendekatan dengan masyarakat.

Sementara itu, Kades Tanjungsari Tri Suryanto ketika dimintai komentarnya mengaku sangat terbantu dengan hadirnya TNI dalam kegiatan gropyokan itu. Sebelumnya, pihak TNI dari koramil setempat juga ikut membantu petani dalam beberapa masalah lainnya. Misalnya, sulitnya mendapatkan pupuk dan kelangkaan air untuk mengaliri areal sawah.

“Selain pada PPL dan desa, kami juga melaporkan setiap ada permasalahan pada petugas Babinsa. Kami sangat berterima kasih adanya bantuan dari TNI ini,” ujarnya. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Hii..Ada Tikus Sawah Gaib di Pati

Sejumlah petani di Desa Gebang, Kecamatan Gabus setiap malam tidur di sawah untuk menjaga genset yang digunakan untuk membuat setrum tikus. Beberapa petani menganggap serangan tikus yang tak terkendali dikaitkan dengan fenomena gaib. (MURIANEWS/LISMANTO)

PATI – Polemik yang melanda petani di Kabupaten Pati terkait dengan serangan hama tikus dalam beberapa tahun terakhir, dikaitkan dengan fenomena gaib. Hal tersebut disampaikan Jakimen, petani asal Desa Purworejo, Kecamatan Pati.

Lanjutkan membaca

Dispertannak Pati Sayangkan Perburuan Liar Burung Hantu dan Ular

Salah satu warga Desa Gabus menjual berbagai jenis ular untuk pengobatan. Populasi hewan yang menjadi predator alami hama tikus tersebut saat ini kian menurun. (MURIANEWS / LISMANTO)

PATI – Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertannak) Kabupaten Pati menyayangkan adanya sejumlah aktivitas yang mengurangi populasi hewan predator bagi tikus. Salah satunya, ular dan burung hantu.

Lanjutkan membaca