Mbah Kasrin dan Doraemon

Kholistiono cak.kholis@yahoo.co.id

Kholistiono
cak.kholis@yahoo.co.id

SOSOK Mbah Kasrin, seorang tukang becak asal Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, dalam satu bulan terakhir ini cukup menyita perhatian publik. Masyarakat heboh dengan kisah Mbah Kasrin yang dikabarkan menunaikan ibadah haji secara gaib.

Kehebohan ini bermula ketika pada 23 Agustus 2016 lalu, Mbah Kasrin mengaku akan berhaji. Kepergiannya juga diantar sejumlah keluarga dengan menggunakan beberapa armada bermotor ke tempat berkumpulnya jemaah calon haji asal Rembang kloter 38, yakni di Masjid Jami’ Lasem.

Yang membuat tanda tanya, baik dari pihak keluarga sendiri ataupun masyarakat setempat, Mbah Kasrin selama ini tidak pernah mendaftarkan diri secara resmi di instansi terkait untuk menunaikan ibadah haji. Dari pemerintahan desa setempat, dirinya juga disebut-sebut tidak pernah mengurus administrasi untuk keperluan haji. Pun demikian, di Kementerian Agama Rembang, yang namanya juga tidak pernah ada.

Tak berhenti di situ, dalam perjalanannya, kemudian muncul cerita-cerita aneh yang cukup sulit jika dinalar secara logika. Seperti halnya, ketika Mbah Kasrin yang katanya tiba-tiba sudah tidak ada di Masjid Jami’ Lasem bersama calhaj lain dari kloter 38, dan menurut pengakuan salah satu keluarga Mbah Kasrin sudah berada di Gedung Haji Rembang. Sekejap kemudian sudah berada di Asrama Haji Donohudan, dan kemudian sudah naik pesawat menuju Makkah.

Meski salah satu keluarganya tersebut mengaku terheran-heran dengan hal itu semua, dan seolah tak percaya, namun, dirinya tidak  berani mengatakan apakah itu nyata atau tidak. Bahkan, ketika sudah di Makkah, Mbah Kasrin disebut-sebut sempat pulang sebentar menjenguk keluarganya, yang kemudian juga menghilang lagi dalam sekejap.

Cerita haji gaib Mbah Kasrin ini, juga tak lepas dari sosok Indi, yang hingga kini masih misterius.Tidak diketahui siapa dia sebenarnya.Hanya, dari pengakuan Mbah Kasrin, Indi adalah penumpang langganannya, yang selama belasan tahun sudah diantar jemput pulang dan pergi sekolah, sejak Indi masih duduk di bangku TK. Indi, disebut kini sudah tamat SMA dan tinggalnya di sekitar MTs Lasem. Namun, dirinya menegaskan, jika Indi adalah sosok gaib atau jin. Dia pulalah, yang merupakan sosok yang menaikkan Kasrin berhaji.

Sosok Mbah Kasrin semakin fenonemal, ketika dirinya pulang ke rumah, setelah 44 hari “menghilang”. Kepulangan Mbah Kasrin juga bersamaan dengan jemaah haji kloter 38. Pun demikian, jam atau tempat, juga sama dengan kloter 38. Namun, bagi Kemenag, bisa dipastikan , lagi-lagi tidak ada nama Kasrin di kloter 38.

Sejak kepulangannya, tamupun banyak berdatangan ke rumah Mbah Kasrin. Tak hanya dari Rembang, dari Pati, Kudus, Blora dan bahkan Semarang juga jauh-jauh sengaja untuk bertamu. Tak hanya penasaran dengan kisah-kisah misterius Mbah Kasrin, tak sedikit pula mereka meminta air untuk didoakan.

Hal ini kemudian disikapi oleh Kemenag dan juga MUI setempat. Tak tanggung-tanggung, MUI membentuk tim investigasi untuk menelusuri terkait kisah Mbah Kasrin. Tim dari MUI pun menyamar, sebagaima tamu lainnya yang bertamu ke kediaman Mbah Kasrin. Beragam pertanyaan seputar haji, baik itu mulai rukun dan syarat haji diajukan kepada Mbah Kasrin, untuk memastikan apakah itu benar-benar dijalankan Mbah Kasrin atau tidak. Bahkan, tim MUI seolah ingin tahu segalanya, juga menanyakan apakah Mbah Kasrin melihat kakbah atau tidak ketika di Makkah.

Dari entah berapa jumlah pertanyaan yang diajukan tim MUI kepada Mbah Kasrin tersebut, diambil kesimpulan jika Mbah Kasrin belum berhaji. Tolok ukur yang digunakan adalah, dari cerita Mbah Kasrin kepada tim, yang di antaranya Mbah Kasrin tidak mengenakan ihram ketika di berhaji, tidak melihat kakbah di Makkah, termasuk lafadz-lafadz yang diucapkan ketika berhaji, yang sama sekali Mbah Kasrin disebut tidak hafal.

Lalu, apa hubungannya Mbah Kasrin dengan Doraemon? Ditinjau dari sudut pandang agama, jelas tidak ketemu. Lalu, dari sudut penerawangan Mbah Mijan, paranormal yang katanya sudah melakukan komunikasi dengan sosok Indi, tentulah pula tak ada kaitannya. Saya haqul yakin, tak ada jin yang menjelma Doraemon untuk “memaksakan” dirinya untuk bilang, dialah yang berada di belakang layar dari hebohnya fenomena haji gaib yang dilakukan Mbah Kasrin.

Namun, izinkan saya “secara paksa” untuk mengaitkan sosok Mbah Kasrin dengan Doraemon ini dari sudut pandang  “Sembarangisme”.

Sebagian dari Anda, saya yakin tahu dengan Doraemon, baik anak-anak, yang muda ataupun yang sudah tua. Kecuali Mbah Kasrin. Saya berkeyakinan, jika Mbah Kasrin tak pernah menyia-nyiakan waktunya hanya untuk sengaja menyaksikan kisah Doraemon di televisi, yang ceritanya kini semakin tak menarik. Itu menurut saya lho ya.

Bagi yang belum tahu, Doraemon merupakan judul sebuah manga populer yang dikarang Fujiko F. Fujio sejak tahun 1969 dan berkisah tentang kehidupan seorang anak pemalas kelas 5 SD yang bernama Nobi Nobita yang didatangi oleh sebuah robot kucing bernama Doraemon yang datang dari abad ke 22.

Doraemon dikirim untuk menolong Nobita agar keturunan Nobita dapat menikmati kesuksesannya daripada harus menderita dari utang finansial yang akan terjadi pada masa depan , karena disebabkan kebodohan Nobita.

Dalam ceritanya, Nobita, yang seringkali mengalami  kegagalan dalam ulangan sekolahnya atau setelah diganggu oleh Giant dan Suneo, akan selalu mendatangi Doraemon untuk meminta bantuannya. Doraemon kemudian biasanya akan membantu Nobita dengan menggunakan peralatan-peralatan canggih dari kantong ajaibnya. Peralatan yang sering digunakan misalnya,baling-baling bambu dan “Pintu ke Mana Saja”

Dari sedikit uraian di atas itu, saya coba, sekali lagi “memaksakan” mengaitkan fenomena haji gaib dengan Doraemon ini. Saya bukan mencoba menyamakan sosok Mbah Kasrin dengan Doraemon, pun demikian Mbah Kasrin dengan Nobita. Tetapi, saya melihat sebuah kemiripan cerita Mbah Kasrin dengan cerita Doraemon, dari dimensi waktu yang berbeda.

Saya membayangkan, dari cerita Mbah Kasrin yang katanya bisa dalam sekejap berada di suatu tempat, seperti sosok Nobita yang dibantu Doraemon dengan mengunakan alat ajaibnya “Pintu ke Mana Saja” yang secara sekejap, Nobita sudah berada di tempat yang diinginkan dan dalam dimensi waktu yang menyesuaikan keinginan.

Pun demikian, Mbah Kasrin yang dibantu sosok misterius Indi, yang juga secara sekejap bisa berada di suatu tempat, setelah diizinkan Indi. Seperti halnya, Mbah Kasrin yang ketika sudah berada di Makkah, sempat pulang sebentar dalam waktu yang begitu sekejap. Secara nalar, hal ini tentu saja tidak ketemu. Namun, namanya juga misteri, tentunya hal seperti ini misterius apakah nyata atau tidak, dan biarkan hal itu tetap menjadi rahasia Tuhan.

Namun begitu, jika melihat ceritanya, Mbah Kasrin bukanlah seperti sosok Nobita yang terkadang melampaui batas untuk menggunakan alat ajaib milik Doraemon untuk keinginannya sendiri, yang terkadang justru merugikan orang lain atau terkadang memanfaatkan kemampuan ajaib tersebut untuk pamer.

Hemat saya, sejauh ini Mbah Kasrin tak berniat untuk pamer mengenai keajaiban-keajaiban yang dialaminya. Namun, karena cerita-cerita tersebut terlanjur berkembang di masyarakat, sehingga dirinya harus meladeni pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat.

Selanjutnya, yang tak kalah penting dari fenomena haji gaib adalah, bagaimana seharusnya masyarakat bisa mengambil hikmah dan pelajaran.

Pertama, terlepas dari cerita Mbah Kasrin itu benar atau tidak, harus diakui bahwa masyarakat kita masih kental dengan fenomena mistis atau perklenikan. Kemunculan sosok Mbah Kasrin, yang dianggap sebagian orang memiliki kelebihan, membuat masyarakat berbondong-bondong untuk mendatanginya, yang terkadang tujuannya melenceng dari syariat agama, atau mengarah kepada kemusyrikan. Meminta hajatnya dikabulkan, meminta berkah atau lain-lain yang praktiknya justru seperti perdukunan. Padahal, Mbah Kasrin sendiri, belum tentu menghendaki dirinya seperti itu.

Kemudian, dengan fenomena haji gaib ini, seolah masyarakat secara gampang memberikan justifikasi terhadap Mbah Kasrin itu benar atau salah. Dari sudut pandang yang sempit, terkadang kita terlalu berani untuk menegaskan jika itu salah dan melanggar syariat.

Tak mau kalah, MUI baru-baru ini juga sudah mengeluarkan fatwa bahwa Mbah Kasrin bukan dari. Fatwa tersebut keluar setelah adanya perbincangan antara tim MUI dengan Mbah Kasrin, sehingga diambillah kesimpulan demikian. Namun, apakah seperti itu seharusnya MUI dengan begitu mudah mengeluarkan fatwa yang seolah sebagai hakim terhadap urusan ibadah seseorang? Bukankan urusan haji merupakan urusan pribadi umat dengan Tuhan, seperti halnya salat dan juga puasa. Artinya, yang berhak menyimpulkan orang itu puasa atau tidak adalah Tuhan, diterima atau tidak itu hakimnya adalah Tuhan.

Pun demikian dengan Mbah Kasrin, yang menganggap dirinya sudah berhaji, yang sebaiknya hal itu tetap menjadi ranah dia dengan Tuhan. Manusia tidak berhak manusia untuk menjustifikasi apakah dia sudah berhaji atau belum. Terlepas, proses haji yang dilakukan Mbah Kasrin itu masih misteri dan secara logika memang seharusnya bukan demikian cara berhaji. Biarlah dia berjalan dengan keyakinannya. Tugas penting MUI adalah, bagaimana mencegah adanya fenomena ini menjadi sesuatu yang mengarah kepada kemusryikan. Tentunya, tugas ini sebenarnya bukan ketika ada fenomena seperti ini baru bergerak, namun, jauh sebelum itu pendidikan agama selayaknya secara kontinyu diberikan kepada masyarakat. Sehingga, dalam berkehidupan, masyarakat memiliki pendidikan agama yang kokoh, dan tak terpengaruh dengan hal-hal yang dinilai di luar syariat.

Selanjutnya, fenomena ini seharusnya menjadikan masyarakat untuk berpikir dan bertindak secara cerdas. Apalagi, semakin ke sini, masyarakat sudah dihadapkan informasi dan teknologi yang canggih, sehingga dituntut untuk berpikir rasional.

Terakhir, hemat saya, biarlah hal seperti ini sebagai sebuah fenomena. Tugas kita adalah, tetap berpikir rasional, berpikir cerdas, dan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang salah. Tugas kita bukan menjadi seseorang yang mudah menghujat, bukan seseorang yang mudah menghakimi salah atau benar terhadap sesuatu hal, tapi tugas kita adalah memberikan wawasan mana yang seharusnya dilakukan atau tidak sesuai tatanan yang berlaku. (*)

Ini Pesan MUI Rembang untuk Sikapi Fenomena Haji Gaib

Tim dari MUI Rembang (kiri) saat berbincang dengan Kasrin di kediamannya di Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tim dari MUI Rembang (kiri) saat berbincang dengan Kasrin di kediamannya di Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Rembang menerjunkan tim ke rumah Kasrin (60) seorang tukang becak di Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan, yang disebut-sebut berhaji secara gaib.

Dari hasil penelusuran tersebut, MUI Rembang menegaskan, jika Kasrin belum belum berhaji. Penegasan itu berdasarkan kajian dari berbagai pertanyaan seputar haji yang diajukan pihak MUI kepada Kasrin secara langsung. Di antaranya, Kasrin yang disebut tidak kenakan pakaian ihram ketika berhaji, kemudian Kasrin yang mengaku tidak melihat kakbah ketika di Makkah dan hal lainnya, termasuk Kasrin yang tidak hafal ucapan-ucapan yang dilafalkan sesuai rukun haji.

“MUI telah membentuk tim untuk melakukan penelusuran dengan cara menemui langsung Pak Kasrin di rumahnya. Tentunya kami tidak mengenalkan bahwa kami dari MUI, kami seperti tamu biasa yang bertanya-tanya seputar apa yang katanya dialami Pak Kasrin naik haji. Sejauh ini, kesimpulannya adalah, Pak Kasrin itu tidak berhaji,” ungkap Ketua MUI Rembang Zaenuddin Jafar.

Untuk itu, pihaknya berpesan kepada masyarakat untuk tidak lagi berbondong-bondong ke rumah Kasrin untuk meminta air yang didoakan. “Kalau untuk bersilaturrahmi silahkan. Tapi kalau sudah meminta air yang didoakan, lebih baik tidak usah,” imbuhnya.

Dirinya juga menyatakan, jika Kasrin merupakan sosok yang polos, dan khawatir dengan adanya cerit-cerita fenomena haji gaib tersebut, justru Kasrin akan dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Editor : Kholistiono

MUI Rembang Terjunkan Tim ungkap Misteri Kasrin “Haji Gaib”, Ini Hasilnya

Tim dari MUI Rembang (kiri) saat berbincang dengan Kasrin di kediamannya di Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tim dari MUI Rembang (dua dari kiri) saat berbincang dengan Kasrin di kediamannya di Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Rembang mengambil sikap terkait fenomena haji gaib yang dilakukan Kasrin (60), seorang tukang becak asal Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan, Rembang.

MUI Rembang menurunkan tim, untuk mengungkap misteri yang selama ini menimbulkan kehebohan di masyarakat, dan dikhawatirkan akan menjebak masyarakat dan mengarahkan kepada kemusyrikan.

Ketua MUI Rembang Zaenuddin Jakfar mengatakan, tim dari MUI langsung terjun ke lapangan untuk menemui Kasrin di kediamannya di Dukuh Gembul. Tim tersebut terdiri dari tiga orang, yakni dirinya sendiri sebagai ketua tim, kemudian Ahmad Toha selaku Ketua Komisi Fatwa MUI dan Abdul Wahid Hasbi sebagai anggota.

“Beberapa hari lalu kami ke rumah Pak Kasrin. Kami tidak bilang jika kami dari MUI. Seperti tamu lainnya, secara bergantian kami mengajukan pertanyaan kepada Pak Kasrin mengenai kaitannya pelaksanaan haji, yang katanya dilakukan oleh Pak Kasrin,” ujarnya, Senin (10/10/2016).

Dari berbagai pertanyaan tersebut, katanya, Kasrin tidak mengetahui atau tidak tahu menahu mengenai rukun atau syarat haji. Di antaranya pakaian ihram, yang disebut tidak dikenakan pada saat haji, kemudian wukuf katanya juga tidak tahu.

“Pak Kasrin juga menyebut jika dirinya tidak melihat kakbah, dan juga ketika kami tanya lokasi tawaf yang menurut Pak Kasrin berada di lapangan, namun apakah itu di Makkah atau tidak, dia mengaku tidak tahu. Dan hanya bilang mengikuti Bu Indi saja. Pun demikian, Pak Kasrin juga tidak hafal bacaan-bacaan yang dilafalkan ketika berhaji.

Dari investigasi yang dilakukan tim, MUI Rembang menyimpulkan, bahwa Kasrin belum haji. Untuk itu, Zaenudin juga mengimbau kepada agar Kasrin tidak membuat cerita haji dan membuat kecewa masyarakat. Kemudian, dirinya menegaskan jika Kasrin tidak memiliki kelebihan seperti yang heboh di masyarakat selama ini.

Editor : Kholistiono

MUI Rembang : Masyarakat Harus Cerdas Menyikapi “Haji Gaib”

Kasrin (kiri) yang sudah tiba di kediamannya kemarin. Kemenag Rembang sebut apa yang disampaikan Kasrin tentang berangkat haji adalah bohong (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kasrin “haji gaib” asal Desa Sumberrejo, Rembang. Terkait adanya “haji gaib” ini, MUI Rembang meminta kepada masyarakat untuk bersikap cerdas dan tidak terjebak dalam kemusyrikan (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Rembang berharap kepada semua warga untuk bisa secara cerdas menyikapi fenomena “haji gaib” yang dilakukan Kasrin (60), warga Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pancur.

Ketua MUI Rembang Zaenuddin Jakfar mengatakan, dirinya tidak melarang masyarakat untuk percaya dengan hal gaib, khususnya yang beragama Islam, sebab dalam Islam percaya kepada hal gaib adalah wajib hukumnya.

Namun demikian, terkait dengan fenomena haji gaib yang dialami Kasrin, dirinya meminta kepada masyarakat agar tidak terjerumus kepada kemusyrikan. Yakni mengkultuskan makhluk Tuhan, yang justru mengabaikan Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa.

“Harus cerdaslah untuk menyikapi hal ini. Jangan sampai masyarakat terjebak kepada arah kemusyrikan, yang menganggap Pak Kasrin itu sakti atau lain sebagainya. Artinya, jangan sampai hal-hal seperti ini justru menjauhkan dari Tuhan,” ujarnya.

Dirinya juga mengatakan, bahwa MUI akan terus memantau perkembangan terkait fenomena haji gaib ini, dan juga akan memberikan pencerahan kepada masyarakat, sehingga, tidak melakukan hal-hal yang justru mengarah kepada kemusyrikan.

Editor : Kholistiono

Kemenag Rembang Gandeng MUI untuk Sikapi Efek “Haji Gaib”

Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kantor Kementerian Agama Rembang Shalehuddin. Pihak Kemenag akan menggandeng MUI untuk mencegah adanya tindakan musyrik yang dilakukan warga, gara-gara “haji gaib.” (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kantor Kementerian Agama Rembang Shalehuddin. Pihak Kemenag akan menggandeng MUI untuk mencegah adanya tindakan musyrik yang dilakukan warga, gara-gara “haji gaib.” (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sejak kepulangan Kasrin (60) seorang tukang becak asal Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, pada Selasa (04/10/2016), rumahnya kini terus dipenuhi tamu yang berdatangan.

Kasrin sebelumnya sempat “menghilang” dan dikabarkan menunaikan ibadah haji bersama makhluk gaib.Di antara tamu penasaran dengan kisah Kasrin menjalankan haji, dan tak sedikit tamu yang minta didoakan oleh Kasrin.

Menyikapi hal ini, Kementerian Agama (Kemenag) Rembang berencana bakal menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) Rembang. Tujuannya, untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat, agar tidak terjerumus kea rah kemusyrikan, dengan berdatangan ke rumah Kasrin untuk meminta air minum yang didoakan Kasrin.

Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kantor Kementerian Agama Rembang Shalehuddin menuturkan, saat ini pihaknya tengah memantau perkembangan itu. “Sebenarnya masalah ini jangan di beritakan terus. Sebab bisa membuat warga penasaran dan berdatangan ke rumah Kasrin. Kita juga akan menggandeng MUI untuk memberikan arahan kepada masyarakat,” katanya.

Pihaknya berharap, masyarakat bisa berpikir rasional mengenai peristiwa yang diceritakan Kasrin. Sehingga, nantinya tidak terjebak dalam kemusyrikan. “Kami sebenarnya sangat menyanyangkan pernyataan Kasrin yang mengaku pulang haji dengan cara naik Bus Subur Jaya bersamaan dengan kloter 38. Saya juga agak gimana gitu. Kok ngomongnya bareng bus di kloter 38. Misalkan dia bareng  temannya yang makhluk gaib itu, mengapa kok justru malah bareng bus. Ini kan sudah kelihatan bohongnya,” pungkasnya.

Baca juga : Rumah Kasrin Dipenuhi Tamu, Banyak yang Minta Didoakan

Editor : Kholistiono

Rumah Kasrin Dipenuhi Tamu, Banyak yang Minta Didoakan

Kasrin saat menemui beberapa tamunya di kediamannya di Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Pamotan. Kasrin juga berkisah bagaimana ketika dia menjalankan haji di Makkah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kasrin saat menemui beberapa tamunya di kediamannya di Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Pamotan. Beberapa tamu juga banyak yang minta didoakan oleh Kasrin (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Kasrin (60), warga Dukuh Gembul, Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan,Rembang, yang disebut-sebut naik haji secara misterius sudah pulang ke rumahnya, pada Selasa (04/10/2016).

Sejak datang pada Selasa siang sekitar pukul 10.00 WIB itu, tamu-tamu silih berganti datang ke rumah Kasrin. Di antara tamu penasaran dengan kisah Kasrin menjalankan haji, dan tak sedikit tamu yang minta didoakan oleh Kasrin.

Menurut Istiqomah, salah satu putri Kasrin, sejak kedatangan bapaknya, rumah tersebut tak pernah sepi dari tamu. Bahkan katanya, tamu-tamu yang datang tersebut sampai dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB.

Istiqomah juga menyatakan, jika tamu yang datang ke rumah Kasrin tidak hanya berasal dari Rembang saja, namun banyak dari daerah lain di Jawa Tengah. Di antaranya dari Pati, Kudus, Blora dan juga Semarang.

“Mereka banyak yang penasaran untuk mendengarkan cerita langsung dari bapak. Banyak juga dari tamu-tamu yang datang itu minta didoakan bapak, agar berkah. Bahkan, habis Subuh, rumah sudah diketok tamu lagi,” ungkap Istiqomah.

Sosok Kasrin, yang merupakan tukang becak, yang biasa mangkal di depan Masjid Jami’ Lasem itu, memang ramai diperbincangkan, usai ia mengaku berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, meski namanya tak tercantum dalam daftar jemaah di Kantor Kementrian Agama (Kemenag) setempat.

Cerita tentang Kasrin semakin heboh, ketika media memberitakan mengenai kisah-kisah perjalanan Kasrin yang aneh dan diluar nalar. Tak sedikit pula, masyarakat yang menganggap bahwa cerita Kasrin hanya bohong.

Baca juga :Kasrin Ungkap Kisahnya ketika di Makkah dan Madinah yang Tak Pernah Lepas dari Sosok Indi

Editor : Kholistiono

Kasrin Bilang, Ketika di Makkah Dirinya Lihat Jemaah Haji dari Rembang

Kasrin (baju putih) menceritakan kisahnya menunaikan ibadah haji dan bagaimana ketika ia Makkah dan juga Madinah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kasrin (baju putih) menceritakan kisahnya menunaikan ibadah haji dan bagaimana ketika ia Makkah dan juga Madinah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Kisah Kasrin (60) seorang tukang becak asal Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, yang dikabarkan berangkat haji dengan makhluk gaib, masih menjadi perbincangan hangat di masyarakat, khususnya di Rembang. Sebagian percaya, dan tak sedikit pula yang tidak memercayai peristiwa tersebut.

Di temuai di kediamannya, Kasrin juga bercerita, ketika di Makkah, dirinya pernah melihat beberapa jemaah haji dari Kabupaten Rembang, salah satunya adalah Abdul Rozaq atau yang akrab dipanggil Dul, warga Desa Sumber Agung, Kecamatan Pancur, Rembang.

Abdul, yang merupakan guru agama di SDN 1 Kalitengah, Kecamatan Pancur, menunaikan ibadah haji bersama istrinya Sukarsi, dan tergabung dalam kloter 38. Ketika kloter 38 berangkat dari Masjid Jami’ Lasem, Kasrin juga ikut diantar keluarganya berkumpul dengan jemaah lainnya, meski nama Kasrin secara tegas disampaikan Kemenag Rembang tidak ada dalam daftar di kloter tersebut. Pun demikian, ketika kloter ini tiba di Rembang, pada Selasa (04/10/2016) kemarin, pada waktu bersamaan, Kasrin juga tiba di Rembang.

Baca juga : Kemenag Rembang Sebut Kasrin Bohong

“Saya di Makkah sana, melihat Pak Guru Dul. Saya juga sempat melihat jemaah asal Rembang lainnya. Namun apakah jemaah haji itu melihat saya atau tidak, saya juga tidak tahu. Sebab, ketika di sana, saya selalu mengikuti langkah Bu Indi,” kata Kasrin.

Kemudian, terkait peristiwa aneh ketika dirinya sudah berada di Makkah, dan kemudian sempat pulang sebentar melihat rumah, Kasrin mengatakan, jika hal itu benar. Peristiwa itu, katanya juga secara cepat dan tiba-tiba sudah berada di rumah.

“Ketika sampai di Tanah Suci, Bu Indi tanya kepada saya. “Mas, apa kamu ingin pulang lihat keluarga?” saya jawab iya. Setelah itu, Bu Indi memegang leher saya bagian belakang seperti memegang kucing gitu. Dan tiba-tiba saya sudah berada di rumah,” ujarnya.

Terkait dengan cerita-cerita aneh di luar nalar tersebut, dirinya mempersilakan orang lain untuk percaya atau tidak. Karena menurutnya, hal itu merupakan hak dari masing-masing orang untuk memercayainya atau tidak.

Sementara itu, Abdul Rozaq, haji asal Desa Sumber Agung yang disebut Kasrin pernah dilihatnya di Makkah, menurutnya hal itu boleh saja disampaikan Kasrin. Namun begitu, dirinya mengaku tidak perlah melihat Kasrin di Makkah. Begitupun dengan rekan-rekannya yang lain.“Saya dan jemaah haji lainnya yang tergabung di kloter 38 tidak pernah melihat Pak Kasrin di Makkah,” ungkapnya.

Dirinya juga mengaku tidak kenal dengan Kasrin. “Kalau kenal tidak, tapi kalau tahu iya. Saya tahu kalau Pak Kasrin itu tukang becak di wilayah Lasem, dan rumahnya di Gembul, tepatnya di tikungan Dukuh Gembul.Tapi saya tidak pernah ke rumahnya sama sekali dan tidak pernah berbincang-bincang dengannya sekalipun,” ungkapnya.

Dirinya juga menyatakan, tahu Kasrin karena sering lewat depan rumahnya.”Lha wong dia sering lewat sinidepan rumah saya. Sebab rumah saya berada di pinggir jalan jalan raya antara Pamotan-Lasem. Selain itu, ketika saya berangkat mengajar ke SDN 1 Kalitengah juga lewat depan rumahnya Pak Kasrin,” pungkasnya.

Baca juga : “Haji Ghaib” Ini Mengaku Naik Bus Subur Jaya Bersama Rombongan Jemaah Haji Lainnya

Editor : Kholistiono