Kisah Habib Helmy dari Dolan ke Dandangan Hingga Menimba Ilmu ke Yaman

MuriaNewsCom, Kudus – Mangkatnya Habib Helmy bin Hasan Alaydrus (34), menyisakan duka mendalam. Tak hanya keluarga besar dan jamaah pengajian Mahabbaturrosul, namun juga bagi teman karib.

Seusai pemakaman tokoh ulama asal Kudus itu, MuriaNewsCom berkesempatan berbincang dengan dua orang dekat Habib Helmy. Mereka adalah kakak kandungnya yakni Habib Ali dan teman sepermainannya Ustaz Ahmadi.

Sang kakak Ali bercerita, sebelum meninggal pada Minggu (25/3/2018) malam sekitar pukul 20.00 WIB tidak ada wasiat yang disampaikan. Hanya saja, ia sempat meminta seluruh keluarga berkumpul.

“Selain itu, pada waktu sakit adik saya pernah mengatakan ada malaikat yang hadir sehabis maghrib,” ujarnya, Senin (26/3/2018).

Ia merasa, adiknya itu memiliki karomah yang besar. Satu lagi yang diingat dari adiknya, yakni murah senyum.

Hal itu pun diamini oleh Ustaz Ahmadi. Menurutnya, semenjak kecil ia dan Habib Helmy sering menghabiskan waktu bersama.

Kebersamaan itulah yang menyebabkannya tak hanya akrab dengan Helmy, pun juga keluarga besarnya. Tak hanya saling sapa, kedekatan Ahmadi dengan keluarga besar Alaydrus pun sangat cair bahkan menyisakan cerita lucu.

“Dulu saya ingat waktu lebaran, saya disuruh oleh mamahnya (ibu dari Habib Helmy) ke toko pakaian yang dikelola oleh keluarganya. Di situ saya dipersilakan memilih baju. Nah setelah memilih baju, habib (Helmy) mengubungi saya, disuruh ke rumahnya. Begitu sampai di rumahnya, saya dicegah oleh asistennya, karena menurutnya habib pergi. Lalu saya tunjukan pesannya, akhirnya saya masuk ke kamarnya (Helmy) dan melempar baju-baju yang telah saya pilih. Ketika itu ada sosok mirip Habib Helmy, tapi kok kumisan ya. Ternyata sosok itu abahnya yang sedang tidur. Wah ternyata Habib memang tak ada di rumah. Itu sampai sekarang jadi bahan lucu-lucuan,” kenangnya.

Tidak hanya kisah itu. Sewaktu Habib Helmy dan Ustaz Ahmadi masih muda, keduanya pun kerap mendatangi dandangan bersama. “Pasti dia keluar menuju acara itu (dandangan),” tambahnya.

Lalu kemudian, Habib Helmy mulai tekun belajar agama ketika berkesempatan menimba ilmu di Yaman, dengan bimbingan guru Habib Salim Assatiri. Sejak itulah, anak ketiga dari Hasan bin Sholeh Alaydrus lebih gandrung dengan keilmuan Islam.

“Perjuangannya dulu membuat acara (pengajian) selapanan di tempat saya. Kemudian mulai ada Habib Syech yang lantas menggandeng Habib Helmy. Kini dari selapanan itu, ia kerap mendapatkan undangan kemana-mana. Mulai dari Rembang, Pati, Jepara, Blora hingga Yogyakarta,” pungkas Ahmadi yang kerap dipanggil Ahmadun oleh Habib Helmy.

Editor: Supriyadi

Ratusan Pelayat Antar Jenazah Habib Helmy ke Pemakaman

MuriaNewsCom, Kudus – Mendung menggelayut di atas Pemakaman Muslim Ploso Kudus, Senin (26/3/2018). Awan seolah menaungi ratusan pelayat, yang mengantarkan Habib Helmy bin Hasan Alaydrus (34) ke peristirahatan terakhir.

Sebelum jenazah Habib Helmi dibawa dari rumah duka di Kramat, Kecamatan Kota Kudus, pada sekitar pukul 15.00 WIB, cuaca di Kota Kretek, panas menyengat. Namun setengah jam sebelumnya, hujan seolah mendinginkan pengabnya udara.

Sekitar pukul 16.00 WIB, jenazah Habib Helmi tiba di pesareyan. Hujan telah usai dan ratusan pelayat kemudian memadati areal makam. Tua, muda, pria dan wanita. Mereka tampak hikmat sambil terus mengumandangkan kalimat tauhid Laaillahailallah Muhammadurrosullullah. 

Kakak Habib Helmy, Habib Ali mengatakan tak ada pesan khusus yang disampaikan sebelum meninggal dunia pada Minggu (25/3/2018) malam. Namun demikian, sehari sebelum mengembuskan nafas terakhir ia mengumpulkan seluruh keluarga.

“Tidak ada pesan khusus, namun sehari sebelumnya, ia mengumpulkan seluruh keluarga. Pada saat meninggal pun ia masih sadar, sempat mengeluh sulit bernapas, lalu kemudian tiada, saya kira tidur,” tuturnya.

Dirinya mengungkapkan, adiknya itu masuk ke rumah sakit pada Minggu dinihari. Sebelumnya, ia sempat dirawat di RSUP dr. Kariyadi Semarang. Diagnosisnya, Habib Helmy terserang virus SGB atau Syndrome Guillain Barre.

Sempat membaik, dan dibawa pulang namun kondisi Habib Helmy kemudian memburuk, dan harus kembali di rawat di RS Mardirahayu Kudus.

“Ia semasa hidup tak pernah menyimpan dendam. Ia selalu tersenyum. Karomahnya luar biasa, dari mulai pada waktu sebelum pemakaman tiba-tiba hujan turun sebentar lalu mendung. Kemudian pelayat sebanyak ini hadir tanpa diundang. Beliau pun tak merasakan kesakitan pada waktu meninggal,” tuturnya.

Disamping itu, ia mengungkapkan, pada saat hendak disucikan jenazah adiknya itu masih dalam kondisi lemas. “Ia meninggal jam 20.00 WIB. Pada waktu pukul 01.00 WIB (Senin dinihari) ketika hendak disucikan tangannya pun lemas. Tidak kaku,” tambahnya.

Disinggung mengenai jamaah pengajian Mahabbaturrosul pimpinan Habib Helmy, Habib Ali mengaku belum ada penerusnya.

Habib Helmy meninggalkan seorang istri bernama Fitriyah. Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara yakni, Habib Fahmi, Habib Ali dan Habib Fuad. Sementara ayahnya bernama Hasan bin Sholeh Alaydrus dan ibu bernama Farida.

Editor: Supriyadi