Plt Gubernur Jateng Tantang Pemda Naikkan Standar Kemiskinan

MuriaNewsCom, Semarang – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko menantang pemerintah kabupaten/kota di provinsi ini untuk berani menaikkan standar kemiskinan. Terutama daerah-daerah yang tingkat kemiskinannya sudah rendah.

Beberapa daerah di Jateng tercatat mempunyai angka kemiskinan lebih rendah dibanding standar nasional yang mencapai 10,12 persen. Daerah-daerah itu ditantang untuk menaikkan standar kemiskinan, untuk memacu upaya lebih keras untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dia menunjuk contoh Kota Semarang yang kemiskinannya kurang lebih empat persen, yang diukur dengan standar nasional.

“Bagi daerah-daerah yang angka kemiskinannya sudah rendah, saya menyarankan keberanian daerah untuk membuat standar sendiri. Standarnya dinaikkan. Jadi katakanlah kemiskinan dengan standar nasional empat persen, kalau dinaikkan barangkali menjadi 10 persen. Nggak apa-apa. Itu berarti upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lebih keras,” katanya.

Ia menyebut, menaikkan standar diperlukan. Terlebih kategori antara yang miskin dan hampir miskin dengan standar saat ini, sebenarnya masuk kategori miskin.

”Namun, ini belum perlu dilakukan oleh kabupaten/kota yang standar garis kemiskinannya masuk kategori tinggi,” ujarnya.

Ditambahkan, upaya untuk menanggulangi kemiskinan harus dibantu tangan-tangan panjang pemerintah yang ada di tingkat terbawah. Sebab, merekalah yang tahu persis kondisi warganya. Mereka yang bisa memastikan jika warganya yang miskin tidak kekurangan makan, bisa bekerja, dan anak-anaknya bersekolah.

Selanjutnya, Mantan Bupati Purbalingga itu berpendapat untuk memperluas lapangan kerja, pemerintah harus mendorong tumbuhnya UMKM dan investasi, diiringi dengan penyediaan kualitas SDM yang terampil. Bagaimana pun memberikan bekal ketrampilan baik melalui pendidikan formal maupun informal sangat diperlukan.

“Contoh di Salatiga ada pabrik sepatu kekurangan tenaga, sulit merekrutnya  karena kualifikasi tenaga kerja yang ada, yang memenuhi syarat, terbatas. Padahal keterampilan yang dibutuhkan cuma menjahit,” urai dia.

Meski bekal keterampilan yang diberikan sederhana, imbuh dia, tapi itu bisa menjawab kebutuhan tenaga kerja yang tidak bisa ditunda. Sebab, jika investor sudah membangun pabrik di Jawa Tengah tapi tenaga kerjanya sulit, artinya itu menjadi salah satu kendala ramah investasi.

Editor : Ali Muntoha

Ditanya Soal E-KTP, Begini Penjelasan Ganjar Dihadapan Ratusan Muslimat NU Jepara

MuriaNewsCom, Jepara – Roadshow kampanye Calon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Jepara menyempatkan bertemu ratusan muslimat NU di klinik Masyitoh, Sabtu (17/2/2018). Ganjar menyerap banyak aspirasi dan mencoba menyelesaikan beberapa masalah yang diadukan Muslimat NU Jepara.

Namun yang banyak menarik perhatian justeru penjelasan Ganjar terkait kasus dugaan korupsi KTP elektronik atau e-KTP. Ganjar mencoba menjawab keresahan masyarakat yang terus mendapat isu tidak benar soal keterlibatannya dalam kasus itu.

Untuk memudahkan penjelasan, Ganjar menunjukkan dokumen pemeriksaan salah satu terdakwa kasus e-KTP. Dokumen yang sudah banyak beredar di publik tersebut menunjukkan bahwa Ganjar satu-satunya yang tidak mau menerima uang suap e-KTP.

“Jadi kalau ada yang bertanya kasus e-KTP. Jadi kita kasih lihat informasi, kita lihatkan data. Ini cara membuktikan yang paling mudah. Selain itu juga menunjukkan integritas kita. Biar semua juga belajar mengenai integritas,” tegasnya.

Menurut Ganjar, tidak ada yang perlu ditutupi soal dirinya dalam kasus tersebut. Dokumen pemeriksaan tersebut jelas menunjukkan bahwa salah satu tersangka kasus e-KTP, Miryam S Haryani, sempat akan memberikan uang pada Ganjar. Namun Ganjar menolak pemberiang tersebut.

“Ya biar pada tahu semua. Dari sekian banyak orang yang terlibat, dalam BAP tersebut tertulis hanya ada satu orang yang menolak pemberian uang. Namanya Ganjar Pranowo,” ungkapnya.

Calon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berfoto dengan ibu-ibu Muslimat NU Jepara, Sabtu (17/2/2018). (ISTIMEWA)

Ganjar pun menjelaskan bahwa posisinya saat ini tak lebih sebagai saksi yang membantu KPK dalam membongkar praktik korupsi triliunan rupiah itu.

“Saya dipanggil terus mungkin karena keterangan saya dibutuhkan, saya membantu KPK mengungkap semuanya, banyak dokumen yang saya serahkan agar dapat diteliti KPK,” kata Ganjar.

Selain soal e-KTP, Ganjar juga menerima aduan mengenai lamanya pengurusan perizinan Klinik Masyitoh. Menurut Ketua Muslimat Kabupaten Jepara, Nuraini, pihaknya sudah mengajukan izin pengurusan untuk rawat inap dua tahun yang lalu padahal semua persyaratan sudah dipenuhi.

“Kalau rawat jalan izin sudah ada, untuk yang rawat inap kita sudah mengajukan dua tahun padahal semua syarat komplit,” papar Nuraini.

Nuraini mengatakan di Jepara total anggotanya mencapai 24 ribu orang. “Kami terus bergerak di bidang pelayanan sosial, kesehatan, pendidikan, dan perekonomian,” ujarnya. Namun dia juga berharap agar tidak memersulit perizinan yang diajukan.

Menanggapi hal tersebut, Ganjar langsung menelpon Sekretaris Daerah Kabupaten Jepara, Sholih. Dia meminta agar penanganan perizinan di daerah bisa dipercepat dan tidak memersulit rakyat.

“Urusan perizinan ini sebetulnya ranah Bupati, tapi karena ada laporan ya harus kita tanggapi. Pesan saya satu, reformasi birokrasi itu harus memberikan pelayanan yang mudah, murah, cepat. Pemerintah harusnya terima kasih karena ada masyarakat yang ingin memberikan pelayanan kesehatan. Jangan malah dibuat sulit, mahal, dan lama,” paparnya.

Editor: Supriyadi

Kabar Gembira, Siswa SMA/SMK se-Jateng Bakal Terima Bantuan Pendidikan Senilai Rp 1 Juta Per Anak

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) berencana memberikan bantuan pendidikan kepada seluruh siswa SMA/SMK sebesar Rp 1 juta di tahun 2018. Untuk mewujudkan hal itu, pemprov sudah menyiapkan dana melalui APBD sebesar Rp 792 miliar.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi biaya pendidikan yang dikeluarkan oleh para orangtua siswa.

Hal itu diungkapkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo usai melantik 140 pejabat yang terdiri dari 106 kepala sekolah (SMA/SMK/SLB Negeri), 33 pejabat fungsional, dan satu susulan pejabat struktural, di gedung Gradhika Bhakti Praja, Selasa (2/1/2018).

”Ini akan kita berikan ke siswa, harapannya siswa tidak bayar lagi mulai tahun ini. Sehingga kalau mereka mau iuran lagi untuk urusan sekolah, biar orangtanya tidak berat lagi, syukur kalau itu cukup,” katanya.

Ia mengatakan, sejak adanya alih kewenangan pengelolaan SMA/SMK dari kabupaten/kota ke provinsi, dirinya dikeluhi masyarakat yang mengira sebelumnya adalah gratis. Padahal yang gratis hanya di Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, dan Kudus, karena ada subsidi dari pemkab setempat.

”Saya disambati banyak orang yang persepsinya tidak tepat. Persepsinya seolah SMA/SMK itu dulu gratis, padahal dulu yang gratis hanya empat kabupaten,” katanya.

Maka, kemudian ia memerintahkan ke Dinas Pendidikan untuk menghitung biaya pendidikan. Jika selama ini ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS), maka kekurangan kebutuhan biaya di sekolah lainnya akan dicukupi melalui APBD provinsi.

”Maka kekurangannya itu kita tambah. Itu pengganti SPP, jadi saya harapkan anak sekolah sekarang sudah tidak bayar, itu bisa membantu para orangtua di SMA dan SMK. Kalau toh nanti ada, ya tinggal iuran yang lewat komite itu saja,” katanya.

Ia juga menegaskan, sesuai perundangan, pendidikan adalah tanggungjawab negara, masyarakat, dan orangtua siswa. Maka, ketika negara belummampu, diperlukan partisipasi dari orangtua siswa dan masyarakat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provini Jateng Gatot Bambang Hastowo mengatakan, bahwa dana sebesar Rp 792 miliar dari APBD Provinsi Jateng tahun 2018 itu adalah untuk biaya operasional pendidikan (BOP).

Penggunaannya adalah untuk pembiayaan honor guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) serta operasional sekolah.

Selama ini, setiap sekolah mendapat dana BOS untuk para siswa dari pemerintah pusat melalui APBN, tiap siswa mendapat Rp 1,4 juta. Adanya BOP dari provinsi itu, nantinya rata-rata persiswa mendapat tambahan bantuan sekitar Rp 1 juta.

”Padahal butuhnya persiswa kan sekitar Rp 3 juta. Jika sudah ada Rp 1,4 juta dari pusat melalui BOS dan ditambah dari povinsi berupa BOP sekitar Rp 1 juta, maka setidaknya bisa meringankan beban masyarakat dalam biaya pendidikan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Bayi di Brebes Tewas Setelah Ditolak Puskesmas Bikin Gubernur Marah

Bupati Brebes Idza Priyanti saat menjenguk ibunda Icha, bayi yang meninggal setelah ditolak puskesmas. (istimewa)

MuriaNewsCom, Brebes – Kasus meninggalnya seorang bayi berusia tujuh bulan, Icha Selfia, warga Desa Sidamulya, Kabupaten Brebes, membuat banyak pihak prihatin dan geram. Pasalnya, bayi tersebut meninggal setelah ditolak puskesmas untuk berobat,

Bahkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo juga marah dengan kasus ini. Ganjar meminta secara tegas agar peristiwa itu tidak terulang lagi.

Sebab dikabarkan, kematian putri dari ibu bernama Emiti (32) itu akibat ditolak oleh puskesmas saat akan berobat karena kurangnya syarat administrasi.

“Sudah, saya sudah minta bupati kesana. Saya meminta jangan sampai ada menolak pasien,” tandasnya, Rabu (13/12/2017).

Seperti diketahui, Icha sakit sejak Jumat (8/12/2017). Balita itu mengalami gejala muntah dan berak (muntaber) secara terus menerus. Sebelum dibawa ke puskesmas, Icha dibawa ke tukang urut. Dan oleh tukang urut disarankan untuk dibawa ke puskesmas saja.

Keesokan paginya Sabtu (9/12/2017), sang ibu membawa Icha ke puskesmas Sidamulya dengan berjalan kaki sepanjang 1,5 kilometer. Namun sampai di puskesmas tidak ada penanganan karena alasan kelengkapan administrasi.

Balita itu akhirnya meninggal dunia pada Minggu (10/12/2017) pagi. Peristiwa ini lalu banyak menjadi sorotan media dan juga warganet. 

Mneurut Ganjar, peristiwa harus menjadi pengingat bagi semua pihak agar di masa mendatang tak ada kejadian serupa.

Terlebih lagi Kabupaten Brebes, ungkap Ganjar, baru saja mendapatkan penghargaan Hak Asasi Manusia (HAM) dari Kementerian Hukum dan HAM. Namun bersamaan dengan itu justru terjadi pelanggaran HAM di bidang kesehatan.

“Saya minta Dinas kesehatan tolong dicek betul agar mereka bisa berobat dengan cepat, administrasi dipermudah, mereka dilayani dengan prima, itu penting,” tegasnya lagi.

Melalui akun twitter resminya @pemkab_brebes, Pemkab Brebes juga memberikan penjelasan terkait kejadian itu. Melalui akun itu disebutkan bahwa Bupati Brebes Idza Priyanti langsung berkunjung ke rumah keluarga pasien dan berjanji akan mengevaluasi pelayanan kesehatan di wilayahnya.

Editor : Ali Muntoha

Mampir di Desa Rajek Grobogan, Ganjar Coba Goreng Tempe Mendoan Pakai Gas Alam

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat mencoba pemanfaatan gas rawa untuk menggoreng tempe mendoan di salah satu rumah warga Desa Rajek, Kecamatan Godong, Grobogan, Rabu (29/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemakaian gas alam untuk keperluan memasak yang dilakukan puluhan warga Desa Rajek, Kecamatan Godong, Grobogan ternyata mendapat perhatian serius dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Bahkan, Ganjar menyempatkan waktu untuk mampir di Desa Rajek, usai melangsungkan kunjungan kerja di SMAN 1 Gubug, Rabu (29/11/2017). Bupati Grobogan Sri Sumarni terlihat ikut mendampingi Ganjar saat berkunjung ke Desa Rajek.

Saat berada di Desa Rajek, Ganjar sempat berkeliling melihat lokasi pengolahan gas alam melalui separator. Setelah itu, Ganjar sempat singgah dirumah salah warga yang sejak dua bulan terakhir menggunakan gas alam untuk keperluan masak sehari-hari.

Saat didatangi Ganjar, pemilik rumah saat itu sedang memasak untuk makan siang. Ganjar kemudian sempat mencoba ikut menggoreng tempe mendoan didapur rumah warga tersebut.

”Potensi gas alam atau gas rawa di Desa Rajek ini sangat bagus sekali. Di Indonesia bahkan di dunia, barangkali hanya ada disini,” ungkap Ganjar.

Menurut Ganjar, saat ini, pemakaian gas alam itu baru diuji coba pada 22 rumah warga. Kedepan, jumlah warga yang memakai gas alam itu bisa bertambah hingga 100 keluarga.

”Potensi gas alam di Desa Rajek ini sebelumnya sudah dilakukan penelitian beberapa kali. Jadi, pemakaian gas alam ini cukup terjamin keamanannya. Kita harapkan, potensi ini bisa digali lagi untuk kepentingan masyarakat,” katanya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melihat semburan gas yang bercampur dengan air. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Desa Rajek Moh Dhori menambahkan, adanya kandungan gas alam di Desa Rajek memang sudah mulai terdeteksi sejak beberapa tahun lalu. Hal ini menyusul adanya semburan air cukup tinggi ketika ada warga yang mencoba membuat sumur bor. Semburan air dari pengeboran sumur terkadang juga diselingi bau gas.

”Dugaan adanya kandungan gas kemudian diteliti oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah tahun 2013 lalu. Dari hasil penelitian, di Desa Rajek ternyata menyimpan kandungan gas alam yang luar biasa banyak,” katanya.

Dari keterangan para ahli, gas alam di desanya dinamakan gas rawa. Yakni, gas alam yang terdapat di dalam tanah pada kedalaman dangkal di kisaran 30-40 meter.

Pada pertengahan tahun 2017 ini, dilakukan lagi penelitian dan praktik uji coba pemanfaatan gas alam tersebut untuk kepentingan masyarakat. Dalam uji coba ini, ada 22 warga kurang mampu yang rumahnya dialirkan gas alam.

Sebelum dialirkan, ada proses pemisahan air yang mengandung gas rawa itu melalui alat yang dinamakan separator. Alat ini berbentuk seperti tabung yang fungsinya untuk memisahkan air dan gas. Setelah dipisah, gas alam kemudian disalurkan melalui pipa menuju rumah warga sasaran.

”Hasil uji coba ini sangat menggembirakan karena aliran gas ke rumah warga tidak pernah berhenti. Dari uji coba ini, kami berencana supaya gas alam bisa dialirkan ke semua rumah warga. Hal ini sangat memungkinkan karena potensi gas alamnya sangat mencukupi dan bisa digunakan hingga puluhan tahun,” imbuh Dhori.

Editor: Supriyadi

Gubernur Ganjar Pranowo Bakal Blusukan di Grobogan Selama 2 Hari, Ini Agendanya

Ganjar Pranowo, diyakini akan mendapatkan rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, GroboganGubernur Jateng Ganjar Pranowo dijadwalkan melangsungkan serangkaian acara di Grobogan selama dua hari. Yakni, hari ini hingga Kamis besok.

Ada beberapa agenda yang akan dilakukan Ganjar pada hari ini, Rabu (29/11/2017). Antara lain, mengajar di SMAN 1 Gubug dan meninjau sumber gas alam di Desa Rajek, Kecamatan Godong.

Setelah itu, agenda dilanjutkan penanaman buah dikawasan hutan di Desa Terkesi, Kecamatan Klambu. Kemudian, menghadiri syukuran perbaikan jalan yang dilakukan warga Desa Tanjungharjo, Kecamatan Ngaringan.

Sedangkan pada sore harinya, Ganjar sudah dijadwalkan bakal meninjau proyek pembangunan rumah sehat layak huni di Desa Tlogotirto dan Tahunan di Kecamatan Gabus. Acara di Gabus langsung dirangkai dengan pertemuan bersama Kades dan tokoh masyarakat se Kabupaten Grobogan pada malam harinya.

“Ada enam titik lokasi kunjungan Pak Gubernur hari ini. Acara hari ini dimulai dari siang hingga malam,” kata Kabag Humas Pemkab Grobogan Ayong Muchtarom, Rabu (29/11/2017).

Pada hari kedua, juga ada beberapa kegiatan yang akan dilakukan Ganjar di Grobogan. Yakni, sepeda santai bersama masyarakat di Kecamatan Wirosari. Setelah itu, Ganjar dijadwalkan akan membuka pameran Grobogan Ekspo di alun-alun Purwodadi.

Editor: Supriyadi

Marzuqi Pasrah Tunggu Rekom PDIP 

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi pasrah akan rekomendasi PDIP di Pilgub Jateng. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengaku belum mendapat rekomendasi apapun terkait proses penjaringan bakal calon Gubernur Jateng. Meski telah mendaftar di PDIP, ia mnyerahkan sepenuhnya ke partai.

“Soal rekomendasi belum tahu, sampai dengan sekarang ini saya hanya telah mengembalikan berkas. Proses selanjutnya, hanya Allah dan yang punya bus (Ketum PDIP) yang tahu. Sebab PDIP kan satu komando,” katanya. 

Lebih lanjut, ia tak begitu mempermasalahkan apa yang nantinya akan direkomendasikan. Terlebih, dirinya merasa bukanlah kalangan internal partai berlambang Banteng moncong putih itu. 

Namun demikian, Marzuqi menyadari bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan berjasa dalam proses pemilihan Bupati Jepara. Hal itu mengingat, kader PPP itu justru mendapatkan dukungan dari PDIP saat pilbup 2016 kemarin. 

“Saya tidak terlalu agresif dan ambisius. Terlebih saya merupakan orang dari luar pagar,” tuturnya.

Disinggung mengenai skenario terburuk, dirinya tak mendapatkan rekomendasi sebagai bakal calon gubernur dari PDIP Marzuqi tak mempermasalahkannya. Ketika hal itu terjadi, maka secara pribadi ia tetap akan mendukung siapa saja calon yang direkomendasikan oleh Megawati Soekarnoputri. 

Editor: Supriyadi

Gara-gara UMK 2018, Buruh Ancam Tarik Dukungan dari Ganjar

Buruh di Kota Semarang melakukan aksi tabur bunga atas penetapan UMK Jateng 2018. (Radio Idola)

MuriaNewsCom, Semarang – Penetapan Upah Minum Kabupaten/Kota (UMK) Jateng tahun 2018 oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo 20 November 2017 lalu, mendapat tentangan dari para buruh.

Jumat (24/11/2017), massa yang mengatasnamakan Aliansi Buruh Jawa Tengah dan Aliansi Buruh Kota Semarang, menggelar aksi di depan kantor Gubernuran Jalan Pahlawan Semarang, dan depan Balai Kota Semarang. Di depan balai kota, para buruh juga melakukan aksi tebar bunga.

Para buruh Kota Semarang menuntut kenaikan UMK 2018 sebesar Rp 2,7 juta. Sedangkan dalam keputusan Gubernur Jateng, Kota Semarang memang tetap tertinggi dari 34 kabupaten kota lainnya namun tidak memenuhi tuntutan buruh yaitu Rp 2.310.087,50.

Koordinator aksi, Zainudin mengatakan, aksi ini sebagai bentuk kekecewaan kepada gubernur.

Padahal menurut dia, Ganjar pernah menandatangani kontrak sosial yang menyatakan akan menyelaraskan upah buruh dengan pembangunan. Tetapi nyatanya dalam perjalanannya sebagai gubernur mengkhianati kontrak tersebut.

“kami dari Aliansi Buruh Jawa Tengah menyatakan sikap akan mencabut dukungan Ganjar Pranowo dan partai politik yang tidak pro terhadap buruh serta tidak memerjuangkann nasib buruh. Ternyata, janjinya tidak pernah dibuktikan sampai sekarang,” katanya.

Aksi unjukrasa ini berlangsung tertib hingga mereka membubarkan diri. Meski demikian, aksi tersebut tetap mendapat pengamanan ketat dari aparat kepolisian.

Untuk langkah-langkah selanjutnya, Aliansi Buruh akan mendiskusikan dengan federasi dan konfederasi di Jawa Tengah, termasuk jika nanti  mau menempuh gugatan.

Editor : Ali Muntoha

Saat Ganjar Ditanya Veteran Tua, ’Njenengan Gubernur’?

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberikan bantuan pada sejumlah veteran dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, Jumat (10/11/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Seorang veteran berusia 83 tahun bernama Soemar, begitu terlihat senang saat mendapatkan bantuan  kursi roda. Namun kakek itu terlihat kesulitan untuk berdiri dan naik ke kursi roda.

Mengetahui hal itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tak tinggal diam. Ia langsung melangkah kemudian merangkul dan memamapah pejuang itu menuju kursi rodanya.

Peristiwa itu terjadi saat Ganjar memberikan bantuan pada sejumlah veteran perang usai upacara Hari Pahlawan di halaman Kantor Gubernur Jateng Jalan Pahlawan Semarang, Jumat (10/11/2017). Selain untuk para veteran, Ganjar juga menyerahkan bantuan pada sejumlah anak berkebutuhan khusus. Bantuan tersebut antara lain berupa kursi roda.

Saat dipapah Ganjar itu, veteran itu bertanya apakah orang yang merangkulnya itu adalah gubernur Jateng. Soemar mengaku penglihatanya sudah kabur, sehingga tak tahu persis siapa yang di hadapannya.

“Njenengan Gubernur, njenengan Pak Ganjar?, lanjut yo pak, ojo mandeg,” ujar Soemar.

Mendengar pertanyaan itu, politikus PDI Perjuangan ini justru tertawa. Sembari duduk bersimpuh, Ganjar menjawab pertanyaan Soemar.

“Iya saya Ganjar Pak, kok mboten oleh mandeg ki pripun? (kok tidak boleh berhenti itu bagaimana?),” tanya Ganjar.

Soemar pun seketika langsung menjawab agar Ganjar tetap melanjutkan memimpin Jawa Tengah. Tak hanya sekali, ucapan itu ia sampaikan berulang. Ganjar pun kemudian tersenyum dan mencium tangan Soemar.

Ditemui usai pemberian bantuan, Soemar mengatakan ia memang sangat berharap Ganjar kembali menjadi Gubernur Jateng. Alasannya menurutnya sangat sederhana.

“Pak Ganjar itu pemimpin yang mengayomi semua rakyatnya, jadi saya meminta Pak Ganjar untuk terus lanjutkan memimpin,” ujarnya.

Selain itu menurutnya, selama kepemimpinan Ganjar sejak 2013 sudah berjalan baik, sehingga perlu dilanjutkan ke periode berikutnya. Pembangunan infrastruktur ungkapnya sudah banyak dirasakan masyarakat. Juga dengan sejumlah program lainnya.

“Mudah-mudahan bisa awet dalam memimpin Jawa Tengah dan memberikan kesejahteraan bagi rakyat Jateng khususnya dan umumnya Indonesia,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Terjebak Lumpur Hutan saat Temui Warga Jateng di Transmigran

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat mengunjungi transmigran asal Klaten di Nagari Padang Tarok Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Minggu (4/11/2017) kemarin mengunjungi warga asal Jateng yang transmigrasi di Nagari Padang Tarok, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Untuk mencapai lokasi transmigran yang berada di tengah hutan itu ternyata tak mudah. Ganjar harus menempuh waktu enam jam dari Kota Padang. Jalan yang dilewati sebagian besar hanya jalan tanah berbatu dengan tanjakan tajam.

Jalan tanah ini yang menjadi sangat berbahaya ketika turun hujan. Dan benar saja, ketika hendak meninggalkan lokasi pukul 17.30 hujan turun sangat deras.

Wali Nagari Padang Tarok menawarkan rombongan menginap, karena jalanan berupa tanah sangat berbahaya. Namun ditolak karena Ganjar harus segera menuju ke Jakarta.

Benar saja, jalan tanah itu berubah jadi lumpur. Meskipun sudah menggunakan mobil SUV 4×4, namun jalan ini tak mudah dilalui. Kekhawatiran sang wali nagari pun terjadi. Mobil Fortuner yang ditumpangi Ganjar terperosok lubang. Bannya ambles, terjebak di kubangan lumpur.

Celakanya, mobil petugas polisi dan satpol PP dari Sijunjung yang mengawal rombongan juga ikut terperosok lubang. Di tengah kebingungan, sejumlah warga setempat datang dan menolong.

Rupanya, salah satu dari mereka mengenali Ganjar. “Lho Pak Ganjar Pranowo? Kok sampai sini pak,” katanya.

Tapi tentu saja tidak banyak dialog mengingat kondisi yang darurat. “Karena kondisi hujan deras dan gelap, alat pun terbatas, butuh waktu setengah jam untuk evakuasi. Dari 9 mobil, ada 3 yang terpaksa ditinggal. Kami sampai hotel di Padang lewat tengah malam,” kata Vino Devanta, ajudan Ganjar.  

Sementara saat kunjungan di lokasi transmigrasi itu, Ganjar menjumpai 20 warganya yang seluruhnya berasal dari Klaten. Kedatangan gubernur ini disambut dengan ceria. Tak hanya bersalaman, sebagian langsung memeluk gubernur berambut putih itu.

Turut mendampingi Bupati Sijunjung Yuswir Arifin dan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jateng Wika Bintang.

Ganjar meninjau lokasi transmigrasi yang sudah dihuni warga sejak 11 bulan silam. Selain mendapat lahan garapan seluas 2 hektare, warga juga mendapat subsidi beras dan sembilan bahan pokok lain.

Total ada 112 warga transmigran di Padang Tarok. Selain 20 jiwa asal Jateng, juga ada 17 jiwa dari Kulonprogo Yogyakarta dan warga dari Kabupaten Agam yang rumahnya hancur akibat gempa bumi.

Seorang warga, Ribut Junaidi, mengatakan, lahan dua hektare ia tanami bermacam tanaman. Dari ketela, kacang, sawi hingga palawija. “Bibite mbeta saking Jawi, lha niku ingkang didahar pak gub nggih pohung hasil panen (Bibitnya bawa dari Jawa, itu yang dimakan pak gub ya ketela hasil panen),” katanya.

Dialog berlangsung meriah dan penuh canda tawa dalam bahasa Jawa. Warga juga mengadukan ke Ganjar soal buruknya sinyal telepon di lokasi itu.

Suasana semakin ramai ketika bupati Sijunjung nyeletuk. Ia protes tidak mengerti pembicaraan karena dialognya menggunakan bahasa Jawa. “Nanti saya translate pak bupati,” kata Ganjar disambut tawa hadirin.

Selain soal sinyal, beberapa warga juga mengeluhkan masih terbatasnya penerangan dan jalan yang buruk.

Senin (6/11/2017) pagi Ganjar sudah berada di Jakarta. Ia mengatakan, kunjungan tersebut selain bersilaturahmi juga untuk memastikan sendiri kondisi warga transmigran.

“Masih ada beberapa keluhan dan hari ini saya menandatangani perjanjian dengan Kementerian Desa untuk perbaikan infrastruktur di lokasi transmigrasi,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Gubernur Ganjar : Pemuda Jadi Petani Modern Itu Keren

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mencoba melakukan tanam padi menggunakan transplanter di Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak (30/10/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Demak –  Profesi menjadi petani saat ini cenderung dijauhi oleh para pemuda. Mereka lebih memilih menjadi seorang pegawai, PNS atau lainnya.

Kondisi ini dijawab Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dengan menggencarkan upaya modernisasi pertanian. Peralatan pertanian hingga pengolahan lahan diarahkan menggunakan alat-alat modern, sehingga anak muda tertantang menggeluti bidang pertanian.

Ini dikatakan Ganjar saat melakukan tanam padi perdana menggunakan transplanter di Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak (30/10/2017).

“Penggunaan alat modern ini akan memudahkan petani, anak-anak muda jadi mau bertani,” katanya.

Mantan anggota DPR RI ini meminta para pemuda untuk tak ragu menggeluti bidang ini. Karena menurut dia, menjadi petani bisa tetap keren.

“Dari 4 orang yang gunakan transplanter tadi, salah satunya masih muda, dia merasa bertani-nya lebih mudah dan menarik. Dengan transplanter, menanam bisa lebih cepat, ini kan juga bentuk dorongan agar anak muda berkiprah di pertanian,” katanya.

Jika dulu, menjadi petani seringkali dianggap sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat terutama generasi muda, paradigma itulah menurutnya yang perlu diubah. Hal ini agar ada generasi-generasi baru sehingga pertanian di Indonesia bisa semakin maju.

Modernisasi yang dilakukan ungkapnya bukan hanya terkait dengan pengolahan lahan, namun juga pendataan dan penyaluran bantuan yang dilakukan secara modern.

Salah satunya melalui Kartu Tani yang dilengkapi dengan sejumlah data seperti luas lahan, jenis tanaman dan kebutuhan pupuk bagi setiap petani.

Data-data itu menurut Ganjar menjadi sangat penting agar penyaluran pupuk bersubsidi sesuai dengan waktu dan tepat sasaran. Jika semua data bisa terlihat melalui Kartu Tani, petani tidak akan kesulitan mendapatkan pupuk.

“Kan ada data tanamnya, jadi kami tahu. Ketika masa pemupukan atau dua pekan setelah penanaman akan dipastikan pupuk bersubsidi tersedia,” terangnya.

Bukan hanya tentang penyaluran pupuk, data pada kartu tani juga akan memberikan gambaran jumlah panen di masing-masing daerah. Hal ini ungkapnya penting guna memprediksi hasil panen dan agar petani bisa mendapatkan harga yang tinggi saat panen.

“Jadi kan bisa tahu, tanam berapa hektare, yang kena hama semisal berapa, jadi bisa diprediksi kapan panen dan jumlahnya berapa di tiap daerah,” tambahnya.

Editor : Ali Muntoha

Tebar Indukan Udang di Jepara, Ganjar Ikut Nyemplung ke Laut Tanpa Alas Kaki


Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (tiga dari kanan) saat hendak melakukan tebar calon indukan ikan dan udang di perairan Jepara, Senin (16/10/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan tebar ratusan ribu indukan udang dan ikan ke perairan Jepara, Senin (16/10/2017). Hal itu dilakukan sesaat sebelum acara pembagian 258 paket Alat Penangkapan Ikan (API) ramah lingkungan kepada nelayan Jepara. 

Tebar calon indukan itu dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo didampingi Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, Staf Ahli KKP Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga Suseno Sukoyono, dan Kepala BBPBAP Jepara Sugeng Raharjo serta Kepala Dinas Kelauatan dan Perikanan Jawa Tengah Lalu M. Syafriadi. 

Baca: Dihadiri Ganjar, Nelayan Jepara Pertanyakan Efektivitas Alat Tangkap Ikan Pengganti Cantrang

Bertelanjang kaki, Ganjar langsung nyemplung ke laut kemudian diikuti oleh Marzuqi yang mengikuti langkah atasannya itu. Padahal panitia telah menyediakan sepatu boots untuk para pejabat tersebut. Lalu ribuan calon indukan udang, rajungan, dan bandeng ditebar.

“Ini (ikan) kalau ditebar bisa berenang kesana ya. Ini ditebar semua nggak ada yang dibakar ya,” seloroh Ganjar sebelum melepaskan calon indukan udang yang ada dalam plastik besar. 

Adapun calon indukan yang ditebar adalah udang windu sejumlah 100 ribu ekor, Nener (bandeng) 500 ribu ekor, rajungan 100 ribu dan kepiting 100 ribu. Semua indukan tersebut telah dipersiapkan oleh BBPBAP Jepara sebelum acara. 

Ganjar berharap, tebaran atau restocking indukan tersebut bisa berguna bagi nelayan dan warga sekitar.  

Editor: Supriyadi

Dihadiri Ganjar, Nelayan Jepara Pertanyakan Efektivitas Alat Tangkap Ikan Pengganti Cantrang

Ganjar Pranowo saat berdialog dengan nelayan saat penyerahan alat penangkapan ikan di BBPBAP Jepara, Senin (16/10/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) membagikan 258 paket alat penangkapan ikan (API) kepada nelayan di Jepara, Senin (16/10/2017).

Ratusan alat tersebut merupakan pengganti cantrang dan arat yang selama ini digunakan oleh nelayan di pesisir utara Laut Jawa. Meskipun diberi bantuan, sebagian nelayan khawatir kalau hasil dari alat tersebut tidak sebanyak alat yang sudah lama mereka gunakan saat ini. 

Acara yang berlangsung di aula milik Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, dihadiri pula oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi dan pihak terkait. 

Listiono nelayan asal Kedung mengatakan, selama ini pihaknya menggunakan cantrang dan arat saat melaut. Ia khawatir apakah nantinya hasil yang didapatkan bisa seperti saat sekarang. 

“Apa nantinya ketika alat tangkap diganti hasil ikannya bisa seperti sekarang ini, bisa untuk menyekolahkan anak dan sebagainya,” ungkapnya saat ditanya Ganjar Pranowo terkait kesulitan saat melaut. 

Hal serupa diungkapkan oleh Mustain. Nelayan itu menginginkan semua nelayan mendapatkan alat tangkap yang ramah lingkungan. ” Saya dengar kan sampai Desember nanti (batas penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan), nah yang belum kebagian bagaimana?,” tuturnya. 

Mendapat pertanyaan tersebut, Ganjar langsung melemparnya pada pejabat KKP Suseno Sukoyono. Dalam jawabannya ia meyakinkan, penggantian alat tangkap merupakan upaya pemerintah menjaga keberlangsungan pasokan ikan. 

“Tentang pertanyaan kalau pakai alat ini (ramah lingkungan) cukup tidak? Jika nelayan terus memakai arat, kalau kita memunyai anak, sebelum anak kita besar ikannya sudah habis. Dengan menggunakan Cantrang dan arat yang punya ukuran satu inchi ikan akan habis. Alat ini memang tak seganas arat dan cantrang, tapi jauh lebih memadai dari alat tangkap lainnya,” ucap Staf Ahli Menteri KKP Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga itu. 

Sementara terkait penggantian cantrang dan arat dengan alat tangkap ramah lingkungan, Suseno menjawab hal tersebut akan terus dilihat perkembangannya. Lantaran untuk proses penggantian memerlukan anggaran yang tak sedikit. 

“Dalam melakukan hal itu, kita perlu bahu membahu mengingat keterbatasan APBN kita. Bantuan yang saat ini diberikan diprioritaskan bagi yang terdata. Kami percaya nelayan Jepara adaptif terhadap kebijakan ini. Untuk (penggantian cantrang ke alat tangkap ramah lingkungan) perlu kerjasama dengan instansi lain,” ungkapnya. 

Ganjar Pranowo mengatakan pemerintah harus hadir dalam penggantian cantrang ke alat tangkap ramah lingkungan.

“Sebenarnya yang dibutuhkan kan waktu, kalau sampai akhir Desember mereka tak boleh (menangkap dengan cantrang) dan bantuan belum ada, maka keluwesan-keluwesan itu  yang diharapkan dari mereka agar mereka diizinkan (menggunakan cantrang). Kecuali negara memberikan bantuan itu,” tuturnya. 

Untuk permasalahan pelarangan cantrang, Ganjar mengaku telah berbicara dengan Susi Pudjiastuti. Hal itu terkait dengan penggantian alat tangkap. 

“Saya sudah bicara dengan Bu Menteri Susi, karena itu kebijakan pemerintah, maka pemerintah harus ikut tanggungjawab. Caranya kasih saja bantuan alat tangkapnya. Sudah ada pengajuan asuransi dan pengajuan permodalan, bantuan ini bisa selesaikan persoalan itu, tapi harus cepet. Kalau batasnya sampai Desember ya sampai Desember sanggup, kalau tidak  ya harus ada jeda  perpindahan toleransi, kalau tidak kasihan mereka,” tuturnya. 

Dalam rilis Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, untuk nelayan Jepara ditargetkan ada 289 paket API yang akan diberikan. Sementara untuk Jawa Tengah akan diberi 2.341 paket. 

Pada kesempatan itu, diberikan juga bantuan Asuransi Nelayan. Untuk Jepara dari target 3500 orang, saat ini sudah terealisasi sebanyak 715 nelayan. Selain itu untuk Jepara diberikan fasilitas akses permodalan sebesar 1.890 miliar hasil kerjasama Ditjen Perikanan Tangkap dan BRI.

Editor: Supriyadi

Ganjar Kembangkan Ilmu Titen Tanggulangi Bencana di Jateng

Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta masyarakat untuk lebih tanggap terhadap bencana, seiring datangnya musim hujan. Terlebih di Jawa Tengah kerawanan bencana sangat tinggi, mulai dari banjir, longsor hingga angin lisus.

Menurut dia, meskipun program penanggulangan bencana sudah intensif dilakukan, masyarakat tetap harus waspada akan perubahan kondisi yang terjadi di lingkungannya masing-masing.

“Kita punya kearifan lokal namanya ’ilmu titen’. Misalnya kalau hujan turun lebih dari dua jam, maka siap-siap mengungsi karena biasanya banjir besar akan datang. Longsor juga bisa diamati dari retakan tanah di bukit atau dataran tinggi,” katanya.

Ilmu titen, imbuh Ganjar, menarik karena masyarakat mempunyai cara meramal akan terjadinya bencana alam lewat tanda-tanda alam yang tidak ada di negara lain di dunia.

“Tidak kalah menariknya yakni sistem kekerabatan dan gotong royong masyarakat Jateng. Sehingga mampu menggerakkan masyarakat untuk saling membantu dalam penanganan bencana alam,” ujarnya.

Ganjar sendiri sudah menyusun buku berjudul “Disaster Management and Ilmu Titen” pada awal 2016 lalu. Buku itu sebenarnya disusun Ganjar untuk disampaikan di hadapan para pemimpin dunia dalam konferensi perubahan iklim di Belanda.

Sepulang dari Negeri Kincir Angin, Ganjar meminta buku itu disebar ke masyarakat agar ilmu titen kembali digunakan masyarakat dalam penanggulanan bencana.

“Di Jateng sudah dibentuk desa-desa tangguh bencana, ada relawan-relawan yang siap sedia bergerak dan responsif, saya kira kita sudah siap,” terangnya.

Ganjar juga telah mendatangi Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng. BPBD diminta segera berkoordinasi dengan seluruh stakeholder untuk mengantisipasi bencana. “Saya sedang siapkan surat edaran kepada bupati dan walikota untuk siaga bencana,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Mahasiswa Ini Langsung Diberi Rp 10 Juta Setelah Ngadu ke Gubernur Ganjar

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat mengisi seminar di Graha IAIN Surakarta, Rabu (4/10/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Surakarta – Seorang mahasiswa IAIN Surakarta bernama Kharisma HP, langsung diberi uang sebesar Rp 10 juta oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, usai mengadu kepada orang nomor satu di Jateng itu, Rabu 4/10/2017).

Namun uang sebesar itu diberikan bukan secara cuma-Cuma, melainkan harus untuk membantu merenovasi rumah tak layak huni (RTLH) milik pasangan lanjut usia (lansia) di Jalan Pandawa Gg Arjuna RT 2 RW 2 Margosukan, Gumpang, Sukoharjo.

Kondisi rumah pasangan lansia ini memang yang diadukan mahasiswa itu kepada gubernur, saat Ganjar mengisi seminar “Kebangsaan Membangun Literasi Ekonomi untuk Meningkatkan Kesejahteraan Warga Jateng”, di Graha IAIN Surakarta.

Saat sesi Tanya jawab, mahasiswa itu melapor pada Ganjar bahwa ia mengetahui ada rumah lansia yang kondisinya sudah rusak sehingga tidak layak huni. 

“Pak Gubernur, apa langkah kongkret dari pemerintah jika ada warga miskin tapi tidak bisa memperbaiki rumahnya?” tanyanya. 

Gubernur pun kemudian bertanya lebih lanjut soal kondisi rumah yang dilaporkan itu. Terutama tentang kondisi rumah lansia itu, apa pekerjaanya dan apakah lansia itu punya TV di rumahnya.

Kharisma pun menjawab, “Rumahnya dari gedhek (anyaman bambu), bapaknya tukang becak. Gas disubsidi tetangga dan kemarin baru diberi bantuan TV,” jawab mahasiswa jurusan Perbankan Syariah ini.

Mendengar jawaban itu, Ganjar langsung menyanggupi untuk memberi bantuan, dan menantang mahasiswa itu untuk mengerahkan teman komunitasnya untuk membantu merenovasi.

“Oke, berapa orang komunitasmu kalian siap bekerja gotong royong untuk membantu simbah itu?” tantang Ganjar. “Siapp,” jawab Kharisma serempak bersama 40 teman sekelasnya.

“Ini saya modali Rp 10 juta. Nanti laporkan ke saya perkembangan pembangunan rumahnya. Rumahnya harus layak huni, bertembok, ventilasi, dan sarana MCK yang pantas,” pinta Ganjar.

Kharisma mengatakan kondisi rumah tidak layak tersebut berada di Jalan Pandawa Gg Arjuna RT 2 RW 2 Margosukan, Gumpang, Sukoharjo. “Tapi nama simbahnya saya lupa, karena yang mendata teman saya,” akunya. 

Ia pun mengaku senang tapi juga kaget bisa langsung mendapat bantuan dari Ganjar. Ia berharap bantuan tersebut dapat membantu membangunkan rumah yang layak untuk pasangan lansia itu. Sebelum melakukan perbaikan rumah, dia akan berkonsultasi dengan tukang bangunan sembari menggalang bantuan lain. 

“Saya tidak menyangka jika langsung diberi bantuan, Alhamdulillah semoga kami bisa menjalankan amanah,” tutur Kharisma yang ditemui usai acara.

Editor : Ali Muntoha

Cerita Ganjar Soal Lemarinya Nelson Mandela yang Penuh Batik Pekalongan

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat mencoba membatik. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bercerita tentang keitsimewaaan batik, terutama batik Pekalongan. Batik ini mampu memikat tokoh dunia sekelas Nelson Mandela.

Bahkan pengakuan Unesco terhadap batik sebagai salah satu warisan dunia pada Oktober 2009 silam, tak lepas dari peran mendiang presiden Afrika Selatan tersebut.

Menurut Ganjar, Nelson sangat terpikat dengan batik. Bahkan dalam berbagai kegiatannya, baik itu kegiatan resmi maupun informal, Nelson kerap mengenakan baju bermotif batik.

Menurutnya, Nelson Mandela dikenal di dunia juga salah satunya karena gaya berbusana yang khas. Bahkan pada acara-acara resmi yang digelar PBB, Nelson sering mengenakan batik.

“Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela itu satu lemari bajunya batik. Batiknya Nelson itu dari mana coba? Dari Pekalongan, Jawa Tengah, ” kata Ganjar, Senin (2/10/2017).

Ini dikatakan Ganjar saat mengajar di SMA 1 Sokaraja, Banyumas, dan momentum Hari Batik Nasional. Sekolah ini dikenal dengan sekolah batik karena sudah ditunjuk sebagai Sekolah Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (SPBKL) dan juga memiliki sanggar batik. 

Dari cerita itu, Ganjar berpesan agar generasi muda jangan hanya sekadar cinta dengan batik. Namun juga harus mendalami batik secara total dengan memahami corak batik dan kekhasannya di setiap daerah.

“Karena batik sebagai warisan bangsa yang adiluhung. Apalagi sekarang desain batik sekarang bagus-bagus dan khas, ” ujarnya.

Ia juga mengaku memiliki koleksi batik dengan berbagai corak yang khas dari berbagai daerah. Politikus PDI Perjuangan itu sering menyempatkan diri membeli batik saat berkunjung ke berbagai daerah, baik di dalam maupun di luar Provinsi Jawa Tengah.

Ganjar juga senang mengenakan batik klasik, tapi kadang juga memakai batik dengan desain yang tidak biasa.

“Saya suka menikmati karya-karya anak muda yang desainnya lucu, menarik, dan aneh, apalagi sekarang di tiap daerah muncul motif-motif baru, seperti desain bambu, daun jati, kayu jati dan banyak lagi,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Datang ke Menara Kudus, Gubernur Ganjar Tak Takut Lengser

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat mendatangi acara Buka Luwur Makam Sunan Kudus, Sabtu (30/9/2017) pagi tadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kedatangan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ke Menara Kudus saat Buka Luwur Sunan Kudus, Sabtu (30/9/2017) membuat masyarakat bertanya-tanya akan kelangsungan jabatannya. Pasalnya, mitos yang berkembang di masyarakat Kudus, pejabat yang datang ke Menara Kudus akan lengser.

Menyikapi hal itu, Ganjar menjawab dengan entengnya. Dia mengungkapkan kedatangannya dalam acara buka luwur adalah untuk berdoa. Sehingga tak khawatir akan hal tersebut.

“Lha sampeyan percaya? Percaya? Wong dongo (berdoa) kok yo,” Jawabnya singkat kepada MuriaNewsCom.

Baca Juga: Gubernur Ganjar Ikuti Buka Luwur Sunan Kudus

Mitos di masyarakat, bagi pejabat yang datang ke Menara Kudus tak lama setelahnya akan lengser. Bahkan cerita tersebut sudah ada semenjak zaman Aryo Penangsang dulu.

Ganjar Pranowo datang bukan melalui pintu utama Kawasan Menara Kudus. Melainkan lewat jalan samping, yang berada di sebelah timur Tajug Menara Kudus.

Baca Juga: Kurang dari 5 Jam, 32 Ribu Nasi Jangkrik Buka Luwur Sunan Kudus Ludes Diserbu Warga

Disinggung soal kedatangan, Ganjar menyampaikan ucapan terimakasih kepada masyarakat Kudus, khususnya pengelola yang telah merawat Makam Sunan Kudus dengan baik. Karena itu merupakan peninggalan yang memiliki relasi spiritual.

“Ini mengingatkan kita kepada sesepuh atau pendahulu, serta mengingatkan kepada yang maha kuasa Gusti Allah,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Gubernur Ganjar Ikuti Buka Luwur Sunan Kudus

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ketika sampai di kompleks makam Sunan Kudus, Sabtu (30/9/2017) pagi tadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, hadir dalam acara buka Luwur Sunan Kudus, Sabtu (30/9/2017). Ganjar datang beserta rombongan dan pejabat lain.

Kedatangan orang nomor satu se-Jateng itu, disambut hangat. Seperti tamu lainya, Ganjar juga mengenakan kemeja putih dan celana hitam.

Ganjar tiba di komplek Menara Kudus sekitar jam 07.35 WIB. Disambut langsung ketua Yayasan Masjid, Makam dan Menara Kudus (YM3SK) Nadjib Hasan, Ganjar dipeluk sesampainya di kawasan Menara Kudus. 

Sekertaris YM3SK Deni Nur Hakim, menyebutkan kedatangan Ganjar Pranowo, membuat kejutan bagi pengurus. Meskipun, Gubernur Jateng itu juga diundang langsung dari penyelenggara buka luwur.

“Barusan datang dan langsung masuk ke kawasan Tajuk,” katanya kepada MuriaNewsCom. 

Menurut dia, dalam kegiatan buka luwur tahun ini, Ganjar tak hanya datang langsung saat prosesinya. Namun, sebelumnya Ganjar Pranowo juga menyumbang sebuah kerbau kepada penyelenggara untuk disembelih dan dibagikan kepada pengunjung.

Editor : Ali Muntoha

Siswi SMK Ini Menangis Ngadu ke Ganjar Karena Dilarang Kuliah Ibunya

Nuzulia Anggita Ramadani siswi SMKN I Ampelgading Pemalang curhat kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Rabu (27/9/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Seorang siswi SMK menangis curhat kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Rabu (27/9/2017). Siswi bernama Nuzulia Anggita Ramadani itu menangis karena dilarang ibunya untuk melanjutkan kuliah.

Padahal gadis ini punya keinginan untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi Undip Semarang. Siswi kelas XII SMK Negeri I Ampelgading Pemalang, ini menyampaikan curhatnya sambil menangis saat Ganjar mendatangi sekolahnya dalam program Ganjar Mengajar.

Dalam sesi tanya jawab, Anggita yang kebetulan mendapat kesempatan pertama langsung meminta pendapat kepada Ganjar tentang masalah yang dihadapinya.

“Pak Ganjar, saya mau kuliah tapi tidak boleh sama ibu. Bilangnya saya disuruh kerja dulu biar ada pengalaman,” ucapnya sembari terisak.

Mendapat aduan tersebut, Ganjar pun langsung merespon dengan menanyakan di mana ibunya. “Mana ibumu, ikut datang ke sekolah nggak?, kalau ada suruh maju sini,” kata Ganjar.

Tak lama kemudian seorang perempuan paruh baya berbaju hijau pun maju dan berdiri di samping Anggita. Ia langsung menanyakan alasan sang ibu melarang anaknya kuliah. “Kenapa anaknya tidak boleh kuliah, lha men pinter kok ra entuk?” tanya Ganjar.

Spontan saja, sang ibu kebingungan. Meski demikian, ia menyampaikan maksudnya. Ia menyebut bukan melarang, melainkan menunda keinginan kuliah, sambil mencari kerja.

“Bukan begitu pak, maksud saya kalau kerja kan sudah ada pengalaman. Nanti kalau sudah punya pengalaman, baru kuliah dan dapat kerja yang enak,” saut Duriyah, ibu Anggita.

Mendengar jawaban itu, Ganjar pun lalu bertanya kepada Dirut Bank Jateng, Supriyatno dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Gatot Bambang Hastowo.

“Bapak-bapak dulu kuliah dulu apa kerja dulu,” tanya Ganjar. “Kuliah dulu pak,” jawab Supriyatno dan Gatot serempak.

Selanjutnya Ganjar memberi pengertian kepada Duriyah pentingnya pendidikan untuk anaknya. “Meski lulusan SMK sudah siap kerja, tapi kompetensinya tentu beda dengan sarjana, beda dengan lulusan universitas,” jelasnya.

Meski sama-sama siap kerja, kata Ganjar, sarjana akan mendapat penghargaan lebih dibanding lulusan SMK. “Dah sekarang saya tanya di hadapan semua yang ada di sini, ibu membolehkan tidak anaknya kuliah di universitas yang diinginkannya?” kata Ganjar.  Duriyah pun menjawab, “Boleh pak,”.

Mendengar jawaban ibunya, Anggita pun menangis dan mencium tangan Ganjar diiringi tepuk tangan seisi ruangan.

Editor : Ali Muntoha

Lihat Konveksi Jeans Pemalang yang Pernah Jaya Kini Terpuruk, Ganjar Langsung Begini

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengunjungi industri konveksi di Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Rabu (27/9/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Pemalang – Industri konveksi di Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Pemalang, pernah Berjaya dengan produk jeans. Produk ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dan mampu mempekerjakan ribuan orang.

Namun kini industri konveksi tersebut mulai terpuruk. Era kejayaannya pada tahun 2000-2003 seolah semakin memudar. Pamor jeans lokal tersebut mulai terkepung dengan pabrikan sehingga permintaan terus menurun.

Produksi mereka hanya mengandalkan pesanan dari distributor di berbagai daerah. Melihat kondisi ini, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang melakukan kunjungan ke sentra industri ini, Rabu (27/9/2017) merasa prihatin.

Menurut Ganjar, Rowosari memiliki potensi yang sangat hebat karena di desa itu terdapat 21 cluster konveksi. “Ini kan industri level desa tapi barangnya sudah menyebar di seluruh Indonesia,” katanya. 

Tercatat ada 146 pengusaha dengan serapan tenaga kerja mencapai 1.092 orang. Namun, karena produsen tidak mengorganisir diri dan pola penjualan masih konvensional maka hasil yang dicapai tidak maksimal.

Ganjar meminta para pengusaha untuk semakin melek dengan perkembangan era digital saat ini. Menurutnya, pengusaha konveksi bisa memanfaatkan sistem online sebagai strategi marketing.

“Produsen bisa membuat website, bergabung di toko online, atau memanfaatkan Sadewa Mart yang dikelola Pemprov Jateng,” paparnya.

Ia berharap agar produsen konveksi di Rowosari lebih melek teknologi, sehingga rantai penjualannya lebih efektif dan efisien.

Bukan hanya di bidang marketing saja, Ganjar juga meminta produsen lebih kreatif. Jika selama ini hanya membuat celana jeans, produsen perlu melakukan diversifikasi produk.

“Misalnya mereka bisa membuat sarung, tas, atau barang lain berbahan jeans,” kata politisi PDIP ini.

Dikatakan Ganjar, untuk peningkatan produksi diperlukan juga peremajaan alat kerja dan sokongan modal. Untuk permodalan, lanjutnya, produsen bisa menjalin kerja sama dengan lembaga perbankan.

“Misal dengan Bank Jateng melalui program Mitra Jateng. Selain kredit berbunga lunak program ini juga ramah untuk pengusaha,” jelasnya.

Dia yakin dengan tata kelola yang tepat serta pendampingan pemerintah, sentra industri konveksi Rowosari akan bangkit kembali.

Salah satu pengusaha konveksi asal Rowosari, Haji Maskuri mengatakan pada tahun 2000 hingga 2003 pihaknya mampu menjual hingga 500 potong celana jeans per hari. Keuntungan besar diraupnya selain karena order yang banyak juga kondisi ekonomi yang mendukung.

Sedang saat ini, ia hanya mampu menjual maksimal 100 celana jeans dengan harga jual berkisar antara Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu. Maskuri mengatakan jeans merek Navala yang diproduksinya dijual hingga Jakarta, Surabaya, Solo, dan beberapa daerah di Kalimantan.

“Harga kain yang tak menentu, persoalan tenaga kerja juga membuat kami pusing,” paparnya. 

Editor : Ali Muntoha

Ini Kiat Gubernur Ganjar Agar Petani Tak Dikibuli Tengkulak

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat memaparkan tentang regopantes.com, yang dinilai mampu memutus rantai tengkulak. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebut, petani di provinsi ini banyak yang dirugikan oleh para tengkulak. Ia menyebut, tengkulak atau pengepul justru yang mendapat keuntungan hingga berlipat-lipat.

Mantan anggota DPR RI ini menyebut, fakta ini selarasa dengan survei yang dirilis Bank Indonesia, di mana tengkulak pertama bisa meraup keuntungan 100 persen bahkan lebih. Oleh sebab itu, Ganjar menilai pentingnya sistem informasi komoditas pertanian agar dapat mendongkrak nilai tukar petani.

“Perlu sistem informasi pertanian, siapa menanam apa, kapan, dan dimana. Kalau ini bisa, maka kita bisa menghitung. Misalnya kedelai ditanam di Gombong, bisa tahu kapan panennya. Nanti harganya kira-kira berapa,” katanya dalam dialog interaktif di Rumah Dinas Puri Gedeh, Semarang, Selasa (26/9/2017).

Ganjar menambahkan, pemerintah dapat berperan sebagai perantara antara petani dengan konsumennya. Yakni dengan mendata siapa dan berapa konsumen potensialnya.

“Misalnya, koperasi tahu tempe di Jawa Tengah kita data. Kemudian kita menjadi perantara untuk mempertemukan petani dengan siapa penggunanya. Sehingga tidak melalui perantara yang terlalu banyak. Ketika nanti petani kedelai akan panen, siapa nanti yang akan membeli dengan harga yang pantas,” ujarnya.

Ganjar pun memperkenalkan e-commerce bernama regopantes.com, yang memperdagangkan komoditas pertanian berkualitas dari para petani.

Menurutnya, regopantes.com mampu mendorong etika perdagangan komoditas pertanian yang adil atau fair trade, sekaligus memangkas rangtai tengkulak atau pengepul. Di satu sisi, petani ditantang untuk mampu menjual komoditas pertanian unggulan.

Di sisi lain, konsumen memeroleh komdoitas pertanian berkualitas dan membelinya dengan harga yang layak.

“Banyak etika perdagangan yang bisa kita dorong dari jualan online regopantes.com itu. Pertama, petani belajar bagaimana menjaga kualitas produk. Kedua, dari sisi harga yang pantas, maka membeli (komoditas) itu jangan awur-awuran. Hargai kerja keras petani yang luar biasa dengan harga yang bagus,” jelasnya.

Ia mencontohkan, keuntungan yang bisa diraup oleh petani apabila berdagang komoditasnya secara online bahkan bisa mencapai lebih dari 100 persen.

“Ada orang yang membeli cabai merah secara online itu harganya Rp 32.300 per kilo. Itu petani terima bersih keuntungannya Rp 23.300 per kilogram. Harganya lebih bagus 291 persen daripada dia jual ke tengkulak yang hanya Rp 8.000 per kilogram,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Gara-gara Ini Pegawai RSUD Moewardi Solo Belum Gajian

Pegawai di RSUD dr Moewardi Solo tengah bertugas. Gaji mereka terancam tertunda karena belum ada pengganti direktur baru. (Foto : rsmoewardi.com)

MuriaNewsCom, Semarang – Pegawai RSUD dr Moewardi Solo tengah galau, lantaran gaji yang harus mereka terima tiap tanggal 25, belum bisa dicairkan. Ini disebabkan, gubernur Jateng belum mengeluarkan Pengelola Keuangan RSUD setelah Direktur RS milik pemprov tersebut pensiun.

Sementara pelaksana tugas (plt) untuk mengisi kekosongan posisi direktur disebut saat ini tengah sakit dan harus dirawat di Jakarta.

Permasalahan tersebut terungkap dari SE RSUD Dr Moewardi Surakarta Nomor : 017/4.373/2017 tertanggal 15 September 2017.

Isinya tentang Penundaan Pembayaran Gaji Pegawai BLUD dan Jasa Pelayanan. Surat yang ditandatangani Wakil Direktur Keuangan RSUD Dr Moewardi, Syahrudin Hamzah tersebut menyatakan belum adanya penunjukan SK Pengelola Keuangan RSUD dari Gubernur Jateng berdampak belum adanya penunjukan pejabat yang diberi kewenangan sebagai otorisator pengeluaran uang.

Karenanya gaji pegawai BLUD dan Jasa Pelayanan belum bisa dibayarkan sampai terbitnya SK tersebut. Syahrudin Hamzah menuturkan, setiap tanggal 25 pihaknya wajib membayarkan honor atau gaji untuk seluruh pegawai BLUD dan jasa pelayanan

Tapi khusus bulan ini, uang tidak bisa dicairkan karena masih menunggu SK pengangkatan direktur sebagai otorisator keuangan BLUD.

“Saat ini sedang diproses di provinsi. Mudah-mudahan hari ini sudah jadi. Sehingga pas jatuh tempo pembayaran, semua sudah beres,” katanya.

Jika Senin (25/9/2017) hari ini honor tetap belum bisa dicairkan, berarti akan ada keterlambatan satu hingga dua hari ke depan. Setidaknya hingga Pemprov Jateng menerbitkan SK pengangkatan direktur yang baru.

Pihaknya sebenarnya sudah punya firasat bakal ada gonjang-ganjing soal keterlambatan pencairan honor bulan September ini. Karena itu, sebagai antisipasi, dia menerbitkan SE tentang Penundaan Pembayaran Gaji Pegawai BLUD dan Jasa Pelayanan.

Sekretaris Daerah Provinsi Jateng Sri Puryono mengungkapkan, sebenarnya pejabat direktur sudah ditunjuk, yakni Suharto (Wakil Direktur). Namun diperoleh kabar bahwa yang bersangkutan sedang sakit dan harus dirawat di RSCM Jakarta.

”Plt Suharto sedang berhalangan karena sakit, karena itu Pemprov akan segera mengambil alih untuk menunjuk pejabat pengganti,” kata Puryono.

Menurutnya, administrasi dan keuangan di rumah sakit tidak boleh tertunda karena terkait dengan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang sangat vital.

Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi menyayangkan hal tersebut. Menurutnya, hal ini menunjukkan betapa lemahnya pengelolaan Pemprov Jateng.

Menurut dia, permasalahan itu tidak akan muncul jika pemprov langsung menunjuk Plt atau mengangkat Dirut baru saat dirut lama purna tugas.

“Masalah purna tugas itu kan sudah diketahui sebelumnya. Seharusnya juga sudah diantisipasi dan dipersiapkan penggantinya. Jadinya tidak terbengkalai seperti ini,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Pemda di Jateng Belum Berani Utang untuk Bangun Infrastruktur, Padahal Difasilitasi BUMN

Warga di Kabupaten Grobogan membuat jembatan darurat dari konstruksi kayu dan bambu untuk akses penyeberangan. Jembatan darurat diperlukan karena pembangunan jembatan permanen butuh biaya besar. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, menyebut fasilitas pembiayaan untuk pembangunan yang diberikan Kementerian Keuangan melalui PT Sarana Mulit Infrastruktur (SMI) tak begitu laku di Jawa Tengah.

Hal ini dikarenakan pemerintah daerah tak banyak yang berani mengambil program itu, meskipun kebutuhan pembangunan sangat mendesak.

“Ketika anggaran kita sangat sedikit untuk membiayai pembangunan, tapi alternatif pembiayaan pembangunan belum banyak digunakan di daerah. Kementerian Keuangan punya PT SNI untuk pembiayaan infrastruktur, tapi itu belum terlalu laku,” kata Ganjar.

Politisi PDI Perjuangan itu mengaku, juga pernah mencoba menggunakan fasilitas pinjaman itu untuk menggenjot pembangunan di Jateng. Namun, kendalanya justru di DPRD yang tak mau menyetujui.

Padahal menurut dia, masyarakat membutuhkan pembangunan yang bisa dipercepat.

“Kita biasanya masih konvensional. (Anggaran) Lima tahun, dibagi setahun-setahun. Kalau setahun, duitnya segitu ya segitu aja. Artinya, ngutangnya nggak berani. Padahal, kalau kita lima tahun, saya ingin percepat misalnya satu ruas jalan dengan kebutuhan anggaran Rp 10 triliun, dengan mengambil pembiayaan, maka pekerjaan selesai di depan. Utang saya cicil lima tahun. Tapi ini nggak laku,” ujarnya.

Ganjar menduga, pembiayaan infrastruktur belum menjadi pilihan, karena pemahaman kerja sama anggaran yang masih kurang.

Padahal PT Sarana Multi Infrastruktur adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan 100 persen kepemilikan saham Kementerian Keuangan.

PT SMI memainkan peran aktif dalam memfasilitasi pembiayaan infrastruktur, melakukan kegiatan pengembangan proyek dan melayani jasa konsultasi untuk proyek-proyek infrastruktur di Indonesia.

Perusahaan tersebut bertugas mendukung agenda pembangunan infrastruktur pemerintah Indonesia melalui kemitraan dengan lembaga-lembaga keuangan swasta dan atau multilateral dalam skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS).

Dengan demikian, PT SMI dapat berfungsi sebagai katalis dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Seiring dengan rencana pemerintah untuk mentranformasi Perseroan menjadi Lembaga Pembiayaan Pembangunan Indonesia (LPPI), sektor yang dapat dibiayai oleh perseroan saat ini diperluas tidak hanya pada infrastruktur dasar, tetapi juga meliputi infrastruktur sosial.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Pati Haryanto Terima Penghargaan Pelopor Inovasi dari Gubernur Jateng

Bupati Pati Haryanto (kanan) menerima penghargaan pelopor inovasi dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di GOR Jetayu Kota Pekalongan, Jumat (15/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto menerima penghargaan pelopor inovasi dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Penghargaan itu diserahkan di GOR Jetayu Kota Pekalongan, Jumat (15/9/2017).

Selain Kabupaten Pati, ada tiga kabupaten dan kota lainnya yang mendapatkan penghargaan, yakni Kota Magelang, Kabupaten Klaten dan Boyolali.

“Penghargaan ini hanya sebagai penyemangat. Ke depan, produk inovasi dari Kabupaten Pati akan terus dikembangkan. Semuanya untuk warga Pati sendiri,” kata Haryanto.

Dalam pengembangan inovasi, pihaknya sudah menginstruksikan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk mendampingi inovator secara berkelanjutan. Selain itu, para pemenang juga harus didampingi supaya produknya punya manfaat dan dikenal masyarakat luas.

“Ini semakin membuktikan bahwa Pati akan segera menjadi Kota Inovasi. Kami terus mencari bakat-bakar dari inovator muda. Berbagai kompetisi dan lomba akan kami adakan untuk pelajar dan masyarakat luas,” tuturnya.

Dua inovator asal Pati yang mendapatkan dua penghargaan sekaligus adalah Biriski Afrianto dan Muhammad Nur Alim dengan produk pemanfaatan limbah kulit kacang tanah sebagai bioantiseptik. Keduanya mendapatkan juara favorit.

Sementara Teguh Wikan Widodo mendapatkan juara harapan karena produk kopi prebiotik. Teguh dinilai berhasil memperbaiki mutu kopi dengan cita rasa yang enak dan aman bagi lambung.

Editor: Supriyadi

Elpiji 3 Kg Sering Hilang di Pasaran, Ini yang Diinginkan Gubernur Ganjar

Pekerja tengah menata tabung elp0iji 3 kg sebelum didistribusikan ke pengecer. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Kelangkaan elpiji bersubsidi 3 kg di sejumlah daerah di Jawa Tengah, menarik perhatian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ia berharap Pertamina mengubah sistem distribusi, sehingga tak ada permainan atau salah sasaran.

Ganjar meminta agar distribusi gas elpiji tiga kilogram atau biasa disebut gas melon, dilakukan secara tertutup. Dengan sistem ini maka bisa menutup adanya penyalahgunaan gas bersubsidi tersebut.

“Banyak keluhan yang masuk mengenai elpiji. Saya konfirmasi ke Pertamina, katanya justru pasokan gas melon sudah melebihi empat persen dari pasokan biasanya,” katanya.

Menurut dia, jika pasokan sudah ditambah, tapi tetap ada kelangkaan gas, dia menduga ada penyimpangan dalam distribusi gas melon. Apalagi penjualan gas bersubsidi yang semestinya khusus untuk warga miskin itu dilakukan secara terbuka, sehingga rentan terjadi penyimpangan.

Baca : Harga Gas Elpiji di Pati Melambung Tinggi, Bupati Sinyalir Ada Agen Nakal

Untuk mengatasi kelangkaan gas melon, dalam jangka pendek ini gubernur meminta agar dilakukan operasi pasar.

”Untuk jangka pendek, saya minta dilakukan operasi pasar. Dan itu sudah. Kenyataanya, melebihi empat persen dari target yang sudah dialokasikan,” ujarnya.

Untuk solusi jangka panjang, politisi PDI Perjuangan ini menyarankan, agar penjualan gas melon dilakukan secara tertutup, seperti distribusi pupuk bersubsidi.

Masyarakat miskin yang akan membeli, mesti dilengkapi identitas yang membuktikan dia memang benar-benar warga tidak mampu. Tempat membeli gas bersubsidinya pun harus dikhususkan. Jika hal itu direalisasikan, dia optimistis tidak akan lagi terjadi kelangkaaan gas elpiji tiga kilogram.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Elpiji Tembus Rp 25 Ribu, Warga Mejobo Beralih ke Kayu Bakar