Cerita Hidup Ganjar: Saat Kecil Jualan Bensin Eceran dan Terusir dari Rumah

MuriaNewsCom, Semarang – Banyak yang mengenal Ganjar Prawono sebagai politisi yang sukses. Sebelum menjabat sebagai gubernur Jawa Tengah, ia terpilih sebagai anggota DPR RI selama dua periode.

Namun siapa sangka, kehidupan masa kecil Ganjar ternyata juga harus dilalui dengan prihatin. Sewaktu Ganjar masih kecil, ia tak bergelimang harta seperti saat ini. Bahkan ia bersama keluarganya pernah terusir dari rumahnya sendiri.

Ganjar bercerita, saat kecil ia hidup dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya, S Parmudji hanya seorang polisi dengan pangkat rendah. Gaji ayahnya yang tak seberapa, harus digunakan untuk menghidupi istri dan enam anaknya.

Untuk membantu ekonomi keluarga, ibu Ganjar Pranowo, Sri Suparmi harus membuka toko kelontong dan berjualan bensin eceran. Ganjar bersama kakaknya juga ikut membantu berjualan sang ibu.

“Waktu kecil saya bantu jualan bensin. Kulakan angkat jeriken, kalau Lebaran lek-lekan (begadang) sama kakak saya jaga warung,” kenangnya.

Begitu juga kenangan pahit juga membekas ketika Ganjar sekeluarga “terusir” dari rumahnya. Ceritanya, rumah masa kecil Ganjar di Tawangmangu terpaksa harus dijual.

Ayahnya bersepakat dengan pembeli rumah bahwa mereka masih diizinkan menempati sampai mendapat rumah kontrakan. Namun tiba-tiba suatu malam si pembeli meminta keluarga Ganjar pindah karena segera.

Meski merasa dilanggar perjanjiannya, namun ayah Ganjar mengalah. Semalaman hingga subuh ia pergi mencari rumah kontrakan. Akhirnya mereka terpaksa tinggal di rumah yang bersebalahan dengan pabrik gamping.

Ganjar saat syukuran novel Anak Negeri: Kisah Masa Kecil Ganjar Pranowo” di Boyolali. (istimewa)

Kisah masa kecil Ganjar ini telah dirangkum dalam sebuah novel berjudul  “Anak Negeri: Kisah Masa Kecil Ganjar Pranowo”, yang ditulis oleh Gatotkoco Suroso. Peluncuran buku biografi Ganjar ini dilakukan dalam bentuk syukuran di tengah-tengah sawah di Dusun Sawit RT 015/RW 05, Desa Kunti, Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali, Senin (29/1/2018) sore.

Kisah masa kecil Ganjat itu merupakan sebagian isi novel setebal 344 halaman itu.  Bahkan, gaya penulisan sastrawi Gatotkoco dengan sedikit didramatisir di beberapa bagian di luar apa yang dibayangkan Ganjar.

“Presisinya ya 90 persen lah, nama, waktu, dan kronologi persis sama. Cuma beberapa bagian agak didramatisir karena bagaimanapun ini novel. Buku ini ditulis dalam proses yang cukup lama dan penulis melakukan wawancara dan riset langsung teman-teman masa kecil dan keluarga saya,” ujarnya.

Sementara Gatotkoco mengungkapkan, novel ini diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi siapa pun bahwa keterbatasan kondisi ekonomi pada masa kecil tidak perlu menjadi penghalang untuk terus berjuang mencapai cita-cita.

“Terlahir dari keluarga sederhana menjadikan Pak  Ganjar menjalani hidup yang penuh dengan perjuangan. Melalui sang ayah, Parmudji, anak kelima dari enam bersaudara itu terdidik dengan disiplin tinggi,” paparnya.

Buku ini juga telah dijual baik di toko buki Gramedia muaupun dijual secara online seperti di Bukalapak dan Tokopedia.

Sebelumnya, Gatototkoco juga pernah menulis tokoh terkenal lainnya, antara lain Presiden RI Joko Widodo. Kisah Jokowi itu dituangkan melalui buku berjudul Jokowi: Si Tukang Kayu yang terbit pada 2012 silam.

Editor : Ali Muntoha

Temui Presiden soal GTT, Begini Jawaban Jokowi pada Gubernur Ganjar

Presiden RI Joko Widodo. (jatengprov.go.id)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menghadap Presiden Joko Widodo, di Istana Bogor, Rabu (6/12/2017). Dalam acara penerimaan DIPA dan Buku Daftar Alokasi Transfer ke Daerah itu, Ganjar juga menyampaikan keluhan guru tidak tetap (GTT).

Menurut Ganjar, Presiden Jokowi memastikan akan mendorong penyelesaian masalah GTT secepatnya. Menurutnya, presiden juga memiliki komitmen kuat untuk menyejahterakan tenaga pendidik apapun statusnya.

“Sebelum penerimaan DIPA, presiden sudah mengawali dengan briefing soal kesejahteraan guru. Menurut beliau guru menjadi tidak fokus mengajar karena dibebani urusan administrasi yang bertele-tele,” katanya, dihubungi wartawan dari Semarang.

Usai acara, Ganjar menghadap presiden secara khusus untuk membahas GTT. Turut bergabung Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Pendidikan Kebudayaan Muhadjir Effendi.

Dalam pertemuan itu dicapai kesepakatan untuk mempercepat pembahasan peraturan pemerintah tentang pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Saat ini rancangan PP masih berada di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB).

“Presiden akan mengecek langsung RPP itu di Kemenpan dan akan mendorong segera dibahas lalu disahkan. Bola sekarang di Kemenpan,” kata Ganjar.

Sementara, Wapres Jusuf Kalla mewanti-wanti bahwa pengangkatan guru honorer menjadi PPPK harus memenuhi syarat dan kompetensi. Sedangkan menurut Mendikbud Muhadjir, baru ada 3.000 guru honorer yang memenuhi syarat untuk diangkat. 

“Intinya kalau Pak Wapres harus hati-hati, Pak Mendikbud sama. Kalau saya usul yang penting segera mulai prosesnya karena persoalan ini sudah lama berlarut-larut,” terang Ganjar.

Gubernur menambahkan, status GTT saat ini tidak jelas, karena mereka diangkat oleh kepala sekolah yang merasa kekurangan tenaga pengajar. Contohnya di Jateng saat ini kekurangan guru mencapai 49.631.

Namun ternyata keberadaan guru honorer atau GTT ini tidak diakui Kemendikbud. Aturan Kemendikbud, GTT tidak bisa mengikuti sertifikasi, karena tidak memiliki surat pengangkatan dari pemerintah daerah.

Persoalan ini memang lebih banyak mencuat pada GTT SD dan SMP yang jadi kewenangan bupati/walikota. “Karena untuk mengangkat GTT, bupati wali kota tersandera Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 Tahun 2006 yang melarang pengangkatan guru honorer, mereka tidak berani melanggar aturan,” ujarnya.

Sedangkan untuk GTT SMA/SMK saat ini sudah menjadi kewenangan provinsi. Pemprov Jateng telah mengeluarkan peraturan gubernur untuk membayar gaji guru dan pegawai kependidikan non-PNS sesuai upah minimum kota (UMK).

Syaratnya untuk guru harus berijazah sarjana dengan jurusan sesuai mata pelajaran yang diampu (linier),  dan mengajar minimal 24 jam per pekan. Untuk yang belum 24 jam akan diatur sesuai proporsi jam mengajar.

Tercatat jumlah guru SMA/SMK non-PNS dan tenaga kependidikan non-PNS di provinsi Jateng mencapai 14.638 orang. Terdiri atas 7.618 guru wiyata bakti dan 7.020 tenaga pendidikan.

Sebagian kabupaten/kota pun sudah mengadopsi gaji minimal UMK ini. Di antaranya Kota Semarang dan Kota Magelang. Namun banyak daerah yang belum sehingga puluhan ribu GTT kesejahteraannya tidak terjamin.

Editor : Ali Muntoha

Anggaran Infrastuktur Pemprov Dikurangi, Kemiskinan Jadi Prioritas

Perbaikan jalan di Kecamatan Kedung, Jepara, beberapa waktu terakhir. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Peningkatan infrastruktur tak lagi menjadi hal utama Pemprov Jawa Tengah dalam APBD 2018 mendatang. Hal ini disebabkan, sebagian infrastuktur jalan di provinsi ini yang kondisinya baik sudah mencapai 89 persen.

Prioritas utama pemprov dalam anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2018 kini lebih diutamakan pada pengurangan angka kemiskinan.

Meski demikian, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memastikan, jika maslah infrastruktur masih menjadi priorotas. Hanya saja porsinya yang dikurangi.

“Prioritasnya masih penanggulangan kemiskinan, infrastruktur juga masih (prioritas). Tapi kita meratakan dengan tanggung jawab baru kita, yaitu pendidikan untuk menjadi pertimbangan,” katanya dikutip dari website resmi Pemprov Jateng, Sabtu (2/12/2017).

Menurutnya, pergesera-pergeseran alokasi anggaran diterapkan pada APBD 2018, hanya saja tidak terlalu banyak berubah dari APBD 2017. “Ini karena menyesuaikan RPJMD yang kita siapkan,” terangnya.

Ganjar menjelaskan, meski masih merupakan program prioritas, namun alokasi anggaran untuk infrastruktur sedikit berkurang. Karena saat ini jalan provinsi kondisinya 89 persen sudah baik.

“Infrastruktur berkurang karena jalan provinsi itu 89 persen sudah baik. Mudah-mudahan tidak kena bencana,” katanya.

Sementara untuk program pengentasan kemiskinan harus dilandasi dengan single data yang valid. Selain itu, rehab rumah tidak layak huni (RTLH) gencar dilakukan.

“(Rehab) RTLH nggak cukup kalau hanya dari anggaran kita. Kabupaten menyediakan, pusat menyediakan, Baznas menyediakan, CSR menyediakan. Kita dorong semuanya. Termasuk bantuan-bantuan dari publik atau masyarakat dilakukan. Bahkan, dana desa kita dorong untuk percepatan,” ujarnya.

Belanja daerah Pemprov Jateng pada 2018 sebesar Rp 24,971 triliun, terdiri atas belanja tidak langsung Rp 18,341 triliun atau 73,44 persen. Namun Ganjar memastikan, dari jumlah tersebut yang digunakan untuk gaji pegawai hanya Rp 6,021 triliun.

Selebihnya untuk hibah Rp 5, 619 triliun, bantuan sosial Rp 48,39 miliar, bagi hasil kepada kabupaten/kota Rp 4,589 triliun, bantuan keuangan pemkab/pemkot/ pemdes Rp 2,043 triliun, serta biaya tidak terduga Rp 20 miliar.

Sementara belanja langsung pada 2018 dianggarkan sebesar Rp 6, 630 triliun atau 26, 56 persen dari total belanja daerah. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai program dan kegiatan prioritas.

Garis besar alokasi anggaran belanja ditujukan untuk urusan wajib di bidang pendidikan dan kebudayaan Rp 5,721 triliun, urusan bidang kesehatan Rp 2,244 triliun.

Selain itu, juga urusan wajib bidang pekerjaan umum dan penataan ruang Rp 1,219 triliun, urusan perumahan rakyat dan kawasan permukiman yang dialokasikan pada Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Rp 35,29 miliar. Urusan ketentrama, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat Rp 98,30 miliar.

Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi menambahkan, legislatif juga mendorong Pemprov Jateng mempercepat pengentasan kemiskinan di daerah. “Kami selalu menyuarakan agar Jawa Tengah kesejahteraan terus ditingkatkan, kemiskinan harus ditekan. Itu prioritas kami,” tuturnya.

Rukma menjelaskan, alokasi anggaran untuk kepentingan kebencanaan sudah dipersiapkan secara proporsional pada APBD TA 2018.

“APBD kita cadangkan, tapi kami tidak berharap itu digunakan. Tapi sudah kita siapkan dan itu cukup. Sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan untuk pelaksanaannya saya rasa tidak masalah,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Ngontel Sepeda dari Semarang ke Demak Hanya untuk Bersihkan Rumput

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ikut membersihkan rumput di pinggiran sungai menggunakan sabit. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Demak – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Jumat (1/12/2017) pagi sekitar pukul 06.00 WIB, sudah keluar dari rumah dinas gubernur di Puri Gedeh, Semarang. Ia keluar tak naik mobil, melainkan gowes sepeda.

Orang yang melihat pasti mengira Ganjar hanya sedang olahraga di hari libur. Ternyata, Ganjar ngontel sepeda sampai ke Demak. Jarak sejauh 37 kilometer ia tempuh dengan sepeda, hanya untuk ikut kerja bakti membersihkan sungai dan saluran air.

Dari Semarang Ganjar menuju Kodim Demak, di mana lokasi awal kerja bakti dilakukan. Di lokasi, sudah menunggu Bupati Demak M Natsir dan ratusan pedagang kaki lima.

Kerja bakti bersih sungai itu merupakan gagasan Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Demak dan Asosiasi UMKM Demak. 

Kerja bakti dimulai saat itu juga dengan menyisir sampah, rumput, dan eceng gondok di sepanjang Sungai Tuntang. Puluhan anggota TNI dari Kodim Demak turut membantu.

“Saya dapat undangan via WA (WhatsApp) dari APKLI. Saya pikir ini bagus karena momennya sedang musim hujan jadi tepat kalau bersih sungai. Karena tidak terlalu jauh ya sekalian saja sepedaan,” kata Ganjar.

Politisi PDI Perjuangan ini menyatakan, seluruh masyarakat harus turut mengantisipasi bencana banjir . Menurutnya, kepedulian warga Jawa Tengah sudah cukup bagus. Meski kadang manusia tidak bisa mencegah datangnya bencana karena kekuatan alam.

“Siklon Tropis Cempaka sudah mengakibatkan banjir dan longsor di Klaten dan WOnogiri. Dua daerah itu sudah ditetapkan status darurat bencana, kita sudah back up full dari BPBD Jateng dan kabupaten kota untuk logistik,” katanya.

Selain itu, Pemprov Jateng melalui BPBD Jateng sudah mengkoordinasikan seluruh kekuatan untuk mengantisipasi bencana yang akan datang. Konsolidasi BPBD, relawan bencana, SAR, dan Palang Merah Indonesia sudah dilakukan.

“Manajemen penanganan bencana kita sudah bagus. Ketika ada satu daerah terkena, kabupaten tetangganya langsung bergerak membantu, jadi tidak perlu menunggu dari pusat,” paparnya. 

Sementara Bupati Demak, M Natsir menuturkan, pihaknya sudah melakikan antisipasi bencana secara menyeluruh di Kabupaten Demak. “Hujan kan cuma pemicu, bukan satu-satunya penyebab banjir, kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarang juga bisa sebabkan banjir. Jadi, kesadaran menjaga lingkungan juga harus ditingkatkan,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Hibur Warga Pati dengan Main Ketoprak Bareng Forkopimda

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (tengah) memerankan sebagai Panembahan Senopati dalam pagelaran ketoprak di Alun-alun Pati, Jumat (24/11/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ikut bermain ketoprak bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Pati di Alun-alun Pati, Jumat (24/11/2017) malam.

Dalam pagelaran ketoprak Projo Budoyo yang mengambil lakon “Sumilaking Pedhut ing Bumi Mataram” tersebut, Ganjar mengambil peran sebagai Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram.

Sementara Bupati Pati, Haryanto memerankan Ki Papuan dan Wakil Bupati Pati Saiful Arifin memerankan Patih Sandang Rogo. Ada pula Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan yang berperan sebagai Ki Ageng Gondang Rejo dan Dandim 0718/Pati memerankan Ki Ageng Kali Jambe.

Sejumlah bintang tamu yang hadir, di antaranya Yati Pesek, Gareng Semarang, dan Ki Dalang Warseno Slank. Penampilan mereka di atas panggung menarik perhatian lebih dari seribu penonton.

“Ketoprak selain berfungsi sebagai tontonan, juga memberikan tuntunan kepada masyarakat. Saya berharap, kesenian ketoprak di Kabupaten Pati terus lestari,” ujar Ganjar.

Sementara Haryanto menuturkan, pagelaran ketoprak yang diikuti pejabat Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pati itu, menjadi bagian dari upaya untuk nguri-uri tradisi dan kebudayaan Jawa, terutama ketoprak.

Menurutnya, seni ketoprak bisa memberikan edukasi di tengah perkembangan globalisasi yang begitu pesat. Melalui pelestarian ketoprak, Haryanto menilai budaya adiluhung Jawa tidak akan punah.

Saiful Arifin menambahkan, Pati selama ini dikenal dengan budaya ketopraknya. Di saat daerah lain sudah mulai melupakan ketoprak, warga Pati masih terus eksis menghadirkan pagelaran ketoprak pada even tertentu seperti sedekah bumi, mantu, sunatan, dan tradisi lainnya.

Karena itu, dia mengajak kepada masyarakat Pati untuk terus mencintai kesenian dan budaya Jawa. Sebab, bangsa yang hebat tidak akan pernah melupakan budaya, jati diri dan kearifan lokal yang dimiliki.

Editor : Ali Muntoha

Ibu Hamil Kembar 4 di Semarang Ini Ngidam Perutnya Dielus Gubernur Ganjar

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengelus perut ibu yang hamil kembar 4 di RSUP dr Kariadi Semarang, Kamis (23/11/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Seorang dokter bernama Silvia Julianti tengah menjalani perawatan di RSUP dr Kariadi Semarang. Ia mengandung empat janin bayi kembar di dalam perutnya.

Satu bayinya telah lahir prematur pada Sabtu (18/11/2017) lalu. Sayangnya, bayi berjenis kelamin laki-laki itu hanya bertahan hidup dua hari dan kemudian meninggal dunia.

Kini masih ada tiga janin yang dikandung dan menunggu kelahiran. Hingga Kamis (23/11/2017) Silvia masih menjalani perawatan di rumah sakit. Dan hari ini Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menjenguk istri Agus A Mile, yang juga seorang dokter itu.

Kedatangan Ganjar ternyata untuk memenuhi keinginan Silvia Julianti, yang ngidam ingin perutnya dielus Ganjar Pranowo. Sebelumnya Agus memang memention akun Ganjar @ganjarpranowo mengenai keinginan istrinya tersebut.

“Istri saya nyeletuk katanya pengen deh dielus sama Pak Gub. Lalu saya tanya Pak Gub siapa? Dia jawab ya Pak Gubernur Ganjar. Akhirnya ya sudah saya mention di twitter. ternyata kok benar-benar di respon sama Pak Gub, kami kaget dan bahagia sekali,” katanya.

Agus menyebut, sudah menggu kehadiran buah hati sejak delapan tahun terakhir melalui program bayi tabung di Jakarta. Agus menceritakan, ia dan istrinya sudah berupaya untuk mendapatkan keturunan dengan berbagai cara dan baru terwujud sekarang.

“Kami ikut program, dan ada embrio empat yang jadi. Dokter bingung mau pasang dua atau empat. Soalnya kalau dua cuma 10 persen kemungkinan berhasil, kalau empat 30 persen. Makanya dokter masukkan empat. nggak tahunya jadi semuanya,” ujar warga asal Tegal ini.

Dari keempat janin itu sudah ada satu janin yang lahir prematur dan hanya bertahan dua hari. Kini ketiga janin yang masih ada sudah berusia 27 pekan dalam kandungan. Oleh dokter, diupayakan agar tiga janin bisa dilahirkan sekitar 1,5 bulan lagi, agar pertumbuhan janin lebih maksimal.

Saat ditengok Ganjar, pasangan suami istri itu kemudian meminta agar Ganjar memberikan nama pada ketiga janin yang diperkirakan dua berjenis kelamin laki-laki dan satu perempuan.

Ganjar kemudian menyarankan tiga nama yakni Anjar, Anjani dan Arjuna. Ganjar juga diminta untuk memegang perut Silvia dan mengucapkan doa.

“Bismillahirrahmanirrahim, mudah-mudahan anak lahir selamat, sehat, jadi anak soleh solehah, berguna untuk keluarga, bangsa, semuanya. Ojo kesusu lahir (jangan buru-buru lahir), satu setengah bulan lagi, sabar nggih,” kata Ganjar.

Usai menjenguk Silvia,  Ganjar juga menyempatkan ke ruang pasien bersalin lain. Ibu-ibu muda yang ditemuinya banyak yang tak menyangka gubernur datang. Ganjar sempat menggendong salah satu bayi milik pasangan asal Gunungpati Kota Semarang.

Editor : Ali Muntoha

Gubernur Lantik Bupati Cilacap Bareng Wali Kota Pekalongan

Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Cilacap serta Wali Kota Pekalongan oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang –Tatto Suwarto Pamuji dan Syamsul Auliya Rachman dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupai Cilacap periode 2017-2022. Pelantikan dilakukan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, bersamaan pelantikan Wali Kota Pekalongan H M Saelany Machfudz.

Pelantikan dilakukan di Gedung Gradhika Bhakti Praja, kompleks Kantor Gubernuran Jawa Tengah, Minggu (19/11/2017) sore.

Ganjar mengambil sumpah yang dilanjutkan dengan pemasangan tanda jabatan, penyematan jabatan dan penyerahan keputusan Mendagri. Usai dilantik Bupati dan Wakil Bupati Cilacap serta Walikota Pekalongan menandatangani pakta integritas.

Ganjar Pranowo berpesan kepada pemimpin CIlacap yang baru untuk lebih waspada dengan adanya bencana yang bisa terjadi di masa musim hujan. Terutama bencana banjir, yang akhir-akhir ini terjadi.

Selain itu, Kabupaten Cilacap saat ini menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Tengah bagian selatan, bersama dengan Kabupaten Banyumas.

“Untuk itu, dalam pelaksanaan pembangunan ke depan, harus ada inovasi yang konkrit dari para pimpinan daerah ini, sekaligus untuk pengentasan kemiskinan,” ujarnya.

Ganjar mengatakan, jika pengelolaan keuangan dilakukan secara linier atau tergantung dengan pendapatan yang ada selama ini, dan dibelanjakan secara dicicil, maka terobosan yang dilakukan akan sulit.

Gubernur juga berpesan agar dalam mengembangkan reformasi birokrasi dengan mendahulukan integritas. Pemprov Jawa Tengah siap membantu, apabila ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan cepat bisa dilaporkan ke pemprov, bahkan bisa memfasilitasi dengan pimpinan pusat.

“Mudah-mudahan pelantikan hari ini bsia membawa perubahan menjadi lebih baik lagi bagi Cilacap dan Kota Pekalongan demi kesejahteraan masyarakat,” ujar Gubernur.

Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Cilacap dan Walikota Pekalongan, dihadiri oleh Forkopimda Porovinsi Jateng, para Ketua Partai Politik, Sekretaris Daerah dan jajaran Provinsi Jawa Tengah, Forkopimda Cilacap, Pekalongan, SKPD, tokoh Agama, tokoh masyarkat, pengurus PKK dan Dekranasda di Kabupaten Cilacap dan Pekalongan. 

Editor : Ali Muntoha

Ada Siswa Kirim Kartu Pos ke Ganjar Minta Didoakan Langgeng dengan Pacar

Salah satu isi kartu pos ucapan ulang tahun yang dikirimkan siswa dari Purworejo kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Ganjar Pranowo berulang tahun ke 49, pada 28 Oktober 2017, atau tepat bersamaan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Meski sudah lewat hari, namun masih banyak ucapan ulang tahun yang datang.

Baik melalui media sosial, telepon, SMS hingga kartu pos. Rabu (15/11/2017) hari ini, Ganjar bahkan menerima 300 kartu pos ucapan selamat ulang tahun. Kartu pos itu dikirim siswa-siswi dari SD dan SMP di Purworejo.

Seluruh kartu pos itu berisi tulisan tangan yang memberikan ucapan selamat, dan doa kepada Ganjar. Selain memberikan ucapan, ada juga yang justru meminta kepada Ganjar agar didoakan hubungannya dengan pacar bisa langgeng.

Permintaan ini datang dari seorang siswa SMPN 22 Gebang, berinisial TH. Ia meminta doa restu agar hubungannya dengan seseorang bernama Resita langgeng seumur hidup.

Selain itu juga meminta didoakan agar sukses menjadi seorang atlet bulu tangkis terkenal dan menjadi anak yang berbakti pada orang tua.

Sementara Nur Mukhafado, siswa SMP 22 Purworejo yang mengaku berasal dari Puspo, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, meminta adanya pengaspalan jalan di daerahnya.

“Ingin jalan kami dibangun menjadi aspal karena jalan kami sangat jelek, jalan kami ini sangat susah untuk dilewati saat hujan dan banyak orang yang jatuh dari kendaraan motor,” tulisnya.

Selain soal pembangunan jalan, ada juga permintaan para siswa agar di Purworejo dibangun mal, waterboom untuk menarik wisatawan, hingga minta diperbolehkannya angkutan online di daerah itu. Ucapan yang disampaikan ini menggunakan bahasa sederhana sehari-hari yang mengesankan bahwa para siswa ini dekat sekali dengan sosok Ganjar Pranowo.

Ada lagi kartu ucapan dengan isi yang menarik, bahkan bisa membuat senyum-senyum yang membacanya. Kartu itu datang dari siswa SD N Bugel Purworejo bernama Fajar Wahyu Nugroho.

Pada kartunya,  Fajar mengatakan bahwa hari ulang tahun Ganjar sama seperti hari ulang tahun temannya. Bahkan ia mengatakan sangat menyukai sosok gubernur Ganjar yang dinilai lucu dan imut.

“Bapak ulang tahunnya seperti teman saya yang bernama Rafli Ramadan, saya cita-citanya menjadi masinis dan saya senang kepada pak Ganjar lucu dan imut,” tulis Fajar di kartu tersebut.

Ganjar sendiri menyempatkan membaca kartu-kartu yang diterimanya. Ia mengaku senang dan kartu-kartu para siswa itu menjadi hadiah istimewa untuk ulang tahunnya kali ini.

Ia pun mengatakan akan menyempatkan waktu untuk membalas kartu ucapan dari para siswa itu.

“Ada doa, harapan permintaan dan ada yang lucu-lucu juga. Senang ya, dan tentu saya mengucapkan terima kasih. Ini hadiah istimewa, saya akan berusaha untuk membalas kartu-kartu itu, tapi mohon maaf mungkin nggak semuanya bisa dibalas,” ucap Ganjar. 

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Terjebak Lumpur Hutan saat Temui Warga Jateng di Transmigran

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat mengunjungi transmigran asal Klaten di Nagari Padang Tarok Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Minggu (4/11/2017) kemarin mengunjungi warga asal Jateng yang transmigrasi di Nagari Padang Tarok, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Untuk mencapai lokasi transmigran yang berada di tengah hutan itu ternyata tak mudah. Ganjar harus menempuh waktu enam jam dari Kota Padang. Jalan yang dilewati sebagian besar hanya jalan tanah berbatu dengan tanjakan tajam.

Jalan tanah ini yang menjadi sangat berbahaya ketika turun hujan. Dan benar saja, ketika hendak meninggalkan lokasi pukul 17.30 hujan turun sangat deras.

Wali Nagari Padang Tarok menawarkan rombongan menginap, karena jalanan berupa tanah sangat berbahaya. Namun ditolak karena Ganjar harus segera menuju ke Jakarta.

Benar saja, jalan tanah itu berubah jadi lumpur. Meskipun sudah menggunakan mobil SUV 4×4, namun jalan ini tak mudah dilalui. Kekhawatiran sang wali nagari pun terjadi. Mobil Fortuner yang ditumpangi Ganjar terperosok lubang. Bannya ambles, terjebak di kubangan lumpur.

Celakanya, mobil petugas polisi dan satpol PP dari Sijunjung yang mengawal rombongan juga ikut terperosok lubang. Di tengah kebingungan, sejumlah warga setempat datang dan menolong.

Rupanya, salah satu dari mereka mengenali Ganjar. “Lho Pak Ganjar Pranowo? Kok sampai sini pak,” katanya.

Tapi tentu saja tidak banyak dialog mengingat kondisi yang darurat. “Karena kondisi hujan deras dan gelap, alat pun terbatas, butuh waktu setengah jam untuk evakuasi. Dari 9 mobil, ada 3 yang terpaksa ditinggal. Kami sampai hotel di Padang lewat tengah malam,” kata Vino Devanta, ajudan Ganjar.  

Sementara saat kunjungan di lokasi transmigrasi itu, Ganjar menjumpai 20 warganya yang seluruhnya berasal dari Klaten. Kedatangan gubernur ini disambut dengan ceria. Tak hanya bersalaman, sebagian langsung memeluk gubernur berambut putih itu.

Turut mendampingi Bupati Sijunjung Yuswir Arifin dan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jateng Wika Bintang.

Ganjar meninjau lokasi transmigrasi yang sudah dihuni warga sejak 11 bulan silam. Selain mendapat lahan garapan seluas 2 hektare, warga juga mendapat subsidi beras dan sembilan bahan pokok lain.

Total ada 112 warga transmigran di Padang Tarok. Selain 20 jiwa asal Jateng, juga ada 17 jiwa dari Kulonprogo Yogyakarta dan warga dari Kabupaten Agam yang rumahnya hancur akibat gempa bumi.

Seorang warga, Ribut Junaidi, mengatakan, lahan dua hektare ia tanami bermacam tanaman. Dari ketela, kacang, sawi hingga palawija. “Bibite mbeta saking Jawi, lha niku ingkang didahar pak gub nggih pohung hasil panen (Bibitnya bawa dari Jawa, itu yang dimakan pak gub ya ketela hasil panen),” katanya.

Dialog berlangsung meriah dan penuh canda tawa dalam bahasa Jawa. Warga juga mengadukan ke Ganjar soal buruknya sinyal telepon di lokasi itu.

Suasana semakin ramai ketika bupati Sijunjung nyeletuk. Ia protes tidak mengerti pembicaraan karena dialognya menggunakan bahasa Jawa. “Nanti saya translate pak bupati,” kata Ganjar disambut tawa hadirin.

Selain soal sinyal, beberapa warga juga mengeluhkan masih terbatasnya penerangan dan jalan yang buruk.

Senin (6/11/2017) pagi Ganjar sudah berada di Jakarta. Ia mengatakan, kunjungan tersebut selain bersilaturahmi juga untuk memastikan sendiri kondisi warga transmigran.

“Masih ada beberapa keluhan dan hari ini saya menandatangani perjanjian dengan Kementerian Desa untuk perbaikan infrastruktur di lokasi transmigrasi,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Provinsi Jateng Bakal Bikin Perda Pencegahan Korupsi

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berfoto bersama para bupati/wali kota se-Jateng saat mengikuti workshop di KPK. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan DPRD Jateng untuk menyusun rancangan peraturan daerah (raperda) tentang pencegahan korupsi.

Raperda ini bakal dikebut dan diupayakan rancangan perda ini bisa masuk dalam Program Legislasi Daerah (Prolegda) DPRD Jateng tahun 2018.

Ini dikatakan Ganjar saat berbincang dengan Ketua KPK Agus Rahardjo, saat memimpin bupati dan wali kota se-Jateng untuk mengikuti Workshop Pembangunan Budaya Integritas di Gedung KPK, Selasa (31/10/2017).

Pada saat itu, Agus mengatakan bahwa sistem pencegahan korupsi di Jateng yang digagas Ganjar dipandang paling bagus dibanding pemerintah daerah lain. Namun sistem itu perlu dilembagakan untuk menjamin keberlangsungan di masa yang akan datang.

“Pak Agus (Ketua KPK Agus Rahardjo) memandang pembangunan integritas antikorupsi di Jateng bagus maka sistem ini perlu dimantabkan dengan regulasi. Bentuknya yang pas ya perda,” katanya dalam wawancara dengan wartawan.

Dalam perda tersebut menurut Ganjar akan dimasukkan beberapa poin penting. Di antaranya kewajiban laporan harta kekayaan pejabatan negara (LHKPN), ketentuan pengelolaan gratifikasi, dan pembentukan komite integritas.

Selain itu penting juga memasukkan perbaikan sistem di sektoral. Terutama pengelolaan keuangan daerah, agar transparan dan akuntabel. “Juga bagaimana pelayanan publik yang mudah murah cepat,” ujarnya.

Rencana perda pencegahan korupsi tersebut oleh Ganjar langsung disampaikan kepada Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi. Rukma yang juga berada di KPK sebagai peserta workshop langsung menyetujui. “Saya tawarkan ke DPRD langsung disetujui jadi prinsipnya ok,” katanya.

Ganjar menyebut, jika bisa diselesaikan pada 2018, maka Provinsi Jateng akan menjadi yang pertama memiliki perda pencegahan korupsi. “Semoga bisa langsung jadi raperda prioritas 2018 sehingga awal tahun depan bisa langsung dibahas,” terangnya.

Kendati demikian, Ganjar tak menjamin perda itu akan membuat Jateng 100 persen bebas korupsi. Karena menurut dia, korupsi tidak hanya bergantung sistem tapi perilaku manusia.

“Ini ibaratnya seperti menanam padi. Kita menanam kebaikan-kebaikan itu pasti ada rumput liarnya, maka jangan lelah menyiangi,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Gubernur Ganjar : Pemuda Jadi Petani Modern Itu Keren

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mencoba melakukan tanam padi menggunakan transplanter di Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak (30/10/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Demak –  Profesi menjadi petani saat ini cenderung dijauhi oleh para pemuda. Mereka lebih memilih menjadi seorang pegawai, PNS atau lainnya.

Kondisi ini dijawab Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dengan menggencarkan upaya modernisasi pertanian. Peralatan pertanian hingga pengolahan lahan diarahkan menggunakan alat-alat modern, sehingga anak muda tertantang menggeluti bidang pertanian.

Ini dikatakan Ganjar saat melakukan tanam padi perdana menggunakan transplanter di Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak (30/10/2017).

“Penggunaan alat modern ini akan memudahkan petani, anak-anak muda jadi mau bertani,” katanya.

Mantan anggota DPR RI ini meminta para pemuda untuk tak ragu menggeluti bidang ini. Karena menurut dia, menjadi petani bisa tetap keren.

“Dari 4 orang yang gunakan transplanter tadi, salah satunya masih muda, dia merasa bertani-nya lebih mudah dan menarik. Dengan transplanter, menanam bisa lebih cepat, ini kan juga bentuk dorongan agar anak muda berkiprah di pertanian,” katanya.

Jika dulu, menjadi petani seringkali dianggap sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat terutama generasi muda, paradigma itulah menurutnya yang perlu diubah. Hal ini agar ada generasi-generasi baru sehingga pertanian di Indonesia bisa semakin maju.

Modernisasi yang dilakukan ungkapnya bukan hanya terkait dengan pengolahan lahan, namun juga pendataan dan penyaluran bantuan yang dilakukan secara modern.

Salah satunya melalui Kartu Tani yang dilengkapi dengan sejumlah data seperti luas lahan, jenis tanaman dan kebutuhan pupuk bagi setiap petani.

Data-data itu menurut Ganjar menjadi sangat penting agar penyaluran pupuk bersubsidi sesuai dengan waktu dan tepat sasaran. Jika semua data bisa terlihat melalui Kartu Tani, petani tidak akan kesulitan mendapatkan pupuk.

“Kan ada data tanamnya, jadi kami tahu. Ketika masa pemupukan atau dua pekan setelah penanaman akan dipastikan pupuk bersubsidi tersedia,” terangnya.

Bukan hanya tentang penyaluran pupuk, data pada kartu tani juga akan memberikan gambaran jumlah panen di masing-masing daerah. Hal ini ungkapnya penting guna memprediksi hasil panen dan agar petani bisa mendapatkan harga yang tinggi saat panen.

“Jadi kan bisa tahu, tanam berapa hektare, yang kena hama semisal berapa, jadi bisa diprediksi kapan panen dan jumlahnya berapa di tiap daerah,” tambahnya.

Editor : Ali Muntoha

Ribuan Pemuda Ini Rela Basah Kuyup Diguyur Hujan Bersama Ganjar Demi Sumpah Pemuda

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo basah kuyub terkena hujan saat menjadi inspektur upacara Hari Suimpah Pemuda bersama ribuan pelajar di Alun-alun Cilacap, Sabtu (28/10/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Cilacap – Ribuan pemuda dari berbagai daerah di Jawa Tengah rela basah kuyup akibat guyuran hujan deras, untuk mengikuti Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 tingkat Jawa Tengah di Alun-alun Cilacap, Sabtu (28/10/2017).

Meski hujan turun sangat deras, para pemuda itu tetap berbaris rapi di tengah alun-alun bersama Gubernur Ganjar Pranowo yang menjadi inspektur upacara.

Hujan sudah mulai turun sejak pagi sebelum upacara dimulai. Ketika Ganjar tiba di pendapa Kabupaten Cilacap pukul 08.00 WIB hujan belum juga reda. Protokoler sudah menyiapkan pendapa sebagai lokasi upacara, mengingat banyak tamu undangan dari kalangan pejabat dan muspida.

“Dari bagian protokoler sudah menyiapkan mic, sound, dan lay out di pendapa karena hujan sangat deras,” kata Kabag Humas Setda Provinsi Jateng Lilik Henry.

Tapi gubernur berpikiran lain. Ia tetap memerintahkan upacara di lapangan meski langit masih hitam dan hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan reda.

Mendengar komando, seribuan peserta upacara pun berhamburan ke alun-alun. Bahkan tamu undangan yang terdiri dari pejabat Pemprov Jateng dan Kabupaten Cilacap, serta pejabat TNI, Polri, kejaksaan, pengadilan dan anggota dewan diharuskan turun juga di lapangan.

Baca : Tak Punya SIM Pelajar di Pati Ini Tak Ditilang, Tapi Dihukum Begini

Awalnya mereka menempati tenda kehormatan. Ganjar dengan gesture tangan memberi kode agar seluruh tamu undangan keluar tenda dan ikut hujan-hujanan.

Di tengah hujan, upacara pun berjalan sebagaimana biasa. Dari laporan pimpinan upacara, pengibaran bendera merah putih, pembacaan Pancasila, pembacaan sambutan menteri pemuda dan olahraga, dan seterusnya masih dalam kondisi hujan.

Dalam kondisi basah kuyub, Ganjar membacakan sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga. Ia mengakhiri pembacaannya dengan satu kalimat tambahannya. “Pemuda Indonesia tak akan gentar hanya karena hujan!,” pekiknya.

Hujan baru mulai reda ketika pembacaan doa. Selesai upacara, tanpa ganti baju Ganjar melanjutkan dengan penyerahan penghargaan, bantuan, dan beasiswa pada pelajar, pemuda, dan masyarakat.

Hingga pukul 10.00 pada gelaran tari kolosal, seluruh peserta upacara masih tetap berada di lapangan dengan pakaian basahnya.

Editor : Ali Muntoha

Pemprov Jateng Kembangkan Jaring Pengganti Cantrang Karya Nelayan Batang

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyalami nelayan asal Batang pencipta jaring pengganti cantrang. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Pekalongan – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo terpikat dengan jaring bernama Apollo dan Kelelawar karya nelayan asal Batang, Aziz Tarsono. Bahkan Ganjar memerintahkan agar jaring pengganti cantrang itu dikembangkan lebih lanjut.

Hal ini dikatakan Ganjar ketika membuka Pameran Produk Inovasi 2017 di Gelanggang Olahraga Jetayu Kota Pekalongan, Jumat (15/9/2017).

Ganjar memerintahkan Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Pemprov Jateng untuk mengembangkan jaring karya Aziz itu agar bisa diterapkan secara efektif.

“Tolong didalami yang cantrang, apakah bisa dihilirisasi. Kalau bisa dicangkokkan, diproduksi agar teman-teman kita nelayan bisa segera bermigrasi dari cantrang,” kata Ganjar.

Ganjar kepincut setelah melihat demo prototype jaring karya warga Dukuh Sulur RT 04 RW 05 Kelurahan Karangasem Utara, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang tersebut.

Yang membuat Ganjar semakin tertarik karena jaring Aziz hanya membutuhkan biaya produksi di bawah Rp 50 juta. Namun konstruksi yang dibuat Aziz baru mencakup kapal berukuran 10 hingga 30 GT (Gross Ton).

“Coba dirancang untuk kapal di bawah 10 GT. Kalau bisa bagus kita kembangkan, apalagi biaya produksinya murah sekali dibandingkan jaring lainnya,” terangnya.

Aziz menyebut, jaring ini lebih ramah lingkungan, hemat bahan bakar hingga 80 persen, hasil tangkapan yang lebih baik, lebih praktis dan efektif serta yang pasti bisa dikembangkan lagi dengan teknologi yang lebih modern.

“Ini baru diuji coba di kolam dan hasilnya memuaskan. Bisa menggantikan cantrang karena hasil tangkapannya sangat banyak, tanpa merusak terumbu karang dan hanya menangkap ikan besar,” kata Aziz.

Inovasi jaring tersebut dibuatnya sejak 2015. Diberi nama Apollo dan Kelelawar karena memiliki bentuk yang seperti pesawat luar angkasa serta sayap binatang kelelawar. 

Editor : Ali Muntoha

Bilang Pengen Jadi Hacker, Santri di Jepara Ini Diberi Jam Tangan Spesial dari Ganjar

Fikri Muhammad Yusuf (kiri) menunjukkan jam tangan pemberian Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat berfoto bersama orang nomor satu di Jateng itu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Fikri Muhammad Yusuf, santri mahasiswa di Pondok Pesantren Mahat Ali Balekambang, Jepara, Sabtu (26/8/2017) mendapat hadiah spesial dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Spesial karena, hadiah yang diberikan yakni jam tangan koleksi Ganjar yang saat itu dikenakannya. Jadi bukan jam tangan doorprize, melain jam digital bermerk Garmin. Penyebabnya, karena Fikri menyatakan ingin jadi hacker.

Ini terjadi ketika Ganjar melontarkan pertanyaan kepada Yusuf tentang bagaimana seorang santri seperti Yusuf melawan berkembangnya ujaran kebencian dan ajakan radikalisme yang merebak di sosial media.

Jawaban Yusuf justru kocak, dan membuat orang yang hadir di sarasehan pondok pesantren itu tertawa terbahak-bahak.

“Pertama-tama sebelum berbuat saya akan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim. Kedua saya akan meminta masukan pada para sesepuh dan juga pak Ganjar,” ujarnya yang kembali disambut tawa.

Ganjar pun menimpali. “Lho maksudku kamu, apa yang menurutmu bisa dilakukan,” kata Ganjar.

Beberapa sat Yusup berpikir, dan kemudian berteriak lantang ingin jadi hacker. “Dengan jadi hacker saya akan melawan dan menghancurkan situs dan akun penyebar berita hoax dan radikalisme,” tegasnya.

Berikutnya, Yusuf akan menggalang teman-temannya menjadi pasukan penyebar ujaran baik dan sopan di dunia maya. “Kalau ada yang bertengkar, kami akan menengahi dengan kalimat-kalimat islami dan sopan,” kata dia.

Ganjar mengacungi jempol. Ia meminta Yusuf berjanji benar-benar melakukan apa yang diucapkannya itu. “Yawes ini tak kasih jam, pas nggak bawa hadiah ya sudah ini saja,” kata Ganjar seraya mencopot jam tangan dari lengan kirinya.

Suasana berubah menjadi riuh. Ribuan santri bersorak dan bertepuk tangan. Yusuf senang bukan kepalang. Ia menerima jam digital merk Garmin berwarna hitam itu kemudian langsung mengenakannya di pergelangan tangan kiri. “Terimakasih pak gubernur,” katanya berulang-ulang.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Terperanjat Lihat Ukiran Wajahnya di Sandal Jepit

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menunjukkan sandal ukir bergambar wajahnya yang dibuat pemuda Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo cukup terperanjat mengetahui wajahnya tergambar di sandal jepit. Bahkan orang nomor satu di Jateng itu harus menghentikan langkahnya untuk melihat sandal itu, saat mengunjungi Pameran Desain Kreatif Pesta Rakyat HUT Jateng di Jepara, Sabtu (26/8/2017).

Dan ternyata, Ganjar bukan marah justru sangat girang. Ia bahkan memuji ukiran di sandal karya pemuda Jepara tersebut yang dipamerkan di stan Sandal Carving Jepara (Sacaje) itu. “Ha ha ha apik iki, kreatif. Sandal diukir,” seloroh Ganjar.

Mantan anggota DPR RI itu pun penasaran bagaimana cara membuatnya. Ia pun mendekat bertanya dengan M Nur Fawaid, perajin yang membuat sandal ukir tersebut.

Selain wajah Ganjar, Nur juga mengukir logo Jateng Gayeng. Satu desain lagi yang membuat Ganjar juga tertawa adalah sebuha sandal berukir tulisan “Sandal Gubernur”. Ganjar tertarik dan membeli beberapa pasang sandal tersebut.

“Tuku, tuku, kanggo souvenir,” kata gubernur berambut putih itu. 

Ganjar Pranowo memuji Nur sebagai perajin yang mampu melihat peluang dan berkreativitas tinggi. “Ini perlu didukung, mengerjakan barang yang tak disangka-sangka hingga memiliki nilai ekonomi,” ucapnya.

Nur mengaku untuk membuat ukiran di sandal tak butuh waktu lama. Untuk ukiran sederhana, hanya dibutuhkan waktu tiga jam saja, sementara jika ukirannya rumit bisa sampai lima jam.

Untuk sepasang sandal, Nur menjual dengan harga Rp 25 ribu. Pembeli bisa memilih sandal yang sudah jadi atau memesan desain dan tulisan sendiri.

Karya Nur bukan saja unik tapi juga menggelitik. Simak misalnya sandal bertuliskan “Bojoku Ketikung”, “Ngopi Ngaji”, atau “Colong Mati”.

Ada juga produk dari beberapa sandal digabung menjadi jam dinding, papan nama, dan lambang klub sepakbola. Untuk jam dan hiasan dinding, Nur membanderol Rp 75 ribu.

“Harga bergantung kesulitan serta kerumitan ukiran. Tentu harga sandal ukir wajah beda dengan ukir tulisan,” terang Nur.

Ia mengaku, ide sandal ukir muncul ketika nyantri di sebuah pondok pesantren. Nur yang jengkel karena sandal jepitnya berkali-kali hilang, kemudian mengukir sandalnya sehingga beda dari milik teman-temannya.

“Awalnya asal bikin, asal beda agar mudah mengingat sandal saya. Pertama kali saya mengukir nama di sandal. Ternyata teman-teman suka dan minta diukirkan juga,” tuturnya.

Ketika permintaan semakin banyak, Nur mulai memasang tarif. Sejak 2013 ia membuka workshop bernama Sacaje.

“Itu setelah saya rasa ukiran sandal tersebut cukup rapi dan layak dijual,” terang warga Jalan Krajan RT 08/02 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara ini.

Editor : Ali Muntoha

Gubernur Ganjar Akui Cukup Sulit Wujudkan Provinsi Layak Anak

Keceriaan anak-anak saat foto bersama di Banjarejo. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengakui cukup sulit untuk mewujudkan provinsi layak anak. Penyebabnya, tingkat kekerasan terhadap perempuan maupun anak masih cukup tinggi.

Oleh karenanya, Ganjar menyebut harus melakukan berbagai persiapan strategis, termasuk masalah penganggaran untuk mewujudkan hal ini. Apalagi menurut dia, tahun depan Jateng ditunjuk sebagai pilot project provinsi layak anak.

“Sehingga kita mesti menyiapkan anggaran, program, dan sistemnya agar kemudian minimum layak anak itu bisa tercapai,” kata Ganjar Pranowo, baru-baru ini.

Data dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) atau Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) kabupaten/kota di Provinsi Jateng pada 2011-2015, kekerasan terhadap perempuan dan anak menunjukkan tren yang fluktuatif.

Pada 2015 tercatat sebanyak 2.466 orang korban kekerasan, dan 1.385 orang di antaranya anak-anak.

Melihat kondisi tersebut, Ganjar mengatakan bahwa prioritas investasi perlindungan anak ditekankan pada pencegahan kekerasan terhadap anak. “Tentunya, perwujudan provinsi layak anak tidak dapat tercapai tanpa dukungan masyarakat, termasuk para aktivis anak,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah kabupaten/kota juga diminta mendukung terwujudnya Jawa Tengah sebagai provinsi layak anak. Salah satunya, bupati wali kota mendorong investasi perlindungan anak agar pencegahan dan penanganan kasus kekerasan anak dapat berjalan optimal.

Ganjar menjelaskan, pembekalan anak mengenai budi pekerti dan tepa selira yang merupakan nilai-nilai kebhinekaan Indonesia, mesti dilakukan baik di keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat.

“Dengan begitu, diharapkan dapat mengurangi kejadian kekerasan terhadap anak karena anak sudah dilatih menghormati kepada yang tua, yang muda dan sebaya mereka. Sebaliknya, orang tua pun akan menghargai dan mencintai anak,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Beri Kejutan Ulang Tahun Pasien Kanker di RSUP Kariadi

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjenguk Suroso, pasien kanker usus yang tengah dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang, Jumat (18/8/2017). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jateng Ganjar Ganjar Pranowo memberi kejutan kepada Suroso (21), pemuda asal Desa Gumayun, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, yang tengah dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang, Jumat (18/8/2017).

Sejak 2016 lalu Suroso, didiagnosa mengidap kanker usus. Dan hari ini Ganjar memberi kejutan, karena bertepatan dengan ulang tahun pasien itu yang ke 21 tahun.

Orang nomor satu di Jateng itu, mengajak Suroso bernyanyi bersama, sehingga melupakan penyakit yang dideritanya.

Mendapat kunjungan dari Ganjar, semangat untuk sembuh kembali terpancar dari raut wajah Suroso yang sebelumnya sering menangis meratapi penyakitnya.

“Aku ketemu Pak Gubernur, Pak Ganjar. Saya nanti akan dikemo (kemoterapi) yang ke-12 kali, semoga ada hasil bagi saya. Harapan di ulang tahun saya ini, saya bisa sembuh kembali,” ujar Suroso dengan wajah tersenyum.

Di hadapan Ganjar, pemuda omo lantas menyanyikan sebuah lagu berjudul Jangan Menyerah dari D’Masiv yang langsung disambut tepuk tangan oleh Ganjar.

Anak dari pasangan Sutaswi dan Suhadi tersebut, saat ini menjalani pengobatan di RSUP dr Kariadi dengan bantuan sejumlah pihak. Mereka terketuk hatinya untuk membantu pengobatan Suroso, setelah kabar tentang penyakit yang ia derita tersebar melalui grup Facebook MIK Semar.

Hadir dalam kesempatan pagi itu Dalang MIK Semar Rahmulyo Adiwibowo dan sejumlah punggawa. Sejumlah orang juga secara bergantian menjaga Suroso selama dirawat di RSUP Dr Kariadi. “Saya ingin menemani masa tua ibu saya, saya sangat sayang mereka,” ucap Suroso.

Sementara itu, Ganjar Pranowo menjelaskan, saat ini Suroso tengah mendapat perawatan dari rumah sakit untuk proses penyembuhan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

“Dokter berusaha, kamu harus bersemangat dan berdoa, dengan doa Allah akan memudahkan. Supaya lekas nikah,” kata Ganjar memberi semangat.

Menurutnya, pihak rumah sakit cukup responsif menangani kasus ini, sehingga pasien kembali semangat dan cepat sembuh. Ia juga mengapresiasi warga yang berinisiatif menggalang donasi melalui media sosial.

“Gotong-royong seperti sangat baik, dan bisa ditularkan kepada komunitas yang lain,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Ajak Keroyok Kemiskinan di Jateng

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menandatangani deklarasi antiradikalisme dan terorisme usai upacara HUT ke-67 Provinsi Jateng, Selasa (15/8/2017). (Humas Pemprov Jateng)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengajak semua pihak terutama pemerintah kabupaten/kota di Jateng untuk lebih serius menurunkan angka kemiskinan. Pasalnya, jumlah warga miskin di provinsi ini masih sangat banyak, dan angkanya jauh lebih tinggi dari angka nasional.

“Saya sampaikan di pidato saya tadi, kemiskinan masih tinggi, mesti dikeroyok bersama-sama,” kata Ganjar usai menjadi inspektur upacara Peringatan Hari Jadi ke-67 Provinsi Jawa Tengah, di Lapangan Pancasila (Simpang Lima) Semarang, Selasa (15/8/2017).

Angka kemiskinan di Jawa Tengah saat ini masih berada pada angka 13,19 persen atau lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 10,70 persen. Ganjar mengaku, kondisi ini menjadi perhatian serius.

Karena, meski tiap tahunnya angka kemiskinan selalu mengalami penurunan namun angkanya masih belum terlalu signifikan.

Menurutnya, peran serta dan partisipasi kabupaten/ kota sangat penting untuk mengoptimalkan penurunan kemiskinan. Karena data yang ada selama ini selalu berubah dan berbeda-beda.

”Sehingga perlu keberanian melakukan introspeksi diri untuk memperbaiki kekurangan yang ada di birokrasi, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah,” ujarnya.

Selain kemiskinan, masih ada beberapa hal yang harus terus didorong dan dioptimalkan. Di antaranya pemberantasan pungli, peningkatan integritas, dan antikorupsi.

Karenanya, pemerintah harus mau berhijrah menjadi pemerintah yang responsif dan cepat merespon persoalan yang ada di masyarakat. “Inilah perbaikan yang sebenarnya kita harapkan dan masyarakat menunggu itu,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha