Masih Banyak Balita Kena Gizi Buruk di Jateng, Pemerintah Diminta Lakukan Ini

MuriaNewsCom, Semarang – Jawa Tengah ternyata belum bebas dari kasus gizi buruk. Ratusan kasus ditemukan di berbagai daerah di provinsi ini, dan yang paling banyak penderita gizi buruk terjadi di Kabupaten Brebes.

Yang terbaru juga ditemukan kasus gizi buruk di Kabupaten Purbalingga. Ada belasan balita di daerah ini yang terkena gizi buruk. Kondisi ini mendapat sorotan dari kalangan DPRD Jateng.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Karsono menyayangkan di tahun 2018 masih ditemui kasus gizi buruk di Jateng. Ia menyebut, dari pemantauannya ada 16 balita terserang gizi buruk.

Belasan balita penderita gizi buruk itu, tersebar di enam kecamatan. Yakni Kecamatan Mrebet enam kasus, Kemangkon, Pengadegan, dan Karangmoncol masing-masing 2 kasus. Sementara di Bukateja, Kejobong, Purbalingga dan Kalimanah masing-masing satu kasus.

“Kasus gizi buruk yang terjadi di Kabupaten Purbalingga tentu membuat kita prihatin. Sebab, ternyata kasus gizi buruk masih terjadi di wilayah Indonesia, khususnya di Jateng,” katanya dalam rilis yang diterima MuriaNewsCom.

Ia mendesak Pemprrov Jateng dan pemerintah kabupaten/kota mengerahkan semua kemampuan untuk mengatasi masalah gizi buruk yang terhadu di provinsi ini.

Tim kesehatan yang lengkap juga harus dikirim sampai ke pelosok. Koordinasi antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat juga harus cepat dalam mengirimkan tim kesehatan.

“Ini penting untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat di sana. Juga harus mengirimkan bahan-bahan makanan untuk memperbaiki gizi di masyarakat sana,” ujarnya.

Menurutnya langkah tersebut harus dilakukan secara terus-menerus dan ke semua wilayah sampai yang terpencil. Tujuannya, agar kasus serupa tidak terulang. Pihaknya tidak mau jika bantuan hanya diberikan saat ada kasus seperti di Purbalingga.

Selain itu menurut dia, penemuan kasus gizi buruk di Purbalingga dinilai sebagai bentuk kelalaian pemerintah dalam memperhatikan kualitas sumber daya manusia yang ada di Jateng. Pasalnya Jateng punya target untuk menekan angka gizi buruk di bawah 5 persen.

“Terdapat dua penyebab dari munculnya kasus gizi buruk di Kabupaten Purbalingga, yakni masalah kesehatan dan kemiskinan yang belum juga bisa terselesaikan,” terangnya.

Pemprov Jateng, kata Karsono, perlu kembali fokus pada pembangunan sumber daya manusia. Karena dari sumber daya manusia yang berkualitaslah akan menunjang kemajuan bangsa Indonesia kedepan.

Selain Purbalingga, sejumlah daerah lain di Jateng yang rawan gizi buruk adalah di Brebes dengan 82 balita yang menderita per tahun 2016. Sementara terendah ada di Surakarta sebagai satu-satunya daerah yang bersih dari gizi buruk, baru disusul Salatiga dengan tiga penderita.

Berdasarkan grafik sisa kasus gizi buruk (menurut indeks berat badan/tinggi badan (BB/TB) per 30 September 2017, di Jateng tercatat ada 980 kasus. Jumlah terbanyak Kabupaten Brebes dengan 107 kasus, disusul Kabupaten Banyumas 70 kasus, dan Kabupaten Tegal dengan 61 kasus.

“Kasus gizi buruk di Kabupaten Brebes menduduki posisi pertama di Jawa Tengah. Namun, gizi buruk yang dialami warga Brebes bukan karena kurang makan, melainkan infeksi penyakit, sampai saat ini, ada 107 kasus gizi buruk dari laporan 38 puskesmas di Kabupaten Brebes. Jumlah tersebut menempatkan Brebes sebagai kabupaten di Jateng dengan kasus gizi buruk terbanyak,” kata Karsono.

Editor : Ali Muntoha

Video – Lumpuh, Bocah 9 Tahun di Kudus Ini Diduga Kena Gizi Buruk

 

MuriaNewsCom, Kudus – Muhanmad Febri Rizki Prayogo warga Desa Golan Tepus, RT 5 RW 1 Mejobo, harus melewati hari-harinya dengan cara berdiam diri di rumah. Itu lantaran, bocah sembilan tahun tersebut tak bisa berjalan karena lumpuh yang disebabkan gizi buruk sejak kecil.

Deni Novianto (18),  paman Febri membenarkan jika keponakannya tak bisa berjalan senjak kecil. Tak hanya itu, ukuran kakinya juga terbilang kecil dan tidak mengalami pertumbuhan secara normal. Hal itulah yang membuatnya tak bisa menggunakan kedua kakinya.

”Biasanya kalau pagi hari ia tidur. Tapi, kalau malam tidak bisa diajak tidur. Ia selalu rewel hingga subuh, mungkin disebabkan rasanya sakit yang dialami. ,” katanya kepada MuriaNewsCom

Selain lumpuh, Febri juga harus dirawat seperti bayi. Pasalnya pencernaannya tidak kuat menerima makanan yang kasar, termasuk nasi. Akibatnya, setiap kali mau makanan, makanan tersebut harus ditumbuk dan dihaluskan.

Sementara, keuangan keluarga juga sangat terbatas. Sang ibu Yusmawati (32) bahkan harus kerja membanting tulang untuk menafkahi keluarga sejak suaminya meninggal karena penyakit paru-paru.

”Kakak saya kerja sebagai buruh rokok di Kudus, jadi kalau pas kerja yang jaga bergantian,” ujarnya

Deni menyebutkan, Febri juga memiliki seorang adik yang berumur tiga tahun. Hanya, kondisi ekonomi yang minim membuatnya tidak dapat mengenyam pendidikan dan harus di rumah bersama kakaknya.

Namun, berbeda dengan Prayoga yang lumpuh. Adiknya terlihat sehat dan cakap berbicara. Saat dikunjungi MuriaNewsCom, adik prayogo seolah melindungi kakaknya dari awak media, dia seolah takut kalau kakaknya kenapa kenapa. Bahkan, pintu kamar sampai dihadang untuk mencegah masuk.

Kondisi rumahnya memang sangat terbatas. Beralas tanah, dan tembok yang mulai mengelupas. Bahkan, kasur saja di dapat dari bantuan warga luar desa.

Editor: Supriyadi