Gempa Bumi Dirasakan Sebagian Warga Keling Jepara

gempa bumi 2

 

MuriaNewsCom, Jepara – Gempa bumi kembali terjadi di wilayah Semenanjung Muria. Kali ini gempa terjadi dengan kekuatan 3,8 SR ini berpusat di koordinat 6,38 Lintang Selatan dan 111,12 Bujur Timur, tepatnya pada jarak 42 km timur laut Pati, pada kedalaman 18 kilometer, Senin (18/7/2016) pukul 19.50.59 WIB.

Meski jaraknya cukup jauh dari daratan Jepara, namun berdasarkan informasi yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, gempa juga dirasakan sebagian warga Kecamatan Keling Jepara.

“Pusat gempa sangat jauh dari Jepara. Lokasinya ada di timur laut Pati dan dekat dengan perairan Kalimantan. Tetapi sebagian warga di wilayah Keling juga merasakan ada getaran sekitar 2-3 detik,” ujar Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno kepada MuriaNewsCom, Selasa (19/7/2016).

Menurutnya, gempa yang terjadi tidak membahayakan warga, termasuk nelayan. Pasalnya, saat gempa terjadi di laut, kondisi gelombang juga masih normal.

“Gelombang air laut normal, sekitar satu meter. Jadi tidak membahayakan. Untuk itu, warga tidak perlu cemas dan kuatir terhadap gempa itu,” katanya.

Seperti diberitakan,  Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan mengenai dampak gempa bumi. Namun demikian gempa bumi ini sangat menarik, karena di lokasi pusat gempabumi ini, pada 23 Oktober 2015 pernah diguncang gempabumi tektonik berkekuatan 5,0 SR.

Editor : Akrom Hazami

 

Gempa 3,8 SR Terjadi di Semenanjung Muria

gempa bumi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, gempa bumi kembali terjadi di wilayah Semenanjung Muria, Pati dan Jepara.

Jika sebelumnya terjadi pada 23 Oktober 2015 dengan kekuatan 5,0 SR, kali ini gempa terjadi dengan kekuatan 3,8 SR ini berpusat di koordinat 6,38 Lintang Selatan dan 111,12 Bujur Timur, tepatnya pada jarak 42 km timur laut Pati, pada kedalaman 18 kilometer, Senin (18/7/2016) pukul 19.50.59 WIB.

Itu menjadi bukti bahwa di wilayah Semenanjung Muria, termasuk Jepara tidak aman dijadikan lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan mengenai dampak gempa bumi. Namun demikian gempa bumi ini sangat menarik, karena di lokasi pusat gempabumi ini, pada 23 Oktober 2015 pernah diguncang gempabumi tektonik berkekuatan 5,0 SR.

“Zona Semenanjung Muria dan sekitarnya secara tektonik memang cukup kompleks. Di zona ini terdapat sesar yang diduga cukup aktif, yaitu Sesar Muria membujur dari Gunung Muria ke arah utara hingga mencapai pantai utara. Selain Sesar Muria, di zona ini masih ada sekitar 7 (tujuh) sesar mikro tanpa nama  yang tersebar di lepas pantai Laut Jawa di sekitar zona Semenanjung Muria,” terangnya melalui rilisnya, Selasa (19/7/2016).

Menurutnya, Gempa bumi Semenanjung Muria yang terjadi, jika ditinjau dari letak episenternya tampak terletak di jalur Sesar Muria. Karakteristik kedalaman hiposenter yang sangat dangkal menunjukkan bahwa aktivitas gempabumi ini memang dibangkitkan oleh sesar aktif.

Sementara itu, salah satu aktifis penolakan PLTN di Jepara, Lilo Sunaryo mengatakan, gempa bumi yang terjadi di wilayah Semenanjung Muria sebagai bukti bahwa kawasan Semenanjung Muria atau lebih khusus Jepara tidak aman untuk PLTN.

“Dari dulu, saat ramai-ramainya soal PLTN, kami telah memberikan penjelasan secara rinci dengan bukti-bukti hasil penelitian yang lengkap berkait tidak amannya wilayah di semenanjung Muria untuk dijadikan lokasi PLTN. Termasuk di dalamnya tidak aman dari potensi bencana gempa bumi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Secara rinci, lanjutnya, ada data dari Belanda yang menyatakan ada dua retakan di Semenanjung Muria, yakni di Rahtawu dan Tempur. Dengan adanya retakan itu dianggap jelas bahwa di semenanjung Muria tidak aman dari potensi gempa bumi.

Selain itu, beberapa waktu lalu pihaknya juga mangatakan ada sejumlah peneliti senior dari Bandung yang melakukan penelitian di semenanjung Muria.

“Tidak hanya di Gunung Muria, tapi juga di laut. Hasilnya, ada 7 data geologi yang menyatakan bahwa di sini masih berpotensi terjadi bencana gempa bumi,”  imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Getaran Gempa Terasa di Grobogan Selama 10 Detik

Ilustrasi

Ilustrasi

 

GROBOGAN – Sebagian warga Kota Purwodadi malam tadi Rabu (11/11/2015) sempat dikejutkan dengan getaran gempa. Meski demikian, gempa tersebut hanya berlangsung singkat sekitar 10 detik saja.

”Getaran gempa tadi, mulai muncul bersamaan dengan kumandang azan Isya. Saya tadi sempat kaget ketika terasa goyang-goyang,” kata Andi, warga yang tengah makan di sekitar alun-alun Purwodadi.

Mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta itu semula tidak yakin jika getaran tadi adalah gempa. Namun, setelah melihat air dalam gelas minuman bergerak-gerak, dia baru yakin jika ada gempa.

Beberapa warga lainnya ketika dimintai komentarnya juga mengaku merasakan ada gempa. Namun, karena getarannya tidak terlalu kencang mereka tidak dilanda kepanikan.

”Saya tadi duduk dikursi dan memang sempat merasakan ada getaran sebentar. Saya baru sadar kalau getaran tadi adalah gempa setelah dapat info dari teman melalui facebook,” cetus Agung warga lainnya. (DANI AGUS/TITIS W)

Gempa di Bantul Yogyakarta Terasa Hingga Kudus

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Gempa berkekuatan 5,6 skala richter yang mengguncang Bantul, Yogyakarta pada Rabu (11/11/2015) pukul 18:45:25 WIB juga terasa sampai di Kudus.

Berdasarkan sumber dari BMKG, pusat gempa berada di 120 km barat daya (Bantul –DIY) atau 8.97 LS,110.19 BT, dengan kedalaman 93 km.

“Meski di sini guncangannya tidak terlalu kuat, tapi saya merasakan adanya gempa tersebut. Saya kira tadi apa, kok goyang-goyang gitu. Karena penasaran, saya juga tanya teman lain dan katanya juga merasakan,” kata Hardi, salah satu warga Kudus.

Dirinya malah mengira, jika gempa tersebut berada di Jepara seperti sebelumnya, sehingga dirinya khawatir kalau gempa di Jepara terulang kembali.

Hal yang sama juga dirasakan Zuli, warga Kaliwungu. Dia juga merasakan goncangan gempa. “Awalnya tak kira ada yang mau ngerjai saya dengan mendorong, ternyata malah ada gempa,” katanya.

Sesaat setelah gempa, dia juga langsung update status BBM yang berbunyi “Astaghfirullahaladzim, ternyata ada gempa”.

Warga lain, Rizal juga merasakan hal yang sama, yakni adanya gempa yang dirasakan. Sama halnya dengan Zuli, dia juga update kalau ada gempa yang dirasakan. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Gunung Muria Dinilai Masih Aktif, Jepara Tidak Layak Jadi Lokasi PLTN

Lilo Sunaryo, Aktivis Penolak PLTN di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Lilo Sunaryo, Aktivis Penolak PLTN di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Alumni Universitas Tazken Kazakhstan jurusan ilmu energy asal Jepara, Lilo Sunaryo mengatakan berdasarkan hasil riset para ahli menyatakan Gunung Muria masih termasuk gunung yang aktif. Sehingga masih ada potensi terjadinya bencana alam.

”Tapi, para ahli dari ITB, Lipi dan yang lainnya menganggap gempa yang terjadi kemarin berkekuatan 5 SR itu sebagai anomaly cuaca. Sebab, telah sekian lama Gunung Muria tidak menunjukkan tanda keaktifannya,” ujar Lilo kepada MuriaNewsCom, Senin (26/10/2015).

Menurutnya, meski telah sekian lama Gunung Muria tidak menunjukkan keaktifannya, tetap saja status Gunung Muria sebagai gunung yang aktif masih ada. Sehingga hal itu mempertegas semenanjung Muria khususnya Jepara tidak layak menjadi lokasi PLTN.

”Itu berdasarkan hasil riset para ahli yang menunjukkan tujuh data geologi. Lima data geologi saja sudah menunjukkan gunung aktif, sehingga tujuh data itu tidak terbantahkan lagi,” ungkapnya.

Dia menambahkan, peristiwa gempa bumi beberapa waktu lalu yang terjadi di Jepara, harus menjadi pelajaran yang berharga, terutama bagi pemerintah agar turut menolak rencana pembangunan PLTN di Jepara. Sebab, faktanya memang Jepara belum aman dari ancaman gempa bumi. (WAHYU KZ/TITIS W)

GEMPA JEPARA : Jepara Diyakini Tak Cocok untuk Didirikan PLTN

Penolak PLTN di Jepara, Lilo Sunaryo. (MuriaNewCom/Wahyu KZ)

Penolak PLTN di Jepara, Lilo Sunaryo. (MuriaNewCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Gempa berkekuatan 5 skala richter (SR) yang terjadi di wilayah perairan laut Jepara dinilai sebagai bukti bahwa kawasan semenanjung Muria atau lebih khusus Jepara tak aman untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Hal itu ditegaskan oleh aktivis penolak PLTN di Jepara, Lilo Sunaryo kepada MuriaNewsCom, Senin (26/10/2015).

Menurut Lilo, pihaknya telah memberikan penjelasan secara rinci dengan bukti-bukti hasil penelitian yang lengkap berkait tidak amannya wilayah di semenanjung Muria untuk dijadikan lokasi PLTN. Termasuk di dalamnya tidak aman dari potensi bencana gempa bumi.

“Secara rinci, ada data dari Belanda yang menyatakan ada dua retakan di Semenanjung Muria, yakni di Rahtawu dan Tempur,” kata Lilo.

Lebih lanjut dia menerangkan, dengan adanya retakan itu dianggap jelas bahwa di semenanjung Muria tidak aman dari potensi gempa bumi. Selain itu, beberapa waktu lalu pihaknya juga mangatakan ada sejumlah peneliti senior dari Bandung yang melakukan penelitian di semenanjung Muria.

“Tidak hanya di Gunung Muria, tapi juga di laut. Hasilnya, ada 7 data geologi yang menyatakan bahwa di sini masih berpotensi terjadi bencana gempa bumi bahkan gunung Muria dinilai masih aktif,” terangnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

GEMPA JEPARA : BPBD Jepara Pastikan Tak Ada Gempa Susulan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jeparamemastikan tak ada potensi gempa susulan setelah bencana gempa bumiyang terjadi pada Jumat (23/10/2015) dini hari kemarin. Untuk itu,masyarakat diimbau tenang dan tak perlu khawatir adanya gempasusulan.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, setelah melakukankordinasi dengan pihak terkait, pihaknya memastikan tidak ada gempasusulan setelah terjadinya gempa kemarin.

”Masyarakat kami imbau tidak perlu khawatir dengan adanya gempasusulan. Karena sejauh ini tidak ada potensi gempa susulan,” ujarLulus kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dia mengatakan, gempa yang terjadi di perairan timur lautJepara kemarin terbilang cukup kecil sekali dampaknya. Pihaknya tidakmenemukan adanya bangunan yang roboh dan longsor yang terjadi ketikagempa terjadi.

“Ada sekitar tujuh desa yang merasakan goncangan cukup kuat. Tapitidak ada korban jiwa maupun bangunan roboh karena gempa yang terjaditak lebih dari 20 detik,” ungkapnya.

Sedangkan di luar tujuh desa tersebut, semuanya hanya merasakanguncangan kecil atau lindu saja. Hal itu juga seperti yang dirasakanoleh kota tetangga seperti Kudus, Pati, dan Semarang. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

GEMPA JEPARA : 4 Kasus Gempa yang Pernah Menakutkan Warga di Keresidenan Pati

Capture

 

JEPARA – Kejadian gempa yang melanda Jepara, Jumat (23/10/2015) dini hari benar-benar membekas di benak warga. Dengan kekuatan 5 SR, gempa mampu membangunkan warga yang sebagian besar masih terlelap.

Berikut kasus gempa yang pernah terjadi di Keresidenan Pati yang berasal dari data BMKG Pusat Jakarta:

1. Gempa bumi di Lasem tahun 1847
Gempa bumi ini berasal dari zona sumber gempa bumi Sesar Lasem. Sesar Lasem adalah sesar dengan kelurusan paling panjang, menempati suatu depresi dengan sumbu yang berarah barat daya-timur laut. Ciri morfologi lain yang mengindikasikan keberadaan sesar ini adalah sebuah pola ke lurusan/lineament dari selatan Semarang ke arah timur laut melewati Lasem dan menerus ke Laut Jawa.

2. Gempa bumi Pati pada 1890
Gempa ini memiliki radius kerusakan sekitar 500 km. Gempa ini dahsyat karena berkekuatan 6,8 SR.

3. Gempa bumi di Kudus pada tahun 1877
Gempa yang terjadi di Kudus ini tidak banyak sumber yang menjelaskan. Namun setidaknya memberikan pengetahuan kepada warga setempat bahwa wilayahnya juga tak aman dari gempa.

4. Gempa bumi di Jepara pada tahun 2015
Gempa ini memiliki kekuatan 5 SR yang terjadi pada Jumat (23/10/2015). Tepatnya di kawasan Semenanjung Muria, Jepara. Berupa gempa bumi tektonik. Gempa bumi berpusat di koordinat 6,39 Lintang Selatan dan 110,91 Bujur Timur. Tepatnya pada jarak 26 kilometer arah timur laut kota Jepara pada kedalaman 14 kilometer.(AKROM HAZAMI)

Ini Pesan Resmi dari Kepala BPBD Jepara Terkait Gempa untuk Masyarakat

Kepala BPBD Jepara Lulus S menunjukkan gambar lokasi di Jepara yang terdampak gempa. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kepala BPBD Jepara Lulus S menunjukkan gambar lokasi di Jepara yang terdampak gempa. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Dengan hormat, disampaikan kepada seluruh masyarakat untuk tidak menanggapi isu tidak benar yang beredar di media sosial tentang gempa bumi yang terjadi di Jepara tanggal 23 Oktober 2015 Pukul 01:10:20 WIB.

Setelah dilakukan pengecekan dilapangan bersama pihak-pihak terkait Jepara dalam keadaan aman. Adapun berita yang menyatakan ada korban jiwa dan rumah roboh tidak benar adanya.

Dimohon masyarakat berhati-hati dan tidak memberikan partisipasi dana peduli gempa Jepara terhadap oknum yang memanfaatkan kejadian ini untuk keuntungan pribadi, karena Jepara dalam kondisi aman dan tidak terdampak bencana gempa bumi. Demikian pernyataan resmi ini disampaikan untuk menjadikan periksa. BPBD Kabupaten Jepara Telepon Darurat (0291) 598291, 08112766451 (GSM). (WAHYU KZ/TITIS W)

Gempa Terasa Sampai di Pulau Karimunjawa

Kepala BPBD Jepara Lulus S menunjukkan gambar lokasi di Jepara yang terdampak gempa. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kepala BPBD Jepara Lulus S menunjukkan gambar lokasi di Jepara yang terdampak gempa. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Gempa berkekuatan 5 skala richter yang terjadi pada Jumat (23/10/2015) pukul 01.10 WIB, ternyata tidak hanya dirasakan warga di daratan Jepara. Namun juga dirasakan warga di kepulauan Karimunjawa.

Camat Karimunjawa M Tahsinul Khuluq menjelaskan, meski dirinya saat kejadian berada di Jakarta, namun dia mengaku menerima laporan dari perangkat dan warga Karimunjawa, jika gempa juga terasa di sana.

”Kami sudah menerima laporan, di Karimunjawa juga terasa. Tapi terasanya tidak begitu kencang hanya terasa lindu,” ujar Tahsin kepada MuriaNewsCom, Jumat (23/10/2015).

Menurut dia, sampai sore ini pihaknya telah memastikan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan akibat gempa tersebut. Terlebih, gempa memang terjadi hanya sebentar dan tidak terlalu kencang.

Seperti diketahui letak kepulauan Karimunjawa cukup jauh dari daratan Jepara. Ketika ditarik jarak antara pusat gempa yang berada di 26 km laut Jepara, kepulauan Karimunjawa masih jauh. Justru letak gempa lebih dekat dengan daratan Jepara sebelah utara dan pulau Mandalika. (WAHYU KZ/TITIS W)

GEMPA JEPARA : Ini 7 Desa Kena Dampak Gempa

Kepala BPBD Jepara Lulus S menunjukkan gambar lokasi di Jepara yang terdampak gempa. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kepala BPBD Jepara Lulus S menunjukkan gambar lokasi di Jepara yang terdampak gempa. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara melakukan tinjauan lapangan untuk mengidentifikasi adanya dampak dari gempa berkekuatan 5.0 Skala Richter (SR), Jumat (23/10/2015).

Sampai saat ini proses tinjauaan lapangan masih dilaksanakan. Hasil sementara sampai Jumat siang ini, BPBD memastikan ada tujuh desa yang terdampak gempa.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, tujuh desa tersebut tersebar di dua kecamatan. Yaitu Kecamatan Donorojo dan Kecamatan Keling. Namun yang terdampak paling banyak di Kecamatan Donorojo.

Rinciannya, yakni Desa Tulakan, Desa Banyumanis, Desa Ujungwatu, Desa Clering, Desa Sumberrejo, Desa Bandungharjo, dan Desa Papasan. “Gempa memang dirasakan di beberapa daerah. Tapi yang paling merasakan guncangannya dan berdampak ada di tujuh desa itu,” ujar Lulus kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, warga yang merasakan dampak langsung itu seperti beberapa genting rumah yang jatuh, dan keretakan pada dinding bangunan. Meski demikian, pihaknya memastikan, hasil tinjauan sementara ini kerusakan relatif ringan, tidak sampai terjadi bangunan roboh.

“Gempa yang terjadi dini hari tadi, letaknya berada di antara Pantai Benteng Portugis dengan Pulau Mandalika. Jadi cukup dekat,” ungkapnya.
(WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

GEMPA JEPARA : Ini Keterangan BMKG Apakah Ada Gempa Susulan Atau Tidak

Capture

 

JEPARA – Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), telah terjadi gempa berukuran 5.0 skala richter (SR) di wilayah Jepara dan sekitarnya, Jumat (23/10/2015), dini hari pukul 01.10 WIB.

Tepatnya berpusat di 26 km timur laut Jepara, atau di 47 km barat laut Pati dan 84 km timur laut Semarang. Gempa terjadi Gempa ini dirasakan warga di Jepara maupun di kota tetangga seperti Kudus, Pati, dan Semarang.

Meski belum ada laporan korban jiwa, tapi gempa cukup mengagetkan warga. Lantas, apakah akan ada gempa susulan atau tidak. Ini keterangan dari BMKG Pusat Jakarta.

“Kami sampaikan bahwa hingga saat ini tidak ada gempa susulan,” kata Kabid Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG Pusat Jakarta, Daryono kepada MuriaNewsCom, Jumat.

Dihubungi melalui SMS di ponselnya, Daryono mengemukakan alasan tidak akan ada gempa susulan. Pertama, saat patah batuan, energinya langsung habis. Kedua, material batuannya keras. Sehingga patah sekaligus tidak bertahap. (AKROM HAZAMI)

GEMPA JEPARA : Gempa Tak Pengaruhi Aktivitas Nelayan di Pati

 Sejumlah nelayan di Juwana nampak masih beraktivitas seperti biasanya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah nelayan di Juwana nampak masih beraktivitas seperti biasanya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Gempa dengan kekuatan 5.0 skala richter yang terjadi di Timur Laut Jepara, Jumat (22/10/2015) pukul 01.10 WIB tidak memengaruhi aktivitas nelayan di Pati.

Pagi hari setelah gempa, aktivitas nelayan di Juwana masih seperti biasanya. Jamsir, misalnya. Nelayan asal Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan yang biasa melaut di kawasan perairan laut utara Jawa ini masih pergi untuk melaut.

Hal ini diamini Koordinator Front Nelayan Bersatu (FNB) wilayah Pati Bambang Wicaksono. “Memang getaran itu sangat terasa di kawasan Juwana. Tapi, nelayan masih tetap beraktivitas seperti biasanya karena tidak tsunami. Yang kami takutkan adalah tsunami,” kata Bambang kepada MuriaNewsCom.

Meski demikian, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati Sanusi Siswoyo tetap meminta warga untuk lebih waspada. “Memang gempa tidak ada potensi tsunami. Tapi, tidak ada salahnya kalau tetap waspada,” tuturnya.

Selama ini, kata dia, potensi bencana alam di Pati bagian utara dan barat, antara lain banjir, puting beliung, dan kekeringan. Karena itu, ia hanya mewanti-wanti untuk tetap waspada. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

GEMPA JEPARA : 5 Kecamatan di Pati Diminta Waspada Kemungkinan Ada Gempa Susulan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

PATI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati mengimbau kepada masyarakat Pati agar tetap tenang terkait dengan adanya gempa yang terjadi di Timur Laut Jepara, Jumat (23/10/2015) dini hari pukul 01.10 WIB.

Pasalnya, gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Kendati begitu, pihak BPBD Pati mengimbau agar lima kecamatan di Pati tetap waspada jika ada kemungkinan adanya gempa susulan.

“BMKG sudah memastikan tidak ada potensi tsunami. Jadi, jangan khawatir dan tetap beraktivitas seperti biasanya. Namun, tidak ada salahnya jika warga tetap waspada, terutama lima kecamatan di Pati yang dekat dengan pusat gempa, yakni di Dukuhseti, Tayu, Cluwak, Gunungwungkal dan Margoyoso,” ujar Kepala BPBD Pati Sanusi Siswoyo kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, sampai saat ini belum ada laporan adanya kerusakan di lima kecamatan tersebut. Namun, pihaknya masih mengumpulkan data di lapangan terkait dampak dari gempa tersebut. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

GEMPA JEPARA : Masjid di Donorojo Rusak

Capture

 

JEPARA – Gempa berkekuatan 5.0 SR di wilayah perairan Jepara pada, Jumat (23/10) dini hari tadi berlangsung sebentar.

Meski begitu, Camat Donorojo Nuryanto menyatakan ada dampak kerusakan rumah akibat gempa. Tapi, dia memastikan kerusakan cukup sedikit.

Menurut Nuryanto, daerah yang terdampak yaitu Desa Ujungwatu dan Desa Clering, Kecamatan Donorojo. Beberapa bangunan seperti rumah dan tempat ibadah rusak.

“Laporan pagi tadi yang saya terima, kerusakan terjadi di sebuah masjid, tapi hanya retak-retak dan ada sebagian kecil genting yang jatuh. Gempa terasa kencang tapi durasinya sebentar,” kata Nuryanto.

Lebih lanjut dia mengatakan, selain bangunan masjid di Desa Ujungwatu, pihaknya juga mendapat kabar sejumlah bangunan rumah di Desa Clering mengalami kerusakan ringan.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Lulus Suprayetno menyampaikan, pihaknya masih melakukan pengecekan ke sejumlah lokasi yang diduga terjadi kerusakan akibat gempa.

“Masyarakat jangan terlalu heboh. Apalagi sampai menyebarkan informasi palsu. Kami masih dalam pengecekan ke lapangan,” imbuhnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

GEMPA JEPARA : Foto Hoax dan Korban Jiwa Beredar Meresahkan

GEMPA JEPARA : Foto Hoax dan Korban Jiwa Beredar dan Meresahkan

 

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara mengimbau kepada masyarakat agar tidak sembarangan menyebarkan foto gempa palsu alias hoax. Karena itu sangat meresahkan.

Kepala BPBD Jepara, Lulus Suprayitno kepada MuriaNewsCom menyatakan bahwa sampai saat ini pihaknya masih melakukan penelusuran di sejumlah lokasi yang diduga terdapat dampak kerusakan akibat gempa yang terjadi pada pukul 01.10 WIB, Jumat (23/10/2015) dini hari tadi, di perairan Jepara.

“Sampai saat ini tim telah dikirim menuju lokasi yang terdampak, untuk melakukan pendataan,” ujar Lulus, Jumat (23/10/2015). Menurutnya, BPBD sama sekali belum menerima informasi terkait adanya korban jiwa. Pihaknya membantah informasi di media sosial yang heboh adanya informasi korban jiwa.

“Kami sudah melakukan pelacakan, sampai menjelang siang ini belum ada korban jiwa,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, di saat masyarakat Kabupaten Jepara tengah nyenyak tidur, tiba-tiba dikejutkan dengan getaran gempa. Meski guncangan berlangsung sebentar, guncangan gempa berukuran 5 SR, membuat masyarakat kelabakan di tengah malam. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

GEMPA JEPARA : Rumah Warga Kudus Rusak Digoyang Gempa

Deretan keretakan yang terjadi di rumah warga di Dukuh Karangdowo, Desa/Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

Deretan keretakan yang terjadi di rumah warga di Dukuh Karangdowo, Desa/Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

 

KUDUS – Gempa yang menimpaWilayah Kabupaten Jepara dan sekitarnya, berukuran 5.0 Skala Richter (SR), Jumat (23/10/2015) sekitar pukul 01.10 WIB dini hari tadi, telah berakibat kerusakan.

Satu di antara kerusakan yang terjadi adalah salah satu rumah warga di Dukuh Karangdowo, Desa/Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. “Ada retakan baru di dinding rumah,” kata salah satu warga, Fauziah, Jumat.

Sebenarnya dinding rumahnya sudah ada yang retak. Namun adanya gempa itu, dia meyakini ada tambahan retakan dinding di rumahnya.

Tidak hanya itu, saat gempa terjadi, kaca jendela rumahnya juga bergetar hebat. Orang tuanya terjaga saat gempa melanda, bergegas membangunkan seluruh anggota keluarga untuk waspada. (AKROM HAZAMI)

GEMPA JEPARA : Ternyata Jepara Tak Aman dari Gempa

Capture

 

JEPARA – Wilayah Kabupaten Jepara dan sekitarnya terjadi gempa berukuran 5.0 SR sekitar pukul 01.10 WIB dini hari tadi, yang berpusat di perairan Jepara.

Peristiwa tersebut mematahkan anggapan selama ini yang menyatakan wilayah Jepara adalah daerah paling aman dari ancaman gempa.

Salah seorang tokoh muda asal Kecamatan Bangsri, Ahmad Efendi mengatakan, gempa terjadi di Jepara sangat terasa sekali guncangannya. Bahkan sampai di kota tetangga seperti Kudus dan Pati.

“Gempa terjadi di Jepara utara, dekat sekali dengan area Benteng Portugis. Getaran sangat terasa di Kecamatan Kembang dan Bangsri,” kata Efendi, Jumat (23/10/2015).

Menurutnya, peristiwa gempa itu mematahkan anggapan jika wilayah Jepara aman dari ancaman bencana gempa. Untuk itu, dia meminta agar tidak ada lagi rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
(PLTN) di wilayah Jepara.

“Dengan kejadian (gempa) ini, jangan ada lagi usulan membangun PLTN di Jepara utara. Sebab, wacana pembangunan PLTN di Jepara karena dinilai aman dari gempa,” ungkapnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

GEMPA JEPARA : Info Penting Kronologi Terjadinya Gempa versi BMKG Pusat

Capture

 

JEPARA – Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG pusat, dalam rilis persnya, Jumat (23/10/2015), sekitar pukul 01.10.20 WIB, di kawasan Semenanjung Muria, Pati, Jepara dan sekitarnya diguncang gempa bumi tektonik.

Gempa bumi berkekuatan 5,0 SR ini berpusat di koordinat 6,39 Lintang Selatan dan 110,91 Bujur Timur. Tepatnya pada jarak 26 kilometer arah timur laut kota Jepara pada kedalaman 14 kilometer.

Guncangan gempa bumi ini dilaporkan dirasakan di Kota Jepara dan Pati pada II-III MMI (Modified Mercally Intensity).

Adapun zona semenanjung Muria dan sekitarnya secara tektonik cukup kompleks. Di zona ini terdapat beberapa sesar yang diduga cukup aktif, seperti: Sesar Lasem, Sesar Muria, serta sebaran sesar mikro lainnya yang tersebar di daratan dan dilepas pantai Laut Jawa.

Sesar Lasem sebagai sesar dengan kelurusan paling panjang, menempati suatu depresi dengan sumbu yang berarah barat daya-timurlaut. Ciri morfologi lain yang mengindikasikan keberadaan sesar ini adalah sebuah pola ke lurusan/lineament dari selatan Semarang ke arah timur laut melewati Lasem dan menerus ke Laut Jawa.

Sementara itu, Sesar Muria terletak membujur dari Gunung Muria ke arah utara hingga mencapai pesisir pantai utara. Selain Sesar Lasem dan Sesar Muria, masih ada lagi sekitar 7 (tujuh) sesar mikro lainnya yang tersebar di lepas pantai Laut Jawa di sekitar zona Semenanjung Muria.

Adapun gempa bumi Semenanjung Muria yang terjadi saat ini, jika ditinjau letak episenternya tampak tepat terletak di jalur Sesar Muria. Karakteristik kedalaman hiposenter yang hanya 14 kilometer menunjukkan bahwa aktivitas gempa bumi ini dibangkitkan oleh sesar aktif.

Hasil analisis mekanisme sumber berdasarkan perangkat lunak JisVIEW menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme sesar dengan pergerakan mendatar (strike-slip fault) dengan strike yang hampir mengarah ke utara-selatan.

Hasil ini cukup konsisten dengan karakteristik sesar lokal yang ada dengan strike Sesar Muria yang berarah utara-selatan. Sesar aktif yang memiliki sejarah gempa bumi merusak, seperti halnya seismogenik lainnya yang tersebar di Jawa Tengah tampaknya perlu dicermati dengan serius.

Mengingat periode ulang gempa bumi yang sangat mungkin terjadi. Khususnya di Semenanjung Muria. “Peristiwa gempa bumi ini seolah mengingatkan kita semua, bahwa zona seismogenik Muria dan sekitarnya memang masih aktif,” katanya. (AKROM HAZAMI)

GEMPA JEPARA : Meski Gempa Tak Berpotensi Tsunami, BPBD Imbau Warganya Tenang

Capture

 

JEPARA – Gempa berukuran 5.0 skala richter telah mengguncang wilayah Jepara dan sekitarnya, berpusat di 26 km timur laut Jepara, Jumat (23/10) sekitar pukul 01.10 WIB dini hari tadi.

Berdasarkan keterangan dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa tersebut tidak berpotensi terjadi tsunami.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Lulus Suprayitno melalui stafnya, Dedy mengatakan, gempa memang telah terjadi sebagaimana informasi dari BMKG.

“Sesuai informasi dari BMKG, gempa telah terjadi sekitar pukul 01.10 WIB tidak berpotensi tsunami,” ucap Dedy, Jumat (23/10/2015).

Gempa ini dirasakan warga di Jepara maupun di kota tetangga seperti Kudus, Pati, dan Semarang. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

GEMPA JEPARA : Warga masih Ketakutan dengan Gempa yang Melanda Wilayahnya

Capture

 

JEPARA – Warga Jepara masih ketakutan dengan gempa yang melanda wilayahnya, Jumat (23/10) sekitar pukul 01.10 WIB, dini hari tadi.

Berdasarkan informasi dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), telah terjadi gempa berukuran 5.0 skala richter (SR) di wilayah Jepara dan sekitarnya.

Tepatnya berpusat di 26 km timur laut Jepara, atau di 47 km barat laut Pati dan 84 km timur laut Semarang. Gempa terjadi Gempa ini dirasakan warga di Jepara maupun di kota tetangga seperti Kudus, Pati, dan Semarang.

Hal ini seperti yang dirasakan warga Desa Batealit, Kecamatan Batealit, Jepara, Ihsan. Menurutnya, dia merasakan getaran pada dini hari tadi.

“Saya merasakan ada getaran di rumah, ketika menjelang tidur,” kata Ihsan, Jumat (23/10/2015) Hal senada juga dikatakan warga lain. Seperti Ahmad effendi, warga Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri, Jepara.

Menurutnya, gempa sangat terasa di wilayah Kecamatan Bangsri. Sebab, dari informasi BMKG, pusat gempa memang terjadi dekat di wilayah Kecamatan Keling alias di perairan Jepara sebelah utara. “Guncangannya sangat terasa sekali,” ucapnya.

Senada dengan mereka, sejumlah warga lain juga menyatakan hal yang sama. Seperti Roisul Falah, warga Kecamatan Kota Jepara, anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Dedy dan beberapa warga lainnya. Bahkan, berdasarkan informasi yang diterima MuriaNewsCom, gempa terasa hingga Kabupaten Pekalongan, Semarang, sampai Tegal, Jawa Tengah. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)