Harga Garam di Jepara Masih Cenderung Tinggi Meski Petani Sudah Mulai Panen

Petani garam di Jepara sedang memasuki masa panen. Meskipun demikian, harganya terbilang tinggi mencapai Rp 3.500 per kilogram. Selain itu jumlah produksinya masih terbatas karena cuaca yang belum menentu, Senin (17/7/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Petani garam di Jepara sudah mulai panen. Meskipun demikian harga komoditas tersebut masih tinggi, per kilogram garam mencapai Rp 3.500. 

“Kita biasanya menghitungnya per tombong beratnya sekitar 80 kilogram, harganya Rp 280.000 di areal sawah garam. Namun kalau sampai di pedagang ya sampai Rp 300.000 hingga Rp 400.000 ,itu termasuk perhitungan upah buruh dan sebagainya,” tutur Lafiq seorang petani garam, Senin (17/7/2017) di persawahan garam di Bulak Baru, Kedung. 

Menurutnya, harga yang melonjak dipengaruhi stok garam yang memang kosong. Hal itu disebabkan pada tahun lalu, petani gagal panen karena cuaca yang tidak menentu. Pada keadaan normal, harga garam per kilogram hanya Rp 300 sampai Rp 500. 

Ia mengatakan, untuk lahan garam berdimensi 12×30 meter, bisa menghasilkan garam antara 1,5 ton hingga 2 ton. Namun untuk saat ini jumlah produksi terbilang masih sedikit, karena dipengaruhi faktor cuaca. 

“Bagi petani harga ini sangat menguntungkan, karena sebelumnya harganya sangat rendah,” tambahnya yang juga ketua Kelompok Usaha Bersama Tirta Petani. 

Namun demikian, faktor cuaca juga sangat memengaruhi produksi garam tahun ini. Hujan yang beberapa kali turun jelas berpengaruh pada kualitas garam. Lafiq menyebut, pada panenan kali ini kualitas garam cenderung tidak maksimal. 

Hal itu juga diakui Sugiyono. Petani garam itu mengatakan, bulan Juli ini produksi garam memang belum maksimal. “Nanti kalau bulan Agustus kemungkinan sudah ada panas penuh sehingga produksinya bisa banyak. Kalau sekarang kadang masih ada hujan turun,” ucap warga Bulak Baru itu. 

Editor : Kholistiono

Harga Jual Garam di Jepara Melambung

Khamsani (45) sedang mempersiapkan lahan garam miliknya untuk berproduksi garam, Senin (8/5/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Produksi garam di Desa Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung, Jepara, terpaksa mundur, karena hujan yang masih mengguyur belakangan ini. Hal ini, mengakibatkan harga komoditas tersebut melambung hingga Rp 200 ribu, per kuintal. 

Seorang petani garam Khamsani (45) berujar, produksi garam memang mengalami keterlambatan. Faktor alam, menurutnya menjadi penyebab utama. 

“Ya mundur produksinya, wong masih ada hujan, seperti tempo hari,” ujarnya, di sela mempersiapkan lahan garam miliknya, Senin (8/5/2017).

Menurutnya, pada bulan yang sama tahun lalu, dirinya sudah bisa memanen garam. Namun tahun ini tidak. Persiapan lahan garam pun masih menunggu panas matahari benar-benar tak terganggu hujan. 

Kondisi ini menurutnya dialami semua petani garam di wilayah itu. Ia sendiri sudah pernah mencoba menggenangkan air laut di lahannya, namun gagal karena tiba-tiba hujan mengguyur.”Kalau sudah kena air hujan, ya gagal, tidak bisa diteruskan. Harus mengeringkan lahan lagi baru kemudian diisi air laut,” tutur dia. 

Dirinya berharap, agar cuaca semakin stabil, sehingga dirinya bisa mulai berproduksi. Proses produksi garam memerlukan waktu mulai dari lima sampai sepuluh hari. Hal itu bergantung pada media yang digunakan.

“Kalau pakai deklit (plastik hitam) yang dipakai sebagai alas, butuh waktu sekitar 5 hari. Namun kalau beralas tanah ya 10 hari. Tetapi kalau kena air hujan ya harus memulai dari awal lagi,” imbuhnya. 

Petani lain Muslim (71) mengakui hal serupa. Dirinya memperkirakan, molornya produksi akan melambungkan harga garam. “Saat ini kosong semua stok garamnya. Hal ini tentu saja mengatrol harga garam, sebab bakul (pedagang) sudah mulai mencari tapi barangnya tidak ada,” jelasnya.

Menurut Muslim, selain Desa Tanggul Tlare, ada empat wilayah lain penghasil garam, yakni Panggung, Kalianyar, Bulak Baru dan Kedung. “Semua belum berproduksi, baru mempersiapkan lahan karena kemarin sempat hujan,” ujar warga Bulak Baru itu.  

Ia memperkirakan kisaran harga garam akan mencapai Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu per kuintal. Jika harga norma,l garam hanya berkisar Rp 30 ribu per kuintal. 

Editor : Kholistiono

Gagal Panen, Petani Garam Jepara Mengeluh

Petani garam mengolah lahan tambaknya di Desa Tanggultlare, Kecamatan Kedung, Jepara, Senin (5/9/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petani garam mengolah lahan tambaknya di Desa Tanggultlare, Kecamatan Kedung, Jepara, Senin (5/9/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Musim kemarau kali ini menjadi masa yang tidak menguntungkan bagi petani garam di Kabupaten Jepara. Karena, meski musim kemarau namun terkadang masih turun hujan. Itu membuat garam yang telah dipanaskan kembali mencair dan akhirnya tidak bisa dipanen.

Hal itu seperti yang dikeluhkan salah satu petani garam di Desa Tanggultlare, Kecamatan Kedung, Jepara, Kamsani. Menurutnya, kondisi cuaca yang tergolong kemarau basah ini membuat para petani garam merugi.

“Sekitar dua minggu terakhir ini beberapa kali turun hujan. Garam saya yang sudah mau mengering menjadi gagal,” ujar Kamsani kepada MuriaNewsCom, Senin (5/9/2016).

Sedikitnya tiga kotak lahan yang ia kelola gagal dipanen usai tersiram air hujan. Sehingga terpaksa harus mengulang proses pembuatan garam dari awal lagi.

“Sudah kena air tawar, jadi sudah tidak bisa jadi garam lagi. Ya terpaksa mengulangi dari awal,” ungkap Kamsani.

Lebih lanjut ia mengemukakan, setiap satu kotak lahan yang berukuran 40×4 meter seharusnya bisa didapatkan 20 kombong. Setiap Kombong bisa dihargai antara Rp 35-40 ribu.

Hal senada juga disampaikan Sukriman, petani garam lainnya. Menurut Sukriman, proses pembuatan garam yang dilakukan sebelumnya sudah gagal. Meski begitu, untuk saat ini belum berani memulai proses pembuatan garam lagi.

“Nunggu kalau cuacanya memang memungkinkan. Ini si baru memasang terpal dulu, nanti baru saya isi,” katanya.

Dari pantauan MuriaNewsCom di kawasan tambak garam Kecamatan Kedung, sejumlah lahan milik petani garam hanya ada sedikit yang berhasil panen.

Editor : Akrom Hazami

Duh, Musim Kemarau Panjang Harga Garam Masih Anjlok

Salah seorang petani garam sedang menyiapkan proses produksinya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah seorang petani garam sedang menyiapkan proses produksinya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Musim kemarau tahun ini cukup panjang. Meski demikian, para pengusaha garam di sentra produksi Kecamatan Kedung Jepara tak bisa sumringah. Pasalnya, harga garam di Jepara masih anjlok.

Menurut Ketua Koperasi Tirtotani Panggung, Abdul Lafiq, sampai saat ini musim kemarau belum juga usai. Sehingga para petani garam terus melakukan produksi dan meningkatkan kualitas produksi mereka.

”Tapi, harga garam tak kunjung naik. Sampai sekarang masih dibawah standar,” ujar Abdul Lafiq kepada MuriaNewsCom, Kamis (15/10/2015).

Menurutnya, harga garam biasa saat ini dibeli oleh tengkulak dengan harga Rp 170/kilogram atau 17 ribu/kuintal. Harga normalnya, garam biasa seharusnya Rp 200 sampai Rp 230/kilogram. Tak hanya garam biasa, garam yang berkualitas tinggi, yakni yang diproduksi menggunakan LTDE (terpal) harganya saat ini hanya Rp 250/kilogram. Normalnya, harganya Rp 300/kilogram.

”Untuk musim hujan, harga garam biasa mencapai Rp 300/kilogram. Garam kualitas tinggi harganya mencapai Rp 400/kilogram. Tentu saja keuntungan petani saat ini sangat sedikit,” kata Lafiq. (WAHYU KZ/TITIS W)

Ini Alasan Harga Garam di Jepara Anjlok

Jalan rusak yang juga pengaruhi anjloknya harga garam di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jalan rusak yang juga pengaruhi anjloknya harga garam di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Harga garam dari petani di Kabupaten Jepara saat ini benar-benar semakin anjlok dan tak terkendali. Harga normalnya yang mencapai Rp 35 ribu per kwintal, saat ini harganya hanya Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu per kwintal. Kondisi ini disebabkan berbagai hal, termasuk faktor lokal maupun nasional. Terlebih isu anjloknya harga garam ini juga ramai di pusat.

Rusaknya infrastruktur jalan di Kecamatan Kedung, mulai dari Pecangaan – Kedung Malang – hingga ke kawasan sentra garam, menjadi alasan penyebab harga garam anjlok yang disodorkan para tengkulak saat menolak membeli garam dengan harga tinggi. Rusaknya akses jalan terdekat dari Kedung Malang, membuat transportasi harus dialihkan dari arah Jepara, yang jelas lebih jauh jarak tempuhnya. Dari sini, para tengkulak menyatakan harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya transportasinya.

”Para tengkulak bilang harus keluar biaya transportasi lebih banyak, karena akses jalan rusak berat. Selain itu mereka bilang jika pabrik-pabrik belum mau membeli garam-garam produksi kami,” keluh Ketua Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Garam Makmur Jepara, Sukahar kepada MuriaNewsCom, Kamis (6/8/2015).

Selain alasan lokal itu, secara nasional, isu anjloknya harga garam ini juga disoroti serius oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Puji Astuti. Anjloknya harga garam dituding lantaran masuknya garam impor lebih banyak. Pihak importir menambah jumlah garam impor masuk ke Indonesia untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

”Di media massa baru-baru ini memang ramai. Katanya ini akibat dari banyaknya garam impor, jadi garam lokal hanya dihargai murah-murahan,” katanya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Petani Garam Nekat Ambil Hutang, Tunggu Harga Garam Naik

Petani garam di Kabupaten Jepara yang bekerja dengan sistem sewa lahan, situasi ini bagai simalakama. Jika tetap menjual dengan harga yang ada sekarang mereka tentu sangat merugi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petani garam di Kabupaten Jepara yang bekerja dengan sistem sewa lahan, situasi ini bagai simalakama. Jika tetap menjual dengan harga yang ada sekarang mereka tentu sangat merugi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Harga garam yang diproduksi para petani garam di Kabupaten Jepara, tahun ini mengalami penurunan terparah sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan harga yang terbentuk di pasaran hanya mencapai Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu saja per kwintal.

Dampak bagi para petani garam dari anjloknya harga, sangat beragam. Satu sisi para petani mencoba untuk tetap bertahan. Namun disisi lain, kebutuhan hidup keluarga juga tidak bisa ditahan. Mereka yang tidak kuat atas tekanan kebutuhan hidup akhirnya memilih tetap menjual garam mereka, kendati sebenarnya harganya tidak masuk hitungan.

”Bagi para petani garam yang bekerja dengan sistem sewa lahan, situasi ini bagai simalakama. Jika tetap menjual dengan harga yang ada sekarang, maka mereka bisa dikatakan tidak akan mendapatkan jaminan untuk bisa membayar sewa tahun berikutnya, yang nilainya mencapai Rp 4 juta per-tahun,” ujar Ketua Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Garam Makmur Jepara, Sukahar kepada MuriaNewsCom, Kamis (6/8/2015).

Para petani yang masih bernyali, mengambil pinjaman hutang adalah solusi terburuk yang dipilih. Dana pinjaman itu mereka gunakan untuk membangun gudang-gudang untuk menyimpan garam mereka. Sedangkan mereka yang tidak cukup memiliki ‘daya’ memilih untuk menjual garamnya.

”Bagaimana kami bisa mendapatkan untung. Harga Rp 15 ribu yang terjadi sekarang ini, riilnya kami hanya akan mendapatkan Rp 10 ribu. Itu masih dipotong biaya angkut dari tambak ke truk dan ganti tombong yang dipakai,” ujar Kasmani (60) petani garam asal Desa Bulak Baru, Kedung Jepara di tambaknya. (WAHYU KZ/TITIS W).

Harga Garam Terus Anjlok, Petani Garam Jepara Geram

Petani garam di Jepara saat melakukan produksi. Harga garam terus anjlok ke harga Rp 17 ribu bahkan Rp 15 ribu per kwintal. Harga ini membuat kalangan petani garam di Kabupaten Jepara terpukul. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petani garam di Jepara saat melakukan produksi. Harga garam terus anjlok ke harga Rp 17 ribu bahkan Rp 15 ribu per kwintal. Harga ini membuat kalangan petani garam di Kabupaten Jepara terpukul. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA –  Jika pekan kemarin harga garam di Kabupaten Jepara dari Rp 35 ribu menjadi Rp 25 ribu per kwintal. Kali ini, harga garam terus anjlok ke harga Rp 17 ribu bahkan Rp 15 ribu per kwintal. Harga ini membuat kalangan petani garam di Kabupaten Jepara terpukul. Berbagai daya upaya dilakukan oleh sebagian petani garam untuk tetap bisa ‘bertahan’. Namun tidak sedikitpula yang terpaksa menjual garamnya, karena kebutuhan hidup sudah tidak bisa kompromi.

”Per kwintal sampai ada yang dijual Rp 15 ribu, otomatis per kilogram hanya dihargai 150 rupiah saja,” kata Ketua Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) “Garam Makmur” Jepara, Sukahar kepada MuriaNewsCom, Kamis (6/8/2015).

Menurutnya, tahun ini, produksi garam di Jepara menghadapi masa suram menyusul anjloknya harga garam. Para tengkulak hanya berani membeli dengan harga Rp 25 ribu per kwintal untuk garam krosok yang diproses dengan teknik bio membran. Sedangkan harga krosok biasa harganya hanya Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu saja per kwintal. Di kawasan garam Kecamatan Kedung, sebagian besar merupakan petani garam dengan teknik konvensional. Sehingga tidak mengherankan, anjlognya harga garam ini membuat geram semua petani garam di Jepara.

Situasi buruk ini, diperkirakan akan semakin bertambah parah pada puncak panen raya September mendatang. Saat ini bisa dikatakan belum semua petani garam mencapai puncak produksi maksimalnya. Kekhawatiran ini bahkan sudah mulai diyakini oleh para petani garam bakal terjadi. (WAHYU KZ/TITIS W)