Diduga Tak Tahan Menjomblo, Pemuda di Pekalongan Nekat Gantung Diri

MuriaNewsCom, Pekalongan – Seorang pemuda di Kelurahan Kuripan Lor, Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, Jumat (26/1/2017) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di dapur rumahnya.

Pemuda yang gantung diri itu diketahui bernama Ma’ruf (27). Dikabarkan, pemuda ini nekat mengakhiri hidupnya lantaran frustasi karena telalu lama hidup melajang.

Pemuda itu kali pertama ditemukan gantung diri oleh kakak perempuannya bernama Ariswati (29), sekitar pukul 05.00 WIB. Saat ditemukan Ma’ruf sudah tergantung di dapur dengan leher terikat tali berwarna cokelat.

Sontak saja, Ariswati yang mendapati adiknya sudak tak bernyawa langsung histeris dan membuat warga sekitar berduyun-duyun mendatangi lokasi. Kasus itu pun langsuing dilaporkan ke Polsek Pekalongan Selatan.

”Petugas kami langsung datang ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Dokter puskesmas dan tim Inafis juga kami datangkan untuk memeriksa kondisi jenazah,” kata Kapolsek Pekalongan Selatan, Kompol Junaedi.

Dari hasil pemeriksaan diketahui jika kasus itu murni bunuh diri. Meski demikian, polisi juga melakukan pendalaman motif yang melatarbelakangi aksi tersebut.

Dari keterangan sejumlah saksi pada polisi, diketahui jika Ma’ruf cukup depresi karena sudah cukup lama hidup melajang. Namun polisi masih mendalami kemungkinan motif lain.

Setelah dilakukan pemeriksaan, jenazah langsung diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan.

Editor : Ali Muntoha

Warga Dokoro Grobogan Ditemukan Gantung Diri di Pinggir Hutan

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri kembali terjadi di Grobogan, Kamis (18/1/2018). Seorang warga Dokoro, Kecamatan Wirosari, ditemukan gantung diri di sebuah pohon nangka, sekitar pukul 11.00 WIB. Pelaku gantung diri diketahui bernama Karno (50), warga yang tinggal di Dusun Pagergunung.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa gantung diri kali pertama diketahui oleh Rudi Hartono (31), warga setempat. Ceritanya, ia waktu itu dalam perjalanan menuju ke ladang. Ketika sampai di pinggiran kawasan hutan, ia melihat ada sosok orang tergantung pada pohon nangka yang membuatnya sempat merasa kaget dan ketakutan.

Tidak lama kemudian, ada warga lainnya bernama Jadi (47) yang kebetulan sudah sampai ditempat itu. Saat itu, Jadi juga bermaksud hendak pergi ke ladang.

Setelah itu, keduanya segera mendekati sosok orang yang tergantung dibawah pohon nangka tersebut. Sosok orang yang tergantung diketahui adalah tetangga mereka sendiri. Akhirnya peristiwa itu dilaporkan pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Wirosari AKP Toni Basuki ketika dikonfirmasi membenarkan adanya orang gantung diri di Desa Dokoro tersebut. Menurutnya, perbuatan gantung diri dilakukan menggunakan potongan kain sarung yang dibuat jadi tali dan dikaitkan dahan pohon nangka.

Setelah dapat laporan, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa kondisi korban. Dari hasil pemeriksaan tim medis Puskesmas Wirosari dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

”Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan. Diduga korban melakukan tindakan itu karena mengalami sakit menahun tidak kunjung sembuh,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Sebelum Gantung Diri, Janda 3 Anak di Grobogan Sempat Tulis Wasiat, Ini Isinya

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebelum melakukan bunuh diri, Sri Mulyati (45) Dusun Beber, Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo ternyata sempat membuat sebuah surat wasiat untuk saudaranya. Surat dengan Bahasa Jawa yang ditulis menggunakan pensil itu dituangkan dalam selembar kertas bergaris.

Isi tulisan dalam surat itu berbunyi “kagem sederek sederek sedoyo kulo. Kulo sekeluarga nyuwun pangaputen, nyuwun tulong ponakan jenengan dekek panti, lan genduk ampon kebebanan nopo2 nggih pakde, bude, bulik, om. matur nuwun”.

Dari keterangan yang dihimpun, surat wasiat tersebut ditemukan di dalam saku pelaku. Kuat dugaan, wasiat tersebut sengaja ditulis untuk kelangsungan anak-anaknya. Seperti diketahui, pelaku bunuh diri adalah janda beranak tiga.

Kades Mayahan Saerozi mengatakan, kejadian memilukan ini memang sempat membuat warga gempar. Hanya dari hasil pemeriksaan polisi, korban meninggal karena bunuh diri dan tidak ditemukan tanda penganiayaan.

”Murni bunuh diri, tak ada tanda-tanda penganiayaan sama sekali,” katanya.

Baca: Janda 3 Anak di Grobogan Tewas Gantung Diri di Rumah Kosong

Sebelumnya, suasana Dusun Beber, Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo mendadak jadi heboh. Hal ini menyusul adanya teriakan minta tolong karena ada orang yang ditemukan gantung diri sekitar pukul 15.30 WIB.

Tak ayal, teriakan ini langsung menyebabkan puluhan warga setempat berhamburan ke lokasi kejadian. Tempat terjadinya peristiwa bunuh diri berada di sebuah rumah kosong yang selama ini digunakan untuk menyimpan pakan ternak.

Pelaku bunuh diri diketahui bernama Sri Mulyati (45), warga setempat. Janda tiga anak itu gantung diri menggunakan tambang plastik yang dikaitkan belandar bagian tengah.

Saat ditemukan, sudah tercium bau menyengat. Diperkirakan, korban sudah melakukan bunuh diri beberapa hari lalu.

”Saya terakhir ketemu hari Sabtu sore kemarin. Waktu itu, dia masih jualan lontong di rumahnya,” kata Susilo (65), kakak kandung korban, saat ditemui di kamar jenazah RSUD Purwodadi petang tadi.

Susilo merupakan orang yang pertama kali mengetahu peristiwa bunuh diri tersebut. Ceritanya, ia sore tadi hendak mengambil pakan ternak berupa kulit kacang hijau yang sudah dikemas dalam karung dan disimpan di rumah kosong tersebut.

Saat sampai di depan pintu, ia sempat mencium bau menyengat. Ketika pintu dibuka, Susilo kaget bukan main. Ia mendapati tubuh adiknya sudah terlihat kaku dengan leher terjerat tambang plastik.

Editor: Supriyadi

Janda 3 Anak di Grobogan Tewas Gantung Diri di Rumah Kosong

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana Dusun Beber, Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo mendadak jadi heboh, Rabu (17/1/2018). Hal ini menyusul adanya teriakan minta tolong karena ada orang yang ditemukan gantung diri sekitar pukul 15.30 WIB.

Tak ayal, teriakan ini langsung menyebabkan puluhan warga setempat berhamburan ke lokasi kejadian. Tempat terjadinya peristiwa bunuh diri berada di sebuah rumah kosong yang selama ini digunakan untuk menyimpan pakan ternak.

Pelaku bunuh diri diketahui bernama Sri Mulyati (45), warga setempat. Janda tiga anak itu gantung diri menggunakan tambang plastik yang dikaitkan belandar bagian tengah.

Saat ditemukan, sudah tercium bau menyengat. Diperkirakan, korban sudah melakukan bunuh diri beberapa hari lalu.

”Saya terakhir ketemu hari Sabtu sore kemarin. Waktu itu, dia masih jualan lontong di rumahnya,” kata Susilo (65), kakak kandung korban, saat ditemui di kamar jenazah RSUD Purwodadi petang tadi.

Baca: Sebelum Gantung Diri, Janda 3 Anak di Grobogan Sempat Tulis Wasiat, Ini Isinya

Susilo merupakan orang yang pertama kali mengetahu peristiwa bunuh diri tersebut. Ceritanya, ia sore tadi hendak mengambil pakan ternak berupa kulit kacang hijau yang sudah dikemas dalam karung dan disimpan di rumah kosong tersebut.

Saat sampai didepan pintu, ia sempat mencium bau menyengat. Ketika pintu dibuka, Susilo sontak kaget. Soalnya, ia mendapati tubuh adiknya sudah terlihat kaku dengan leher terjerat tambang plastik.

”Saya kaget sekali ketika buka pintu. Saya tidak menyangka terjadi peristiwa menyedihkan ini,” katanya.

Kades Mayahan Saerozi menyatakan, pihaknya langsung melaporkan kejadian itu pada Polsek Tawangharjo. Dari hasil pemeriksaan polisi, korban meninggal karena bunuh diri dan tidak ditemukan tanda penganiayaan.

Editor: Supriyadi

Rematik Tak Kunjung Sembuh, Warga Patalan Blora Gantung Diri

MuriaNewsCom, Blora – Warga di sekitar RT 02/RW 01, Desa Patalan, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora dihebohkan dengan sesosok mayat yang dalam posisi mengantung di kandang sapi belakang rumahnya sendiri.

Setelah didekati ternyata diketahui bahwa mayat itu adalah merupakan Subaji (62), warga setempat. Diduga korban nekad mengakhir hidupnya lantaran mengalami sakit rematik yang tak kunjung sembuh.

Korban pertama kali diketahui oleh istrinya sendiri, Mukti Warni (63), Senin (08/01/2018) siang. Saat itu ia baru pulang dari mencari pakan ternak dan menuju ke belakang (kandang sapi).

Hanya sesampainya di kandang, ia kaget bukan main melihat suami tercintanya tergantung di depan pintu belakang. Mukti pun langsung berteriak histeris dan meminta tolong pada sejumlah tetangganya.

”Mendengar teriakan istri korban, sontak Warga tadi ya kaget, karena mengantung di kandang sapi,” ujar Riswati salah satu tetangganya seperti dikutip dari laman Polres Blora.

Mengetahui hal itu warga langsung melaporkan kejadian itu kepada pihak Kepolisian Polsek Blora. Polisi yang mendapatkan laporan tersebut langsung mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan identifikasi mayat pria tua itu dan mengevakuasinya.

”Hasil dari olah TKP (tempat kejadian perkara) tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada korban. Sehingga penyebab kematian dari korban adalah murni bunuh diri,” terang Kapolsek Blora, AKP Sudarno.

Sebelumnya di pagi hari tidak ada kejanggalan pada perilaku korban dan sempat beraktifitas biasa pergi ke pasar. Ternyata siang hari disayangkan korban ditemukan telah menggantung di pintu kandang sapi belakang rumahnya sendiri.

Setelah dilakukan visum oleh Tim Identivikasi Polres Blora dan Tim Medis jenazah korban kemudian langsung diserahkan kepada pihak keluarga korban untuk segera dimakamkan. Menurut keluarga selama ini korban diketahui menderita sakit rematik yang yang kunjung sembuh.

”Usai memeriksa jenazah korban, kami mengamankan seutas tali tampar warna biru sepanjang 1,5 meter sebagai barang buktinya bahawa korban murni bunih diri.” pungkas AKP Sudarno.

Editor: Supriyadi

Kasus Bunuh Diri di Grobogan Tinggi, Ternyata Ini Penyebabnya

MuriaNewsCom, Grobogan – Angka kasus bunuh diri di Kabupaten Grobogan tiap tahun masih sangat tinggi. Dan hal ini akan bagi jadi salah satu PR serius bagi Pemkab Grobogan.

Kabag Kesra Pemkab Grobogan Moh Arifin menyatakan, pihaknya juga merasa prihatin dengan maraknya kasus bunuh diri itu. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menggandeng berbagai elemen masyarakat untuk memberikan penyuluhan.

Rencananya, organisasi Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) akan diajak untuk membahas masalah ini. Selain itu, pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga akan digandeng.

Sejauh ini, pihaknya sudah menaruh perhatian terhadap masalah bunuh diri tersebut. Namun, untuk menekan kasus tersebut dinilai bukan pekerjaan mudah.

Sebab, latar belakang kasus bunuh diri itu cukup kompleks. Sehingga perlu melibatkan berbagai komponen untuk bersama-sama menangani masalah bunuh diri itu.

“Selain dari pemkab, banyak elemen masyarakat termasuk LSM yang menaruh perhatian pada masalah ini. Sejauh ini, hasilnya memang sudah cukup baik meski belum bisa menghilangkan kasus bunuh diri secara keseluruhan,” kata mantan Camat Purwodadi itu.

Masih adanya warga yang nekat mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri juga mendapat perhatian dari Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali.

“Adanya warga yang melakukan bunuh diri ini sangat memprihatinkan. Ini, menjadi persoalan yang butuh perhatian serius dari banyak pihak,” ujarnya.

Sejauh ini, latar belakang paling tinggi yang jadi penyebab orang bunuh diri adalah soal ekonomi. Namun, sebenarnya ada faktor lain yang mendorong orang nekat melakukan tindakan tersebut. Yakni, minimnya pemahaman masalah keagamaan.

Menurut Arifin, sejauh ini pihaknya sudah melakukan upaya untuk menekan angka bunuh diri. Salah satunya dengan menyiarkan ke masyarakat umum tentang ruginya melakukan bunuh diri. Seruan itu disampaikan melalui beragam kegiatan yang dilakukan kemenag ke berbagai elemen masyarakat.

“Satu-satunya jalan untuk menekan angka bunuh diri adalah pembinaan akidah bagi masyarakat. Jalur yang dilakukan bisa melalui pendidikan agama di sekolah atau madrasah dan pengajian yang bersifat umum. Ini sangat perlu dilakukan agar seseorang tidak membuang umurnya dengan sia-sia melalui tindakan bunuh diri,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Kakek di Sumberjatipohon Grobogan Gantung Diri di Kamar Mandi Tetangga

Polisi sedang memeriksa lokasi yang digunakan gantung diri warga Dusun Kuncen, Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan, Jumat (29/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri kembali terjadi lagi di Grobogan. Jumat (29/12/2017) seorang kakek berumur 85 tahun ditemukan tak bernyawa dalam kondisi tergantung.

 Pelaku gantung diri diketahui bernama Warto (85), warga Dusun Kuncen, Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan. Korban diketahui gantung diri sekitar pukul 02.00 WIB. Perbuatan gantung diri itu dilakukan di kamar mandi tetangganya Suhartono (62).

Informasi yang didapat menyebutkan, sebelumnya korban sempat bertamu di rumah Suhartono untuk menonton televisi. Sekitar pukul 22.30 WIB, korban pamit dan selanjutnya tuan rumah langsung beranjak tidur.

Sekitar pukul 02.00 WIB, Suhartono terbangun karena ingin buang air kecil. Selanjutnya, ia bergegas menuju kamar mandi di belakang rumahnya.

Saat hendak masuk kamar mandi, Suhartono langsung dibikin kaget bukan kepalang. Soalnya, ia mendapati sosok tetangganya sudah tergantung dengan leher terjerat tali yang dikaitkan ke blandar kamar mandi.

Melihat kejadian ini, ia pun langsung berteriak minta pertolongan. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berhamburan menuju lokasi kejadian. Saat diperiksa, korban didapati sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Belum diketahui, motif utama korban gantung diri. Selanjutnya, warga melalui perangkat desa melaporkan kejadian gantung diri itu pada pihak Polsek Grobogan.

Kapolsek Tawangharjo AKP Sucipto ketika dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa bunuh diri tersebut. Dari hasil pemeriksaan tidak ada tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri. Jenazah korban sudah kita serahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” katanya. 

Editor : Ali Muntoha

Pulang Belanja Nenek di Grobogan Kaget Lihat Suaminya Gantung Diri

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi lagi di Grobogan. Peristiwa gantung diri terbaru terjadi di Dusun Plumpung, Desa Kemadohbatur, Kecamatan Tawanghrajo. Pelakunya diketahui bernama Darsono (66), warga setempat.

Darsono diketahui gantung diri sekitar pukul 08.00 WIB. Perbuatan gantung diri itu dilakukan di ruang dapur rumahnya sendiri. Alat yang dipakai gantung  diri berupa tali tambang plastik.

Peristiwa gantung diri tersebut kali pertama diketahui Sarmi (66), istri korban. Saat pulang belanja dan hendak menaruh barang di dapur, ia sontak kaget.

Soalnya, ia mendapati sosok suaminya sudah tergantung dengan leher terjerat tali yang dikaitkan blandar rumah.

Melihat kejadian ini, ia pun langsung berteriak minta pertolongan menantunya dan warga sekitar.Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berhamburan menuju lokasi kejadian. Saat diperiksa, korban didapati sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Belum diketahui, motif utama korban gantung diri. Selanjutnya, warga melalui perangkat desa melaporkan kejadian gantung diri itu pada pihak Polsek Tawangharjo.

Kapolsek Tawangharjo AKP Sudarsono ketika dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa bunuh diri tersebut. Adapun latar belakangnya, korban diduga putus asa karena mengidap penyakit yang tidak kunjung sembuh.

“Dari hasil pemeriksaan tidak ada tanda kekerasan. Korban murni bunuh diri. Dugaannya disebabkan sakit yang diderita selama ini. Jenazah korban sudah kita serahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Pemuda Mayahan Grobogan Gantung Diri di Pohon Mahoni

Polisi memeriksa lokasi gantung diri yang dilakukan warga Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo, Minggu (24/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan digegerkan adanya peristiwa gantung diri, Minggu (24/12/2017) sekitar pukul 06.00 WIB. Pelaku gantung diri diketahui bernama Suyanto (28), warga yang tinggal di wilayah RT 05, RW 01.

Peristiwa gantung diri tersebut kali pertama diketahui oleh Muslimah (49) ibu korban. Saat itu, Muslimah hendak keluar rumah lewat pintu samping menuju kamar mandi. Pada saat itulah, ia melihat tubuh Suyanto tergantung di atas pohon mahoni dengan leher terjerat tali plastik.

Melihat kondisi itu, Muslimah langsung berteriak minta pertolongan warga. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa, korban diketahui sudah dalam keadaan meninggal dunia. Selanjutnya, warga melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Tawangharjo AKP Sudarsono membenarkan adanya peristiwa gantung diri di Desa Mayahan tersebut. Setelah dapat laporan, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa kondisi korban.

Dari hasil pemeriksaan tim medis Puskesmas Tawangharjo dan Inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya.

Berdasarkan keterangan saksi, pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00 WIB, korban sempat pamit mau ke luar rumah pada orang tuanya. Namun, sampai Subuh korban diketahui belum pulang dan akhirnya ditemukan gantung diri.

Editor : Ali Muntoha

Kakek di Pati Gantung Diri Setelah Cekcok dengan Istri

Petugas Polsek Jakenan melakukan olah TKP di lokasi dimana korban gantung diri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang kakek bernama Sukarno (69), warga Dukuh Tambak Kapas, Kecamatan Tambahmulyo, Pati, ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri, Jumat (22/12/2017).

Korban meninggal dunia di tempat penyimpanan di sebelah rumahnya sendiri. Warga setempat yang mengetahui kondisi korban langsung menurunkan jenazah kakek itu.

Dari informasi yang dihimpun, Sukarni sudah sepekan tidak pulang ke rumah. Ia juga kerap terlibat cekcok dengan istrinya dalam beberapa hari terakhir.

Atas kejadian tersebut, pihak keluarga sudah menerima kematian korban. Sementara polisi yang mengetahui informasi tersebut lantas melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa kondisi korban bersama petugas medis.

Menurut keterangan dr Sutini, terdapat luka lecet pada bagian leher, lebam di punggung dan jari kaki sudah menjamur.

“Korban meninggal dunia karena kehabisan napas karena terjerat tali plastik tampar sepanjang satu meter dengan ketinggian dua meter,” jelas dr Sutini.

Kapolsek Jakenan AKP Suyatno menambahkan, tidak ada tanda-tanda penganiayaan dalam tubuh korban, sehingga jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk disemayamkan.

Editor : Ali Muntoha

Perempuan Paruh Baya di Tegalarum Pati Gantung Diri, Ini Penyebabnya

Polisi dan tim medis tengah memeriksa warga Tegalarum, Margoyoso yang meninggal akibat gantung diri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang perempuan paruh baya bernama Ngatini (50), warga Desa Tegalarum RT 6 RW 1, Margoyoso ditemukan tewas gantung diri di rumahnya sendiri, Senin (20/11/2017).

Kejadian itu pertama kali diketahui Ria Fitriana (25), puterinya setelah pulang mengajar di TK Dharma Wanita. Saat itu, Ria masuk ke rumah dan melihat Ngatini sudah dalam keadaan tergantung di kusen pintu kamar belakang.

Dia lantas memotong tali yang digunakan untuk menjerat leher Ngatini. Setelah turun, Ria meminta tolong kepada warga sekitar.

Baca: Astaga, Gerombolan Rampok di Bae Kudus Juga Gasak Uang Kas Musala

Namun, saat diperiksa bersama-sama, Ngatini ternyata sudah tidak bernapas. Perangkat desa yang mengetahui informasi tersebut melaporkannya kepada petugas kepolisian.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan polisi dan tim medis, korban mengalami luka jeratan pada leher dan tidak bisa bernapas sehingga meninggal dunia. “Tidak ada tanda-tanda penganiayaan. Ini murni karena bunuh diri,” kata Kapolsek Margoyoso AKP Amlis Chaniago.

Dari keterangan yang diperoleh dari pihak keluarga, korban sebelumnya sudah dua kali mencoba bunuh diri tapi gagal. Dia mengalami depresi dan putus asa, sehingga nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.

Editor: Supriyadi

Diduga Alami Tekanan Jiwa Warga Mindahan Jepara Pilih Bunuh Diri

Dokter sedang memeriksa luka yang ada pada tubuh Ribhi setelah melakukan bunuh diri. Dari keterangan dokter Puskesmas Batealit, kematian korban murni bunuh diri. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Diduga mengalami tekanan jiwa, Ribhi Azizi (26) mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Jasadnya ditemukan di rumahnya yang berada di Desa Mindahan, RT/RW 05/02, Kecamatan Batealit, pada pukul 08.00, Senin (20/11/2017) pagi tadi. 

Peristiwa itu pertama kali diketahui oleh saudaranya Subkhan (29). Saat lewat di depan kamar Ribhi, ia melihat tubuh pria berjenggot tipis itu telah tergantung. Lehernya terikat tali nilon warna oranye. 

“Saat itu saya lihat di atas ranjang ada kursi kayu dalam posisi roboh. Lalu saya langsung memanggil Vicky, Lutfi dan Andim. Kemudian berusaha menolong,” ujarnya. 

Mereka lantas berusaha menolong Ribhi dengan cara memotong tali nilon tersebut. Namun nahas, nyawa yang bersangkutan tidak tertolong. 

Kejadian itu lantas dilaporkan ke pemerintah desa setempat, yang kemudian memanggil petugas kepolisian dan puskesmas. Dari pemeriksaan dokter Puskesmas Batealit, kematian korban murni bunuh diri. Hal itu diindikasikan pada luka jeratan di leher dan diketemukan kotoran serta air mani pada kelamin korban. 

Dari penuturan kerabat korban, Ribhi diketahui baru pulang dari RSUD Kartini karena gangguan jiwa. Selain itu, menurut informasi, dua tahun lalu korban juga pernah mencoba bunuh diri. Namun saat itu, upayanya tersebut bisa digagalkan.

Editor: Supriyadi

Penyakit Tak Kunjung Sembuh, Pemuda di Tlogowungu Pati Gantung Diri

Petugas tengah melakukan pemeriksaan pada jenazah Setyo yang bunuh diri karena stres akibat penyakit epilepsi yang tak kunjung sembuh. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pemuda bernama Setyo Utomo (24), warga Tlogorejo RT 4 RW 1, Tlogowungu nekat bunuh diri dengan gantung diri, Jumat (10/11/2017).

Dari keterangan pihak keluarga, Setyo menderita penyakit epilepsi cukup lama. Diduga karena masalah tersebut, Setyo mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

“Korban mengalami stres karena penyakitnya tidak kunjung sembuh. Dia lantas menggantung diri di atap rumah menggunakan selendang,” ujar Kasat Reskrim Polres Pati AKP Ari Sulistyawan.

Djalidin, ayah korban sempat syok melihat anaknya tersebut meninggal dunia di kamarnya. Saat itu, Djalidin hendak melihat kondisi Setyo.

Dia hanya bisa pasrah menerima kenyataan pahit yang menimpa anaknya. Berbagai pengobatan sebetulnya sudah diupayakan, tetapi penyakit putranya itu memang tidak kunjung sembuh.

Sementara hasil pemeriksaan dari dr Laela, petugas medis dari Puskesmas Tlogowungu menunjukkan, korban meninggal dunia karena penyumbatan saluran rongga pernapasan akibat terjerat selendang sepanjang 1,5 meter.

“Tidak ada tanda-tanda penganiayaan. Ibu jari kaki mengeluarkan darah karena terbentur benda di sekitarnya saat kejang-kejang. Mulut mengeluarkan busa karena saluran pernapasan tersendat,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Pemuda 22 Tahun di Kudus Tewas Gantung Diri di Kamar Tidur

Jenazah Ahmad Yusro, warga Dukuh Ngaringan, Desa Klumpit RT 2/RW 7 Kecamatan Gebog terbujur kaku setelah memilih mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ahmad Yusro, warga Dukuh Ngaringan, Desa Klumpit RT 2/RW 7 Kecamatan Gebog ditemukan tewas gantung diri di kamar tidur rumahnya sekitar pukul 13.00 WIB. Pemuda berusia 22 tahun itu mengakhiri hidupnya dengan tali yang digantung di kusen pintu kamar.

Dari informasi yang dihimpun, jenazah Ahmad Yusro pertama kali ditemukan ibunya sendiri, Muslikah. Kala itu, Muslikah yang berprofesi sebagai  buruh rokok baru saja pulang kerja. Karena, tak punya firasat apapun, Muslikah masuk rumah seperti biasa.

Hanya saja, sesampainya di rumah ia kaget melihat putranya tergantung di kamar dengan televisi masih menyala. Ia pun langsung menangis histeris dan meminta tolong tetangganya.

Baca Juga: Pria Asal Tegalharjo Pati Bacok Ayah dan Ibunya dengan Golok

Suwaji (51) paman korban mengatakan, korban diperkirakan meninggal sekitar pukul 13.00 WIB. Karena, sekitar jam 14.00 WIB, dia dihubungi saudaranya kalau keponakannya yang juga rumahnya berdekatan sudah meninggal.

”Mendapat kabar itu saya langsung izin pulang. Sampai di rumah malah barengan dengan polisi. Kemudian dibantu dengan warga, jenazah kami turunkan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurut dia, korban adalah anak pertama dari pasangan Muslikah dan Gunadi. Sang ibuberpofesi sebagai buruh rokok dan ayahnya merantau ke Bali. Dia tinggal bersama ketiga adiknya, yang masih duduk di bangku sekolah.

Dikatakan, keponakannya melakukan aksi bunuh diri dalam sebuah kamar tidur. Saat melakukan, rumah dalam keadaan kosong, karena ibunya masih kerja dan ketiga adiknya masih sekolah.

“Saat menurunkan jenazah, tv masih menyala. Jadi diperkirakan meninggalnya juga belum lama. Selain itu, tubuhnya juga belum terlalu kaku,” ungkap dia.

Dijelaskan, bahwa keponakan dia merupakan sosok yang pendiam dan tertutup. Sehingga tak tahu apa yang menyebabkan sampai nekat bunuh diri. Pihaknya juga kaget, diketahui kalau sehari  sebelumnya masih bekerja di bordir komputer di Desa Padurenan Gebog.

Editor: Supriyadi

Hendak Ambil Beras, Warga Desa Mangunrejo Grobogan ini Kaget Lihat Suaminya Gantung Diri

Polisi memeriksa korban gantung diri yang dilakukan warga Dusun Mamboyo, Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi lagi di Grobogan, Jumat (25/8/2017). Seorang warga Dusun Mamboyo, Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon ditemukan tewas gantung diri di rumahnya sekitar pukul 09.00 WIB. Pelaku gantung diri diketahui bernama Suwardi, seorang kakek berusia 70 tahun.

Informasi yang didapat menyebutkan, sebelum kejadian, korban masih sempat ngobrol dengan istrinya Saliyem (65) di dalam rumah. Kemudian, sekitar pukul 07.00 WIB, Saliyem pamit mau ngarit atau mencari rumput ke sawah.

Sekitar dua jam kemudian, Suliyem pulang karena sudah dapat sekeranjang rumput buat pakan ternaknya. Setelah menaruh rumput dan cuci tangan, ia bermaksud mengambil beras di dalam kamar lantaran mau memasak nasi buat makan siang.

Saat masuk kamar penyimpanan beras, Suliyem sontak kaget. Sebab, di dalam kamar itu, ia mendapati tubuh Suwardi sudah tergantung di bawah belandar dengan leher terjerat tali.

Melihat kenyataan itu, Saliyem selanjutnya lari keluar rumah sambil berteriak minta pertolongan warga. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa, korban diketahui sudah dalam keadaan meninggal dunia. Selanjutnya, warga melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Pulokulon AKP Juhari menyatakan, setelah menerima laporan, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Pulokulon dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Mau Bersih-bersih, Penjaga MI di Grobogan Kaget Temukan Orang Gantung Diri di Kebun Jati

Sejumlah petugas sedang memeriksa kondisi pelaku gantung diri di Dusun Jetis, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari, Grobogan, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganSeorang penjaga Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Dusun Jetis, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari sempat dibikin kaget saat melakukan aktvitas rutin, Rabu (23/8/2017). Saat hendak bersih-bersih di sekitar sekolahan, penjaga dan petugas kebersihan berusia 32 tahun itu melihat ada pemandangan yang membuatnya merinding.

Sebab, ia melihat ada sosok orang yang tergantung di sebuah pohon jati dengan leher terjerat tali plastik. Selanjutnya, Eko segera menghubungi warga untuk mengabarkan apa yang sudah dilihatnya tersebut.

Setelah dapat kabar, sejumlah warga kemudian berdatangan menuju lokasi kebun jati di dekat madrasah tersebut. Beberapa warga, kemudian mencoba mengecek kondisi orang yang gantung diri tersebut. Saat diperiksa, kondisi orang tersebut sudah tidak bernyawa.

Pelaku gantung diri itu diketahui bernama Supir (70), warga setempat. Lokasi gantung diri dilakukan di kebun jati miliknya sendiri. Peristiwa itu selanjutnya dilaporkan warga pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Wirosari AKP Toni Basuki membenarkan adanya peristiwa gantung diri di Desa Tanjungrejo tersebut. Menurutnya, setelah dapat laporan, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa kondisi korban.

Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Wirosari dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Ini Pesan Terakhir Pemuda Pati yang Tewas Gantung Diri di Kudus

Polisi dan warga tengah mengevakuasi mayat yang tergantung di pintu kamar kos di Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus. (Foto : Polsek Bae)

MuriaNewsCom, Kudus – Johan Rudianto (23), warga Desa Banyutowo RT 03 RW 02, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di dalam kamar kos miliknya di Desa Dersalam, Kecamatan Bae ternyata sempat meninggalkan pesan.

Pesan tersebut tertulis dalam aplikasi WhatsApp yang ditujukan kepada sebuah nomor di hpnya. Sayang nomor tersebut tak bernama dan belum bisa dihubungi.

Kapolsek Bae AKP Sardi mengatakan, pesan tersebut diketahui saat petugas memeriksa handphone yang disimpan dalam saku celana. Setelah diperiksa percakapannya, ternyata korban sempat mengirim pesan ke salah satu nomor.

“Dalam pesan tertulis tolong rawat mayatku. Sayangnya, dalam nomor tersebut tak dikasih nama, sehingga tidak diketahui siapakah pemilik nomor telepon,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Baca Juga: Warga Kudus Ini Syok Lihat Mayat Tergantung di Pintu Kamar Kosnya

Pihak kepolisian juga tengah menyelidiki siapa pemilik nomor tersebut. Namun hingga kini masih belum bisa ditemukan siapakah pemilik dari nomor tersebut. Hanya, dia menduga kalau pemilik nomor merupakan orang yang sangat disayangi hingga disayangi olehnya.

Dugaan sementara, korban meninggal karena sakit hati atau putus cinta. Hal itu juga kalau melihat usia yang masih muda. Hanya saja dugaan tersebut masih belum pasti. Saat ini pihaknya bersama petugas lainnya masih melakukan penyeledikan.

“Yang pasti, bunuh diri itu tak akan menyelesaikan masalah. Karena itu, jangan berpikir pendek,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Miris, Kakek di Taruman Grobogan Ditemukan Gantung Diri 

Polisi memeriksa lokasi gantung diri yang dilakukan warga Dusun Lengki, Desa Taruman, Kecamatan Klambu, Grobogan. (MuriaNewsCom /Dani Agus)

MuriaNewsCom,  Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi di Dusun Lengki, Desa Taruman, Kecamatan Klambu, Grobogan, Jumat (11/8/2017). Seorang kakek berusia 83 tahun bernama Rusban ditemukan gantung diri di kamar tidur.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa gantung diri kali pertama diketahui oleh anak korban bernama Ari (39). Ceritanya, menjelang magrib Ari tidak mendapati ayahnya di rumahnya. Sebelumnya, Rusban memang berada di rumahnya sejak siang hari.

Selanjutnya, Ari menuju ke rumah ayahnya yang berada di sebelah utara tempat tinggalnya. Saat dipanggil, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Selanjutnya, ia mencoba mencari ayahnya ke dalam kamar.

Saat membuka tirai, Ari sontak kaget. Sebab, ia mendapati tubuh ayahnya tergantung di bawah pasak rumah dengan leher terjerat tali plastik.

Melihat kenyataan itu, Ari selanjutnya berteriak minta pertolongan warga. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa, korban diketahui sudah dalam keadaan meninggal dunia. Selanjutnya, warga melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Klambu AKP Asep Priyana menyatakan, saat petugas tiba di lokasi, posisi korban sudah diturunkan dan ditempatkan di meja ruang tamu. Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Klambu dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya, Sabtu (12/8/2017).

Editor : Akrom Hazami 

Remaja Asal Mojolawaran Pati Nekat Gantung Diri, Ini Penyebabnya

Polisi dan tim medis saat memeriksa kondisi korban gantung diri di Desa Mojolawaran, Gabus, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Remaja berusia 17 tahun asal Desa Mojolawaran, Kecamatan Gabus, Zamroni, ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri di rumahnya, Senin (10/7/2017).

Korban ditemukan pertama kali oleh ayahnya, Sudarminto. Saat itu, korban mengalami sakit perut karena tidak bisa buang air besar (BAB).

Korban sempat diajak berobat sekitar pukul 14.00 WIB. Keluarga tidak menyangka bila setelah itu, Zamroni nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Pasalnya, seusai berobat, dia sempat membeli es di rumah tetangga. Sekitar pukul 15.00 WIB, Sudarminto memanggil anaknya, tetapi tidak kunjung ada jawaban.

“Ayah korban masuk ke kamar korban dan menemukan anaknya sudah dalam keadaan tergantung menggunakan tali plastik. Ayah korban langsung menangis histeris,” ungkap Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

Beberapa keluarga yang mendengar teriakan sang ayah langsung mendekat. Setelah dicek, korban ternyata sudah tidak bernyawa.

Dr Findi, tim medis yang memeriksa korban menyatakan bahwa korban meninggal dunia murni karena gantung diri. Sebab, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban.

Polisi menyimpulkan, korban diduga nekat mengakhiri hidupnya karena frustasi dengan penyakitnya yang tidak bisa sembuh. Korban sempat mengeluh kesakitan pada bagian perut karena tidak bisa BAB.

Editor : Kholistiono

Pamit Salat Magrib, Bujangan Asal Pojok Grobogan ini Ditemukan Tewas Gantung Diri

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Grobogan – Seorang pemuda bernama Eko Agus Wahyudi, warga Desa Pojok, Kecamatan Pulokulon, Grobogan nekat mengakhiri hidupnya dengan jalan gantung diri, Jumat (7/4/2017). Ironisnya, tindakan bunuh diri pemuda 27 tahun itu dilakukan di rumah Budhenya Riyati (60) yang tinggal di Desa Jatiharjo, Kecamatan Pulokulon.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa bunuh diri itu diketahui menjelang Isya, sekitar pukul 18.45 WIB. Agus diketahui gantung diri di kamar belakang rumah budhenya yang biasa digunakan untuk tempat salat.

Sebelum gantung diri, sekitar pukul 18.00 WIB, Agus sempat pamit mau salat magrib. Setelah mengambil air wudhu, ia kemudian mengenakan peci putih, kaos hitam yang dirangkapi baju lengan panjang warna cokelat dan memakai sarung.

Menjelang Isya, Riyati mencoba memanggil keponakannya untuk diajak makan malam. Beberapa kali dipanggil, tidak ada jawaban. Kemudian, Riyati bersama anak perempuannya Uki Aryanti (30) menuju kamar belakang.

Saat membuka pintu kamar yang sebelumnya tertutup, keduanya sontak kaget dan langsung berteriak histeris. Sebab, mereka mendapati tubuh Agus sudah tergantung di bawah belandar dengan leher terlilit sarung.

Warga sekitar yang mendengar teriakan tersebut berhamburan ke lokasi kejadian. Beberapa orang di antaranya kemudian mengecek kondisi pelaku yang diketahui sudah tidak bernyawa.

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Eko Adi Pramono ketika dimintai komentarnya menyatakan, dari olah TKP dan pemeriksaan yang dilakukan, pelaku dinyatakan murni bunuh diri. “Tidak ada tanda kekerasan. Pelaku gantung diri pakai sarung yang difungsikan sebagai tali. Untuk motif bunuh diri masih kita dalami,” jelasnya pada wartawan.

Dijelaskan, berdasarkan keterangan sejumlah saksi, Agus diketahui sudah dua hari berada di rumah budhenya. Selain bersilaturahmi, salah satu tujuannya ke tempat budhenya adalah untuk minta informasi pekerjaan sebagai buruh bangunan proyek karena sudah cukup lama menganggur.

Editor : Kholistiono

Diduga Frustasi, Kakek Ini Nekat Akhiri Hidupnya dengan Gantung Diri di Pohon Mangga

Banus, kakek asal Desa Wedelan, Kecamatan Bangsri, Jepara, yang ditemukan gantung diri di pohon mangga belakang rumahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Banus, kakek asal Desa Wedelan, Kecamatan Bangsri, Jepara, yang ditemukan gantung diri di pohon mangga belakang rumahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Banus (80), Warga Desa Wedelan RT 2 RW 9, Kecamatan Bangsri, Jepara, nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di pohon mangga belakang rumahnya pada Selasa (31/1/2017) malam, sekitar pukul 19.15 WIB.

Belum diketahui secara pasti motif pelaku. Namun, sebelum melakukan aksinya tersebut, pelaku sempat mengaku bosan hidup kepada istrinya yang bernama Parti.

“Banus ditemukan tewas oleh istrinya sendiri, Parti (67). Dari keterangan sang istri, sebelum bunuh diri sekitar pukul 18.30 WIB, korban sempat tiduran bersama istrinya di kamar. Korban sempat mengeluh mengenai kondisinya sudah tua namun tak kunjung meninggal. Sudah tua, mengapa tidak mati-mati,” ujar Kapolsek Bangsri AKP Timbul Taryono. 

Sementara itu, sang istri tertidur terlebih dahulu. Setelah itu, lalu bangun sekitar pukul 19.15 WIB. Namun, suaminya tak lagi di sisinya. Parti berniat mencarinya, namun ia sudah mendapati suaminya tergantung di belakang rumah. 

Informasinya, pelaku gantung diri menggunakan tali sepanjang empat meter. Tinggi ranting pohon untuk mengikat tali sekitar 3,5 meter. Korban diduga naik ke pohon menggunakan tangga.  Hal itu terlihat dari tangga yang masih di pohon samping korban saat ditemukan.

Mendapati laporan adanya orang gantung diri,  petugas dari Polsek Bangsri bersama pihak desa dan puskesmas mendatangi lokasi. Korban langsng dievakuasi dan dilarikan ke Puskesmas Bangsri.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh pelaku. Jenazah pelaku langsung dikebumikan saat itu juga oleh pihak keluarga. ”Pihak keluarga menolak untuk dilakukan autopsi. Akhirnya kami minta untuk mengisi surat pernyataan,” ucapnya.

Ia mengimbau agar kejadian serupa tak terulang kembali. Sebab setiap masalah hidup pasti ada penyelesaian.  ”Masalah dalam hidup atas frustasi itu wajar. Tapi jangan sampai mengakhiri hidup dengan melakukan bunuh diri,” imbaunya.

Editor : Kholistiono

Ini Hasil Visum Korban Gantung Diri di Trangkil Pati

 Kapolres Pati AKBP Ari Wibowo meninjau langsung korban gantung diri di Desa Trangkil, Senin (29/8/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)


Kapolres Pati AKBP Ari Wibowo meninjau langsung korban gantung diri di Desa Trangkil, Senin (29/8/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Rohalim (65), warga Desa Trangkil RT 4 RW 5 tewas gantung diri di tiang belandar belakang rumah miliknya, Senin (29/8/2016). Kejadian tersebut sempat menggemparkan warga setempat, karena tidak mengira bila Rohalim nekat menghabisi nyawanya sendiri.

Kapolsek Wedarijaksa AKP Rochana Sulistyaningrum mengatakan, korban sebetulnya baru saja keluar dari RSI Margoyoso untuk menjalani perawatan medis karena menderita penyakit pada bagian usus. Namun, korban memaksa untuk pulang ke rumah.

“Menurut pengakuan keluarga, korban nekat mengakhiri hidup karena sakit usus yang diderita tidak sembuh-sembuh. Tidak tahan dengan penyakit yang tak kunjung sembuh tersebut, akhirnya korban memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidup dengan gantung diri,” kata AKP Sulistyaningrum.

Saat ditemukan, korban yang memiliki tinggi badan 160 cm ini mengenakan celana pendek warna biru, terdapat tato kalajengking pada dada sebelah kanan. Untuk mengetahui penyebab sesungguhnya kematian korban, visum dilakukan Tim Medis dari Puskesmas Trangkil yang dipimpin dr Heni Indriastuti.

Dari hasil visum, terdapat pembesaran pada leher, kelopak mata bagian kiri membesar, perut membesar, jari tangan pada ujung mengalami kebiruan, ujung kaki mengalami kebiruan dan kaku, dubur normal, serta alat kelamin keluar cairan. “Dari hasil visum yang kami lakukan, tidak ada tanda-tanda penganiayaan. Korban sudah meninggal tiga jam yang lalu sejak ditemukan pada pukul 06.30 WIB,” tutur dr Heni.

Editor : Kholistiono

Kakek di Jekulo Ini Gantung Diri, Karena Sakitnya yang Tak Kunjung Sembuh

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kejadian bunuh diri, kembali terjadi di Kudus. Kali ini kejadian yang mengakhiri diri sendiri itu terjadi di Desa Honggosoco RT 4 RW 1 Kecamatan Jekulo, Kudus.

Hal itu diutarakan Kapolsek Jekulo AKP Mardi. Menurutnya, kejadian bunuh diri itu terjadi pada Kamis (29/1/2015) sekitar pukul 17.00 WIB. Dari keterangan yang dihimpun, ternyata kakek tersebut, Abdul Basir (70) sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri namun selalu gagal.

”Dari keterangan yang kami dapat dari istrinya, Jumini, korban sudah tiga kali mencoba untuk bunuh diri. Namun selalu digagalkan lantaran diketahui anggota keluarga,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kejadian pertama, kata dia mencoba bunuh diri dengan racun serangga. Saat itu diketahui oleh istrinya dan berhasil dicegah. Namun hal itu tidak mengurungkan niat untuk bunuh diri, sehingga percobaan kembali dilakukan kali kedua dengan cara memakan obat sakit kepala jenis Bodrex langsung enam biji ditambah dengan minuman bersoda jenis sprite.

Kejadian percobaan kali kedua juga kembali digagalkan lantaran diketahui oleh anggota keluarga. Namun kemarin, saat kondisi rumah dalam keadaan sepi, kembali sang kakek mencoba untuk kembali bunuh diri dengan menggantung pada rumah bagian tengah.

”Kemarin rumah pas keadaan kosong. Sehingga aksi bunuh dirinya tidak ada yang melarang dan menghentikan,” ujarnya.

Kejadian itu diketahui kali pertama oleh Riana Anggraeni yang juga sebagai menantu korban. Saat itu saat pulang kerja, kaget karena melihat mertuanya sudah terbujur kaku dengan tali berbahan kain yang mengikat pada lehernya.

Melihat hal itu, lanjutnya, menantu langsung mencari ibu mertuanya yang tidak berada di rumah. Namun di tengah jalan bertemu dengan suaminya sehingga langsung diberi tahu kalau ayahnya sudah meninggal.
Mendengar hal itu dia langsung pulang untuk melihatnya. Setelah itu, mereka meminta bantuan tetangga Nono, untuk melaporkan kejadian itu kepada kantor polisi Jekulo.

”Kemudian petugas datang untuk melihat kondisi. Setelah itu petugas langsung membawa ke puskesmas Jekulo untuk diperiksa,” ujarnya.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Ani Fatmawati, korban murni melakukan bunuh diri. Sebab tidak ada luka lain selain bekas gantung diri yang menjerat pada leher bagian kiri.

Dari keterangan yang dihimpun kepolisian. Korban memang mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Bahkan selama hidupnya kakek itu harus rutin mengonsumsi obat.

Editor : Titis Ayu Winarni

Diduga Depresi, Seorang Suami di Grobogan Nekat Akhiri Hidupnya dengan Gantung Diri

Ilustrasi Gantung Diri

Ilustrasi Gantung Diri

 

GROBOGAN – Peristiwa bunuh diri kembali terjadi di Grobogan. Sekitar pukul 14.00 WIB, Isngadi (35) warga Desa Tahunan, Kecamatan Gabus ditemukan tewas gantung diri.

Informasi yang didapat menyebutkan, sebelum kejadian, istri korban Farsilah sempat pamit pada suaminya untuk cari rumput buat pakan ternak. Sekitar dua jam kemudian, dia sudah kembali ke rumah dengan membawa rumput segar.

Setelah menaruh rumput di kandang, Farsilah kemudian menuju ke kamar untuk ganti pakaian. Namun, ketika masuk kamar, dia mendapati suaminya sudah tergantung di bawah pasak rumah dengan leher terjerat tali.

Melihat kejadian itu, istri korban kemudian berteriak minta tolong. Warga yang mendengar jeritan itu bergegas menuju rumah korban.

Sayangnya, saat diperiksa warga, korban didapati sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Kejadian itu selanjutnya dilaporkan pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian setempat.

Kapolsek Sulursari Iptu Abbas ketika dimintai komentarnya membenarkan adanya peristiwa gantung diri tersebut. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan korban murni melakukan tindakan bunuh diri dan tidak ditemukan bekas penganiayaan.

“Setelah kita periksa, korban kita serahkan pada keluarga untuk dimakamkan. Mengenai latar belakang, kemungkinan korban depresei lantaran masalah ekonomi,” katanya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Siswi SMA dan Pria 47 Tahun Bunuh Diri di Hari yang Sama

Ilustrasi Gantung Diri

Ilustrasi Gantung Diri

 

GROBOGAN – Peristiwa orang bunuh diri di Grobogan tampaknya perlu mendapat perhatian serius dari instansi terkait. Karena, sampai sekarang masih muncul kasus tersebut di beberapa tempat.

Hari Senin (21/12/2015) lalu misalnya, ada dua orang yang dilaporkan bunuh diri dalam waktu dan tempat berlainan. Peristiwa pertama terjadi di Desa Sulursari, Kecamatan Gabus sekitar pukul 09.00 WIB. Pelaku bunuh diri diketahui bernama Soegiman, warga setempat.

Pria 47 tahun itu ditemukan tewas di kamar mandi rumahnya. Saat ditemukan, didekat tubuh korban terdapat sebuah botol racun serangga yang sudah kosong isinya.

Kapolsek Gabus Iptu Abbas ketika dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa orang meninggal dengan minum racun tersebut. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, orang tersebut memang murni meninggal dengan jalan bunuh diri.

“Mengenai latar belakangnya kemungkinan masalah rumah tangga. Sebelum bunuh diri, korban sempat SMS pada anak dan istrinya yang sudah cukup lama tinggal di Jakarta,” katanya pada wartawan.

Peristiwa orang bunuh diri kedua terjadi di Desa Kalisari, Kecamatan Kradenan sekitar pukul 16.30 WIB.

elakunya, seorang perempuan berusia 16 tahun yang diketahui bernama Distarisa. Pelajar SMA itu ditemukan tewas dengan cara gantung diri di kamar tidurnya. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)