Emak-Emak Penggigit Tangan Polantas Kudus Ternyata Pernah Alami Gangguan Jiwa

MuriaNewsCom, Kudus – Masih ingat insiden emak-emak yang menggigit Polantas Kudus kemarin. Ternyata pelakunya, Anik Tri Kurniawati (45) pernah mengalami gangguan jiwa

Kini, warga Jepang Pakis itu sedang dirawat intensif di ruang Cempaka I RSUD Loekmono Hadi Kudus, Jumat (23/2/2018). Menurut rekam medis, ia pernah menjalani perawatan selama satu minggu di ruang jiwa rumah sakit tersebut, pada tahun 2015.

Kepala ruang Cempaka I RSUD Loekmono Hadi Ali Rif’an mengatakan. Setelah sempat dirawat selama seminggu, kemudian ia menjalani rawat jalan.

“Seharusnya dia melanjutkan pengobatan (rawat jalan) pada tahun 2016-2017, tapi ternyata yang bersangkutan tak meminum obat yang diberikan oleh dokter,” tuturnya.

Rifan mengatakan, dari pengakuan suami Anik, perempuan itu pernah mengalami trauma, ketika kiosnya di Pasar Bitingan terbakar pada 2015.

“Ketika ada pemicu (Matahari Dept Store terbakar Kamis 22/2/2018), ia kemudian spontan panik,” jelasnya.

Baca Juga: VIRAL!! Tak Terima Ditilang Emak-emak di Kudus Gigit Tangan Polantas

Diberitakan sebelumnya, Anik menggigit seorang polisi atas nama Briptu Erlangga Hananda Seto yang sedang melaksanakan tugasnya. Saat lewat di Jl A. Yani Kelurahan Panjunan, ia diketahui tak memakai helm dan kemudian dihentikan oleh petugas.

Saat dihentikan, Anik justru tidak terima dan mengigit tangan dari Erlangga. Selain itu, yang bersangkutan juga berteriak-teriak dan tak mau mematuhi instruksi dari polisi. Perbuatan Anik juga dilaporkan secara resmi ke polisi oleh Erlangga.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Kudus AKP Onkoseno Grandiarso Sukahar mengatakan, kasus tersebut tetap berlanjut. Kini status Anik menjadi tersangka.

“Perkaranya tetap berlanjut, saat ini statusnya tersangka. Terkait riwayat medis yang bersangkutan, kami meminta bantuan rumah sakit (RSUD Loekmono Hadi) untuk dilakukan observasi. Nanti biar hakim di pengadilan yang menentukan,” tuturnya.

Menurutnya, tersangka dikenai pasal berlapis. Yakni Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, pasal 212 KUH tentang perbuatan melawan aparat hukum dan pasal 213 ayat 1 tentang paksaan dan perlawanan. Adapun ancaman hukuman selama lima tahun.

Editor: Supriyadi

Tersinggung Dinasehati Orang Tua, Pemuda di Grobogan Nekat Bakar Rumah

MuriaNewsCom, GroboganPeristiwa kebakaran rumah terjadi di Dusun Ngasem, Desa Monggot, Kecamatan Geyer, Kamis (25/1/2018). Beruntung, kobaran api masih bisa dipadamkan sebelum melalap seluruh bangunan rumah milik Gimin (65).

Informasi yang didapat menyebutkan, kebakaran rumah terjadi sekitar pukul 08.30 WIB. Kebakaran itu ternyata dilakukan secara sengaja. Pelakunya diketahui anak korban sendiri bernama Slamet Riyadi (28) yang selama beberapa tahun terakhir mengalami gangguan jiwa.

Sebelum melakukan tindakan itu, pelaku sempat dinasehati orang tuanya. Hal itu kemungkinan membuat pelaku tersinggung dan akhirnya membakar rumah bagian belakang yang berisi tumpukan jerami kering untuk pakan ternak.

Dalam waktu singkat, api langsung membesar. Melihat rumahnya terbakar, pemilik rumah langsung berteriak minta tolong.

Warga yang mendengar teriakan itu langsung bedatangan ke lokasi untuk memadamkan api dengan peralatan seadanya. Upaya pemadaman akhirnya bisa dilakukan setelah ada dukungan dua mobil damkar.

Camat Geyer Aries Ponco menyatakan, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa itu. Akibat kebakaran, ada kerugian material sekitar Rp 10 juta.

”Pelaku pembakaran adalah anak pemilik rumah yang punya gangguan jiwa. Pelakunya sudah diamankan ke Polsek Geyer,” katanya.

Editor: Supriyadi

Punya Riwayat Gangguan Jiwa, Begini Nasib Penyerang Polisi di Jepara

Zaenal Abidin (21) warga Desa Tubanan, Kecamatan Kembang yang memukuli polisi saat CFD di Alun-alun Jepara. (Polres Jepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Zaenal Abidin pelaku kekerasan terhadap Petugas Satlantas Polres Jepara diketahui memiliki riwayat penyakit jiwa. Lalu bagaimanakah kelanjutan kasusnya?

Kasatreskrim Polres Jepara AKP Suharto menjelaskan, saat ini pihaknya masih terus memproses kasus tersebut. 

“Kita masih melanjutkan kasus tersebut (penganiayaan dan melawan petugas saat bertugas),” katanya, Senin (11/12/2017).

Baca: Zainal,Warga Desa Tubanan Ini Serang Polisi di Alun-Alun Jepara

Menurutnya, saat ini yang bersangkutan masih dalam proses isolasi di Ruang Seruni RSUD Kartini Jepara. Nantinya keputusan akan kondisi kejiwaan Zaenal akan ditentukan oleh tim medis.

“Keputusan terkait kesehatan jiwanya tim dokter yang akan menentukan, saat ini ia masih diisolasi. Namun demikian, status hukumnya, nanti akan ditentukan oleh hakim,” jelasnya. 

Saat ini, pihak kepolisian menjerat Zaenal, dengan pasal 351 tentang penganiayaan dan 212 tentang melawan petugas saat bertugas. 

Editor: Supriyadi

Baca: Pemuda yang Serang Polisi di Alun-alun Jepara Langsung Diciduk

Penyerang Polisi di Alun-alun Jepara Diduga Kuat Alami Gangguan Jiwa 

Zaenal Abidin (21) warga Desa Tubanan, Kecamatan Kembang yang memukuli polisi saat CFD di Alun-alun Jepara. (Polres Jepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Zaenal Abidin (21) pemuda yang serang anggota satlantas Jepara Bripka Anton C, diduga kuat mempunyai riwayat gangguan jiwa. Selain kerapkali berteriak-teriak saat disidik di Mapolres, warga Desa Tubanan, Kecamatan Kembang itu juga memiliki rekam medis dari rumah sakit.

Hal itu diketahui setelah petugas kepolisian melakukan kroscek medis di Ruang Seruni RSUD Kartini Jepara, Minggu (10/12/2017). Hingga kini yang bersangkutan masih diisolasi untuk mendalami kejiwaan pelaku tindak kekerasan kepada petugas kepolisian itu.

“Saat ini ia (Zaenal) masih diisolasi untuk mendapatkan hasil terkait kejiwaannya,” tutur Kasatreskrim Polres Jepara AKP Suharto, Senin (11/12/2017). 

Baca: Zainal,Warga Desa Tubanan Ini Serang Polisi di Alun-Alun Jepara

Dalam keterangan medis, yang bersangkutan terakhir kali mendapatkan penanganan medis (terkait penyakit jiwa), pada bulan November 2017. Tepatnya 13 hari mulai tanggal 14-26 November 2017. 

Diberitakan sebelumnya, Zaenal melakukan tindak kekerasan terhadap Bripka Anton C Petugas Satlantas Polres Jepara yang tengah berjaga di lokasi Car Free Day Alun-alun Jepara, pada hari Minggu kemarin. Sebabnya, ia merasa tak terima karena ditegur saat hendak memasuki arena CFD menggunakan motor.

Baca: Pemuda yang Serang Polisi di Alun-alun Jepara Langsung Diciduk

Selain itu ia diingatkan untuk menggunakan helm yang dibawanya. Namun yang bersangkutan tak terima malah membuang puntung rokok didepan petugas. 

Dari situlah, Zaenal kemudian turun dari motor dan menantang petugas. Dalam video amatir warga, ia mendorong bahkan menendang kearah petugas. 

Namun saat Zaenal melayangkan tendangan kearah perut dari Bripka Anton, petugas berhasil menahan sepakannya dan melumpuhkan pelaku. Saat itu warga yang berada disekitar tempat kejadian pun membantu meringkus Zaenal.

Editor: Supriyadi

Anak yang Bunuh Ibu Kandung di Getasrabi Kudus Terancam Dibebaskan, Ini Alasannya

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning saat memberikan keterangan terkait kasus pembunuhan ibu kandung di Desa Getasrabi, Kecamatan Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kasus pembunuhan ibu kandung yang dilakukan seorang anak di Dukuh Kebangsan, RT 2/RW 3, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Selasa (28/11/2017) bisa dibebaskan.

Ini lantaran pelaku terindikasi mengalami gangguan jiwa. Hanya saja, petugas masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui ihwal penyakit tersebut.

Baca: Tak Diberi Uang, Anak di Getassrabi Kudus Tega Pacul Kepala Ibunya Hingga Tewas

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengatakan, berdasarkan peraturan, orang yang memiliki gangguan jiwa, kasusnya dapat diberhentikan. Ini lantaran mereka tak memiliki kesadaran (benar atau salah) atas tindakan yang dilakukan.

”Namun untuk memastikan apakah pelaku memang memiliki penyakit  jiwa atau tidak membutuhkan pemeriksaan yang lengkap dan bertahap. Jadi tidak mudah,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (30/11/2017).

Menurut dia, yang berhak memutuskan apakah pelaku mengidap penyakit jiwa adalah dokter jiwa. Untuk itu, Anshori dijadwalkan bakal diperiksa langsung oleh dekter jiwa RSUD Kudus untuk memastikan.

”Jika memang benar memiliki penyakit jiwa, maka bisa dirujuk ke rumah sakit jiwa untuk diobati,” ujarnya. 

Baca: Sebelum Dibunuh, Sang Ibu Sempat Diancam Hingga Tak Berani Pulang ke Rumah

Saat ini penanganan masih dilakukan, dengan melakukan sejumlah observasi lapangan. Hasilnya, tanda adanya gangguan jiwa memang muncul dari Anshori (30). Hal ini dikuatkan dengan keterangan kakak kandung pelaku.

Dari keterangan sang kakak, Anshori sudah mengidap gangguan jiwa sejak 2009 lalu. Hanya, ia selalu rutin berobat tentang kondisi jiwanya. Bahkan obat dari dokter juga selalu diminum agar kondisinya tak semakin parah.

Namun, proses itu berhenti pada 2016 karena faktor ekonomi. Akibatnya, Anshori sering uring-uringan dan puncaknya adalah perbuatan pembunuhan yang dilakukan kepada ibu kandungnya sendiri.

“Selama pemeriksaan selama ini, pelaku juga kerap membenturkan kepalanya ke dinding,” imbuhnya

Baca: Anak Bunuh Ibu Kandung di Getassrabi Kudus Ternyata Alami Gangguan Jiwa

Kapolres berharap, tetangga dapat lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Sehingga, jika ada warga yang memiliki penyakit atau gangguan jiwa, dapat segera dilaporkan ke pemerintah desa, untuk segera ditangani.

“Jangan sampai kasus semacam ini terulang kembali. Jadi penanganan dini dapat dilakukan,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi