Temuan Fosil Baru Gading Purba 2,5 Meter Jadi Kado Ulangtahun Desa Wisata Banjarejo

Inilah fosil gading gajah purba terbaru yang ditemukan di Dusun Barak, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah fosil gading gajah purba kembali ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, Minggu (15/10/2017). Fosil gading yang panjangnya mencapai 2,5 meter itu ditemukan secara tidak sengaja.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengungkapkan, penemuan itu bermula dari adanya aktivitas beberapa orang yang sedang menggali tanah di tegalan milik Mbah Parmi yang berada di Dusun Barak.  Saat menggali buat tanah uruk pada kedalaman 50 cm, salah seorang pekerja sempat melihat ada benda mirip fosil.

Salah seorang pekerja kemudian melaporkan pada Komunitas Peduli Fosil Banjarejo. Sedangkan pekerja lainnya meneruskan aktivitas penggalian di lokasi lainnya.

“Setelah dapat kabar, anggota komunitas mengecek ke lokasi. Ternyata, di sana ada fosil gading gajah purba. Kemudian, fosil kita selamatkan agar tidak rusak,” jelasnya.

Gading yang ditemukan itu kondisinya patah jadi 12 bagian akibat proses alami. Panjangnya sekitar 2,5 meter. Lebar pangkal gading sekitar 20 cm dan di bagian ujungnya 7 cm.

“Ada beberapa bagian ujungnya yang tidak ditemukan. Kemungkinan sudah lapuk karena proses alam. Dibandingkan yang sudah ditemukan sebelumnya, fosil gading terbaru ini ukurannya sedikit lebih besar. Kita akan koordinasi dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran terkait penemuan ini,” jelasnya.

Taufik menyatakan, penemuan fosil baru ini dinilai sangat spesial, karena terjadi menjelang momen istimewa. Yakni, peringatan setahun ditetapkannya Banjarejo sebagai Desa Wisata pada 27 Oktober 2016 lalu.

Editor : Ali Muntoha

Baca  Peringatan Setahun Desa Wisata Banjarejo Grobogan Bakal Hadirkan Cak Nun

Informasi Situs Purbakala Banjarejo Grobogan Akan Dipajang di Museum Sangiran

Beragam foto seputar penemuan benda purbakala di Banjarejo, Gabus akan ditampilkan di Museum Sangiran. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain melalui media massa, informasi mengenai keberadaan situs purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan juga akan bisa didapatkan di Museum Sangiran. 

Pihak pengelola museum, rencananya akan menyiapkan tempat khusus untuk memajang beragam informasi mengenai situs purbakala Banjarejo.

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi mengungkapkan, informasi yang ditampilkan bentuknya berupa foto-foto benda purbakala yang sudah ditemukan serta lokasi situs. Jadi, bukan berupa sampel benda purbakalanya.

“Hanya foto-foto saja yang kita jadikan displai informasi. Untuk benda purbakala yang sudah ditemukan tetap kita tempatkan di Desa Banjarejo,” jelasnya.

Selama ini, display informasi situs purbakala dari seluruh Indonesia sudah terpasang di Museum Sangiran. Namun, untuk situs di Banjarejo belum ada karena masih tergolong baru. Dengan adanya displai informasi dari Banjarejo maka situs purbakala yang ada akan makin lengkap.

“Selain situs Sangiran, ada informasi situs Pati Ayam, Tegal dan lainnya. Tambahan terbaru adalah informasi situs dari Banjarejo. Dengan demikian, informasi situs purbakala makin lengkap sehingga memudahkan pengunjung,” jelas Sukron.

Sukron menyatakan, meski baru muncul sekitar tiga tahun lalu, namun potensi purbakala di Banjarejo dinilai sangat istimewa. Selama kurun waktu itu, sudah banyak temuan fosil berbagai hewan purbakala. Penemuan fosil purbakala di Banjarejo juga dinilai tidak kalah dengan Sangiran.

Bahkan, belum lama ini, ada penemuan fosil terbaru di Banjarejo yang disebut sangat istimewa. Yakni, fosil satu individu gajah purba di Dusun Kuwojo. Penemuan, fosil satu individu gajah purba seperti itu belum pernah ditemukan di situs lainnya.

Editor: Supriyadi

Pengangkatan Fosil Purbakala di Banjarejo Grobogan Ternyata Cukup Ribet, Begini Prosesnya

Salah seorang tim ahli menuangkan cairan kimia pada fosil gading gajah purba yang akan diangkat dari lokasi penemuan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganProses pengangkatan fosil hewan purba dari lokasi penemuan ternyata tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Selain butuh waktu lama, proses pengangkatan itu melalui beberapa tahapan yang harus dikerjakan dengan teliti dan hati-hati.

Dari pantauan di lokasi, pada tahap awal, tim ahli membersihkan dulu sisa sedimen yang masih menempel pada fosil. Setelah itu, dipasang papan pembatas di sekeliling fosil yang akan diangkat.

Kemudian, fosil yang sudah ada dalam kotak kayu ditutup dengan kertas koran. Selanjutnya, dituangkan cairan kimia polyurethane diatas lembaran koran yang menutup fosil tersebut. Fungsi koran ini sebagai pelapis agar cairan kimia tidak menembus fosil.

Baca Juga: Temuan Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan Mulai Diangkat

Beberapa saat setelah dituangkan, cairan itu akan mengembang dan membuih membentuk seperti busa. Proses penuangan cairan kimia dilakukan beberapa kali hingga seluruh kotak tertutup busa.

Tahapan ini, prosesnya hampir mirip seperti menuangkan adukan pasir dan semen atau cor beton saat membuat fondasi bangunan.

Selang waktu 10 menit, busa itu akan mengeras. Setelah itu, papan kayu yang sebelumnya dipakai untuk pembatas dibongkar. Saat papan hilang, fosil tidak lagi terlihat bentuk aslinya karena tertutup busa yang kondisinya sudah mengeras.

Sepintas, fosil yang terbungkus busa bentuknya mirip seperti sebatang balok kayu.

“Proses pengangkatan fosil tidak bisa dilakukan seperti mengambil sebuah barang biasa. Ada prosedur yang harus dilakukan dan butuh kehati-hatian,” jelas Albertus Nico, staf perlindungan BPSMP Sangiran yang memimpin pengangkatan fosil di Banjarejo, Rabu (6/9/2017).

Menurut Nico, penggunaan cairan kimia itu bertujuan untuk meminimalkan risiko kerusakan pada fosil yang akan diangkat dari lokasi penemuan. Seperti, resiko terjatuh atau kena getaran saat dibawa ke tempat penampungan sementara. Fosil yang terbalut busa akan tetap utuh seperti aslinya.

Setelah diangkat, fosil memang dibawa ke rumah penduduk terdekat dengan lokasi penemuan, sebelum nantinya diangkut ke rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. Perjalanan menuju tempat penampungan sementara juga butuh kewaspadaan.

Selain lokasinya cukup jauh dari jalan raya, yakni sekitar 500 meter, fosil yang ukurannya besar harus dipikul oleh empat orang melalui jalan pertanian hingga tempat penampungan sementara.

Editor: Supriyadi

Temuan Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan Mulai Diangkat

Fosil gajah purba berukuran cukup panjang berhasil diangkat dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses pengangkatan fosil hewan purba di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan mulai dikerjakan tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Tim ahli purbakala sudah tiba di Banjarejo sejak Senin (4/9/2017) siang.

Namun, pengangkatan fosil dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo baru mulai dikerjakan sehari berikutnya. Pada hari pertama, tim ahli masih melakukan observasi lapangan, pengambilan gambar serta persiapan pengangkatan fosil.

Dari pantauan di lapangan, kesibukan terlihat di lokasi penemuan yang berada di areal persawahan tersebut. Dalam kotak eskavasi terdapat belasan orang yang mempersiapkan pengangkatan fosil.

Baca Juga: 3 Mahasiswa Luar Negeri Kunjungi Lokasi Penemuan Gajah Purba Banjarejo Grobogan

Selain tim ahli dari BPSMP, ada beberapa anggota komunitas peduli fosil Banjarejo yang dilibatkan. Dalam lokasi penggalian berukuran 10 x 12 meter itu masih terlihat banyak fosil yang masih berada pada tempatnya semula.

“Selama dua hari, baru sekitar tujuh fosil yang sudah kita selamatkan. Kita prioritaskan dulu untuk fosil yang ukurannya besar,” jelas Albertus Nico, staf perlindungan BPSMP Sangiran yang memimpin pengangkatan fosil di Banjarejo, Rabu (6/9/2017).

Baca Juga: Pengangkatan Fosil Gajah Purba di Banjarejo Grobogan Dilakukan Pekan Depan

Fosil yang sudah diangkat semuanya adalah bagian tubuh dari gajah purba. Seperti gading, kaki depan, dan paha.

Proses pengangkatan fosil ditarget selesai dalam waktu delapan hari. Lamanya tenggat waktu pengangkatan itu disebabkan jumlah fosil yang ditemukan lebih dari 100.

“Jumlah fosilnya banyak sekali sehingga butuh waktu. Selain itu, proses pengangkatan juga butuh kehati-hatian dan ketelitian sehingga makan waktu cukup lama,” kata Nico.

Selain gajah purba, fosil yang terdapat dalam kotak eskavasi juga berasal dari jenis hewan lainnya. Antara lain, banteng dan buaya.

Editor: Supriyadi

3 Mahasiswa Luar Negeri Kunjungi Lokasi Penemuan Gajah Purba Banjarejo Grobogan

Tiga orang mahasiswa yang berasal Jepang, Selandia Baru, dan Perancis mengunjungi lokasi penemuan fosil gajah purba jenis elephas di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan mendapat tamu istimewa, Selasa (5/9/2017). Yakni, tiga orang mahasiswa yang berasal Jepang, Selandia Baru, dan Perancis.

Tiga mahasiswa yang terdiri dari dua pria dan satu wanita itu hampir seharian berada di desa yang berbatasan dengan wilayah Blora tersebut. Selama berada di Banjarejo, ketiga mahasiswa sibuk melihat koleksi ratusan fosil hewan purba dan benda cagar budaya yang ditemukan dalam tiga tahun terakhir.

Tidak hanya itu, ketiga bule itu juga menyempatkan waktu untuk mengunjungi lokasi penemuan fosil gajah purba jenis elephas di Dusun Kuwojo. Disamping melakukan kajian, mereka juga sempat membantu tim ahli purbakala yang sedang menyelesaikan tahap akhir pembuatan replika.

Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, mahasiswa tersebut datang ke desanya diantar staf dari Museum Sangiran. Saat ini, ketiganya sedang melakukan kajian di museum tersebut.

”Informasinya, tiga mahasiswa melakukan kegiatan di museum Sangiran selama dua pekan. Dari pihak museum, mereka diajak untuk melihat situs purbakala baru di Banjarejo. Kebetulan juga, saat ini ada tim ahli dari Sangiran yang ada di Banjarejo untuk persiapan pengangkatan fosil,” jelasnya.

Taufik mengaku cukup bangga dengan kunjungan mahasiswa mancanegara ke desanya. Dia juga menyampaikan terima kasih pada pihak Sangiran yang telah membawa ketiga mahasiswa itu untuk melihat potensi purbakala di Banjarejo.

”Saya tadi juga minta pada mahasiswa asing itu untuk membantu mengenalkan Desa Wisata Purbakala Banjarejo di negaranya. Mereka berkunjung sehari saja,” imbuh Taufik.

Editor: Supriyadi

Pengangkatan Fosil Gajah Purba di Banjarejo Grobogan Ditunda, Ini Alasannya

Tim ahli purbakala masih melakukan proses pembuatan replika fosil hewan purba di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rencana pengangkatan fosil gajah purba dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mundur pelaksanaannya.

Sedianya, pengangkatan fosil akan dilangsungkan pada pekan ini. Namun, jadwal terbaru, pelaksanaannya bakal dilakukan akhir Agustus mendatang.

“Ya, ada sedikit perubahan jadwal masalah pengangkatan fosilnya. Nanti, kita lakukan akhir bulan pelaksanaannya,” ungkap Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi, saat berkunjung ke lokasi penemuan fosil gajah purba di Banjarejo, Rabu (16/8/2017).

Menurut Sukron, mundurnya jadwal pengangkatan fosil disebabkan proses pencetakan replika fosil hewan purba di lokasi penemuan belum selesai. Sesuai rencana, pembuatan replika hanya ditenggat selesai 10 hari, dari tanggal 8-18 Agustus 2017.

Namun, dari pengecekan ke lapangan, waktu 10 hari itu dirasakan belum cukup. Akhirnya, waktu pembuatan replika ditambah lagi 10 hari hingga 28 Agustus 2017.

Dijelaskan, perpanjangan waktu 10 hari itu bukan disebabkan adanya hambatan. Tetapi, hal itu dikarenakan jumlah fosil yang ada di lokasi ternyata tambah banyak. Terlebih setelah muncul fosil-fosil sepesies hewan baru di dekat fosil elephas yang ditemukan lebih awal.

“Jadi, dengan banyak fosil itu tidak cukup kalau pembuatan replika dikerjakan 10 hari saja. Makanya, kita tambah lagi waktunya agar semua fosil bisa dibuat replikanya dan hasilnya lebih sempurna,” jelasnya.

Sukron menyatakan, setelah waktu pembuatan replika rampung, baru dilakukan pengangkatan dan penyelamatan semua fosil dari lokasi untuk direkonstruksi. Rencananya, setelah diangkat, semua fosil akan ditempatkan sementara di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Setelah fosil selesai diangkat, hasil pembuatan replika akan ditaruh di lokasi dengan posisi persis seperti aslinya.

Editor : Ali Muntoha

Rekonstruksi Temuan Gading Gajah Purba Grobogan Kedua Hampir Kelar

upload jam 10 fosil (e)

Tim ahli BPSMP Sangiran sedang melakukan proses rekonstruksi gading gajah purba yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (istimewa)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses rekonstruksi temuan benda purbakala berupa gading gajah dalam waktu dekat akan segera selesai. Hal itu dikabarkan langsung oleh Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus Ahmad Taufik.

“Beberapa hari lalu, proses rekonstruksinya sudah mencapai 75 persen. Mungkin dalam beberapa hari lagi sudah selesai dan bisa disatukan seperti aslinya. Proses rekonstruksi ini dilakukan di Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran,” ungkapnya.

Gading yang direkonstruksi ini ditemukan tim ahli BPSMP Sangiran saat melakukan observasi lapangan, Selasa (22/3/2016) di Desa Banjarejo. Gading itu ditemukan di kebun jati di sebelah utara Dusun Barak. Fosil itu ditemukan pada kedalaman sekitar 1,5 meter pada longsoran tanah di pinggiran kebun jati tersebut.

“Tanah di pinggiran kebun berbatasan dengan parit sempat longsor ketika hujan turun. Saat coba digali pada sore hari setelah hujan, berhasil ketemu fosil gading gajah purba. Kebetulan saya ikut mendampingi tim dari BPSMP saat observasi lapangan,” kata Taufik.

Meski kondisinya terlihat cukup bagus, namun setelah diteliti lebih lanjut, fosil gading purba itu patah jadi 10 bagian. Patahnya fosil ini bukan karena terkena peralatan saat melakukan penggalian. Tetapi, kemungkinan karena lokasinya cukup dangkal sehingga barangnya mudah lapuk.

Masih dikatakan Taufik, pada November 2015 lalu juga ada penemuan gading purba berusia sekitar 1 juta tahun di pekarangan warga yang ada di Dusun Peting. Meski berhasil diangkat dari dalam tanah, namun fosil gading gajah purba itu juga tidak bisa utuh. Tetapi mengalami patah-patah hingga jadi 13 potong atau bagian.

“Saat melakukan penelitian di Banjarejo pertengahan hingga akhir Maret lalu, temuan gading purba yang pertama sudah berhasil direkonstruksi. Sementara temuan gading kedua belum bisa direkonstruksi karena waktu penelitian sudah selesai. Akhirnya, gading itu dibawa ke Sangiran untuk direkonstruksi,” jelasnya.

Ukuran dua gading purba yang ditemukan dalam waktu dan lokasi berlainan ini hampir sama. Panjangnya sekitar 2 meter. Kemudian, lebar pangkal gading sekitar 15 cm dan di bagian ujungnya 7 cm.

“Kalau rekonstruksinya selesai dan dikirim kesini, kita akan punya sepasang gading gajah purba. Ini, tentunya akan menambah daya tarik pengunjung,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Warga Berharap Ada Tugu Identitas Gajah Purba di Desa Medalem Blora

Jpeg

Setyo Pujiono, Kepala Seksi Sejarah Kepurbakalaan DPPKKI Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Fosil gajah purba yang beberapa kali ditemukan di Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Blora, membuat warga desa setempat mengingingkan adanya bangunan tugu gajah purba sebagai idenditas atau maskot.

“Warga berharap di desa tersebut didirikan tugu yang menunjukkan kalau daerah tersebut kerap ditemukan fosil binatang purba. Tugunya menunjukkan, jika Medalem merupakan desa gajah purba,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Kabupaten Blora Slamet Pamuji melalui Setyo Pujiono, Kepala Seksi Sejarah Kepurbakalaan kepada MuriaNewsCom (05/4/2016).

Dijelaskannya, seperti sejumlah desa atau kelurahan lainnya yang sudah memiliki identitas, maka di wilayah tersebut perlu juga dibangun tugu sebagai maskot desa tersebut.

“Saya kira itu perlu juga. Contohnya di Kelurahan Kedunjenar yang terdapat gapura dengan tulisan Kedung Jenar Sentra Industri Keripik Tempe.Demikian juga di Desa Medalem, perlu ada tugu berkaitan dengan temuan fosil, ” ujarnya.

Dalam catatan dan hasil penelitian, menurutnya, di wilayah tersebut sudah empat kali ditemukan fosil gajah purba. Salah satunya di Dusun Sungon, Desa Medalem, yang ditemukan fosil gajah purba yang diperkirakan usianya sudah 200 ribu tahun. Tingginya mencapai lima meter dan berat 10 ton. Fosil gajah tersebut merupakan fosil temuan yang terbesar dan terlengkap di Indonesia.

Terakhir, fosil gading gajah purba yakni ditemukan oleh Panidi (40) dan Suwito (42) ketika menambang pasir. Lokasi diketemukannya lebih kurang 470 meter dari tepi sungai Bengawan Solo dengan kedalaman sekitar 2 meter.

Editor : Kholistiono