Sebarkan Ajaran Gafatar, Eks Anggota Gafatar Diancam Kurungan 5 Tahun

Salah satu narasumber dari Binmas Polres Kudus memberikan sosialisasi bahayanya Gafatar. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu narasumber dari Binmas Polres Kudus memberikan sosialisasi bahayanya Gafatar. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang membandel dengan kembali dan menyebarkan ajaran Garatar terancam hukuman pidana kurungan selama lima tahun.

Kepala Kesbangpol Djati Sholechah mengatakan, hal itu sudah menjadi aturan setelah Gafatar dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Karena itu jika ada yang sengaja menyebarkan akan langsung dikenakan hukuman.

”Ini sekaligus sosialisasi agar mereka tidak akan kembali lagi. Sehingga, masyarakat Kudus aman dari faham-faham semacam itu,” katanya

Menurutnya, jika ajaran itu dilakukan untuk dirinya sendiri tidak masalah. Namun jika sampai mengajak yang lain, petugas tidak akan segan bertindak.

Apalagi, pihak desa sampai saat ini diminta selalu mengawasi gerak-gerik para eks anggota Gafatar. Jika sampai ada yang mencurigakan, pendamping Gafatar dari desa dapat langsung melakukan laporan kepada Babinkamtibmas untuk segera ditindaklanjuti.

”Untuk itulah kami hadirkan pula perangkat desa dan tokoh masyarakat. Sehingga mereka dapat ikut memantau perkembangan eks Gafatar,” imbuhnya.

Dia berharap tidak akan ada masalah dikemudian hari. Dan mereka yang tergabung sebelumnya dapat benar benar kembali ke masyarakat dan hidup seperti sedia kala.

Dia juga mengimbau agar masyarakat tetap bergaul dengan mereka lantaran mereka hanya sebgai korban saja.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA : Kesbangpol Kudus Wanti-wanti Eks Anggota Gafatar Tak Kembali ke Gafatar 

Kesbangpol Kudus Wanti-wanti Eks Anggota Gafatar Tak Kembali ke Gafatar

Salah satu narasumber dari Binmas Polres Kudus memberikan sosialisasi bahayanya Gafatar. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu narasumber dari Binmas Polres Kudus memberikan sosialisasi bahayanya Gafatar. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan eks anggota Gafatar Kudus, Kamis (19/5/2016) dikukuhkan Kesbangpol Kudus supaya tak kembali ke Gafatar. Selain banyak negatifnya, organisasi tersebut juga ditetapkan pemerintah sebagai organisasi terlarang.

”Edarannya sudah ada. Karena itu, kami melakukan sosialisasi karena organisasi Gafatar sudah masuk dalam organisasi terlarang,” kata Kepala Kesbangpol Kudus Djati Sholechah kepada MuriaNewsCom usai pertemuan di Balai Desa Rendeng, Kamis (19/5/2016).

Untuk itu, para eks Gafatar dikumpulkan untuk dibekali pemahaman lebih lanjut. Dia berharap para eks Gafatar tidak akan terbujuk rayu untuk bergabung ataupun menyebarkan ajaran Gafatar.

”Karena sudah dilarang, kalau dilanggar pastinya bakal ditindak,” tegasnya.

Apalagi, sebut Djati, anggota Gafatar di Kudus jumlahnya ada 56 anggota. Semuanya terdiri dari 12 KK yang tersebar di berbagai kecamatan di Kudus. Dalam pertemuan itu, anggota eks Gafatar yang diwakili kepala keluarga diharapkan mampu kembali ke masyarakat dan berbaur dengan masyarakat asalnya.

Dalam pertemuan itu, turut hadir pula Polres Kudus yang diwakili Binmas, MUI dan tokoh masyarakat dan pernahkah desa. Selain itu, Kejaksaan Kudus dan Pengadilan Negeri Kudus juga dihadirkan untuk mempertegas kalau Gafatar adalah organisasi terlarang.

Ketua MUI Kudus Ahmad Hamdani mengatakan, kondisi eks Gafatar sekarang dinilai sudah membaik. Terlihat dari mereka yang mulai berbaur dengan masyarkat sekitarnya.

”Mereka mau hadir itu sudah hal yang bagus. Namun secara keseluruhan mereka tidak tertekan dan nampaknya tidak.ada persoalan,” ungkapnya.

Sebagai MUI, dia juga bertugas menjaga kerukunan antar ummat muslim dan menjaga agar situasi tetap aman. Termasuk dengan keberadaan Gafatar.

Editor: Supriyadi

Rupanya, Gafatar Kudus Masih Terus Diawasi Pemerintah

gafatar-logo

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski sudah dipulangkan ke Kudus, bukan berarti para eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dapat bebas begitu saja. Sebab mereka mendapatkan pengawasan dari pemerintah setempat terkait pergerakan mereka.

Hal itu disampaikan Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus Djati Sholechah. Menurutnya, Gafatar diawasi pihak kecamatan, terkait tentang pergerakan mereka usai dipulangkan.

Hal itu dilakukan, menurut Djati, agar mereka anggota Gafatar tidak kembali lagi ataupun merekrut lebih banyak anggota lainnya.

”Itu sudah dilakukan sejak lama. Sejak mereka pulang. Jadi, mereka diawasi oleh pemerintahan terkait dan terdekat,” katanya kepada MuriaNewsCom, Rabu (27/4/2016).

Berdasarkan pantauan, selama ini tidak ada tanda-tanda adanya pergerakan Gafatar. Bahkan mereka yang dipulangkan cenderung sudah bergabung kepada masyarakat, sesuai dengan tempat tinggalnya dulu.

Dia mengatakan, anggota Gafatar di Kudus berjumlah 50-an anggota. Jumlah itu merupakan jumlah yang dipulangkan dan yang terdaftar dalam pemerintahan.

Namun beberapa anggota sudah tidak ada di tempat atau tidak berada di Kudus. Seperti ada Gafatar asal Dawe, yang memilih tinggal di Tegal dan Jogja. Selain itu, ada pula yang jarang pulang karena sebagai mahasiswa di Semarang.

”Ada 12 keluarga lainnya, anggota Gafatar yang masih di Kudus. Mereka semua masih diawasi. Dan masyarakat juga menerima keberadaan mereka,” imbuhnya.

Editor: Merie

Tangkal Paham Radikalisme, ISNU dan Polres Kudus Bersinergi

Pengurus ISNU Kudus foto bersama Kasat Binmas Polres Kudus (Istimewa)

Pengurus ISNU Kudus foto bersama Kasat Binmas Polres Kudus (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Cabang Kudus dan Polres Kudus melalui Satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) bersinergi berkomitmen menangkal penyakit masyarakat (pekat) dan gerakan radikal bersama-sama di Kota Kretek.

Komitmen itu mencuat dalam pertemuan antara pengurus ISNU Cabang Kudus dengan Kasat Binmas Polres Kudus AKP Rahmawaty Tumulo, Jumat (19/2/2016).

Dalam kesempatan itu, Polres Kudus menyambut baik sinergi antara polres dengan ISNU, karena banyak kegiatan yang menurutnya perlu mendapatkan dukungan banyak pihak. “Setiap bulan kami ada kegiatan pembinaan masyarakat sampai di kalangan bawah. Jika ISNU menyatakan siap bersinergi dan mendukung, maka kami sangat senang dan mengapresiasinya,’’ ungkapnya.

Menurutnya, berbagai penyuluhan yang dilakukan Satuan Binmas Polres Kudus meliputi banyak hal, di antaranya penyuluhan bahaya narkoba, free sex, gerakan radikal, dan ketertiban masyarakat.

“cara yang kami pergunakan untuk melakukan penyuluhan juga beragam. Bisa dengan mendatangi langsung ke rumah-rumah, dengan mengumpulkan warga di suatu tempat, melalui waroeng kopi pembinaan masyarakat (Warkop Binmas), dan kami juga memiliki grup rebana yang siap diundang untuk tampil secara sukarela atau gratis,’’ terangnya.

Ketua ISNU Cabang Kudus Kisbiyanto mengatakan, dia dan jajaran pengurus ISNU siap mendukung berbagai kegiatan dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni melalui berbagai program yang telah disiapkan.

“Di ISNU ini banyak SDM yang siap mendukung kegiatan-kegiatan sosialisasi atau penyuluhan yang dilakukan Binmas,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Peran Media Dinilai Penting untuk Memantau Perkembangan Eks Gafatar

ilustrasi gerakan gafatar

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus Djati Solechah mengatakan, peran media dinilai penting untuk memantau perkembangan eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Menurutnya, dengan adanya peran media, eks anggota Gafatar bisa terkontrol, baik secara langsung maupun tidak langsung. “Perkembangan eks anggota Gafatar yang telah dipulangkan ke kampung halaman, tentu dapat terpantau dengan adanya peran media,” ujarnya.

Dirinya juga menyatakan, dinas terkait juga diminta tak lengah untuk memantau perkembangan eks anggota Gafatar ketika berada di tengah-tengah masyarakat. “Pemantauan ini juga dilakukan dinas terkait, babinsa, babinkamtibmas, tokoh agama dan masyarakat,” katanya.

Dirinya berharap, eks anggota Gafatar dapat menjalani kehidupan di masyakarat secara normal dan tidak tergiur untuk bergabung kembali dengan ormas atau aliran yang dilarang negara maupun agama.

Editor : Kholisitiono

Mempertanyakan Nasib Eks Gafatar Kudus

ilustrasi gerakan gafatar

MuriaNewsCom, Kudus – Dinamika kehidupan dikenal istilah klimaks (posisi puncak) dan antiklimaks (masa akhir dari puncak). Bila dirunut, peran media khususnya pada akhir Januari 2016,  gencar memberitakan aksi eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Termasuk pemerintah pun sigap dan memulangkan dari lokasi (di wilayah Kalimantan) ke Jawa dan lainnya.

Mengikuti dinamika ini, Moh Rosyid, peminat kajian komunitas minoritas Kudus menyatakan, sudahkah pemerintah pusat dan daerah memenuhi kewajibannya melindungi, memfasilitasi, dan memenuhi hak warga eks Gafatar setelah berada di kampung halamannya? Menteri Agama mewanti-wanti pada pegawai fungsionalnya di daerah, yakni penyuluh agama agar membina nalar pikir eks Gafatar.

“Pembinaan didasari pemahaman Kemenag bahwa Gafatar organisasi yang sesat dan menyesatkan, diperkuat terbitnya fatwa MUI No.6/2016 yang memvonis Gafatar sesat,” kata Rosyid dalam rilis pers ke MuriaNewsCom, Minggu (14/2/2016).

Kemensos juga sudahkah mewujudkan janjinya mengembalikan aset warga Gafatar yang di Kalimantan? Pemda apakah sudah memfasilitasi sumber ekonomi warganya yang eksGafatar? Tak dimediakannya nasib eks Gafatar pascapemulangan, tak jelas pula kehidupannya yang menjadi tanggung jawab pemerintah. “Terkesan pemerintah cul glanggang (dilepas nasibnya,red),” ungkapnya.

Hak dasar yang harus terpenuhi adalah sumber ekonomi, pendidikan anak, dan modal usaha. Hemat Rosyid, yang juga dosen STAIN Kudus, tak utuhnya pemberitaan media tentang eks Gafatar menjadi faktor resahnya masyarakat dan terjadinya pemulangan paksa dan tak dikawalnya nasib setelah kepulangan.  Bagi Pemda Kudus, 12 KK dengan 55 jiwa eks Gafatar merupakan kewajibannya menyejahterakan.

Editor : Akrom Hazami

Eks Gafatar warga Ngembalrejo Kudus Mulai Urus Administrasi Kependudukan

Sekretaris Desa Ngembalrejo, Bae, Achsin Rochis. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Sekretaris Desa Ngembalrejo, Bae, Achsin Rochis. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Warga eks Gafatar  di Kudus kini mulai menjalankan aktivitasnya di desa asalnya masing-masing. Seperti halnya yang terjadi di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus.

Setelah sebelumnya mereka dipulangkan dari Kalimantan, Jumat (29/1/2016) malam. Baca juga : 55 Orang Eks Gafatar Asal Kudus Tiba di Pendapa Pemkab

Mereka kini mendapatkan fasilitas dari pemdes untuk mengurus administrasi di Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kudus.

Sekretaris Desa Ngembalrejo, Bae, Achsin Rochis mengatakan, warganya eks Gafatar memang mendapatkan fasilitas dari desa untuk mengurus administrasi penduduk.

“Unuk saat ini kepala keluarga masing masing, kita antar ke dinas untuk pembuatan administrasi penduduk. Sebab sebelumnya, alamatnya mereka berada di luar Ngembalrejo (Kalimantan,red),” katanya.

Dia juga menegaskan agar lebih bijaknya warga itu jangan disebut sebagai eks Gafatar. Tapi warga eks Ngembalrejo. Meski kini mereka kembali jadi warganya.

“Itu demi suasana demi menjaga kondusivitas saat ini. Supaya bisa tenang, dan kembali seperti semula,” ungkapnya.

Diketahui, warga eks Gafatar asal Desa Ngembalrejo, Bae tersebut berjumlah 11 orang. Yang terdiri dari 2 keluarga.

Dia berharap agar semua pihak tidak lagi mempermasalahkan eks Gafatar atau bukan. Demi membuat suasana menjadi lebih baik.

Editor : Akrom Hazami

Berita Terkait : Bupati Kudus Dicurhati Warga eks Gafatar

Eks Gafatar Kudus Akan Dilatih Kerja

Bupati Kudus Dicurhati Warga Eks Gafatar

Bupati Kudus Musthofa tampak menyambut warga eks Gafatar di Pendapa Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Bupati Kudus Musthofa tampak menyambut warga eks Gafatar di Pendapa Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 55 orang eks Gafatar asal Kudus yang baru datang dari Asrama Donohudan, Boyolali, kini sudah tiba di pendapa Kabupaten Kudus, Jumat (29/1/2016) malam.

Kedatangan mereka disambut oleh Bupati Musthofa. “Selamat datang semua warga di Kudus. Saya harap panjenengan bisa berada di Kudus dengan baik, “ kata Musthofa.

Dia menyatakan pemerintah sangat membuka diri dengan warga eks Gafatar itu. Dia berharap, warga bisa berbaur kepada masyarakat setempat.

Sementara itu, salah satu warga eks Gafatar, Nur Kholik dari Papringan, Kaliwungu mengaku senang dengan keramahan bupati. Dia menceritakan, dia selama ini berada di Ketapang, Kaimantan Barat. Di wilayah itu, harga tanah sangat murah dan kondisinya sangat kondusif.

“Di Ketapang, harga tanahnya sangat murah. Yakni Rp 5000 sudah bisa membeli tanah seluas 1meter,” katanya diamini warga eks Gafatar lainnya, Kholik.

Mereka mengaku datang ke Kudus karena ingin mematuhi aturan negara. “Lalu, yang menjadi pertanyaan kami ialah bagaimana tangung jawab pemerintah untuk menanggung biaya hidup kita?. Sebab saya sudah tidak punya harta benda lagi,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

55 Orang Eks Gafatar Asal Kudus Tiba di Pendapa Pemkab

Anggota eks Gafatar Kudus turun dari bus di halaman Pendapa Pemkab Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Anggota eks Gafatar Kudus turun dari bus di halaman Pendapa Pemkab Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 55 orang anggota eks Gafatar asal Kudus, akhirnya tiba di pendapa Pemkab Kudus, sekitar pukul 19.00 WIB, Jumat (29/1/2016).

Mereka dijemput oleh Pemkab Kudus, yakni Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) yang dipimpin langsung Djati Solecha selalu kepalanya.

“Kita berangkat dari Kudus, Jumat (29/1/2016) pukul 05.00 WIB dan sampai di Donohudan Boylali pukul 09.00 WIB,” kata Djati.

Dalam penjemputan itu, pihaknya menyiapkan 3 kendaraan. Yakni bus, truk dan colt. Totalnya ada sekitar empat kendaraan.

Editor : Akrom Hazami

Begini Tanggapan Kepala DPPKD Kudus Terhadap Pemulangan Mantan Pegawainya yang Bergabung Gafatar

 

Kepala DPPKD Kudus Eko Djumartono (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kepala DPPKD Kudus Eko Djumartono (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pemulangan sejumlah mantan eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ke daerah asal, mendapat tanggapan dari Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah (DPPKD) Kudus. Hal ini, karena salah satu mantan pegawainya disinyalir ikut bergabung dalam organisasi Gafatar.

Kepala DPPKD Kudus Eko Djumartono menyatakan, adanya pemulangan eks Gafatar ke daerah asal disambut baik, khususnya bagi pegawainya yang juga sempat bergabung dalam organisasi tersebut. “Mantan pegawai di DPPKD ini memang diduga ada yang bergabung di Gafatar, yaitu NA. Dia ini terhitung pada 22 Januari sudah dicopot, karena memang dalam 46 hari berturut-turut tidak masuk kerja dan tidak ada izin,” katanya.

Menurutnya, jika memang nantinya mantan anak buahnya tersebut kembali ke kampung halaman, maka dirinya beserta pegawai lainnya juga akan memberikan support dan semangat untuk memulai kembali kehidupan yang normal.

Katanya, sewaktu masih bekerja di DPPKD, NA dikenal sebagai pribadi yang baik, dan tidak memiliki masalah dengan teman-teman di kantor. “Kita akan support dia, jika memang kembali ke kampung halaman,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Ini Pendapat BKD Kudus Terkait PNS yang Ikut Gafatar

Djoko Triyono, Kepala BKD Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Djoko Triyono, Kepala BKD Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Terungkapnya NA sebagai pegawai negeri sipil di kalangan Pemkab Kudus
yang ikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kudus menyerahkan sepenuhnya kepada Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus.

Kepala BKD Kabupaten Kudus Djoko Triyono mengatakan, pihaknya juga mendapat laporan dari Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Daerah (DPPKD) terkait ada salah satu pegawainya yang terdeteksi ikut serta dalam Gafatar.

”Kalau masalah Gafatar, kita serahkan ke Kesbangpol. Tetapi kami sebagai BKD juga mempunyai aturan. NA selama 46 hari penuh sudah tidak masuk kantor atau kerja tanpa izin. Otomatis kita berikan sanksi. Namun untuk keanggotaan Gafatar kita sudah berkoordinasi dengan Kesbangpol,” paparnya.

Di ketahui, NA yang menjadi PNS di Pemda Kudus ini nantinya juga akan ikut pulang beserta rombongan eks Gafatar dari Donohudan, Solo, yang dijemput oleh Kesebangpol Kudus, Jumat (29/1/2016). ”Kita dapat kabar itu. NA akan pulang ke Kudus bersama eks Gafatar lainnya,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Djoko, untuk sanksi NA lantaran tidak masuk kerja selama 46 hari itu sudah disidangkan oleh tim pembina PNS pada Selasa, 26 Januari 2016. Sidang yang digelar oleh tim pembina PNS itu diketuai oleh Sekretaris Daerah Noor Yasin, Inspektorat sebagai wakil, dan BKD sebagai sekretarisnya. Selain itu, juga ada aggota lainnya di antaranya asisten 1 dan asisten 3, Kabag Hukum Pemda Kudus, Kesbangpol, Kabag Orpeg, Kepala Satpol PP, dan SKPD yang bersangkutan.

”Dalam sidang tim pembina PNS itu, ada rumusan tentang sanksi tersebut. Yakni NA melanggar PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil Pasal 3 Angka 11. Yakni mengatur tentang masuk kerja dan menaati jam kerja. Dan NA sudah tidak masuk kerja selama 46 hari secara berturut-turut,” ungkapnya.

Dia menilai, jika PP No 53 tahun 2010 pasal 3 Angka 11 itu sudah dilanggar tentunya ada sanksi tersendiri. Disitu tertulis dipasal 10 tentang hukuman disiplin berat, angka (9) tentang masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja, huruf (d) yakni pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS, bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 46 hari kerja atau lebih.

Hanya saja, untuk jumlah rombongan eks Gafatar yang dijemput oleh Kesbangpol ke Asrama Haji Donohudan, Solo sampai saat ini datanya masih dapat berubah. Sehingga pihak Kesbangpol masih mendata secara intensif.

Editor : Titis Ayu Winarni

28 Anggota Eks Gafatar Kudus Akan Dijemput

gafatar pulang

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 28 eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Kudus akan dijemput Pemerintah Kabupaten Kudus di Donohudan, Boyolali, Jumat (29/1/2016) pagi.

“Kami dari Kesbangpol, Pemkab Kudus, Kodim, Polres Kudus akan menjemput ke-28 eks Gafatar ke Solo besok,” kata Djati Solechah, Kepala Kesbangpol, Kabupaten Kudus, di SMA N 1 Bae Kudus, Kamis (28/1/2016).

Dia melanjutkan, jumlah sementara yang sudah pasti dijemput itu memang ada 28 orang. Itupun dari gelombang 2 dan 3 yang sudah berada di Boyolali. Dari jumlah tersebut, pihaknya juga tidak bisa memastikan, apakah ada penambahan di gelombang berikutnya, atau tidak.

“Untuk jumlah orang hilang kemarin itu memang sekitar 48 orang. Tapi yang terdeteksi saat ini  tergabung di Gafatar ialah 28 orang. Mereka dari Kecamatan Kaliwungu, Bae, Jati dan Gebog,” ujarnya.

Sementara itu, setelah nantinya tiba di Kudus akan disediakan tempat karantina secara tersendiri. Guna memulihkan pemahamannya terhadap jiwa nasionalisme. “Bagi camat atau kades yang bersangkutan untuk diperkenankan menjemputnya di tempat karantina tersebut,” tegasnya.

Editor : Akrom Hazami