Tim BPSMP Sangiran Lakukan Konservasi Temuan Fosil di Museum Lapangan Banjarejo

MuriaNewsCom, Grobogan – Tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran kembali melakukan konservasi fosil di museum lapangan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. Rencananya konservasi akan dilakukan selama 10 hari.

”Saat ini kegiatan konservasi sudah dilakukan sejak lima hari lalu. Targetnya diselesaikan dalam waktu 10 hari atau lima hari lagi,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Jumat (23/3/2018).

Fosil yang ditemukan di tengah areal sawah itu berasal dari potongan tubuh beberapa jenis hewan purba. Antara lain, gajah, banteng, dan buaya. Setelah dilakukan pelebaran kotak eskavasi hingga ukuran 10×12 meter, ditemukan lebih banyak fosil hingga jumlahnya lebih dari 100 biji. Baik ukuran kecil, sedang maupun besar.

Pada bulan September 2017 lalu, semua fosil dalam kotak eskavasi sudah diangkat dari lokasi. Proses pengangkatan semua fosil butuh waktu hingga delapan hari.

Lamanya tenggat waktu pengangkatan itu disebabkan jumlah fosil yang ditemukan cukup banyak. Selain itu, proses pengangkatan juga butuh kehati-hatian dan ketelitian sehingga makan waktu cukup lama.

Sebelum diangkat, terlebih dulu dilakukan proses pembersihan sisa sedimen yang masih menempel pada fosil. Setelah dilakukan beberapa perlakuan, fosil kemudian dituangi cairan kimia polyurethane.

Penggunaan cairan kimia itu bertujuan untuk meminimalkan risiko kerusakan pada fosil yang akan diangkat dari lokasi penemuan. Seperti, resiko terjatuh atau kena getaran saat dibawa ke tempat penampungan sementara. Fosil yang terbalut busa akan tetap utuh seperti aslinya.

Ketua tim konservasi BPSMP Sangiran Yudha Her Prima menyatakan, konservasi adalah konsep proses pengelolaan suatu tempat atau ruang atau obyek agar makna kultural yang terkandung di dalamnya terpelihara dengan baik. Dalam pengertian yang lain konservasi adalah suatu tindakan pelestarian yang dilakukan dengan cara memelihara, mengawetkan benda cagar budaya dengan teknologi modern sebagai upaya untuk menghambat proses kerusakan dan pelapukan lebih lanjut.

”Pada dasarnya kegiatan konservasi bertujuan untuk menjaga keberadaan dan kualitas cagar budaya agar dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang panjang,” jelasnya.

Konservasi di Banjarejo dilakukan dengan melakukan pembukaan lapisan pengaman dan pembersihan fosil. Tahap selanjutnya, melapisi fosil dengan pareloid untuk pengerasan dan pengawetan. Untuk fosil yang kondisinya patah akan dilakukan penyambungan. Setelah itu, semua fosil yang sudah dikonservasi akan dicatat dan dimasukkan dalam data base.

”Jumlah fosil temuan sangat banyak dan sebagian kondisinya patah-patah. Sebenarnya butuh waktu cukup lama untuk melakukan konservasi. Namun, dengan waktu 10 hari kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk merampungkan konservasi,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Kisah Sutopo, Penemu Ratusan Fosil Purba di Situs Patiayam Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Situs Patiayam di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, dikenal menyimpan fosil binatang purba. Satu yang pernah ditemukan adalah fosil gajah purba atau Stegodon. Kebanyakan penemunya adalah warga setempat, yang tak sengaja nemu saat sedang berladang.

Seperti diungkapkan oleh Sutopo (39), ia adalah warga Desa Terban yang mengaku telah ratusan kali menemukan fosil. Ketika dikunjungi MuriaNewsCom, ia sedang bersantai setelah mengantarkan istrinya berbelanja ke pasar.

Ia kemudian bercerita mengenai awal mula penemuan fosil, di sebuah wilayah yang bernama Geneng Slumprit. “Dulu nemunya tak ingat tahun berapa pertama kali. Tapi pas itu memang tak sengaja, wong pas itu mau menanam terus ada benda seperti tulang, setelah saya turut kok semakin banyak,” kenangnya, Senin (5/3/2018) sore.

Ia mengaku tak tahu persis, kapan mulai menemukan fosil tulang binatang purba. Namun seingatnya, kegiatan tersebut baru dilakoni saat anaknya yang kedua lahir. Namun demikian, Sutopo mengaku tidak sepenuhnya fokus menjadikan perburuan fosil sebagai pekerjaan utama.

“Kayaknya itu baru tahun 2007 pas anak kedua lahir, saya mulai menemukan banyak fosil. Kalau sebelumnya abai, pas waktu itu lebih hati-hati kalau ada tanda-tanda fosil yang terpendam dalam tanah. Sampai sekarang ya tidak dijadikan yang utama (pekerjaan), aslinya saya ya serabutan, menanam ini itu,” tambahnya.

Dirinya mengaku, sejak zaman orang tuanya dulu penemuan fosil sebenarnya sudah ada. Namun waktu itu, orang-orang kampungnya tak menggubris jika ada menemukan fosil.

Selain karena pengetahuan yang masih dangkal, kala itu, belum ada perhatian dari pemerintah. Perhatian yang dimaksud adalah kompensasi ketika warga menemukan tulang belulang.

“Dulu warga menyebutnya balung buta (tulang raksasa) belum tahu kalau itu fosil binatang,” terangnya.

Selain fosil binatang, Sutopo juga sempat menemukan struktur kaki manusia di Kaliwuluh. Hal itu kemudian langsung ia komunikasikan dengan pengurus museum Patiayam.

“Terakhir saya nemu (fosil) itu seminggu yang lalu (25/2/2018). Tapi itu kecil seukuran handphone itu (sambil menunjuk handphone Blackberry seri Q10). Saya sendiri sampai malu, wong biasanya nyetor besar-besar,” urainya.

Sutopo mengaku dari penemuan fosil tersebut, ia sering diganjar dengan uang kompensasi dari Museum Patiayam. Yang terbesar, ia pernah mendapatkan uang sebesar Rp 7.500.000.

Di museum Patiayam sendiri, tersimpan ratusan fragmen fosil yang ditemukan warga Desa Terban. Satu diantaranya rahang stegodon yang ditemukan oleh Rakijan Mustofa, pada Juni 2009. Fosil tersebut ditemukan di Bukit Gondorio, Patiayam dengan panjang 59 sentimeter, lebar 57 sentimeter dengan ketebalan 29 sentimeter‎.

Editor: Supriyadi

Wilayah Banjarejo Grobogan Dulunya Ternyata Sebuah Lautan, Ini Penjelasannya

MuriaNewsCom, GroboganMakin banyaknya temuan fosil gigi hiu makin menguatkan dugaan jika di wilayah Banjarejo dulunya berupa lautan lalu berubah jadi daerah rawa dan daratan. Hal ini diprediksi dari jenis fosil yang sudah berhasil ditemukan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Sebelumnya, jenis hewan purba berdasarkan fosil yang ditemukan selama ini berasal dari sekitar 12 spesies binatang. Antara lain, gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, kerang, antelope, menjangan, ikan laut termasuk hiu yang hidup diperairan dangkal.

Baca: Leyeh-leyeh di Bawah Pohon Jati, Warga Banjarejo Grobogan Temukan 11 Fosil Gigi Hiu Berusia Ratusan Tahun

Ahli Geologi dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Suwito Nugraha menyatakan, dari analisanya, kondisi alam di kawasan Banjarejo dimungkinkan beralih dari lautan kemudian darat dan laut lagi.

Dalam survei dan ekskavasi yang sudah dilaksanakan dua tahun terakhir di Banjarejo diketahui, fosil binatang yang ditemukan menunjukkan kondisi lingkungan yang berasal dari daratan dan tepi pantai serta laut.

Lebih lanjut dijelaskan, lapisan tanah yang ditemukan di dalam tiga kotak ekskavasi yang dibuka pada tahap penelitian berupa gamping konglomeratan. Yakni tanah dengan campuan cangkang kerang, organisme laut, pecahan batu dan lumpur karbonat.

Pada temuan di kotak ekskavasi penelitian juga ditemukan lapisan tanah diduga dari laut dengan indikasi tanah berwarna biru dan tanah bau anyir. “Bisa jadi dulunya kawasan ini semula berupa lautan lalu jadi rawa dan daratan,” katanya saat melangsungkan penelitian di Banjarejo akhir tahun 2017 lalu.

Editor: Supriyadi

Leyeh-leyeh di Bawah Pohon Jati, Warga Banjarejo Grobogan Temukan 11 Fosil Gigi Hiu Berusia Ratusan Tahun

MuriaNewsCom, GroboganJumlah koleksi fosil purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan bertambah lagi. Hal ini menyusul adanya penemuan potongan fosil hewan purba terbaru pada Selasa (30/1/2018) kemarin. Benda purbakala terbaru ini berupa fosil gigi hiu purba yang diperkirakan berusia ratusan ribu tahun.

”Jumlahnya ada 11 fosil gigi ikan hiu purba. Lokasi penemuan ada di kebun jati di sebelah utara Dusun Barak. Selasa siang kemarin ditemukan dan baru diserahkan menjelang magrib,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Rabu (31/1/2018).

Fosil gigi hiu purba ditemukan warga Banjarejo bernama Tarno (50). Ceritanya, pada Selasa siang, Tarno sedang ngaso atau istirahat di bawah pohon jati tidak jauh dari ladangnya.

Saat itulah, ia melihat ada benda mirip fosil di dekat akar jati yang posisinya menyembul dipermukaan tanah. Setelah diambil dan diperhatikan, benda tersebut ternyata fosil gigi hiu purba. Selanjutnya, Tarno mencari lagi disekitar lokasi itu dan akhirnya mendapatkan 11 potongan fosil yang bentuk dan ukurannya berbeda-beda.

”Fosil gigi hiu ini kecil sekali ukurannya. Paling besar ukurannya sekitar 3 x 3 centimeter. Kebanyakan bentuk fosil gigi hiu ini kayak logo mobil mercy,” sambung Taufik.

Menurut Taufik, sebelumnya sudah ada penemuan fosil gigi hiu purba. Yakni, pada tahun 2016 dan 2017, masing-masing ada penemuan lima fosil gigi hiu purba. Ditambah penemuan terbaru, jumlahnya ada 21 fosil gigi hiu purba.

Dari 21 fosil ini, sebanyak 20 fosil merupakan gigi hiu banteng yang punya nama latin Carcharhinus Leucas. Sedangkan satu fosil gigi lagi yang ditemukan di Dusun Nganggil berasal dari jenis hiu putih.

”Untuk 20 fosil gigi hiu banteng purba, semuanya ditemukan Pak Tarno. Lokasi penemuan pada kawasan yang sama, yakni di sekitar kebun jati dekat sawahnya. Jadi, boleh dibilang, Pak Tarno ini spesialis penemu fosil khusus gigi hiu purba,” imbuh Taufik.

Editor: Supriyadi

Gadis Jepang Ini Terkesima Lihat Benda Purbakala di Banjarejo Grobogan

MuriaNewsCom, Grobogan – Rumah Fosil Purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, kedatangan pengunjung istimewa, Senin (21/1/2018). Yakni, gadis asal Jepang bernama Hana Melody yang berasal dari Jepang.

Tamu dari negeri Sakura ini tidak berkunjung sendirian tetapi ada beberapa orang yang mendampingi. Antara lain, seniman dan budayawan asal Kecamatan Tawangharjo Suyadi yang lebih dikenal dengan nama Pak Raden. Kemudian, ada juga putra Pak Raden bernama Luluk dan istrinya serta dua orang lainnya.

Tamu dari luar negeri ini tiba di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik yang untuk sementara dijadikan ‘museum’, sekitar pukul 12.30 WIB.  Mereka berdua sempat melihat aneka koleksi benda purbakala sekitar 1 jam lamanya.

”Lumayan lama kami berada di Banjarejo. Tamu dari Jepang tadi merasa senang karena bisa melihat langsung benda purbakala yang jumlahnya sangat banyak,” kata Pak Raden.

Gadis Jepang Hana Melody berfoto bersama saat berada di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik untuk melihat koleksi benda purbakala, Senin (21/1/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Menurutnya, gadis Jepang tersebut statusnya masih kuliah di Amerika Serikat. Kebetulan, Hana itu sempat berkenalan dengan anaknya yang tinggal di Solo lewat media sosial. Lewat komunikasi online, Hana ingin sekali berlibur ke Indonesia dan minta ditemani jalan-jalan.

”Jadi, kemarin dia datang kesini dan hari ini diajak ke Grobogan. Selain di Banjarejo, tadi juga sempat mampir lihat fenomena alam Bledug Kuwu dan air terjun Widuri. Dia di Grobogan sehari ini, dan nanti malam rencananya mau ke Jogja,” jelasnya.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik merasa senang dengan adanya kunjungan warga Jepang untuk melihat koleksi benda purbakala tersebut. Dia berharap, potensi purbakala di desanya bisa disebarluaskan pada banyak kalangan biar makin dikenal.

”Semoga dari kunjungan ini bisa membawa dampak positif. Yakni, makin dikenalnya potensi purbakala Banjarejo,” katanya.

Editor: Supriyadi

Dikira Batu Biasa, Temuan Warga Tlogotirto Grobogan Ini Ternyata Fosil Purbakala

MuriaNewsCom, GroboganPotensi fosil hewan purbakala di Kecamatan Gabus, Grobogan tampaknya tidak hanya terdapat di Desa Banjarejo saja. Hal ini terjadi menyusul ditemukannya sebuah fosil hewan purba di Desa Tlogotirto yang wilayahnya sekitar 15 km diselatan Desa Banjarejo.

Kepala Desa Tlogotirto Adi Saputra mengatakan, fosil yang ditemukan berupa cangkang kerang berukuran cukup besar. Ukurannya, sekitar 40 x 50 cm. Cangkang tersebut teridiri dari dua bagian, atas dan bawah yang kondisi awalnya masih menyatu.

Fosil kerang purba ditemukan warganya bernama Sutrisno yang tinggal di Dusun Ngrejeng. Fosil kerang ditemukan saat menggali tanah bebatuan di pinggir areal hutan pada kedalaman sekitar 3 meter.

”Fosil itu sudah ditemukan beberapa minggu lalu dan ditaruh di halaman rumahnya. Kebetulan pas lewat disitu, saya sempat melihat. Setelah saya perhatikan, kayaknya mirip fosil,” jelasnya, Selasa (16/1/2018).

Adi menyatakan, setelah itu, ia kemudian menghubungi koleganya, yakni Kades Banjarejo Ahmad Taufik untuk minta penjelasan.

”Sebelumnya, saya sempat kirimkan foto temuan itu pada Mas Taufik. Dari analisanya, benda itu memang fosil hewan purba jenis kerang laut. Rencananya, fosil ini akan saya serahkan ke Banjarejo agar lebih terawat, seperti yang sudah ada disana,” imbuh Adi.

Sementara itu, Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, sejauh ini, fosil kerang sudah beberapa kali ditemukan di desanya. Untuk fosil kerang di Desa Tlogotirto bentuknya ada kemiripan dengan yang ada di Desa Banjarejo.

”Penemuan yang di Tlogotirto itu memang benda purbakala. Hanya saja, untuk bisa memberikan keterangan lebih lengkap, nanti biar diteliti ahli dari Sangiran dulu,” katanya.

Editor: Supriyadi

Temuan Fosil Baru Gading Purba 2,5 Meter Jadi Kado Ulangtahun Desa Wisata Banjarejo

Inilah fosil gading gajah purba terbaru yang ditemukan di Dusun Barak, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah fosil gading gajah purba kembali ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, Minggu (15/10/2017). Fosil gading yang panjangnya mencapai 2,5 meter itu ditemukan secara tidak sengaja.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengungkapkan, penemuan itu bermula dari adanya aktivitas beberapa orang yang sedang menggali tanah di tegalan milik Mbah Parmi yang berada di Dusun Barak.  Saat menggali buat tanah uruk pada kedalaman 50 cm, salah seorang pekerja sempat melihat ada benda mirip fosil.

Salah seorang pekerja kemudian melaporkan pada Komunitas Peduli Fosil Banjarejo. Sedangkan pekerja lainnya meneruskan aktivitas penggalian di lokasi lainnya.

“Setelah dapat kabar, anggota komunitas mengecek ke lokasi. Ternyata, di sana ada fosil gading gajah purba. Kemudian, fosil kita selamatkan agar tidak rusak,” jelasnya.

Gading yang ditemukan itu kondisinya patah jadi 12 bagian akibat proses alami. Panjangnya sekitar 2,5 meter. Lebar pangkal gading sekitar 20 cm dan di bagian ujungnya 7 cm.

“Ada beberapa bagian ujungnya yang tidak ditemukan. Kemungkinan sudah lapuk karena proses alam. Dibandingkan yang sudah ditemukan sebelumnya, fosil gading terbaru ini ukurannya sedikit lebih besar. Kita akan koordinasi dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran terkait penemuan ini,” jelasnya.

Taufik menyatakan, penemuan fosil baru ini dinilai sangat spesial, karena terjadi menjelang momen istimewa. Yakni, peringatan setahun ditetapkannya Banjarejo sebagai Desa Wisata pada 27 Oktober 2016 lalu.

Editor : Ali Muntoha

Baca  Peringatan Setahun Desa Wisata Banjarejo Grobogan Bakal Hadirkan Cak Nun

Informasi Situs Purbakala Banjarejo Grobogan Akan Dipajang di Museum Sangiran

Beragam foto seputar penemuan benda purbakala di Banjarejo, Gabus akan ditampilkan di Museum Sangiran. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain melalui media massa, informasi mengenai keberadaan situs purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan juga akan bisa didapatkan di Museum Sangiran. 

Pihak pengelola museum, rencananya akan menyiapkan tempat khusus untuk memajang beragam informasi mengenai situs purbakala Banjarejo.

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi mengungkapkan, informasi yang ditampilkan bentuknya berupa foto-foto benda purbakala yang sudah ditemukan serta lokasi situs. Jadi, bukan berupa sampel benda purbakalanya.

“Hanya foto-foto saja yang kita jadikan displai informasi. Untuk benda purbakala yang sudah ditemukan tetap kita tempatkan di Desa Banjarejo,” jelasnya.

Selama ini, display informasi situs purbakala dari seluruh Indonesia sudah terpasang di Museum Sangiran. Namun, untuk situs di Banjarejo belum ada karena masih tergolong baru. Dengan adanya displai informasi dari Banjarejo maka situs purbakala yang ada akan makin lengkap.

“Selain situs Sangiran, ada informasi situs Pati Ayam, Tegal dan lainnya. Tambahan terbaru adalah informasi situs dari Banjarejo. Dengan demikian, informasi situs purbakala makin lengkap sehingga memudahkan pengunjung,” jelas Sukron.

Sukron menyatakan, meski baru muncul sekitar tiga tahun lalu, namun potensi purbakala di Banjarejo dinilai sangat istimewa. Selama kurun waktu itu, sudah banyak temuan fosil berbagai hewan purbakala. Penemuan fosil purbakala di Banjarejo juga dinilai tidak kalah dengan Sangiran.

Bahkan, belum lama ini, ada penemuan fosil terbaru di Banjarejo yang disebut sangat istimewa. Yakni, fosil satu individu gajah purba di Dusun Kuwojo. Penemuan, fosil satu individu gajah purba seperti itu belum pernah ditemukan di situs lainnya.

Editor: Supriyadi

Pengangkatan Fosil Purbakala di Banjarejo Grobogan Ternyata Cukup Ribet, Begini Prosesnya

Salah seorang tim ahli menuangkan cairan kimia pada fosil gading gajah purba yang akan diangkat dari lokasi penemuan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganProses pengangkatan fosil hewan purba dari lokasi penemuan ternyata tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Selain butuh waktu lama, proses pengangkatan itu melalui beberapa tahapan yang harus dikerjakan dengan teliti dan hati-hati.

Dari pantauan di lokasi, pada tahap awal, tim ahli membersihkan dulu sisa sedimen yang masih menempel pada fosil. Setelah itu, dipasang papan pembatas di sekeliling fosil yang akan diangkat.

Kemudian, fosil yang sudah ada dalam kotak kayu ditutup dengan kertas koran. Selanjutnya, dituangkan cairan kimia polyurethane diatas lembaran koran yang menutup fosil tersebut. Fungsi koran ini sebagai pelapis agar cairan kimia tidak menembus fosil.

Baca Juga: Temuan Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan Mulai Diangkat

Beberapa saat setelah dituangkan, cairan itu akan mengembang dan membuih membentuk seperti busa. Proses penuangan cairan kimia dilakukan beberapa kali hingga seluruh kotak tertutup busa.

Tahapan ini, prosesnya hampir mirip seperti menuangkan adukan pasir dan semen atau cor beton saat membuat fondasi bangunan.

Selang waktu 10 menit, busa itu akan mengeras. Setelah itu, papan kayu yang sebelumnya dipakai untuk pembatas dibongkar. Saat papan hilang, fosil tidak lagi terlihat bentuk aslinya karena tertutup busa yang kondisinya sudah mengeras.

Sepintas, fosil yang terbungkus busa bentuknya mirip seperti sebatang balok kayu.

“Proses pengangkatan fosil tidak bisa dilakukan seperti mengambil sebuah barang biasa. Ada prosedur yang harus dilakukan dan butuh kehati-hatian,” jelas Albertus Nico, staf perlindungan BPSMP Sangiran yang memimpin pengangkatan fosil di Banjarejo, Rabu (6/9/2017).

Menurut Nico, penggunaan cairan kimia itu bertujuan untuk meminimalkan risiko kerusakan pada fosil yang akan diangkat dari lokasi penemuan. Seperti, resiko terjatuh atau kena getaran saat dibawa ke tempat penampungan sementara. Fosil yang terbalut busa akan tetap utuh seperti aslinya.

Setelah diangkat, fosil memang dibawa ke rumah penduduk terdekat dengan lokasi penemuan, sebelum nantinya diangkut ke rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. Perjalanan menuju tempat penampungan sementara juga butuh kewaspadaan.

Selain lokasinya cukup jauh dari jalan raya, yakni sekitar 500 meter, fosil yang ukurannya besar harus dipikul oleh empat orang melalui jalan pertanian hingga tempat penampungan sementara.

Editor: Supriyadi

Temuan Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan Mulai Diangkat

Fosil gajah purba berukuran cukup panjang berhasil diangkat dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses pengangkatan fosil hewan purba di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan mulai dikerjakan tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Tim ahli purbakala sudah tiba di Banjarejo sejak Senin (4/9/2017) siang.

Namun, pengangkatan fosil dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo baru mulai dikerjakan sehari berikutnya. Pada hari pertama, tim ahli masih melakukan observasi lapangan, pengambilan gambar serta persiapan pengangkatan fosil.

Dari pantauan di lapangan, kesibukan terlihat di lokasi penemuan yang berada di areal persawahan tersebut. Dalam kotak eskavasi terdapat belasan orang yang mempersiapkan pengangkatan fosil.

Baca Juga: 3 Mahasiswa Luar Negeri Kunjungi Lokasi Penemuan Gajah Purba Banjarejo Grobogan

Selain tim ahli dari BPSMP, ada beberapa anggota komunitas peduli fosil Banjarejo yang dilibatkan. Dalam lokasi penggalian berukuran 10 x 12 meter itu masih terlihat banyak fosil yang masih berada pada tempatnya semula.

“Selama dua hari, baru sekitar tujuh fosil yang sudah kita selamatkan. Kita prioritaskan dulu untuk fosil yang ukurannya besar,” jelas Albertus Nico, staf perlindungan BPSMP Sangiran yang memimpin pengangkatan fosil di Banjarejo, Rabu (6/9/2017).

Baca Juga: Pengangkatan Fosil Gajah Purba di Banjarejo Grobogan Dilakukan Pekan Depan

Fosil yang sudah diangkat semuanya adalah bagian tubuh dari gajah purba. Seperti gading, kaki depan, dan paha.

Proses pengangkatan fosil ditarget selesai dalam waktu delapan hari. Lamanya tenggat waktu pengangkatan itu disebabkan jumlah fosil yang ditemukan lebih dari 100.

“Jumlah fosilnya banyak sekali sehingga butuh waktu. Selain itu, proses pengangkatan juga butuh kehati-hatian dan ketelitian sehingga makan waktu cukup lama,” kata Nico.

Selain gajah purba, fosil yang terdapat dalam kotak eskavasi juga berasal dari jenis hewan lainnya. Antara lain, banteng dan buaya.

Editor: Supriyadi

Pengangkatan Fosil Gajah Purba di Banjarejo Grobogan Dilakukan Pekan Depan

Aktivitas warga saat di lokasi penemuan fosil di Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rencana pengangkatan fosil gajah purba dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mundur lagi pelaksanaannya. Sedianya, pengangkatan fosil akan dilangsungkan pada akhir bulan Agustus kemarin. Namun, pelaksanaannya akhirnya baru akan dikerjakan mulai pekan depan.

“Agenda pengangkatan fosil ada perubahan lagi. Rencana terbaru, dilakukan pekan depan,” ungkap Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik, Sabtu (2/9/2017).

Sebelum pengangkatan, tim ahli terlebih dahulu mengerjakan proses pembuatan replika fosil hewan purba di lokasi penemuan. Tahapan ini sudah selesai dikerjakan sampai batas waktu 28 Agustus lalu.

“Sedianya pengangkatan fosil akan dikerjakan setelah pembuatan replika rampung. Namun, rencana itu tidak jadi dilakukan karena ada momen Idul Adha. Akhirnya, pengangkatan fosil akan dikerjakan mulai pekan depan,” jelasnya.

Menuurt Taufik, setelah diangkat, semua fosil akan ditempatkan di rumahnya. Setelah fosil selesai diangkat, hasil pembuatan replika akan ditaruh di lokasi dengan posisi persis seperti aslinya.  

Ia menambahkan, lokasi penemuan fosil elephas saat ini menjadi daya tarik bagi masyarakat. Terlebih, setelah lokasi itu sempat dikunjungi Gubernu Jateng Ganjar Pranowo dan Bupati Grobogan Sri Sumarni beberapa waktu lalu.

“Tiap hari, banyak rombongan yang berkunjung kesana. Kebanyakan adalah rombongan dari pelajar,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Tim Ahli Purbakala Mulai Buatkan Replika Fosil Stegodon di Banjarejo Grobogan

Tim ahli purbakala mulai melakukan tahapan pembuatan replika fosil stegodon di lokasi penemuan di areal sawah di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tim ahli purbakala dari sejumlah instansi masih terus melakukan kegiatan penelitian dan penyelamatan temuan fosil stegodon di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan.

Setelah melakukan serangkaian penelitian dan pengumpulan data, tim ahli mulai mengerjakan tahapan selanjutnya. Yakni, membuat replika fosil stegodon di lokasi penemuan di areal sawah di Dusun Kuwojo.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, pembuatan replika dilakukan oleh empat tim ahli. Masing-masing, dua orang dari BPSMP Sangiran dan dua orang lainnya dari BPCB Jawa Timur.

“Pembuatan replika juga dibantu beberapa orang dari Komunitas Peduli Fosil Banjarejo.

Diperkirakan butuh waktu 10 hari untuk pembuatan replika fosil sampai jadi,” jelasnya, Jumat (11/8/2017) .

Taufik menyatakan, ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam pembuatan replika tersebut. Antara lain, membuat negatif di atas fosil. Setelah itu baru membuat cetakan positifnya dan dilanjutkan pengecatan.

Setelah replika jadi, fosil asli di lokasi penemuan akan diangkat guna dilakukan konservasi. Usai pengangkatan replika gantian ditempatkan di lokasi penemuan yang nantinya akan dijadikan sebagai museum lapangan.

Editor : Akrom Hazami

Ganjar Pranowo Dukung Pendirian Museum Purbakala di Banjarejo Grobogan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat melangsungkan kunjungan ke  lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Rabu (2/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung upaya pendirian museum purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. Hal itu disampaikan Ganjar saat melangsungkan kunjungan ke  lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Rabu (2/8/2017).

Sebelum ke lokasi penemuan fosil, Ganjar sempat singgah sebentar di rumah Kades Ahmad Taufik. Tujuannya, untuk melihat ratusan koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang sudah ditemukan dalam beberapa tahun terakhir. Alunan musik tradisional berupa kotekan lesung menyambut kedatangan Ganjar bersama Bupati Grobogan Sri Sumarni.

“Potensi purbakala di Desa Banjarejo ini luar biasa sekali. Saya selaku gubernur akan mendorong agar di Banjarejo bisa berdiri sebuah museum purbakala. Jadi, nanti kita punya museum Sangiran dan Banjarejo,” tegasnya.

Ganjar menyatakan, dia sudah menjalin komunikasi intensif dengan bupati dan balai purbakala supaya kawasan Banjarejo ditetapkan sebagai sebuah situs. Tujuannya, agar potensi yang ada bisa dilindungi dan diselamatkan.

Menurut Ganjar, dengan adanya museum nantinya Desa Banjarejo akan bisa jadi destinasi wisata baru di Jawa Tengah. Selain itu, dengan potensi purbakala yang luar biasa diharapkan bisa jadi tempat penelitian oleh banyak pihak.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Setelah Diperlebar, Ditemukan Lagi Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan

Fosil hewan purbakala baru ditemukan di lokasi penemuan stegodon di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)obog

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelebaran lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, membawa hasil yang mengejutkan. Hal ini menyusul ditemukannya beberapa fosil hewan purbakala baru di lokasi pelebaran.

Fosil yang ditemukan ini boleh dibilang juga cukup mengejutkan. Sebab, bukan merupakan fosil dari potongan tubuh stegodon. Tetapi, berasal dari spesies hewan purbakala jenis lainnya.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, sedikitnya ada beberapa potongan fosil yang sudah terlihat.  Antara lain, satu potongan fosil berbentuk seperti tanduk. Kemudian, ada beberapa potongan fosil gigi buaya. Benda purbakala baru ini ditemukan pada areal pelebaran di sebelah utara lokasi ditemukannya fosil stegodon.

“Fosil berbentuk tanduk diperkirakan dari spesies banteng purba. Untuk kepastiannya, masih akan diteliti oleh tim ahli purbakala yang masih melangsungkan penelitian lapangan di lokasi,” jelasnya.

Dijelaskan, dalam upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon memang dilakukan pelebaran areal penemuan, sejak beberapa hari lalu. Semula luas areal penemuan fosil stegodon berukuran 4 x 5 meter saja. Kemudian, lokasinya akan dilebarkan hingga ukuran sekitar 10 x 10 meter.

Menurut Taufik, pelebaran areal itu dilakukan untuk memudahkan dalam upaya penyelematan temuan fosil. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan masih adanya potongan fosil disekitarnya.

“Dari perkiraan tim ahli, sekitar lokasi itu masih ada fosil yang terpendam. Makanya, areal perlu dilebarkan untuk memastikan prediksi tersebut. Prediksi ini ternyata akurat dengan munculnya fosil baru,” katanya.

Selain melebarkan lokasi penemuan, tim ahli sebelumnya juga sudah melakukan beberapa kegiatan. Yakni, mengumpulkan berbagai data lapangan dan mendokumentasikan lokasi dan fosil yang sudah terlihat.

Editor : Akrom Hazami

 

Tim Ahli Purbakala Mulai Kaji Penemuan Fosil Stegodon di Banjarejo Grobogan

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi (baju biru) saat meninjau lokasi penemuan fosil stegodon di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus mulai dilakukan tim ahli purbakala dari beberapa instansi. Pada tahap awal, tim ahli masih akan melakukan kajian di lokasi penemuan fosil yang berada di areal sawah di Dusun Kuwojo.

“Ada beberapa tahapan yang kita lakukan dalam upaya penyelamatan temuan fosil stegodon. Tahap pertama kita lakukan kajian dulu,” kata Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi, Kamis (13/7/2017).

Menurut Sukron, sebelum melangsungkan kajian, pada bulan puasa lalu pihaknya sudah menurunkan tim kecil ke Banjarejo buat melakukan observasi lapangan. Setelah melihat kondisi di lapangan, fosil yang ditemukan ternyata di luar prediksi.

“Ternyata fosil yang sudah terlihat terdiri dari beberapa bagian tubuh satu individu hewan purba. Ini merupakan temuan yang sangat luar biasa. Semula kita perkirakan penemuan fosil biasa seperti sebelumnya,” jelasnya.

Dari observasi lapangan dan data awal yang didapat, tim memutuskan tidak akan buru-buru mengangkat fosil dari dalam tanah. Sebab, tim akan melakukan penelitian dan mengumpulkan banyak data dari lokasi penemuan fosil tersebut.

“Penemuan fosil terbaru di Banjarejo ini sangat istimewa. Di situs Sangiran saja belum pernah ditemukan fosil gajah purba atau stegodon selengkap ini. Sebelumnya, fosil stagodon yang ditemukan cukup lengkap ada di situs Pati Ayam, Kudus,” jelasnya.

 

Sukron menjelaskan, tim yang dikirimkan ke Banjarejo saat ini cukup lengkap dan berasal dari berbagai latar belakang keahlian. Tim ini akan melakukan penelitian, pengkajian, penyelamatan dan mengungkap nilai-nilai penting dari penemuan benda purbakala terbaru yang ada di Banjarejo.

“Kajian dan penelitian kita lakukan sampai September. Untuk pengangkatan fosil kita lakukan pada tahap terakhir setelah kajian dan penelitian rampung,” tambah Sukron.

selain BPSMP, ada instansi lain yang akan mengirimkan tim ahli. Antara lain, Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Konservasi Borobudur, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng. Kemudian, dukungan juga akan diberikan dari Dinas Kebudayaan Jateng, Disporabudpar Grobogan serta komunitas fosil Banjarejo.

 

Editor : Akrom Hazami

7 Ribu Pengunjung Hadiri Pameran Purbakala di Grobogan

Pengunjung pameran purbakala di gedung Wisuda Budaya pada hari terakhir masih tetap ramai (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelaksanaan pameran purbakala yang diselenggarakan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran untuk pertama kalinya dinilai sukses. Indikasinya, dalam pameran yang berlangsung selama lima hari itu dibanjiri pengunjung.

“Kita baru pertama bikin pameran di Grobogan. Namun, animo pengunjung saya nilai luar biasa. Terima kasih pada semua pihak yang ikut mendukung pelaksanaan pameran purbakala ini,” kata Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi, Selasa (28/3/2017).

Ia berharap, dari pelaksanaan pameran bisa mendatangkan manfaat bagi pengunjung. Setidaknya, mereka punya tambahan pengetahuan seputar dunia kepurbakalaan. Baik yang berasal dari Museum Sangiran maupun benda purbakala yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus.

Pameran yang dilangsungkan di gedung Wisuda Budaya ini dibuka Jumat (24/3/2017). Pada hari pertama, jumlah pengunjung hanya berkisar 600 orang.

Kemudian pada dua hari berikutnya, Sabtu dan Minggu, jumlah pengunjung membeludak. Dalam dua hari tersebut, pengunjung per hari hampir mencapai angka 2.000 orang.

Banyaknya pengunjung pada dua hari ini disebabkan adanya penambahan jam buka pameran hingga pukul 21.00 WIB, khusus untuk Sabtu dan Minggu. Sebelumnya, pameran dibuka hingga pukul 18.00 WIB.

Pada Senin kemarin, jumlah pengunjung sekitar 1.600 orang. Sedangkan, pada Selasa ini atau hari terakhir, pengunjung yang melihat koleksi benda purbakala masih terus mengalir. Hingga pukul 17.00 WIB atau satu jam sebelum ditutup, pengunjung yang datang tercatat sudah lebih dari 1.500 orang.

“Menjelang penutupan, masih banyak pengunjung yang datang. Selama lima hari pameran disini, pengunjung selalu ramai,” kata penanggung jawab pameran Iwan Setiawan.

Iwan menyatakan, selain menyampaikan informasi langsung pihaknya juga membagikan buku sejarah Museum Sangiran pada pengunjung pameran. Total buku yang dibagi sekitar 200 eksemplar. 

Editor : Akrom Hazami

Warga Selfie Bareng Manusia Purbakala di Grobogan

Pengunjung pameran purbakala sedang bersiap selfie di dekat patung manusia purba Homo Erectus (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Keberadaan rekonstruksi tiga patung manusia purba Homo Erectus dalam pameran pubakala yang diselenggarakan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran menjadi daya tarik paling banyak bagi pengunjung. Indikasinya, sebagian besar pengunjung menyempatkan diri untuk berfoto ria dengan patung tersebut.

Tiga patung manusia purba ini terdiri laki-laki, perempuan, dan anak. Patung ini diletakkan pada tengah lokasi pameran di tempat yang dibuat mirip sebuah taman dan dihiasi pohon kertas.

“Pameran ini merupakan kesempatan bagus untuk melihat dari dekat benda-benda purbakala. Selama ini, benda-benda ini hanya diketahui dari buku atau lewat internet,” kata guru IPS MTs Manba’ul A’laa Purwodadi Eka Kristiana yang mengunjungi pameran bersama ratusan siswa.

Menurut Eka, pada pemeran hari pertama ini, dia mengajak sekitar 100 siswa. Rencananya, semua siswa akan diajak menyaksikan pameran purbakala secara bergiliran hingga hari terakhir.

“Saya sangat mengapresisasi adanya pameran purbakala ini. Sebab, bisa jadi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar dan melihat langsung aneka koleksi benda purbakala. Oleh sebab itu, saya usahakan supaya semua siswa bisa berkunjung. Terlebih pengunjung pameran ini tidak dipungut biaya alias gratis,” imbuhnya.

Hingga sore hari, sudah ada ratusan orang yang berkunjung ke tempat pameran di gedung Wisuda Budaya Purwodadi. Sebagian besar pengunjung yang datang adalah para pelajar dari sejumlah sekolah yang ada di Purwodadi. Meski demikian, banyak juga masyarakat umum yang juga berdatangan ke lokasi pameran.

Rencananya, pameran bakal digelar hingga 28 Maret mendatang. Pameran dibuka mulai pukul 09.00-18.00 WIB.

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Pelajar Kunjungi Pameran Purbakala di Gedung Wisuda Budaya Grobogan

Sejumlah pelajar sedang serius mengamati fosil manusia purba yang dipajang dalam pameran purbakala di Gedung Wisuda Budaya (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pameran purbakala yang diselenggarakan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran tampaknya mendapat sambungan hangat. Indikasinya, sudah ada ratusan orang yang berkunjung ke tempat pameran di gedung Wisuda Budaya Purwodadi pada hari perdana, Jumat (24/3/2017).

Sebagian besar pengunjung yang datang adalah para pelajar dari sejumlah sekolah yang ada di Purwodadi. Meski demikian, banyak juga masyarakat umum yang juga berdatangan ke lokasi pameran. Rencananya, pameran bakal digelar hingga 28 Maret mendatang. Pameran dibuka mulai jam 09.00-18.00 WIB.

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi menyatakan, tujuan digelarnya pameran adalah untuk menyebar luaskan informasi kepurbakalaan, baik dari Sangiran dan Banjarejo bagi masyarakat luas.

Khususnya, buat kalangan pelajar. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Grobogan untuk memobilisasi siswa sekolah guna menyaksikan pameran sekaligus menimba ilmu kepurbakalaan.

“Bagi pengunjung pameran tidak dipungut biaya alias gratis. Oleh sebab itu, kami berharap pameran nanti bisa dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan,” kata Sukron yang sudah terlihat di lokasi pameran sejak pukul 08.00 WIB.

Editor : Akrom Hazami

 

Koleksi Purbakala Museum Sangiran Bakal Dipamerkan di Grobogan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan koleksi purbakala yang tersimpan di Museum Sangiran dalam waktu dekat bakal bisa disaksikan di Grobogan. Sebab, pihak Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran akan mengadakan pameran di Kota Purwodadi.

“Lokasi pameran akan ditempatkan di gedung Wisuda Budaya Purwodadi. Jadwalnya, dari tanggal 24-28 Maret,” ungkap Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi, saat dihubungi lewat ponselnya, Selasa (21/3/2017).

Menurut Sukron, dalam pameran nanti, pihaknya sudah menyiapkan aneka koleksi yang bakal dipajang. Antara lain, rekonstruksi patung keluarga manusia purba Homo Erectus. Terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak.

Selain itu, aneka benda purbakala lainnya juga sudah disiapkan. Seperti fosil hewan laut, gajah dan banteng yang usianya berkisar 500 ribu tahun.

Kemudian ada pula serangkaian acara pemutaran film tentang kepurbakalaan dan sejarah berdirinya Museum Sangiran. Di samping koleksi dari situs Sangiran, pihaknya juga akan menampilkan aneka benda purbakala yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus.

“Jadi tidak hanya koleksi Sangiran saja yang akan dipamerkan. Kita juga sediakan stan khusus untuk benda-benda purbakala dari Banjarejo,” jelasnya.

Sukron menyatakan, tujuan digelarnya pameran adalah untuk menyebar luaskan informasi kepurbakalaan, baik dari Sangiran dan Banjarejo bagi masyarakat luas.

Khususnya, buat kalangan pelajar. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Grobogan untuk memobilisasi siswa sekolah guna menyaksikan pameran sekaligus menimba ilmu kepurbakalaan.

“Bagi pengunjung pameran tidak dipungut biaya alias gratis. Oleh sebab itu, kami berharap pameran nanti bisa dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

Perhiasan Emas Kuno yang Ditemukan di Banjarejo Grobogan Ternyata Replika Bunga Padma

Warga menunjukkan replika dari bunga Padma, yang lazim digunakan pada masa era Hindu di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Anggapan banyak pihak yang menyatakan jika perhiasan emas yang ditemukan di Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, adalah jenis bunga mawar atau teratai ternyata salah. Sebab, berdasarkan penjelasan Kepala Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Tri Hartono, penemuan terbaru di Banjarejo itu diidentifikasikan replika dari bunga Padma.

“Bunga Padma lazim digunakan pada masa Hindu. Jadi kemungkinan besar, perhiasan emas itu merupakan peninggalan era Hindu,” katanya pada wartawan di Grobogan, Senin (6/3/2017).

Menurutnya, bunga Padma dalam sudut pandang Hindu melambangkan kesucian. Diperkirakan, perhiasan yang ditemukan itu umurnya sudah ratusan tahun.

Terkait dengan maraknya penemuan benda bersejarah di Desa Banjarejo perlu adanya penetapan lokasi sebagai situs. Untuk prosedur penetapannya melalui serangkaian tahapan mulai dari BPCB Jateng, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Grobogan, Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Grobogan dan Bupati Grobogan.

“Penetapan situs ini penting agar tidak terjadi kerusakan di lokasi yang diduga kuat memiliki banyak benda bernilai historis,” ungkap Tri.

 Baca juga : 

Heboh,Emas Berbentuk Bunga Mawar Muncul dari Bumi Banjarejo Grobogan

Perhiasan Emas Berbentuk Bunga Mawar yang Ditemukan di Sawah Ini Sempat Dikira Barang Mainan

 

Seperti diberitakan, bentuk perhiasan emas berbentuk bunga yang ditemukan di Banjarejo ukurannya tidak terlalu besar. Panjang dari ujung kuncup bunga hingga pangkal tangkainya sekitar 4 cm. Lebar kelopak bunga antar ujungnya juga berkisar 4 cm.

Bagian bunga dalam perhiasan yang diduga sebuah tusuk konde itu ada beberapa lapisan. Paling bawah ada lima helai kelopak bunga yang sudah mekar.

Sementara di atasnya ada beberapa helai yang akan mekar dan ada yang terlihat masih seperti kuncup. Dibagian bawah kelopak terdapat tangkai bunga sepanjang 2 cm yang juga berlapis emas.

“Ukuran perhiasan ini memang tidak terlalu besar. Beratnya sekitar 7,6 gram,” ungkap Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Perhiasan ini ditemukan Sugiyanto, warga Dusun Medang bertepatan dengan Hari Jadi ke-291 Kabupaten Grobogan, Sabtu (4/3/2017) kemarin. Lokasi penemuannya berada di areal sawah di Dusun Medang. Tepatnya, sekitar 100 meter di selatan tanah keramat yang diyakini sebagai tempat berdirinya bangunan keraton kerajaan Medangkamulan.

Editor : Akrom Hazami

Selama 2 Pekan, Puluhan Benda Purbakala Banjarejo Grobogan Akan Pindah Tempat

Aktivitas penelitian fosil di Banjarejo, Gabus, Kabupaten Grobogan, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bagi yang ingin berkunjung ke Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, untuk melihat benda bersejarah sebaiknya ditunda dulu. Sebab, mulai Minggu (26/2/2017) besok hingga dua pekan mendatang, sebagian besar benda bersejarah di Banjarejo akan dipindahkan ke lapangan Kelurahan Grobogan, Kecamatan Grobogan.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, dipindahkannya sebagian koleksi itu dalam rangka memeriahkan pameran budaya yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-291 Kabupaten Grobogan. Pihak panitia meminta partisipasi supaya koleksi benda purbakala dan cagar budaya dari Banjarejo bisa ditampilkan dalam pameran tersebut.

“Kita ikut menyemarakkan pameran dengan membawa koleksi kesana. Kalau tidak salah, acaranya sampai 12 Maret bertempat di lapangan sepak bola Kelurahan Grobogan. Selain dari Banjarejo, ada berbagai stan lainnya yang berpartisipasi dalam pameran,” jelasnya.

Terkait dengan agenda tersebut, Taufik meminta bagi masyarakat yang ingin melihat koleksi benda purbakala atau cagar budaya supaya datang saja ke Kelurahan Grobogan selama pameran. Sebab, hampir 70 persen koleksinya dipajang dalam pameran tersebut.

“Bagi yang mau lihat koleksi silakan nanti datang ke acara pameran. Soalnya sebagian besar koleksi kita bawa kesana. Yang dirumah tinggal sedikit,” ujar Taufik.

Editor : Akrom Hazami

 

Diguyur Hujan Deras, Puluhan Warga Banjarejo Grobogan Tetap Betah Nonton Film di Balai Desa

Warga menonton film tentang purbakala di Balai Desa Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski cuaca hujan deras, acara pemutaran film yang digelar Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran di Balai Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus tetap digelar, Kamis (16/2/2017) malam. Puluhan warga, mulai anak-anak hingga orang tua tetap berdatangan untuk melihat tontonan gratis tersebut.

Pemutaran film dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. Beberapa peralatan yang sebelumnya ditempatkan di halaman terpaksa dipindah di teras balai desa lantaran kena guyuran hujan. Sebuah film dokumenter berisi perjalanan sejarah purbakala hingga berdirinya Museum Sangiran jadi tontonan perdana. Film ini berdurasi sekitar 30 menit. Setelah itu, ada satu film lagi yang diputar. Yakni, film petualangan dengan titel ‘Para Pemburu Gajah’.

Film petualangan ini mengisahkan keberanian lima orang anak yang sedang berkemah untuk menyelamatkan seekor anak gajah Sumatera dari incaran pemburu. Lima anak ini merasa terpanggil untuk menyelamatkan gajah Sumatera karena populasinya sudah terancam punah. Dalam film ini juga mengisahkan kekompakan dan kesetiakawanan anak-anak tersebut dalam upaya menyelamatkan anak gajah tersebut.“Filmnya bagus. Kebetulan, saya senang sama binatang gajah,” kata Faris, salah seorang bocah yang menyaksikan pemutaran film tersebut.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengaku salut dengan animo warganya yang tetap bersedia hadir menyaksikan pemutaran film meski kondisi hujan deras sejak magrib. “Saya perkirakan ada 50 orang yang hadir di sini. Kalau cuaca cerah, yang nonton di balaidesa pasti penuh orang,” katanya, di sela-sela pemutaran film.

Taufik menilai, pemutaran film Para Pemburu Gajah dinilai sangat cocok. Sebab, film itu mengisahkan sebuah usaha untuk menyelamatkan sesuatu yang dinilai sangat berharga supaya keberadaannya tetap lestari. “Dari film ini saya berharap bisa memicu semangat warga untuk ikut menyelamatkan barang berharga yang adai di Banjarejo. Yakni, benda purbakala dan cagar budaya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi menyatakan, selama dua pekan, pihaknya melangsungkan kegiatan penelitian di Banjarejo. Di sela-sela penelitian, ada beberapa kegiatan lain yang dilakukan. Yakni, menggelar sosialisasi pelestarian benda purbakala dan pemutaran film. 

Editor : Akrom Hazami 

Temukan Fosil di Banjarejo Grobogan, Ini Cara Merawatnya Agar Tak Rusak

Warga Desa Banjarejo mengikuti acara sosialisasi yang diselenggarakan BPSMP Sangiran di balai desa setempat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi membeberkan cara merawat benda purbakala saat ditemukan. Hal itu bertujuan agar fosil tidak rusak. Itu disampaikan di Balai Desa Banjarejo Grobogan, Kamis (16/2/2017).

Menurut Sukronedi, ada beberapa hal yang perlu disampaikan pada masyarakat terkait dengan banyaknya penemuan benda purbakala atau cagar budaya di Desa Banjarejo dalam beberapa tahun terakhir. Antara lain soal Undang-Undang No 11 tahun 2010 tentang cagar budaya. Penyampaikan materi ini sangat penting agar masyarakat bisa paham dengan masalah tersebut.

Selanjutnya, masalah penyelamatan terhadap temuan yang terjadi juga disampaikan pada masyarakat. Utamanya, perihal pengangkatan fosil yang terpendam di dalam tanah. “Idealnya, kamilah yang melakukan pengangkatan, namun karena kondisi tertentu warga boleh melakukan pengangkatan fosil. Meski demikian, tata cara pengangkatan itu perlu kita berikan agar tidak terjadi kesalahan atau kerusakan,” kata Sukron.

Selain kehati-hatian, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengangkatan fosil. Misalnya, peralatan yang perlu disiapkan, dokumen foto posisi fosil sebelum diangkat dari berbagai sudut. Tidak kalah penting yang perlu dilakukan adalah mencatat data terkait pengangkatan fosil. Seperti, arah mata angin dari posisi fosil yang ditemukan, ukuran kedalaman tanah atau penggalian.

Kemudian, sebelum ditutup lagi lokasi penemuan, perlu diberi tanda dengan plastik atau bahan lainnya pada tempat fosil berada.  Ini penting jika suatu saat dilakukan lagi penggalian untuk memeriksa sampel tanah yang ada disitu. Dengan adanya tanda maka penelitian bisa dilakukan dengan tepat.

Satu hal lagi, setelah ditutup atau diuruk, lokasi penemuan hendaknya diberi tanda. Misalnya, dikasih tiang pancang dari kayu atau bambu untuk memudahkan mencari lokasi tersebut dikemudian hari.

Editor : Akrom Hazami

Jejak Manusia Purba Ditemukan di Banjarejo Grobogan, Ini Indikasinya

Ketua Tim Penelitian BPSMP Sangiran Wahyu Widianta (kaos hitam) dan Kades Banjarejo Ahmad Taufik menunjukkan bola batu yang berhasil ditemukan . (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan  – Perkiraan banyak pihak jika ada manusia purba yang sempat hidup di sekitar Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, tampaknya mulai mendekati kebenaran. Hal ini menyusul adanya penemuan benda terbaru yang didapat Tim dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo sejak 10 hari lalu.

Benda yang ditemukan ini berupa bola batu. Jumlahnya ada tujuh. Sesuai namanya, benda ini bentuknya bulat. Benda ini hampir seukuran bola yang dipakai untuk olahraga tolak peluru. Bola batu ada yang bentuknya bulat simetris dan ada yang pinggirnya agak pipih seperti disayat. Bola batu paling besar berdiameter sekitar 10 cm dan yang kecil sekitar 7 cm. Beratnya sekitar 0,5 sampai 1 kg.

“Bola batu ini kita perkirakan merupakan salah satu peralatan yang dipakai manusia purba. Tepatnya, untuk alat berburu. Di Museum Sangiran sudah ada banyak koleksi bola batu,” Ketua Tim Penelitian BPSMP Sangiran Wahyu Widianta saat ditemui di Desa Banjarejo, Kamis (16/2/2017).

Bola batu berwarna kuning emas itu bisa digunakan berburu dengan cara dilemparkan pada sasaran yang dituju. Biasanya, hewan berukuran kecil semisal kijang. Bisa juga digunakan dengan diikat dengan tali sepanjang 1-1,5 meter, kemudian diputar dengan tangan dan dilemparkan pada sasaran. “Dalam film-film ada cara berburu seperti itu. Yakni, menggunakan batu yang diikat dengan seutas tali,” terang pengkaji pengembangan situs manusia purba BPSMP Sangiran itu.

Menurut Wahyu, bola batu itu ditemukan dalam kotak eskavasi yang bertempat di tegalan Dermo di sebelah utara Dusun Nganggil. Bola batu ditemukan saat dilakukan penggalian tanah di kotak eskavasi pada kedalaman 80 cm sampai 1,7 meter.  Dengan adanya bola batu maka kemungkinan adanya manusia purba yang hidup di sekitarnya cukup besar. Hanya saja, lokasi pasti di mana pusat peradaban manusia purba masih perlu diteliti lebih lanjut.

Wahyu menambahkan, selain bola batu, ada peralatan hidup lainnya dari batu yang digunakan manusia purba. Seperti, batu pipih berbentuk seperti pisau atau kapak untuk memotong benda keras. Ada juga ujung batu runcing tipis yang biasanya dipakai untuk menyayat atau menguliti hewan buruan. “Ada juga peralatan yang dibikin dari patahan tulang hewan besar dan kulit kerang yang keras dan ujungnya tajam,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

Penemuan Fosil di Banjarejo Grobogan Melimpah, Proses Identifikasi Dilembur

Tim Ahli Purbakala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan kegiatan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Hasil yang didapat tim Ahli Purbakala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan kegiatan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus di luar prediksi. Benda purbakala yang ditemukan jumlahnya melebihi perkiraan.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, selama 10 hari di Banjarejo, tim dari BPSMP Sangiran sudah berhasil menemukan hampir 500 potongan fosil. Ratusan fosil yang ditemukan itu terdiri dari berbagai ukuran. Mulai sebesar ibu jari sampai sebesar lengan orang dewasa.

“Terus terang, saya sendiri juga kaget dengan hasil yang didapat dari penelitian kali ini. Jumlahnya banyak banget,” kata Taufik, Rabu (15/2/2017).

Dibandingkan saat penelitian bulan Maret tahun 2016, jumlah fosil yang ditemukan kali ini dinilai lebih banyak. Jumlah potongan fosil yang didapat kemungkinan masih bisa bertambah lagi. Sebab, tim ahli masih terus melakukan penelitian di lapangan.

“Untuk lokasi penemuan potongan fosil tersebut berada di banyak tempat. Mulai dari pinggiran Sungai Lusi di sebelah utara Desa Banjarejo hingga di Dusun Ngrunut dan Medang. Hingga hari ini, tim ahli masih di lapangan untuk melanjutkan penelitian,” katanya.

Menurut Taufik, banyaknya benda purbakala yang ditemukan itu menyebabkan tim peneliti cukup kewalahan dan butuh waktu lembur untuk melakukan proses identifikasi. Yakni, menentukan jenis hewan dan bagian tubuh apakah potongan fosil tersebut. Misalnya, potongan tanduk, ekor, kepala, gigi, kaki atau bagian tubuh lainnya.

“Proses identifikasi ini harus spesifik dan dikasih label. Potongan fosil  dipilah-pilah berdasarkan bagian tubuh maupun jenis hewannya. Lantaran jumlahnya banyak sekali, tim identifikasi harus lembur sampai dini hari,” jelasnya.

Jenis hewan purba berdasarkan fosil yang ditemukan selama ini berasal dari sekitar 12 spesies binatang. Antara lain, gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, kerang, antelope, menjangan, hiu dan hewan laut lainya.

Pelaksanaan penelitian rencananya akan berakhir Sabtu (18/2/2017) mendatang. Sebelum mengakhiri kegiatan, proses identifikasi potongan fosil yang ditemukan sudah harus rampung. Oleh sebab itu, pelaksanaan identifikasi terpaksa dilembur agar selesai sesuai tenggat waktu yang ditentukan.

Editor : Akrom Hazami