Polres Grobogan dan Tokoh Agama Satukan Persepsi dalam Jaga Kamtibmas

MuriaNewsCom, GroboganAcara Focus Group Discussion (FGD) digelar Polres Grobogan dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat, Selasa (27/2/2018). Tema utama dalam FGD tersebut ada;ah membahas persoalan kamtibmas, dan menciptakan toleransi antar-umat beragama.

”Kita mengundang para pemuka agama mendiskusikan toleransi antar-umat beragama. Selain itu, kita ingin menyatukan persepsi dalam menjaga Kamtibmas,” kata Wakapolres  Grobogan Kompol I Wayan Tudy Subawa usai membuka acara FGD.

Forum diskusi dengan FKUB merupakan saluran komunikasi antar-para pemuka agama sekaligus menyatukan pandangan guna mengantisipasi munculnya gangguan keamanan yang berkaitan dengan isu suku, agama, dan ras (sara).

”Kita ingin kerukunan antar-umat beragama di wilayah hukum Polres Grobogan tetap terjaga dengan baik tanpa adanya gangguan serta provokasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Dengan adanya FGD itu, diharapkan dapat meredam sekaligus mendeteksi munculnya potensi konflik antar umat beragama, karena sejatinya para pemuka agama akan menyampaikan ajakan dan pesan damai kepada masing-masing umatnya.

Ia juga mengajak para pemuka agama yang tergabung dalam forum diskusi FKUB terkait penyelenggaraan Pilkada serentak 27 Juni 2018 untuk secara bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan kerukunan di tengah masyarakat.

”Dengan semakin dekatnya waktu penyelenggaraan Pilkada kita meminta kepada seluruh umat beragama untuk ikut menciptakan keamanan karena keamanan merupakan kebutuhan kita bersama,” katanya.

Editor: Supriyadi

Maksimalkan Komunikasi Antaragama, Warga di Kecamatan Kembang Jepara Bentuk FKUB

Acara FGD yang memelopori pembentukan FKUB di Kecamatan Kembang, Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dibentuk di Kecamatan Kembang. Hal itu guna memaksimalkan komunikasi antar umat beragama diwilayah tersebut yang cukup beragam. 

“Hal ini sesuai dengan amanat Focus Group Discussion bertema meneguhkan agma sebagai spirit persatuan dan kemajuan bangsa, medio Agustus lalu. Dalam simpulan forum tersebut, perwakilan dari berbagai agama menginginkan adanya wadah untuk komunikasi semua tokoh agama di Kecamatan Kembang,” ujar Ahmad Sahil, Ketua Lembaga dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Jepara, Jumat (3/11/2017). 

Menurutnya, dalam pendirian FKUB Kembang, dihadiri oleh tokoh-tokoh dari Islam, Kristen dan Budha serta Musyawarah Pimpinan Kecamatan setempat. Adapun tujuan didirikannya wadah komunikasi tersebut adalah menangkal bibit persoalan antar agama dan sosial secara dini.

“FKUB Kembang bertujuan sebagai media komunikasi dan koordinasi semua tokoh agama di Kecamatan Kembang. Selain itu, wadah ini menjadi sarana deteksi dini persoalan agama dan sosial di masyarakat. Pengukuhan pengurus nanti akan dilakukan pada hari Senin (6/11/2017) oleh Camat,” imbuhnya. 

Sahil mengatakan, selain FKUB di beberapa kecamatan telah terbentuk wadah komunikasi antar agama. Seperti Kecamatan Donorojo yang telah terbentuk Forum Musyawarah Lintas Agama (Formula) yang diketuai oleh KH Ubaidillah Nur Umar. 

Editor: Supriyadi

Warga Kutuk Undaan Kudus Gigih Saling Jaga Kerukunan Beragama

Diskusi lintas agama yang dilakukan di Desa Kutuk, Undaan, Kudus. beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Diskusi lintas agama yang dilakukan di Desa Kutuk, Undaan, Kudus. beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu tokoh lintas Agama Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus, Suparno berharap kerukunan antarumat beragama bukan sekadar lahiriah. Tapi juga secara batin. Mengingat, hal itu merupakan hal penting bagi kehidupan berbangsa.

“Jika lahir dan batinnya rukun, maka kehidupan akan terjaga dengan kondusif. Termasuk saling menghormati dalam tata cara beribadah, itu akan membuat kehidupan warga lebih tenang,” kata Suparno.

Dia menilai, kerukunan antarpemeluk agama Islam dan Budha di desa itu juga patut menjadi contoh. Karenanya, setiap masyarakat seharusnya bisa hidup rukun.

Sementara itu, ada sejumlah hal yang harus bisa dipertahankan bahkan diwariskan kepada anak cucu. Ialah rasa sikap menghormati, menghargai, bahkan saling membantu pekerjaan atau kegiatan sosial antarsesama.

“Kegiatan sosial seperti halnya sambatan (mengerjakan rumah) itu harus bisa dilakukan secara bersama. Dan tidak memandang orang itu agama apa, dari mana, atau sejenisnya. Yang penting kita sebagai warga Indonesia harus tahu batasannya. Serta bisa mengedepankan kebersamaan. Sehingga kegiatan sosial dapat dijalankan secara bersama dan dapat dicontohkan kepada anak cucu kita,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus, giat meningkatkan pembangunan spiritual sumber daya manusia. Hal tersebut, sebagai salah satu upaya untuk merangkul semua umat beragama yang ada di desa setempat.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Pemdes Kutuk Undaan Pacu Pembangunan Mental Spiritual Warga