Pemkab Jepara Minta Bantuan PLTS di 3 Pulau Jadi Aset Daerah

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kepala Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Dinas Bina Marga Pengairan ESDM (BMP-ESDM) Jepara, Ngadimin menegaskan bahwa Pemkab Jepara menginginkan agar bantuan Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari Denmark menjadi aset daerah.

Hal itu penting agar kedepannya, perawatan dan pemeliharaan dapat dilakukan oleh Pemkab Jepara dan dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan Belanja daerah (APBD) Jepara.

”Kalau menjadi asset Pemkab Jepara, maka perawatan maupun pemeliharaannya kan bisa langsung. Kalau tidak menjadi asset sendiri, biasanya susah bahkan tidak bisa melakukan perawatan dan pemeliharaan,” ungkap Ngadimin kepada MuriaNewsCom, Jumat (27/5/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, bantuan PLTS di ketiga pulau tersebut sangat penting demi ketersediaan listrik yang memadai. Sebab, selama ini memang di tiga pulau tersebut belum tidak bisa teraliri listrik meski sebelumnya juga telah ada PLTS dengan kapasitas yang masih rendah.

”PLTS di sana sudah rusak, ini ada bantuan diharapkan dapat mengatasi masalah listrik di sana,” katanya.

Dia menambahkan, jumlah penduduk di ketiga pulau tersebut cukup banyak. Di pulau parang ada sekitar1.143 jiwa dengan 355 kepala keluarga (KK), pulau Nyamuk ada sekitar 590 jiwa dengan 194 KK, dan pulau Genting ada sekitar 274 jiwa dengan 96 KK. Selama ini listrik disana hanya menyala sekitar 6 jam per hari.

Editor: Supriyadi

Lahan untuk PLTS di Pulau Genting Karimunjawa Belum Dibebaskan

Kepala Bidang Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Dinas ESDM Jepara, Ngadimin. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kepala Bidang Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Dinas ESDM Jepara, Ngadimin. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Tiga pulau yang ada di Karimunjawa, yakni pulau Parang, Nyamuk, dan Genting bakal ditempati Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Dari ketiga pulau tersebut, Pemkab Jepara masih belum selesai membebaskan lahan yang ada di pulau Genting.

Kepala Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Dinas BMP-ESDM Jepara, Ngadimin mengemukakan, Pemkab Jepara mendapatkan bantuan dari Denmark berupa PLTS yang rencananya diletakkan di tiga pulau tersebut. Pemkab diberi kewajiban untuk menyediakan lahan dan melakukan perawatan setelah PLTS dibangun disana.

”Dari ketiga pulau itu, pembebasan lahan masih dibutuhkan di Pulau Genting. Sedangkan untuk Pulau Nyamuk dan Parang, sudah dilakukan jauh-jauh hari,” ujar Ngadimin kepada MuriaNewsCom, Jumat (27/5/2016).

Menurut dia, lahan yang dibebaskan Pemkab di Pulau Nyamuk seluas 1.035 meter persegi, Pulau Parang seluas 1.500 meter persegi, dan Pulau Nyamuk yang tinggal dilakukan pembayaran seluas 2.114 meter persegi.

”Sebenarnya rencana adanya bantuan PLTS dari Denmark melalui ESP3 sudah lama. Kami sudah lakukan persiapan berupa penyediaan lahan. Hanya di Pulau Genting yang belum. Tapi sebenarnya sudah ada kesepakatan harga,” ungkap Ngadimin.

Baru-baru ini, pihaknya juga melakukan pengecekan terhadap lahan yang akan ditempai instalasi tersebut. Hal itu untuk memastikan kesiapan, serta melakukan perhitungan ulang untuk mengantisipasi kemungkinan adanya penambahan lahan. Salah satunya mengenai akses ke lokasi lahan. Sebelum lebaran, segala hal terkait dengan penyediaan lahan ditargetkan selesai.

Editor: Supriyadi

Duh, Listrik Kudus Sering Padam, Ini Kata PLN

Petugas melakukan perbaikan instlasi listrik di salah satu sudut di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas melakukan perbaikan instlasi listrik di salah satu sudut di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Gangguan listrik yang terjadi di Kudus, termasuk dalam kategori tinggi. Sedikitnya, selama Januari hingga Februari 2016 saja, gangguan Listrik mencapai 34 kali. Sedangkan pada Maret 2016, juga terjadi beberapa kali padam dengan intensitas yang cukup sering.

Hal itu diungkapkan Perwakilan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) Kudus Arif Nuryadi. Menurutnya, akibat dari dampak gangguan tersebut membuat gangguan pada kelancaran pasokan energi listrik ke pelanggan. Bahkan, kejadian tersebut menyebabkan padamnya listrik hingga berulang kali dan waktu yang cukup lama.

”Kejadian padamnya listrik akibat gangguan jaringan listrik PLN hingga puluhan kali termasuk tinggi, namun Kami langsung membenahi ketika tahu kalau ada yang padam,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Tercatat, selama Januari 2016, Arif mengungkapkan gangguan listrik mencapai 21 kasus. Sedangkan pada Februari, gangguan cenderung menurun dengan 13 kasus saja. Meski menurun, nampaknya pada Maret juga mengalami gangguan listrik pipa. Hanya mengenai jumlahnya masih direkap.

Adanya hal tersebut, membuat masyarakat merasa terganggu. Sehingga banyak warga langsung komplain jika terjadi pemadaman. Dan tidak lama kemudian, petugas langsung memperbaiki padamnya listrik untuk kemudian dapat dinikmati oleh masyarakat.

”kami menerima laporan selama 24 jam. Jadi jika ada gangguan mengenai padamnya listrik, silakan langsung menghubungi kami karena itu sangat membantu,” jelasnya.

Gangguan padamnya listrik, kata dia, terkait masih masuknya musim hujan. Terlebih angin yang cukup kencang waktu itu. Akhirnya air hujan tersebut membasahi pepohonan dan menyapu jaringan yang memang banyak.

Dengan demikian, maka gesekan arus tidak dapat dihindari. Terlebih kondisi yang basah, membuat jaringan menjadi korsleting, sehingga padamnya listrik tidak dapat dihindari.

Editor : Akrom Hazami

Petir, Biang Kerok Listrik Sering Padam di Kudus

Bagian Humas PLN Kudus Arif Nuryadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bagian Humas PLN Kudus Arif Nuryadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Gangguan listrik yang menyebabkan padamnya listrik di semua rayon PLN, mayoritas karena faktor alam. Dari hasil evaluasi selama 2016 ini, Januari hingga Februari 2016 gangguan paling banyak dan sering disebabkan dari faktor alam. Bahkan paling sering adalah sambaran petir.

Berdasarkan data yang dimiliki PLN, gangguan listrik selama Januari hingga Februari 2016 sejumlah 34 kasus. Dari sekian banyak jumlah gangguan, yang paling banyak adalah gangguan dari sambaran petir.

Bagian Humas PLN Kudus Arif Nuryadi mengatakan, gangguan padamnya listrik yang disebabkan sambaran petir, ad 10 gangguan. Sedangkan gangguan lainnya disebabkan dari hewan dan faktor alam lainnya.

“Ada delapan gangguan yang terjadi, yakni enam gangguan sambaran petir pada Januari dan empat gangguan petir pada Februari. Gangguan tersebar di beberapa daerah di Kudus,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, gangguan lainnya yang juga menyebabkan terputusnya listrik adalah gangguan tikus, dan burung dara yang terkena sambaran listrik. Akibatnya membuat listrik korsleting, dan akhirnya padam.

”Pohon yang bergesekan, membuat kabel milik kami PLN putus, itu sering terjadi pada musim hujan seperti sekarang ini. Selain itu, burung juga sering membuat jaringan terganggu. Itu sudah sejak dulu, seperti burung, ular bahkan tikus juga sering menjadi penyebabnya,” ujarnya.

Menurutnya, agar gangguan yang terjadi tidak melampaui batas maksimal, pihaknya juga melakukan sejumlah upaya, mulai dari perambasan dahan pohon yang diperkirakan berpotensi mengganggu jaringan listrik hingga memasang peralon di kabel jaringan listrik yang berpotensi mengalami gangguan.

Sedangkan untuk mencegah hewan naik ke kabel jaringan listrik melalui tiang listrik juga dipasang pengaman, seperti ijuk yang dililitkan di tiang listrik serta pemasangan pengaman pada kabel penguat tiang listrik.

”Kami juga melakukan pergantian isolator untuk menjaga keandalan jaringan listrik PLN, jadi upaya yang kami laklukan sudah banyak dan terus kami kembangkan,” ujarnya.

Soal gangguan paling lama, terjadi pada Januari lalu, padamnya listrik mencapai 10,54 menit atau hampir 11 jam. Gangguan terdapat di jaringan Kudus kota yang diakibatkan angin kencang.

Padamnya mulai pukul 08.51 WIB pagi pada 24 Januari lalu. Kemudian baru dapat menyala pada 19.45 WIN pada saat itu memang hujan sehingga ada tiga gangguan dalam satu hari.

Editor : Akrom Hazami

Ini Lho Salah Satu Cara Mengatasi Krisis Air

Salah satu pemateri sedang memberikan materi terhadap peserta kemah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu pemateri sedang memberikan materi terhadap peserta kemah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Muria Research Center (MRC) mengadakan kemah konservasi yang diadakan di kebun kopi kawasan Colo, Kecamatan Dawe. Kegiatan ini, salah satunya membahas mengenai krisis air yang melanda di Indonesia sekarang ini.

Kegiatan yang diikuti oleh sedikitnya 32 peserta, dari beberapa instansi tersebut, menggandeng beberapa pemateri dari instansi terkait dan media massa lokal di Kudus.

Salah satu pemateri dari Kantor Lingkungan Hidup Kudus Meri menjelakan, untuk menangansi krisis air, khususnya yang melanda di wilayah Kudus, salah satu solusinya adalah dengan membuat sumur resapan air atau biopori.

Sumur resapan air, merupakan sebuah lubang yang mempunyai kedalaman sekitar 5 hingga 10 meter, yang nantinya bisa menampung sampah bersih. Sehingga sampah yang terdiri dari dedaunan tersebut, pada saat musim hujan bisa menyerap air. Dan disaat musim kemarau, sumur yang ada di sekitar biopori itu bisa mengeluarkan mata air.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau supaya warga bisa sadar menanam pohon. Sebab dengan menanam pohon, maka airnya bisa diserap oleh akar dari pohon tersebut, serta bisa dijadikan cadangan disaat musim kemarau.Pohon yang dianjurkan untuk ditanam, di antaranya pohon dengan jenis akar serabut.

“Sebaiknya pohon yang ditanam sejak dini itu harus yang mempunyai akar serabut atau bisa juga akar tunggang. Sebab pohon itu nantinya bisa mempunyai cadangan air yang berlimpah,” paparnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)