Pastikan Stok Aman, Polsek Lasem Pantau Distribusi Gas Elpiji Bersubsidi 

MuriaNewsCom, Rembang – Polsek Lasem kembali memantau distribusi gas elpiji 3 kg di sejumlah titik. Hal itu dilakukan untuk memastikan stok aman, sekaligus mengantisipasi penyimpangan yang dilakukan para agen ataupun distributor.

Kapolsek Lasem AKP Didik Dwi Susanto menyebutkan, sedikitnya ada tiga pangkalan yang didatangi petugas. Ketiga pangkalan tersebut di antaranya pangkalan di Desa Gedongmulyo, pangkalan Desa Sumbergirang, dan pangkalan di Desa Jolotundo.

”Pengecekan yang dilakukan meliputi berapa jumlah pengiriman dan harga eceran tertinggi (HET). Kami tidak mau ada pedagang yang bermain curang,” katanya seperti dikutip dari laman resmi Humas Polres Rembang.

Dari pengecekan tersebut, lanjutnya, hasilnya bervariasi. Itu lantaran ada pangkalan yang menerima jatah 400 – 600 an tabung per pekan. Begitu pula soal harga, untuk elpiji 3 Kg ada yang menjual Rp 16.000 hingga Rp 18.500. Sejauh pengamatannya, belum muncul gejolak, terkait masalah elpiji bersubsidi.

Karena gas tersebut hak dari keluarga kurang mampu, pihaknya menghimbau kepada pemilik pangkalan, supaya elpiji 3 Kg dijual tepat sasaran. Tujuannya supaya tidak ada keluhan dari masyarakat .

”Tiap kita datang ke pangkalan, yang dicek stok sama HET nya. Harga tertinggi memang beda – beda. Sejauh pantauan kami masih dalam batas kewajaran. Belum muncul antrean panjang. Pantauan ini merupakan bentuk pengawasan atas perintah pimpinan,” terang AKP Didik.

Selain mengecek stok gas elpiji 3 kg, Kapolsek juga meminta kepada keluarga yang mampu agar tidak membeli gas elpiji 3 Kg. Saat ini sudah ada alternatif lain, seperti Bright Gas isi 5,5 kg dan isi 12 Kg yang termasuk non subsidi.

”Yang subsidi sebaiknya untuk masyarakat yang kurang mampu. Saat ini sudah ada Bright Gas yang harganya juga ekonomis,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

Dewan Tak Ingin Tahun 2018 Masih Ada Kelangkaan Elpiji 3 Kg

MuriaNewsCom, Semarang – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah menyoroti sering terjadinya kelangkaan elpiji 3 kg, terutama saat momen hari besar.

Kelangkaan elpiji 3 kg terjadi di sejumlah daerah di Jateng, sehingga akibat kelangkaan itu, harga elpiji 3 kg melambung. Harga gas tersebut naik  bahkan sampai kisaran Rp 22 ribu dari yang harga normal Rp 18 ribu.

“Kami berharap pemerintah, dalam hal ini PT Pertamina agar bisa melakukan pemantauan dan pengawasan yang ketat terhadap distribusi elpiji 3kg tersebut,” katanya.

Saat ini, menurut Riyono, kelangkaan elpiji yang dirasakan masyarakat lebih disebabkan permintaannya yang naik.

Selain itu, juga menemukan bahwa elpiji 3 kg digunakan rumah tangga mampu. Padahal, elpiji 3 kg adalah gas bersubsidi yang diperuntukan bagi masyarakat tidak mampu.

Riyono  mengatakan, Elpiji merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi masyarakat dan bisa memengaruhi kondisi ekonomi rakyat kecil. Dia juga berharap pada tahun 2018 ini tidak terjadi lagi kelangkaan gas 3 kg.

Pertamina juga diminta perlu memberikan penambahan kuota distribusi. Mengingat kebutuhan masyarakat cukup tinggi.

“Apalagi kelangkaan elpiji 3kg tersebut telah memicu kenaikan  harga di tingkat pengecer dari harga resmi yang  telah ditetapkan oleh pemerintah dan PT Pertamina,”ujarnya.

 

Editor : Ali Muntoha

Tim Satgas Pangan Polres Grobogan Sidak Penggunaan Elpiji 3 Kg di Rumah Makan

MuriaNewsCom, GroboganTim Satgas Pangan Polres Grobogan melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap penggunaan gas elpiji kemasan 3 kg. Sasaran sidak adalah seluruh rumah makan yang tersebar di wilayah Kabupaten Grobogan.

Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan supaya penggunaan gas melon agar tepat sasaran. Yakni, warga kurang mampu dan usaha mikro.

”Selama beberapa hari ini, kita akan melakukan sidak ke rumah makan. Hal ini kita lakukan untuk memastikan agar pemakaian gas elpiji 3 kg tepat sasaran,” kata Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano, Kamis (4/1/2018).

Dalam sidak itu diketahui, sebagian besar rumah makan menggunakan gas elpiji non subsidi. Meski demikian, ada beberapa rumah makan yang kedapatan masih menggunakan beberapa tabung elpiji kemasan 3 kg, disamping gas non subsidi.

Terkait temuan ini, tim Satgas selanjutnya memberikan pembinaan pada pemilik rumah makan. Tim juga meminta agar pemilik rumah makan membuat surat pernyataan tidak akan menggunakan gas elpiji 3 kg tersebut.

”Pemilik rumah makan yang masih pakai gas melon kita kasih pengertian dan pembinaan. Kedepan mereka kita harapkan tidak pakai gas melon lagi,” imbuh Kasat Reskrim AKP Suwasana.

Selain rumah makan, sidak juga dilakukan pada agen elpiji. Hal ini dilakukan untuk melihat ketersediaan stok dan memastikan tidak ada upaya penimbunan gas.

Editor: Supriyadi

Jual Elpiji Melon di Atas HET, 2 Pangkalan di Kudus Kena SP 1

Petugas menurunkan tabung elpiji 3 kg di salah satu pangkalan di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak dua pangkalan elpiji tiga kilogram atau elpiji melon diberikan Surat Peringatan Pertama (SP1) oleh Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus. SP 1 dikeluarkan, lantaran pangakalan ketahuan membandel dengan menjual elpiji diatas Harga Eceran Tertinggi (HET)

Kabid Fasilitasi Perdagangan Promosi dan Perlindungan Konsumen Imam Prayetno mengatakan, kedua pangkalan yang diberikan SP 1 itu berasal dari dua kecamatan. Yaitu kecamatan Kota dan Kecamatan Jekulo.

“Kami tak bisa menyebutkan pangkalan mana, yang jelas dua pangkalan tersebut kedapatan menjual elpiji tiga kilogram di atas Rp 15.500,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurut dia, selama Desember ini pihaknya sudah menyisir sejumlah pangkalan untuk memeriksa kelangkaan elpiji beserta harga jualnya. Dari puluhan pangkalan yang sudah disisir, ditemukan dua yang melanggar ketentuan itu dan diberikan peringatan berupa SP 1.

SP Pertama itu, Kata Imam, merupakan peringatan pertama. Jika membandel, ia tak segan memberikan SP 2 dan SP 3 dan mencabut izin pangkalan. Hal itu dilakukan supaya masyarakat bisa menikmati elpiji bersubsidi tersebut.

“Jika masih juga menjual diatas HET, kami akan keluarkan SP 3, yang mana konsekuensinya ijin pangkalan elpiji akan dicabut. Kami sudah kordinasi dengan pihak Pertamina. Mereka pun tak keberatan,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Punya Sumber Gas Alam, Puluhan Warga Rajek Grobogan Tidak Lagi Bergantung Elpiji

Inilah alat separator di Desa Rajek yang fungsinya untuk memisahkan air dan gas alam sebelum disalurkan ke rumah warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganSejak dua bulan terakhir, puluhan warga Desa Rajek, Kecamatan Godong, Grobogan tidak lagi dipusingkan dengan persoalan kelangkaan atau mahalnya gas elpiji. Soalnya, mereka sudah memanfaatkan gas alam untuk menyalakan kompor. Dengan adanya gas alam itulah, puluhan warga tersebut sudah tidak lagi menggunakan tabung gas elpiji.

“Kompor yang dipakai masih sama. Tetapi bahan bakarnya yang beda. Dulu pakai tabung gas elpiji melon warna hijau, kalau sekarang pakai gas alam yang disalurkan lewat pipa. Jadi, sekarang bisa lebih hemat,” ungkap Sutini (50), warga setempat.

Adanya kandungan gas alam di Desa Rajek memang sudah mulai terdeteksi sejak beberapa tahun lalu. Hal ini menyusul adanya semburan air cukup tinggi ketika ada warga yang mencoba membuat sumur bor. Semburan air dari pengeboran sumur terkadang juga diselingi bau gas.

“Dugaan adanya kandungan gas kemudian diteliti oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah tahun 2013 lalu. Dari hasil penelitian, di Desa Rajek ternyata menyimpan kandungan gas alam yang luar biasa banyak,” ungkap Kepala Desa Rajek Moh Dhori, Selasa (28/11/2017).

Dari keterangan para ahli, gas alam di Desa Rajek dinamakan gas rawa. Yakni, gas alam yang terdapat di dalam tanah pada kedalaman dangkal di kisaran 30-40 meter.

Pada pertengahan tahun 2017 ini, dilakukan lagi penelitian dan praktik uji coba pemanfaatan gas alam tersebut untuk kepentingan masyarakat. Dalam uji coba ini, ada 22 warga kurang mampu yang rumahnya dialirkan gas alam.

Sebelum dialirkan, ada proses pemisahan air yang mengandung gas rawa itu melalui alat yang dinamakan separator. Alat ini berbentuk seperti tabung yang fungsinya untuk memisahkan air dan gas. Setelah dipisah, gas alam kemudian disalurkan melalui pipa menuju rumah warga sasaran.

“Hasil uji coba ini sangat menggembirakan karena aliran gas ke rumah warga tidak pernah berhenti. Dari uji coba ini, kami berencana supaya gas alam bisa dialirkan ke semua rumah warga. Hal ini sangat memungkinkan karena potensi gas alamnya sangat mencukupi dan bisa digunakan hingga puluhan tahun,” imbuh Dhori.

Editor: Supriyadi

Pangakalan Elpiji di Kudus Sering Tutup, Begini Langkah Pemkab

Petugas menurun Elpiji tiga kilogram saat operasi pasar di Kecamatan Jati, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus sering mendapatkan laporan akan seringnya pangkalan elpiji tiga kilogram di sejumlah titik tutup tanpa alasan. Laporan tersebut bahkan terlalu sering sehingga merisaukan masyarakat.

Kasi Perdagangan dalam negeri pada Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Tedi H mengatakan, hal itu sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Untuk itu, Pemkab Kudus meminta supaya pangkalan elpiji dapat nyambi berjualan.

“Pangkalan elpiji harusnya memiliki usaha lain seperti toko ataupun warung. Sehingga lebih sering buka ketimbang tutupnya,” katanya Jumat (24/11/2017).

Menurut dia, dengan lebih seringnya buka, maka masyarakat tak akan kecele saat membeli gas bersubsidi di pangkalan. Karena, sudah seharusnya pangkalan melayani masyarakat setempat, bukannya melayani partai besar seperti pengecer.

Jika tak bisa membuka toko, lanjut Tedi, pangkalan harusnya berkomitmen membukanya lebih lama. Agar, masyarakat yang hendak beli tidak melihat gerbang atau pintu gudang elpiji tiga kilogram yang terkunci.

“Ini bukanlah sebuah perintah atau kewajiban. Karena dasar hukumnya juga tak kuat. Namun, imbauan ini bersifat tegas, karena kami yang akan memantau. Jika mau membuat pangkalan, harusnya mau melayani masyarakat,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Terkena Semburan Api Gas Elpiji, Tukang Servis Kompor Gas di Pati Dilarikan ke Rumah Sakit

Tabung gas elpiji mengalami kebakaran di kawasan Pasar Trangkil, Sabtu (21/10/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tukang servis kompor gas dan regulator asal Desa Dororejo, Kecamatan Tayu, Arifin (29), dilarikan ke RSUD Soewondo, usai terkena paparan api yang muncul dari tabung gas di kawasan Pasar Trangkil, Sabtu (21/10/2017).

Sarimin, salah satu saksi mengatakan, kejadian itu terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. Saat itu, Arifin sedang melakukan demonstrasi regulator tabung gas.

Baca: Bus Peziarah Asal Pati Kecelakaan di Boyolali

Belum selesai demonstrasi, tiba-tiba tabung gas menyemburkan api. Arifin lantas mencoba untuk memutar regulator yang masih menancap pada tabung.

Namun, kobaran api justru semakin besar dan mengenai wajah dan tangan Arifin. “Kami ambil kayu dan mendorong tabung gas supaya berada di halaman pasar,” kata Sarimin.

Meski begitu, api masih berkobar sebelum para penjual berinisiatif menaburkan tanah pada tabung elpiji. “Api padam setelah ditutupi tanah,” jelasnya.

Akibat kejadian tersebut, Arifin mengalami luka bakar pada wajah dan tangan sehingga dilarikan ke RSUD Soewondo. Polisi menyimpulkan, keleb tabung gas mengalami kebocoran sehingga muncul api dari tabung gas.

Editor: Supriyadi

Dewan Sebut Kelangkaan Elpiji 3 Kg karena Ruwetnya Sistem Distribusi

Hadi Santoso, Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Permasalahan kelangkaan elpiji ukuran 3 kg di Jawa Tengah hingga kini belum selesai. Bahkan di beberapa daerah harga elpiji 3 kg melambung mencapai Rp 25 ribu karena sulit didapatnya barang bersubsidi ini di pasaran.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng Hadi Santoso menyebut, kelangkaan muncul lantaran ruwetnya sistem distribusi elpiji bersubsidi. Terlebih saat ini banyak gelombang peralihan dari listrik ke elpiji seiring naiknya tarif dasar listrik (TDL).

”Selain karena peningkatan permintaan, memang karena ruwetnya sistem distribusi. Permintaan naik karena berbondong-bondongnya beralih dari listrik ke elpiji 3 kg, misalnya pengering laundry, open roti dan UMKM,” katanya, Senin (18/9/2017).

Beberapa daerah yang sempat mengalami kelangkaan elpiji 3 kg adalah Kudus, Pati, Jepara, Kota Semarang dan Kota Salatiga. Di beberapa daerah ini juga telah dilakukan oeprasi pasar oleh dinas terkait.

Lebih lanjut, Hadi mengatakan berdasarkan data dari Dinas ESDM Provinsi Jateng sebenarnya sudah ada penambahan sekitar 7 persen dari kuota awal yang ditentukan. Atas kondisi kelangkaan tersebut, Hadi meminta pemerintah untuk menggiatkan operasi pasar, terutama di daerah yang saat ini banyak mengalami kelangkaan.

“Juga perlu ada tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang mempermainkan stok atau menimbun elpiji,” ujarnya.

Sebelumnya, PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV telah menggelar operasi pasar di sejumlah wilayah di Jateng untuk mengatasi kelangkaan elpiji 3 kg.

Operasi pasar akan dilakukan di daerah yang mengalami kelangkaaan dengan menambah 335.560 tabung elpiji bersubsidi itu. Selama periode 7 – 15 September 2017, Pertamina MOR IV menyalurkan penambahan fakultatif sebanyak 335.560 tabung.

Editor : Ali Muntoha

Pernah Beli Elpiji Tapi Tak Bisa Dipakai? Silakan Ditukarkan  

Petugas menurunkan elpiji saat Operasi Pasar di Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jumat (15/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus mempersilakan warga yang baru beli elpiji tapi tak bisa dipakai, untuk segera saja ditukar. Masyarakat bisa menukarnya ke tempat membeli  elpiji di tempat semula.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Sudiharti mengatakan, warga yang baru beli elpiji, tapi tak bisa dipakai, silakan ditukar. “Jadi kalau memang sudah dicoba dengan banyak cara namun tetap tak bisa dipasang, maka pelanggan berhak mendapatkan ganti baru dengan cara menukarnya,” kata Sudhiharti.

Pihaknya kerap menemukan kasus tersebut. Karenanya, dia mengimbau agar warga membeli elpiji di pangkalan. “Makanya kalau bisa, membeli elpiji di pangkalan. Pasokannya banyak dan bisa memilih,”ungkap dia.

Salah seorang warga Desa/Kecamatan Kaliwungu Naila, mengatakan, dia kerap membeli elpiji tapi tak bisa dipakai. Diketahui, karena elpiji tidak bisa dipasang ke regulator. “Sudah terlanjur beli dan butuh. Lagipula belum tahu apakah bisa lancar digunakan atau tidak karena sama-sama tersegel. Akhirnya, saya beli lagi,’ katanya.

Lain halnya dengan Indah, warga Kecamatan Kota. Dia mengaku pernah mengembalikan elpiji ke pangkalan, karena tak bisa. “Kalau ditukar bisa, karena memang elpijinya tak bisa digunakan. Itu sudah beberapa kali,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Harga Gas Elpiji di Pati Melambung Tinggi, Bupati Sinyalir Ada Agen Nakal

Bupati Pati Haryanto memberikan pernyataan terkait dengan kelangkaan dan melambungnya harga gas elpiji melon. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Harga gas elpiji melon ukuran 3 kilogram di Pati melambung tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Dari pantauan di lapangan, harga di tingkat pengecer dijual dari Rp 22 ribu hingga Rp 25 ribu.

Padahal harga eceran tertinggi (HET) gas elpiji 3 kg yang ditetapkan pemerintah sekitar Rp 15.500. Sontak, masyarakat kecil yang membutuhkan gas elpiji melon untuk kebutuhan sehari-hari menjerit.

Tak hanya itu, stok gas elpiji melon sangat langka. Akibatnya, masyarakat kesulitan mendapatkan gas bersubsidi tersebut. Pada saat yang sama, masyarakat mau tidak mau harus menebus dengan harga yang tinggi.

Menanggapi hal itu, Bupati Pati Haryanto mengaku sudah mendapatkan banyak keluhan dari masyarakat. Karena itu, pihaknya sudah memerintahkan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Pati untuk memanggil agen nakal.

“Kami minta Disdagperin untuk mencari penyebab kelangkaan gas elpiji yang mengakibatkan harganya melambung tinggi. Kami juga sudah meminta agar agen-agen gas Elpiji dipanggil. Sebab, disinyalir ada satu-dua agen, pangkalan atau pengecer yang nakal,” kata Haryanto, Kamis (14/9/2017).

Namun, dia tidak menampik bila kelangkaan gas elpiji 3 kg juga disebabkan banyaknya masyarakat yang membeli gas tersebut. Semestinya, kata dia, gas elpiji melon diperuntukkan masyarakat kurang mampu.

Tapi kenyataan di lapangan, sebagian besar masyarakat yang terbilang mampu masih membeli gas elpiji. Kondisi itu juga cukup disayangkan mengingat gas bersubsidi sejak awal diperuntukkan masyarakat kurang mampu.

Terkait dengan kemungkinan adanya agen gas elpiji yang nakal, pihaknya tidak segan untuk memberikan sanksi tegas. Pasalnya, gas elpiji saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Editor: Supriyadi

Elpiji 3 Kg Langka, Ratusan Warga Serbu Operasi Pasar di Kecamatan Mejobo

Warga Kecamatan Mejobo Kudus mengantre gas elpiji 3 Kg saat operasi pasar di depan Kantor Kecamatan Mejobo, Selasa (12/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan warga Kecamatan Mejobo, berjubel di kantor kecamatan, Selasa (12/9/2017).  Mereka rela berdesak-desakkan untuk mendapatkan gas elpiji tiga kilogram atau elpiji melon saat Operasi Pasar (OP) yang digelar Pemkab Kudus. 

Marsumi (55) warga Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo mengatakan, sejak sepekan lalu elpiji tiga kilogram memang sulit didapat. Untuk mendapatkan elpiji, pihaknya pun sering berburu di kecamatan-kecamatan terdekat dengan harga hingga Rp 25 ribu per tabung.

“Sudah ada sekitar satu minggu ini gas sulit didapat. Itulah kenapa operasi pasar ini langsung diserbu warga,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (12/9/2017)

Saking banyaknya warga, puluhan petugas Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus dan petugas Kecamatan Mejobo sempat kewalahan mengatur warga. Beruntung, ratusan warga masih bisa diatur untuk tetap mengantre sehingga kondisi di lapangan tetap kondusif.

Meski begitu, operasi pasar yang digelar sekitar pukul 10.00 WIB langsung ludes dalam hitungan menit. Bahkan belum sampai pukul 11.00 WIB, pasokan sudah habis. Akibatnya, masih banyak warga yang tak mendapatkan elpiji.

Imam Prayitno, Kabid Fasilitasi Perdagangan dan  Perlindungan Konsumen pada dinas Perdagangan Kudus menjelaska, operasi pasar dilakuan seiring dengan keluhan masyarakat akan langkanya elpiji.

Sasarannya adalah masyarakat tidak mampu dan mengurangi keresahan masyarakat atas kelangkaan elpiji.

”Hari ini ada dua kecamatan yang dilakukan operasi pasar, yaitu Mejobo dan Jekulo. Tiap kecamatan diberikan jatah 560 tabung gas atau satu LO,” jelasnya.

Namun, disinggung tentang jumlah pasokan yang kurang dangan masih banyaknya masyarakat yang antre saat gas habis, dia menyebut kalau jatah yang diberikan sifatnya terbatas. Sehingga tidak bisa ditambah lagi. 

“Dan lagi, berapapun jumlah tabung saat OP akan kurang lantaran tiap warga memiliki lebih dari satu tabung,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

PNS di Jepara Diimbau Tak Gunakan Elpiji Melon

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengeluarkan maklumat agar PNS tak menggunakan elpiji ukuran tiga kilogram. Surat edaran bernomor 510/4127/2017 itu ditujukan kepada kepala Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) di seluruh kabupaten dan para camat. 

Dalam badan surat disebutkan, imbauan didasarkan atas beberapa keluhan akan kelangkaan tabung elpiji kemasan melon. Di samping itu, PNS sebagai warga yang dinilai mampu masih banyak yang menggunakan gas kemasan melon itu. 

Selain itu, maklumat itu didasarkan atas Permen ESDM No 26/2009 tentang Penyediaan dan Pendistribusian LPG. Di sana tersurat, bahwa elpiji kemasan tertentu diperuntukan bagi keluarga berpenghasilan tak lebih dari Rp 1,5 juta per bulan. 

Kepala Bagian Perekonomian Setda Jepara, Adi Nugroho menyebut, surat tersebut bersifat imbauan. Namun demikian ia belum mengetahui sejauh mana keefektifan surat itu.

“Itu bersifat imbauan kepada PNS. Untuk keefektifan kita belum meneliti sampai sejauh itu. Namun harapannya berpengaruh agar PNS tak membeli LPG bersubsidi,” ucapnya, Selasa (18/7/2017). 

Dirinya mengatakan, surat tersebut hanya disebar dikalangan PNS. Sementara di agen ataupun pangkalan tidak didistrisbusikan. 

Dengan hal tersebut, ia mengatakan masih ada celah bagi PNS untuk mengonsumsi jatah bagi warga miskin. Sedangkan menurutnya, PNS digolongkan warga mampu karena berpenghasilan lebih dari Rp 1,5 juta per bulan. 

Ia menyebut, dengan surat itu mencegah PNS membeli elpiji kemasan melon. Menurut Adi, jika terus dikonsumsi warga mampu, tak ayal akan memengaruhi permintaan gas tiga kilogram.  “Adapun, untuk konsumsi elpiji bulanan di Jepara berjumlah sekitar 600 ribu tabung,” jelas Adi.

Editor : Kholistiono

Warga Serbu Pasar Murah Elpiji

Warga antusias untuk mendapatkan gas elpiji pada operasi pasar yang berlangsung di Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara, Selasa (4/7/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga serbu operasi pasar elpiji, saat pembukaan TMMD Sengkuyung II di lapangan Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara, Selasa (4/7/2017). Hal itu lantaran, harga tabung kemasan tiga kilogram melambung hingga mencapai Rp 19 ribu.

Tidak hanya itu, saat Lebaran stoknya pun agak berkurang, lantaran permintaan yang meningkat. Hal itu karena, permintaan tidak hanya datang dari warga lokal, namun berasal pula dari warga Kudus.

“Pas Lebaran susah mencarinya, harganya pun mencapai Rp 19 ribu sampai Rp 20 ribu,” kata Kosrin (60) warga Daren.

Ia mengaku saat terjadi kelangkaan stok, harga bisa melambung mencapai Rp 20 ribu. Namun jika suasana normal, harga tabung kemasan melon itu berada di kisaran Rp 18 ribu sampai Rp 19 ribu. Hal itu diakui oleh warga lain. 

“Iya, pas Lebaran memang agak susah ditemui. Harganya bisa mencapai Rp 22 ribu. Kalau normal hanya Rp 18 ribu,” Kata Khusnul (30).

Dengan adanya pasar murah tersebut, warga mengaku senang. Lantaran harga yang dipatok jauh dari harga di pasaran, yakni Rp 15.500. Namun untuk mendapatkannya, warga harus menunjukan Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli. 

Nabila, dari Agen Sumber Migas Sejahtera mengungkapkan kekurangan stok saat Lebaran karena tingginya permintaan. “Tidak hanya dari warga Jepara, warga dari Kudus pun ikut mencari kesini karena didaerah mereka langka,” tutur dia.

Namun demikian, setelah hari raya tersebut permintaan dan stok kembali normal. Adapun untuk kegiatan pasar murah tersebut disediakan lebih kurang 200 tabung elpiji kemasan tiga kilogram.  “Kami ikut kegiatan ini karena diminta untuk mengisi stand di TMMD ini,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

Kuota Elpiji 3 Kg di Jepara 8 Juta Lebih

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara memperoleh kuota tabung gas sebanyak 8.204.333 untuk tahun 2017. Menjelang Ramadan, pemkab akan memonitor kebutuhan warga.

Kabag Perekonomian Setda Jepara Adhi Nugroho menjelaskan, kuota tersebut untuk kebutuhan selama satu tahun. “Jika memang membutuhkan tambahan, maka kami akan mengusulkan,” ucapnya, Jumat (28/4/2017).

Hal itu berkaca pada tahun 2016. Konsumsi masyarakat lebih tinggi jika dibandingkan dengan kuota yang dijatah untuk Kabupaten Jepara.

Pada tahun lalu, kuota untuk Jepara berjumlah 7.750.673. Sedangkan realisasi penyerapan, mencapai 7.821.000.

Dirinya menjelaskan, konsumsi terbesar dari masyarakat berada di wilayah kota. Hal itu karena, banyaknya penduduk yang menggunakan tabung elpiji.

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya telah secara rutin melakukan pengawasan terhadap serapan elpiji tiga kilogram. Namun demikian, hingga kini belum menemukan kenaikan permintaan elpiji bersubsidi hingga menyebabkan kelangkaan.

“Tak hanya mendekati Ramadan dan Lebaran, namun monitoring elpiji 3 kilogram kami lakukan secara berkala selama ini,” ujar Adhi.

Di Jepara, kebutuhan elpiji dipasok oleh 13 agen dan 1300 pangkalan yang tersebar di seantero kabupaten. Beberapa agen terdapat di Banyuputih-Kalinyamatan, Nalumsari, Kali Pucang Welahan, Kerso-Kedung, Gotri-Kalinyamatan dan paling banyak di wilayah Jepara sebanyak 3 agen, serta Jenggotan-Kembang. 

Editor : Kholistiono

Penjualan Elpiji Bright Gas di Kudus Terus Meningkat

Salah satu perwakilan dari Pertamina, Sofyan Dhuhri berfoto di barisan Bright Gas di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu perwakilan dari Pertamina, Sofyan Dhuhri berfoto di barisan Bright Gas di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pengguna tabung gas elpiji jenis Bright Gas 5,5 kilogram (kg) semakin banyak. Dari awal mula peluncuran, pengguna di Kudus semakin meningkat. Bahkan Kudus termasuk kabupaten dengan penyerapan Bright Gas yang cukup tinggi.

Communication and Relations Pertamina MOR IV, Didi Andrian Indra Kusuma mengatakan, pada awal distribusi, wilayah Kudus hanya mampu  sebanyak 260 tabung per bulan. Namun saat ini, penyaluran elpiji nonsubsidi ini telah mencapai 1.500 tabung per bulan.

”Penyaluran bisa meningkat karena kesadaran masyarakat menggunakan elpiji nonsubsidi semakin meningkat. Harga yang terjangkau juga menjadi penyebab masyarakat menggunakannya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Pihaknya juga menyiapkan program trade in, masyarakat yang memiliki dua tabung elpiji 3 kilogram bisa menukar dengan elpiji tabung 5,5 kilogram dengan menambahkan biaya konversi Rp 38.000. Masyarakat juga dapat memperoleh elpiji tabung sedang ini di semua pangkalan elpiji yang berada di Kudus.

Menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir untuk memperoleh isu ulang elpiji ini karena tersedia di pangkalan.. Bahkan keberadaan elpiji di bawah 12 kilogram juga membuatnya praktis dan mudah untuk dibawa. “Masyarakat sudah mulai sadar, jika gas melon lebih mudah habis, namun ini lebih awet dengan jumlah isi tabung jauh lebih banyak tentunya,” inbuhnya.

Sementara, Domestic Gas Region Manager IV, Pierre J Wauran menyampaikan, Bright Gas yang diluncurkan pada  April lalu banyak diminati karena lebih aman, yaitu dilengkapi katup ganda. Tabung tersebut juga dilengkapi segel resmi Pertamina yang dilengkapi dengan hologram optical color switch sehingga tidak bisa dipalsukan. ”Masyarakat yang sadar dengan keamanan produk serta kualitas, akan lebih memilih elpiji 5,5 kilogram. Jadi keamanan juga ditingkatkan selain isi yang lebih banyak pula,” ungkap dia.

Saat ini sudah ada empat agen di Kudus yang semula hanya menyalurkan elpiji 12 kilogram, kini juga menyalurkan elpiji 5,5 kilogram. Ini karena respons masyarakat semakin bagus. “Artinya memang peminat masyarakat sudah meningkat untuk menggunakan. Permintaan juga lumayan banyak juga,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

PNS di Rembang Wajib Pakai Bright Gas Mulai Januari 2017

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Para pegawai negeri sipil (PNS) di Rembang diwajibkan untuk memakai bright gas elpiji ukuran 5,5 kilogram per 1 Januari 2017 mendatang. Hal tersebut diutarakan oleh Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto saat memberikan arahan pada acara rapat koordinasi penataan pangkalan elpiji 3 Kg di Lantai IV kantor Bupati Rembang, Rabu (28/12/2016).

Para PNS diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas agar beralih dari penggunaan elpiji bersubsidi kemasan tiga kilogram ke bright gas, nonsubsidi. Selain itu, nantinya elpiji 3 kg juga bisa terfokus oleh masyarakat biasa.

“Masyarakat perlu mengenal terlebih dahulu bright gas agar tahu kelebihan dan kekurangan dari elpiji keluaran baru Pertamina ini. Untuk itu pemakaian itu dimulai dari PNS dulu, sehingga muncul rasa ingin tahu masyarakat untuk mencoba,” ujar Bayu.

Menurutnya, jika masyarakat sudah tertarik, baru akan dibuat imbauan melalui surat edaran ke masing-masing kecamatan. Sementara itu, untuk elpiji subsidi hanya diperuntukkan bagi warga kurang mampu.

Dia melanjutkan, masyarakat yang mempunyai ekonomi menengah ke atas mestinya tidak pakai elpiji subsidi yang tiga kilogram, supaya tidak terjadi kelangkaan. Oleh sebab itu, Pertamina menghadirkan bright gas untuk masyarakat yang ekonomi golongan menengah ke atas, seperti halnya PNS tersebut.

Pemda Rembang juga akan berencana menambah agen elpiji. Sehingga nantinya masing-masing satu di setiap kecamatan dan pangkalan di tiap desa.

Sales Executive Pertamina Gas Domestik Region IV Semarang Agung Nurhananto Putro mengatakan, konsumsi elpiji subsidi tiga kilogram di Kabupaten Rembang tumbuh 1,3 persen pada 2016 ini.

“Dibandingkan dengan tahun2015, peningkatan konsumsi elpiji subsidi tiga kilogram di Rembang mencapai 15 persen. Diperkirakan hingga Desember nanti, konsumsinya tidak over target 13.509 matrik ton,” katanya.

Editor : Kholistiono

Darurat ! Distribusi BBM dan Gas Elpiji ke Karimunjawa Bakal Gunakan Kapal Kayu

Kapal kayu pengangkut barang. Nantinya, BBM dan gas elpiji akan diangkut ke Karimunjawa menggunakan kapal kayu (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Kapal kayu pengangkut barang. Nantinya, BBM dan gas elpiji akan diangkut ke Karimunjawa menggunakan kapal kayu (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji di Karimunjawa sudah ‘menyiksa’ sedikitnya 10 ribu warga setempat, setelah adanya pelarangan distribusi BBM dan gas elpiji menggunakan kapal kayu.

Karena dinilai kondisi darurat, direncanakan dalam waktu dekat wilayah terluar Kabupaten Jepara tersebut akan dipasok BBM dan gas elpiji menggunakan kapal kayu lagi.

Hal itu bakal dilakukan, lantaran sejauh ini solusi yang sebelumnya diwacanakan Pemkab Jepara yakni pengangkutan menggunakan KMP Siginjai belum terlaksana. Hal itu dikatakan Camat Karimunjawa M Tahsinul Khuluq.

Menurut Tahsin, BBM dan gas elpiji akan kembali diangkut menggunakan kapal kayu, seperti sebelumnya. Satu atau dua hari kedepan akan ada lagi pengiriman BBM ke Karimunjawa dengan menggunakan kapal kayu.

“Kemungkinan sama dengan yang dilakuakn pada 12 April lalu.Karena kondisi darurat, pengiriman BBM akan menggunakan kapal kayu lagi,” ujar Tahsin kepada MuriaNewsCom, Jumat (22/4/2016).

Selain BBM, kata Taksin, pengiriman gas elpiji juga dilakukan. Pengiriman dari Semarang juga dilakukan dengan menggunakan kapal kayu. Hanya saja tidak bercampur dengan BBM. Hari ini, sebanyak 1.500 tabung gas elpigi ukuran 3 kilogram berhasil didaratkan di Karimunjawa. Sehingga, untuk sementara kebutuhan gas elpiji sudah bisa dipenuhi.

“Dalam hal ini memang demi terpenuhinya kebutuhan masyarakat Karimunjawa. BBM dan gas elpiji merupakan kebutuhan yang mendesak,” katanya.

Dia menambahkan, pihaknya serta instansi lainnya yang mengurusi pelayaran diminta mengizinkan kapal kayu untuk mengakut BBM. Sebab saat ini kondisinya darurat. Selain itu, belum ada solusi lain untuk mengangkut BBM.

Editor : Kholistiono

Pengelola Restoran Banyak yang Tak Tahu Ada Larangan Penggunaan Gas Melon

Sidak yang dilakukan Dinas ESDM Blora bagi pelaku usaha yang menggunakan elpiji 3 kg. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Sidak yang dilakukan Dinas ESDM Blora bagi pelaku usaha yang menggunakan elpiji 3 kg. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Adanya larangan penggunaan gas elpiji bersibsidi untuk dipergunakan pelaku usaha restoran atau rumah makan dengan modal di atas Rp 50 juta dan omzet di atas Rp 300 juta per tahun, masih banyak belum diketahui pelaku usaha.

Sugeng, Pengelola Rumah Makan Petok-petok yang terletak di Jalan Gunung Lawu Blora mengungkapkan, jika pihaknya tidak mengetahui adanya larangan penggunaan gas elpiji 3 kilogram.
Pihaknya mengaku siap untuk beralih ke elpiji non subsidi.”Kami berterima kasih atas pembinaan yang dilakukan Dinas ESDM. Sebelumnya, kami memang tidak tahu,” ujar Sugeng.

Sementara itu, pihak Dinas ESDM Blora mengatakan, akan melakukan pembinaan bertahap terhadap pelaku usaha yang telah terbukti menggunakan elpiji 3 kg. Pihaknya juga akan menggandeng dinas terkait, yakni Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Blora untuk melakukan penindakan bagi pelaku usaha. “Dengan pembinaan, harapannya pelaku usaha segera berganti ke elpiji non subsidi,” katanya.

Editor : Kholistiono 

Restoran di Blora Ditemukan Pakai Elpiji Melon

Petugas dari dinas ESDM menemukan elpiji 3 kg di restoran (MuraiNewsCom/Rifqi Gozali)

Petugas dari dinas ESDM menemukan elpiji 3 kg di restoran (MuraiNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Dinas Energi dan sumber Daya Mineral (ESDM) Blora menemukan restoran yang menggunakan elpiji 3 kg untuk keperluan usaha saat melakukan sidak, Kamis (21/01/2016).

Kepala Bidang Pertambangan dan Migas Dinas ESDM Blora Teguh Wiyono melalui Kepala Seksi Pertambangan dan Migas Djati Walujastono mengatakan pihaknya menemukan pelaku usaha restoran yang menggunakan elpiji 3 kg. Padahal mereka dengan modal di atas Rp 50 juta dan keuntungan lebih dari Rp 300 juta selama satu tahun. “Kami menemukannya di salah satu restoran besar di Blora,” jelasnya.

Djati juga menambahkan, pihaknya akan terus melakukan sidak ke beberapa hotel besar dan restoran. Pihaknya juga akan mengusahakan untuk melakukan sidak secara menyeluruh dalam waktu yang tidak ditentukan di Blora, guna memberika teguran kepada pemilik restoran dan hotel yang menggunakan gas bersubsidi secara tidak resmi. “Terutama Cepu, di sana banyak hotel dan restoran besar,” katanya.

Sidak merupakan bentuk pengawasan dan pengendalian pendistribusian dan tata niaga bahan bakar minyak dan gas dari agen dan pangkalan sampai konsumen akhir. Juga sebagai bentuk pantauan dan invertarisasi penyediaan, penyaluran dan kualitas harga bahan bakar minyak dan gas serta melakukan analisa. “Ini usaha preventif dalam rangka meminimalkan terjadinya kelangkaan elpiji 3 kg” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Yes! Pemkab Pati Segera Realisasikan Penambahan Kuota Elpiji 12 Persen

Seorang pekerja tengah memasok tabung elpiji bersubsidi 3 kg di salah satu pangkalan di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang pekerja tengah memasok tabung elpiji bersubsidi 3 kg di salah satu pangkalan di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Memasuki awal tahun, Kepala Bagian Perekonomian Pemkab Pati Ahmad Kurnia memastikan segera merealisasikan penambahan kuota elpiji bersubsidi 3 kg sebanyak 12 persen dari tahun sebelumnya. Hal itu diharapkan bisa memenuhi kebutuhan elpiji di seluruh wilayah Kabupaten Pati.

Pasalnya, selama ini semua warga menggunakan elpiji bersubsidi 3 kg yang semestinya hanya digunakan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Hal itulah yang menyebabkan kuota elpiji di Pati harus diajukan penambahan pada 2016.

”Sebetulnya kuota pada 2015 yang berada di angka 8,3 juta tabung elpiji sudah cukup memenuhi kalau semuanya diperuntukkan untuk MBR. Namun, fakta di lapangan berbeda. Semua warga yang klasifikasinya mampu juga banyak menggunakan elpiji bersubsidi,” kata Kurnia saat dihubungi MuriaNewsCom, Kamis (7/1/2016).

Kendati begitu, ia tetap mengusulkan penambahan kuota elpiji 3 kg untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. Lagipula, masih ada sekitar empat desa di Kabupaten Pati yang belum memiliki pangkalan elpiji.

”Ada sekitar empat desa di Pati yang belum memiliki pangkalan elpiji bersubsidi. Kalau usulan dari kami disetujui, maka empat desa itu akan dibangun pangkalan elpiji baru,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Kades Bringin : Kami Berharap Kepastian Volume Gas Alam

Kades Bringin Krepsi Nugroho (tengah) saat melihat lokasi gas alam di desanya (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Bringin Krepsi Nugroho (tengah) saat melihat lokasi gas alam di desanya (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Meski gembira gas alam yang berasal dari proyek Pamsimas bisa menggantikan elpiji, tetapi warga Desa Bringin masih memiliki satu pertanyaan besar yang butuh jawaban dari dinas terkait. Yakni, mengenai seberapa banyak volume gas alam yang keluar dari bekas pengeboran proyek Pamsimas tahun 2014 itu.

“Adanya gas alam itu memang bisa menghemat biaya, karena warga tidak perlu beli elpiji. Saya sendiri juga sudah menggunakan gas alam untuk menyalakan kompor di rumah,” ungkap Kades Bringin Krepsi Nugroho.

Soal kandungan gas alam itu memang sempat jadi kekhawatiran. Soalnya, warga khawatir jika kandungannya ternyata sedikit, maka tidak bisa memanfaatkan gas alam untuk jangka lama. Oleh sebab itu, warga berharap ada penelitian soal kandungan gas alam tersebut.

“Perihal adanya gas alamini, sudah saya sampaikan pada Pemkab Grobogan dan Dinas Pertambangan Provinsi Jateng. Mudah-mudahan secepatnya ada kepastian,” kata pria yang akrab disapa Mas Nug itu.

Menurutnya, jika kandungan gas alam itu melimpah, maka ke depan pihak desa bisa mendirikan BUMDes. Adapun bidang usahanya adalah pengelolaan gas untuk disalurkan di semua rumah warga Desa Bringin. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Gara-gara Gas Alam, Warga Bringin Grobogan Ini Mendadak Jadi “Profesor”

Mashuri menunjukkan bagian kompor yang perlu dimodifikasi agar bisa lancar menggunakan gas alam (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Mashuri menunjukkan bagian kompor yang perlu dimodifikasi agar bisa lancar menggunakan gas alam (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN–Meski sudah tahu ada sumber gas alam dari bekas pengeboran proyek Pamsimas, namun hingga hampir setahun tidak ada warga Desa Bringin, Kecamatan Godong yang berani memanfaatkan untuk keperluan rumah tangga. Hingga akhirnya muncul ide dari Binambang, warga setempat untuk menggunakan gas alam tersebut.

Pada awalnya, Binambang memanfaatkan drum bekas untuk menampung gas alam yang keluar dari dalam tanah. Kemudian, dia memanfaatkan paralon bekas sepanjang tiga meter untuk mengambil gas dari drum. Selanjutnya diujung paralon dibuatkan tungku yang disusun dari batu bata.

Setelah disulut dengan korek api, keluar nyala api berwarna biru terang. Setelah itu dia mengambil panci berisi air untuk dimasak. Hanya dalam beberapa menit, air dalam panci sudah mendidih.

“Akhirnya, saya bikin kopi sama beberapa warga yang kebetulan ikut nimbrung disini. Setelah itu, saya punya gagasan untuk memanfaatkan gas alam ini sebagai pengganti elpiji,” kata Binambang yang sekarang dijuluki profesor gas oleh warga setempat itu.

Beberapa hari kemudian, Binambang yang bekerja jadi wiraswasta itu membawa kompor gas miliknya untuk dipakai eksperimen. Kabel kompor itu lalu disambungkan dengan paralon gas alam dan dipastikan tidak ada kebocoran. Namun, ketika dinyalakan tidak ada api yang keluar dari kompor gas. Berulang kali dicoba hasilnya tetap sama.

Meski demikian, kegagalan itu tidak membuatnya putus asa. Setelah dipelajari lagi, ternyata sumber kegagalan akhirnya berhasil ditemukan.Dimana, kompor gas itu ternyata harus dimodifikasi dulu beberapa bagian spare partnya. Khususnya dibagian spuyer tempat keluar gas harus diperbesar lubangnya antara 3 hingga 6 mm. Setelah lubangnya diperbesar, ketika tombol pemantik diputar sudah bisa keluar gas tetapi belum bisa muncul nyala api. Seperti yang lazim terjadi ketika memutar pemantik kompor gas menggunakan elpiji.

“Ternyata untuk mengeluarkan api itu harus pakai korek atau alat khusus pemantik api yang harganya sekitar Rp 25 ribu. Untuk eksperimen ini ada sekitar lima kompor bekas yang dipakai,” sambungnya.

Setelah eksperimennya berhasil, Binambang sendiri belum menggunakan gas alam itu di rumahnya. Sebab, jarak rumahnya dengan lokasi sumber gas cukup jauh. Sehingga dia harus mengeluarkan banyak biaya buat membeli banyak paralon untuk menyalurkan gas alam.

“Yang pertama memanfaatkan adalah warga yang dekat dengan sumber gas. Saya baru sekitar dua minggu menyalurkan gas alam untuk menggantikan elpiji,” imbuh pria berkumis tebal itu. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Gas Alam di Bringin Ternyata Muncul dari Pengeboran Proyek Pamsimas

Warga sedang berada di pusat munculnya gas alam yang kini dimanfaatkan warga setempat (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga sedang berada di pusat munculnya gas alam yang kini dimanfaatkan warga setempat (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Munculnya gas alam di Desa Bringin, Kecamatan Godong ternyata terjadi secara kebetulan. Tepatnya, saat ada pengeboran sumber air di desa tersebut, yakni ketika ada proyek Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) bulan September tahun 2014. Saat itu, lokasi yang dipilih berada pada lahan bondo desa yang ada di depan rumah Suwarjo.

Ketika pengeboran mencapai kedalaman sekitar 100 meter, tiba-tiba air dari dalam tanah menyembur keluar melalui pipa. Tinggi semburan air saat itu mencapai 15 meter selama hampir 30 menit. Bersamaan dengan air yang menyembur, keluar asap tipis tetapi tidak menimbulkan bau menyengat.

”Asap yang keluar itu ternyata adalah gas alam dari dalam tanah. Kalau disulut, gas itu bisa terbakar dan menimbulkan api cukup besar tetapi mudah dipadamkan lagi,” kata Binambang, warga setempat.

Lantaran muncul gas, pengeboran disitu akhirnya dihentikan. Meski demikian, pipa yang sudah terpasang di dalam tanah tetap dibiarkan disitu karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan jika diangkat naik.

Pihak kontraktor Pamsimas kemudian mencari lahan lainnya sekitar 300 meter di timur lokasi pertama. Dalam pengeboran kedua, tidak muncul gas alam lagi seperti di lokasi sebelumnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Harga Elpiji Naik? No Problem, Warga Bringin Grobogan Punya Solusi Jitu

Mashuri (kiri) dan Binambang, dua warga Bringin yang pelopor penggunaan gas alam mencoba menyalakan kompor (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Mashuri (kiri) dan Binambang, dua warga Bringin yang pelopor penggunaan gas alam mencoba menyalakan kompor (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Inovasi yang dilakukan warga Dusun Deresan, Desa Bringin, Kecamatan Godong tampaknya perlu mendapat apresiasi. Karena, puluhan warga setempat berhasil memanfaatkan gas alam yang keluar dari dalam tanah sebagai bahan bakar pengganti elpiji. Sehari-hari, gas alam tersebut digunakan warga untuk memasak.

”Penggunaan gas alam untuk memasak ini belum lama. Kira-kira baru sekitar sebulan lebih sedikit,” kata Binambang, warga setempat yang menjadi pelopor penggunaan gas alam tersebut.

Menurutnya, pada mulanya hanya beberapa orang saja yang memanfaatkan gas alam yang keluar dari bekas tanah yang dibor tersebut. Sebab, saat itu sebagian besar warga masih takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dari penggunaan gas alam tersebut. Setelah uji coba berhasil, satu persatu warga mulai berani memanfaatkan gas untuk bahan bakar kompor.

”Saya adalah orang pertama yang memanfaatkan gas ini untuk masak. Awalnya, saya sempat agak takut tetapi lama-lama jadi terbiasa. Saat ini, warga yang menggunakan gas alam ini sudah 20 orang,” ujar Mashuri, warga yang tinggal tidak jauh dari sumber gas alam.

Dia mengaku menghabiskan dana sekitar Rp 800 ribu untuk bisa memanfaatkan gas alam tersebut. Dimana, uang sebanyak itu sebagian besar digunakan untuk beli pipa pralon yang dipasang dari sumber gas hingga ke rumahnya. Sebagian lagi dibelikan kompor gas yang sudah dimodifikasi, sehingga bisa digunakan dengan gas alam tersebut.

”Dengan adanya gas alam ini, saya tiap hari kalau mandi selalu pakai air hangat. Bahkan, air minum untuk sapi juga saya kasih air mateng. Soalnya, saya tidak perlu repot lagi beli elpiji seperti sebelumnya,” cetus Mashuri. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Rata-rata Epliji Melon Dijual Lebih dari Rp 20 Ribu

Anggota Komisi B DPRB Jateng, RM. Yudhi Sancoyo saat menggelar reses di Dukuh Medang, Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora Kota. (MuriaNewsCom/Priyo)

Anggota Komisi B DPRB Jateng, RM. Yudhi Sancoyo saat menggelar reses di Dukuh Medang, Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora Kota. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Saat ini HET elpiji kemasan tiga kilogram di Kabupaten Blora ditetapkan sebesar Rp 18 ribu. Namun, RM Yudhi Sancoyo Komisi B DPRD Jateng mengungkapkan, berdasarkan data yang diterima dari sejumlah wilayah, harga di tingkat konsumen jauh di atas harga tersebut. Di antaranya di Desa Plantungan, Kecamatan Blora Kota, per tabung dijual Rp 23 ribu.

Sedangkan di Desa Sendangharjo Rp 20 ribu per tabung. Sehingga data terkait harga gas elpiji tiga kilogram yang diperoleh dari sejumlah daerah, termasuk Blora, akan disampaikan ke gubernur Ganjar Pranowo. Diharapkan, kondisi tersebut mendapat perhatian dari gubernur.

”Kami minta gubernur segera mengambil sikap. Setidaknya memberikan teguran. Sebab, pengawasan terhadap tata kelola dan distribusi di daerah masih belum maksimal,” terangnya. (PRIYO/TITIS W)