Pastikan Stok Aman, Polsek Lasem Pantau Distribusi Gas Elpiji Bersubsidi 

MuriaNewsCom, Rembang – Polsek Lasem kembali memantau distribusi gas elpiji 3 kg di sejumlah titik. Hal itu dilakukan untuk memastikan stok aman, sekaligus mengantisipasi penyimpangan yang dilakukan para agen ataupun distributor.

Kapolsek Lasem AKP Didik Dwi Susanto menyebutkan, sedikitnya ada tiga pangkalan yang didatangi petugas. Ketiga pangkalan tersebut di antaranya pangkalan di Desa Gedongmulyo, pangkalan Desa Sumbergirang, dan pangkalan di Desa Jolotundo.

”Pengecekan yang dilakukan meliputi berapa jumlah pengiriman dan harga eceran tertinggi (HET). Kami tidak mau ada pedagang yang bermain curang,” katanya seperti dikutip dari laman resmi Humas Polres Rembang.

Dari pengecekan tersebut, lanjutnya, hasilnya bervariasi. Itu lantaran ada pangkalan yang menerima jatah 400 – 600 an tabung per pekan. Begitu pula soal harga, untuk elpiji 3 Kg ada yang menjual Rp 16.000 hingga Rp 18.500. Sejauh pengamatannya, belum muncul gejolak, terkait masalah elpiji bersubsidi.

Karena gas tersebut hak dari keluarga kurang mampu, pihaknya menghimbau kepada pemilik pangkalan, supaya elpiji 3 Kg dijual tepat sasaran. Tujuannya supaya tidak ada keluhan dari masyarakat .

”Tiap kita datang ke pangkalan, yang dicek stok sama HET nya. Harga tertinggi memang beda – beda. Sejauh pantauan kami masih dalam batas kewajaran. Belum muncul antrean panjang. Pantauan ini merupakan bentuk pengawasan atas perintah pimpinan,” terang AKP Didik.

Selain mengecek stok gas elpiji 3 kg, Kapolsek juga meminta kepada keluarga yang mampu agar tidak membeli gas elpiji 3 Kg. Saat ini sudah ada alternatif lain, seperti Bright Gas isi 5,5 kg dan isi 12 Kg yang termasuk non subsidi.

”Yang subsidi sebaiknya untuk masyarakat yang kurang mampu. Saat ini sudah ada Bright Gas yang harganya juga ekonomis,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

Tim Satgas Pangan Polres Grobogan Sidak Penggunaan Elpiji 3 Kg di Rumah Makan

MuriaNewsCom, GroboganTim Satgas Pangan Polres Grobogan melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap penggunaan gas elpiji kemasan 3 kg. Sasaran sidak adalah seluruh rumah makan yang tersebar di wilayah Kabupaten Grobogan.

Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan supaya penggunaan gas melon agar tepat sasaran. Yakni, warga kurang mampu dan usaha mikro.

”Selama beberapa hari ini, kita akan melakukan sidak ke rumah makan. Hal ini kita lakukan untuk memastikan agar pemakaian gas elpiji 3 kg tepat sasaran,” kata Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano, Kamis (4/1/2018).

Dalam sidak itu diketahui, sebagian besar rumah makan menggunakan gas elpiji non subsidi. Meski demikian, ada beberapa rumah makan yang kedapatan masih menggunakan beberapa tabung elpiji kemasan 3 kg, disamping gas non subsidi.

Terkait temuan ini, tim Satgas selanjutnya memberikan pembinaan pada pemilik rumah makan. Tim juga meminta agar pemilik rumah makan membuat surat pernyataan tidak akan menggunakan gas elpiji 3 kg tersebut.

”Pemilik rumah makan yang masih pakai gas melon kita kasih pengertian dan pembinaan. Kedepan mereka kita harapkan tidak pakai gas melon lagi,” imbuh Kasat Reskrim AKP Suwasana.

Selain rumah makan, sidak juga dilakukan pada agen elpiji. Hal ini dilakukan untuk melihat ketersediaan stok dan memastikan tidak ada upaya penimbunan gas.

Editor: Supriyadi

Baru Terpakai 81,86 Persen, Pasokan Elpiji 3 Kg di Kudus Aman Hingga Akhir Tahun

Seorang petugas memeriksa tabung elpiji tiga kilogram saat menurunkannya di pangkalan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus menjamin kebutuhan elpiji jenis tiga kolagram di Kota Kretek masih tercukupi. Kepastian tersebut, lantaran penggunaan elpiji hingga Oktober kemarin, baru mencapai 81,86 persen. Praktis pasokan elpiji masih cukup digunakan sampai akhir tahun.

Tedi H, Kasi Perdagangan dalam Negeri pada Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, mengatakan, hingga akhir Oktober jatah elpiji tabung melon masih sangat banyak. Dari 7.659.666 tabung, baru 81,86 persen saja yang digunakan.

“Artinya masih sangat cukup. Jadi tidak akan ada kelangkaan elpiji untuk wilayah Kudus. Masyarakat tak usah panik,” katanya Jumat (24/11/2017).

Dia menjelaskan, kebutuhan elpiji di Kudus tiap bulan sekitar 610 ribu tabung saja. Tercatat, di bulan Juli lalu kebutuhan masyarakat mencapai 618 ribuan tabung, Agustus 681 ribuan tabung, September 617 ribuan tabung, dan Oktober 624 ribuan tabung.

Menurut dia, selain jatah elpiji yang masih berlimpah. Beberapa waktu yang lalu, Kudus juga membuka agen baru elpiji tiga kilogram. Artinya, agen anyar tersebut juga pasti berproduksi dan menyetorkan gas ke sejumlah pangkalan.

“Jadi otomatis jumlahnya akan bertambah dengan adanya penambahan agen baru itu. Sehingga kebutuhan akan sangat tercukupi, meskipun ada lonjakan kebutuhan selama Desember nanti,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Warga Jati Kaget Harga Elpiji 3 Kg saat Operasi Pasar Hanya Rp 15,500

Petugas menurun Elpiji tiga kilogram saat operasi pasar di Kecamatan Jati , Jumat (15/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan Warga di Kecamatan Jati kaget dengan harga elpiji tiga kilogram (Kg) saat kegiatan Operasi Pasar (OP) di halaman Kantor Kecamatan Jati, Jumat (15/9/2017). Itu lantaran harga elpiji jauh lebih murah ketimbang hari-hari biasa. 

Ronjikun, warga Getas Pejaten RT  7 RW 4, Kecamatan Jati, misalnya. Pria berusia 51 tahun itu biasa membeli elpiji tiga kg seharga Rp 20 ribu. Itupun, harus menunggu pada hari-hari tertentu lantaran jumlahnya sedikit. Sementara, harga saat operasi pasar kali ini hanya Rp 15.500.

”Saya berharap kegiatan operasi pasar dapat berlangsung secara rutin. Karena, hanya dengan operasi ini, kami dapat membeli gas dengan harga murah,” katanya kepada MuriaNewsCom saat operasi pasar di Kecamatan Jati.

Baca Juga: Keributan Warnai Operasi Pasar Gas Elpiji 3 Kg di Jati Kudus

Menurut dia, harga Rp 20 ribu per tabung di hari-hari biasa sudah merata. Dengan harga tersebut, ia pun harus mengantre karena banyaknya permintaan.

Hanya saja, selama ini pihaknya tak tahu kalau harga di pangkalan yang ditunjuk Pertamina ataupun Pemkab harganya hanya Rp 15 ribuan.

”Ya malah baru tahu sekarang ini. Biasanya harga per tabung Rp 20 ribu. Karena sudah umum, kami anggap itu harga dari pemerintah,” ungkapnya.

Meski begitu, Ronjikun mengaku tak mempersoalkan harga Rp 20 ribu per tabung. Ia bahkan memaklumi adanya selisih harga di kalangan pengecer. Ia berdalih, para pengecer butuh waktu dan tenaga untuk mendapatkan elpiji.

”Kalau selisih harga tak masalah. Aggap aja itu keuntungan pengecer. Yang terpenting, gas elpijinya ada dan tidak langka,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

Elpiji 3 Kg Sering Hilang di Pasaran, Ini yang Diinginkan Gubernur Ganjar

Pekerja tengah menata tabung elp0iji 3 kg sebelum didistribusikan ke pengecer. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Kelangkaan elpiji bersubsidi 3 kg di sejumlah daerah di Jawa Tengah, menarik perhatian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ia berharap Pertamina mengubah sistem distribusi, sehingga tak ada permainan atau salah sasaran.

Ganjar meminta agar distribusi gas elpiji tiga kilogram atau biasa disebut gas melon, dilakukan secara tertutup. Dengan sistem ini maka bisa menutup adanya penyalahgunaan gas bersubsidi tersebut.

“Banyak keluhan yang masuk mengenai elpiji. Saya konfirmasi ke Pertamina, katanya justru pasokan gas melon sudah melebihi empat persen dari pasokan biasanya,” katanya.

Menurut dia, jika pasokan sudah ditambah, tapi tetap ada kelangkaan gas, dia menduga ada penyimpangan dalam distribusi gas melon. Apalagi penjualan gas bersubsidi yang semestinya khusus untuk warga miskin itu dilakukan secara terbuka, sehingga rentan terjadi penyimpangan.

Baca : Harga Gas Elpiji di Pati Melambung Tinggi, Bupati Sinyalir Ada Agen Nakal

Untuk mengatasi kelangkaan gas melon, dalam jangka pendek ini gubernur meminta agar dilakukan operasi pasar.

”Untuk jangka pendek, saya minta dilakukan operasi pasar. Dan itu sudah. Kenyataanya, melebihi empat persen dari target yang sudah dialokasikan,” ujarnya.

Untuk solusi jangka panjang, politisi PDI Perjuangan ini menyarankan, agar penjualan gas melon dilakukan secara tertutup, seperti distribusi pupuk bersubsidi.

Masyarakat miskin yang akan membeli, mesti dilengkapi identitas yang membuktikan dia memang benar-benar warga tidak mampu. Tempat membeli gas bersubsidinya pun harus dikhususkan. Jika hal itu direalisasikan, dia optimistis tidak akan lagi terjadi kelangkaaan gas elpiji tiga kilogram.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Elpiji Tembus Rp 25 Ribu, Warga Mejobo Beralih ke Kayu Bakar

Pemkab Jepara Gelar Operasi Pasar Atasi Kelangkaan Elpiji

Operasi Pasar yang dilakukan guna mengatasi kelangkaan elpiji beberapa saat lalu, di Desa Daren, Kecamatan Nalumsari. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemkab Jepara melakukan operasi pasar guna mengatasi kelangkaan gas elpiji kemasan tiga kilogram (melon). Total ada 2.600 tabung yang akan didistribusikan ke beberapa kecamatan yang mengalami ketersendatan pasokan tabung melon. 

Kabag Perekonomian Setda Jepara Adi Nugroho mengungkapkan, 2.600 tabung yang didistribusikan melalui operasi pasar merupakan bagian dari 7.280 tabung melon yang diberi oleh Pertamina. Adapun 4.680 sisanya akan didistribusikan melalui agen-agen elpiji. 

Operasi pasar telah dilakukan sejak Senin (11/9/2017) yakni, Desa Jambu-Mlonggo, Desa Troso-Pecangaan, Kelurahan Kedungcino-Jepara. Adapun hari ini operasi pasar dilakukan di Damarwulan-Keling dan Keesokan harinya di Desa Mayong Lor-Mayong. Setiap kali operasi pasar, dijatah 520 tabung. 

Menurutnya, kondisi kelangkaan elpiji di Jepara selain banyaknya konsumsi karena khajatan, juga karena kondisi psikologis masyarakat. “Warga banyak melakukan aksi borong karena pangkalan belum menerima setoran tabung dari agen. Oleh karenanya menjadikan kelangkaan dan naiknya harga,” ujarnya, Kamis (14/9/2017).

Ia menyatakan, Jepara telah mendapatkan tambahan gelontoran tabung elpiji tiga kilogram sebanyak 20.160 buah. Dari jumlah itu sebanyak 12.880 diturunkan langsung ke agen, sedangkan 7.280 sebagian di droping melalui mekanisme operasi pasar. 

Per bulan, rerata kebutuhan elpiji di Jepara sekitar 600 ribu lebih. Sedangkan pada bulan bulan Agustus meningkat menjadi 700 ribu.

“Jepara dapat jatah 8.204.333 di tahun 2017. Hingga saat ini masih ada sisa jatah sebanyak 2.706.000 hingga bulan Desember. Masih cukup banyak, jadi saya harap warga tidak panik. Kalau ada kelangkaan Pertamina akan menambahkan kuota,” terangnya.  

Editor: Supriyadi

Elpiji Tembus Rp 25 Ribu, Warga Mejobo Beralih ke Kayu Bakar

Warga Kecamatan Mejobo Kudus mengantre gas elpiji 3 Kg saat operasi pasar di depan Kantor Kecamatan Mejobo, Selasa (12/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Langkanya elpiji jenis tiga kilogram, membuat sejumlah masyarakat beralih kembali ke kayu bakar. Terlebih, elpiji yang langka tersebut, harganya juga melejit hingga Rp 25 ribu per tabungnya.

Marsumi (55) warga Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo mengungkapkan kelangkaan elpiji yang genap sepekan membuat warga kesulitan. Untuk itu, banyak warga beralih ke kayu bakar yang lebih mudah ditemukan.

“Kalau tidak ada gas elpiji, ya menggunakan kayu bakar lagi. Biasanya kami membeli di sekitar rumah atau mengambil dari kebun,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (12/9/2017).

Baca Juga: Elpiji 3 Kg Langka, Ratusan Warga Serbu Operasi Pasar di Kecamatan Mejobo

Menurut dia, harga Elpiji saat ini sangatlah mahal. Bahkan untuk tiap tabung harus membeli Rp 25 ribu. Itupun, harus berebut dengan tetangganya lantaran jumlahnya yang terbatas.

Siti Muyasaroh (28) warga Desa Bulung Cangkring, Mejobo juga mengatakan hal yang sama.  Harga elpiji di desanya bervariatif, kisaran Rp 23 hingga Rp 25 ribu. Saat langka semacam ini, pihaknya harus mendapat gas lantaran sudah ketergantungan. 

“Kadang harus pergi ke luar desa sampai luar kecamatan untuk dapat gas. Tapi ya sering dapat meski harganya tinggi,” imbuhnya.

Imam Prayitno, Kabid Fasilitasi Perdagangan dan  perlindungan konsumen pada dinas Perdagangan Kudus mengatakan, ke depan akan dilakukan kegiatan kembali Operasi Pasar.  Namun, modelnya tidak seperti sekarang tapi langsung ke pangkalan – pangakalan.

“Nanti akan dievaluasi lagi, wilayah mana yang sangat membutuhkan. Bahkan bisa langsung ke pengecer agar lebih tepat sasaran,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Elpiji 3 Kg Langka, Ratusan Warga Serbu Operasi Pasar di Kecamatan Mejobo

Warga Kecamatan Mejobo Kudus mengantre gas elpiji 3 Kg saat operasi pasar di depan Kantor Kecamatan Mejobo, Selasa (12/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan warga Kecamatan Mejobo, berjubel di kantor kecamatan, Selasa (12/9/2017).  Mereka rela berdesak-desakkan untuk mendapatkan gas elpiji tiga kilogram atau elpiji melon saat Operasi Pasar (OP) yang digelar Pemkab Kudus. 

Marsumi (55) warga Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo mengatakan, sejak sepekan lalu elpiji tiga kilogram memang sulit didapat. Untuk mendapatkan elpiji, pihaknya pun sering berburu di kecamatan-kecamatan terdekat dengan harga hingga Rp 25 ribu per tabung.

“Sudah ada sekitar satu minggu ini gas sulit didapat. Itulah kenapa operasi pasar ini langsung diserbu warga,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (12/9/2017)

Saking banyaknya warga, puluhan petugas Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus dan petugas Kecamatan Mejobo sempat kewalahan mengatur warga. Beruntung, ratusan warga masih bisa diatur untuk tetap mengantre sehingga kondisi di lapangan tetap kondusif.

Meski begitu, operasi pasar yang digelar sekitar pukul 10.00 WIB langsung ludes dalam hitungan menit. Bahkan belum sampai pukul 11.00 WIB, pasokan sudah habis. Akibatnya, masih banyak warga yang tak mendapatkan elpiji.

Imam Prayitno, Kabid Fasilitasi Perdagangan dan  Perlindungan Konsumen pada dinas Perdagangan Kudus menjelaska, operasi pasar dilakuan seiring dengan keluhan masyarakat akan langkanya elpiji.

Sasarannya adalah masyarakat tidak mampu dan mengurangi keresahan masyarakat atas kelangkaan elpiji.

”Hari ini ada dua kecamatan yang dilakukan operasi pasar, yaitu Mejobo dan Jekulo. Tiap kecamatan diberikan jatah 560 tabung gas atau satu LO,” jelasnya.

Namun, disinggung tentang jumlah pasokan yang kurang dangan masih banyaknya masyarakat yang antre saat gas habis, dia menyebut kalau jatah yang diberikan sifatnya terbatas. Sehingga tidak bisa ditambah lagi. 

“Dan lagi, berapapun jumlah tabung saat OP akan kurang lantaran tiap warga memiliki lebih dari satu tabung,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Harga Elpiji 3 Kg di Kudus Berbeda-Beda

Petugas menata tabung elpiji 3 kg di salah satu pangkalan di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas menata tabung elpiji 3 kg di salah satu pangkalan di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus menyatakan, harga elpiji 3 kg berbeda-beda di wilayahnya. Alasannya, hal itu tak lepas dari sulit atau mudahnya pendistribusian barang.

Kabid Perdagangan Dalam Negeri Dinas Dagsar Kudus Sofyan Dhuhri mengatakan, perbedaan harga elpiji 3 kg merupakan hal wajar. Biasanya, kalau lokasi itu dekat dengan pangkalan, maka harga bisa sesuai HET Rp 15.500 per tabung.

“Jika tidak ada pangkalan seperti halnya di wilayah Wonosoco, Undaan. Harga pasti lebih tinggi dari HET yang berlaku,” katanya kepada MuriaNewsCom

Selain itu, wilayah lain yang juga belum ada pangkalan hingga berdampak pada tingginya harga, adalah Kecamatan Dawe. Meliputi Desa Dukuhwaringin, Tergo, Glagah Kulon dan Ternadi.

Langkah yang dilakukan sekarang, adalah meratakan keberadaan pangkalan. Sehingga harga tidak akan terpaut jauh satu dengan lainnya. Terutama di daerah perkotaan.

Jumlah pangkalan elpiji kini mencapai 725unit. Jumlah itu tersebar di sembilan kecamatan di Kudus. Dan juga memungkinkan ditambah.

Tingginya harga elpiji juga terjadi di Colo. Lokasinya yang menanjak membuat kendaraan sulit menjangkaunya. Akibatnya, harga pun menjadi naik.

“Untuk tempat semacam itu, maka kami memakluminya karena mereka mengeluarkan biaya tambahan guna memenuhinya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

3 Desa di Jepara Ini Didrop Elpiji Melon

Operasi pasar gas elpiji bersubsidi di Kelurahan Ujung Batu, Kecamatan Kota, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Operasi pasar gas elpiji bersubsidi di Kelurahan Ujung Batu, Kecamatan Kota, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa hari terakhir di sejumlah daerah di Kabupaten Jepara terjadi kelangkaan gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram (kg). Selain langka juga harga melambung tinggi. Untuk mengatasi hal itu, Pemkab Jepara melakukan operasi pasar dengan mengedrop ke tiga desa.

Tiga desa yang jadi sasaran operasi pasar adalah Desa Daren Kecamatan Nalumsari, Desa Wedelan Kecamatan Bangsri dan Kelurahan Ujung Batu Kecamatan Kota Jepara. Itu dilakukan pada Sabtu (17/9/2016) siang, dengan jumlah elpiji sekitar 1.680 tabung 3 kg.

“Operasi pasar ini dilakukan untuk mengatasi masalah kelangkaan. Selain itu juga masalah harga yang dirasakan masyarakat terlalu tinggi. Kami menjual gas elpiji bersubsidi ini sesuai Harga eceran Tertinggi (HET) yakni Rp 15.500,” ujar Kabag Perekomonimam pada Setda Jepara, Eriza Rudi Yuliyanto kepada MuriaNewsCom, Sabtu (17/9/2016).

Menurutnya, tiga desa tersebut dipilih  karena dinilai mengalami kelangkaan sejak beberapa waktu lalu. “Informasi yang kami dapatkan tiga desa ini yang paling langka. Sementara untuk daerah lain masih terbilang normal,” katanya.

Lebih lanjut ia mengemukakan, dalam operasi tersebut, setiap warga dibatasi pembelian maksimal dua tabung. Dengan syarat membawa KTP dan Kartu KK. Ini dimaksudkan untuk pemerataan. Selain itu, hanya dikhususkan untuk warga desa atau kelurahan setempat. “Harus warga desa atau kelurahan setempat. Warga dari desa lain tidak diijinkan, karena desa lain masih cenderung stabil,” ungkapnya.

Pihaknya membantah kelangkaan elpiji bersubsidi di Jepara karena adanya penimbunan atau permainan pihak tertentu. Kelangkaan terjadi menurutnya karena adanya peningkatan penggunaan, saat Hari Raya Idul Adha.

Dari pantauan MuriaNewsCom di Kelurahan Ujung Batu, operasi pasar yang dilaksanakan sekitar pukul 09.00 tersebut disambut positif oleh warga setempat. Sejak truk pengangkut elpiji tiba di balai desa, sejumlah warga mulai berduyun-duyun mendatangi lokasi. Masing masing membawa satu hingga dua tabung LPG kosong lalu menukarnya dengan tabung yang sudah berisi gas.

Sebelum menukar tabung, mereka mendatangi petugas dengan menunjukkan KK dan KTP sekaligus melakukan pembayaran. Mayoritas yang mengatre pembelian elpiji bersubsidi tersebut adalah ibu-ibu.

Kasi Trantib Kelurahan Ujung Batu, Agus, mengatakan, kelangkaan elpiji bersubsidi di Kelurahan Ujung Batu sudah terjadi sejak sekitar sepekan yang lalu. Warga kesulitan mendapatkan elpiji karena di sejumlah pangkalan kosong. Selain langka, harga elpiji melambung tinggi, yaitu antara Rp 19 ribu hingga Rp 22 ribu per tabung.

“Begitu ada informasi dari pihak kecamatan, saya langsung umumkan pada masyarakat melalui pengeras suara di masjid dan musala,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

Gas Elpiji  3 Kg Langka di Jepara

Pekerja menata tabung elpiji melon di salah satu sentra di Kabupaten Jepara, Sabtu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pekerja menata tabung elpiji melon di salah satu sentra di Kabupaten Jepara, Sabtu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 2016 ini, sejumlah wilayah di Kabupaten Jepara terjadi kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (kg). Itu seperti yang terjadi di wilayah Kecamatan Mlonggo dan Kecamatan Nalumsari.

Dari pantauan MuriaNewsCom, belasan pangkalan gas elpiji bersubsidi mengaku kehabisan stok. Seperti di beberapa pangkalan yang ada di Desa Daren, Kecamatan Nalumsari. Mereka beralasan belum mendapatkan suplai barang dari agen.

Bahkan sebagian pangkalan sengaja menutup toko atau pangkalan mereka dan diberi tulisan “Tutup/Stok Habis”. Pemandangan sejumlah warga yang mondar-mandir menaiki kendaraan roda dua sambil membawa tabung gas melon kosong gampang ditemui di wilayah perbatasan Kabupaten Jepara dengan Kabupaten Kudus tersebut.

Hanya ada segelintir pangkalan yang masih memiliki stok. Itu pun tidak semua orang bebas membelinya, lantaran pintu toko tidak dibuka penuh, dan hanya orang-orang yang kenal saja yang bisa membeli. Itu pun harganya jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Rata-rata harga satu tabung gas bersubsidi tersebut sekitar Rp 20 ribu.

“Kalau di sini harga gas elpiji 3 kilogram paling murah Rp 18 ribu, dan rata-rata Rp 20 ribu. Itu harga yang dijual di pangkalan, bukan di pengecer,” kata salah satu konsumen gas elpiji bersubsidi, Nur Hidayah kepada MuriaNewsCom, Sabtu (10/9/2016).

Kondisi serupa juga terjadi di Desa Jambu, Kecamatan Mlonggo. Salah satu konsumen gas elpiji bersubsidi di desa setempat, Susanto mengaku kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kg tersebut. Sudah beberapa pangkalan yang dikunjungi namun selama seharian penuh hanya mendapatkan satu tabung gas elpiji.

“Saya nyari dua tabung gas elpiji, tetapi selama seharian nyari hanya dapat satu. Itu pun jaraknya cukup jauh dari rumah, dan harganya jauh sekali dari HET,” kata Susanto kepada MuriaNewsCom.

Ia berharap agar pemerintah segera turun tangan mengatasi masalah kelangkaan dan harga yang tinggi pada gas elpiji 3 kg.

Editor : Akrom Hazami

Jelang Hari Raya Kurban, Kuota Elipiji 3 Kg di Jepara Ditambah

Pedagang menata elpiji di salah satu sentra di kawasan Jepara, Kamis. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pedagang menata elpiji di salah satu sentra di kawasan Jepara, Kamis. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Menjelang perayaan Hari Raya Kurban atau Idul Adha tahun ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mengajukan permintaan tambahan kuota gas elpiji bersubsidi 3 kilogram. Itu dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan masyarakat.

“Mengantisipasi lonjakan permintaan elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram saat Hari Raya Idul Adha, Pemkab Jepara mengajukan tambahan kuota ke PT Pertamina. Tapi permintaan tambahan tak sebesar yang diajukan saat Ramadan dan jelang Hari Raya Idul Fitri lalu,” ujar Kabag Perekonomian Setda Jepara, Eriza Rudi Yulianto kepada MuriaNewsCom, Kamis (8/9/2016).

Menurutnya, permintaan elpiji bersubsidi saat hari raya berdasarkan pengalaman tahun lalu memang terjadi lonjakan permintaan. Itu karena banyak warga yang membutuhkan bahan bakar untuk memasak daging. Permohonan penambahan itu sudah diajukan beberapa hari yang lalu. Hanya, dalam pengajuannya tidak disebutkan angka kuota elpiji yang diinginkan.

“Pengajuan permintaan tambahan telah kami kirim. Namun kami hanya meminta tambahan kuota saja, tidak menyebut jumlahnya. Nanti biar pertamina yang menentukan berapa banyak tambahan yang direalisasikan,” ungkap Eriza.

Pihaknya meyakini jika PT Pertamina memiliki data soal kebutuhan di Jepara saat momen besar itu. Karena kenaikan permintaan itu terjadi tiap tahun. Selain itu, permintaan penambahan kuota tidak hanya dilakukan Pemkab Jepara, tapi juga dari daerah lainnya.

Disinggung mengenai ketersediaan elpiji bersubisidi di Jepara, Eriza menegaskan kondisinya masih normal. Tidak ada kelangkaan maupun antrean dari pembeli. Sehingga sementara ini pihaknya menyimpulkan jika tidak ada kelangkaan elpiji yang didistribusikan untuk rakyat kecil itu.

“Sejauh ini belum ada laporan soal kelangkaan elpiji 3 kilogram. Di lapangan juga tidak ada antrean dari konsumen. Kami menyimpulkan saat ini stok masih aman dan distribusi berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Reaksi Warga yang Kehabisan Elpiji saat Operasi Pasar di Kecamatan Kota

Salah seorang warga, Inama (berjilbab), mengantre elpiji 3 kg saat Operasi Pasar di Desa Singocandi, Kota, Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah seorang warga, Inama (berjilbab), mengantre elpiji 3 kg saat Operasi Pasar di Desa Singocandi, Kota, Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perdagangan dan Pasar (Dagsar) Kudus melakukan Operasi Pasar dengan menyediakan elpiji 3 kg murah. Hal tersebut dilakukan karena elpiji melon langka, sejak beberapa waktu terakhir.

Seperti yang dilakukan Dinas Dagsar di Kecamatan Kota, Kudus. Tepatnya di Desa Singocandi, Kamis (8/9/2016). Dinas hanya menyediakan 560 tabung dengan harga masing-masing Rp 15.500.

Jumlah yang terbatas membuat warga berebut memperoleh elpiji 3 kg. Jumlah elpiji yang disediakan ternyata tak sebanding dengan banyaknya warga yang berebut. Akibatnya, tidak sedikit dari mereka yang kehabisan elpiji.

Di antaranya adlah Inama (33), warga Krandon, Kecamatan Kota. Dia tidak berhasil mendapatkan elpiji di Operasi Pasar tersebut. Padahal, elpiji di rumahnya sudah habis, dua hari lalu. “Paling cuma menanak nasi, soalnya kan masak nasi pakai listrik. Kemudian untuk lauknya, beli karena gas habis,” katanya di lokasi Operasi Pasar.

Biasanya, dia membeli elpiji dari toko di sekitar rumahnya. Rupanya, toko juga kehabisan stok, sepekan terakhir. Dia pun mencari elpiji ke tempat lain. Tapi, Inama tak juga mendapatkannya. Kasi Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Dagsar Tedi H mengimbau, masyarakat agar tidak panik. Sebab, pasokan elpiji masih ada dan mampu mencukupi kebutuhan masyarakat. “Pasokan tetap lancar. Jadi jangan khawatir jika kehabisan elpiji. Rencananya besok Operasi Pasar dilakukan di Dawe,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Warga Berebut Elpiji 3 Kg saat Operasi Pasar di Kecamatan Kota Kudus

Warga berebut elpiji 3 kg saat Operasi Pasar di Balai Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berebut elpiji 3 kg saat Operasi Pasar di Balai Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Warga berebut elpiji 3 kg di Balai Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus, Kamis (8/9/2016) sekitar pukul 08.30 WIB. Tepatnya saat pemerintah melakukan Operasi Pasar akibat kelangkaan elpiji 3 kg. Diketahui, gas 3 kg sulit ditemukan dalam beberapa waktu terakhir.

Solikah (40), warga Desa Singocandi, Kota mengatakan, warga sulit memperoleh elpiji 3 kg. Mereka juga kerap menemukan elpiji tapi harganya melambung, yaitu Rp 21 ribu per tabung. Dia menganggap jika Operasi Pasar amat membantu warga. “Biasanya itu tiap Selasa ada, tapi sudah dua pekan ini sulitnya bukan main. Dan kebetulan gas juga sudah mulai habis, jadi bisa langsung isi,” katanya.

Warga rela berdesakan untuk mendapatkan elpiji 3 kg. Mereka khawatir tak kebagian elpiji. Mengingat stok yang disediakan hanya 560 tabung. Ditambah lagi, harganya pun di bawah pasaran yakni Rp 15.500 per tabung. Sejumlah polisi berjaga-jaga untuk menghindari aksi berlebihan warga di lokasi. Beberapa petugas Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar juga ikut mengamankan jalannya operasi.

Kasi Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Dagsar Kudus Tedi H mengungkapkan Operasi Pasar akan dilakukan tiap hari. Sasarannya adalah masyarakat tidak mampu. Pihaknya ingin mengurangi keresahan masyarakat atas kelangkaan elpiji. “Satu kecamatan satu hari,  tiap kecamatan juga kami batasi dengan 560 tabung elpiji,” kata Tedi di lokasi.

Editor : Akrom Hazami

Kudus Apes, Jatah Elpiji 3 Kilo di Bulan Mei Tak Kunjung Turun

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Jatah elpiji 3 kilogram untuk Kabupaten Kudus di bulan Mei hingga kini masih belum keluar. Padahal, provinsi berjanji ada penambahan elpiji melon tersebut di bulan Mei hingga Juli.

Kasi Perdagangan dalam Negeri, Sofyan Dhuhri kepada MuriaNewsCom mengatakan, hingga kini pemkab belum menerima elpiji tiga kilogram dari Pemprov Jateng. Akibatnya, ia tak bisa melakukan pendataan alokasi tiap pangkalan di Kudus.

”Dengan belum turunnya jatah elpiji dari Pemprov, kami tidak bisa membagi jatah tiap pangkalan. Karena kebutuhan tiap pangkalan berbeda-beda,” katanya, Kamis (5/5/2016).

Parahnya lagi kordinasi tingkat provinsi maupun pusat juga sangat lamban. Bahkan beberapa bulan terakhir, koordinasi selalu berakhir pada janji-janji saja.

Dia menyebutkan, selama 2016 ini, sudah mengusulkan kepada provinsi dengan jumlah 10.112.940 Tabung. Namun belum tahu berapa yang diberikan kepada Kudus. Yang pasti elpiji tiap bulannya masih dikirim dengan jumlah yang berbeda-beda.

”Usulan tersebut memang lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Ini lantaran setiap tahun selalu ada tambahan kebutuhan,” ungkapnya.

Faktanya, lanjutnya, di tahun 2015 lalu, penggunaan gas bersubsidi menghabiskan jatah sekitar 6,7 juta tabung. Kenaikan usulan untuk 2016  ini, naik hingga 50 persen. Jumlah kebutuhan terus meningkat jika 2014 lalu yang hanya 6.124.000 Tabung saja.

Rata rata kebutuhan elpiji jenis tiga kilo tiap bulan di angka 561.830 tabung. Berarti selama setahun menghabiskan 6.741.960 tabung. Padahal jumlah KK per 1 Oktober tercatat 273.988 KK. Jika 85 persen menggunakan elpiji 3 kilogram, maka asumSi kami akan menghabiskan 12 kilogram per bulan. Dan itu akan membutuhkan elpiji yang sangat banyak,

”Untuk 2015, usulan elpiji selama setahun mendapatkan jatah  sejumlah 6.963.450 tabung. Jumlah tersebut lebih banyak jika dibandingkan tahun lalu yang hanya sejumlah 6.124.000 tabung elpiji 3 kilogram,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Warga Kudus Diminta Tak Panik dengan Ketersediaan Elpiji Melon

gas_elpiji 2

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus Meski jatah elpiji 3 kilogram hingga kini belum keluar, namun selama dua bulan pertama, Kudus sudah menghabiskan elpiji sebanyak 1.181.880. Jika dilihat dari penggunaan tersebut, usulan kuota yang diajukan pemkab terhadap provinsi, dinilai sudah mencukupi jika usulan tersebut disetujui.

Kasi Perdagangan Dalam Negeri pada Disdagsar Kudus Sofyan Dhuhri mengatakan, masyarakat tidak perlu panik terkait elpiji. Sebab dipastikan akan cukup selama setahun ke depan

“Usulannya di angka 10 juta tabung. Jadi jika sebulan habis satu jutaan, maka masih ada sisa yang dapat dimanfaatkan,” katanya.

Sisa tersebut, bukan berarti pula kelebihan. Sebab, antisipasi lonjakan pemakaian juga diperhitungkan. Seperti misalnya selama Ramadan dan lebaran. Begitu pula pada Desember, lonjakan pemakaian juga sangat tinggi.

Di Kudus, katanya, terdapat delapan agen resmi yang menyuplai elpiji. Dari delapan.agen, paling banyak adalah agen PT Bahtera Agung Santosa. Selama Januari, agen tersebut menyalurkan 103.240 tabung, sedangkan Februari 99.280 tabung.

“Agen lain yang banyak itu PT Lentera Cahaya Migas, Januari sampai 87.160 tabung dan Februari 83.600,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Hingga April Ini, Jatah Elpiji Melon untuk Kudus Belum Keluar

gas_elpiji

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus Jatah elpiji 3 kilogram untuk Kabupaten Kudus, hingga kini masih belum keluar. Hal ini berbeda dari biasanya, sebab pada tahun sebelumya usulan kuota elpiji  sudah ke luar pada bulan Februari.

Kasi Perdagangan Dalam Negeri pada Disdagsar Kudus Sofyan Dhuhri mengatakan, hingga kini pihaknya masih menunggu jatah elpiji untuk Kudus. Kepastian jatah tersebut, diperlukan guna pendataan alokasi tiap pangkalan di Kudus.

“Selama 2016 ini, kami sudah mengusulkan kepada provinsi dengan jumlah 10.112.940 tabung. Namun, belum tahu berapa yang diberikan untuk Kudus,” katanya.

Jumlah usulan tersebut, lebih banyak dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tercatat selama 2015, penggunaan gas bersubsidi sekitar 6,7 juta tabung. Sedangkan untuk usulan untuk 2016  ini, naik hingga 50 persen.

Ia katakan, bertambahnya usulan kuota elpiji tersebut, karena seiring kebutuhan rata – rata kebutuhan elpiji melon per bulannya di angka 561.830 tabung. Kemudian, jika dihitung satu tahunnya, bisa mencapai 6.741.960 tabung.

Padahal menurutnya, jumlah KK per 1 Oktober tercatat 273.988. Jika 85 persen menggunakan elpiji 3 kilogram, maka asumsinya bisa menghabiskan 12 kilogram per bulan.

”Untuk 2015, elpiji 3 kilogram selama setahun mendapatkan jatah  sebanyak 6.963.450 tabung. Jumlah tersebut lebih banyak jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 6.124.000 tabung,” imbuhnya.

Ia katakan, usulan kuota elpiji dari kabupaten atau kota lainnya tak semuanya sesuai dengan yang dialokasikan. Biasanya, provinsi bakal membahas kebutuhan elpiji selama setahun sebelum menentukan jatah untuk kabupaten, termasuk juga Kudus.

Editor : Kholistiono