Jangan Dibuang, Biji Durian Ternyata Bisa Dibikin Jadi Olahan Cokelat Lho

MuriaNewsCom, Grobogan – Selama ini, biji durian sudah dianggap sebagai limbah karena tidak enak dimakan. Siapa sangka, biji durian ini ternyata bisa diolah jadi sebuah bahan makanan. Khususnya, makanan olahan cokelat.

Uji coba membuat olahan cokelat dari bahan biji durian sudah berhasil dilakukan siswa Kelas XII SMK Asta Mitra Purwodadi jurusan farmasi. Setelah melakukan serangkaian eksperimen sederhana, olahan coklat dari biji durian akhirnya berhasil tersajikan. Bahkan, hasil karya itu mendapat respon positif dari siswa dan para guru karena rasanya dinilai cukup enak.

Salah satu siswa Kelas XII jurusan Farmasi Qori Nurzaeni menyatakan, biji durian digunakan sebagai ganti penggunaan kacang almond maupun kacang mete. Pembuatan cokelat biji durian bisa cukup sederhana dan butuh waktu sekitar 2 jam.

Pada tawah awal, biji durian yang akan dipakai dibersihkan dan selanjutnya direbus. Setelah direbus, biji durian didinginkan dan dipotong kecil-kecil sesuai selera.

Tahap selanjutnya, irisan biji durian tersebut digoreng. Setelah matang dan ditiriskan, biji durian dalam cetakan. Selanjutnya, mulai melelehkan cokelat diatas pemanas.

Kemudian, irisan biji durian yang telah dimasukan dalam cetakan tersebut diberi dituangi cokelat yang telah meleleh tersebut. Setelah didinginkan, cokelat berisi biji durian di simpan di dalam freezer agar beku.

“Sekitar 1 jam kemudian, coklat bisa diambil untuk dikonsumsi. Dengan biji durian teksturnya lebih empuk dan memiliki aroma yang wangi ketimbang kacang almond atau mete,’’ jelas Qori.
Ia menjelaskan, ide membuat olahan coklat dengan biji durian didapat tidak sengaja. Tepatnya, saat ia dan teman-temannya sempat makan durian dan menyadari jika bijinya tidak termanfaatkan.

“Dari sini kemudian terlintas ide untuk memanfaatkan biji durian menjadi olahan makanan. Setelah berdiskusi bersama, akhirnya kami mencoba membuat cokelat biji durian,’’ katanya.
Salah satu guru pembimbing jurusan Farmasi SMK Asta Mitra Siti Zulifat menyatakan, cokelat biji durian saat ini baru sebatas untuk kalangan sekolahan saja. Namun, tidak menutup kemungkinan cokelat biji durian dapat dikembangkan lagi dan dipasarkan ke lingkungan sekitar atau sekolah lain.

Ia menilai gizi dari biji durian lebih baik ketimbang kacang almond maupun mete. Soalnya, biji durian memiliki nilai protein lebih tinggi dan rendah lemak.

Editor: Supriyadi

Jelang Pergantian Tahun, Pedagang Duren di Pati Raup Omzet Puluhan Juta Rupiah

Salah seorang penjual duren di kawasan jalan raya Wedarijaksa tengah menawarkan duren dagangannya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Menjelang pergantian tahun, pedagang duren di Pati meraup omzet hingga puluhan juta rupiah dalam sehari. Hal itu disebabkan banyaknya warga yang berburu duren.

Paimo, salah pedagang duren asal Cluwak yang berjualan di kawasan Jalan Pati-Tayu, Wedarijaksa mengaku mendapatkan omzet dua kali lipat lebih besar dalam sepekan terakhir.

“Dalam sepekan terakhir, penjualan meningkat drastis. Bisa dua kali lipat dari hari biasanya,” ujar Paimo, Jumat (29/12/2017).

Namun, Paimo mengaku harga duren bisa anjlok bila cuaca kembali hujan. Karena itu, dia berharap cuaca selama pergantian tahun bisa normal.

Saat ini, Paimo optimis bila harga duren bisa tetap stabil. Selain kebutuhan duren selama tahun baru meningkat, kondisi libur panjang yang berdampak pada penjualan duren.

Satu buah duren yang ia jual dibanderol dari Rp 15 ribu sampai Rp 60 ribu. Harga duren tergantung ukuran buah, jenis dan kualitas.

Sugeng, salah satu pembeli duren asal Tambakromo mengaku akan menyetok sepuluh buah duren untuk agenda keluarga pada tahun baru.

“Tadi lewat, ada banyak penjual duren. Saya langsung lihat-lihat dan beli sepuluh duren untuk setok agenda keluarga tahun baru besok,” ucap Sugeng.

Para penjual duren sendiri menjajakan dagangannya di kawasan jalan raya Wedarijaksa dari pagi hingga sore. Bahkan, beberapa pedagang masih terlihat membuka lapaknya pada malam hari.

Editor: Supriyadi

Lezatnya Durian Lokal Desa Sumberjatipohon Grobogan, Manisnya Bikin Ketagihan

Seorang penjual durian di Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan membelah durian khas Sumberjatipohon untuk pelanggan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganBagi Anda penggila durian di Grobogan, sebaiknya tidak perlu pergi jauh-jauh untuk berburu buah kesukaan. Datang saja ke Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan yang saat ini sedang musim durian.

Mencari durian di desa yang berbatasan dengan wilayah Sukolilo, Pati ini bisa langsung beli pada pemilik pohon. Jika tidak mau repot, cukup beli durian di pinggir jalan raya Pati-Purwodadi yang masih berada di wilayah Desa Sumberjatipohon.

”Saya baru jualan sekitar tiga minggu. Sekarang memang lagi musim dan buahnya cukup banyak,” kata Novi, penjual durian lokal yang punya pangkalan di pertigaan bekas Rumah Tahanan Purwodadi di Desa Sumberjatipohon, Kamis (9/11/2017).

Menurut Novi, semua barang dagangannya dia beli secara tebasan atau borongan dari pemilik pohon. Selama ini, dia memang hanya menjual durian lokal dari desanya dan tidak mendatangkan dari daerah lain.

”Saya sudah jualan durian sekitar 10 tahun. Masa jualan sekitar dua bulan saja, yakni pas lagi musim panen. Biasanya, musim panen maju mundurnya pada kisaran Oktober hingga Januari,” jelasnya.

salah satu pencinta durian menikmati durian Sumberjatipohon khas Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Durian lokal dari Sumberjatipohon rasanya manis, tidak kalah dengan durian dari Jepara yang sudah terkenal pamornya. Daging durian Sumberjatipohon juga tebal ukurannya.

Harga durian yang ditawarkan bervariasi tergantung ukurannya. Yakni, berkisar Rp 10 ribu untuk ukuran paling kecil dan Rp 100 ribu untuk yang besar.

”Durian yang ukurannya besar tidak banyak. Kebanyakan berukuran sedang dengan harga Rp 30-50 ribu,” kata penjual berusia 35 tahun itu.

Sementara itu, Kaur Umum Desa Sumberjatipohon Rustam menyatakan, di wilayahnya saat ini masih terdapat sekitar 100 pohon durian yang sudah produktif. Pohon durian masih ditanam warga dengan cara tradisional. Yakni, ditempatkan di sela-sela tanah kosong di sekitar pekarangan.

Untuk produktivitas tiap pohon bervariasi antara 20-100 biji. Hal itu tergantung berdasarkan ukuran dan usia pohonnya.”Kalau pohon yang besar dan sudah tinggi, buahnya bisa sampai 100 biji,” katanya.

Selama ini, durian Sumberjatipohon cukup digemari banyak orang, Terbukti, setiap musim, banyak pembeli yang berhenti dipinggir jalan untuk membeli durian. Selain makan ditempat, durian juga dibeli untuk dibawa pulang atau oleh-oleh.

Editor: Supriyadi

Menikmati Durian Langganan Para Bupati Jepara 

Gipah (59) saat menata dagangannya yang berada di garasi rumahnya di Desa Kecapi, RT/RW : 10/02 Kecamatan Tahunan-Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Jika sedang berada di Jepara dan ingin menikmati buah durian bisa menghampiri rumah milik Gipah di Desa Kecapi, RT10/RW 2 Kecamatan Tahunan. Lantaran, buah berkulit duri dagangan ibu satu anak ini, sudah menjadi langganan Bupati Jepara sejak dulu. 

Selain itu, durian yang diperdagangkannya sering menjuarai lomba durian se-Kabupaten Jepara. 

Menurut Gipah, ia sudah berjualan durian sejak 32 tahun lalu. Pada tahun 1985, ia memulai usahanya dengan modal sekeranjang durian.

“Dari dulu saya berjualan buah, kalau sedang musim durian ya durian, kalau tidak ada ya buah lain,” katanya, Rabu (18/10/2017).

Menurutnya, hanya buah terpilih yang ia jual di rumahnya. Sementara yang kualitas kurang bagus ia jual di pasar. 

Kebiasaan itu menurutnya banyak menarik pembeli datang ke rumahnya. Terkait menjadi langganan bupati, ia mengaku sudah lupa kapan kebiasaan itu dimulai.

“Wah sudah lupa, wong sejak Bupatinya Pak Narto (Soenarto) dulu sudah dipesan,” ujarnya.

Gipah menyebut, setiap musim durian duriannya selalu dipesan orang nomor satu di Jepara. Oleh karenanya, ia selalu mempersiapkan buah pilihan jikalau ada pesanan.

“Nanti kalau bupati butuh, tinggal menelpon, yang ambil anak buahnya kesini,” tutur perempuan 59 tahun itu. 

Adapun, untuk durian termurah dijual mulai Rp 25 ribu. Sementara yang termahal ia jual sampai Rp 150 ribu. 

Terkait kualitas buah, Gipah mengaku musim ini lebih baik daripada tahun sebelumnya. Hal itu mengingat hujan yang belum begitu kerap turun saat pohon durian berbuah. 

Seorang pembeli durian Syarif (30) mengaku rutin membeli durian milik Gipah tiap musim. Menurutnya, citarasa “raja buah” ditempat itu masih segar. 

“Pertama kali tau tempat ini dari istri saya. Saya sendiri orang Brebes aslinya, kalau musim seperti ini ya biasa jalan-jalan kesini. Rasa duriannya manis dan lebih segar karena habis diambil dari pohonnya,” tuturnya, yang kini tinggal di Pecangaan Kulon itu. 

Editor: Supriyadi

“Durian Petruk Itu…., Rasanya Khas Banget”

Aktivitas di Pasar Ngabul, Jepara, yang tampak ramai dipenuhi dengan penjual durian. Namun demikian, untuk bisa mendapatkan durian petruk khas Jepara, kini sudah mulai sulit. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Aktivitas di Pasar Ngabul, Jepara, yang tampak ramai dipenuhi dengan penjual durian. Namun demikian, untuk bisa mendapatkan durian petruk khas Jepara, kini sudah mulai sulit. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Bagi penggemar buah durian,belum lengkap rasanya jika belum mencicipi lezatnya durian petruk, durian khas Jepara. Durian petruk mempunyai ciri bentuk buahnya yang besar dan panjang. kalau dalam tokoh pewayangan mirip hidungnya tokoh punakawan petruk yang panjang, maka orang menyebutnya durian petruk .

“Durian petruk itu, rasanya khas banget. Daging buah durian petruk sangat tebal, berwarna kuning mentega, dan bijinya kecil. Baunya harum, dan rasanya pun manis. Satu lagi kelebihan dari durian ini yaitu tahan terhadap hama penyakit dan busuk akar,” ujar Aini Rosyida, salah satu warga Kalinyamatan, Jepara, yang mengaku sangat gemar dengam buah durian, khususnya durian jenis petruk.

Namun demikian, katanya, saat ini dirinya cukup sulit untuk bisa mendapatkan durian petruk. Di Pasar Ngabul, yang merupakan pusat penjualan buah durian, saat ini juga jarang ada yang menjual durian petruk.

Dirinya juga menceritakan, jika sekitar Desember 2016 lalu, dirinya mencoba mencari durian petruk pasar buah. Apalagi, ketika itu, dirinya kedatangan tamu keluarga dari Pekalongan, yang juga kepingin mencicipi buah durian petruk.

“Ketika saya ke penjualnya, katanya, yang dijual itu durian jenis petruk. Maka, saya langsung beli lima buah. Harganya sekitar Rp 300 ribu untuk lima buah. Namun, ketika kami belah, ternyata bukan durian, petruk, tetapi durian biasa seperti umumnya,” katanya.

Menurutnya, durian yang dibeli tersebut, juga jauh berbeda dengan durian petruk yang pernah ia rasakan. Namun demikian, meski penjual durian tersebut sudah tak berkata jujur, namun dirinya tidak merasa dibohongi soal harga. Sebab, yang durian yang ia beli, masih standar, sekitar Rp 70 ribu per buah.

“Tidak apa-apa yang penting bukan dibohongi mengenai harga. Sebab harga durian petruk setahu saya ya sangat mahal, yakni sekitaran Rp 150 ribu per buah. Durian yang saya beli ini sekitaran Rp 70 ribu,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Pedagang Durian di Jalan Diponegoro Kudus Kecipratan Berkah Panen

Pedagang menjajakan buah durian di Jalan Diponegoro, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/ Faisol Hadi)

Pedagang menjajakan buah durian di Jalan Diponegoro, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/ Faisol Hadi)

MuriaNewsCom Kudus – Musim durian yang datang tahun ini membawa keberkahan tersendiri bagi para pedagang musiman. Seperti pedagang durian di Jalan Diponegoro Kudus.

Harwanto, pedagang durian di lokasi itu mengatakan, sehari dia mampu berjualan rata-rata 130 buah durian.”Rata-rata segitu yang mampu dijual. Itu kalau ramai, sedangkan kalau sepi ya paling 80 hingga 100 an buah sehari,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Harga durian yang dijual bermacam-macam. Untuk satu buah durian kecil, dijual dengan harga Rp 50 ribu per buah. Sedangkan untuk ukuran besar, harganya kisaran Rp 100 hingga 120 ribu.

Dia kulakan durian dari wilayah Kajar dan sekitarnya. Dia menjelaskan buah durian lokal yang dijual memiliki khas sendiri. Yakni aroma manis bercampur pahit. Kondisi buah semacam itulah yang banyak diburu oleh pecinta durian.

“Kalau dari luar itu kurang manis, pahitnya juga kurang. Hanya dari bentuk buah terlihat lebih bagus ketimbang durian lokalan seperti ini,” ungkapnya

Durian lokal  juga memiliki warna buah yang khas. Yakni kuning cerah dan juga biji yang cukup tebal. Dia mengaku sudah berjualan buah musiman seperti durian lebih dari 16 tahun lamanya di lokasi itu. Dia paham betul akan durian.

Editor : Akrom Hazami

Pedagang Durian Kudus Tak Mau Lewatkan Momen Gebyar PKL

Pedagang buah durian menjajakan dagangannya di Gebyar PKL di Kabupaten Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pedagang buah durian menjajakan dagangannya di Gebyar PKL di Kabupaten Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Acara Gebyar PKL yang diselenggarakan tiap 5 Januari, termasuk momen yang ditunggu sejumlah pedagang. Sebab, gebyar yang dilaksanakan selama dua hari, selalu menarik pengunjung dalam jumlah yang banyak.

Seperti halnya pedagang durian, Sarwadi asal Kudus ini. Tiap tahun dia selalu menyempatkan diri mengikuti pagelaran Gebyar PKL. Termasuk kali ini dia menjual durian. “Sudah dari awal saya ikut, soalnya kegiatan semacam ini sangat ramai pengunjung. Hasilnya juga cukup lumayan karena pengunjung ramai,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia menjelaskan, pada tiap kesempatan selalu berjualan durian. Sebab secara kebetulan, saat kegiatan Gebyar PKL selalu musim durian. Sehingga buah berduri itu merupakan buah yang paling pas dijajakan olehnya.

Menurutnya, durian yang dijual juga laris manis terjual. Harga yang ditawarkan juga bervariatif kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu. Harga tersebut dianggap murah lantaran momennya ulang tahun PKL di Kudus. “Jangan khawatir, harganya tidak kami naikkan. Jadi memang harganya segini. Ini sudah murah,” ujarnya.

Dia berterima kasih kepada pemkab yang sudah menyiapkan kegiatan semacam itu. Karena dengan kegiatan itulah para PKL dapat bersatu dan berjualan di tempat yang sangat strategis. “Biasanya jualan di Porma Mejobo. Tapi khusus dua hari ini saya jualan di Gebyar PKL. Dan hingga siang ini, Rabu (4/1/2017) lumayan banyak yang beli. Padahal baru dasar,” ungkapnya. 

Dalam berjualan selama dua hari, dia dibantu oleh temannya. Dia memprediksikan lapaknya bakal ramai, lantaran yang dijual juga buah yang diminati masyarakat Kudus. “Durian ini saya dapat dari Nalumsari Jepara, dan saya pilih kualitas yang bagus untuk dijajakan pada Gebyar PKL tahun ini,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Begitu Montok dan Ranumnya Si Manis dari Jepara Ini

Salah satu stan pameran produk unggulan pertanian memamerkan produk durian montok. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu stan pameran produk unggulan pertanian memamerkan produk durian montok. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Begitu montok dan ranumnya si manis dari Jepara ini. Eits, jangan salah. Ini adalah buah segar yang montok, ranum dan manis.

Ya, itu adalah durian. Di musim durian tahun ini nampaknya lebih baik ketimbang tahun 2014 lalu. Sebab, musim durian tahun ini sudah dimulai sejak November lalu dan diprediksi selesai sampai akhir Januari 2016 mendatang.

Untuk memeriahkan musim durian tahun ini, Pemkab Jepara menggelar pameran produk unggulan pertanian dan peternakan, Rabu (2/12/2015) di kawasan Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara.

Pada pameran ini banyak sekali jenis produk pertanian yang menghiasi setiap stan. Bahkan, banyak durian montok yang dipamerkan di hampir semua stan yang terdiri dari semua Kecamatan yang ada di Kabupaten Jepara, kecuali Kecamatan Karimunjawa.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara, Wasiyanto mengatakan, tahun ini Pemkab Jepara kembali menggelar pameran produk unggulan yang juga dimeriahkan dengan lomba durian. Sebab, tahun 2014 lalu lantaran musim durian molor berakibat pada pameran yang tanpa produk durian.

“Acara ini dimaksudkan untuk meningkatkan produk pertanian lokal, menunjukkan potensi, mempromosikan dan memperkuat citra Jepara sebagai penghasil durian berkualitas,” ujar Wasiyanto.

Menurut dia, lomba durian sendiri diikuti sekitar 75 peserta dari semua kecamatan yang ada di Kabupaten Jepara. Selain lomba durian juga ada lomba buah pisang, lomba mangga gadung dan lomba lainnya.

Pada lomba durian tahun ini dimenangkan oleh Huda, warga Desa Geneng Kecamatan Bate. Kemudian peringkat kedua dan ketiga secara berurutan dimenangkan oleh Sukari dari Desa Mindahan, Batealit dan Ayik dari Desa Bantrung, Batealit. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Tak Perlu ke Jepara Buat Berburu Durian

Pedagang durian Jepara berjajar menjajakan dagangannya di Jalan R Suprapto, Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pedagang durian Jepara berjajar menjajakan dagangannya di Jalan R Suprapto, Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Bagi penggila durian, sebaiknya tidak perlu pergi jauh-jauh ke Jepara untuk berburu buah kesukaan. Pasalnya, di kota Purwodadi saat ini cukup mudah mencari keberadaan durian dari Jepara.

Tak percaya? Jalan-jalan saja di Jalan R Suprapto. Di sepanjang jalan utama kota Purwodadi ini sedikitnya ada empat penjual durian. Tiga penjual, memasarkan durian menggunakan kendaraan bak terbuka. Satu lagi, ada di tenda yang didirikan di atas trotoar.

”Saya sudah sekitar sebulan jualan di pinggir jalan ini. Semua durian ini saya datangkan dari Jepara,” kata Slamet, salah seorang penjual durian.

Durian yang dipajang di pinggiran jalan itu harganya bervariasi. Mulai dari Rp 25 ribu sampai Rp 150 ribu per biji. Harga ini, tergantung dari besar kecil dan kualitas durian. Harga durian saat ini boleh dibilang masih cukup tinggi. Pasalnya, saat ini belum mencapai puncak musim panen durian. Di beberapa daerah penghasil durian lainnya kabarnya malah belum panen.

”Di daerah Jawa Tengah, baru Jepara yang sudah marak durian. Kalau daerah lainnya, mungkin akhir Desember nanti mulai panen. Kalau di luar Jawa, daerah Lampung sudah panen durian,” kata Lekan, penjual durian lainnya.

Meski bukan sentra durian, namun penggemar buah yang kulitnya berduri tajam di Purwodadi itu cukup banyak. Buktinya, ratusan buah yang dibawa bisa habis terjual dalam beberapa hari saja. Padahal, dalam beberapa waktu terakhir banyak hujan turun. Jika cuaca cerah, durian itu bisa laku lebih cepat. Soalnya, kalau cuaca cerah biasanya banyak pembeli yang makan lesehan.

Selain di Jalan R Suprapto, keberadaan durian biasanya juga bisa didapat di Pasar Buah yang ada di Jalan A Yani Purwodadi. Hanya saja, hingga saat ini, penjual yang ada disana belum banyak yang menyediakan durian buat pelanggannya. (DANI AGUS/TITIS W)

 

Video – Buah Berbentuk ‘Seram’ Ini Sensasinya Luar Biasa

 

JEPARA – Saat ini, di Kabupaten Jepara sudah memasuki musim durian. Buah dengan kulit yang menyeramkan tapi aroma khas dan kenikmatan yang tiada tara ini kerap diburu calon pembeli. Jika sudah biasa membeli durian di pinggir jalan atau di supermarket, tidak ada salahnya mencoba beli durian langsung kepada petani yang buahnya langsung dipetik di pohon.

Pengalaman seperti itu bisa didapatkan di Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Jepara. Salah satu petani durian, Zaini misalnya. Dia biasa melayani pembeli durian di rumahnya. Dia memang sengaja tak menjajakan buah durian di tepi jalan atau di toko buah. Meski begitu, buah durian darinya kerap diambil oleh para penjual lain yang kemudian dijajakan di pasar atau di toko buah.

Dia mengaku memetik durian 100 hingga 200 biji dari 20 pohon di kebun durian miliknya. Beregam jenis durian yang sudah masak dipetik. Seperti durian ketan, durian podang, hingga durian mrica yang berukuran kecil-kecil.

“Agar durian yang sudah masak tidak jatuh ke tanah, saya mengikatnya dengan tali,” kata Zaini kepada MuriaNewsCom, Jumat (20/11/2015).

Menurutnya, meski hanya dijajakan di rumahnya, yang datang membeli dan makan durian di tempatnya juga banyak. Selain tengkulak, dia juga kerap didatangi pembeli, baik orang dewasa maupun anak-anak. “Lumayan pembelinya, Alhamdulillah,” ucapnya.

Dia mengaku, untuk dapat menikmati satu butir buah durian berukuran sebesar bola takraw, pembeli cukup merogoh kocek Rp 15 ribu. Sementara buah durian berukuran sedang hingga besar harganya berkisar mulai 20 ribu hingga 35 ribu per buah. Harga tersebut relatif lebih murah dibanding membeli di pasar atau di toko buah. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Penggemar Durian di Jepara, Ini Waktumu Berpesta

Pedagang menjajakan barang duriannya di musim durian tahun ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pedagang menjajakan barang duriannya di musim durian tahun ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Memasuki musim hujan tahun ini, sejumlah wilayah di Kabupaten Jepara meraup keuntungan. Salah satunya dengan masuknya musim durian. Buah yang khas dengan aroma yang menyengat ini sudah banyak dan mudah ditemui di Kota Ukir Jepara.

Pemandangan banyaknya pedagang durian terdapat di sejumlah tempat, baik di pinggir jalan sepanjang Jepara-Kudus, maupun di sejumlah pasar yang ada di Kabupaten Jepara.
Selain di Ngabul, pedagang buah durian dadakan mulai marak di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Jepara, termasuk Pasar Mayong, Kalinyamatan, Pecangaan. Di depan pasar tersebut mulai dipenuhi pedagang musiman itu.

Salah satu pedagang durian, Solihatun mengatakan, saat ini beberapa buah durian sudah mulai besar, dan siap untuk dipanen. Meskipun belum puncak keramaian, ia mengaku sudah ada beberapa orang yang membeli durian kepadanya.

“Ini baru awal-awal musim durian, jadi belum terlalu ramai. Mungkin bulan depan puncak keramaian penjual durian. Tapi alhamdulillah, sudah mulai laku,” katanya.
Menurut dia, untuk harga, saat ini masih bervariasi dan masih tergolong mahal. Durian dengan kualitas terbaik harganya Rp 40 ribu per buah. Meskipun ada yang dijual murah sekitar Rp 20 ribu.

Hal senada juga dikatakan Siti Azizah, pedagang asal Tahunan yang jualan di kompleks pasar Ngabul. Ia mengaku, barang yang ia jual adalah hasil dari pohon durian yang ada di kebun belakang rumahnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)